Arsip Tag: prajapati Brahma

VI-VA-HA

“Semoga setiap insan berpikir dan bersatu dalam suatu pemikiran, semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta – kasih, semoga tujuan semua manusya selaras, dan semoga seluruh mahluk berbahagia dalam suatu perpaduan “itikad” – (sukta terakhir Rig-weda, puja-puji ke Hyang Agni).

Setelah melewati masa puber, maka pada umumnya pria dan wanita lambat laun akan matang alur pemikirannya dan gairah-gairah liar penuh nafsu-nafsu membara mulai mematang secara biologis, dan kedua jenis kelamin ini secara alami dipersiapkan tuk memasuki sebuah arena “peperangan dan perjuangan” baru yang disebut vivaha (persatuan, pernikahan dsb) padahal kata vivaha dalam bahasa Sansekerta berarti kemenangan-kemenangan yang bertahap. Vi adalah hari pertama memasuki ajang perkawinan, karena kedua pasangan telah berhasil menyatukan pandangan, misi dan visi kedepan, namun semua itu masih kabur dan tidak menentu karena bisa saja salah satu atau kedua-duanya tersandung di jalan kehidupan bersama yang amat sarat dengan berbagai cobaan-cobaan, suka-duka dan kerja keras yang meletihkan demi asah-asih-asuh keluarga yang penuh tanggung jawab. Konon kata para ahli jiwa 5 tahun pertama adalah masa krisis yang amat harus diperhatikan dan jangan dipertaruhkan karena dua insan dengan dua latar belakang berbeda harus saling berkorban dan “memaksakan” diri mereka tuk bersatu, dengan segala perbedaan-perbedaan mereka, cinta-kasih diantara keduanya masih terselubung nafsu dan belum kembali menjadi yadnya (pengorbanan), dan banyak pasangan muda pun berguguran karena hanya 3 bulan masa bulan madu, selanjutnya istri melendung, suami tersandung dan semua jadi bingung!

Itulah sebabnya para resi menyatakan, sebuah perkawinan itu adalah upacara yang teramat sakral, bukan asal berbenturan birahi, tetapi adalah ajang melahirkan”tuhan” itu sendiri dalam bentuk-bentuk saputra yang berguna tuk bangsa, Negara dan Dharma. Untuk itu diperlukan 25 tahun pertama agar perkawinan ini memasuki va (vi+va) Pada saat itu kalau pasangan suami istri ini masih menyatu sebagai keluarga dengan tetap mempertahankannya dalam suatu derita dan bahagia, maka dirayakanlah “viva”. Di masa lalu saat ini Sang Suami sebagai kepala rumah tangga sudah berusia sekitar 40 sampai dengan 50 tahun, ia pun lalu menyerahkan harta dan istrinya kepada putra tertua dan pergi bervarna-prastha selama lima tahun, mencari guru spiritual yang handal tuk bekal menjadi guru masyarakat sekitarnya, setelah lima tahun ia kembali ke keluarga dan berinteraksi dengan masyarakat, membagi-bagi semua hal-hal positif yang telah dipelajarinya selama ini. Pada usia perkawinan yang ke 35 tahun, keluarga besar ini akan merayakan vi+va+ha (vivaha), yaitu sebuah kemenangan berkeluarga yang berazaskan kesabaran, toleransi, suka dan duka yang dibagi dan diemban bersama-sama. Vivaha dalam hal ini bermakna kesuksesan, dengan kata lain Kama dan Artha telah bersinergi menjadi Dharma, dan tujuan menjadi manusyapun telah terlaksana dengan sempurna. Manusya barat yang belajar dari episode-episode vi-va-ha malah menirunya dengan hura-hura, pesta-pesta perkawinan yang disebut Silver Jubilee (kawin perak = 25 tahun), Golden Jubilee (kawin emas = 50 tahun) dan Diamond Jubilee (kawin intan = 75 tahun) tetapi penghayatannya amat berbeda! Di masa lalu sang pendeta akan menikahkan kembali kedua suami istri yang telah mencapai usia perkawinan ke 25 dan 35 secara amat sederhana dan bermakna. Masa kini hal-hal bermakna ini telah hampir sirna dan menjadi langkah, karena banyak yang bercerai sia-sia, karena rajin berselingkuh tanpa pernah sadar akan hakekat vivaha yang sebenarnya, tragis memang! Makna Dharma dalam perkawinan pun makin hari makin menjadi kabur.

Konon di masa permulaan Satya – Yuga, manusya pertama, manu merasa bosan hidup seorang diri selama berjuta-juta tahun, ia dilahirkan biseksual, biji-biji kemaluannya mengandung sperma perempuan di bagian kiri (= X) dan sperma laki-laki (= Y) di bagian kanannya, sampai saat ini pria normal dalam ilmu biologi, disebut heteroseksual dan Dharma Sastra Hindu menyebutnya sebagai Ardhana Geswara, sedangkan wanita adalah pengejawatahan bunda pertiwi, ia berstatus stri (istri = steril = x), simbolnya adalah merah darah (tanah), indung telur sewaktu menstuasi, sedangkan pria bersimbolkan warna putih, warna sperma yang disucikan (Kamandanu = air suci kehidupan hasil nafsu)

Pada mulanya setiap saat manu dapat bersahabat dan berbicara dengan Hyang Prajapati (Brahma) namun suatu hari sewaktu kebosanan hidup melajang sendiri menerpanya dia pun memohon agar dapat diberikan seorang teman pendamping tuk berbagi hidup ini, semenjak saat itu pria atau wanita selalu berhasrat mendapatkan pasangan karena merasa tidak lengkap hidup seorang diri, Prajapati yang maklum bahwasanya manusya akan segera berkembang biak lalu menyetujui dengan syarat manu hanya boleh memohon 2 kali lagi saja kepadanya, selanjutnya manusya tidak dapat menemui Sang Pencipta ini kecuali melalui meditasi (dhyana) yang berkesinambungan.

Malam tiba, manu tertidur lelap, Prajapati diam-diam mengambil sebuah spermatozoa dari telurnya yang kiri dan memasukkannya ke sebuah boneka yang dibuatnya dari tanah liat (sumbangan Pertiwi) jadi tidak seperti Injil dan Al-quran, maka wanita bukan hasil tulang rusuk Adam, tetapi amat biologis dan saintifis, adalah hasil dari sperma pria itu sendiri!

Prajapati pada malam itu (bulan Purnama) berjalan kearah timur sesuai “Wacana” yang diberikan oleh Sang Param Brahman (Tuhan yang Maha Tidak Terjabarkan), Pertiwi dengan mengucapkan Swaha (dengan ini kuserahkan yang terbaik dalam diriku) menyerahkan segumpal tanahnya yang paling baik dengan syarat pada saat kematian, manusya akan kembali kepadaNya, (dari tanah ke tanah), dan Prajapatipun menyetujuinya. Prajapati melihat kearah rembulan yang penuh cahaya dan bersabda,”berikan yang terhebat yang dikau miliki wahai dewa Chandra, dan bulan pun berkata Swaha, dan memasukkan inti kirananya ke dalam tanah liat di tangan Prajapati,tidak lama kemudian Prajapati bertemu seekor ular kobra yang amat berbisa, sang kobrapun dengan ‘Swaha”nya menyerahkan bisanya ke tanah liat tersebut. Demikianlah semalaman itu Prajapati berjalan terus ke arah Timur dan terus dan menemui berbagai ciptaanNya sendiri seperti bunga mawar yang menyerahkan keharumannya, burung beo dan kakatua yang menyerahkan gossip dan cerewetnya, burung merak yang menyerahkan tarian-tariannya yang mempesona, dan seterusnya pagi datang menjelang. Dalam kurun waktu itu berbagai ciptaan = di muka bumi ini telah men-Swaha-kan unsur-unsur inti mereka yang terbaik, terdashyat, terburuk dan terindah kepada sang calon manusya tersebut. Pagi tiba, Prajapatipun sampai ke tepi samudra, Surya menjemputnya dengan cahaya terang benderangnya, dengan Swaha Surya menganugrahkan teja dan samudra menyerahkan gelombang kehidupannya ( sejak saat itu vivaha menghadirkan gelombang dashyat).

Hyang Prajapati dengan seluruh unsur-unsur yang saling kontradiktif ini kemudian lalu menghembuskan Jiwanya ke dalam tanah liat yang telah berbentuk bayi ini dengan kata Swaha, dan di depannya berdiri seorang mahluk indah jelita, menawan, tetapi penuh ketegaran juga keragu-raguan, katanya lirih; “Aku ini siapa? Mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku ini? Dengan lembut Prtajapati bersabda : “Namamu adalah Shatarupa (hasil dari berbagai rupa-rupa) dikau dilahirkan tuk jadi sahabat Manu, bunda dari putra-putrimu, dharmamu adalah memperbanyak umat manusya agar terpenuhi Dharma yang berkesinambungan.Pergilah kearah pondok di arah timur, di dalamnya Manu sang Pria (Priya = kesayangan para dewa-dewa) sedang menunggumu.” Satharupa pun berjalan dengan lenggangnya yang menawan, penuh keharuman, dan pesona wanitanya, dadanya ranum ibarat kelapa muda penuh santan dan air surgawi (sejak saat itu wanita bersusu kehidupan)

Di depan gubuk kayu ia tertegun sejenak, lalu mengetuk pelahan, Manu tersentak bangun, ia membuka pintu dan terhenyak kaget bercampur pesona karena tiba-tiba ada mahluk indah menawan ibarat betari di depannya, konon saat itu manusya masih suci dan tidak berbusana, dan Manu pun langsung ereksi. Sejak saat itu di pagi hari para pria selalu ereksi bahkan bayi lalu pun begitu kata Weda shastra.

Keduanya langsung memadu kasih, lupa kepada yang lain-lainnya bahkan lupa kepada Prajapati yang menciptakan mereka, bertahun-tahun mereka dilanda nafsu membara dan larut dalam bahagia. Suatu saat secara biologis Shatarupa pun menstruasi tanda ia telah matang tubuhnya, namun Manu malah terhenyak takut, apalagi Shatarupa tiba-tiba berubah galak, marah-marah dan menjerit-jerit kesakitan, Manu pun lari ke hutan, galau dan duka, ia tidak percaya pada apa yang dialaminya dikasari oleh seorang wanita, namun tidak berkelanjutan lama, beberapa hari kemudian Shatarupa telah bersih kembali menjemputnya dan asyik masyuk berulang kali tiada tara, semenjak saat itu pria selalu lemah tidak berdaya di depan wanita.

Tiba-tiba suatu saat sang wanita menstruasi lagi, Manu pun shok berat lagi-lagi dan lagi-lagi, tetapi selalu Shatarupa akan kembali dan seks pun berulang-ulang lagi, akhirnya suatu saat Manu bosan dengan semua itu, (sejak saat itu pria sering bosan dengan ulah istrinya padahal sudah demikian kodrat wanita itu). Manu tiba-tiba teringat akan Prajapati, ia pun berdoa agar Hyang Prajapati berkenan mengambil kembali sang wanita, sejak saat itu wanita sering dikembalikan ke orang tuanya karena ego-ego suaminya. Prajapati berkenan mengambil kembali putrinya dengan catatan Manu hanya mempunyai satu kesempatan lagi tuk menemuinya.

Bertahun-tahun berlalu, pertama-tama Manu bahagia karena telah lepas dari “cengkraman’ wanita, tuk menyalurkan hasrat seksual-nya ia pun sering bermasturbasi (sejak saat itu pria gemar bermain-main dengan alat vitalnya (sejenis homoseksualitas karena dilakukan oleh pria ke pria itu sendiri). Tetapi lama kelamaan ia pun bosan, rasanya tidak lengkap tanpa wanita katanya munafik. (sejak saat itu banyak pria yang munafik di dunia ini!) karena “tergoda” dan tersandera oleh wanita. Ia pun menghadap ke Prajapati memohon agar Shatarupa dikembalikan, Shatharupa pun hadir, namun beliau tidak mau kembali ke Manu tanpa ada ikatan resmi di antara mereka dan sumpah setia dari sang Pria, Prajapati memohon sang Agni menjadi saksi, 33 juta dewa-dewi di Bhur, Bwah, dan Swah datang menghadiri, dan dilaksanakanlah upacara vivaha yang pertama ini di awal Satya Yuga. Sang pria tiga kali berputar kearah kanan (jarum jam) diikuti mempelai wanita, dan sang wanita berjalan satu kali ke kiri mengitari homa-Agni dengan sang Pria mengikuti dari belakang saling bertukar janji yang disebut Sapta Padi. Tiga kali putaran pradaksina pria berarti tiga janji ke Bhur, Bwah, Swah, namun wanita karena ia lebih kuat lahir dan bathin (9 kali lebih kuat daripada pria), maka wanita cukup dengan satu putaran saja. Demikianlah vivaha pertama yang mesti dilakukan oleh umat Hindu India sampai saat ini. Rig weda pun bersabda: “Apa yang telah dipersatukan tidak boleh dipisah-pisahkan bahkan oleh para dewata,”karena semua dewa-dewi langsung berseru,”Swaha” (kata-kata yang mirip ini ada di Injil).

Manu kemudian dalam “Manu Samshita” membuat peraturan-peraturan baru demi lestarinya umat manusya dan memutuskan lembaga vivaha sebagai suatu pelaksanaan dharma yang sakral. Namun di zaman Kali-Yuga ini, makna-makna kehidupan umat kita telah mulai memudar, semoga kisah kecil yang kami ulang ini dapat mengasah pedoman tuk yang masih ingin melestarikan vivaha sebagai sebuah bentuk dharma yang berkesinambungan, untuk itu kami sarikan Sapta Padi seperti di bawah ini :

SAPTA PADI
(TUJUH LANGKAH SUCI)

Bukan saja upacara pernikahan pasangan Hindu Dharma amat menarik dan penuh dengan pernak-pernik, warna-warni, namun juga amat sarat dengan filosofi kehidupan dan komitmen antara pasangan mempelai yang amat mendalam sifatnya. Tujuannya adalah untuk hidup dan berdharma bersama-sama seumur hidup. Apapun shakta (sekte)nya , dharma tidak memperkenankan perceraian. (Saat ini salah satu pasangan dapat menikah kembali sesuai dengan peraturan pemerintah, baik di India maupun di Indonesia). Pernikahan menjadi lebih indah dan berarti kalau diisi dengan janji calon suami-istri seperti di bawah ini:

SAPTA PADI

1. Wahai kekasihku, pada saat
dikau mengikuti tujuh langkahkahku,
maka cinta kasih dan persahabatan kita akan berubah
menjadi abadi. Kita akan
menikmati persatuan spiritual dengan Yang Maha Esa.
Pada saat ini dikau telah menjadi milikku
Secara lengkap dan kuserahkan jiwa-ragaku
Kepadamu. Pernikahan
Ini adalah mlilk kita selama-lamanya.
1. Wahai junjunganku, sesuai dengan kehendak-Nya dan Shastra Widhi, aku telah menjadi pasanganmu, apapun wacana yang kita janjikan telah diekspresikan melalui jalan pikiran yang murni. Kita berdua akan menghasilkan berbagai pahala untuk satu dan yang lainnys. Kita akan mengasihi satu dan yang lainnya selama-lamanya.
2. Wahai kekasihku,
dikau telah memenuhi rongga-rongga
di hatiku, sewaktu dikau mengikuti langkah ke enam denganku.
Semoga kedamaian senantiasa memenuhi
Kita sepanjang masa.

2. Wahai junjunganku, aku berjanji kepadamu akan senantiasa berpartisipasi dan bersama-samamu sepanjang waktu dan dalam segala perbuatan kebenaran, kesucian dan kenikmatan.
3. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah melaksanakan langkah yang ke lima bersamaku. Semoga Yang Maha Esa memberkahimu.
Semoga mereka-mereka yang kita kasihi hidup lama dan berpartisipasi dengan kemakmuran yang kita miliki.

3. Wahai junjunganku, aku berbagi rasa dalam setiap suka dan dukamu. Cinta kasihmu akan menumbuhkan kepercayaan dan rasa hormatku untukmu. Aku akan melaksanakan berbagai kehendakmu.
4. Wahai kekasihku, merupakan berkah yang agung bahwasanya dikau telah mengikuti langkahku yang ke empat bersama-samaku. Dikau telah membawa serta berbagai kesakralan dan kesucian dalam hidupku ini.
Semoga kita dikaruniai dengan putra-putri yang setia dan berperilaku agung. Semoga merekapun panjang usianya. 4. Wahai junjunganku, aku akan menghiasmu dari ujung kaki ke mahkota kepalamu, akan kuhiasi dengan berbagai kalungan bunga dan perhiasan, akan kuusapkan vibhuti cendana di keningmu dan kuwangikan dikau dengan wewangian semerbak mewangi.Aku akan melayanimu dan membahagiakanmu dalam setiap hal yang dapat kulakukan demi dirimu.
5.Wahai kekasihku, pada saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang ketiga. Melalui upacara ini , semoga kebajikan dan harta benda kita berdua akan bertambah. Aku akan memandang setiap wanita ibarat aku menatap saudara perempuanku. Bersama-sama kita akan mendidik putra-putri kita. Semoga mereka hidup lama. 5. Wahai junjunganku, aku akan mencintaimu sebagai suamiku melalui baktimu yang tunggal. Semua pria akan kuperlakukan ibarat memperlakukan saudara laki-lakiku. Baktiku kepadamu adalah bakti seorang wanita yang setia dan suci, dikau adalah kebahagiaanku. Inilah janji setiaku kepadamu.
6. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang kedua, dan mengisi hatiku dengan kekuatan dan semangat.Bersama-sama kita berdua akan menjaga keutuhan rumah-tangga dan kesejahteraan anak-anak kita.
6.Wahai junjunganku, di dalam kesedihanmu kupenuhi dengan semangat dan kekuatan. Di dalam kebahagiaanmu aku akan bergembira-ria. Kuberjanji akan senantiasa membahagiakan dikau dengan kata-kataku yang manis dan menjaga keutuhan keluarga dan putra-putri kita bersama. Dan dikau akan senantiasa mengasihi aku sebagai istrimu yang satu-satunya.
7. Wahai kekasihku, cita-cita kita berdua bertambah tegar sewaktu dikau melangkah satu langkah denganku. Dikau akan mempersiapkan santapan dan menunjangku dalam setiap hal. Daku akan membahagiakanmu dan mempersiapkan segala sesuatu demi kesejahteraan dan kebahagiaan putra-putri kita. 7. Inilah persembahan yang teramat sederhana bagimu, wahai junjunganku. Karena dikau telah mempercayai dan mengamanatkan pertanggungjawaban keluarga di pundakku, mengawasi santapan dan harta bendamu. Maka aku berjanji akan memikul seluruh tanggung jawab dan kesejahteraan keluarga dan putra-putri kami.

Pada saat terakhir, Manu memohon ke Prajapati dengankata-kata berikut ini :

“Dengan wanita aku tidak dapat hidup,
tetapi tanpa wanitapun aku tidak sanggup hidup.”

(Semenjak saat itu semua manusya bersandarkan bundanya dari awal kelahiran sampai matinya kembali ke pangkuan Bunda Pertiwi)

mohan m.s
Cisarua, November, 13-2009
diedit oleh: antonina