Upanishads

Sang Hyang Brahman, sumber, pengayom dan akhir dari alam semesta ini, memenuhi segala aspek dari seluruh eksistensi ini. Beliau sadar di kala seseorang insan-manusia itu sadar, Beliau bermimpi dengan mereka- mereka yang bermimpi, dan Beliau tidur lelap di kala seseorang tertidur lelap tanpa mimpi; namun Beliaupun melampaui ketiga tahap ini untuk menemukan Jati Dirinya. Hakikat sebenarnya dari Sang Brahman ini disebut kesadaran murni.
Dengan ini dimulailah Aitareya Upanishad ini,
Semoga kata-kataku bersatu dengan jalan pikiranku, dan jalan pikiranku menyatu dengan kata- kataku. Wahai Dikau Sang Hyang Brahman yang bercahaya dari asalMu sendiri, sudilah menyingkirkan tirai kebodohan yang menghadang di depanku ini, agar dapat kusaksikan cahayaMu. Sudikah Dikau mengungkapkan intisari dari berbagai skripsi-skripsi suci. Semoga kebenaran di dalam skripsi- skripsi ini senantiasa hadir di dalam diriku. Semoga aku senantiasa menyadari hakikat yang telah kupelajari setiap pagi dan malam, dari kaum yang suci. Semoga aku selalu mengutarakan perihal yang benar mengenai Sang Hyang Brahman. Semoga aku selalu mengucapkan kata-kata yang benar. Semoga kebenaran melindungiku. Semoga kebenaran melindungi guruku.
Om shanti-shanti-shanti.
“Sebelum penciptaan, yang hadir hanyalah Sang Hyang Jati Diri, hanya Beliau sendiri. Tidak ada sesuatu apapun juga yang lain. Kemudian Beliau berpikir: “Sebaiknya Aku menciptakan alam-semesta (berbagai loka, dunia).”
“Kemudian, Beliau menciptakan alam-semesta ini
Ambhas…. yaitu dunia atau loka yang tertinggi, jauh di atas langit dan ditunjang oleh sang langit, kemudian Beliau menciptakan Marichi (langit), Mara (dunia ini, sang bumi) dan Apa yaitu dunia bawah tanah.”
Beliaupun berpikir: “Saksikanlah wahai berbagai loka, Aku kirimkan berbagai penjaga bagimu. Kemudian Beliaupun mengirimkan berbagai ragam penjaga ke dunia-dunia ini. Dan kemudian Beliaupun menciptakan beragam bahan makanan untuk mereka ini.”
Beliaupun berpikir: ” Bagaimana mungkin ada para penjaga tanpa Aku berpartisipasi dengan (di dalam) diri mereka ?”
Seandainya tanpa Aku, lalu kata-kata diucapkan, nafas ditarik dan dihembuskan, mata melihat, telinga mendengar, kulit merasai, Pikiran berfikir, alat-alat kelamin berfungsi lalu apakah Aku ini ?
Beliaupun berpikir: “Sebaiknya Aku memasuki para penjaga ini. Beliaupun kemudian membuka (membelah) pusat tengkorak kepala mereka dan memasuki rongga ini. Pintu masuk ini disebut sebagai pintu Karunia.
Keterangan : Pintu masuk ini dikenal oleh para yogin dengan nama Sahashara Cakra, terletak di pusat otak, di antara kedua hyphothalamus, dan merupakan cakra tertinggi dalam tahap meditasi dan kesadaran spiritual. Dikatakan seandainya seseorang mampu terserap ke titik ini di dalam meditasinya, maka insan tersebut akan mencapai hakikat Sang Brahman.
Sang Hyang Jati Diri ini tidak bisa dikenali, namun ada tiga tahap bagi sang jiwa untuk disadari yaitu masing-masing…. tahap kesadaran (alam-sadar), tahap mimpi (alam-mimpi), dan tahap tidur lelap
www.shantiwangi.com
tanpa mimpi. Di dalam ketiga tahap ini hadir Sang Jati Diri. Sewaktu kita berada di tahap kesadaran, maka mata merupakan tempat Beliau bersemayam, dan di kala bermimpi, maka sang pikiran. adalah tempat- Nya bersemayam. dan di kala tidur lelap tanpa mimpi, maka relung hati sanubari yang paiing dalam (berupa teratai) adalah tempat Beliau bersemayam.
Setelah memasuki para penjaga-penjaga ini, Beliaupun memperkenalkan Dirinya kepada mereka. Beliau berubah menjadi berbagai mahluk individual yang beraneka-ragam. Selanjutnya, seandainya seseorang tersadar dari ketiga tahap kehidupan ini, yaitu alam-sadar, alam mimpi, alam tidur lelap, maka yang terlihat adalah hanya Sang Hyang Brahman, yang bersifat Maha Hadir, dan insan ini akan menyatakan “Aku memahami Sang Brahman.”
Keterangan : Tahap memahami atau mengenal Sang Brahman ini disebut tahap Thuriya, di Mandukya Upanisahad. Tahap ini adalah tahap tertinggi penuh dengan Karunia dan CahayaNya, setelah seseorang mampu dituntun melalui ketiga tahap sebelumnya.
“Siapakah Sang Jati Diri ini yang kami ingin puja ini ? Seperti apakah sifat-sifatNya (ciri-ciriNya?). Apakah Beliau ini adalah sang jiwa, melalui apa kami bisa melihat bentuk, mendengarkan suara, mencium aroma, berkata-kata dan merasakan rasa manis ataupun rasa pahit ?.
Apakah hati dan sang pikiran ini, melalui sarana ini kami mampu menerima perintah, mampu berbeda pendapat, mengetahui, berfikir, mengingat, bertekad, merasakan, menghasratkan, bernafas, mengasihi dan melaksanakan berbagai hal dan benar-benar bekerja ?
Tidak, semua ini hanyalah unsur-unsur dari Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Biri yang merupakan kesadaran murni ini adalah Sang Brahman. Beliau adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Beliau juga adalah semua dewa, kelima unsur maha panca bhuta bumi, udara, api, air dan ether; setiap mahluk baik yang besar maupun kecil, baik yang terlahir dari jenis telur, dari kandungan, dari panas, dari bumi, dari berbagai hewan kuda, sapi, dan insan manusia, dari berbagai hewan jenis gajah, burung, dan setiap mahluk yang bernafas, yang berjalan dan tidak berjalan. Sang Brahman adalah Realitas dibalik semua unsur-unsur ini, dan Beliau adalah Kesadaran Sejati.
Semua ini, sewaktu masa kehidupan, dan setelah kematian, hadir di dalamNya.
Demikianlah, Vamadewa, seorang resi suci, setelah menyadari akan hakikat Sang Hyang Brahman sebagai kesadaran sejati dan murni, berpisah dengan kehidupan ini, beliau berangkat ke Swarga-loka dan mendapatkan berbagai keinginannya dan beliaupun mencapai tahap keabadian.
Om Shanti Shanti Shanti OM TAT SAT