Menu Vegetarian

Berbagai Jenis Nasi :

Nasi merah (brown rice)
Campurlah tigaperempat beras putih jenis apa saja dengan seperempat beras merah. Sesuaikan dengan takaran yang diperlukan. Sebaiknya beras-beras ini tidak dicuci namun air cucian sekaligus dimasak setelah dibersihkan dari kotoran-kotorannya. Menanak nasi secara ini memakan waktu sedikit agak lama.

 Nasi ketela
Campurkan beras putih dengan ketela yang diiris kecil-kecil. Ketela sebaiknya dikukus dulu setengah matang kemudian dicampur dengan beras, baru kemudian sama-sama ditanak. Takar sesuai selera misalnya seperempat atau seperlima ketela sisanya beras dsb, Tambahkan sedikit pewangi vanilla atau daun pandan bahkan tambahkan seiris jahe kecil di air kukusan. Sedikit garam dapat diberikan untuk menetralisir ketela.

Nasi Uduk ala Shanti Griya
Beras putih plus santan secukupnya, ditambah seluruh parutan kelapa dikukus seperti mengkukus nasi uduk biasa, tambahkan daun pandan secukupnya.

Nasi kuning ala Shanti Griya.
Beras dicampur ulekan kunyit, jahe sedikit cabe merah,lada (merica bubuk) dicampur santan dan parutan kelapanya. Dikukus seperti masak nasi uduk biasa plus garam secukupnya.

Nasi kare ala Shanti Griya.
Beras secukupnya dicampur bumbu-bumbu yang diulek secara rata. Takaran bumbu diatur sesuai takaran selera dan terdiri dari tomat, bawang putih, bawang merah, cabe merah buang biji, namun bawang merah iris harus digoreng (sangrai dulu) kemudian campurkan dengan bumbu-bumbu ini, kemudian diulek menyatu. Campurkan beras dengan bumbu-bumbu ini kemudian ditanak, tambahkan bumbu kare kalau perlu (kare powder India atau Indonesia).Tambahkan kayu manis, beberapa biji pala, biji cengkeh, sebatang kecil kayu manis,beberapa lembar daun jeruk.

Nasi kare sayur
Seluruh adukan kecil diatas ditambah dengan irisan-irisan kecil jamur, wortel, buncis dan kentang secukupnya.

Nasi kare sintesis
Sama dengan diatas namun sayuran dapat diganti dengan irisan daging sintesis ataupun protein. Bisa juga sayuran dan daging sintesis dicampur menjadi santapan yang lengkap. Disajikan dengan acar timun.

Nasi Kichni
Beras secukupnya dicampur dengan kacang hijau, kacang hijau sebaiknya dihancurkan menjadi belahan-belahan kecil, kemudian tambahkan sedikit jintan dan kapulaga yang dikupas.

Nasi Goreng Shantigriya
Siapkan nasi putih secukupnya, sebaiknya yang sudah dingin, Siapkan bumbu seperti irisan cabe merah, (buang biji) tipis-tipis, irisan bawang putih, irisan batang prei (daun bawang), garam, lada, kemudian siapkan irisan sayur-sayuran seperti wortel, bawang bombay, cabe paprika hijau atau merah, jamur, kacang arcis gren peas (kapri),kacang polong. Pertama-tama panaskan minyak sayur secukupnya kemudian sangrai seluruh bumbu dan sayuran sekaligus, kecuali daun prei. Sangrai setengah matang, di api besar selama 1 menit. Kemudian masukkan nasi secukupnya dan aduk hingga rata. Kecilkan api kemudian tambahkan kecap manis dan kecap asin (atau garam), secukupnya aduk sampai rata, Besarkan api tambahkan sedikit lada putih, atau merica bubuk dan irisan bawang prei (bagian putih saja, tanpa daun hijaunya. Aduk tambahkan satu sendok margarin dan langsung angkat.

Nasi goreng tomat
Sama dengan diatas namun tanpa batang prei. Cabe merah, bawang putih, bawang merah, sedikit jahe, tomat, atau saos tomat diulek. Kemudian disangrai dan diperlakukan sama dengan diatas.

Nasi goreng mentega
Campurkan nasi dengan bahan-bahan berikut ini, larutkan margarin secukupnya sedikit garam dan irisan cabe atau paprika merah dan jamur kecil-kecil, ukuran kira-kira setengah senti. Masukan nasi ke larutan margarin setelah matang campurkan cabe atau paprika dan irisan jamur masukkan sedikit bubuk lada putih dan sedikit kecap asin kalau perlu. Untuk menambah aroma tambahkan angciu (arak masak) sedikit. Arak yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan diperbolehkan di ashram kami.

Cah (sayuran) asam – manis.
Sediakan irisan sayur mayur seperti jamur, bawang Bombay, timun, nanas sedikit, cabe merah paprika atau yang hijau, sedikit daun sawi hijau atau putih. Sediakan juga irisan cabe merah (buang biji) secukupnya, dengan irisan bawang putih dan jahe sesuai selera. Sediakan air kanji sebagai pengental secukupnya. Boleh ditambah dengan daging sintesis,  yang digoreng dengan tepung sebelumnya. Siapkan irisan daun prei kira-kira dua centi diiris miring, lada, garam, gula satu sendok teh, air untuk kuah secukupnya,

Panaskan margarin secukupnya hingga larut, tambahkan segera seluruh sayur-sayuran dan daging sintesis. Besarkan api tumis hingga setengah matang. Teteskan beberapa tetes minyak wijen tumis sampai setengah matang. Kemudian tambahkan irisan daun prei miring, tambahkan sari jeruk limau diatasnya secukupnya saja.

Cah sos tiram vegetarian
Sama dengan diatas namun sos tomat dan kecap diganti sos tiram vegetarian. (banyak terdapat di supermarket besar).

Mun Tahu
Sediakan tahu cina atau tahu jepang (bulat) secukupnya. Larutkan sedikit margarin kemudian campurkan tahu ini dan aduk-aduk sehingga pecah-pecah. Tambahkan air untuk kuah sedikit, sebelumnya tambahkan jamur dan wortel yang diiris tipis-tipis kemudian tambahkan sedikit gula, garam, bubuk lada putih, secukupnya ,iris bawang putih sedikit. Tambahkan air kanji sedikit untuk mengentalkan kuah. Sebelum diangkat tambahkan irisan daun bawang prei dan seledri iris tipis-tipis (boleh tambah angciu atau minyak wijen sedikit sebagai penyedap).

Bistik Tahu
Tahu Cina atau tahu bulat jepang diiris tipis-tipis goreng dengan sedikit tepung yang telah dibumbui sedikit garam dan lada bubuk, kalau tahu jepang sebaiknya digoreng tanpa tepung, diiris bulat-bulat agak tebal kira-kira 1 cm. Tambahkan sedikit margarin pada minyak. Rebus irisan buncis dan wortel, yang diiris memanjang sekitar 2.5 cm. Susun diatas piring seperti berikut

Lapisan bawah daun salada segar mengitari piring, kemudian ditengah-tengah letakkan rebusan wortel, buncis dan gorengan kentang. Letakkan tahu goreng tersebut diatas kemudian tambahkan irisan bulat tomat, dimangkuk samping atau dapat langsung disiramkan keatas hiasan sayur.

Cara membuat: saos tomat air secukupnya direbus dengan bawang putih secukupnya. Dicampur sos tomat botolan, gula, garam, lada secukupnya, tambahkan air kanji dan sedikit ulekan jahe, sebagai pengental dan penyedap. Diatas tambahkan daun prei, atau bawang putih saja yang diiris tipis-tipis seperti rambut kira-kira 2 cm panjangnya.

Sapo Tahu
Sama dengan mun tahu diatas namun kuahnya sedikit sekali. Tambahkan vegetarian oyster saos (sos tiram) secukupnya plus minyak wijen beberapa tetes dan cabe iris tipis secukupnya.

Sate Jamur
Sediakan jamur merang atau jamur kancing, jamur merang tidak perlu dipotong namun jamur kancing sebaiknya bagi dua atau empat. Potongan jamur ini kemudian ditumis matang dengan ulekan bumbu dibawah ini: ulek bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas parut, cabe merah sedikit. Tumis jamur dan bumbu ulek ini tambahkan garam, tusukkan sate kira-kira 5 sampai dengan 7 tusukan dan atur diatas piring. Tambahkan bumbu pecel, tanpa trasi yang telah dimasak dengan air panas, disajikan dengan irisan kecil cabe rawit dan bawang merah mentah secukupnya. Kemudian tambahkan sari jeruk atau jeruk nipis atau lemon mentah. Tambahkan sedikit kecap manis jika suka.

Sebaiknya bumbu sate disajikan sesuai selera daerah masing-masing. Seandainya bumbu pecel tanpa trasi tidak tersedia bisa juga bumbu kacang diganti dengan bumbu kecap yang diperkaya dengan irisan tomat, cabe rawit dan bawang merah mentah, diiris kecil. Cari kecap kegemaran anda.

Sate Tahu dan Sate Kentang
Tahu dan kentang dipotong dalam bentuk kotak secara kecil-kecil kurang lebih 2 cm kemudian digoreng hingga matang. Setelah matang tambahkan bumbu diatas dan tumis sampai wangi dan matang. Kemudian tusukkan tusuk sate baik ke tahu atau ke kentang masing-masing atau dikombinasi tahu plus kentang atau tahu, kentang dan jamur. Sajikan seperti diatas.

Sop Vegetarian
Setiap daerah di Indonesia mempunyai variasi memasak sop. Ikuti saja cara anda masing-masing namun sebagai tips tambahkan jamur iris, tahu iris kotak kecil-kecil rebus dahulu kulit tahu. Hindari pemakaian vetsin cukup diganti dengan sedikit gula bubuk / bubuk lada putih/ hitam dan garam secukupnya. Ditambah tomat pasti menjadi lebih sedap.

Fillet Saus Leci
Tahu atau daging sintesis secukupnya. 1 kaleng leci, tiriskan. Paprika hijau, merah dan kuning dikombinasikan secukupnya potong atau iris tipis boleh juga kotak 2 cm, bawang putih ulek halus secukupnya, bubuk merica putih atau hitam, tepung kanji (sagu) garam secukupnya.

Lumuri bawang putih ulek ke potongan tahu atau daging sintesis, tambahkan merica dan garam, kemudian diamkan kira-kira sepuluh menit, lumuri sekali lagi dengan tepung sagu, kemudian goreng hingga matang kecoklat-coklatan. Angkat, tiriskan kemudian sisihkan.

Panaskan satu sendok makan masukan paprika dan tumis setengah matang, minyak goreng, masukan paprika dan tumis setengah matang, segera masukan seperempat cangkir air matang, potongan tahu atau daging sintesis, leci, saos asem manis botolan, aduk rata diatas api kecil hingga tercampur rata. Tambahkan sedikit saos cabe, jika ditumis dengan potongan nanas harus masuk terakhir,goreng dan langsung diangkat. Tambahkan daun ketumbar sajian kalau ada.

Tum Tempe dan Pepes Tahu Jamur.
Tempe secukupnya, labu siam dan kelapa secukupnya.
Bumbu 3 siung bawah merah, 1 siung bawang putih, 3 iris kunyit, 3 iris jahe, 3 iris lengkuas, 3 iris jahe, 3 iris kunyit, 3 biji kemiri, 1 cabe merah besar,3 cabe merah rawit , setengah sendok makan ketumbar halus, cara membuat tempe dipotong kotak dan digoreng setengah matang, labu siam diiris panjang 50 centi lalu direbus, kelapa diparut halus, tempe yang telah digoreng diulek hingga hancur. Bumbu diulek sampai lembut, lalu goreng setengah matang, kelapa parut, tempe. Labu siam rebus dan garam secukupnya. Ditambah dengan gorengan tempe ini, tumis sampai harum angkat dan bungkus dengan daun pisang. Kukus sampai matang.

Tempe dapat diganti dengan tahu plus jamur agar menjadi pepes tahu.

Tambahkan cabe rawit sebaiknya tidak dipotong, satu pepes plus satu cabe rawit.

Paha Ayam Goreng Vegetarian plus Saos Ala Shantigriya
Sediakan kembang atau kulit tahu secukupnya, rendam dalam air panas sampai lunak, tiriskan kemudian tambahkan garam, merica, sedikit gula, minyak wijen secukupnya. Maksimum 1 sendok teh. Serai kupas bersih potong ujung batangnya sampai 4 batang plus minyak goreng. Cara membuat : Bentangkan kembang tahu tersebut diatas taburi permukaannya dengan garam, merica dsb plus minyak wijen. Diamkan selama sekitar setengah jam agar bumbu meresap.Kemudian bagi adonan menjadi 2 ambil satu bagian kembang tahu ini dan gulungkan di batang serai sampai padat sehingga menyerupai paha ayam. Kukus sampai matang selama 30 menit lagi. Panaskan minyak goreng  ayam sintetis ini sampai matang coklat, hidangkan sesudah itu. Adonan dapat diperbanyak sesuai sajian.

Tambahkan sos tomat bistik (seperti yang telah diuraikan diatas) kalau ingin menambah variasi atau buat sos ala Shantigriya seperti berikut:

Sos tomat botol secukupnya ditambah kecap manis setengah (ukuran atau takaran) sos tomat, ditambah seperempat sos cabe botolan (sos lampung), aduk sampai rata, dan sajikan di samping paha ayam atas.

Parea (Pare) Isi
Buah paria secukupnya, daging sintetis atau tahu, 1 sendok makan tepung kanji (sagu), 2 batang daun bawang, tepung maizena, 2 batang daun bawang, 2 sendok makan bawang goreng, 1 sendok makan minyak bekas gorengan bawang goreng, garam, sedikit gula dan lada (merica).

Saos : 3 cabe merah buang biji direbus, 1 siung bawang putih, setengah sendok makan air jahe, sedikit gula, garam dan merica, cuka dan tepung kanji sedikit dilarutkan dengan air, minyak goreng sedikit.

Cara memasak : Paria atau pare ini dibuang ujungnya, lalu iris bulat-bulat setebal satu setengah cm, buang bijinya, ulek bahan diatas lalu pulungi (bentuk) bulat-bulat kira-kira ukuran lubang paria, lalu isikan ke dalam lubang pare ini, bagian atas pulungan ini agak menonjol keluar dari permukaan lubang pare. Kukus pare isi ini sampai masak, hidangkan dengan sambal atau sos cabe. Sebaiknya pare yang telah dipotong-potong direndam dengan air garam untuk 15 menit baru diolah (untuk menghilangham rasa pahitnya)

Tumisan ala Shantiwangi
Bahan: Pare potong bulat tipis, buang isinya rendam 15 menit di air garam. Terung ungu dipotong-potong kecil-kecil secukupnya. Kecambah, tempe dipotong kecil-kecil, cabe merah dengan atau tanpa biji, cabe hijau dengan tanpa biji, cabe rawit secukupnya tanpa diiris,bawang merah iris secukupnya, jahe diiris dan bawang putih iris secukupnya, 1 siung bawang prei, sehelai daun kunyit kalau ada, 2 lembar daun jeruk apa saja, garam, gula sedikit, asam sedikit air 2 cangkir atau secukupnya. Aduk semua dan tumis sekaligus plus potongan tomat 1 buah diiris tipis-tipis. Setelah setengah matang tambahkan kecap manis dan merica secukupnya (sekedarnya saja) masak sampai matang dan harum.

Tumisan bentuk kedua, sama diatas namun komposisi terdiri dari tahu, jamur, paprika hijau, dan labu siam plus kacang panjang iris 3 cm panjangnya. Cara mengolah sama diatas.

Tumisan bentuk ketiga: tumisan pertama diatas ditambah santan kira-kira satu gelas (air diganti santan).

Gulai Kentang/ Paprika ala shantiwangi
Bahan: Tahu cina secukupnya, kentang dan paprika hijau secukupnya, 4 cabe merah,4 bawang merah, seruas kunyit, sehelai daun kunyit, daun jeruk 3 lembar, garam, dan gula secukupnya.

Cara membuat: Tahu dipotong kotak-kotak, kentang belah miring menjadi empat, paprika potong kecil sekitar 3 cm rebus semua bahan ini dengan air secukupnya plus sedikit garam lalu tiriskan.

Bahan untuk bumbu kecuali daun kunyit dan daun jeruk digerus, masukkan ke dalam santan didihkan, lalu masukkan semua bahan tersebut diatas didihkan beberapa saat plus beberapa biji kapulaga, sebatang kecil kayu manis dan satu sendok teh jintan. Godok hingga matang dan kuahnya agak kental. Tambahkan beberapa cabe merah utuh ketika dimasak. 

Tempe tahu orek ala Shantigriya.
Bahan: Tahu, tempe dan kacang tanah plus kentang.

Bumbu : Tomat, cabe merah. Bawang merah, bawang putih, jahe dan kemiri. Plus sedikit garam, gula dan merica bubuk.

Cara membuat: Potong tahu tempe dan kentang dalam irisan tipis 2 cm kemudian goreng dengan minyak sedikit kacang juga digoreng secara terpisah kemudian setelah matang diaduk menyatu dengan bahan diatas. Seluruh bumbu diulek kemudian ditumis dengan bahan diatas sampai matang, tambahkan sesendok margarin untuk pewangi (penambah aroma), dan 2 lembar daun jeruk.

Tahu dan Tempe Ibu Ana.

Bahan tahu dan tempe potong sedang kemudian goreng setengah matang. Ulek bumbu yang sama dengan bumbu tempe orek diatas kemudian dicampur dengan tahu dan tempe dan dipanaskan lagi dengan sedikit minyak atau margarin.

Pepes tahu bumbu
Tahu cina yang sudah diolah seperti bumbu Ibu Ana diatas. Kemudian dipepes dengan daun pisang. Tambahkan sebuah cabe rawit merah ditengah-tengah adonan. Kukus 15 menit dan kemudian siap disantap.

Sambel Goreng Kentang
Potong potong kecil kentang, wortel dan buncis. Cara membuat tumis setengah matang potongan kentang buncis dan wortel dengan campuran bumbu diatas tambahkan sebiji petai yang diiris tipis untuk penyedap.

Sambel Goreng Terung
Potong irisan kecil atau sedang terung. Cara membuat tumis terung sampai setengah matang dan tambahkan dengan bumbu-bumbu di atas.

Cabe hijau kuah santan
Cabe hijau besar dipotong menjadi empat bagian. Pergunakan cabe hijau secukupnya ditambah potongan tahu bentuk dadu, ukuran 2 cm. Tumis kedua bahan ini kemudian campurkan santan secukupnya plus sedikit gula merah, iris bawang putih merica dan garam sesuai kebutuhan. Masak sampai matang.

Tahu Acar
Bahan mie vegetarian tanpa telor. Tahu, touge,timun, kol.
Bumbu: kecap, cabe merah, bawang putih,cuka dan kemiri.

Cara membuat : Rebus mie secukupnya dengan garam sedikit, kemudian letakan dibagian bawah wadah. Tambahkan diatasnya irisan tipis kol , timun, touge rebus, dan irisan kecil tahu goreng, Siramkan kuah kecap diatasnya, lalu disajikan..

 

Kuah Kecap
Rebus air untuk kuah secukupnya, dengan ulekan bumbu kemiri, cabe merah, bawang putih tambahkan tomat sedikit kalau diperlukan. Kemudian tambahkan kecap manis secukupnya. Tambahkan kuah ini ke atas bahan-bahan yang telah dipersiapkan, tambah sedikit cuka, bawang goreng. Akan lebih nikmat lagi kalau ditambah dengan kerupuk dan kacang goreng. Jangan lupa garam secukupnya untuk kuah kecap ini. Sering juga ketupat lontong ikut ditambahkan sebagai pengganti nasi. 

Gado-gado Slada
Bahan-bahan : Daun slada segar, kol segar, timun, tauge rebus, tahu goreng setengah matang.

Bumbu : kacang tanah plus kacang mente secukupnya, demikian juga gula merah, bawang putih, tomat plus sedikit mentega goreng. Goreng kacang tanah plus semua bumbu ini  kemudian diulek halus dan direbus dengan air santan, jangan lupa tambahkan garam secukupnya,

Cara penyajian :  Daun slada diatur melingkar di wadah penyajian, kemudian tambahkan  ditengah-tengah wadah kol iris tipis-tipis, touge rebus, potongan tahu kecil-kecil. Siramkan kuah kacang ke atasnya, tambahkan sedikit bawang goreng dan sari jeruk nipis atau lemon, atau jeruk purut.

Goreng-gorengan (Snack)

Sambosa
Bahan kulit pangsit, kentang. Kacang polong (green peas), bawang merah, lada, bumbu kare bubuk, minyak plus kalau ada kismis, daun mint dan daun ketumbar (tersedia di super market besar namun agak mahal)

Cara membuat :
Kentang dipotong kecil-kecil sekali kemudian ditumis dengan bahan semua di atas plus bumbu-bumbunya, ditambah sedikit daun mint, daun ketumbar dan beberapa butir kismis setiap sambosanya.

Siapkan kulit pangsit, yang berbentuk segi empat, isi tengahnya dengan tumisan diatas (setengah matang), kemudian lipat kulit pangsit ini berbentuk segitiga. Beri perikat yang terbuat dari kanji dan sedikit air kemudian tekan sisi-sisi sambosa ini dengan ujung garpu agar lebih kuat daya rekatnya. Buatlah sambosa ini secukupnya, kemudian digoreng dalam minyak panas sampai agak coklat warnanya. Sajikan sebagai snack dapat dimakan dengan sambal tomat botolan sambil dicocol.

Pangsit Jamur
Kulit pangsit, jamur apa saja, bawang putih dan garam serta merica.

Cara membuat : Tumis setengah matang jamur dengan ulekan bawang putih garam dan merica, kemudian letakkan adonan ini di bagian tengah kulit pangsit kemudian lipat segitiga seperti sambosa, namun sisi kiri dan kanan yang runcing kemudian dilipat ulang ke bagian tengah, tambahkan perekat kanji kalau perlu. Goreng atau rebus pangsit ini. Dapat disajikan sebagai snack, sebagai tambahan pada mie, bihun dan kwetiau kuah.

Pangsit Goreng Siram
Bahan: Pangsit Goreng ( lihat atas), sos tomat asem manis.
Sos Tomat : Rebus air secukupnya plus garam, sedikit gula, merica bubuk, ulekan jahe dan bawang putih secukupnya, rebus bersama irisan tipis wortel, cabe merah dan jamur boleh ditambah proteina iris tipis dan touge rebus.

Cara penyajian : Atur beberapa pangsit goreng di atas piring cekung, kemudian siramkan adonan kuah ini ke atasnya. Sedikit kanji cair dapat ditambah untuk mengentalkan kuah.

Pangsit kuah
Godok air dengan satu siung bawang putih yang diiris tipis secukupnya, setelah mendidih tambahkan sedikit gula pasir, garam dan lada bubuk. Boleh tambahkan bubuk kare dan sedikit irisan cabe merah tipis, sewaktu kuah sudah hampir siap masukkan pangsit mentah ke dalamnya kemudian sajikan dimangkuk besar atau kecil sesuai ukuran saji tambahkan potongan kecil batang prei dan seledri. Dapat dimakan dengan nasi ditambah sambal botolan.

Bakmi Goreng Ala Shanti griya.
Sediakan bakmi basah vegetarian atau bakmi goreng kering yang sudah direbus secukupnya. Siapkan bumbu: Bawang putih iris tipis-tipis demikian juga dengan irisan cabe merah buang biji, jamur iris tipis, bawang prei iris tipis, kecap manis, kecap asin, garam, lada dan sedikit air.

Cara membuat : Tumis seluruh bumbu dan sayuran kecuali irisan daun prei sampai setengah matang, kemudian masukan mie secukupnya, aduk hingga rata, tambahkan sedikit irisan kol dan sawi hijau dan tauge aduk sekali lagi sambil dibubuhi kecap manis dan kecap asin secukupnya, setelah hampir matang tambahkan sesendok margarin taburkan irisan daun bawang prei diatasnya dan langsung diangkat untuk disajikan. Jamur dapat diganti dengan proteina.

Kwetiau goreng dan bihun goreng dibuat sama seperti diatas.

Mie dan Bihun masak.
Cari mie atau bihun instant vegetarian di supermarket. Untuk satu porsi pertama rebus mie setengah matang, dan buang airnya atau tiriskan lalu mie atau bihun digodok dengan mie yang tersedia dibungkusan plus irisaan cabe merah, jahe, bawang putih tomat secukupnya. Tambahkan jamur atau proteina sedikit irisan kol, sawi, serta toge. Jangan lupa menambah sedikit gula, garam dan lada bubuk. Untuk mie bihun pangsit tambahkan pangsit rebus (lihat diatas).

Lumpia Goreng Jakarta
Bahan; Kulit lumpia, irisan bengkuang atau rebung bumbu, ulekan bawang putih, touge, prei dan seledri. Bumbu kacang atau bumbu pecel atau kecap asin plus cabe rawit.

Cara membuat : Gulung semua bahan diatas secara diiris tipis-tipis, rekat dengan adonan kanji lalu digoreng. Setelah matang disajikan dengan bumbu kacang atau kecap asin.

Lumpia Semarang.
Bahan : Kulit lumpia, irisan rebung bumbu, bawang putih, touge.Bumbu : Air, kanji, bawang putih, kecap manis, kecap asin.
Cara membuat : Gulung semua bahan dengan kulit lumpia kemudian goreng sampai matang. Tambahkan sos kanji yang dibuat sebagai berikut : Air secukupnya dicampur ulekan bawang putih sedikit, kecap manis, lada dan sedikit garam tambahkan air kanji agar mengental. Sewaktu menyajikan kuah kanji disiram ke atas lumpia yang sudah dipotong-potong, kemudian oleskan tambahan bawang putih ulek sedikit keatasnya. Sajikan dengan acar timun campur cabe rawit.

 

Doa Sebelum Memasak

Om Sarwam Bhutam Manggalam.
Om Shri Parameshwaram Manggalam
Om Shanti Shanti ShantiOm Tat Sat

Doa Sebelum Bersantap

Sebelum bersantap sebaiknya keluarkan sedikit dari setiap sedikit makanan dan letakkan penuh dengan rasa hormat dan ikhlas di taman atau suatu tempat yang sakral sambil berdoa :

Om Sarwam Bhutam Manggalam
Om Sang Hyang Widhi Wasa Saranam Gachami
Om Tat Sat

Atau
Om Sarwam Bhutam Manggalam
Om Shri Parabrahman Saranam Gachami

Atau
Om Sarwam Bhutam Sukha Prtebhyah Swaha

Dengan demikian sisa yang dimakan sudah berupa prasadham untuk yang menyantapnya. Demikian setiap hari memasak seandainya kita tidak lupa melakukan hal tersebut maka Hyang Widhi Wasa akan berkenan melimpahkan wara nugrahanya kepada kita semua. Di Manawa Dharma Shastra, Hyang Manu bersabda: “Barang siapa makan untuk dirinya semata, maka yang dimakannya adalah dosa belaka”. Juga harap diperhatikan untuk tidak makan sampai kenyang, agar kita terlatih dalam pengendalian diri kita. Makna ini sangat luas jangkauannya dan bermakna ganda dalam kehidupan kita sehari-hari. Khusus bagi yang gemuk, minumlah air putih segelas sebelum memulai makan pagi, siang dan malam anda, baru mulai bersantap. Mudah-mudahan berat badan anda akan segera berkurang tanpa pengaruh samping.

Doa Memulai Santapan
Om Ang Kang Kalsolkaya Isana Ya Namah
Swastiswastiarwadewa Bhuta Shuka
Pradhana Purusha Sang Yoga Namah
Om Anugraha Amrtadi Sanjiwani Ya Namah Swaha

Doa Selesai Bersantap
Om Dirgayur Astu Awighnam Astu
Subham Astu Om Sriyam Bhawantu
Sukham Bhawantu, Purnam Bhawantu Ksama Sampurna Ya Namah Swaha.

Sedikit tip tentang manfaat tumbuh-tumbuhan, termasuk sayur dan buah-buahan.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kata sayur dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta ayur, yang berarti tumbuh-tumbuhan yang menyehatkan atau bermanfaat bagi umat manusia. Ilmu mengenai kesehatan yang dihasilkan oleh berbagai tumbuh-tumbuhan ini sudah hadir ribuan tahun lalu di jazirah India dengan nama Ayur Weda. Mengagumkan sekali bagaimana para ahli kesehatan pada masa-masa tersebut dapat meneliti berbagai manfaat dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang hadir di berbagai belahan bumi ini, di berbagai topografi dan iklim yang berbeda-beda. Warisan peninggalan Hindu yang satu ini ternyata telah dimanfaatkan dengan baik oleh dunia barat yang hadir dengan obat-obatan yang terkesan “Maha Canggih”. Namun karena hampir semua obat-obatan ini mengabaikan hukum alam, maka dunia barat pada saat ini mencoba kembali berpaling sekali lagi ke timur, dan kembali kealam yang murni. Di sisi lain nenek moyang kita di Indonesia mendapatkan ayur weda secara gratis yang konon sering kita sebut-sebut sebagai jamu tradisional khas Indonesia, padahal semua itu warisan agung dari tradisi weda kita.

Jutaan tahun sebelum manusia hadir di muka bumi ini maka segala persiapan untuk kehadirannya telah disiapkan oleh Yang Maha Esa melalui mekanisme  alam semesta. Bumi terpilih sebagai lokasi yang ideal untuk mekanisme alam semesta. Bumi terpilih sebagai lokasi yang ideal untuk kehadiran berbagai tumbuh-tumbuhan , fauna-flora dan manusia serta mahluk-mahluk halus, bahkan para dewata senang hidup di mayapada ini.

Dimulai dengan tumbuh-tumbuhan bersel satu sedikit demi sedikit pertumbuhan tanam-tanaman berevolusi ke wujud-wujud yang kita saksikan sekarang, baru kemudian hadir fauna dan jutaan tahun kemudian hadir manusia dari suatu ekosistem yang saling menunjang, saling membutuhkan agar kita semua lestari dalam kehadiran yang berkesinambungan. Yang kita sebut suatu kesatuan, kalau tidak pralaya mengintip setiap saat. Teknologi bumi ini menakjubkan sangat, bayangkan setiap bentuk warna, dari suatu tumbuh-tumbuhan bermanfaat  berbeda satu dengan yang lain-lainnya. Namun di luar itu berbagai cabang, ranting, akar, umbi-umbian dari sesuatu tanamanpun berbeda-beda manfaatnya. Diperlukan masa tahunan untuk mempelajari semua yang dihadirkan oleh nenek moyang kita ini semenjak kurun waktu yang amat silam. Nenek moyang kita bahkan menyimbolkan berbagai buah-buahan sebagai persembahan yang sakral bagi para dewata. Dewinya para tetumbuhan ini malahan disebut Sri  (Yang Maha Agung) agar umat manusia mau mengikuti hukum alam dengan menyantap seluruh komponen, obat-obatan, gizi, protein, vitamin dsb dari alam itu sendiri. Untuk itu diciptakan usus manusia yang panjangnya lebih daripada 30 meter. Budaya asing ternyata merusak seluruh pemahaman itu dan akibatnya kita dilanda berbagai wabah, sebagai contoh: Nyamuk makin banyak dan mewabah dengan demam berdarah, karena predator nyamuk, yaitu kodok rajin disantap manusia, dan yang lainnya banyak yang mati karena terkena racun peptisida. Yang Maha esa menyediakan jambu klutuk merah untuk menyelamatkan mereka yang terkena wabah demam berdarah ini, termasuk putra tunggal saya pribadi. Setiap jenis sayuran dan buah-buahan menurut mitologi cina juga mengandung racun dan kalau dikonsumsi secara berlebihan terus menerus. Itulah sebabnya kita harus mengkonsumsinya secara teratur tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, kalau hari ini kita mengkonsumsi sayur lodeh dan nasi putih, maka besok kita ganti dengan nasi

 

jagung dan tahu tempe. Cobalah kedondong yang amat bermanfaat untuk menggerus usus kita agar tidak ada sel-sel kanker yang menempel disana. Tembakau kalau dikonsumsi secara benar akan menjadi obat penangkal sakit, kalau keterusan menjadi malapetaka.

Mohammad Harli, seorang sarjana gizi masyarakat dan sumber daya keluarga Institut Pertanian Bogor, pernah menulis bahwa alpukat sehat dan bermanfaat bagi penderita HIV/ AIDS. Penelitian pribadi saya akan buah ini menunjukkan bahwa sperma pria bertambah amat banyak dengan mengonsumsi jus alpukat. Ditambah kecambah dan toge mentah sebagai lalapan, maka mungkin menambah kesuburan pria yang lemah spermatozoanya. Di pihak lain penelitian di Kanada menunjukkan bahwa mengkonsumsi saos tomat atau tomat masak mencegah penyakit prostat pada pria, Menurut penelitian  di USA maka  mengkonsumsi saos tomat 2x seminggu dapat mengurangi perkembangan prostate sampai dengan 3x lipat. Namun Ayur weda sejak ribuan tahun yang lalu sudah mengarahkan manusia untuk mengkonsumsi buah-buahan  dan tanaman melalui Dewa Ganesha yang gemar menyantap buah-buahan, melalui Dewi Sri yang bahagia menerima caruya dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, dsb. Setiap Dewa Dewi memiliki tunggangan berbentuk hewan yang menyiratkan hewan-hewan ini perlu diproteksi agar elemen dewa dewi tersebut tetap lestari, kalau hewan-hewan tersebut dipunahkan maka hilang juga unsur-unsur penunjang elemen-elemen yang hadir di bumi ini. Ekosistem terganggu, dan para dewa di buana alit (tubuh manusia ini) akan terpengaruh pula kesehatannya.

Saya pribadi tidak menganjurkan anda menjadi vegetarian, sayapun tidak menganjurkan anda menjadi pemakan bangkai hewan-hewan ini dan menjadikan perut anda sebagai kuburan bangkai hewan-hewan. Yang Maha Kuasa dalam bentuk Krisnanya telah berulang-ulang menasehati kita untuk menyantap santapan yang bersifat satvik agar kita menjadi insan yang satvik, Kalau kita melanggar semua itu maka hukumnya akan bereaksi terhadap kita. Kalau kemudian kita menderita karenanya lalu jangan sekali-kali merengek-rengek kepadaNya untuk disembuhkan, karena obat-obatan dan seluruh suplemen sudah beliau sediakan untuk kehadiran manusia semenjak jutaan tahun yang lalu. Sebenarnya Yang Maha Esa ingin membahagiakan kita di gunung maupun di hutan belukar, namun kita cenderung mencelakakan diri kita sendiri. Mungkin itu karma buruk kita sendiri agar kita berevolusi ke bentuk yang lebih rendah?

Manfaat berbagai tumbuh-tumbuh

Mari kita simak manfaat dan berbagai penunjang dan kelestarian hidup ini :

The New Science Of Healing yang dikarang oleh Dr Louis mengatakan bahwa akumulasi toksin (racun dalam tubuh kita adalah akar dari segala macam penyakit) untuk membersihkan darah kita dari racun ini diperlukan jus buah-buahan dan sayur-sayuran segar. Dibawah ini terdapat sebagian kecil petunjuk

Alergi dapat berkurang kalau kita rajin-rajin mengkonsumsi jus jeruk, jus jeruk lemon, pepaya dan ketimun juga sangat baik untuk memperlancar buang air besar dan membersihkan usus, demikian juga dengan papaya dan jeruk, namun yang asam-asam sebaiknya jangan terlalu banyak karena menimbulkan reaksi lambung yang kronis.

Jus apel, limau manis, wortel, gula bit, dan bayam baik untuk anemia (gejala kurang darah), namun bayam yang berlebihan dapat menimbulkan kristal (kencing batu) (baca AyurWeda, Dharma dan Sains modern) oleh mohan m.s.

Gangguan menstruasi diobati dengan jus buah ara dan adas yang akan mengatur menstruasi secara bertahap.

Artristis dapat diobati dengan jus bawang putih, orange, labu pahit, margosa dan jeruk lemon.

Asma dapat dikurangi dengan memperkuat daya tahan tubuh kita dengan mengkonsumsi jus orange manis, wortel,gula bit, bawang putih, bawang merah dan bayam.

Cacingan dapat diobati dengan jus labu pahit mentah.

Demam dapat dikurangi secara drastis dengan jus rebus air kacang hijau (4 gelas sehari selama 2 hari saja), demikian juga flu yang berat, Jus orange, anggur, apel dan wortel, bit sangat membantu mengurangi demam.

Impotensi pada pria dapat diobati dengan baik melalui kacang kenari, kacang mede, kacang tanah, kenari, kacang hijau, kacang polong. Khususnya madu dicampur kenari disimpan sebulan baru dikomsumsi 3 buah sehari akan membuat pria-pria kembali perkasa, tentunya ditambah yoga.

Kanker dapat dikurangi atau disembuhkan melalui berbagai jenis daun – daunan, sayur-sayuran dan buah-buahan segar, plus meditasi yang berkesinambungan.

Kerusakan mata dapat dikurangi dengan jus wortel, bit mangga ditambah gerakan-gerakan yoga mata. Di India mata minus diobati dengan sari jeruk nipis selama berhari-hari. (penulis sudah menjalaninya dengan baik, tetapi diperlukan ahli mata!).

Akar papaya kalau diseduh dapat mengobati ginjal, kandung kemih dan memperlancar air seni. Gerusan akar papaya ditambah kapur sirih sedikit berguna mengobati luka, koreng, eksim dan gigitan binatang berbahaya.

Daun papaya yang dimasak langsung dimakan memperkuat sekresi empedu baik juga untuk mulas-mulas, demam menahun sebagai obat cacing kremi, dsb. Getah buah daun papaya dipakai untuk industri papain dan sebagainya dan sebagainya.

Konon Mpu Kuturan mampu berdialog dengan 100 jenis tumbuh-tumbuhan yang menceritakan tentang khasiat masing-masing, semua hal ini bukanlah bohong belaka kalau disimak dengan teliti, karena semua kisah dan wejangan para leluhur merupakan mutiara-mutiara kehidupan kita

Sehat Melalui Vegetarian

Vegetarian merupakan gaya hidup. Vegetarian tak terbatas oleh pola makan., tapi mencakup penolakan yang lebih luas terhadap segala macam produk yang berasal dari hewan. Selain sisi pembelaan terhadap hewan, diet vegetarian juga bisa menguntungkan kesehatan. Asal anda tahu cara mengatur menunya.

Ada banyak jenis vegetarian, yang didasarkan pada jenis makanan yang dikonsumsi. Fruitarian adalah vegetarian yang hanya makan buah-buahan. Lacto -vegetarian hanya memakan produk dari tumbuhan, plus produk susu. Jika makanannya ditambah telur sebutannya menjadi Lacto-ovo-vegetarian. Ada lagi semi vegetarian , yang menghindari daging merah, tapi masih makan ikan, ayam, produk susu dan telur. Diet vegetarian total atau vegan, hanya memakan makanan dari tumbuhan seperti buah, sayur, atau biji-bijian.

Secara umum makanan bukan vegetarian mengandung protein dan lemak yang tinggi, rendah serat dan karbohidrat. Sedangkan diet vegetarian , kaya serat, karbohidrat, vitamin, mineral dan cukup protein dan lemak.

Pola makan yang rendah produk hewaninya, memang akan rendah pula jumlah lemak jenuh, dan kolesterolnya. Hal ini bisa merupakan faktor yang mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit.

Apa saja manfaat sebagai vegetarian?

Penelitian menunjukkan bahwa pada vegetarian 50 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kematian akibat kanker dibanding non vegetarian. Pada vegetarian juga terdapat angka yang lebih rendah dari kanker usus besar, dari pada yang makan daging. Kanker usus besar diyakini berhubungan langsung dengan konsumsi daging. Angka kanker payudara juga lebih kecil pada Negara-negara yang pola makannya lebih banyak dari tumbuh-tumbuhan. Pola makan tinggi lemak memicu tubuh memproduksi hormon estrogen, terutama estradiol. Peningkatan hormon ini bisa berhubungan dengan peningkatan kanker payudara.

Produk hewani adalah sumber utama dari lemak jenuh dan kolesterol. Tambahan lagi, produk hewani tidak mengandung serat, yang bisa membantu menurunkan kadar kolesterol. Dengan diet vegetarian yang rendah lemak dan tinggi serat, ditambah gaya hidup sehat dan olahraga, bisa menyembuhkan aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah.

Para ahli menyatakan bahwa mereka yang tidak makan daging mempunyai tekanan darah yang rendah. Dengan diet vegetarian dalam waktu dua minggu saja, sudah dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan.

Diabetes type non-insulin dependent bisa dikontrol dan kadang disembuhkan lewat diet rendah lemak, vegetarian, dan olahraga teratur. Karena diet ini rendah lemak, kaya serat dan karbohidrast kompleks, insulin bisa bekerja lebih efektif, dan penderita diabetes bisa lebih mengatur kadar gula darahnya .

Diet vegetarian bisa mengurangi resiko terjadinya batu empedu, atau batu ginjal. Pola makan tinggi protein terutama sumber hewani, cenderung membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak kalsium, aksalat, dan asam urat. Ketiganya adalah komponen utama dari batu saluran kemih. Menu tinggi kolesterol dan tinggi lemak, juga berperan dalam pembentukan batu ginjal. Dengan alasan yang serupa, para vegetarian mempunyai resiko lebih kecil terkena osteoporosis.

Resep Masakan Vegetarian ( Ala Ashram Shanti Griya ).    

Masakan vegetarian berarti masakan satvik yang tidak mengandung unsur hewani baik  dalam bentuk daging, ikan, sea food, (yang bernyawa) minyak yang terbuat dari berbagai unsur hewani, serta vetsin. Vetsin atau penyedap masakan dibuat dari unsur daging maupun hewani. Pengganti vetsin yang tradisional adalah sedikit gula dicampur lada putih (bubuk) dan garam secukupnya. Ini untuk makanan china, makanan India dan Indonesia sebenarnya tidak memerlukan penyedap artifisial ini, karena alam kita telah menyediakan rempah-rempah dalam jumlah yang melimpah.

Perhatikan bumbu seperti royco dsb mengandung bahan-bahan artifisial ini. Juga sewaktu menggunakan keju harap diperiksa bagian komposisinya apakah mengandung rennet (ekstrak usus dari anak sapi). Hanya sedikit keju di Indonesia yang murni tanpa rennet. Telur tidak dipergunakan sama sekali karena setengah berjiwa,. Yang disebut telur vegetarian adalah bohong dan sebaiknya tidak disajikan dalam bentuk makanan yang bersifat satvik. Susu, yogurt dan keju non – rennet amat dianjurkan didalam setiap ajaran dharma, karena merupakan anugerah dari bunda sapi kepada umat manusia. Itulah sebabnya umat dharma tidak mengkonsumsi daging maupun bagian-bagian tubuh sapi, kerbau, banteng dan sejenisnya. Karena kontribusi hewan ini kepada umat manusia semenjak masa yang amat silam.

Di dalam menu vegetarian diperbolehkan menggunakan daging sintesis, yang terbuat dari tepung seperti gluten, mockduck kalengan, dsb. Protein juga sangat baik untuk dipergunakan sebagai daging sintesis dan mudah didapatkan diberbagai supermarket besar. Rumput laut seperti tumbuh-tumbuhan dan umbi, bunga dan berbagai akar, dsb dapat juga digunakan sesuai tradisi lama dalam berbagai bangsa-bangsa di dunia ini. Manfaat vegetarian tidak dapat diragukan lagi, dunia barat telah merintis pertahanan kesehatan tubuh masyarakat dengan menganjurkan untuk kembali kealam (back to nature)

Resep Menu Vegetarian

ASHVATTHA (Pohon Beringin nan Abadi)

Ashvattha, simbol semesta dengan berbagai keragaman kehidupan adalah simbol pohon beringin, ini yang digambarkan Sri Krishna kepada Arjuna di Bhagawat – Gita. Ashvattha digambarkan berakar ke atas dan cabang-cabangnya menurun. Ke atas di sini lebih berarti ke Sang Pencipta dan ke bawah bermakna dunia dan bumi ini, sebenarnya di antariksa tidak ada atas maupun bawah kecuali “kekosongan” yang menunjang isinya sendiri. Dengan kata lain pohon beringin ilusif ini adalah Prakriti yaitu alam makro – kosmos, madya, dan mikro – kosmos itu sendiri.

Ashvattha bermakna “tidak stabil” atau selalu bergoyah, dunia dan segala isi-isinya ini memang hasil rekayasa Sang Maya, dan maya adalah ilusi yang tidak akan pernah stabil sampai kapanpun. Namun “Ketidak-stabilan” ini nara sumbernya adalah Yang Maha Abadi itu sendiri, dan hal ini disadari oleh kaum yang telah mencapai vairagya (kesadaran) total, kaum awam senantiasa terpesona dan terjebak di dalam perangkap Sang Maya, dan lahir, lahir kembali tanpa henti, tanpa letih dipicu karma-karmanya sendiri.”

Singkatnya akar-akar Ashvattha adalah Sang Maya, pohonnya adalah Prakriti (dunia) dan asal-usulnya adalah Hyang Maha Esa (Purusha). Kalau ingin berlindung maka masukilah Prakriti, selami maya dan berlabuhlah dengan kesadaran di pelabuhannya Yang Maha Esa, namun berteori itu mudah, pelaksanaannya membutuhkan ribuan reinkarnasi, jutaan kesadaran dan satu sentuhanNya yang akan mengakhiri segala ilusi dunia materi ini. Konon kata Bhagawat-Gita, Ashvatta mendapatkan sari-sari kehidupan dari berbagai gunas (sifat-sifat prakriti yang alami), objek-objek indriyas adalah putik-putik bunganya, dan akar-akarnya yang ilusif mencengkram dan mengikat manusya dengan ilusi-ilusinya yang penuh suka (manis) dan duka (pahit). Cabang-cabang pohon ini adalah berbagai jiwa yang dibagi dalam berbagai kategori kesadaran sesuai dengan hasil-hasil karma kita di masa lampau, dan jiwa-jiwa ini lalu ditempatkan pada masing-masing posisi sesuai tugas-tugasnya seperti menjadi dewa, manusya, mahluk-mahluk halus, fauna, flora, reptile, serangga, mahluk-mahluk sel satu, dua, dst.

Namun manusya lebih cenderung menikmati dunia daripada menyadari tugas-tugasnya di alam ini, jadilah kita makin jauh dariNya, dan makin melekat ke vishaya (objek-objek luar). Ada lagi akar-akar Ashvattha yang menjuntai ke bawah yang disebut sebagai vasana (inti nafsu), trishna (cinta) dan raga dresha (pemujaan ego ke diri sendiri) yang menimbulkan karma-karma (aksi-aksi) yang berkelanjutan tanpa ada henti-hentinya inilah kedashyatan vasanas, yang harus “ditebas” dengan kesadaran dan pemasrahan total agar keluar kita dari belukar hidup ini.”

Sayang sekali lagi, semenjak dini kita lebih diajarkan untuk menikmati buah-buahan dari Ashvattha daripada mempelajarinya, jadi rasa manis buah-buahan lalu menjadi tujuan hidup, dan sang pohonpun terlupakan tuk dirawat dan dilestarikan. Akibatnya kita berkelana tanpa henti, tanpa tujuan dan tanpa makna yang berakhir dengan pengrusakan bumi dan diri sendiri, dimana tidak pernah ada kata cukup atau rasa aman dan nyaman, padahal kesadaran itu sederhana saja kata Gita: “Seseorang yang dirinya tidak terikat pada objek-objek luar (eksternal), akan mendapatkan kebahagiaan yang hadir di dalam dirinya sendiri (yaitu Sang Atman). Bagi seseorang yang telah melepaskan dan mengendalikan berbagai nafsu, keinginan dan perilakunya maka iapun akan bebas dari keterikatan, merasa cukup dengan semua anugrah hidup dan langsung mendapatkan ketenangan (kestabilan).

Kebebasan dari ikatan-ikatan materi adalah unsur vital tuk berkenalan dengan Hyang Maha Esa, namun pendekatan kearahNya harus tanpa pamrih, tulus dan tidak dibuat-buat, dirancang-rancang atau direkayasa, ia harus murni kesadarannya. Sang Jiwa di dalam raga kita harus disadarkan dari ilusi-ilusinya. Sang Jiwa harus sadar uang, harta, kesaktian, kemampuan hanya alat-alat penunjang bukan akhir tujuan, demi mencapai atman yang “bersembunyi” di guhayam (relung nurani yang paling dalam).

Jadikan hidup ini sebagai suatu kesempatan langkah tuk dimaknai secara sadar demi dharma-bhakti kita kepada Sang Pencipta, “Aku bukan apa-apa dan sebenarnya bukan siapa-siapa” adalah salah satu anak tangga awal dari kesadaran ini. Cobaan-cobaan terberat bukanlah harta-benda, istri, suami, dsb, tetapi adalah diri kita sendiri, yang tidak mau sadar dan malas belajar! Selama rasa ego masih menjadi panutan maka jauhlah kita dari rasa rasya (instuisi tertinggi), sia-sia saja berkelana telanjang di Himalaya, sia-sia saja bervarna prastha ke hutan-hutan, bertirtha yatra ke lokasi-lokasi suci kalau masih berjubah ego”, karena ego adalah bentuk nafsu dan perilaku yang teramat lincah dan licik kata T.L Vaswani.

Ada sesuatu yang selalu dilupakan oleh manusya, yaitu setiap jiwa di alam ini termasuk jiwa manusya adalah bagian-bagian kecil yang berasal dari Sang Pencipta itu sendiri, seyogyanya kita abadi, suci, bersih dan murni, tetapi lalu mengapa terilusi? Ini konon katanya karena kita cenderung mementingkan buah (pahala) daripada pohon kehidupan itu sendiri, dan Prakriti dengan segala keampuhannya lalu mengatur hidup ini sedemikian rupa agar terbungkus oleh indriyas dan jalan pikiran kita, sang Jiwapun diatur penuh kebebasan untuk kebablasan atau disadarkan, ia direkayasa tuk terbungkus atau menyibak keterikatan-keterikatannya sendiri dan mencapai titik zero di sanubarinya sendiri yaitu kesadaran Atman.

Di masa kini siapa peduli akan Atman? Hampir semua manusya meratap dan mengeluh susah dan menderita, ini akibat roh mereka lebih banyak bersemayam di dalam HP, komputer, TV, Bank, mobil, rumah mewah, posisi, dsb. Akhirnya roh-roh materi inipun “bergentayangan” dalam kepanjangan ilusi tanpa kendali, padahal sang jiwa yang bekerjasama dalam naungan Sang Atman dekat sekali di hati, dan selalu menegur kita dari saat ke saat karena Yang Maha Esa itu sebagai Atman selalu menunjang seluruh ciptaan-ciptaanNya baik dari dalam maupun dari luar, dengan menjadi sumber “api kehidupan’ yang menyatu dengan alunan nafas-nafas yang selaras. Sang Atman ini adalah sumber segala kecerdasan, kemampuan, pengetahuan dan kesadaran, IA-lah yang dimaksud oleh Veda-Veda dan berbagai Upanishad sebagai Sang Tujuan, IA juga sumber energi semesta,dan segala isinya, IA juga semua jalan-jalan ke arahNya, IA adalah DHARMA dan penunjangnya, IA adalah kita, dan kita semua adalah IA yang tidak dapat terjabarkan namun dapat difahami oleh yang berniat memahamiNya.

Ada bentuk-bentuk Tuhan yang ilusif yaitu Sang Purusha (energi) yang dapat binasa dan tidak abadi sifatnya dan Purusha yang disebut Kutastha yang tidak dapat binasa, IA disebut duduk tegar dalam misterinya yang abadi dan terselimuti oleh sang maya yang direkayasaNya sendiri.

Ada lagi Purusha yang Maha Tinggi yang dikenal sebagai Purushottama (Sang Jati Diri Maha Utama Suci dan Agung). IA menunjang bhur,bwah,swah loka dengan segala isi-isinya. IA lah Yang Maha Abadi dan tidak pernah binasa.Uttama Purusha atau Purushottama dengan nama lain Paramatman, Sang Jati Diri yang maha hadir dalam setiap Atman mahluk-mahluknya adalah yang maha menunjang, menghidupi dan menghadirkan alam semesta ini dari waktu ke waktu.

“Seseorang yang telah sadar, yang telah mengenalKu sebagai Purushottama, maka ia akan memujaKu dengan segenap jiwa-raganya, oh Arjuna!” (Bhagawat Gita XV, sloka 19) dan manusya agung ini disebut sebagai yang telah memahami ajaran-ajaran rahasya alam dan Ketuhanan Yang Maha Abadi, manusya agung ini disebut Mahatma (maha-atman), manusya ini telah mencapai penerangan (Nirwana, yaitu titik zero, (nol) dan tugas-tugasnya di dunia selesai sudah, ia telah berhasil menebas habis pohon Ashvattha, melalui non-keterikatannya, tanpa pamrih dan penuh kendali. Om Tat Sat.

Bhagavad Gita

Srimad Bhagavat Gita yang berarti Nyanyian ilahi atau disebut juga Gita Ilahi ( The Song Divine atau The Song of God) adalah sekumpulan ayat-ayat suci berbentuk syair syair yang diwartakan oleh Sang Kreshna kepada Arjuna di medan-laga Kurukshetra. Bhagavat Gita sendiri adalah sebagian dari epik agung Mahabrata yang disebut Bhisma Parva. Walaupun Bhagavat Gita adalah sebagian dari Mahabrata toh Bhagavat Gita adalah karya tersuci Hindu dan dianggap yang terpenting dari agama ini.

Bhagavat Gita dianggap juga sebagai salah satu Upanishad dan sering disebut dengan nama “Gitopanishad,” juga dianggap sebagai inti-sari dari semua sastra dan Upanishad yang ada di dalam agama Hindu. Bhagavat Gita lahir dari bibir Sang Kreshna beberapa waktu sebelum perang BarataYudha dimulai. Baiklah kita ringkas kisah antara Pandawa dan Kaurawa yang menjadi awal dari lahirnya Bhagavat Gita di medan laga Kurukshetra, agar para pemuda maupun sidang pembaca kita yang belum mengetahui tentang perang ini bisa lebih menghayati Bhagavat Gita secara utuh.

Duryodana adalah putra tertua raja Dhritarastra yang buta dan adalah putra tertua diantara 100 Kaurawa bersaudara. Ia bernafsu sekali untuk merebut hak para Pandawa lima yang sebenarnya memiliki setengah dari kerajaan Hastinapura. Yudhistira adalah putra tertua para Pandawa yang terdiri dari berturut-turut, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Arjuna walaupun bukan putra tertua adalah yang terperkasa di antara mereka, dan dia jugalah satu-satunya kesatria yang dianggap sebagai teman spiritual Sang Kreshna.

Yudhistira terkenal sekali sebagai seorang raja yang maha dernawan dan bijaksana. bahkan tidak pemah berbohong seumur hidupnya. Ia terkenal sekali jauh melebihi Duryodana yang serakah dan congkak dan dihormati oleh rakyat jelata bahkan oleh raja-raja lainnya. Tentu saja hal ini menimbulkan iri-hati yang mendalam pada diri Duryodana yang semenjak kecilnya ingin mencaplok seluruh wilayah Hastinapura untuk dirinya sendiri.

Bersama Sangkuni, Duryodana berkomplot untuk menipu Yudhistira dengan mengajaknya bermain dadu, bukan saja Yudhistira dikalahkan secara licik tetapi juga kehilangan seluruh kerajaan, bahkan istri dan adik-adiknya. Lebih dari itu para Pandawa pun semuanya harus mengasingkan diri mereka selama 13 tahun ke hutan dan setelah lewat masa tersebut barulah mereka diperkenankan kembali ke Hastinapura dan menerima setengah bagian mereka.

Dengan berbagai suka dan duka para Pandawa berhasil melalui berbagai rintangan dan menyelesaikan masa pengasingan mereka secara konsekwen dan kembalikah mereka ke Hastinapura untuk menuntuk hak mereka. Tetapi Sang Duryodana menolak mentah mentah untuk memulihkan status mereka dan tetap bersikeras untuk memiliki Hastinapura dengan cara apapun juga. Berbagai upaya di lakukan oleh para penengah termasuk Sang Kreshna, Bhisma bahkan Dronacharya guru para Pandawa dan Kaurawa tetapi sia-sia belaka karena nafsu tamak Duryodana telah mencapai puncaknya dan ia tidak mau tunduk pada siapapun juga. Himbauan Sang Kreshna agar para Pandawa diberikan lima buah desa saja sebagai kompensasi pun di abaikannya, bahkan Dulyodana mengatakan tanah seluas ujung jarum pun tidak akan pernah diberikan kembali kepada para Pandawa. Dengan berbagai _akal-licik Duryodana berusaha mencelakakan Sang Kreshna. tetapi beliau lolos dengan tenangnya, kembali ke kerajaannya di Dwarka. Dan mulailah persiapan perang antara Kaurawa dan Pandawa demi tegaknya keadilan dan kebenaran, dan matinya nafsu-nafsu ketamakan dan ‘keserakahan. Itulah permulaan dari Bratayudha. ‘ Alkisah sebelum perang ini dimulai maka sebagai kebiasaan di zaman itu, yang tidak berbeda dengan zaman sekarang ini, mulailah kedua belah pihak meminta bantuan kepada negara-negara lain yang bersimpati atau terikat pada mereka. Suatu saat Duryodana dengan

bermuka tebal menuju ke kerajaan Dwarka untuk meminta balabantuan dan pada saat yang sama Arjuna pun diutus para Pandawa untuk memohon bantuan Sang Kreshna. Kedua-duanya tiba di Dwarka pada saat yang sama, dan sewaktu masuk ke kamar Sang Kreshna, mereka menemui Beliau sedang tidur di peraduannya. Menunggu Sang Kreshna terjaga dari tidurnya, Doryodana secara amat tak sopan duduk di permadani Sang Kreshna, sedangkan Arjuna dengan mengatubkan kedua tangannya berdiri di ujung kaki Sang Kreshna sambil menghaturkan sembahnya. Tak lama kemudian Kreshna terjaga dan yang pertama-tama dilihatnya adalah Arjuna, kemudian barulah la berpaling dan melihat ke arah Duryodana. Duryodana yang melihat hal ini segera menjadi berang hatinya dan timbulah langsung nafsu tamaknya. Setelah memaklumi kunjungan keduanya, sang Kreshna dengan sénang hati menyatakan hasrat hatinya untuk membantu kedua pihak dengan syarat bahwa Beliau sendiri tidak mau berperang secara pribadi. Dan mengenai bala-bantuan tidak menjadi persoalan tetapi karena yang pertama dilihatnya adalah Sang Arjuna dan menurut sastra=satsra kuno yang muda harus didahulukan dalam segala hal, maka Sang Kreshna bersabda yang berhak untuk meminta bantuan adalah Arjuna barulah Durybdana, dan hanya ada dua hal yang dapat diberikan oleh Beliau, yaitu pertama laskar untuk berperang dan kedua dirinya sendiri yang tidak akan berperang secara langsung. Arjuna ternyata dengan segala rendah-hati memilih Sang Kreshna, sedangkan Duryodana bersorak gembira karena yang dimauinya sesungguhnya adalah bala bantuan dalam bentuk laskar kerajaan Dwarka yang terkenal kehebatannya, dan Sang Kreshna mengabulkannya. Sepeninggal Duryodana dengan para laskar Dwarka, Sang Maha Bijaksana Kreshna bertanya kepada Sang Arjuna mengapa Arjuna begitu bodoh memilih diriNya dan bukan laskar yang hebat. Dengan penuh hormat dan dedikasi yang tinggi Arjuna menjawab bahwa yang dibutuhkannya hanyalah Sang Kreshna, dan telah menjadi cita-citanya agar Yang Maha Bijaksana mau menjadi sais dari kereta perangnya disaat Barata Yudha berlangsung, karena Arjuna yakin bahwa Sang Kreshna adalah penuntun yang paling diyakininya dan dihormatinya, ,lebih dari itu menurut Arjuna, Kreshna adalah sumber dari harapan para Pandawa yang selama ini terbukti telah menolong mereka dari segala marabahaya. Tentu saja hal ini membuat Sang Kreshna makin mengasihi Arjuna dan bersedia dengan senang hati menjadi sais dan ‘ sekaligus penuntun dalam hidupnya. _ Sebaliknya bagi para Kaurawa hidup ini hanya dihitung dari’segi materiil, kekuatan manusia dan keserakahan yang seakan-akan tanpa akhir, dan semua itu menunjukkan hukum karma yang berlaku. .Kaurawa akhimya mendapatkan kebinasaan, sedangkan para Pandawa khususnya Arjuna medapatkan penerangan agung yang merupakan ajaran suci Bhagavat Gita. Bhagavat Gita mengajarkan kita semua untuk selalu bekerja pada sisi dharma dan berperang terhadap segala bentuk angkara murka, dan semua itu dimulai dari berperang melalui diri kita sendiri. . Akhir dari catatan ini adalah kisah mengenai raja Dhritarastra, bapak para Kaurawa yang buta kedua matanya semenjak lahir. Sebagai seorang raja ia bukan saja buta kedua matanya tetapi juga seluruh hatinya karena membiarkan, bahkan merestui tindaka tanduk anak-anaknya yang berlaku angkara murka kepada para Pandawa yang sebenamya masih para keponakan sang raja sendiri. Dalam hidupnya tidak tampak sesuatu gejala bahwa ia pernah mengoreksi kehidupan anak-anaknya dengan tegas, ia bahkan selalu bersikap menutup mata dan hatinya dari perbuatan para Kaurawa. Berberapa saat sebelum Barata Yudha akan dimulai, raja Dhritarastra menaiki kereta perangnya bersama saisnya yang menjadi pendampingnya. bemama Sanjaya. Kepada Sanjaya ia berpesan agar diberikan laporan langsung tentang apa yang ia lihat dan dengar selama perang berlangsung. Pada saal itu datanglah resi Vyasa yang ingin memulihkan penglihatan sang raja ini, tetapi Dhritaiastra menolaknya karena tidak ingin menyaksikan sanak saudaranya saling membunuh dan ia bersikap lebih baik mendengar dari pada melihatnya sendiii Resi Vyasa kemudian memberkahi Sanjaya dengan penglihatan yang terang dan bersabdalah beliau kepada sang raja bahwa Sanjay akan melaporkan bahkan detil detil yang paling kecil pun yang terjadi di BarataYudha dan Sanjaya tak akan pernah “merasa letih atau bosan baik siang maupun malam. Juga kedua orang ini yaitu raja Dhritarastra dan Sanjaya selama perang berlangsung tidak akan pernah celaka atau berlibat dalam peperangan. Akhirnya sebelum meninggalkan mereka sang resi bersabda bahwa dharma akan menang melawan adharma dalam perang ini. Setelah resi Vyasa berlalu maka raja Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, “Hai Senjaya,

saat ini di medan laga Kurushetra nan suci berkumpulah putra-putra ku dan putraputra Pandu (Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha (perang). Beritakanlah kepada ‘ kami apa saja yang sedang mereka lakukan.” Bermula pada pertanyaan ini mulailah adhyaya (bab) partama dari maha suci Bhagavat Gita.

Download ebook Bhagavad Gita disini

Ashtavakra Gita

BAB I
SANG JATI DIRI SEBAGAI SAKSI DI DALAM SEMUANYA

Janaka berucap :

  1. Ajarilah  daku, wahai Presha (Guru Utama), bagaimana caranya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan?  Bagaimana (darimana) datangnya kebebasan (spiritual, dari duniawi ini)?, bagaimana mencapai pemasrahan itu?

Ashtavakra berucap :

  1. Seandainya dikau mendambakan kebebasan, anakku, maka tolaklah kehadiran obyek-obyek indra-indramu dan anggaplah obyek-obyek ini racun, dan mohonlah akan pengampunan, keterus-terangan, kebajikan, keriangan dan kebenaran ibarat nektar (air suci kehidupan yang setelah diteguk akan mengabadikan seseorang).
  2. Dikau ini bukanlah bumi, bukan juga dikau ini Agni, bukan juga Akasa (angkasa), bukan Tirta (air) dan juga bukan Bayu (udara, angin).  Untuk mencapai kebebasan kenalilah Sang Jati Diri sebagai “saksi dari semua ini” …… yang merupakan manifestasi dari Kesadaran Yang  Murni dan Hakiki itu sendiri.
  3. Seandainya dikau menanggalkan dirimu dari raga dan bersemayam (menghadirkan diri) di Kesadaran, dikau akan segera berubah bahagia, damai dan lepas dari keterikatan.
  4. Dikau bukan tergolong dalam kasta Brahmana maupun kasta-kasta lainnya.  Dikau juga tidak tergolong di (Asrama) bentuk-bentuk kehidupan lainnya.  Dikau tak dapat dipengaruhi oleh indra-indra.  Tak melekat, tak berbentuk, dan “saksi dari semuanya” adalah dikau itu sendiri. Barbahagialah.
  5. Kebajikan dan kebatilan, kebahagiaan dan kedukaan adalah atribut-atribut dari sang pikiran, bukan darimu, wahai Yang Maha Hadir di dalam semuanya! Dikau bukanlah “yang melaksanakan” dan juga bukan “yang menikmatinya”.  Sebenarnya, dikau senantiasa bebas merdeka.
  6. Dikau adalah  Yang Maha Bijaksana dan Yang Maha Sadar di dalam semuanya, dan secara amat pasti dikau adalah bebas, sebebas-bebasnya.  Sebenarnya keterikatanmu lebih dikarenakan dikau tidak melihat Dirimu Yang Hakiki, tetapi melihatnya sebagai sesuatu yang lain.
  7. Dikau, yang telah dipagut oleh ular hitam yang besar yang berbentuk rasa egoisme “Akulah  sang Pelaksana”; Tegiklah iman ini :”Aku bukanlah sang pelaksana”, iman ini ibarat nektar, teguk dan berbahagialah.
  8. Setelah membakar habis hutan kebodohan dengan api keyakinan, “Aku adalah Tunggal”, Kesadaran Yang Hakiki dan setelah menanggalkan semua bentuk kekhawatiran,  berbahagialah.
  9. Dikau adalah kesadaran itu, Kebahagiaan Yang Berasal DariNya ——- Kebahagiaan Yang Teramat Agung —- seluruh alam semesta ini terlihat tertunjang olehNya, ibarat ular di dalam ilusi seutas tali.  Hidup berbahagialah sesuai dengan Kesadaran Hakiki ini.  (Di dalam kegelapan, seutas tali di jalan bisa terlihat/terkesan sebagai seekor ular, begitu juga ilusi duniawi).
  10. Barangsiapa merasa dirinya  bebas, ia akan benar-benar bebas, dan barangsiapa merasa dirinya masih terikat, maka ia akan selamanya  terikat. “Seperti yang dipikirkannya, begitu juga ia merubah dirinya”’ demikianlah kata-kata mutiara di dunia ini, yang sebenar-benarnya adalah benar.
  11. Sang Jati Diri adalah Sang Saksi, Hadir di kesemuanya, Sempurna, non-dual, Bebas, Kesadaran, Tak Melakukan  Tindakan, Tidak Terikat, Tidak berkeinginan, Hening. Melalui ilusi Beliau terlihat seakan-akan terserap ke dalam dunia ini.
  12. Setelah melepaskan semua fluktuasi-fluktuasi  eksternal dan internal, dan ilusi :”Aku adalah ego Diriku Yang terefleksi”’ bermeditasilah ke dalam dirimu, yang merupakan Kesadaran Yang  Tak tergoyahkan dan tak bercabang dua.
  13. Wahai putraku yang kusayangi, dikau telah lama terjerat oleh tali kesadaran ragamu. Tebaslah secara tuntas dengan pedang ilmu-pengetahuan :”Aku adalah Kesadaran”’ dan berbahagialah.
  14. Dikau adalah Tak Terikat, Tak Melakukan Segala Tindakan, Bercahaya di dalam Diri Sendiri, Tanpa setitik Noda. Dikau senantiasa bersemadi; ini sebenarnya adalah keterikatanmu.
  15. Dikau menunjang alam-semesta dan alam-semesta ini teranyam semata-mata di dalam diriMu.  Sebenarnya, secara alami, Dikau adalah kesadaran  Murni.  Jangan mengarah ke jalan yang salah.
  16. Dikau tak bersyarat, tak berganti-ganti, padat, penuh dengan intelegensia, hening dan tak terusik oleh apapun juga.  Berhasratlah akan kesadaran semata-mata.
  17. Fahamilah, bahwa sesuatu yang berbentuk adalah palsu dan yang atk berbentuk dan tak berganti-ganti (berubah-ubah).  Melalui petunjuk spiritual ini, dikau akan terbebaskan dari kemungkinan kelahiran kembali.
  18. Ibarat cermin yang menghadirkan refleksi di dalam dan di luarnya, demikian juga Sang Jati Diri Yang Maha Kuasa hadir di dalam maupun di luar raga ini.
  19. Ibarat ruang spasi (kekosongan) yang hadir di dalam dan di luar tempayan, demikan juga Yang Maha Tak Dapat Digerakkan dan Brahman Yang Maha Hadir dimanapun juga, berada di dalam semua makhluk dan benda-benda.selengkapnya silahkan baca di ebooknya

Shanti Sutra

Prakata

 Meditasi yang berkesinambungan di dalam keheningan alam ternyata mampu mendatangkan inspirasi seni dan spiritual secara berkesinambungan. Juga, semua itu tentu saja sesuai dengan intuisi paling dalam dari yang bermeditasi. Di bawah ini hasil-hasil renungan dalam meditasi kami tuangkan dalam bentuk wacana-wacana spiritual agar dapat juga diresapi oleh yang berminat. Sebagian besar dari bisikan-bisikan ini telah beredar melalui sms dari Shanti Griya Ganesha Pooja ke para teman-teman, sahabat-sahabat dan mereka-mereka yang merasa adalah bagian dari Shanti Griya G.P. Bisikan-bisikan ini telah puluhan tahun merasuki diri dan menuntun penulis ke status-nya pada saat ini. Hampir semua wacana-wacana ini bersifat universal, walaupun tentu saja ada yang bersumber pada kaidah-kaidah Dharma yang dianut oleh penulis.

 

“Kadang-kadang kata-kata ini mengalir begitu saja di/waktu mandi, berenang, olah raga, bermeditasi, membaca buku, bahkan terinspirasi dari kata-kata para sahabat. Mudah-mudahan semua ini dapat menjadi pedoman spiritual kita dan dapat dibagi-bagikan kepada yang memerlukannya. Om Shanti Shanti Shanti Om.

Sabda-sabda Guru Jati Diri  yang hadir dalam pemikiran dan meditasi kami :

 

“ Bangunlah dengan Dharma,
bernafaslah dengan dharma,
bekerjalah dengan dharma,
agar Sang Dharma jadi rekan hidupmu sehari-hari”

“Orang yang paling kaya di dunia ini adalah yang mampu memberikan dan mengorbankan apa saja bagi sesama mahluk dan manusia, walaupun itu seminimal mungkin.

Orang yang paling miskin di dunia ini adalah yang selalu meminta-minta kepada yang lain-lain dan ke Tuhan walaupun sebenarnya sudah berlimpah dan bergelimangan harta”.

“Konon di suatu masa zat Yang Maha Agung itu berkenan mereproduksi Dirinya  menjadi Jagat Raya dan segala isinya. Sayang banyak manusya tidak sadar bahwasanya mereka adalah bagian-bagianNya juga”.

“Setiap orang mendambakan rasa keadilan, buah keadilan harus dicapai dengan belajar menghargai diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita”.

“ Kalau anda menginginkan kesuksesan, maka ciptakan dan rintislah jalan ke arah kesuksesan tersebut. Kesuksesan tidak datang melalui mimpi-mimpi yang indah.

“Agar tetap ceria dan bersemangat menjalani kehidupan yang rumit dan misterius ini, maka anda perlu sering-sering beristirahat, merenung, berekreasi, bermeditasi dan membagi-bagi kasih sayang kepada semuanya di sekitar anda”.

“Tidak penting asal-usul anda yang penting apa dan siapa anda pada saat ini”

“Sahabat-sahabat yang baik, aktivitas yang baik, dan doa-doa yang baik merubah seseorang menjadi pemimpin-pemimpin yang baik di kawasannya.

“Bagi yang optimis setiap rintangan pasti ada jalan keluarnya, bagi yamg pesimis semua jalan keluar penuh dengan rintangan”.

“Hanya orang-orang yang telah tercerahkan saja yang faham akan permainan sang pikiran dan dampak-dampaknya di segala aspek”.

“Harta benda yang paling mulia yang dimiliki seseorang adalah harta dalam bentuk kesadaran demi kebenaran”.

“Seluruh ciptaan berasal dari Anugrah, Sang Anugrah menunjang semesta jagat raya ini.”

“Kita mengerti akan kehadiran kita dimana-mana, namun kita selalu tidak pernah faham mengapa kita hadir dimana-mana”.

“Pendidikan yang beradab diperlukan pada zaman ini, Peradaban yan mendidik menjadi dambaan masa kini dan masa depan seluruh anak-anak bangsa-bangsa di dunia ini”.

“Diperlukan dua tangan untuk mengangkat sesuatu yang berat, diperlukan dua sayap kuat untuk terbang, diperlukan dua sumpit untuk bersantap, demikian juga dibutuhkan dua hati yang saling menyayang dan saling bekerja sama ‘tuk hasilkan kasih sayang yang sejati”.

“Kadang-kadang kita harus tersesat dulu di jalan yang salah, dan akhirnya menemukan bahwasanya kebenaran ternyata tersembunyi di sana”.

“Cobalah beriman kepadaNya dengan santai, jauhilah formalitas rutin yang mahal dan ekslusif, maka akan hadir nilai-nilai spiritual pribadi pembuka akal budi dan gairah hidup yang kreatif, indah, positif dan dharmais”.

“Kebodohan (awidya) dimulai sewaktu seseorang tidak mau memahami makna kehidupan itu sendiri”.

“Barang siapa menabur benih-benih kebahagiaan di halaman rumahnya, maka ia akan menghasilkan hutan kesentosaan di sekitarnya”.

“Wahai para dewata dan Yang Maha Esa, berikan aku jasmani yang sehat,agar pada akhir hayatku, kedua mataku dapat diberikan kepada anak-anak  yang memerlukannya, agar mereka dapat menyaksikan indahnya cahaya Sang Surya. Berikan organ-organ tubuhku kepada  pemuda-pemuda yang memerlukan agar mereka dapat melanjutkan hidup mereka. Semoga dikau kabulkan doa orang yang bodoh ini. Om Tat Sat”.

“Wahai Tuhan Yang Pengasih jangan berikan aku pelita seandainya aku masih berjalan ibarat seorang yang buta mata hatinya,jangan biarkan aku memujaMu jika Dikau tidak hadir di dalam diriku setiap saat”.

“Konon katanya kematian itu adalah wahana dan sarana bagi kita untuk beristirahat sejenak dari suka duka ini. Tetapi aduh Gusti, mengapa malahan banyak yang menghindari rehat yang satu ini”.

“Banyak yang mencari-cari hakekat akan hadirnya semesta dan kehidupan ini, tetapi penjabaran akan hal ini tetap tertutup oleh kabut misteriNya”.

“Dengan mencintai bumi dan segala ciptaan-ciptaan maka kita akan bersahabat dengan Sang Pencipta. Cintailah semua itu seperti engkau mencintai dan menghormati dirimu, maka Sang Pencipta akan menjadi Kekasih dan Pelindungmu”.

“Budi daya dan jalan pikiran manusya telah mampu menciptakan berbagai hasil enovasi tehnologi yang menakjubkan (devaik), tetapi pada saat yang sama manusya juga telah menciptakan kehancuran di muka bumi ini, karena tidak sesuai dengan hukum- hukum alami (asurik)”.

“Seandainya sebuah senyuman dapat mengangkat sebuah beban, maka seribu senyuman seyogyanya dapat mengangkat sebuah gunung”.

“Satu kali senyum curiga hilang, dua kali senyum jadi sahabat, tiga kali senyum hati penuh damai, empat kali senyum beban jadi ringan, lima kali senyum rezeki datang, enam kali senyum semua jadi senang, setiap saat senyum Tuhanpun berbahagia dan berkenan”.

“Seandainya kasih tanpa pamrih ke sesama adalah sebuah bentuk ahimsa, maka ekspresinya adalah bakti kepada semua yang membutuhkannya. Seorang manusya melalui sentuhan ahimsa ini dapat mencapai status Resi Wyasa, Buddha, Mahavira, Kristus, Kwan Im, Krisna, dst.

“Tidak ada itu agama-agama dan kepercayaan lain kalau hanya hadir satu Tuhan YME. Tidak ada itu sorga, neraka atau akhirat (pralaya), kalau semua itu dapat kita rasakan di dunia ini”.

“Kita dan segala ciptaan-ciptaanNya di semesta yang maha luas ini adalah suatu Kesatuan yang manunggal dan terjalin rapi satu dengan yang lain secara berkesinambungan ke Sang Pencipta. Tidak ada hal lain selain kebenaran itu”.

“Siapa dahulu? Tuhan atau manusya? Menurut sastra-sastra widhi yang disucikan, maka Tuhan hadir pada mulanya, namun tanpa manusya maka unghapan-ungkapan akan Tuhan tidak akan pernah ada”.

“Sebenarnya setiap manusya seberapapun miskinnya mampu memberi. Barangsiapa hanya dapat menerima tanpa membagi-bagikannya kepada sesama mahluk dan manusya-manusya lain, disebut sebagai pencuri”.

“Tuhan memberikan empat keranjang dan memintaku untuk memilih salah satu. Setiap keranjang masing-masing berisikan emas, permata, US Dollar, dan senyuman-senyuman. Aku berlagak bijaksana dan mengambil seperempat dari setiap keranjang dan Tuhanpun tersenyum aneh _ aku langsung berubah pikiran dan hanya mengambil keranjang penuh senyuman. Tuhanpun tersenyum, tersenyum dan tersenyum indah menawan”.

“Sishya     : Manusia agung itu ciri-cirinya seperti  apa?
Guru         : Seperti seorang ibu.
Sishya       : Lalu bagaimana dengan para resi
nabi-nabi, para mahatma, dst?
Guru          :Mereka juga dilahirkan dan dibesar
oleh seorang ibu, jadi ibu tetaplah
yang teragung di antara jajaran
manusya dan dewata. Mantram pertama
diturunkan oleh ibu jagat raya dan
disebut Maha Gayatri Mantram
“Itulah ibu semua mantram di dunia ini,
itulah awal mula kehidupan di dunia
ini, bukan para resi dan nabi”.

“Kehidupan ini kehilangan gairahnya sewaktu seseorang kehilangan imannya, sadarilah akan potensi dashyat yang hadir di dalam dirimu, galilah melalui keheninganmu, karena Ia hadir di kedalaman nuranimu yang paling dalam (guhayam).

“Sewaktu aku merasa memiliki sesuatu, ternyata aku tak memiliki apapun juga. Sewaktu aku merasa tidak memiliki apapun juga, maka semua menjadi milikku”.

“Manusya berperang demi tanah dari masa ke masa, jual beli tanah, memperebutkan tanah, namun selamanya tidak akan mampu menciptakan tanah, malahan akhirnya akan kembali ke pangkuan tanah”.

“Kadang-kadang persahabatan yang tulus terjalin dari jarak jauh, namun sering sekali permusuhan malah hadir di jarak yang amat dekat, bahkan dalam selimut kita sendiri”.

“Ya Tuhan , terima kasih untuk segala caci-maki, fitnah-fitnah dan derita yang di arahkan kepada diri ini. Seandainya Dikau hadir pada setiap jiwa, maka semua ini pastilah teguran-teguran dariMu semata dan aku bersyukur pada setiap kehendakMu”.

“Kadang- kadang kita harus bersikap cerdik seperti Krisna, ksatriya seperti Arjuna, Ahimsa seperti Budha, penuh pengorbanan seperti Kristus, penyayang seperti Theresia, pejuang seperti Gandhi, dan rendah hati seperti seekor kura-kura”.

“Ada saat-saat tertentu sebuah depresi spiritual yang dashyat akan melanda mereka-mereka yang sedang berjuang di jalan Dharma; Arjuna, Buddha, Yesus, Theresia, Vaswani, Vivekananda, juga telah mengalaminya. Juga kita akan mengalami semua itu!”.

“Seorang yang memiliki nuansa dharma yang sejati, tidak akan terpengaruh oleh agama-agama buatan manusia, ia akan bersikap universal dan sama rata kepada semua mahluk dan ajaran-ajaran di dunia ini. Baginya segala ritual dan dogma-dogma dalam setiap agama adalah bentuk-bentuk pemalsuan dan demi tujuan-tujuan tertentu saja, Dharma tidak dapat dijabarkan melalui kebodohan-kebodohan tersebut karena Ia adalah Kebenaran yang tidak memerlukan bukti-bukti apapun juga”.

“Sewaktu anda terlepas dari segala ikatan maka lalu Tuhan mengikatkan Dirinya kepada dirimu”.

“Tiada kelahiran maupun kematian. Keduanya itu ibarat pagi dan malam, senantiasa berdampingan, dan rehat di kala subuh dan senja, kemudian berulang-ulang lagi untuk menunaikan tugas-tugas yang belum terselesaikan”.

“Pengalaman dan sejarah Ketuhanan sangatlah kompleks dan beraneka ragam pada setiap kebudayaan manusia, semua itu menunjukkan Ketuhanan itu bersifat multi aspek yang kemudian lalu membentuk suatu kesatuan yang bersifat Kebinekaan universal”.

“Tanpa upaya-upaya manusya, maka alam tidak akan bereaksi. Tanpa kehendak alam maka manusya tidak akan mendapatkan anugrahNya.

“Tanpa doa-doa dan bakti-bakti kebajikanmu, alam tetap saja berfungsi. Namun tanpa alam engkau tidak akan pernah eksis bahkan tidak akan mampu berfungsi. Jadikanlah alam sebagai pedoman, guru, ayah-bunda, dan Tuhanmu, wahai manusya”.

“Ketika kemanusiaan bersinergi dengan alam sekitarnya, maka bumi dan seisinyapun mekar merekah. Jika kemanusyaan itu melentur, maka rakyatnya sengsara karena alam bereaksi dan panen-panenpun gagal, sumur-sumur kering kerontang, bumi luka parah; Kemanusyaan itu seharusnya selaras dengan kaidah-kaidah alam yang teramat Ilahi (Bhagawatam)”.

Barangsiapa berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri disebut egois (iblis), barangsiapa memperhatikan juga keluarga, tetangga, mahluk-mahluk lain, fauna flora dan alam sekitarnya disebut berprilaku deva, ibarat Pertiwi dan Tuhan itu sendiri yang senantiasa membagi kasih-kasihnya kepada semua tanpa batas-batas dan perbedaan-perbedaan”.

“Setiap hari adalah hari untuk introspeksi diri. Hari untuk menganalisis baik buruk dampak perbuatan kita sehari-hari pada diri kita dan semuanya di sekeliling kita. Hal ini disebut memiliki budaya kesadaran”.

“Ada seorang pria yang teramat alim dan hidup sebagai seorang selibat (tidak pernah kawin, brahmacarya). Ia berdoa ke Tuhan pada akhir hayatnya agar pada kehidupan selanjutnya ia selalu di anugrahi selangkangan wanita. Tuhan Yang Pengasih dan Maha Mendengarkan lalu mengabulkannya. Pria tersebut selalu lahir kembali jadi softex dari waktu ke waktu”.

“Softex (atau pembalut wanita) adalah penjelmaan Dewa Pembersih Wanita yang bersifat tanpa pamrih dan selalu tewas berdarah-darah, lalu dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, padahal awalnya ia amat dibutuhkan para wanita. Namun softex senantiasa mati bahagia tanpa menuntut apapun juga. Apakah anda dan saya dapat berkorban seperti softex ini?”.

“Tuhannya Israel disebut “Aku adalah aku”. Ribuan tahun sebelumnya weda-weda menyatakan: Aham Braham Asmi (Aku adalah Tuhan). Sufi-sufi Islam berwacana secara tulus; Ana-ul-Haq (Aku adalah Hakikat). Yesus bahkan menunjuk dadanya dan bersabda: “Kerajaan Tuhan itu hadir di dalam dirimu”, Upanishad menyebutnya Guhayam (nurani yang paling dalam)”.

“Lawan dari miskin bukan kaya, tetapi ego yang tidak terkendali. Penggallah ego ini dan dikau akan jatuh miskin. Miskin berarti sederhana. Dan kesederhanaan pikiran dan prilaku adalah anak tangga pertama ke arah anak-anak tangga spiritual yang tertinggi (Dharma).

“Seseorang yang sehari-hari berprilaku baik juga dapat terjerumus ke lubang keburukan seandainya ia terliput oleh awidya (kebodohan), dan awidya ini selalu hadir dalam keserakahan, ego, benci, dendam, kekecewaan dan kurangnya pengendalian pikiran-pikiran yang seharusnya seimbang”.

“Tahukah anda api obor pesta olah raga berasal dari pemujaan Zarathusthra (Zoroaster) ke Agni. Agni hadir sebagai dewa utama di Rig weda. Ternyata para ahli mengkonfirmasi bahwasanya Hindu Dharma telah berdampak pada agama Yunani. Bukan saja sebagian dewa-dewi Yunani identik dengan dewa dewi Hindu. Tetapi upacara Agni-hotrapun telah diadopsi menjadi obor perdamaian. Obor api ini melambangkan peleburan ego dan kemenangan para pahlawan-pahlawan Yunani di masa lalu. Di Hindu Dharma Agni-Hotra bersifat pengorbanan diri ini, dan mantra utamanya adalah Swaha (dengan ini aku korbankan diriku kepadaMu). Dan seluruh dunia larut merayakannya tanpa batas agama dan ras. Ini menunjukkan hadirnya Dharma dalam Agni (pencerahan, penerangan universal).”

“Seorang pahlawan juga harus mati pada akhirnya, apakah itu secara alami maupun ditengah-tengah atau di akhir perjuangannya. Seorang pahlawan kebenaran itu telah “dikawinkan” dengan Sang Maut, yang kemudian mengantarkannya ke strata spiritual berikutnya yang mungkin disebut moksha”.

“Ilmu air mengatakan, “mengalirlah dalam kehidupan ini seperti air”. Banyak orang lalu “berperahu” dan mengikuti arus, tetapi sebagian mungkin lupa bahwasanya perahu itu dapat saja bocor, terbalik, rusak dan terdampar entah sampai kemana. Namun air itu sendiri setelah berkelana ke sana-sini menjadi kotor, lalu akan tetap ke samudra diasini laut dan kemudian menguap menjadi murni kembali seperti semula”.

“Sewaktu melakukan hubungan seks, maka pasangan akan menyatu dalam kesatuan klimaks yang disebut orgasme. Demikian juga sewaktu jiwa-raga dan Atman bersatu, maka hadirlah klimaks yang disebut Ananda (keheningan Bhagawatam), disitu tidak ada pria-wanita, jiwa atau raga, yang hadir adalah sebentuk kasih Bhagawatam (Prema) yang universal bagi sesama, Kasih ini sulit dijabarkan dengan kata-kata biasa”.

“Sewaktu seorang teroris dihukum mati, maka sebagian dari kita beryukur. Tapi kita lupa sudah beberapa kali kita sendiri menteror dan menyakiti sesama mahluk dan manusya sehari-harinya. Sudah beberapa binatang kita bantai dan santap baik atas nama agama maupun demi keperluan perut kita. Lalu nanti balasannya akan datang dalam bentuk apa? Yang pasti sewaktu jasad dikubur maka pertama-tama jasad tersebut akan disantap oleh cacing-cacing, bakteri dan lain sebagainya. Hukum karma langsung bereaksi, seterusnya hanya Dia Yang Maha Tahu”.

“Seseorang tidak akan bisa berpikir dan berprilaku yang benar secara spiritual jika ia “mengubur kepalanya  di dalam pasir “Ibarat burung onta, dan menolak menghadapi kebenaran, betapapun  menyakitkan dan mengerikan kebenaran tersebut”.

 

 

KAMA SUTRA

KAMA SUTRA BAGIAN SATU (EROTOLOGI SANSKERTA DAN PENDIDIKAN KEHIDUPAN YANG SELARAS)
Perbendaharaan shastra erotologi Sanskerta sangat kaya. Berbagai shastra mengenai sensualitas, seni bercinta dan erotologi adalah karya- karya para maha resi yang bersifat dharma demi langgengnya kehidupan berumah-tangga yang harmonis di satu pihak, dan demi berlangsungnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Kesemua shastra ini kemudian diatur dalam suatu kesatuan yang bernama Kama-Sutra, yang bukan saja berisikan metode-metode bersanggama secara lengkap, namun juga upacara pernikahan, pendidikan prenatal, pendidikan berumah-tangga, homoseksualitas, transeksualitas, kehidupan beragama dan berdharma, dsb. Kesemuanya diatur oleh para resi dari zaman ke zaman, diantaranya yang paling terkenal adalah Resi Vatsyawana (nama aslinya mungkin Malinga atau Mrilina). Disamping Kama Sutra masih ada enam shastra erotis lainnya seperti :
1. Ratirahasya (Rahasia bercinta)
2. Panchasahya (Lima anak panah)
3. Smara Pradipa (Sinar Cinta)
4. Ratimajari (Kalungan cinta)
5. Rasmajari (Tembakan cinta)
6. Anunga Runga (Tahap Cinta), juga disebut Kamaladhiplawa (Perahu di samudra) C

TIGA BENTUK KEPERLUAN AKAN KEBAHAGIAAN DI DUNIA INI

Ketiga bentuk keperluan manusia ini disebut : Kebajikan – harta benda dan kekayaan – kenikmatan (Dharma – Artha – Kama). Pada kesempatan kali ini kami ingin menjabarkan Kama sebagai pedoman kehidupan yang sehat bagi keluarga yang ingin menikmati kehidupan sensual, dan bukan untuk dipergunakan secara adharma. Kehidupan seksual kalau dihayati dan dilaksanakan secara dharmais akan menghasilkan suatu bentuk kehidupan yang sakral dan sehat jasmani dan rohani. Keluarga dapat bersifat sederhana, namun kalau diisi dengan berbagai teknik- teknik khusus maka keluarga tersebut akan harmonis, semarak dan bahagia.
Pelaksanaan sensual yang bersifat adharma akan menghasilkan penderitaan yang berkepanjangan serta karma-karma yang buruk dan kehancuran yang mengenaskan. Sejarah penuh dengan beragam-ragam kisah semacam ini, bahkan Ramayana, Mahabrata dan Shakuntala dsb. tidak lepas dari berbagai penderitaan ini. Para dewa-dewi di Kahyanganpun terjungkal oleh ulah sensual mereka yang tidak terkendali dan jauh dari dharma. Raja Dastarata harus membayar mahal dengan mengorbankan putranya Sang Rama ke hutan, dsb. dsb. Sebaliknya sifat-sifat dan perilaku dharma akan menuntun seseorang ke arah kebahagiaan secara otomatis dan alami.
ENAM PULUH EMPAT JURUS SENI BERCINTA
Seseorang seyogyanya mempelajari Kama Sutra, seni dan teknik bercinta, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan seks dan pendidikan seks yang sehat. Di era ini banyak ahli seksologi dengan pendekatan modern dan ala Barat. Namun Kama Sutra menyajikan sesuatu pendekatan kekeluargaan secara sakral, sehat serta sensual. Jangan gegabah untuk menikah tanpa pendidikan dharma dan kamasutra yang baik. Di masa-masa lalu para guru dan orang tua mendidik anak-anak mereka yang dewasa secara dharmais sebelum dinikahkan. Pada era ini kaum muda malahan belajar sendiri dari blue-film , pergaulan bebas, dsb. tanpa disertai pendidikan seks yang sehat.
Sebenarnya di dalam Hindu Dharma pendidikan seks diajarkan secara setara kepada wanita dan pria. Di masa lalu pendidikan seks diturunkan oleh para orang-tua, pendeta, guru spiritual, dayang-dayang tua di istana, dsb., kepada mereka yang dianggap perlu. Ilmu-ilmu lainnya seperti seni tari, massage, kaligraphy, lukisan erotis, berbagai bunga-bunga pewangi perangsang seks, aroma terapi yang berhubungan dengan seni bercinta juga merupakan pendidikan vital, disamping jamu-jamuan yang berkhasiat untuk pria dan wanita. Bahkan penataan ruang tidur dan tempat-tempat bersanggama yang indah bagi kaum aristokrat memerlukan penanganan yang khusus. Hatha Yoga (olah-tubuh) merupakan pelajaran yang diharuskan demi pelenturan tubuh agar berbagai pose seksual dapat dilakukan secara mudah. Demi kesehatan dan vitalitas tubuh, maka berbagai pengetahuan akan makanan seperti kacang-kacangan, rempah- rempah yang wangi dan berkhasiat, buah-buahan yang menghasilkan sperma, antiseptik alami harus dipelajari dan kemudian dikonsumsi secara beraturan. Belum lagi busana-busana khusus yang merangsang pasangan suami-istri. Disamping itu seni syair, puisi, pantun yang erotis menambah gairah disamping seni merabah, memijat, menggigit penuh nafsu.
Di era ini semua stimulasi sensual ini juga diwajibkan oleh para ahli. Bahkan hari-hari libur sebaiknya diisi pelaksanaan seksual yang indah secara privacy . Hidup itu bukan sekedar nyoblos dan merasa itu sudah jadi kewajiban. Akhirnya hancurlah mahligai yang rapuh tersebut. Ingat perilaku berpacaran adalah hal yang sehat untuk dilakukan oleh pasangan suami-istri secara privacy walaupun kita sudah tua, karena merupakan penyedap alami yang amat penting dalam membina mahligai yang harmonis, sehat dan penuh dengan kenikmatan.

Brahma Sutras

Brahma-sutras adalah salah satu maha karya dari Resi Agung Sri Wyasa (Resi Abiyasa) yang juga dikenal dengan nama Resi Abhiyasa di Indonesia. Nama lain beliau adalah Resi Krishna- Dwaipayana dan Resi Badarayana. Karya ini bersifat sangat khusus dan seyogyanya hanya dipelajari oleh kaum cendekiawan yang telah mendalami berbagai Weda dan Upanishads (Sruti dan juga Smriti), tanpa landasan ini, maka karya ini akan bersifat asing dan membingungkan. Tidak ada suatu sekte ajaran Hindu-dharma yang tidak berpedoman ke Brahma-sutras ini. Konon dikatakan seorang guru yang ingin membangun sebuah perguruan spiritual di India, diharuskan untuk menulis sebuah referensi penelitian mengenai Brahma-sutras ini melalui sudut pandangannya yang pribadi. Demikianlah, dari masa ke masa kode etik pendirian perguruan spiritual dilaksanakan di tanah Bharata.
Para resi guru dari zaman-zaman yang lalu sampai ke eranya resi-resi guru seperti Sri Shankara Acharya, Sriharsha, Chitsukha dan Madhu Sudana berupaya mengukuhkan faham Monisme secara Hakiki (Keesaan dan Keekaan Tuhan yang serba maha).
Sri Wyasa dianggap sebagai Awatara Wishnu yang juga dikenal dengan nama Badarayana dan Sri Krishna Dwaipayana. Beliau telah menyarikan berbagai Upanishad, Weda, Wedanta, dsb. dan mendiskusikannya di karya Brahma-Sutra ini.
Berbagai Weda terdiri dari tiga bagian utama yaitu : ¾ Karma-kanda, yang berhubungan dengan berbagai ritual- ritual upacara, pengorbanan dan lain sebagainya. ¾ Upasana-kanda, yang berhubungan dengan pemujaan dan meditasi (Upasana). ¾ Jnana-kanda, yang berhubungan dengan Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).
Karma-kanda diibaratkan sebagai kaki manusia, Upasana- kanda diibaratkan sebagai jantung manusia, dan Jnana-kanda ibarat kepala manusia. Yang dimaksudkan kepala ini adalah

www.shantiwangi.com
berbagai Upanishad (Siras), yang dianggap sebagai intisari penting berbagai Wedas.
Kata Mimamsa berarti investigasi atau penelitian yang berhubungan dengan teks (sloka-sloka) suci yang terdapat di berbagai shastra-widhi. Mimamsa dibagi dua, yaitu Purwa Mimamsa (masa silam) dan Uttara Mimamsa (masa-masa selanjutnya). Mimamsa yang pertama mensistimasikan Karma- kanda, yaitu bagian Weda yang berhubungan dengan pelaksanaan dan pengorbanan, bagian ini juga terdiri Samhitas dan Brahmanas. Kemudian Mimamsa yang kedua mensistimasikan Jnana-kanda yaitu bagian-bagian dari Weda yang termasuk bagian Aranyaka yang masuk ke dalam kategori Brahmanas dan berbagai Upanishads. Resi Jaimini adalah pengarang Purwa Mimamsa dan Resi Wyasa guru Resi Jaimini adalah pengarang atau Sutrakara dari Brahma-sutras ini yang juga dikenal dengan nama Wedanta- Sutras. Penelitian Brahma-sutras adalah penelitian synthetik dari berbagai Upanishads yang adalah intisari dari filosofi Wedanta.
Berbagai Weda-Weda adalah karya-karya abadi, yang tidak ditulis atau dikarang oleh manusia, namun dipercayai sebagai nafas yang terhembus keluar dari Sang Hyang Brahma (Hiranyagarbha). Wedanta adalah akhir dari berbagai Weda, dan berhubungan dengan pengetahuan, dan bukanlah spekulasi semata. Wedanta adalah catatan autentik dari berbagai pengalaman mistik spiritual melalui persepsi langsung, maupun melalui realisasi aktual para resi yang agung. Brahma-sutras ini juga disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa.
Sutras adalah intisari dari berbagai argumen spiritual, dan sutras di karya ini telah disingkat ke dalam susunan kata-kata sesedikit mungkin. Hanya para resi agung yang berwawasan luas saja yang mampu untuk menciptakan sutras. Tanpa penjelasan, maka sutras-sutras ini sulit untuk difahami oleh kaum awam (Bhashya, bahasa). Interpretasi sutras telah menghasilkan berbagai faham atau sekte-sekte di jajaran Sanatana Dharma. Sebagian dari faham-faham ini disebut Writtis dan sebagian lagi disebut Karikas. Berbagai Acharyas (pendiri perguruan spiritual) memakai interprasi atau doktrin ajaran mereka secara masing- masing seperti Sri Shankara dengan faham Bhashya yang disebut

www.shantiwangi.com
Sariraka Bhashya dan perguruannya disebut Kewala Adwaita. Bhashyanya Sri Ramanuja menghasilkan perguruan Wisishtadwaita, ajarannya disebut Sri Bhashya. Kemudian ajaran-ajaran Sri Nimbakarcharya dikenal sebagai Wedanta parijata-saurabha. Sri Wallabhacharya mengajarkan filosofi Suddhadwaita (Monisme murni) dan ajaran-ajarannya yang berdasarkan Brahma-sutra ini dikenal sebagai Anu Bhashya.
Bahasa Sansekerta adalah bahasa kuna yang teramat elastis, ibaratnya Kalpataru. Setiap peneliti dapat mengintisarikan berbagai rasa, sesuai dengan daya spiritual dan budhi yang dimilikinya. Itulah sebabnya ajaran-ajaran resi masa lalu masih eksis pengaruhnya sampai kini. Madhwa menemukan ajaran Dwaita, pemuja Wishnu menemukan Bhagawata atau juga disebut Pancharatra; dan pemuja Shiwa (Pasupati, Maheswara) menginterpretasikan Brahma-sutras ini sesuai dengan intuisi dan tendensi spiritual mereka. Resi Nimbharkacharya menemukan ajaran Bheda-bheda-Dwaitadwaita dan beliau ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Resi Bhaskara, yang amat populer pada abad ke sembilan. Ajaran Resi Bhaskara dan Resi Nimbharka menjadi ajaran panutan pada masa tersebut khususnya sangat mempengaruhi Resi Audolomi. Badarayana sendiri banyak menyitir teori ajaran ini di Brahma-sutras.
Ada lebih dari empat belas komentar atas karya Brahma- sutras. Sri Appaya Dikshita misalnya berkomentar atas ajaran Sri Shankara Acharya. Kemudian juga hadir pendapat para guru-guru lainnya seperti Sri Wachaspati Misra dengan karyanya yang disebut Bhamati dan Sri Amalananda Saraswati melalui karyanya yang disebut Kalpataru.
Kesalahan manusia yang memahami diri (raga)nya berbeda dengan Sang Atman adalah akar penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang. Manusia menghubungkan dirinya dengan raganya sehari-hari, bukan dengan Atmannya, sehingga timbul berbagai pemahaman duniawi seperti : “Aku hebat, aku agung”, “Aku cantik dan rupawan”, “Aku jelek dan buruk rupa”, “Aku adalah Raja atau Aku adalah Brahmana”, dsb., dsb. Lalu hadir juga identifikasi dengan berbagai indriyasnya seperti : “Aku bodoh”, “Aku buta, aku tuli”, dsb. Kemudian terdapat juga identifikasi dengan pikiran-

www.shantiwangi.com
pikirannya seperti : “Aku cerdas, aku bodoh”, “Aku marah, aku sakit”, dsb. Objek atau tujuan dari Brahma-sutras ini adalah untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan identifikasi manusia ini dengan berbagai aspek-aspek raganya. Hal ini berhubungan dengan kesalahan atau kekurang-fahaman (kebodohan) dan disebut awidya.
Pada awalnya Upanishad yang beragam-ragam tersebut terkesan penuh dengan kontradiksi. Resi Wyasa meletakkan ke dalam satu sistim di dalam Brahma-sutras ini. Pada hakikatnya intisari seluruh Upanishad sama saja adanya. Resi Audolomi dan Resi Asmarathyapun melakukan hal yang sama dan muncul dengan perguruan-perguruan mereka.
Bagi yang ingin mempelajari filosofi Wedanta, maka diharuskan untuk mempelajari Upanishad Klasik dan Brahma- sutras. Semua Acharya telah menuliskan ulasan mereka akan Brahma-sutras ini. Lima Acharya agung adalah Sri Shankara Acharya dari perguruan Kewala Dwaita, Sri Ramanuja dari perguruan Wisishtadwaita, Sri Nimbarka dari perguruan Bhedabheda-wada, Sri Madhwa dari perguruan yang beraliran keras Dwaita-wada (Dwaitisina), dan Sri Wallabha dari perguruan Sudhadwaitta-wada. Kesemua Resi-resi agung ini setuju bahwasanya Brahman adalah penyebab hadirnya jagat-raya dan isinya ini, dan berbagai ajaran mengenai Brahman ini mengarahkan seseorang ke moksha. Merekapun kemudian mendeklarasikan bahwa Sang Brahman dapat dihayati melalui shastra-widhis dan bukan melalui berbagai diskusi. Namun kelima guru besar ini berbeda pendapatnya satu dengan yang lainnya akan sifat-sifat hakiki Sang Brahman, juga akan hubungan sang jiwa dengan-Nya. Tahap yang dicapai sang jiwa dalam perjalanannya ke arah Brahman dan status jagat-raya, dsb.
Menurut Sri Shankara Acharya, hanya ada satu Brahman yang hakiki yang bersifat Sat-chit-ananda dan homogeneous. Dunia ini adalah Maya, yaitu ilusi (daya ilusif) Sang Brahman yang tidak bersifat Sat maupun Asat. Dunia ini berupa hasil modifikasi Sang Maya (Wiwarta). Brahman hadir sebagai jagat-raya ini melalui ilusi Sang Maya. Beliau adalah satu-satunya Realitas yang Hakiki.

www.shantiwangi.com
Sedangkan menurut Sri Ramanuja, Brahman dengan berbagai atribut-atribut-Nya disebut Sawisesha. Beliau menyandang berbagai sifat-sifat. Beliau bukanlah intelegensia, namun intelegensia adalah sifat yang utama. Beliau ini berisikan seluruh jagat-raya dan isinya, yang bersifat nyata. Benda (Achit) dan jiwa (Chit) adalah raga-Nya, ia disebut Hyang Narayana yang adalah Penguasa Dalam (Antaryamin). Berbagai wujud-wujud benda dan jiwa adalah Prakara-prakara (mode-mode)-Nya. Para jiwa-jiwa tidak akan menyatu dengan Hyang Brahman. Menurut Resi Ramanuja, Sang Brahman bukan satu atau homogeneous. Pada saat pralaya, para jiwa akan berkontraksi. Mereka berekspansi lagi, sewaktu semesta diciptakan lagi (kembali). Brahmannya Sri Ramanuja ini disebut Sakara Brahman, yaitu Tuhan yang memiliki wujud. Para jiwa adalah individu-individu benar, dan akan tetap hadir sebagai manusia. Sang Maha Jiwa bersemayam di Waikuntha-loka sebagai Ishwara atau Hyang Narayana. Bhakti dan bukan Jnana adalah jalan moksha. Sri Ramanuja di dalam ajaran Bhashyanya berpedoman kepada Resi Boghayana.
Menurut Sri Nimbarkacharya, Brahman adalah wujud gaib dan non-gaib. Beliau adalah Nirguna (tidak berwujud) dan juga Saguna (berwujud). Semesta adalah wujud nyata dari Sang Brahman (Parinama). Sang guru ini yakin sekali bahwa Brahman itu ibarat susu dan semesta ini adalah yogurt yang terbuat dari susu tersebut. Menurut ajaran beliau, sang jiwa mampu mendapatkan moksha melalui sifat sejati sang jiwa itu sendiri. Berbagai jiwa di jagat-raya ini adalah bagian dari Sang Brahman, namun moksha tidak berarti penyatuan jiwa dengan Sang Atman (Brahman), namun merupakan tahap final emansipasi yang dicapai melalui bahkti. Seperti Ramanuja, maka sang resi ini yakin setiap jiwa ibaratnya adalah pengejawantahan dari Hyang Wishnu yang berlengan empat.
Mengapa terdapat sedemikian banyak opini dan kebhinekaan di Hindu Dharma ini ? Ini semua karena ajaran Sri Shankara yang agung itu menyatakan Tuhan sebagai Atman yang hakiki, dan hal tersebut tidak dapat difahami oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Sri Madhwa dan Sri Ramanuja mendirikan perguruan yang berbasis bhakti. Bagi kaum yang bijak, maka semua ajaran ini lebih

www.shantiwangi.com
merupakan anak-anak tangga, yang meniti kita sampai suatu saat kita benar-benar mampu memahami ajaran Sri Shankara yang disebut Kewaladwaita. Sri Shankara sangat anti dengan ritual-ritual yang konsumtif dan berkepanjangan, bagi beliau bhakti semacam ini sia-sia belaka, sebaliknya gyana atau pengetahuan akan Yang Maha Esa secara hakiki adalah lebih utama, namun begitu resi agung ini setuju dengan Nishkama Karma Yoga (Yoga tanpa pamrih). Ajaran Shankara dan Wyasa bersifat sangat identik. Para sishya perguruan ini harus mempelajari Sariraka Bhashyanya Sri Shankara Acharya karena filosofi Adwaita ini dianggap yang paling utama di antara ajaran dan tafsir-tafsir Hindhu Dharma.
Seseorang akan memahami Brahma-sutras ini dengan mudah seandainya ia telah mempelajari kedua belas Upanishad; dan anda dapat memahami bab dua karya ini seandainya anda telah memahami pengetahuan atau ajaran-ajaran seperti Sankhya, Nyaya, Yoga, Mimamsa, Waiseshika, Darsana dan Buddhisme. Seluruh ajaran tersebut telah mendasari keterangan Sri Shankara di karya ini. Dr. Thibault telah menterjemahkan karya ini ke Bahasa Inggris. Karya Brahma-sutras ini disebut sebagai salah satu karya Prasthanatraya, dan merupakan buku wajib bagi peneliti dan cendekiawan Hindu Dharma. Karya ini memuat 4 Adhyayas (bab) dan 16 Padas (Bagian), 223 Adhikaranas (Topik), dan 555 Sutras (aphorism).
Bab kesatu (Samanwyayadhyaya) menggambarkan penyatuan dengan Sang Brahman.
Bab kedua (Awirodhadhyaya) membicarakan berbagai filosofi- filosofi yang lainnya.
Bab ketiga (Sadhanadhyaya) berhubungan dengan upaya-upaya Sadhana demi mencapai Brahman dan,
Bab keempat (Phaladhyaya) membicarakan pahala atau hasil dari pencapaian Sang Jati Diri. Setiap Adhikarana mempunyai pertanyaan-pertanyaan tersendiri yang layak didiskusikan. Kelima Adhikarana dari Bab I, dianggap teramat penting untuk dipelajari.

www.shantiwangi.com
Puja-puji bagi Sri Wyasa Bhagawan, putra Resi Parasara, yang telah menulis berbagai Puranas dan memilah-milah berbagai Weda-Weda. Semoga karunia sang resi yang agung dan suci ini beserta kita semua
OM SHANTI, SHANTI, SHANTI.

Upanishads

Sang Hyang Brahman, sumber, pengayom dan akhir dari alam semesta ini, memenuhi segala aspek dari seluruh eksistensi ini. Beliau sadar di kala seseorang insan-manusia itu sadar, Beliau bermimpi dengan mereka- mereka yang bermimpi, dan Beliau tidur lelap di kala seseorang tertidur lelap tanpa mimpi; namun Beliaupun melampaui ketiga tahap ini untuk menemukan Jati Dirinya. Hakikat sebenarnya dari Sang Brahman ini disebut kesadaran murni.
Dengan ini dimulailah Aitareya Upanishad ini,
Semoga kata-kataku bersatu dengan jalan pikiranku, dan jalan pikiranku menyatu dengan kata- kataku. Wahai Dikau Sang Hyang Brahman yang bercahaya dari asalMu sendiri, sudilah menyingkirkan tirai kebodohan yang menghadang di depanku ini, agar dapat kusaksikan cahayaMu. Sudikah Dikau mengungkapkan intisari dari berbagai skripsi-skripsi suci. Semoga kebenaran di dalam skripsi- skripsi ini senantiasa hadir di dalam diriku. Semoga aku senantiasa menyadari hakikat yang telah kupelajari setiap pagi dan malam, dari kaum yang suci. Semoga aku selalu mengutarakan perihal yang benar mengenai Sang Hyang Brahman. Semoga aku selalu mengucapkan kata-kata yang benar. Semoga kebenaran melindungiku. Semoga kebenaran melindungi guruku.
Om shanti-shanti-shanti.
“Sebelum penciptaan, yang hadir hanyalah Sang Hyang Jati Diri, hanya Beliau sendiri. Tidak ada sesuatu apapun juga yang lain. Kemudian Beliau berpikir: “Sebaiknya Aku menciptakan alam-semesta (berbagai loka, dunia).”
“Kemudian, Beliau menciptakan alam-semesta ini
Ambhas…. yaitu dunia atau loka yang tertinggi, jauh di atas langit dan ditunjang oleh sang langit, kemudian Beliau menciptakan Marichi (langit), Mara (dunia ini, sang bumi) dan Apa yaitu dunia bawah tanah.”
Beliaupun berpikir: “Saksikanlah wahai berbagai loka, Aku kirimkan berbagai penjaga bagimu. Kemudian Beliaupun mengirimkan berbagai ragam penjaga ke dunia-dunia ini. Dan kemudian Beliaupun menciptakan beragam bahan makanan untuk mereka ini.”
Beliaupun berpikir: ” Bagaimana mungkin ada para penjaga tanpa Aku berpartisipasi dengan (di dalam) diri mereka ?”
Seandainya tanpa Aku, lalu kata-kata diucapkan, nafas ditarik dan dihembuskan, mata melihat, telinga mendengar, kulit merasai, Pikiran berfikir, alat-alat kelamin berfungsi lalu apakah Aku ini ?
Beliaupun berpikir: “Sebaiknya Aku memasuki para penjaga ini. Beliaupun kemudian membuka (membelah) pusat tengkorak kepala mereka dan memasuki rongga ini. Pintu masuk ini disebut sebagai pintu Karunia.
Keterangan : Pintu masuk ini dikenal oleh para yogin dengan nama Sahashara Cakra, terletak di pusat otak, di antara kedua hyphothalamus, dan merupakan cakra tertinggi dalam tahap meditasi dan kesadaran spiritual. Dikatakan seandainya seseorang mampu terserap ke titik ini di dalam meditasinya, maka insan tersebut akan mencapai hakikat Sang Brahman.
Sang Hyang Jati Diri ini tidak bisa dikenali, namun ada tiga tahap bagi sang jiwa untuk disadari yaitu masing-masing…. tahap kesadaran (alam-sadar), tahap mimpi (alam-mimpi), dan tahap tidur lelap
www.shantiwangi.com
tanpa mimpi. Di dalam ketiga tahap ini hadir Sang Jati Diri. Sewaktu kita berada di tahap kesadaran, maka mata merupakan tempat Beliau bersemayam, dan di kala bermimpi, maka sang pikiran. adalah tempat- Nya bersemayam. dan di kala tidur lelap tanpa mimpi, maka relung hati sanubari yang paiing dalam (berupa teratai) adalah tempat Beliau bersemayam.
Setelah memasuki para penjaga-penjaga ini, Beliaupun memperkenalkan Dirinya kepada mereka. Beliau berubah menjadi berbagai mahluk individual yang beraneka-ragam. Selanjutnya, seandainya seseorang tersadar dari ketiga tahap kehidupan ini, yaitu alam-sadar, alam mimpi, alam tidur lelap, maka yang terlihat adalah hanya Sang Hyang Brahman, yang bersifat Maha Hadir, dan insan ini akan menyatakan “Aku memahami Sang Brahman.”
Keterangan : Tahap memahami atau mengenal Sang Brahman ini disebut tahap Thuriya, di Mandukya Upanisahad. Tahap ini adalah tahap tertinggi penuh dengan Karunia dan CahayaNya, setelah seseorang mampu dituntun melalui ketiga tahap sebelumnya.
“Siapakah Sang Jati Diri ini yang kami ingin puja ini ? Seperti apakah sifat-sifatNya (ciri-ciriNya?). Apakah Beliau ini adalah sang jiwa, melalui apa kami bisa melihat bentuk, mendengarkan suara, mencium aroma, berkata-kata dan merasakan rasa manis ataupun rasa pahit ?.
Apakah hati dan sang pikiran ini, melalui sarana ini kami mampu menerima perintah, mampu berbeda pendapat, mengetahui, berfikir, mengingat, bertekad, merasakan, menghasratkan, bernafas, mengasihi dan melaksanakan berbagai hal dan benar-benar bekerja ?
Tidak, semua ini hanyalah unsur-unsur dari Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Biri yang merupakan kesadaran murni ini adalah Sang Brahman. Beliau adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Beliau juga adalah semua dewa, kelima unsur maha panca bhuta bumi, udara, api, air dan ether; setiap mahluk baik yang besar maupun kecil, baik yang terlahir dari jenis telur, dari kandungan, dari panas, dari bumi, dari berbagai hewan kuda, sapi, dan insan manusia, dari berbagai hewan jenis gajah, burung, dan setiap mahluk yang bernafas, yang berjalan dan tidak berjalan. Sang Brahman adalah Realitas dibalik semua unsur-unsur ini, dan Beliau adalah Kesadaran Sejati.
Semua ini, sewaktu masa kehidupan, dan setelah kematian, hadir di dalamNya.
Demikianlah, Vamadewa, seorang resi suci, setelah menyadari akan hakikat Sang Hyang Brahman sebagai kesadaran sejati dan murni, berpisah dengan kehidupan ini, beliau berangkat ke Swarga-loka dan mendapatkan berbagai keinginannya dan beliaupun mencapai tahap keabadian.
Om Shanti Shanti Shanti OM TAT SAT