Nabi Isa (Jesus Kristus), Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim dalam jajaran Sanatana-Dharma

NABI ISA (JESUS KRISTUS),
NABI MUSA, DAN NABI IBRAHIM DALAM
JAJARAN SANATANA-DHARMA

Menurut para ahli Bible (Injil), maka terdapat 52 versi Injil yang hadir di Timur-Tengah dan Eropah, dan tidak semuanya memuat sabda-sabda suci Sri Yesus itu sendiri. Demikian juga dengan berbagai terjemahan-terjemahannya, yang bahkan diterjemahkan ke bahasa Papua dan Bali, berbagai dialek India dan Indonesia, yang makin lama makin kabur makna-makna aslinya karena tidak diterjemahkan dengan profesional. Huruf-huruf yang teramat kecil tanpa teks asli sabda-sabda Yesus membuat para ahli bingung akan keabsahan naskah-naskah Bible dalam berbagai versi ini, apalagi agama Kristen ini sudah pecah menjadi 3200 sekte yang setiap sektenya mengklaim ajaran Kristennya yang benar. Masih untung tersisa sedikit di-sana-sini berbagai ajaran Sri Yesus yang bersifat universal, namun amat tercerai-berai karena ada sedemikian banyak versi. Dari kesemuanya yang masih dianggap asli, maka para ahli menyimpulkan adanya kesamaan ajaran Hindu akan “agama yang lurus dan lempang” yaitu agama kebenaran yang selaras ke bawah dengan agama Islam dalam intinya namun berbeda ritual-ritual dan beberapa prinsip dasarnya. Kemudian ke atas selaras sekali dengan ajaran Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Adam dan lebih ke atas lagi amat mirip dengan ajaran Sang Buddha dan berbagai ajaran yang hadir di Sanatana Dharma itu sendiri. Mathius (3:10) menyabdakan hukum karma secara tersirat :
“Dan saat tampak itupun diletakkan di akar pohon
tersebut, oleh sebab itu setiap pepohonan yang
tidak menghasilkan buah (pahala) yang baik akan
ditebang jatuh dan dibuang ke dalam api.”
Penulis tidak akan terlalu banyak menerangkan tentang Bible di bab ini, namun menekankan kepada sedikit catatan-catatan yang hadir di perpustakaan kaum Hindu dan Buddhis, khususnya mengenai hadirnya Sri Yesus itu sendiri baik di masa-masa muda, maupun di masa tuanya di India, Sindh (Pakistan saat ini), Afganistan dan Tibet serta Ladakh (negara bagian India), dsb. Bagi umat Hindu sendiri keberadaan Sri Yesus sudah diketahui semenjak 2000 tahun yang lalu, sampai kini masih tersisa puluhan yogi yang tinggal di pegunungan Himalaya dan Kashmir yang mengaku sebagai turunan maupun pengikut Kristus, namun perilaku mereka tidak berbeda jauh dari rekan-rekan yogi Hindu dan senantiasa hidup mengembara dan bercampur dengan kaum suci Hindu maupum Muslim. Kaum Dharma di India mengakui Sri Yesus Kristus sebagai seorang Yogi yang teramat agung dengan segala kekuatan-kekuatan super-naturalnya ibarat seorang Avatara, bukan seperti Yesus yang disalib. Hal ini didasarkan akan perilaku dan kesaktian Beliau yang amat mirip dengan para kaum suci Hindu-Buddhis dan menjurus ke perilaku Avatara yang sesungguhnya, namun belum dapat dijelaskan Avatara siapa, walaupun nama Isa sinonim dengan Shiwa. Ajaran Beliau “Sermon on the mount (khotbah di atas bukit)” jelas mirip dengan ajaran 8 roda dharmanya Sang Buddha.
Namun Sri Yesus mengalami pembaptisan oleh Yahya Sang Pembaptis, mirip sekali dengan pembaptisan umat Hindu yaitu dimalukat di sebuah sungai yang dianggap sakral. Ada ahli yang mengatakan metode pembaptisan ini mirip ritual kaum Essenes (Yogi-Shivais) yang hadir sebelum Yesus lahir di Betlehem, dan Yahya adalah kaum ini juga, perhatikan baju yang dipakainya hanyalah kulit harimau yang menutupi bagian aurat dan perutnya saja, dengan jenggot yang lebat dan tanpa harta duniawi sedikitpun. Yahya hidup sebagai Brahmacharya (selibat) seperti umumnya kaum Hindu yang suci. Demikian juga halnya dengan Yesus dan murid-muridnya yang hidup serba sederhana dan hidup dari pemberian amal umat yang meyakini ajaran dan muzizat-muzizatnya. Sebaliknya kaum paus di Vatican hidupnya serba wah-wah, memakai jubah kebesaran, tahta, singgasana, dsb. yang jauh dari amanat dan ajaran Yesus untuk meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi ini. Tidak mengherankan kalau di era ini umat Eropah, Amerika dan Australia serta Kanada telah meninggalkan gereja karena muak dengan perilaku yang amat bertentangan dengan ajaran-agung-Nya. Al-Quran-Al-Karim mengakui keberadaan Sri Yesus yang disebutnya Nabi Isa (Issa). Di dalam ajaran yang mulia ini Yesus disebut-sebut sebagai penganut ajaran yang lurus dan lempang dalam kesatuan jajaran Musa, Ibrahim, Nuh dan Nabi Adam. Beliau hadir sekitar 600 tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W.
Para peneliti abad ini dan abad-abad sebelumnya banyak yang berpendapat bahwa Nabi Ibrahim (Abraham = Brahmana), leluhur bani Israel sebenarnya adalah seorang individu historis dan spiritual agung yang dilahirkan sekitar 700 tahun sebelum Yesus. Kemudian pada era itu Tuhan yang diyakininya, yang dalam bahasa Ibrani (Israel) memerintahkannya : “Pergilah dari negerimu dan dari sanak-saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12:1).
Ada sebuah teori yang diajukan oleh seorang ahli barat bernama Blavatsky; ia mengatakan asal-usul Nabi Ibrahim adalah daerah India kuno karena fonetik kuna bahasa Sansekerta hadir terserap di dalam bahasa Ibrani. Namun di samping itu bukankah huruf-huruf Ibrani adalah kemiripan dari huruf-huruf Pali ?. Dalam bukunya yang berjudul “ The Secret Doctrine” (Doktrin Rahasia), H.P. Blatvasky menunjukkan bahwasanya asal-usul wangsa Israel kuno adalah kaum Chandala (kafir berat, versi Hindu), yaitu sebuah bentuk status masyarakat yang paling rendah, tanpa etika dan moral, bahkan ada yang pemakan daging manusia dan gemar melakukan hubungan incest, sodomi, dsb. Teori ini sebenarnya merupakan pengetahuan umum di India. Pada era-era tersebut Nusantara dibangun secara dashyat oleh para raja-raja Hindu, namun dalam perjalanan mereka melalui jalan laut, banyak keluarga Chandala dibuang ke jazirah Arab, sewaktu ekpedisi Hindu ini melalui teluk Arabia. Dan hal ini berlaku dari era Rama sampai ke era Pandawa dan seterusnya antara 4000 tahun sampai 3000 tahun yang lalu. Sewaktu kaum Chandala dibuang ke daerah ini, diberikan kepada mereka bibit-bibit tumbuh-tumbuhan, Veda-Veda, Vedanta, Upanishad, pengetahuan membangun rumah, hewan peliharaan, dsb. Pada masa itu kaum Hindu tidak memakan babi karena dianggap kotor (tamasik). Menurut catatan yang ada di India, maka hewan seperti itik, kerbau tidak dapat bertahan hidup karena faktor geologi, namun kambing dan sapi serta anjing bertahan dengan baik. Pada era itu para pria Chandala disunat oleh kaum yang membuangnya dengan alasan agar tidak bercampur dengan kasta-kasta yang lain. Hal tersebut malahan menjadi hikmah tersembunyi untuk kebersihan genital mereka karena sulitnya air di kawasan tersebut. Kedua kebiasaan ini yaitu, pantang memakan babi dan sunat menjadi tradisi turun-temurun di Timur-Tengah sampai saat ini. Sunat dalam pelaksanaannya adalah wajib bagi kaum Israel, tidak dianjurkan dalam agama Kristen dan sunah dalam agama Islam.
Ternyata para Chandala ini sebagian terdiri dari kaum kasta brahmana dan berbagai golongan kasta-kasta yang lain yang terhukum karena berbagai kasus kriminal dan perbudakan di era itu. Sementara dari mereka mengambil perlindungan di daerah Chaldea Aria (kini Iran), di Sindh (kini Pakistan) dan seterusnya melanglang melalui Khyber-pass ke jazirah Israel pada awal 8000 tahun sebelum Masehi, itulah eksodus awal mereka yang sesuai dengan zaman Sri Rama.
Menurut kitab Perjanjian Lama, maka Nabi Ibrahim berasal dari sebuah negara di Timur, dari ras bangsa Terah, dan pada saat itu Ibrahim menyembah Allah yang lain (perhatikan kata Allah yang sudah ada pada masa itu),(Yosua 24:2-3). Berdasarkan kitab Kejadian II-32, Abraham (Ibrahim) berasal dari daerah yang disebut Haran (berarti menjangan, daerah yang banyak menjangannya), yang adalah pemukiman kecil di India Utara, yang sampai saat ini tetap dikenal dengan nama kota Haran, tidak jauh dari kota Srinagar di Kashmir, India. Kata Haran ini lalu diabadikan sebagai nama sebuah daerah di sebelah barat laut Mesopotamia oleh Nabi Ibrahim. Kata “Ibrani” sendiri berarti “orang-orang yang tidak mempunyai kediaman tetap dan tidak memiliki hak-hak yang permanen” yang berarti bangsa Israel.
Sedangkan kata Manu, manus (manusia), di Mesir berubah menjadi Manes (pencetus hukum = Nuh), sedangkan kata Minos berarti bangsa Kreta yang belajar hukum di Mesir. Musa, pencetus 10 firman Allah di zamannya itu, mendeklarasikan bentuk-bentuk hukum baru yang harus dipatuhi masyarakat Israel. Manu sendiri dalam bahasa Sansekerta juga berarti “manusia sempurna pencetus hukum”. Kitab-sucinya disebut Manawa Dharma Shastra, yang berisikan hukum-hukum secara amat tegas bahkan terkesan sangat mengerikan mirip hukum kisas, dsb. Hukum-hukum ini amat berdampak ke agama-agama di Timur-Tengah (baca Manawa Dharma Shastra). Kesemua kata-kata tersebut di atas memiliki sumber akar-kata Sansekerta yang sama yaitu manu (s), yang juga berasal dari kata mano + assa. Mano (mana = pikiran), (assa = memiliki) yang berarti manusia = seseorang yang memiliki daya pikiran. Musa sendiri di dalam Mesir berarti “anak yang dilahirkan kembali”, namun dalam bahasa Ibrani berarti “menyelamatkan dari air”. Semua fakta ini sesuai dengan (Keluaran 2:10). Konon para ahli Barat mengatakan Nabi Musa meninggal di daerah Kashmir, India, dan sampai saat ini makam Beliau masih hadir dan oleh penduduk setempat disebut “Muquam-I-Musa”. Di daerah ini (area Srinagar), tepatnya di Bijbihara (bihara = kuil, wihara, tempat-suci) terdapat “pemandian Musa”, di lokasi ini terdapat sebuah batu keramat yang disebut Ka-ka-bal atau Sang-I-Musa (batu Musa). Perhatikan kata Ka-Ka-Bal yang mirip dengan kata Kabalah dan Kabah. Menurut legenda setempat batu yang beratnya sekitar 70 kg ini dapat mengapung jika sebelas orang menyentuhnya setiap orangnya satu jari saja dan melafalkan mantra “ka-ka-ka-ka” pada waktu yang bersamaan. Angka sebelas dan satu batu itu sendiri menggambarkan jumlah suku-suku bangsa Israel. Ka-bal (Ka-bah) dalam bahasa Sansekerta berarti batu (Ka) dan bal (bertuah, penuh kesaktian) = “batu yang sakti.”
Juga di sebelah utara Srinagar terdapat Kohna-I-Musa (batu landasan Musa) dipercayai sebagai tempat Nabi Musa beristirahat. Masih banyak legenda tentang Musa di lokasi-lokasi ini.
Menyusul berpulangnya Nabi Musa, maka kedua belas suku bangsa Israel secara bertahap meningkatkan pengaruhnya ke seluruh kawasan Kanaan di bawah pimpinan Yosua pada abad XII sebelum Masehi. Namun baru pada pertengahan abad X sebelum Masehi negara Israel menjadi suatu negara kesatuan dengan ibukota Yerusalem (Yerusalem, Yerusalom = Kota pemberian Tuhan ?). di bawah pemerintahan Nabi Daud (David), sansekertanya mungkin Murgen, atau Murgeshen (Subramaniyam) yang berputerakan Sulaiman (Solomon) = manusia yang diberkati dalam bahasa Sansekerta = Vikramaditya), maka sebuah kuil dibangun. Kuil ini amat terkenal. Menurut Dr. Mateer dalam karyanya “The Land of Charity” (Tanah Penuh Berkah), maka Sulaiman berasal dari India. Konon bukti-buktinya ada di Srinagar dan Ujain. Di Srinagar terdapat sebuah kuil yang disebut “Takht-I-Sulaeman” (Takta Sulaeman) yang disebut juga Baghi Sulaeman = Taman Sulaeman. Kuil ini dipugar kembali pada tahun 78 AD oleh Raja Gopadatta dari Kashmir (turunan Sulaeman).
Berdasarkan sissilah Al-Kitab, maka Nabi Abraham adalah keturunan langsung dari Nabi Nuh (Noah) yang merupakan pilihan khusus Tuhan di antara umat manusia era itu, beliau diselamatkan dari banjir dashyat yang terjadi sekitar 4000 tahun sebelum masehi. Ada sekitar 250 legenda mengenai banjir dashyat ini di seluruh dunia termasuk legenda-legenda di Tana-Toraja, Sulawesi selatan, dan Tanah Batak kuno. Kesemuanya ini mengacu ke Shastra-Widhi Hindu yang disebut Vishnu-Purana (legenda kuno Sang Hyang Vishnu, Tuhan Maha Pengayom). Legenda-legenda ini hadir di India, Peruvia, dan juga di versi polynesia.
Kashyapa, yang dalam legenda Hindu berarti kura-kura (penjelmaan Vishnu pada era pengadukan Mandaragiri). Konon pada era tersebut umat Hindu percaya bahwasanya bumi ini bentuknya rata mirip punggung kura-kura yang agak melengkung, dan senantiasa mengambang di atas air. Kashyapa juga berarti Tuhan dan anak-anaknya di bumi ini. Dalam bahasanya kaum Israel hadir perihal yang mirip sekali. Bahasa Ibraninya, Israel berarti anak-anak Tuhan (Yesus juga dianggap anak Tuhan). Dan Tanah Tuhan berarti “Kashyab-Mar” yang identik dengan kata Kashmir saat ini, dahulunya Kashyab-Mar = Tanah asal bani Israel.