Arsip Kategori: upanishad

Kathopanishad

KATHOPANISHAD

 

Semoga Ia melindungi kami berdua.
Semoga Ia memberkati kami dengan Berkah Ilmu Pengetahuan.
Semoga ilmu pengetahuan ini kami pergunakan bersama-sama.
Semoga apa yang telah kami pelajari akan dipelajari
oleh yang lain-lainnya dengan baik.
Semoga kami tidak bersengketa (bertentangan)
satu dengan lainnya.
 Om Santihi – Santihi – Santihi

BAB  –  I

BAGIAN  –  I

(Kisah mengenai Nachiketas dirumah kematian) 

  1. Pada suatu saat diswargaloka, Usan, putra dari Vajasrava (Gautama), melaksanakan suatu upacara pengorbanan, dengan mengorbankan semua yang dimilikinya. Beliau berputrakan seorang anak laki-laki yang bernama Nachiketas.

 

  1. Sewaktu berbagai hadiah pengorbanan dipersembahkan, kegalauan (akan masa depan ayahnya) mengusik hati sanubari Nachiketas, yang pada saat itu masih seorang bocah kecil, dan iapun berpikir.

Keterangan : Usan putra dari Vajasrava melangsungkan upacara pengorbanan yang disebut Viswajit dimana ia harus menyerahkan semua harta benda yang dimilikinya kepada para resi dan fakir miskin. Upacara ini biasanya dilakukan oleh para raja yang berhasil mengalahkan kerajaan lainnya. Upacara ini juga biasanya dilakukan oleh sang kepala rumah tangga, dalam hal ini sang orang tua yang bersiap-siap ke hutan dan berburu, sambil memasuki kehidupannya sebagai Sang Sanyasi.

Pembicaraan dengan sang cucu, Nachiketas, ini malahan penuh dengan shradha (iman), ia memahami arti upacara yang dilaksanakan oleh ayahnya, Usan.

  1. Sapi-sapi ini telah meneguk air untuk yang terakhir kalinya, menyantap rerumputan untuk yang terakhir kalinya, telah kering seluruh susunya dan telah tua, kurus kering dan lemah. Sia-sia saja (tanpa kebahagiaan) loka-loka yang akan dicapai oleh seseorang yang menghaturkan daksina dengan cara ini demi sebuah yagna (upacara pengorbanan yang bersifat suci).
  2. Ia berkata kepada ayahnya, “Ayahanda, kepada siapa dikau akan mempersembahkan diriku ini?”, ia mengulangi pertanyaannya ini sampai tiga kali, sampai-sampai ayahnya teramat murka dan berkata, “Pada Kematian akan kupersembahkan dirimu”.

Keterangan : Nachiketas yang berkesadaran tinggi paham betul bahwa ayahnya telah melakukan yagna ini secara tidak murni, padahal upacara Viswajit ini bersifat teramat sakral dan merupakan penyerahan total terhadap yang Maha Kuasa akan kehidupan duniawi ini demi mempersiapkan jalan menuju ke Pencapaian Kebenaran. Anak kecil ini sadar bahwa karena ia milik ayahnya, maka seharusnya iapun dikorbankan. Maka ia bertanya dengan lugu sampai tiga kali, tetapi sang ayah yang merasa tersindir oleh anak ini malahan murka dan menyatakan bahwa putranya ini akan dipersembahkan kepada dewa kematian.

  1. Nachiketas berpikir, “Dari kesemuanya yang berjumlah banyak ini aku akan pergi paling awal, dari kesemuanya yang berjumlah banyak ini aku akan pergi ditengah-tengah semuanya ini ; pekerjaan apakah yang akan dilaksanakan oleh Yama, Dewa Kematian, melalui diriku ini, yang telah dipersembahkan oleh ayahku ini?”

Keterangan : Sebenarnya Nachiketas sadar bahwa ucapan ayahnya bernada kesal dan tidak sungguh-sungguh berarti, tetapi anak yang saleh dan penuh dengan Kesadaran akan prinsip-prinsip Sanathana Dharma tahu dan paham bahwasanya apapun yang sudah dikatakan tidak dapat dijilat kembali, sehingga ia yang memang merupakan jenius spiritual langsung saja mempersiapkan jiwa raganya demi yagna ayahnya ini.

Disini sidang pembaca dapat menyimpulkan sendiri tentang hakikat dari Dharma dan adharma, tentang seorang yang tulus dan yang tidak tulus.

Bagi Nachiketas selama ini ia mempelajari bahwa ayahnya adalah sekaligus gurunya, dan seorang guru itu dipercaya tidak akan melakukan hal yang salah.

  1. “Ingat bagaimana leluhur kami bertindak, pertimbangkan juga bagaimana yang lain-lainnya bertindak pada saatnya, ibarat tanaman jagung, matilah manusia-manusia ini, dan ibarat tanaman jagung terlahir (hidup) kembali. “

Keterangan : Sloka ini langsung dialamatkan oleh sang anak kepada ayahnya dan sloka ini penuh dengan intisari kebijaksanaan yang dikandung semua Sruthis dan merupakan pengejawantahan dari Sanathana Dharma itu sendiri. Didalam sloka ini juga tersirat secara nyata sekali akan filosofi kelahiran kembali (reinkarnasi) yang merupakan salah satu sendi iman kita yang paling utama.

Nachiketas yang sadar akan karma, pralabdha dan jalan kehidupannya, pada saat ini sedang memberikan “teguran” kepada ayahnya bahwa kehidupan itu harus terhenti suatu saat, lalu mengapa ayahnya melaksanakan suatu bentuk adharma yang berdasarkan ilusi duniawi, yaitu keserakahan yang sifatnya palsu.

  1. Seorang Brahmin (Brahmana) memasuki sebuah rumah ibarat api. Manusia-manusia mempersembahkan ini agar (sang tamu) ini tenang. Vaisvata! Pergi dan ambillah air.

Keterangan : Diantara sloka 6 dan 7 tercipta keheningan yang dramatis dan terdengar sebuah suara yang tak “berbentuk” membimbing Nachiketas untuk memasuki Istana Kematian. Nachiketas memaksa ayahnya agar ia dipersembahkan kepada Dewa Kematian sesuai dengan ucapan sang ayah, dan sang putra ini meninggalkan rumahnya dan memasuki alam kematian.

Ada banyak teori tentang bagaimana ia sampai kegerbangnya Yama Dewa, singkatnya ia sampai pintu gerbang Istana Kematian tetapi harus menanti tiga hari dan tiga malam karena Dewa Yama sedang tidak berada ditempat. Nachiketas menunggu kedatangan Dewa Yama sambil berpuasa (suatu puasa atau upawasa adalah salah satu bentuk tapa-brata diantara upaya-upaya disiplin yang biasanya diajarkan oleh sang guru kepada muridnya agar jalan spiritual sang murid terbuka lebar).

Tiga hari berlalu dan Dewa Yama pun kembali ke Istananya serta mendapatkan ada seorang Brahmin sejati yang sedang berpuasa dirumahnya. Kata api di sloka mantra diatas berarti seorang Brahmana yang bukan berdasarkan garis keturunannya, tetapi berdasarkan tingkat budhi dan kesadarannya yang tinggi serta suci. Api bersifat sangat murni dan suci. Disini Nachiketas diibaratkan sebagai seorang Brahmin sejati dan suci, dan bagi Dewa Yama kehadiran Nachiketas adalah suatu kehormatan sekaligus beban spiritual yang amat berat. Ia sadar bahwa tamu yang satu ini bukan manusia sembarangan.

  1. “Harapan, hasrat, bersama-sama dengan orang-orang yang berbudi luhur, diskusi-diskusi penuh rasa persahabatan, pengorbanan dan pahala dari pemberian-pemberian yang bersifat suci, putra-putra dan ternak . . . .   semua ini hancur berantakan sekiranya dirumah seorang yang kurang pengetahuan (bodoh) tinggal seorang Brahmin tanpa memakan sesuatu (tanpa disuguhi atau diberi santapan oleh yang empunya rumah tersebut).

Keterangan : Didalam ajaran Sanathana Dharma, seorang tamu yang bersifat Brahmin sejati sangatlah dihormati oleh tuan rumah yang mendapatkan kunjungan seorang guru. Bagi sang empunya rumah dan keluarganya, kunjungan seorang suci dianggap berkah yang amat besar karena kaki sang orang suci ini dianggap menyucikan lantai rumah mereka. Jadi adalah suatu perbuatan yang nista kalau sampai terjadi tamu semacam ini tidak dihormati secara layaknya. Tiba-tiba saja Yama Raja mendapatkan seorang tamu suci dengan sifat-sifat seorang Brahmin sejati dirumahnya dan betapa terkejutnya beliau mengetahui bahwa sang tamu belum mendapatkan suguhan apapun juga selama tiga hari, bahkan sambil menunggu sang tamu malahan berpuasa selama tiga hari. Sruthi menyatakan bahwa seorang yang mengabaikan Brahmin yang sejati disebut apamedhasah (seorang yang alpa, idiot, bodoh sekali). Sanathana Dharma tidak berlaku untuk manusia saja, tetapi aturan-aturan dharma ini juga harus ditaati oleh para dewa dewi, bodhisatwa dan yang lainnya karena mereka adalah panutan dan penuntun manusia.

Didalam konsep Sanathana Dharma seorang tamu disebut sebagai Athihi-Narayana (atau manifestasi dari Tuhan itu sendiri). Memberikan santapan kepada seorang suci yang berkarakter Narayana Bhav dianggap sebagai salah satu dari Pancha Maha Yagna (Lima Pengorbanan Utama). Bagi sidang pembaca harus hati-hati membedakan bahwasanya tidak semua yang berkasta Brahmana harus dihormati, tetapi hanya orang-orang budiman yang menyandang sifat-sifat mulia sajalah yang harusnya dihormati dan dijadikan panutan serta diibaratkan sebagai seorang guru sejati dan insan mulia ini dapat saja berasal dari varna apa saja. Ciri-ciri insan yang agung ini selalu sederhana pembawaannya walaupun ia berasal dari golongan apapun juga, ia selalu penuh wibawa, pesona dan cahaya spiritual.

  1. Yama berucap : “Wahai Brahmana, dikau adalah tamu kami yang terhormat, dan telah tinggal selama tiga malam dirumah kami tanpa menyantap sesuatu apapun juga. Oleh karena itu untuk penggantinya, kami mohon dikau untuk meminta tiga hal yang berkenan dihati kepada kami, wahai Brahmana, kami bersujud dihadapanmu. Semoga Kebajikan beserta denganku senantiasa.”

Keterangan : Suatu hal yang mengejutkan tentunya bagi sidang pembaca untuk mengetahui bahwa Yama Raja yang ditakuti oleh semua mahluk dan bahkan oleh para dewa dan manusia ternyata bersujud dan memohon maaf kepada seorang anak yang baru berusia sembilan tahun. Ada suatu nilai luhur yang telah hilang dibumi kita ini, yaitu menghormati orang lain yang lebih mulia. Umumnya kita yang merasa diri berkasta tinggi harus dihormati dengan bahasa yang khusus, dengan segala tata cara yang feodalistis. Seharusnya kita lebih banyak berintrospeksi dari cara Yama Dewa menghadapi Nachiketas ini. Dewa Kematian yang memegang otoritas tertinggi dijajaran dewa dewi ternyata juga adalah seorang Brahmin sejati.

  1. Nachiketas berucap : “Wahai Kematian! Permintaanku yang pertama agar ayahku (Gautama) bersikap welas asih, bajik dan jauh dari rasa amarah terhadap diriku, dan agar ia mengenalku dan menyambutku, sewaktu aku pulang dari kediamanku ini.”

Keterangan : Sekali lagi Nachiketas memperlihatkan sifat-sifat Brahminnya yang sejati. Tanpa memikirkan dirinya pribadi, yang diminta adalah kebajikan semata-mata bagi ayahnya, suatu contoh kesaputraan yang teramat mulia, walaupun ia telah dikorbankan oleh ayahnya kepada Dewa Kematian.

  1. “Melalui kehendakku, Anddalaki, putra Aruna, akan mengenalmu kembali seperti sebelum ini. Ia akan tidur secara damai dimalam hari, sewaktu ia menyaksikan dikau terlepas dari mulut kematian, ia akan kehilangan amarahnya.”

Keterangan : Di sloka ini Yama Raja langsung saja memenuhi permintaan Nachiketas yang pertama. Ayahanda Nachiketas mempunyai empat nama, yang di Upanishad disebut-sebut sebagai Gautama, Anddalaki, Aruni dan Vajasravasah. Kata Gautama mungkin adalah kata penghormatan baginya.

  1. Di swargaloka tidak terdapat rasa khawatir. Dikau tidak berada disana ; juga disana tidak terdapat kekhawatiran akan hari tua. Setelah menyeberangi rasa lapar dan rasa haus, seseorang di swargaloka berbahagia karena telah berada diatas (melampaui) rasa kesedihan.

Keterangan : Sambil mempersiapkan permintaannya yang kedua, Nachiketas mengagungkan kehidupan di swargaloka yang jauh dari berbagai penderitaan dan kekhawatiran akan hari tua. Manusia mempunyai lima tahap kehidupan yaitu kelahiran, masa kanak-kanak, masa muda, usia tua dan kematian. Sedangkan para dewa di swargaloka hanya memiliki tiga tahap pertama. Pada masa yang silam, yaitu pada jamannya Veda-Veda, Dewa Kematian dianggap sebagai dewa pembimbing seseorang kepintu sorga, pada masa kini Beliau dianggap sebagai dewa yang menakutkan, karena persepsi manusia telah berubah dari petunjuk-petunjuk Veda yang sarat dengan nilai-nilai spiritual yang mulia ke nilai-nilai duniawi yang sarat dengan materi pada saat ini.

  1. “Wahai Kematian, Dikau faham akan api yang menuju kearah swargaloka ; terangkan kepadaku yang penuh dengan rasa keingintahuan yang amat mendalam ini, akan unsur api ini, yang digunakan oleh mereka-mereka yang menginginkan kehidupan yang di sorga, inilah permintaanku yang kedua.”

Keterangan : Banyak manusia didunia ini yang menghabiskan waktu mereka dengan melakukan berbagai upacara, upaya spiritual, dana-punia, dan berbagai bentuk kebajikan agar mendapatkan pahala yang berupa kehidupan yang abadi di swargaloka. Bagi seorang Yogi atau Brahmin seperti Nachiketas, orang-orang ini adalah insan-insan yang bodoh, karena sebenarnya kehidupan disorgapun tidak abadi dan ada masa habisnya ; demi mereka-mereka ini ia memohon suatu petunjuk rahasia yang bersifat teramat mendalam yaitu sesuatu yang berhubungan dengan karma umat manusia. Kita lihat disini bahwa Nachiketas sebenarnya ingin menuntun umat manusia agar keluar dari unsur-unsur untuk mendapatkan pahala secara spiritual ; dan untuk itu ia memohon petunjuk kepada Yama Raja agar diberi ajaran pembebasan secara spiritual dari ilusi duniawi ini (termasuk didalamnya adalah swargaloka itu sendiri) yang sebenarnya bukanlah tujuan sejati kehidupan kita sebagai manusia dibumi ini. Seorang Hindu sejati seharusnya tidak mendambakan swargaloka, tetapi ia seharusnya menyadari akan hakikat dirinya sendiri dahulu sebagai Sang Atman yang berasal dari Yang Maha Atman (Paramatman). Secara tersirat dan hanya dimengerti oleh Yama Raja, sebenarnya Nachiketas melalui permintaannya yang kedua memohon agar diberi pengajaran suatu bentuk ajaran spiritual yang teramat rahasia demi kebebasan umat manusia dari ilusi duniawi dan spiritual ini yang merupakan hambatan kita kepenyatuan dengan Sang Atman dahulu lalu ke Sang Paramatman, yang adalah sebenarnya misi kita yang sejati, yang dilahirkan sebagai manusia yang berbudi (intelek).

  1. “Akan kami terangkan kepada dikau secara baik ; wahai Nachiketas, perhatikanlah ucapan-ucapan kami ini, kami tahu akan api yang menuju ke swargaloka ; pahamilah bahwa api (agni) yang menuju ke swarga ini adalah juga api yang menunjang alam semesta dan yang bersemayam didalam relung hati sanubari.”

Keterangan : Mulailah Yama Raja mengungkapkan rahasia alam yang disebut Agni-Vidya (ilmu pengetahuan atau pemujaan kepada Dewa Agni). Bagi manusia-manusia yang kurang paham akan nilai sesungguhnya, ia akan memuja Dewa Agni dengan berbagai ritual dan mengharapkan berbagai pahala. Bagi yang paham akan rahasia Agni ini secara sesungguhnya akan terbebaskan dari dunia ini. Agni atau api adalah unsur penunjang secara makro-kosmik dialam semesta ini dan dikenal sebagai Virat. Ia juga terletak direlung sanubari manusia yang berarti bahwa api ini adalah budhi (intelek spiritual) kita yang hanya terdapat didalam nurani kita yang paling dalam ibarat sebuah gua yang gelap dan teramat dalam (nihitam guhayam).

Sloka diatas menyadarkan kita bahwa bukan ritual yang penting tetapi penghayatan akan arti dan makna dari sesuatu pengorbanan, itulah yang harus dipahami secara sadar dan benar sebagai jembatan kearah pembebasan yang hakiki sifatnya.

Yama kemudian menerangkan kepadanya mengenai tatacara pengorbanan api ini, sumber dari berbagai loka-loka, batu-batu bata jenis apa yang harus dipergunakan sebagai altar, berapa jumlah dan bagaimana menata batu-batu bata ini dan Nachiketas mengulang kembali semua itu kepada gurunya sama seperti yang dijelaskan oleh sang guru. Kemudian Dewa Yama yang sangat terkesan dan bahagia dengan muridnya berkata lagi.

  1. Yama kemudian menerangkan kepadanya mengenai tatacara pengorbanan api ini, sumber dari berbagai dunia (loka-loka); batubara jenis apa saja yang harus dipergunakan sebagai altar, kemudian berapa jumlah dan cara menata susunan batu-batu bata ini, dan Nachiketas mengulang kembali semua itu kepada gurunya tepat seperti yang dijelaskan oleh Sang Guru. Dewa Yama yang sangat terkesan dan berbahagia dengan sang murid ini, kemudian berkata lagi.

Keterangan : Tidak diterangkan dikarya ini apa saja sebenarnya yang diajarkan oleh Yama Raja kepada Nachiketas, tetapi tentunya sesuatu yang teramat rumit dan memakan waktu agar sang murid gagal mencernakannya, ternyata Nachiketas adalah seorang murid yang jenius dan berbakti secara tulus dan ia mampu menjelaskan kembali semua ajaran Dewa Yama secara tepat dan terperinci. Tentu saja sang guru merasa bangga dan teramat puas serta berbahagia mendapatkan murid berbakat semacam ini, dan langsung saja Yama Raja memberikan sebuah anugerah kepadanya.

Selengkapnya silahkan di ebook

Kaivalyopanishad

KAIVALYOPANISHAD

Sementara para ahli Hindu Dharma berpendapat bahwa berbagai Upanishad sebenarnya adalah intisari filosofi dari berbagai Veda, dan berhubungan secara masing-masing dengan keempat veda yaitu Rig, Yajur, Sama dan Atharva Veda (Atharvana Veda).

Keempat Veda ini mengungkapkan ajaran dengan membagi diri mereka menjadi 4 bagian yaitu :

  1. a)Mantra-mantra (mantram)
  2. b)Brahmanas (tata cara upacara)
  3. c)Aranyakas (metode-metode meditasi, Upasanas)
  4. d)Upanishads (ajaran-ajaran para resi guru mengenai penciptaan dan tujuan penciptaan ini)

Seperti yang telah kita ketahui kata Upanishad dapat diartikan duduk di dekat seorang guru sambil mendengarkan ajaran beliau, atau mengajar sambil duduk berhadapan dengan para murid. Ajaran-ajaran ini ada yang bersifat adi-luhung dan adi-karya dan diakui sebagai ajaran-ajaran suci yang kemudian dikenal dengan sebutan Upanishad.

Konon di masa silam diperkirakan ada 1008 karya Upanishad ini, namun hilang entah kemana rimbanya. Ada yang dibumi hanguskan oleh Alexander yang pernah menjajah India dan ada juga yang telah dihilangkan secara sengaja karena berbagai alasan yang tidak diketahui dengan pasti. Di antaranya para ahli  memperkirakan ada sekitar 280 karya Upanishad ini yang masih belum dapat ditemukan tetapi seharusnya ada; dan ada sejumlah 108 karya lainnya yang telah ditemukan. Dari keseratus delapan karya ini 11 buah karya telah mendapatkan pengakuan dari para guru resi dan dari filsuf resi Sri Shankara Acharya, bapak Sanatana Dharma yang tanpa studi beliau tidak mungkin Hinduisme mencapai puncaknya seperti kini. Kesebelas karya-karya ini dianggap karya-karya yang agung sedangkan yang lain-lainnya dianggap biasa-biasa saja dan cukup untuk diajarkan kepada para pemula saja (tingkat pelajar), sedangkan kesebelas karya ini untuk para sishya yang sudah tinggi pemahamannya akan Sanatana Dharma ini. Kesebelas karya (ditambahkan satu lagi menjadi 12) karya ini adalah :

– Katha                   – Isha

– Kena                    – Prasna

– Mundaka              – Mandukya

– Taittiriya                – Aitareya

– Chandogya           – Brihadaranyaka

– Kaivalya                – Svetasvatara

Kaivalya Upanishad ini tercangkum di dalam Atharva Veda dan sering dianggap karya minor karena sedikit isi sloka-slokanya, namun makna yang dikandung sungguhlah agung dan sakral.

Berisikan dialog suci antara sang pencipta Brahma dan salah seorang sishyanya, dialog ini merupakan ajaran yang penuh dengan intisari spritual yang tinggi dan menakjubkan.

 

SHANTI PAT

(PUJA-PUJI PERDAMAIAN)

 “Wahai para dewata ! Semoga kami senantiasa mendengarkan dengan telinga kami berbagai perihal yang bersifat suci dan murni; Wahai yang kami puja, semoga kami melihat hal-hal yang suci dengan mata kami. Semoga seluruh kehidupan kami yang telah ditentukan masanya ini dapat kami jalani secara sehat dan bahagia sambil selalu memuja-mujiMu. Semoga Hyang Indra yang dimuliakan, yang berasal dari masa yang teramat silam dan terkenal, semoga Pushan (Hyang Surya) yang maha mengetahui, semoga Hyang Bayu yang melaju cepat menjaga kami dari berbagai bencana, dan semoga Brihaspati yang menjaga harta benda kami yang bersifat spritual, memberkahi kami dengan kekuatan budhi (daya intelektual) agar kami mampu memahami karya spritual ini, dan memahami semangat yang menyertai ajaran ini.”

Selengkapnya di ebook

Isavasyopanishad (Vajasaneyi Samhita Upanishad)

ISAVASYOPANISHAD

 Sering sekali seseorang yang sedang meniti jalan spritualnya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain “Apakah yang mendorong seseorang untuk mengalami kegalauan spritual padahal banyak insan lain yang tidak mengalaminya sama sekali ?”

Berbagai petunjuk di dalam sastra-sastra Hindu menegaskan bahwa gejala tersebut muncul karena adanya evolusi dan pertumbuhan secara individual; Darwin pernah berteori bahwa manusia masih akan tumbuh terus sampai ke tahap akhir evolusi yang disebutnya supermanhood (manusia super). Tentu saja Darwin menyatakan hal ini berdasarkan penelitiannya akan alam sekelilingnya. Kronologi fossil-fossil yang dipelajarinya menghasilkan kesimpulan bahwa kehidupan tumbuh-tumbuhan itu lebih tinggi sifatnya dibandingkan dengan bebatuan; dan kehidupan fauna lebih tinggi dari pada kehidupan tumbuh-tumbuhan , dan di antara fauna yang paling tinggi tahap evolusi dan potensinya adalah manusia dengan daya intelektualnya. Dan Darwinpun terus berkeyakinan bahwa karena manusia sedang berevolusi secara terus menerus, maka suatu saat nanti manusia akan mencapai tahap kecanggihan yang luar biasa yang disebutnya supermanhood.

Kalau bagi Darwin patokan teorinya berdasarkan kadar intelegensia manusia yang berkembang terus, maka para resi pencetus berbagai Upanishad mendasarkan perkembangan manusia atas kwantitas kesadaran atau (rasa eling) yang termanifestasikan melalui organ-organ mental dan fisik manusia itu sendiri. Dengan kata lain manusia adalah suatu ciptaan supra natural yang berintikan sifat-sifat spritual Ilahi yang selalu berkembang ke arah penemuan Jati Dirinnya sendiri dari mana ia berasal. Dan di antara miliaran manusia di bumi ini sebagian besar bahkan tidak menyadari akan hakikat spritual Ilahi yang terkandung di dalam dirinya, dan mereka ini bisa berperilaku menyerupai binatang. Dari sudut pandang Vendanta, insan-insan semacam ini belum mencapai tahap kemanusiaannya secara utuh oleh karena mereka ini masih memiliki naluri-naluri rendah yang berperikebinatangan. Para guru resi Vedanta di masa-masa silam mengkategorikan insan manusia dalam tiga katagori yaitu:

  1. Manusia yang berperilaku kebinatangan
  2. Manusia yang berperilaku kemanusiaan
  3. Manusia yang canggih (super)

Manusia yang berperilaku binatang ini adalah jenis-jenis manusia yang kadar kesadaran spritualnya teramat rendah dan penuh dengan berbagai nafsu dan berperilaku atheis. Bagi mereka agama dan pengertian / penghayatan akan Yang Maha Esa adalah pemikiran yang sia-sia saja karena tidak disadarinya sama sekali.

Tetapi evolusi manusia secara spritual mampu meningkatkan kategori manusia di atas menjadi manusia yang berperilaku kemanusiaan dan selanjutnya lambat laun meningkat terus ke tahap-tahap yang lebih tinggi. Berbagai sastra menyebut mereka ini sebagai Adhikarin, yang berarti manusia-manusia yang pantas untuk tahap kehidupan spritual.

Dewasa ini ditunjang oleh berbagai kemajuan di dalam bidang teknologi dan pada saat yang sama kehidupan manusiapun terus berkembang, maka setiap insan yang memiliki intelegensia di dalam dirinya berhak untuk mencari dan menemukan jati dirinya sendiri dengan mempelajari semua sastra-sastra suci, dari zaman ke zaman yang dahulunya disimpan rapi untuk golongan tertentu saja.

Hindhu Dharma tanpa ajaran Vedanta sama saja dengan agama mati, kata para ahli. Pada era ini Vedanta dan semua ajaran-ajaran Hindhu Dharma telah terbuka bagi kaum awam, bahkan orang asing dan yang berlainan agamapun bisa mempelajarinya dengan mudah. Bagi umat Hindhu Dharma di Indonesia khususnya di Bali yang selama ini hanya menurut dan nunut saja kepada kaum Brahmana keterbukaan ini sangat menggetarkan dan mengagetkan sekali, dan kaum muda yang kritis segera saja bereaksi dan tidak mau asal ikut-ikutan lagi. Pada masa-masa mendatang di Indonesiapun Hindhu Dharma akan berkembang secara pesat, apalagi semua akses agama Hindhu bisa didapatkan di internet secara mudah sekali.

Di dunia yang penuh dengan kebutuhan materialistik yang makin meningkat ini, manusia terhalang oleh berbagai kebutuhan keluarga, oleh berbagai bentuk hasrat, keinginan dan nafsu disamping kebutuhan status simbol, dan sebagian manusiapun lalu terjerumus ke dalam ilusi duniawi ini yang seharusnya menjadi wahana atau alat malahan menjadi tujuan dan tersesatlah manusia ini dari penemuan jati dirinya untuk apa dia sebenarnya dilahirkan.

Sering juga manusia yang meniti jalan kesadarannya bertanya kepada dirinya sendiri, “Seandainya manusia itu adalah sebagian dari Yang Maha Esa mengapa manusia ini selalu dirundung oleh malapetaka?” Para resi menjawab karena manusia tersebut belum sadar akan hakikat dirinya. Manusia ini sebagian besar tidak sadar akan semua fenomena di sekitarnya apalagi yang ada di dalam jiwa raganya sendiri, sehingga cenderung merusak dirinya dari pada melestarikan dirinya sendiri. Para resi bersabda bahwa kehidupan ini terdiri dari berbagai fragmen atau episode yang terjalin dari waktu ke waktu. Sebenarnya kata mereka, ada tiga faktor utama penunjang kehidupan ini yaitu :

(1) subjek, (2) objek, dan (3) hubungan antara subjek dan objek. Karena kekurangan pengetahuan (vignana) kita maka kita cenderung terbius oleh sifat duniawi ini (dunia luar, dunia yang kasat mata) dan terikatlah kita dengan sang maya (ilusi duniawi, prakriti, pradana) ini dan akibatnya timbulah penderitaan dari jalinan duniawi nafsu, keinginan, kewajibn dan sebagainya yang tak ada habis-habisnya. Bhagavat-Gita mengibaratkan fenomena ini ibarat ranting, daun, cabang dari pohon asvatha yang harus ditebas habis dengan pedang kesadaran. Kalau hanya objek duniawi saja yang dikejar dan dipuja terus maka akan sirnalah cahaya Ilahi yang terkandung di dalam jiwa kita, yang sebenarnya sudah hadir semenjak manusia ini berbentuk janin di dalam rahim ibunya. Kalau Cahaya Yang Maha Esa tersebut kita ibaratkan sebagai subjek kehidupan ini maka seyogyanyalah setiap insan menjalin hubungan yang mesra dan penuh hormat terhadapNya, dan Beliaupun akan hadir menuntun kita ke arahNya dengan penuh cinta kasih yang sulit diutarakan bagi kaum awam. Kasih semacam ini disebut prema.

 

GNANA-YAGNA

Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan

Semenjak kurun waktu yang teramat silam, jauh sebelum ilmu pengetahuan barat melanda dunia ini, para resi telah mendeklarasikan dharma sebagai ilmu pengetahuan sejati (Science of Truth). Dharma yang berkembang di India ini kemudian dikenal dengan nama Sanatana Dharma, yaitu dharma yang diturunkan secara turun-menurun secara berkesinambungan dari seorang guru resi kepada sishyanya dan begitu seterusnya, dan jadilah semua nama Hindhu (Sanatana) Dharma termasuk ajaran Sidharta Buddha Gautama, Guru Nanak dan Satya Sai Baba dan para guru-guru lainnya dewasa ini. Kita boleh menyimak sendiri apakah makna dan intisari dari dharma ini, kedamaian atau peperangan ? Apakah pencarian akan Tuhan Yang Maha Esa itu suatu bentuk kebodohan ataukah panggilan akan cinta kasihNya ? Apakah kehidupan ini menyesatkan atau menghantarkan kita kepada Yang Maha Hakiki ? Jawaban ada pada para resi di masa-masa silam yang mempersembahkan pengalaman-pengalaman spritual mereka dalam berbagai karya yang disebut Upanishad tanpa mencantumkan hak cipta maupun nama mereka, karena keyakinan mereka bahwa ilmu pengetahuan berasal dariNya dan hanya untukNya semata jua.

Salah satu Upanishad dari keseluruhan 108 Upanishad (disimbolkan dengan 108 butir tasbih ganatri) adalah karya ini yang dikenal dengan nama Isavasya Upanishad yang menyabdakan banyak aspek dan kahikat misteri Yang Maha Esa dan kehidupan ini yang penuh dengan misteri spritual dan duniawi. Apakah di masa-masa mendatang Sanatana Dharma masih akan bertahan dan eksis, sebelum mengambil kesimpulan yang salah baiklah kita mempelajari karya adi-luhung yang satu ini hasil terapan para resi melalui meditasi mereka yang intensif dan penuh bakti.

Karena adanya bantaran waktu yang luas di antara para resi di masa silam dengan kita di masa kini, maka sebaiknya kita cari nilai-nilai universal yang terkandung di dalam karya ini yang masih bisa kita hayati di era ini. Mungkinkah karya ini telah ketinggalan zaman ataukah kita yang telah ketinggalan kereta?

Isavasya upanishad ini sebenarnya merupakan bab terakhir dari Sukla Yajurveda Samhita, sering juga karya ini dikenal dengan nama Samhitopanishad. Sabda-sabda dalam berbagai Upanishad dalam bentuk metrikal disebut mantra, sehingga sering berbagai Upanishad ini disebut juga Mantropanishad dan diantara berbagai Mantropanishad karya ini terkenal sebagai yang terindah dalam bahasa Sansekerta.

Isavasya Upanishad ini terdiri dari dua resensi yaitu Kanva dan Madhyandina, yang pertama terdiri dari 18 stanza atau mantra. Karya siapakah Upanishad yang satu ini ? Tidak seorangpun yang akan tahu, karena para resi di zaman dahulu tidak mengenal sistem hak cipta, bagi mereka semua bentuk ilmu pengetahuan datang atas berkah Yang Maha Esa dan harus didedikasikan demi Ia semata.

¨    Para ahli menafsirkan ada 7 inti ajaran di dalam karya ini. Yang pertama, yaitu para guru pengarang Upanishad ini sebenarnya sedang menunjukkan jalan kebenaran melalui jalur pemasrahan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian.

¨       Yang kedua, adalah jalan aksi (bekerja, berkarya, jalan karma). Jalan ini khusus diperuntukkan bagi mereka-mereka yang tidak mampu menjalani jalan yang pertama.

¨       Jalan ketiga, mengisyaratkan bahwa seseorang yang tidak mengambil jalan yang pertama dan kedua akan hancur total dan tersesat dalam penderitaan dan kegelapan.

¨       Jalan keempat, menunjukkan tujuan dari kehidupan ini yang sebenarnya sudah tersirat di stanza yang pertama, dan bagaimana seseorang yang telah mencapai tujuan tersebut mampu sesudah itu hidup di dalam suatu fenomena yang penuh sarat dengan pengalaman-pengalaman mistik akan kebenaran sejati.

¨       Jalan kelima, terdapat di antara stanza 9 s/d 14 yang menyiratkan bahwa ilmu pengetahuan dan tindakan (meditasi dan pemujaan) harus dilakukan secara bersamaan seandainya seseorang ingin mencapai kemajuan spritual secara maksimum, karena kedua faktor ini sebenarnya saling menunjang satu dengan yang lain sehingga tahap pemahaman akan Sang Jati Diri akan lebih meda dicapai oleh sipelaksana.

¨       Jalan keenam, (stanza 15 – 17) menyiratkan hasrat seseorang manusia (yang pasti akan mati suatu saat) ke arah Yang Tak Dapat Binasa (Sang Jati Diri, Atman), agar Sang Atman sudi kiranya menampakkan DiriNya dalam kenikmatan Ilahi.

¨       Jalan ketujuh, memberikan pemikiran akan pentingnya puja-puji ke Yang Maha Esa agar sang guru dan sang sishya pendaki jalan spritual ini selalu dituntun dan dibantu perkembangannya.

Biasanya dalam setiap Upanishad, sang guru dan sang murid selalu memulai dan mengakhiri suatu wejangan spritual dengan menghaturkan puja-puji kepada Yang Maha Esa yang berintikan kedamaian (shanti). Kekuatan sebuah doa puja-puji yang tulus ke Yang Maha Esa tidak dapat digambarkan kesaktiannya. Pada zaman ini doa puja-puji dengan mudah dijadikan barang dagangan / komoditi. Tetapi dizamannya Upanishad sebuah doa antara seorang guru dan sishyanya adalah sebuah alat penyaring kekotoran di dalam diri mereka sendiri, dan sebuah ajaran dimulai dan diakhiri doa bersama, hasilnya sangat efektif secara spritual.

Selengkapnya di ebook

Upanishads

Sang Hyang Brahman, sumber, pengayom dan akhir dari alam semesta ini, memenuhi segala aspek dari seluruh eksistensi ini. Beliau sadar di kala seseorang insan-manusia itu sadar, Beliau bermimpi dengan mereka- mereka yang bermimpi, dan Beliau tidur lelap di kala seseorang tertidur lelap tanpa mimpi; namun Beliaupun melampaui ketiga tahap ini untuk menemukan Jati Dirinya. Hakikat sebenarnya dari Sang Brahman ini disebut kesadaran murni.
Dengan ini dimulailah Aitareya Upanishad ini,
Semoga kata-kataku bersatu dengan jalan pikiranku, dan jalan pikiranku menyatu dengan kata- kataku. Wahai Dikau Sang Hyang Brahman yang bercahaya dari asalMu sendiri, sudilah menyingkirkan tirai kebodohan yang menghadang di depanku ini, agar dapat kusaksikan cahayaMu. Sudikah Dikau mengungkapkan intisari dari berbagai skripsi-skripsi suci. Semoga kebenaran di dalam skripsi- skripsi ini senantiasa hadir di dalam diriku. Semoga aku senantiasa menyadari hakikat yang telah kupelajari setiap pagi dan malam, dari kaum yang suci. Semoga aku selalu mengutarakan perihal yang benar mengenai Sang Hyang Brahman. Semoga aku selalu mengucapkan kata-kata yang benar. Semoga kebenaran melindungiku. Semoga kebenaran melindungi guruku.
Om shanti-shanti-shanti.
“Sebelum penciptaan, yang hadir hanyalah Sang Hyang Jati Diri, hanya Beliau sendiri. Tidak ada sesuatu apapun juga yang lain. Kemudian Beliau berpikir: “Sebaiknya Aku menciptakan alam-semesta (berbagai loka, dunia).”
“Kemudian, Beliau menciptakan alam-semesta ini
Ambhas…. yaitu dunia atau loka yang tertinggi, jauh di atas langit dan ditunjang oleh sang langit, kemudian Beliau menciptakan Marichi (langit), Mara (dunia ini, sang bumi) dan Apa yaitu dunia bawah tanah.”
Beliaupun berpikir: “Saksikanlah wahai berbagai loka, Aku kirimkan berbagai penjaga bagimu. Kemudian Beliaupun mengirimkan berbagai ragam penjaga ke dunia-dunia ini. Dan kemudian Beliaupun menciptakan beragam bahan makanan untuk mereka ini.”
Beliaupun berpikir: ” Bagaimana mungkin ada para penjaga tanpa Aku berpartisipasi dengan (di dalam) diri mereka ?”
Seandainya tanpa Aku, lalu kata-kata diucapkan, nafas ditarik dan dihembuskan, mata melihat, telinga mendengar, kulit merasai, Pikiran berfikir, alat-alat kelamin berfungsi lalu apakah Aku ini ?
Beliaupun berpikir: “Sebaiknya Aku memasuki para penjaga ini. Beliaupun kemudian membuka (membelah) pusat tengkorak kepala mereka dan memasuki rongga ini. Pintu masuk ini disebut sebagai pintu Karunia.
Keterangan : Pintu masuk ini dikenal oleh para yogin dengan nama Sahashara Cakra, terletak di pusat otak, di antara kedua hyphothalamus, dan merupakan cakra tertinggi dalam tahap meditasi dan kesadaran spiritual. Dikatakan seandainya seseorang mampu terserap ke titik ini di dalam meditasinya, maka insan tersebut akan mencapai hakikat Sang Brahman.
Sang Hyang Jati Diri ini tidak bisa dikenali, namun ada tiga tahap bagi sang jiwa untuk disadari yaitu masing-masing…. tahap kesadaran (alam-sadar), tahap mimpi (alam-mimpi), dan tahap tidur lelap
www.shantiwangi.com
tanpa mimpi. Di dalam ketiga tahap ini hadir Sang Jati Diri. Sewaktu kita berada di tahap kesadaran, maka mata merupakan tempat Beliau bersemayam, dan di kala bermimpi, maka sang pikiran. adalah tempat- Nya bersemayam. dan di kala tidur lelap tanpa mimpi, maka relung hati sanubari yang paiing dalam (berupa teratai) adalah tempat Beliau bersemayam.
Setelah memasuki para penjaga-penjaga ini, Beliaupun memperkenalkan Dirinya kepada mereka. Beliau berubah menjadi berbagai mahluk individual yang beraneka-ragam. Selanjutnya, seandainya seseorang tersadar dari ketiga tahap kehidupan ini, yaitu alam-sadar, alam mimpi, alam tidur lelap, maka yang terlihat adalah hanya Sang Hyang Brahman, yang bersifat Maha Hadir, dan insan ini akan menyatakan “Aku memahami Sang Brahman.”
Keterangan : Tahap memahami atau mengenal Sang Brahman ini disebut tahap Thuriya, di Mandukya Upanisahad. Tahap ini adalah tahap tertinggi penuh dengan Karunia dan CahayaNya, setelah seseorang mampu dituntun melalui ketiga tahap sebelumnya.
“Siapakah Sang Jati Diri ini yang kami ingin puja ini ? Seperti apakah sifat-sifatNya (ciri-ciriNya?). Apakah Beliau ini adalah sang jiwa, melalui apa kami bisa melihat bentuk, mendengarkan suara, mencium aroma, berkata-kata dan merasakan rasa manis ataupun rasa pahit ?.
Apakah hati dan sang pikiran ini, melalui sarana ini kami mampu menerima perintah, mampu berbeda pendapat, mengetahui, berfikir, mengingat, bertekad, merasakan, menghasratkan, bernafas, mengasihi dan melaksanakan berbagai hal dan benar-benar bekerja ?
Tidak, semua ini hanyalah unsur-unsur dari Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Biri yang merupakan kesadaran murni ini adalah Sang Brahman. Beliau adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Beliau juga adalah semua dewa, kelima unsur maha panca bhuta bumi, udara, api, air dan ether; setiap mahluk baik yang besar maupun kecil, baik yang terlahir dari jenis telur, dari kandungan, dari panas, dari bumi, dari berbagai hewan kuda, sapi, dan insan manusia, dari berbagai hewan jenis gajah, burung, dan setiap mahluk yang bernafas, yang berjalan dan tidak berjalan. Sang Brahman adalah Realitas dibalik semua unsur-unsur ini, dan Beliau adalah Kesadaran Sejati.
Semua ini, sewaktu masa kehidupan, dan setelah kematian, hadir di dalamNya.
Demikianlah, Vamadewa, seorang resi suci, setelah menyadari akan hakikat Sang Hyang Brahman sebagai kesadaran sejati dan murni, berpisah dengan kehidupan ini, beliau berangkat ke Swarga-loka dan mendapatkan berbagai keinginannya dan beliaupun mencapai tahap keabadian.
Om Shanti Shanti Shanti OM TAT SAT