Arsip Kategori: sastra

BRAHMA – GYANAWALI

BRAHMA – GYANAWALI

Oleh SRI SHANKARA ACHARYA

 

asango’ham  asango’ham  asango’ham  punah punah
saccidananda  rupo’ham  ahamewahamawyayah

 “Tak terikat, tak terikat  Aku ini, lagi dan lagi; Aku bersifat Pengetahuan dan Karunia Nan Abadi; Aku adalah satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak dapat dikurangi, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berahkir.”

Nitya suddha wimokto’ham  nirakaro’hamawayayah
Bhumanada swarupo’ham ahamewahamawyayah

 “Abadi, senantiasa murni, senantiasa bebas adalah Sang Aku, tak berwujud adalah wujud-Ku semata, Aku bersifat Maha Hadir, Ananda Karunia Ilahi dalam kesatuan yang tak ter hingga; Aku adalah satu-satunya; Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berakhir.”

nityo’ham  nirawdyo’ham  nirakaro’hamacyutah
paramanandarupo’ham  ahamewahamawyayah

 “Abadi, tak terhitung jumlahnya, tak berwujud tak terkurangkan adalah Aku, bersifat Karunia Ilahi adalah Aku; Satu-satunya adalah Aku.  Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan, unsur abadi yang tak pernah berakhir.”

Suddhacaitanyarupo’ham  atmarramo’hamewa ca
Akhandanandarupo’ham  ahamewahamawyayah

 “Aku bersifat cahaya murni dan Aku  menikmati di dalam (melalui) Jati Diriku sendiri; Aku adalah Ananda yang tak pernah terpecah-pecah; Aku adalah satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan,unsur yang tak pernah berakhir.”

praryakcaitanyarupo’ham  santo’ham  prakreth
parahsaswatanandarupo’ham  ahamewahamawyayah 

“Aku bersifat Cahaya Abadi Intelegensia yang paling dalam; Aku Adalah kedamaian yang berada jauh di atas Semesta;  Aku bersifat Ananda yang hadir senantiasa;  Aku adalah Yang Satu. Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak ter binasakan, dan unsur abadi yang tak pernah berakhir.”

tattwatitah  paratma’ham  madya titah parah sivah
mayatitah paramjyotirahamewahamawyayah

Aku adalah kebenaran Yang Maha Agung  yang berada jauh diatas kebenaran. Aku Adalah Yang Maha Agung dan Mulia. Siwa yang selalu berseberangan dengan sang Maya (delusi); Aku  adalah Cahaya Yang Maha Agung dan Mulia, Aku adalah satu-satunya yang hadir. Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berakhir.”

nanarupawtito’ham  cidakaro’hamacyutah
swaprakasaikarupo’ham  ahamewahamwyayah

“Aku  beda dengan berbagai nama dan rupa (wujud-wujud) : Pengetahuan Murni adalah satu-satunya Wujud-Ku; Aku adalah Yang tidak terbinasakan; Aku bersifat Kebahagiaan : Aku adalah Satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak yang tak dapat dikurangi, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berakhir.”

mayatatkaryadehadi mama nasyewa sarwada
swa prakasaikaropo’ham  ahamewahamawyayah

“Tidak pernah, Aku tak pernah berdelusi ataupun berwujud raga delusi dan mimpi; Aku Adalah Yang Bercahaya dari Diri Ku Sendiri: Aku adalah Satu-satunya.  Itu adalah Aku, yang tak dapat dikurangi, abadi tak terbinasakan unsur yang tak pernah berakhir.”

Gunatrayawyatito’ ham brahmadinam ca sakyaham
anantanandarupo’ham Ahamewhamawyayah

“Aku hadir tanpa ketiga guna (satwa, raja dan tamas); Aku adalah Saksi dari Sang Pencipta (Brahma) dan Trimurti (Brahma -Wisnu – Siwa); Aku adalah Ananda Wujud yang tanpa memiliki akhir : Itu adalah Aku, yang tidak berkurang, abadi tak pernah terbinasakan dan unsur yang tak pernah berakhir.”

antaryamiswarupo’ham  kutastha sarwago’smyaham
paramatmaswarupo’ham  ahamewahamawyayah

Aku adalah Sang Penguasa Dalam, ibarat tempat menempa besi,tidak berubah-ubah,Maha Hadir; dalam bentuk – Ku yang Sejati, Aku adalah Yang Maha Agung dan Yang Maha Mulia; Aku adalah yang Satu. Itu adalah Aku, Yang tidak berkurang, abadi tidak terbinasakan dan unsur yang tidak pernah berakhir.”

dwandwadi saksirupo’ham  acalo’ham sanatanah
sarwasaksiswarupo’ham ahamewahamawyayah

“Aku bersifat (hadir sebagai) Saksi dari semua bentuk dwandas (negatif-positif, Im-Yang, pagi-malam dst.); tidak bergerak, termat kuna adalah WujudKu; Aku adalah Saksi abadi dari setiap benda dan perihal; Aku adalah Yang Satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tidak dapat berkurang,abadi tidak terbinasakan, dan unsur yang tidak pernah berakhir.”

pragnayakghana  ewaham wigyanaghana ewa ca
akartaham abhoktaham ahamewahamawyayah

‘Aku adalah Kesatuan dari Kesadaran; Akupun adalah Kesatuan dari Pengetahuan; Aku senantiasa bukanlah sang pelaku; Aku bukanlah sang penikmat; Aku adalah Yang Satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tidak dapat di kurangi, abadi tak terbinasakan dan unsur abadi yang tak pernah berakhir.”

niradharaswarupo’ham  sarwadharo’hamewa ca
awasthatrayasaksyasmi cahamewahamawyayah

“Dalam sifatKu Yang Sejati, Aku tidak memerlukan dasar, penunjang maupun sarana dari semua benda dan makluk, bagi semua nama dan rupa; sifatKu serba mandiri, serba berkecukupan, Aku adalah Yang Satu-satunya, yang tdak berkurang, abadi tak terbinasakan dan unsur yang tak pernah berakhir.”

tapatrayawinirmukto dehatrayawilaksanah
awasthattrayaskyasmi cahamewahamawyayah

Aku hadir jauh dari ketiga duka : yang bersifat subyektif, fenomenal, dan kosmis; Aku berbeda dari ketiga raga (raga kasar, raga halus dan raga kasual); Aku adalah Sang Saksi dari ketiga tahap (tahap sadar, tahap mimpi dan tahap tertidur lelap): Aku adalah Satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak dapat dikurangi, abadi dan tidak terbinasakan, unsur yang tak pernah berakhir.”

drgdrsyau  dwau padarthaustah parasparawilaksanau
dr gbrahma drsyam mayeti sarwa wedanta dindimah

“Hanya ada dua hal di alam semesta ini yaitu subyek dan obyek (yang menikmati dan yang dinikmati, yang mengalami dan yang dialami, atau yang menyaksikan dan yang disaksikan), mereka ini saling bertentangan bahkan satu satu dengan yang lainnya. Diantara mereka ini, sang subyek (sang penikmat, yang mengalami dan yang menyaksikan) adalah Kebenaran Yang Maha Agung, dan sang obyek (yang dinikmati, yang dialami, dan yang disaksikan) adalah delusi semata, demikian sabda Wedanta.

aham saksiti yo widyad  wiwicayaiwam punah punah
sa ewa muktah sa widwan iti wedanta dindamah

“Melalui pengetahuan dan kesadaran, maka seseorang akan menyadari bahwa ia adalah  “Sang Saksi”. Insan semacam ini telah mapan di dalam kesatuan “Aku-adalah-Saksi-dan-Kesadaran”, Ia telah berubah bijak dan bebas, demikian sabda Wedanta”.

ghatakudyadikam sarwam mrttikamatrawewa ca
tadwad brahma jagatsarwam iti wedanta dindimah

“Berbagai bejana, piring dan mangkuk dsb. Sebenar-benarnya adalah tanah liat yang di bentuk; demikian pula semesta yang penuh dengan obyek-obyek fenomenal ini, adalah tidak lain dan tidak bukanKebenaran Yang Maha Agung dan Maha Mulia, demikian sabda Wedanta.”

brahmasatyam jaganmithya jiwo brahmaiwa naparah
anena wedyam sacchastramiti wedanta dindimah

“Brahma adalah Kebenaran,dunia yang berisikan berbagai  benda dan makluk ini adalah kepalsuan, unsur egosenttris yang membeda-bedakan ini (yaitu sang jiwa), pada intinya adalah Sang Brahman itu sendiri. Ilmu yang memahami Kebenaran ini adalah ilmu yang paling sejati, Ilmu dari segala ilmu, demikian sabda Wedanta.”

antarjyotih bahirjyotih prakyatjyothi parat parah
jyotirjyotih swayam jyotih atma jyotih siwo’smyaham

“Aku adalah adalah cahaya yang bersinar di dalam, Aku adalah cahaya yang bersinar di luar, di kedalaman yang paling dalam dari Diriku, Aku adalah cahaya yang hadir di luar  Keabadian . . . jauh di luar!  (Aku adalah) cahaya dari semua cahaya, cahaya yang bersinar dari Diriku sendiri . . Siwa adalah Aku . . . Kesucian adalah Aku (tak ternoda oleh batas – batas duka) . . . Aku adalah Itu . . Aku adalah Itu!!!

 OM SHANTI  SHANTI  SHANTI

OM TAT SAT.

Disarikan ke dalam Bahasa Indonesia yang sederhana oleh mohan.m.s  (Cisarua, Juli 2003)

Ashtavakra Gita

BAB I
SANG JATI DIRI SEBAGAI SAKSI DI DALAM SEMUANYA

Janaka berucap :

  1. Ajarilah  daku, wahai Presha (Guru Utama), bagaimana caranya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan?  Bagaimana (darimana) datangnya kebebasan (spiritual, dari duniawi ini)?, bagaimana mencapai pemasrahan itu?

Ashtavakra berucap :

  1. Seandainya dikau mendambakan kebebasan, anakku, maka tolaklah kehadiran obyek-obyek indra-indramu dan anggaplah obyek-obyek ini racun, dan mohonlah akan pengampunan, keterus-terangan, kebajikan, keriangan dan kebenaran ibarat nektar (air suci kehidupan yang setelah diteguk akan mengabadikan seseorang).
  2. Dikau ini bukanlah bumi, bukan juga dikau ini Agni, bukan juga Akasa (angkasa), bukan Tirta (air) dan juga bukan Bayu (udara, angin).  Untuk mencapai kebebasan kenalilah Sang Jati Diri sebagai “saksi dari semua ini” …… yang merupakan manifestasi dari Kesadaran Yang  Murni dan Hakiki itu sendiri.
  3. Seandainya dikau menanggalkan dirimu dari raga dan bersemayam (menghadirkan diri) di Kesadaran, dikau akan segera berubah bahagia, damai dan lepas dari keterikatan.
  4. Dikau bukan tergolong dalam kasta Brahmana maupun kasta-kasta lainnya.  Dikau juga tidak tergolong di (Asrama) bentuk-bentuk kehidupan lainnya.  Dikau tak dapat dipengaruhi oleh indra-indra.  Tak melekat, tak berbentuk, dan “saksi dari semuanya” adalah dikau itu sendiri. Barbahagialah.
  5. Kebajikan dan kebatilan, kebahagiaan dan kedukaan adalah atribut-atribut dari sang pikiran, bukan darimu, wahai Yang Maha Hadir di dalam semuanya! Dikau bukanlah “yang melaksanakan” dan juga bukan “yang menikmatinya”.  Sebenarnya, dikau senantiasa bebas merdeka.
  6. Dikau adalah  Yang Maha Bijaksana dan Yang Maha Sadar di dalam semuanya, dan secara amat pasti dikau adalah bebas, sebebas-bebasnya.  Sebenarnya keterikatanmu lebih dikarenakan dikau tidak melihat Dirimu Yang Hakiki, tetapi melihatnya sebagai sesuatu yang lain.
  7. Dikau, yang telah dipagut oleh ular hitam yang besar yang berbentuk rasa egoisme “Akulah  sang Pelaksana”; Tegiklah iman ini :”Aku bukanlah sang pelaksana”, iman ini ibarat nektar, teguk dan berbahagialah.
  8. Setelah membakar habis hutan kebodohan dengan api keyakinan, “Aku adalah Tunggal”, Kesadaran Yang Hakiki dan setelah menanggalkan semua bentuk kekhawatiran,  berbahagialah.
  9. Dikau adalah kesadaran itu, Kebahagiaan Yang Berasal DariNya ——- Kebahagiaan Yang Teramat Agung —- seluruh alam semesta ini terlihat tertunjang olehNya, ibarat ular di dalam ilusi seutas tali.  Hidup berbahagialah sesuai dengan Kesadaran Hakiki ini.  (Di dalam kegelapan, seutas tali di jalan bisa terlihat/terkesan sebagai seekor ular, begitu juga ilusi duniawi).
  10. Barangsiapa merasa dirinya  bebas, ia akan benar-benar bebas, dan barangsiapa merasa dirinya masih terikat, maka ia akan selamanya  terikat. “Seperti yang dipikirkannya, begitu juga ia merubah dirinya”’ demikianlah kata-kata mutiara di dunia ini, yang sebenar-benarnya adalah benar.
  11. Sang Jati Diri adalah Sang Saksi, Hadir di kesemuanya, Sempurna, non-dual, Bebas, Kesadaran, Tak Melakukan  Tindakan, Tidak Terikat, Tidak berkeinginan, Hening. Melalui ilusi Beliau terlihat seakan-akan terserap ke dalam dunia ini.
  12. Setelah melepaskan semua fluktuasi-fluktuasi  eksternal dan internal, dan ilusi :”Aku adalah ego Diriku Yang terefleksi”’ bermeditasilah ke dalam dirimu, yang merupakan Kesadaran Yang  Tak tergoyahkan dan tak bercabang dua.
  13. Wahai putraku yang kusayangi, dikau telah lama terjerat oleh tali kesadaran ragamu. Tebaslah secara tuntas dengan pedang ilmu-pengetahuan :”Aku adalah Kesadaran”’ dan berbahagialah.
  14. Dikau adalah Tak Terikat, Tak Melakukan Segala Tindakan, Bercahaya di dalam Diri Sendiri, Tanpa setitik Noda. Dikau senantiasa bersemadi; ini sebenarnya adalah keterikatanmu.
  15. Dikau menunjang alam-semesta dan alam-semesta ini teranyam semata-mata di dalam diriMu.  Sebenarnya, secara alami, Dikau adalah kesadaran  Murni.  Jangan mengarah ke jalan yang salah.
  16. Dikau tak bersyarat, tak berganti-ganti, padat, penuh dengan intelegensia, hening dan tak terusik oleh apapun juga.  Berhasratlah akan kesadaran semata-mata.
  17. Fahamilah, bahwa sesuatu yang berbentuk adalah palsu dan yang atk berbentuk dan tak berganti-ganti (berubah-ubah).  Melalui petunjuk spiritual ini, dikau akan terbebaskan dari kemungkinan kelahiran kembali.
  18. Ibarat cermin yang menghadirkan refleksi di dalam dan di luarnya, demikian juga Sang Jati Diri Yang Maha Kuasa hadir di dalam maupun di luar raga ini.
  19. Ibarat ruang spasi (kekosongan) yang hadir di dalam dan di luar tempayan, demikan juga Yang Maha Tak Dapat Digerakkan dan Brahman Yang Maha Hadir dimanapun juga, berada di dalam semua makhluk dan benda-benda.selengkapnya silahkan baca di ebooknya

Shanti Sutra

Prakata

 Meditasi yang berkesinambungan di dalam keheningan alam ternyata mampu mendatangkan inspirasi seni dan spiritual secara berkesinambungan. Juga, semua itu tentu saja sesuai dengan intuisi paling dalam dari yang bermeditasi. Di bawah ini hasil-hasil renungan dalam meditasi kami tuangkan dalam bentuk wacana-wacana spiritual agar dapat juga diresapi oleh yang berminat. Sebagian besar dari bisikan-bisikan ini telah beredar melalui sms dari Shanti Griya Ganesha Pooja ke para teman-teman, sahabat-sahabat dan mereka-mereka yang merasa adalah bagian dari Shanti Griya G.P. Bisikan-bisikan ini telah puluhan tahun merasuki diri dan menuntun penulis ke status-nya pada saat ini. Hampir semua wacana-wacana ini bersifat universal, walaupun tentu saja ada yang bersumber pada kaidah-kaidah Dharma yang dianut oleh penulis.

 

“Kadang-kadang kata-kata ini mengalir begitu saja di/waktu mandi, berenang, olah raga, bermeditasi, membaca buku, bahkan terinspirasi dari kata-kata para sahabat. Mudah-mudahan semua ini dapat menjadi pedoman spiritual kita dan dapat dibagi-bagikan kepada yang memerlukannya. Om Shanti Shanti Shanti Om.

Sabda-sabda Guru Jati Diri  yang hadir dalam pemikiran dan meditasi kami :

 

“ Bangunlah dengan Dharma,
bernafaslah dengan dharma,
bekerjalah dengan dharma,
agar Sang Dharma jadi rekan hidupmu sehari-hari”

“Orang yang paling kaya di dunia ini adalah yang mampu memberikan dan mengorbankan apa saja bagi sesama mahluk dan manusia, walaupun itu seminimal mungkin.

Orang yang paling miskin di dunia ini adalah yang selalu meminta-minta kepada yang lain-lain dan ke Tuhan walaupun sebenarnya sudah berlimpah dan bergelimangan harta”.

“Konon di suatu masa zat Yang Maha Agung itu berkenan mereproduksi Dirinya  menjadi Jagat Raya dan segala isinya. Sayang banyak manusya tidak sadar bahwasanya mereka adalah bagian-bagianNya juga”.

“Setiap orang mendambakan rasa keadilan, buah keadilan harus dicapai dengan belajar menghargai diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita”.

“ Kalau anda menginginkan kesuksesan, maka ciptakan dan rintislah jalan ke arah kesuksesan tersebut. Kesuksesan tidak datang melalui mimpi-mimpi yang indah.

“Agar tetap ceria dan bersemangat menjalani kehidupan yang rumit dan misterius ini, maka anda perlu sering-sering beristirahat, merenung, berekreasi, bermeditasi dan membagi-bagi kasih sayang kepada semuanya di sekitar anda”.

“Tidak penting asal-usul anda yang penting apa dan siapa anda pada saat ini”

“Sahabat-sahabat yang baik, aktivitas yang baik, dan doa-doa yang baik merubah seseorang menjadi pemimpin-pemimpin yang baik di kawasannya.

“Bagi yang optimis setiap rintangan pasti ada jalan keluarnya, bagi yamg pesimis semua jalan keluar penuh dengan rintangan”.

“Hanya orang-orang yang telah tercerahkan saja yang faham akan permainan sang pikiran dan dampak-dampaknya di segala aspek”.

“Harta benda yang paling mulia yang dimiliki seseorang adalah harta dalam bentuk kesadaran demi kebenaran”.

“Seluruh ciptaan berasal dari Anugrah, Sang Anugrah menunjang semesta jagat raya ini.”

“Kita mengerti akan kehadiran kita dimana-mana, namun kita selalu tidak pernah faham mengapa kita hadir dimana-mana”.

“Pendidikan yang beradab diperlukan pada zaman ini, Peradaban yan mendidik menjadi dambaan masa kini dan masa depan seluruh anak-anak bangsa-bangsa di dunia ini”.

“Diperlukan dua tangan untuk mengangkat sesuatu yang berat, diperlukan dua sayap kuat untuk terbang, diperlukan dua sumpit untuk bersantap, demikian juga dibutuhkan dua hati yang saling menyayang dan saling bekerja sama ‘tuk hasilkan kasih sayang yang sejati”.

“Kadang-kadang kita harus tersesat dulu di jalan yang salah, dan akhirnya menemukan bahwasanya kebenaran ternyata tersembunyi di sana”.

“Cobalah beriman kepadaNya dengan santai, jauhilah formalitas rutin yang mahal dan ekslusif, maka akan hadir nilai-nilai spiritual pribadi pembuka akal budi dan gairah hidup yang kreatif, indah, positif dan dharmais”.

“Kebodohan (awidya) dimulai sewaktu seseorang tidak mau memahami makna kehidupan itu sendiri”.

“Barang siapa menabur benih-benih kebahagiaan di halaman rumahnya, maka ia akan menghasilkan hutan kesentosaan di sekitarnya”.

“Wahai para dewata dan Yang Maha Esa, berikan aku jasmani yang sehat,agar pada akhir hayatku, kedua mataku dapat diberikan kepada anak-anak  yang memerlukannya, agar mereka dapat menyaksikan indahnya cahaya Sang Surya. Berikan organ-organ tubuhku kepada  pemuda-pemuda yang memerlukan agar mereka dapat melanjutkan hidup mereka. Semoga dikau kabulkan doa orang yang bodoh ini. Om Tat Sat”.

“Wahai Tuhan Yang Pengasih jangan berikan aku pelita seandainya aku masih berjalan ibarat seorang yang buta mata hatinya,jangan biarkan aku memujaMu jika Dikau tidak hadir di dalam diriku setiap saat”.

“Konon katanya kematian itu adalah wahana dan sarana bagi kita untuk beristirahat sejenak dari suka duka ini. Tetapi aduh Gusti, mengapa malahan banyak yang menghindari rehat yang satu ini”.

“Banyak yang mencari-cari hakekat akan hadirnya semesta dan kehidupan ini, tetapi penjabaran akan hal ini tetap tertutup oleh kabut misteriNya”.

“Dengan mencintai bumi dan segala ciptaan-ciptaan maka kita akan bersahabat dengan Sang Pencipta. Cintailah semua itu seperti engkau mencintai dan menghormati dirimu, maka Sang Pencipta akan menjadi Kekasih dan Pelindungmu”.

“Budi daya dan jalan pikiran manusya telah mampu menciptakan berbagai hasil enovasi tehnologi yang menakjubkan (devaik), tetapi pada saat yang sama manusya juga telah menciptakan kehancuran di muka bumi ini, karena tidak sesuai dengan hukum- hukum alami (asurik)”.

“Seandainya sebuah senyuman dapat mengangkat sebuah beban, maka seribu senyuman seyogyanya dapat mengangkat sebuah gunung”.

“Satu kali senyum curiga hilang, dua kali senyum jadi sahabat, tiga kali senyum hati penuh damai, empat kali senyum beban jadi ringan, lima kali senyum rezeki datang, enam kali senyum semua jadi senang, setiap saat senyum Tuhanpun berbahagia dan berkenan”.

“Seandainya kasih tanpa pamrih ke sesama adalah sebuah bentuk ahimsa, maka ekspresinya adalah bakti kepada semua yang membutuhkannya. Seorang manusya melalui sentuhan ahimsa ini dapat mencapai status Resi Wyasa, Buddha, Mahavira, Kristus, Kwan Im, Krisna, dst.

“Tidak ada itu agama-agama dan kepercayaan lain kalau hanya hadir satu Tuhan YME. Tidak ada itu sorga, neraka atau akhirat (pralaya), kalau semua itu dapat kita rasakan di dunia ini”.

“Kita dan segala ciptaan-ciptaanNya di semesta yang maha luas ini adalah suatu Kesatuan yang manunggal dan terjalin rapi satu dengan yang lain secara berkesinambungan ke Sang Pencipta. Tidak ada hal lain selain kebenaran itu”.

“Siapa dahulu? Tuhan atau manusya? Menurut sastra-sastra widhi yang disucikan, maka Tuhan hadir pada mulanya, namun tanpa manusya maka unghapan-ungkapan akan Tuhan tidak akan pernah ada”.

“Sebenarnya setiap manusya seberapapun miskinnya mampu memberi. Barangsiapa hanya dapat menerima tanpa membagi-bagikannya kepada sesama mahluk dan manusya-manusya lain, disebut sebagai pencuri”.

“Tuhan memberikan empat keranjang dan memintaku untuk memilih salah satu. Setiap keranjang masing-masing berisikan emas, permata, US Dollar, dan senyuman-senyuman. Aku berlagak bijaksana dan mengambil seperempat dari setiap keranjang dan Tuhanpun tersenyum aneh _ aku langsung berubah pikiran dan hanya mengambil keranjang penuh senyuman. Tuhanpun tersenyum, tersenyum dan tersenyum indah menawan”.

“Sishya     : Manusia agung itu ciri-cirinya seperti  apa?
Guru         : Seperti seorang ibu.
Sishya       : Lalu bagaimana dengan para resi
nabi-nabi, para mahatma, dst?
Guru          :Mereka juga dilahirkan dan dibesar
oleh seorang ibu, jadi ibu tetaplah
yang teragung di antara jajaran
manusya dan dewata. Mantram pertama
diturunkan oleh ibu jagat raya dan
disebut Maha Gayatri Mantram
“Itulah ibu semua mantram di dunia ini,
itulah awal mula kehidupan di dunia
ini, bukan para resi dan nabi”.

“Kehidupan ini kehilangan gairahnya sewaktu seseorang kehilangan imannya, sadarilah akan potensi dashyat yang hadir di dalam dirimu, galilah melalui keheninganmu, karena Ia hadir di kedalaman nuranimu yang paling dalam (guhayam).

“Sewaktu aku merasa memiliki sesuatu, ternyata aku tak memiliki apapun juga. Sewaktu aku merasa tidak memiliki apapun juga, maka semua menjadi milikku”.

“Manusya berperang demi tanah dari masa ke masa, jual beli tanah, memperebutkan tanah, namun selamanya tidak akan mampu menciptakan tanah, malahan akhirnya akan kembali ke pangkuan tanah”.

“Kadang-kadang persahabatan yang tulus terjalin dari jarak jauh, namun sering sekali permusuhan malah hadir di jarak yang amat dekat, bahkan dalam selimut kita sendiri”.

“Ya Tuhan , terima kasih untuk segala caci-maki, fitnah-fitnah dan derita yang di arahkan kepada diri ini. Seandainya Dikau hadir pada setiap jiwa, maka semua ini pastilah teguran-teguran dariMu semata dan aku bersyukur pada setiap kehendakMu”.

“Kadang- kadang kita harus bersikap cerdik seperti Krisna, ksatriya seperti Arjuna, Ahimsa seperti Budha, penuh pengorbanan seperti Kristus, penyayang seperti Theresia, pejuang seperti Gandhi, dan rendah hati seperti seekor kura-kura”.

“Ada saat-saat tertentu sebuah depresi spiritual yang dashyat akan melanda mereka-mereka yang sedang berjuang di jalan Dharma; Arjuna, Buddha, Yesus, Theresia, Vaswani, Vivekananda, juga telah mengalaminya. Juga kita akan mengalami semua itu!”.

“Seorang yang memiliki nuansa dharma yang sejati, tidak akan terpengaruh oleh agama-agama buatan manusia, ia akan bersikap universal dan sama rata kepada semua mahluk dan ajaran-ajaran di dunia ini. Baginya segala ritual dan dogma-dogma dalam setiap agama adalah bentuk-bentuk pemalsuan dan demi tujuan-tujuan tertentu saja, Dharma tidak dapat dijabarkan melalui kebodohan-kebodohan tersebut karena Ia adalah Kebenaran yang tidak memerlukan bukti-bukti apapun juga”.

“Sewaktu anda terlepas dari segala ikatan maka lalu Tuhan mengikatkan Dirinya kepada dirimu”.

“Tiada kelahiran maupun kematian. Keduanya itu ibarat pagi dan malam, senantiasa berdampingan, dan rehat di kala subuh dan senja, kemudian berulang-ulang lagi untuk menunaikan tugas-tugas yang belum terselesaikan”.

“Pengalaman dan sejarah Ketuhanan sangatlah kompleks dan beraneka ragam pada setiap kebudayaan manusia, semua itu menunjukkan Ketuhanan itu bersifat multi aspek yang kemudian lalu membentuk suatu kesatuan yang bersifat Kebinekaan universal”.

“Tanpa upaya-upaya manusya, maka alam tidak akan bereaksi. Tanpa kehendak alam maka manusya tidak akan mendapatkan anugrahNya.

“Tanpa doa-doa dan bakti-bakti kebajikanmu, alam tetap saja berfungsi. Namun tanpa alam engkau tidak akan pernah eksis bahkan tidak akan mampu berfungsi. Jadikanlah alam sebagai pedoman, guru, ayah-bunda, dan Tuhanmu, wahai manusya”.

“Ketika kemanusiaan bersinergi dengan alam sekitarnya, maka bumi dan seisinyapun mekar merekah. Jika kemanusyaan itu melentur, maka rakyatnya sengsara karena alam bereaksi dan panen-panenpun gagal, sumur-sumur kering kerontang, bumi luka parah; Kemanusyaan itu seharusnya selaras dengan kaidah-kaidah alam yang teramat Ilahi (Bhagawatam)”.

Barangsiapa berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri disebut egois (iblis), barangsiapa memperhatikan juga keluarga, tetangga, mahluk-mahluk lain, fauna flora dan alam sekitarnya disebut berprilaku deva, ibarat Pertiwi dan Tuhan itu sendiri yang senantiasa membagi kasih-kasihnya kepada semua tanpa batas-batas dan perbedaan-perbedaan”.

“Setiap hari adalah hari untuk introspeksi diri. Hari untuk menganalisis baik buruk dampak perbuatan kita sehari-hari pada diri kita dan semuanya di sekeliling kita. Hal ini disebut memiliki budaya kesadaran”.

“Ada seorang pria yang teramat alim dan hidup sebagai seorang selibat (tidak pernah kawin, brahmacarya). Ia berdoa ke Tuhan pada akhir hayatnya agar pada kehidupan selanjutnya ia selalu di anugrahi selangkangan wanita. Tuhan Yang Pengasih dan Maha Mendengarkan lalu mengabulkannya. Pria tersebut selalu lahir kembali jadi softex dari waktu ke waktu”.

“Softex (atau pembalut wanita) adalah penjelmaan Dewa Pembersih Wanita yang bersifat tanpa pamrih dan selalu tewas berdarah-darah, lalu dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, padahal awalnya ia amat dibutuhkan para wanita. Namun softex senantiasa mati bahagia tanpa menuntut apapun juga. Apakah anda dan saya dapat berkorban seperti softex ini?”.

“Tuhannya Israel disebut “Aku adalah aku”. Ribuan tahun sebelumnya weda-weda menyatakan: Aham Braham Asmi (Aku adalah Tuhan). Sufi-sufi Islam berwacana secara tulus; Ana-ul-Haq (Aku adalah Hakikat). Yesus bahkan menunjuk dadanya dan bersabda: “Kerajaan Tuhan itu hadir di dalam dirimu”, Upanishad menyebutnya Guhayam (nurani yang paling dalam)”.

“Lawan dari miskin bukan kaya, tetapi ego yang tidak terkendali. Penggallah ego ini dan dikau akan jatuh miskin. Miskin berarti sederhana. Dan kesederhanaan pikiran dan prilaku adalah anak tangga pertama ke arah anak-anak tangga spiritual yang tertinggi (Dharma).

“Seseorang yang sehari-hari berprilaku baik juga dapat terjerumus ke lubang keburukan seandainya ia terliput oleh awidya (kebodohan), dan awidya ini selalu hadir dalam keserakahan, ego, benci, dendam, kekecewaan dan kurangnya pengendalian pikiran-pikiran yang seharusnya seimbang”.

“Tahukah anda api obor pesta olah raga berasal dari pemujaan Zarathusthra (Zoroaster) ke Agni. Agni hadir sebagai dewa utama di Rig weda. Ternyata para ahli mengkonfirmasi bahwasanya Hindu Dharma telah berdampak pada agama Yunani. Bukan saja sebagian dewa-dewi Yunani identik dengan dewa dewi Hindu. Tetapi upacara Agni-hotrapun telah diadopsi menjadi obor perdamaian. Obor api ini melambangkan peleburan ego dan kemenangan para pahlawan-pahlawan Yunani di masa lalu. Di Hindu Dharma Agni-Hotra bersifat pengorbanan diri ini, dan mantra utamanya adalah Swaha (dengan ini aku korbankan diriku kepadaMu). Dan seluruh dunia larut merayakannya tanpa batas agama dan ras. Ini menunjukkan hadirnya Dharma dalam Agni (pencerahan, penerangan universal).”

“Seorang pahlawan juga harus mati pada akhirnya, apakah itu secara alami maupun ditengah-tengah atau di akhir perjuangannya. Seorang pahlawan kebenaran itu telah “dikawinkan” dengan Sang Maut, yang kemudian mengantarkannya ke strata spiritual berikutnya yang mungkin disebut moksha”.

“Ilmu air mengatakan, “mengalirlah dalam kehidupan ini seperti air”. Banyak orang lalu “berperahu” dan mengikuti arus, tetapi sebagian mungkin lupa bahwasanya perahu itu dapat saja bocor, terbalik, rusak dan terdampar entah sampai kemana. Namun air itu sendiri setelah berkelana ke sana-sini menjadi kotor, lalu akan tetap ke samudra diasini laut dan kemudian menguap menjadi murni kembali seperti semula”.

“Sewaktu melakukan hubungan seks, maka pasangan akan menyatu dalam kesatuan klimaks yang disebut orgasme. Demikian juga sewaktu jiwa-raga dan Atman bersatu, maka hadirlah klimaks yang disebut Ananda (keheningan Bhagawatam), disitu tidak ada pria-wanita, jiwa atau raga, yang hadir adalah sebentuk kasih Bhagawatam (Prema) yang universal bagi sesama, Kasih ini sulit dijabarkan dengan kata-kata biasa”.

“Sewaktu seorang teroris dihukum mati, maka sebagian dari kita beryukur. Tapi kita lupa sudah beberapa kali kita sendiri menteror dan menyakiti sesama mahluk dan manusya sehari-harinya. Sudah beberapa binatang kita bantai dan santap baik atas nama agama maupun demi keperluan perut kita. Lalu nanti balasannya akan datang dalam bentuk apa? Yang pasti sewaktu jasad dikubur maka pertama-tama jasad tersebut akan disantap oleh cacing-cacing, bakteri dan lain sebagainya. Hukum karma langsung bereaksi, seterusnya hanya Dia Yang Maha Tahu”.

“Seseorang tidak akan bisa berpikir dan berprilaku yang benar secara spiritual jika ia “mengubur kepalanya  di dalam pasir “Ibarat burung onta, dan menolak menghadapi kebenaran, betapapun  menyakitkan dan mengerikan kebenaran tersebut”.

 

 

KAMA SUTRA

KAMA SUTRA BAGIAN SATU (EROTOLOGI SANSKERTA DAN PENDIDIKAN KEHIDUPAN YANG SELARAS)
Perbendaharaan shastra erotologi Sanskerta sangat kaya. Berbagai shastra mengenai sensualitas, seni bercinta dan erotologi adalah karya- karya para maha resi yang bersifat dharma demi langgengnya kehidupan berumah-tangga yang harmonis di satu pihak, dan demi berlangsungnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Kesemua shastra ini kemudian diatur dalam suatu kesatuan yang bernama Kama-Sutra, yang bukan saja berisikan metode-metode bersanggama secara lengkap, namun juga upacara pernikahan, pendidikan prenatal, pendidikan berumah-tangga, homoseksualitas, transeksualitas, kehidupan beragama dan berdharma, dsb. Kesemuanya diatur oleh para resi dari zaman ke zaman, diantaranya yang paling terkenal adalah Resi Vatsyawana (nama aslinya mungkin Malinga atau Mrilina). Disamping Kama Sutra masih ada enam shastra erotis lainnya seperti :
1. Ratirahasya (Rahasia bercinta)
2. Panchasahya (Lima anak panah)
3. Smara Pradipa (Sinar Cinta)
4. Ratimajari (Kalungan cinta)
5. Rasmajari (Tembakan cinta)
6. Anunga Runga (Tahap Cinta), juga disebut Kamaladhiplawa (Perahu di samudra) C

TIGA BENTUK KEPERLUAN AKAN KEBAHAGIAAN DI DUNIA INI

Ketiga bentuk keperluan manusia ini disebut : Kebajikan – harta benda dan kekayaan – kenikmatan (Dharma – Artha – Kama). Pada kesempatan kali ini kami ingin menjabarkan Kama sebagai pedoman kehidupan yang sehat bagi keluarga yang ingin menikmati kehidupan sensual, dan bukan untuk dipergunakan secara adharma. Kehidupan seksual kalau dihayati dan dilaksanakan secara dharmais akan menghasilkan suatu bentuk kehidupan yang sakral dan sehat jasmani dan rohani. Keluarga dapat bersifat sederhana, namun kalau diisi dengan berbagai teknik- teknik khusus maka keluarga tersebut akan harmonis, semarak dan bahagia.
Pelaksanaan sensual yang bersifat adharma akan menghasilkan penderitaan yang berkepanjangan serta karma-karma yang buruk dan kehancuran yang mengenaskan. Sejarah penuh dengan beragam-ragam kisah semacam ini, bahkan Ramayana, Mahabrata dan Shakuntala dsb. tidak lepas dari berbagai penderitaan ini. Para dewa-dewi di Kahyanganpun terjungkal oleh ulah sensual mereka yang tidak terkendali dan jauh dari dharma. Raja Dastarata harus membayar mahal dengan mengorbankan putranya Sang Rama ke hutan, dsb. dsb. Sebaliknya sifat-sifat dan perilaku dharma akan menuntun seseorang ke arah kebahagiaan secara otomatis dan alami.
ENAM PULUH EMPAT JURUS SENI BERCINTA
Seseorang seyogyanya mempelajari Kama Sutra, seni dan teknik bercinta, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan seks dan pendidikan seks yang sehat. Di era ini banyak ahli seksologi dengan pendekatan modern dan ala Barat. Namun Kama Sutra menyajikan sesuatu pendekatan kekeluargaan secara sakral, sehat serta sensual. Jangan gegabah untuk menikah tanpa pendidikan dharma dan kamasutra yang baik. Di masa-masa lalu para guru dan orang tua mendidik anak-anak mereka yang dewasa secara dharmais sebelum dinikahkan. Pada era ini kaum muda malahan belajar sendiri dari blue-film , pergaulan bebas, dsb. tanpa disertai pendidikan seks yang sehat.
Sebenarnya di dalam Hindu Dharma pendidikan seks diajarkan secara setara kepada wanita dan pria. Di masa lalu pendidikan seks diturunkan oleh para orang-tua, pendeta, guru spiritual, dayang-dayang tua di istana, dsb., kepada mereka yang dianggap perlu. Ilmu-ilmu lainnya seperti seni tari, massage, kaligraphy, lukisan erotis, berbagai bunga-bunga pewangi perangsang seks, aroma terapi yang berhubungan dengan seni bercinta juga merupakan pendidikan vital, disamping jamu-jamuan yang berkhasiat untuk pria dan wanita. Bahkan penataan ruang tidur dan tempat-tempat bersanggama yang indah bagi kaum aristokrat memerlukan penanganan yang khusus. Hatha Yoga (olah-tubuh) merupakan pelajaran yang diharuskan demi pelenturan tubuh agar berbagai pose seksual dapat dilakukan secara mudah. Demi kesehatan dan vitalitas tubuh, maka berbagai pengetahuan akan makanan seperti kacang-kacangan, rempah- rempah yang wangi dan berkhasiat, buah-buahan yang menghasilkan sperma, antiseptik alami harus dipelajari dan kemudian dikonsumsi secara beraturan. Belum lagi busana-busana khusus yang merangsang pasangan suami-istri. Disamping itu seni syair, puisi, pantun yang erotis menambah gairah disamping seni merabah, memijat, menggigit penuh nafsu.
Di era ini semua stimulasi sensual ini juga diwajibkan oleh para ahli. Bahkan hari-hari libur sebaiknya diisi pelaksanaan seksual yang indah secara privacy . Hidup itu bukan sekedar nyoblos dan merasa itu sudah jadi kewajiban. Akhirnya hancurlah mahligai yang rapuh tersebut. Ingat perilaku berpacaran adalah hal yang sehat untuk dilakukan oleh pasangan suami-istri secara privacy walaupun kita sudah tua, karena merupakan penyedap alami yang amat penting dalam membina mahligai yang harmonis, sehat dan penuh dengan kenikmatan.

Brahma Sutras

Brahma-sutras adalah salah satu maha karya dari Resi Agung Sri Wyasa (Resi Abiyasa) yang juga dikenal dengan nama Resi Abhiyasa di Indonesia. Nama lain beliau adalah Resi Krishna- Dwaipayana dan Resi Badarayana. Karya ini bersifat sangat khusus dan seyogyanya hanya dipelajari oleh kaum cendekiawan yang telah mendalami berbagai Weda dan Upanishads (Sruti dan juga Smriti), tanpa landasan ini, maka karya ini akan bersifat asing dan membingungkan. Tidak ada suatu sekte ajaran Hindu-dharma yang tidak berpedoman ke Brahma-sutras ini. Konon dikatakan seorang guru yang ingin membangun sebuah perguruan spiritual di India, diharuskan untuk menulis sebuah referensi penelitian mengenai Brahma-sutras ini melalui sudut pandangannya yang pribadi. Demikianlah, dari masa ke masa kode etik pendirian perguruan spiritual dilaksanakan di tanah Bharata.
Para resi guru dari zaman-zaman yang lalu sampai ke eranya resi-resi guru seperti Sri Shankara Acharya, Sriharsha, Chitsukha dan Madhu Sudana berupaya mengukuhkan faham Monisme secara Hakiki (Keesaan dan Keekaan Tuhan yang serba maha).
Sri Wyasa dianggap sebagai Awatara Wishnu yang juga dikenal dengan nama Badarayana dan Sri Krishna Dwaipayana. Beliau telah menyarikan berbagai Upanishad, Weda, Wedanta, dsb. dan mendiskusikannya di karya Brahma-Sutra ini.
Berbagai Weda terdiri dari tiga bagian utama yaitu : ¾ Karma-kanda, yang berhubungan dengan berbagai ritual- ritual upacara, pengorbanan dan lain sebagainya. ¾ Upasana-kanda, yang berhubungan dengan pemujaan dan meditasi (Upasana). ¾ Jnana-kanda, yang berhubungan dengan Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).
Karma-kanda diibaratkan sebagai kaki manusia, Upasana- kanda diibaratkan sebagai jantung manusia, dan Jnana-kanda ibarat kepala manusia. Yang dimaksudkan kepala ini adalah

www.shantiwangi.com
berbagai Upanishad (Siras), yang dianggap sebagai intisari penting berbagai Wedas.
Kata Mimamsa berarti investigasi atau penelitian yang berhubungan dengan teks (sloka-sloka) suci yang terdapat di berbagai shastra-widhi. Mimamsa dibagi dua, yaitu Purwa Mimamsa (masa silam) dan Uttara Mimamsa (masa-masa selanjutnya). Mimamsa yang pertama mensistimasikan Karma- kanda, yaitu bagian Weda yang berhubungan dengan pelaksanaan dan pengorbanan, bagian ini juga terdiri Samhitas dan Brahmanas. Kemudian Mimamsa yang kedua mensistimasikan Jnana-kanda yaitu bagian-bagian dari Weda yang termasuk bagian Aranyaka yang masuk ke dalam kategori Brahmanas dan berbagai Upanishads. Resi Jaimini adalah pengarang Purwa Mimamsa dan Resi Wyasa guru Resi Jaimini adalah pengarang atau Sutrakara dari Brahma-sutras ini yang juga dikenal dengan nama Wedanta- Sutras. Penelitian Brahma-sutras adalah penelitian synthetik dari berbagai Upanishads yang adalah intisari dari filosofi Wedanta.
Berbagai Weda-Weda adalah karya-karya abadi, yang tidak ditulis atau dikarang oleh manusia, namun dipercayai sebagai nafas yang terhembus keluar dari Sang Hyang Brahma (Hiranyagarbha). Wedanta adalah akhir dari berbagai Weda, dan berhubungan dengan pengetahuan, dan bukanlah spekulasi semata. Wedanta adalah catatan autentik dari berbagai pengalaman mistik spiritual melalui persepsi langsung, maupun melalui realisasi aktual para resi yang agung. Brahma-sutras ini juga disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa.
Sutras adalah intisari dari berbagai argumen spiritual, dan sutras di karya ini telah disingkat ke dalam susunan kata-kata sesedikit mungkin. Hanya para resi agung yang berwawasan luas saja yang mampu untuk menciptakan sutras. Tanpa penjelasan, maka sutras-sutras ini sulit untuk difahami oleh kaum awam (Bhashya, bahasa). Interpretasi sutras telah menghasilkan berbagai faham atau sekte-sekte di jajaran Sanatana Dharma. Sebagian dari faham-faham ini disebut Writtis dan sebagian lagi disebut Karikas. Berbagai Acharyas (pendiri perguruan spiritual) memakai interprasi atau doktrin ajaran mereka secara masing- masing seperti Sri Shankara dengan faham Bhashya yang disebut

www.shantiwangi.com
Sariraka Bhashya dan perguruannya disebut Kewala Adwaita. Bhashyanya Sri Ramanuja menghasilkan perguruan Wisishtadwaita, ajarannya disebut Sri Bhashya. Kemudian ajaran-ajaran Sri Nimbakarcharya dikenal sebagai Wedanta parijata-saurabha. Sri Wallabhacharya mengajarkan filosofi Suddhadwaita (Monisme murni) dan ajaran-ajarannya yang berdasarkan Brahma-sutra ini dikenal sebagai Anu Bhashya.
Bahasa Sansekerta adalah bahasa kuna yang teramat elastis, ibaratnya Kalpataru. Setiap peneliti dapat mengintisarikan berbagai rasa, sesuai dengan daya spiritual dan budhi yang dimilikinya. Itulah sebabnya ajaran-ajaran resi masa lalu masih eksis pengaruhnya sampai kini. Madhwa menemukan ajaran Dwaita, pemuja Wishnu menemukan Bhagawata atau juga disebut Pancharatra; dan pemuja Shiwa (Pasupati, Maheswara) menginterpretasikan Brahma-sutras ini sesuai dengan intuisi dan tendensi spiritual mereka. Resi Nimbharkacharya menemukan ajaran Bheda-bheda-Dwaitadwaita dan beliau ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Resi Bhaskara, yang amat populer pada abad ke sembilan. Ajaran Resi Bhaskara dan Resi Nimbharka menjadi ajaran panutan pada masa tersebut khususnya sangat mempengaruhi Resi Audolomi. Badarayana sendiri banyak menyitir teori ajaran ini di Brahma-sutras.
Ada lebih dari empat belas komentar atas karya Brahma- sutras. Sri Appaya Dikshita misalnya berkomentar atas ajaran Sri Shankara Acharya. Kemudian juga hadir pendapat para guru-guru lainnya seperti Sri Wachaspati Misra dengan karyanya yang disebut Bhamati dan Sri Amalananda Saraswati melalui karyanya yang disebut Kalpataru.
Kesalahan manusia yang memahami diri (raga)nya berbeda dengan Sang Atman adalah akar penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang. Manusia menghubungkan dirinya dengan raganya sehari-hari, bukan dengan Atmannya, sehingga timbul berbagai pemahaman duniawi seperti : “Aku hebat, aku agung”, “Aku cantik dan rupawan”, “Aku jelek dan buruk rupa”, “Aku adalah Raja atau Aku adalah Brahmana”, dsb., dsb. Lalu hadir juga identifikasi dengan berbagai indriyasnya seperti : “Aku bodoh”, “Aku buta, aku tuli”, dsb. Kemudian terdapat juga identifikasi dengan pikiran-

www.shantiwangi.com
pikirannya seperti : “Aku cerdas, aku bodoh”, “Aku marah, aku sakit”, dsb. Objek atau tujuan dari Brahma-sutras ini adalah untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan identifikasi manusia ini dengan berbagai aspek-aspek raganya. Hal ini berhubungan dengan kesalahan atau kekurang-fahaman (kebodohan) dan disebut awidya.
Pada awalnya Upanishad yang beragam-ragam tersebut terkesan penuh dengan kontradiksi. Resi Wyasa meletakkan ke dalam satu sistim di dalam Brahma-sutras ini. Pada hakikatnya intisari seluruh Upanishad sama saja adanya. Resi Audolomi dan Resi Asmarathyapun melakukan hal yang sama dan muncul dengan perguruan-perguruan mereka.
Bagi yang ingin mempelajari filosofi Wedanta, maka diharuskan untuk mempelajari Upanishad Klasik dan Brahma- sutras. Semua Acharya telah menuliskan ulasan mereka akan Brahma-sutras ini. Lima Acharya agung adalah Sri Shankara Acharya dari perguruan Kewala Dwaita, Sri Ramanuja dari perguruan Wisishtadwaita, Sri Nimbarka dari perguruan Bhedabheda-wada, Sri Madhwa dari perguruan yang beraliran keras Dwaita-wada (Dwaitisina), dan Sri Wallabha dari perguruan Sudhadwaitta-wada. Kesemua Resi-resi agung ini setuju bahwasanya Brahman adalah penyebab hadirnya jagat-raya dan isinya ini, dan berbagai ajaran mengenai Brahman ini mengarahkan seseorang ke moksha. Merekapun kemudian mendeklarasikan bahwa Sang Brahman dapat dihayati melalui shastra-widhis dan bukan melalui berbagai diskusi. Namun kelima guru besar ini berbeda pendapatnya satu dengan yang lainnya akan sifat-sifat hakiki Sang Brahman, juga akan hubungan sang jiwa dengan-Nya. Tahap yang dicapai sang jiwa dalam perjalanannya ke arah Brahman dan status jagat-raya, dsb.
Menurut Sri Shankara Acharya, hanya ada satu Brahman yang hakiki yang bersifat Sat-chit-ananda dan homogeneous. Dunia ini adalah Maya, yaitu ilusi (daya ilusif) Sang Brahman yang tidak bersifat Sat maupun Asat. Dunia ini berupa hasil modifikasi Sang Maya (Wiwarta). Brahman hadir sebagai jagat-raya ini melalui ilusi Sang Maya. Beliau adalah satu-satunya Realitas yang Hakiki.

www.shantiwangi.com
Sedangkan menurut Sri Ramanuja, Brahman dengan berbagai atribut-atribut-Nya disebut Sawisesha. Beliau menyandang berbagai sifat-sifat. Beliau bukanlah intelegensia, namun intelegensia adalah sifat yang utama. Beliau ini berisikan seluruh jagat-raya dan isinya, yang bersifat nyata. Benda (Achit) dan jiwa (Chit) adalah raga-Nya, ia disebut Hyang Narayana yang adalah Penguasa Dalam (Antaryamin). Berbagai wujud-wujud benda dan jiwa adalah Prakara-prakara (mode-mode)-Nya. Para jiwa-jiwa tidak akan menyatu dengan Hyang Brahman. Menurut Resi Ramanuja, Sang Brahman bukan satu atau homogeneous. Pada saat pralaya, para jiwa akan berkontraksi. Mereka berekspansi lagi, sewaktu semesta diciptakan lagi (kembali). Brahmannya Sri Ramanuja ini disebut Sakara Brahman, yaitu Tuhan yang memiliki wujud. Para jiwa adalah individu-individu benar, dan akan tetap hadir sebagai manusia. Sang Maha Jiwa bersemayam di Waikuntha-loka sebagai Ishwara atau Hyang Narayana. Bhakti dan bukan Jnana adalah jalan moksha. Sri Ramanuja di dalam ajaran Bhashyanya berpedoman kepada Resi Boghayana.
Menurut Sri Nimbarkacharya, Brahman adalah wujud gaib dan non-gaib. Beliau adalah Nirguna (tidak berwujud) dan juga Saguna (berwujud). Semesta adalah wujud nyata dari Sang Brahman (Parinama). Sang guru ini yakin sekali bahwa Brahman itu ibarat susu dan semesta ini adalah yogurt yang terbuat dari susu tersebut. Menurut ajaran beliau, sang jiwa mampu mendapatkan moksha melalui sifat sejati sang jiwa itu sendiri. Berbagai jiwa di jagat-raya ini adalah bagian dari Sang Brahman, namun moksha tidak berarti penyatuan jiwa dengan Sang Atman (Brahman), namun merupakan tahap final emansipasi yang dicapai melalui bahkti. Seperti Ramanuja, maka sang resi ini yakin setiap jiwa ibaratnya adalah pengejawantahan dari Hyang Wishnu yang berlengan empat.
Mengapa terdapat sedemikian banyak opini dan kebhinekaan di Hindu Dharma ini ? Ini semua karena ajaran Sri Shankara yang agung itu menyatakan Tuhan sebagai Atman yang hakiki, dan hal tersebut tidak dapat difahami oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Sri Madhwa dan Sri Ramanuja mendirikan perguruan yang berbasis bhakti. Bagi kaum yang bijak, maka semua ajaran ini lebih

www.shantiwangi.com
merupakan anak-anak tangga, yang meniti kita sampai suatu saat kita benar-benar mampu memahami ajaran Sri Shankara yang disebut Kewaladwaita. Sri Shankara sangat anti dengan ritual-ritual yang konsumtif dan berkepanjangan, bagi beliau bhakti semacam ini sia-sia belaka, sebaliknya gyana atau pengetahuan akan Yang Maha Esa secara hakiki adalah lebih utama, namun begitu resi agung ini setuju dengan Nishkama Karma Yoga (Yoga tanpa pamrih). Ajaran Shankara dan Wyasa bersifat sangat identik. Para sishya perguruan ini harus mempelajari Sariraka Bhashyanya Sri Shankara Acharya karena filosofi Adwaita ini dianggap yang paling utama di antara ajaran dan tafsir-tafsir Hindhu Dharma.
Seseorang akan memahami Brahma-sutras ini dengan mudah seandainya ia telah mempelajari kedua belas Upanishad; dan anda dapat memahami bab dua karya ini seandainya anda telah memahami pengetahuan atau ajaran-ajaran seperti Sankhya, Nyaya, Yoga, Mimamsa, Waiseshika, Darsana dan Buddhisme. Seluruh ajaran tersebut telah mendasari keterangan Sri Shankara di karya ini. Dr. Thibault telah menterjemahkan karya ini ke Bahasa Inggris. Karya Brahma-sutras ini disebut sebagai salah satu karya Prasthanatraya, dan merupakan buku wajib bagi peneliti dan cendekiawan Hindu Dharma. Karya ini memuat 4 Adhyayas (bab) dan 16 Padas (Bagian), 223 Adhikaranas (Topik), dan 555 Sutras (aphorism).
Bab kesatu (Samanwyayadhyaya) menggambarkan penyatuan dengan Sang Brahman.
Bab kedua (Awirodhadhyaya) membicarakan berbagai filosofi- filosofi yang lainnya.
Bab ketiga (Sadhanadhyaya) berhubungan dengan upaya-upaya Sadhana demi mencapai Brahman dan,
Bab keempat (Phaladhyaya) membicarakan pahala atau hasil dari pencapaian Sang Jati Diri. Setiap Adhikarana mempunyai pertanyaan-pertanyaan tersendiri yang layak didiskusikan. Kelima Adhikarana dari Bab I, dianggap teramat penting untuk dipelajari.

www.shantiwangi.com
Puja-puji bagi Sri Wyasa Bhagawan, putra Resi Parasara, yang telah menulis berbagai Puranas dan memilah-milah berbagai Weda-Weda. Semoga karunia sang resi yang agung dan suci ini beserta kita semua
OM SHANTI, SHANTI, SHANTI.

VI-VA-HA

“Semoga setiap insan berpikir dan bersatu dalam suatu pemikiran, semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta – kasih, semoga tujuan semua manusya selaras, dan semoga seluruh mahluk berbahagia dalam suatu perpaduan “itikad” – (sukta terakhir Rig-weda, puja-puji ke Hyang Agni).

Setelah melewati masa puber, maka pada umumnya pria dan wanita lambat laun akan matang alur pemikirannya dan gairah-gairah liar penuh nafsu-nafsu membara mulai mematang secara biologis, dan kedua jenis kelamin ini secara alami dipersiapkan tuk memasuki sebuah arena “peperangan dan perjuangan” baru yang disebut vivaha (persatuan, pernikahan dsb) padahal kata vivaha dalam bahasa Sansekerta berarti kemenangan-kemenangan yang bertahap. Vi adalah hari pertama memasuki ajang perkawinan, karena kedua pasangan telah berhasil menyatukan pandangan, misi dan visi kedepan, namun semua itu masih kabur dan tidak menentu karena bisa saja salah satu atau kedua-duanya tersandung di jalan kehidupan bersama yang amat sarat dengan berbagai cobaan-cobaan, suka-duka dan kerja keras yang meletihkan demi asah-asih-asuh keluarga yang penuh tanggung jawab. Konon kata para ahli jiwa 5 tahun pertama adalah masa krisis yang amat harus diperhatikan dan jangan dipertaruhkan karena dua insan dengan dua latar belakang berbeda harus saling berkorban dan “memaksakan” diri mereka tuk bersatu, dengan segala perbedaan-perbedaan mereka, cinta-kasih diantara keduanya masih terselubung nafsu dan belum kembali menjadi yadnya (pengorbanan), dan banyak pasangan muda pun berguguran karena hanya 3 bulan masa bulan madu, selanjutnya istri melendung, suami tersandung dan semua jadi bingung!

Itulah sebabnya para resi menyatakan, sebuah perkawinan itu adalah upacara yang teramat sakral, bukan asal berbenturan birahi, tetapi adalah ajang melahirkan”tuhan” itu sendiri dalam bentuk-bentuk saputra yang berguna tuk bangsa, Negara dan Dharma. Untuk itu diperlukan 25 tahun pertama agar perkawinan ini memasuki va (vi+va) Pada saat itu kalau pasangan suami istri ini masih menyatu sebagai keluarga dengan tetap mempertahankannya dalam suatu derita dan bahagia, maka dirayakanlah “viva”. Di masa lalu saat ini Sang Suami sebagai kepala rumah tangga sudah berusia sekitar 40 sampai dengan 50 tahun, ia pun lalu menyerahkan harta dan istrinya kepada putra tertua dan pergi bervarna-prastha selama lima tahun, mencari guru spiritual yang handal tuk bekal menjadi guru masyarakat sekitarnya, setelah lima tahun ia kembali ke keluarga dan berinteraksi dengan masyarakat, membagi-bagi semua hal-hal positif yang telah dipelajarinya selama ini. Pada usia perkawinan yang ke 35 tahun, keluarga besar ini akan merayakan vi+va+ha (vivaha), yaitu sebuah kemenangan berkeluarga yang berazaskan kesabaran, toleransi, suka dan duka yang dibagi dan diemban bersama-sama. Vivaha dalam hal ini bermakna kesuksesan, dengan kata lain Kama dan Artha telah bersinergi menjadi Dharma, dan tujuan menjadi manusyapun telah terlaksana dengan sempurna. Manusya barat yang belajar dari episode-episode vi-va-ha malah menirunya dengan hura-hura, pesta-pesta perkawinan yang disebut Silver Jubilee (kawin perak = 25 tahun), Golden Jubilee (kawin emas = 50 tahun) dan Diamond Jubilee (kawin intan = 75 tahun) tetapi penghayatannya amat berbeda! Di masa lalu sang pendeta akan menikahkan kembali kedua suami istri yang telah mencapai usia perkawinan ke 25 dan 35 secara amat sederhana dan bermakna. Masa kini hal-hal bermakna ini telah hampir sirna dan menjadi langkah, karena banyak yang bercerai sia-sia, karena rajin berselingkuh tanpa pernah sadar akan hakekat vivaha yang sebenarnya, tragis memang! Makna Dharma dalam perkawinan pun makin hari makin menjadi kabur.

Konon di masa permulaan Satya – Yuga, manusya pertama, manu merasa bosan hidup seorang diri selama berjuta-juta tahun, ia dilahirkan biseksual, biji-biji kemaluannya mengandung sperma perempuan di bagian kiri (= X) dan sperma laki-laki (= Y) di bagian kanannya, sampai saat ini pria normal dalam ilmu biologi, disebut heteroseksual dan Dharma Sastra Hindu menyebutnya sebagai Ardhana Geswara, sedangkan wanita adalah pengejawatahan bunda pertiwi, ia berstatus stri (istri = steril = x), simbolnya adalah merah darah (tanah), indung telur sewaktu menstuasi, sedangkan pria bersimbolkan warna putih, warna sperma yang disucikan (Kamandanu = air suci kehidupan hasil nafsu)

Pada mulanya setiap saat manu dapat bersahabat dan berbicara dengan Hyang Prajapati (Brahma) namun suatu hari sewaktu kebosanan hidup melajang sendiri menerpanya dia pun memohon agar dapat diberikan seorang teman pendamping tuk berbagi hidup ini, semenjak saat itu pria atau wanita selalu berhasrat mendapatkan pasangan karena merasa tidak lengkap hidup seorang diri, Prajapati yang maklum bahwasanya manusya akan segera berkembang biak lalu menyetujui dengan syarat manu hanya boleh memohon 2 kali lagi saja kepadanya, selanjutnya manusya tidak dapat menemui Sang Pencipta ini kecuali melalui meditasi (dhyana) yang berkesinambungan.

Malam tiba, manu tertidur lelap, Prajapati diam-diam mengambil sebuah spermatozoa dari telurnya yang kiri dan memasukkannya ke sebuah boneka yang dibuatnya dari tanah liat (sumbangan Pertiwi) jadi tidak seperti Injil dan Al-quran, maka wanita bukan hasil tulang rusuk Adam, tetapi amat biologis dan saintifis, adalah hasil dari sperma pria itu sendiri!

Prajapati pada malam itu (bulan Purnama) berjalan kearah timur sesuai “Wacana” yang diberikan oleh Sang Param Brahman (Tuhan yang Maha Tidak Terjabarkan), Pertiwi dengan mengucapkan Swaha (dengan ini kuserahkan yang terbaik dalam diriku) menyerahkan segumpal tanahnya yang paling baik dengan syarat pada saat kematian, manusya akan kembali kepadaNya, (dari tanah ke tanah), dan Prajapatipun menyetujuinya. Prajapati melihat kearah rembulan yang penuh cahaya dan bersabda,”berikan yang terhebat yang dikau miliki wahai dewa Chandra, dan bulan pun berkata Swaha, dan memasukkan inti kirananya ke dalam tanah liat di tangan Prajapati,tidak lama kemudian Prajapati bertemu seekor ular kobra yang amat berbisa, sang kobrapun dengan ‘Swaha”nya menyerahkan bisanya ke tanah liat tersebut. Demikianlah semalaman itu Prajapati berjalan terus ke arah Timur dan terus dan menemui berbagai ciptaanNya sendiri seperti bunga mawar yang menyerahkan keharumannya, burung beo dan kakatua yang menyerahkan gossip dan cerewetnya, burung merak yang menyerahkan tarian-tariannya yang mempesona, dan seterusnya pagi datang menjelang. Dalam kurun waktu itu berbagai ciptaan = di muka bumi ini telah men-Swaha-kan unsur-unsur inti mereka yang terbaik, terdashyat, terburuk dan terindah kepada sang calon manusya tersebut. Pagi tiba, Prajapatipun sampai ke tepi samudra, Surya menjemputnya dengan cahaya terang benderangnya, dengan Swaha Surya menganugrahkan teja dan samudra menyerahkan gelombang kehidupannya ( sejak saat itu vivaha menghadirkan gelombang dashyat).

Hyang Prajapati dengan seluruh unsur-unsur yang saling kontradiktif ini kemudian lalu menghembuskan Jiwanya ke dalam tanah liat yang telah berbentuk bayi ini dengan kata Swaha, dan di depannya berdiri seorang mahluk indah jelita, menawan, tetapi penuh ketegaran juga keragu-raguan, katanya lirih; “Aku ini siapa? Mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku ini? Dengan lembut Prtajapati bersabda : “Namamu adalah Shatarupa (hasil dari berbagai rupa-rupa) dikau dilahirkan tuk jadi sahabat Manu, bunda dari putra-putrimu, dharmamu adalah memperbanyak umat manusya agar terpenuhi Dharma yang berkesinambungan.Pergilah kearah pondok di arah timur, di dalamnya Manu sang Pria (Priya = kesayangan para dewa-dewa) sedang menunggumu.” Satharupa pun berjalan dengan lenggangnya yang menawan, penuh keharuman, dan pesona wanitanya, dadanya ranum ibarat kelapa muda penuh santan dan air surgawi (sejak saat itu wanita bersusu kehidupan)

Di depan gubuk kayu ia tertegun sejenak, lalu mengetuk pelahan, Manu tersentak bangun, ia membuka pintu dan terhenyak kaget bercampur pesona karena tiba-tiba ada mahluk indah menawan ibarat betari di depannya, konon saat itu manusya masih suci dan tidak berbusana, dan Manu pun langsung ereksi. Sejak saat itu di pagi hari para pria selalu ereksi bahkan bayi lalu pun begitu kata Weda shastra.

Keduanya langsung memadu kasih, lupa kepada yang lain-lainnya bahkan lupa kepada Prajapati yang menciptakan mereka, bertahun-tahun mereka dilanda nafsu membara dan larut dalam bahagia. Suatu saat secara biologis Shatarupa pun menstruasi tanda ia telah matang tubuhnya, namun Manu malah terhenyak takut, apalagi Shatarupa tiba-tiba berubah galak, marah-marah dan menjerit-jerit kesakitan, Manu pun lari ke hutan, galau dan duka, ia tidak percaya pada apa yang dialaminya dikasari oleh seorang wanita, namun tidak berkelanjutan lama, beberapa hari kemudian Shatarupa telah bersih kembali menjemputnya dan asyik masyuk berulang kali tiada tara, semenjak saat itu pria selalu lemah tidak berdaya di depan wanita.

Tiba-tiba suatu saat sang wanita menstruasi lagi, Manu pun shok berat lagi-lagi dan lagi-lagi, tetapi selalu Shatarupa akan kembali dan seks pun berulang-ulang lagi, akhirnya suatu saat Manu bosan dengan semua itu, (sejak saat itu pria sering bosan dengan ulah istrinya padahal sudah demikian kodrat wanita itu). Manu tiba-tiba teringat akan Prajapati, ia pun berdoa agar Hyang Prajapati berkenan mengambil kembali sang wanita, sejak saat itu wanita sering dikembalikan ke orang tuanya karena ego-ego suaminya. Prajapati berkenan mengambil kembali putrinya dengan catatan Manu hanya mempunyai satu kesempatan lagi tuk menemuinya.

Bertahun-tahun berlalu, pertama-tama Manu bahagia karena telah lepas dari “cengkraman’ wanita, tuk menyalurkan hasrat seksual-nya ia pun sering bermasturbasi (sejak saat itu pria gemar bermain-main dengan alat vitalnya (sejenis homoseksualitas karena dilakukan oleh pria ke pria itu sendiri). Tetapi lama kelamaan ia pun bosan, rasanya tidak lengkap tanpa wanita katanya munafik. (sejak saat itu banyak pria yang munafik di dunia ini!) karena “tergoda” dan tersandera oleh wanita. Ia pun menghadap ke Prajapati memohon agar Shatarupa dikembalikan, Shatharupa pun hadir, namun beliau tidak mau kembali ke Manu tanpa ada ikatan resmi di antara mereka dan sumpah setia dari sang Pria, Prajapati memohon sang Agni menjadi saksi, 33 juta dewa-dewi di Bhur, Bwah, dan Swah datang menghadiri, dan dilaksanakanlah upacara vivaha yang pertama ini di awal Satya Yuga. Sang pria tiga kali berputar kearah kanan (jarum jam) diikuti mempelai wanita, dan sang wanita berjalan satu kali ke kiri mengitari homa-Agni dengan sang Pria mengikuti dari belakang saling bertukar janji yang disebut Sapta Padi. Tiga kali putaran pradaksina pria berarti tiga janji ke Bhur, Bwah, Swah, namun wanita karena ia lebih kuat lahir dan bathin (9 kali lebih kuat daripada pria), maka wanita cukup dengan satu putaran saja. Demikianlah vivaha pertama yang mesti dilakukan oleh umat Hindu India sampai saat ini. Rig weda pun bersabda: “Apa yang telah dipersatukan tidak boleh dipisah-pisahkan bahkan oleh para dewata,”karena semua dewa-dewi langsung berseru,”Swaha” (kata-kata yang mirip ini ada di Injil).

Manu kemudian dalam “Manu Samshita” membuat peraturan-peraturan baru demi lestarinya umat manusya dan memutuskan lembaga vivaha sebagai suatu pelaksanaan dharma yang sakral. Namun di zaman Kali-Yuga ini, makna-makna kehidupan umat kita telah mulai memudar, semoga kisah kecil yang kami ulang ini dapat mengasah pedoman tuk yang masih ingin melestarikan vivaha sebagai sebuah bentuk dharma yang berkesinambungan, untuk itu kami sarikan Sapta Padi seperti di bawah ini :

SAPTA PADI
(TUJUH LANGKAH SUCI)

Bukan saja upacara pernikahan pasangan Hindu Dharma amat menarik dan penuh dengan pernak-pernik, warna-warni, namun juga amat sarat dengan filosofi kehidupan dan komitmen antara pasangan mempelai yang amat mendalam sifatnya. Tujuannya adalah untuk hidup dan berdharma bersama-sama seumur hidup. Apapun shakta (sekte)nya , dharma tidak memperkenankan perceraian. (Saat ini salah satu pasangan dapat menikah kembali sesuai dengan peraturan pemerintah, baik di India maupun di Indonesia). Pernikahan menjadi lebih indah dan berarti kalau diisi dengan janji calon suami-istri seperti di bawah ini:

SAPTA PADI

1. Wahai kekasihku, pada saat
dikau mengikuti tujuh langkahkahku,
maka cinta kasih dan persahabatan kita akan berubah
menjadi abadi. Kita akan
menikmati persatuan spiritual dengan Yang Maha Esa.
Pada saat ini dikau telah menjadi milikku
Secara lengkap dan kuserahkan jiwa-ragaku
Kepadamu. Pernikahan
Ini adalah mlilk kita selama-lamanya.
1. Wahai junjunganku, sesuai dengan kehendak-Nya dan Shastra Widhi, aku telah menjadi pasanganmu, apapun wacana yang kita janjikan telah diekspresikan melalui jalan pikiran yang murni. Kita berdua akan menghasilkan berbagai pahala untuk satu dan yang lainnys. Kita akan mengasihi satu dan yang lainnya selama-lamanya.
2. Wahai kekasihku,
dikau telah memenuhi rongga-rongga
di hatiku, sewaktu dikau mengikuti langkah ke enam denganku.
Semoga kedamaian senantiasa memenuhi
Kita sepanjang masa.

2. Wahai junjunganku, aku berjanji kepadamu akan senantiasa berpartisipasi dan bersama-samamu sepanjang waktu dan dalam segala perbuatan kebenaran, kesucian dan kenikmatan.
3. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah melaksanakan langkah yang ke lima bersamaku. Semoga Yang Maha Esa memberkahimu.
Semoga mereka-mereka yang kita kasihi hidup lama dan berpartisipasi dengan kemakmuran yang kita miliki.

3. Wahai junjunganku, aku berbagi rasa dalam setiap suka dan dukamu. Cinta kasihmu akan menumbuhkan kepercayaan dan rasa hormatku untukmu. Aku akan melaksanakan berbagai kehendakmu.
4. Wahai kekasihku, merupakan berkah yang agung bahwasanya dikau telah mengikuti langkahku yang ke empat bersama-samaku. Dikau telah membawa serta berbagai kesakralan dan kesucian dalam hidupku ini.
Semoga kita dikaruniai dengan putra-putri yang setia dan berperilaku agung. Semoga merekapun panjang usianya. 4. Wahai junjunganku, aku akan menghiasmu dari ujung kaki ke mahkota kepalamu, akan kuhiasi dengan berbagai kalungan bunga dan perhiasan, akan kuusapkan vibhuti cendana di keningmu dan kuwangikan dikau dengan wewangian semerbak mewangi.Aku akan melayanimu dan membahagiakanmu dalam setiap hal yang dapat kulakukan demi dirimu.
5.Wahai kekasihku, pada saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang ketiga. Melalui upacara ini , semoga kebajikan dan harta benda kita berdua akan bertambah. Aku akan memandang setiap wanita ibarat aku menatap saudara perempuanku. Bersama-sama kita akan mendidik putra-putri kita. Semoga mereka hidup lama. 5. Wahai junjunganku, aku akan mencintaimu sebagai suamiku melalui baktimu yang tunggal. Semua pria akan kuperlakukan ibarat memperlakukan saudara laki-lakiku. Baktiku kepadamu adalah bakti seorang wanita yang setia dan suci, dikau adalah kebahagiaanku. Inilah janji setiaku kepadamu.
6. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang kedua, dan mengisi hatiku dengan kekuatan dan semangat.Bersama-sama kita berdua akan menjaga keutuhan rumah-tangga dan kesejahteraan anak-anak kita.
6.Wahai junjunganku, di dalam kesedihanmu kupenuhi dengan semangat dan kekuatan. Di dalam kebahagiaanmu aku akan bergembira-ria. Kuberjanji akan senantiasa membahagiakan dikau dengan kata-kataku yang manis dan menjaga keutuhan keluarga dan putra-putri kita bersama. Dan dikau akan senantiasa mengasihi aku sebagai istrimu yang satu-satunya.
7. Wahai kekasihku, cita-cita kita berdua bertambah tegar sewaktu dikau melangkah satu langkah denganku. Dikau akan mempersiapkan santapan dan menunjangku dalam setiap hal. Daku akan membahagiakanmu dan mempersiapkan segala sesuatu demi kesejahteraan dan kebahagiaan putra-putri kita. 7. Inilah persembahan yang teramat sederhana bagimu, wahai junjunganku. Karena dikau telah mempercayai dan mengamanatkan pertanggungjawaban keluarga di pundakku, mengawasi santapan dan harta bendamu. Maka aku berjanji akan memikul seluruh tanggung jawab dan kesejahteraan keluarga dan putra-putri kami.

Pada saat terakhir, Manu memohon ke Prajapati dengankata-kata berikut ini :

“Dengan wanita aku tidak dapat hidup,
tetapi tanpa wanitapun aku tidak sanggup hidup.”

(Semenjak saat itu semua manusya bersandarkan bundanya dari awal kelahiran sampai matinya kembali ke pangkuan Bunda Pertiwi)

mohan m.s
Cisarua, November, 13-2009
diedit oleh: antonina