Arsip Kategori: weda

GAYATRI MANTRA – mantra Universal untuk semesta

JAPA MANTRA
GAYATRI – MANTRA

Sri Krishna di dalam Bhagavat-Gita bersabda kepada Sri Arjuna, bahwasanya diantara berbagai mantra, maka Gayatri Mantra adalah yang tertinggi sifatnya dan Beliau sendiri adalah pengejawantahan dari esensi mantra ini. Ada dua versi mantra Gayatri yang paling populer diantara berbagai jenis mantra-mantra Gayatri. Yang pertama adalah seperti berikut ini :

OM BHUR, OM BHUVAH, OM SVAH
Om Tat Savetur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Dhiyo Yonah Prachodayat

Gayatri mantram
Gayatri mantram

Apakah mantra Gayatri ini sebenarnya dan apakah manfaatnya, sehingga sedemikian agungnya mantra ini? Konon Gayatri sendiri yang adalah manifestasi dari lima bentuk bunda alam-semesta ini bersifat maha prakriti (Maya, ilusi Ilahi).

Kelima dewi ini adalah Saraswati-Laksmi-Durga-Uma dan Kali, yang membaur menjadi satu bentuk dominan di seluruh alam semesta ini, baik di alam buana-alit maupun buana-agung. Gayatri lahir dan Sang Pencipta Brahma pada awal penciptaan dunia ini yang tersirat di Veda sebagai mantra yang bersifat universal, yaitu suatu bentuk Pengagungan dari Yang Maha Kuasa dalam bentuk seorang Bunda alam-semesta itu sendiri dengan kelima bentuk kewajibanNya. -Itulah sebabnya walaupun memiliki hanya satu raga, Beliau berkepala kelima dewi di atas tersebut. Dewi Saraswati adalah lambang dari ilmu pengetahuan, sastra, agama, literatur, keindahan dan seni budaya. Tanpa Beliau, manusia hidup seperti ibaratnya fauna yang tidak berbudi-pekerti. Dewi Laksmi adalah lambang dari kejayaan, kekuatan, kemakmuran dan sebagainya. Beliau adalah shaktinya Dewa Vishnu Sang Pemelihara alam semesta ini, sedangkan Dewi Saraswati

adalah shaktinya Dewa Brahma Sang Pencipta. Durga adalah berkuasa di atas segala bentuk kebatilan, asuras dan bentuk-bentuk yang bersifat iblis; barang siapa memuja Beliau dipastikan akan dijauhkan dari segala marabahaya yang ditimbulkan oleh berbagai asura ini. Di Indonesia ada konsep yang salah mengenai Durga ini, Beliau dianggap sebagai ratunya para setan iblis ini akan meraja-lela tidak terkendali. Di India dan di seluruh dunia beliau adalah Dewi yang paling dipuja demi mendapatkan imbalan-imbalan ping Laksmi dan Dewa Ganeshya.

Dewi Uma atau Prathivi, atau Pertiwi adalah juga isteri atau shakti dari Shiva Mahadewa. Beliau adalah ibu Pertiwi ini merupakan Tuhan insan Hindu yang pertama-tama harus dipuja. Sedangkan Kali, lahir dari Shiva itu sendiri dan akhirnya “membunuh” Shiva dengan kekuatannya. Sebuah simbolisasi dari Sang Waktu (Kala dan Kali), yang maha dominan dan abadi. Dewa dewi boleh berakhir tugas, tetapi tidak Sang Kala ataupun Sang Kali. Secara spiritual Gayatri dianggap hadir selama 9 bulan 10 hari di dalam rahim seorang ibu yang sedang mengandung, dan selama itu pula sang jabang bayi belajar akan hakikat Tuhan Yang Maha esa dengan segala fenomenaNya baik di alam bumi ini maupun di buana-agung dimana Beliau senantiasa maha hadir dimana saja. Sewaktu seorang jabang bayi lahir, ia menangis pertama kali, dan setiap bayi selalu meneriakkan uah, uah. Menurut para ahli spiritual Hindu, kata pertama yang keluar dari mulut sang bayi, bangsa apapun ia dan lahir dimanapun, ia adalah : Aum, Aum, Aum, karena tiba-tiba sang jabang bayi kehilangan Gayatri. Oleh karena itu sewaktu dibabtiskan beberapa hari kemudian, versi pertama gayatri ini oleh sang ayah akan dimanterakan di telinga sang jabang bayi, agar ia sadar kembali akan hakikat kehidupannya di dunia ini. Sayang sekali hampir semua ayah tidak sadar akan makna mantra ini, dan hampir semua pendeta yang melakukan upacara untuk si bayi ini lebih terbius dengan pembayaran yang akan diterimanya. Lambat-laun hilanglah hakikat sesungguhnya dari mantra yang teramat sakral ini. Sesungguhnya mantra yang utama ini diperuntukkan demi majunya jalan spiritual seseorang .dan bukan untuk mendapatkan pahala pahala seperti keselamatan, rezeki dan kekayaan. Dengan mengulang-ulang mantra ini seseorang akan dibersihkan dari berbagai kekotoran duniawinya, namun itu baru bisa terjadi seandainya pemahaman seseorang akan mantra ini sempuma. Kalau hanya mengulang-ulang ibarat burung beo, maka yang didapatkannya hanyalah kebodohan belaka. Pemahaman yang baik akan mantra ini akan mengungkap Sang Jati Diri yang bersemayam di dalam diri kita melalui dhyana yang berkesinambungan dan tanpa pamrih. Dan dhyana ini seharusnya dibukakan oleh seorang guru yang telah berstatus dwijati dan Non-pamrih dalam segala hal. Pada saat seseorang berguru, inilah manta Gayatri versi kedua diberikan kepadanya secara spiritual, dan ini disebutkan kelahiran kembali (kedua kalinya). Versi kedua akan kami utarakan pada keterangan-keterangan berikutnya. Biasanya untuk mendapatkan jalan dhyana ini seseorang akan diminta untuk menyiapkan dirinya menjadi vegetarian total, dan bersikap total ahimsa dan non-pamrih dalam segala hal, walaupun hidup secara duniawi secara wajar-wajar Saja.

Mantra ini disebut juga dengan nama Savitri Mantra, karena sebenarnya didedikasikan ke seorang dewa yang bernama Savitr. Ada juga sebutan Savitri-gayatri di buku-buku kuno, dan mantra ini ditujukan pada zaman tersebut pada Dewa Surya secara kaidah-kaidah yang terdapat di dalam Veda, dan hal ini juga disebut sebagai Gayatri. Kaidah ini disebut:

Om Tat-Savitur-Varenyam
Bhargo Devdsya Dhimahi
Dhiyo yo Nah Pracodayat”

Konon maha mantra ini diturunkan pertama kalinya kepada manusia di bumi ini kepada Resi Visvamitra yang agung di zaman yang teramat silam. Keseluruhan mantra ini termuat dalam mandala ketiga dari Rig Veda. Mantra yang sama ini juga hadir Sukla Yajurveda dan Krishna Yajurveda. Di Bhagavat-Gita Sri Krishna bersabda bahwasanya cahaya yang meliputi surya dan chandra adalah CahayaNya semata, jadi menurut para kaum suci, ini berarti Mantra Gayatri adalah mantra pencerahan akan hakikat Yang Maha Hakiki.

Om Bhur berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah Sang Bhumi.
Om Bwah berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah Alam-Semesta.
Om Svah berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah Kehampaan yang menyelimuti bumi dan alam semesta ini.

Sedangkan tiga baris mantra di atas berarti : “Kami bersemedi ke arah Cahaya Ketuhanan Sang Surya, semoga cahaya surgawi ini menerangi aliran pikiran yang ada di dalam budhi (intelek) kami”

Biasanya di india mantra ini disertai dengan japa pranava dan Vyahrti-S. Bagi kaum Hindu, pemujaan sehari-hari mengharuskan japa ini (sandhyakarma) agar pikiran selalau berpikir akan hal-hal yang bersifat jernih. Di Manusmrti 102 tertulis : *Membaca japa ini di pagi hari sambil berdiri akan menghilangkan semua dosa yang disandang selama malam harinya, dan dengan berjapa di malam hari, maka semua dosa dipagi harinya akan sirna seketika”. Itulah sebabnya kedua waktu ini harus dipergunakan untuk mengingatNya dan sekaligus menyadarkan diri kita sendiri dengan maha mantra ini, bukan hanya dijapakan pada waktu berkunjung ke kuil atau ke pura saja.

Pada zaman ini Gayatri-Mantra telah sedemikian populernya diseluruh dunia sehingga selalu berkumandang dalam bentuk ratusan versi lagu, japa dan puja-puji dalam berbagai dialog yang aneh-aneh. Ada sementara resi mengatakan pranava “Om _ Bhur-Bvah-Svah” boleh ditambahkan atau tidakpun tidak apa-apa dalam setiap pemujaan, namun rasanya tidak akan berarti kalau tidak disertakan. Ada dua sandhya dalam sehari. Kata Sandhya berarti titik penghubung antara pagi dan malam. Dengan demikian sandhya yang pertama adalah subuh dan yang kedua adalah senja hari. Pemujaan pada pagi hari sekitar jam 4.30 s/d jam 5 pagi disebut Brahma-mahurta dan di sore hari sebaiknya pukul 6 s/d 7 sore. Setelah Islam masuk ke India, banyak orang Hindu menambahkan japa dan sembahyang pada siang hari, padahal itu tidak dianjurkan dan juga tidak dilarang. Di masa lalu pemujaan pagi hari sambil berdiri dilakukan menghadap ke arah Timur ke Surya dan pada malam hari ke arah Barat, dan sambil memuja, seseorang akan meletakkan air di kedua tangannya yang terkatub, dan pada akhir ucapan mantranya air tersebut dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ini disebut Arghya-Pradana. Pada saat mengakhiri mantra ini, sang pemuja akan mengucapkan :’Surya adalah Sang Brahman (Asavidityo Brahma)”, kemudian ia akan melaksanakan atma-pradaksina, – yaitu memutarkan badannya kearah kanan, ini mengisyaratkan bahwa sang pemuja dalam baktinya mengikuti arah Sang Surya dan dharmanya. Sekaligus berarti ia akan selalu berada dalam naungan dan tuntunan Sang Atman, Sang Jati Diri yang raganya sendiri. Pada masa tersebut Gayatri mantra diucapkan 10 kali pada setiap sandhya, pada saat ini sudah bebas, walaupun konon mantra ini tidak boleh diucapkan lagi setelah senja lewat. Saat ini aturan inipun sudah terkesan bebas.

Dengan mengucapkan Gayatri mantra kita sebenarnya memohon agar cahayaNya menerangi dan membebaskan kita semua dari kebatilan yang selalu menggangu kita sepanjang hari terus-menerus tanpa henti dalam bentuk godaan-godaan duniawi yang tidak ada habis-habisnya ini.

Ribuan tahun telah silam semenjak hadirnya berbagai Vega, kemudian muncullah berbagai Sutras dan kemudian hadirlah berbagai pengertian dan penghayatan akan filosif dan ritual yang disebut kepercayaan yang berorientasi ke pemujaan Vishnu, Shiva dan Shakti (Durga). Setiap kepercayaan ini menyatakan bahwasanya Gayatri adalah miliknya, dan puja ini ditujukan kepada masing-masing Ishta-dewatanya. Kemudian berkembanglah konsep Tuhan sebagai Bunda alam-semesta ribuan tahun lalu, dan hadirlah Dewi Gayatri seperti yang kita kenal sekarang ini. Banyak yang berpendapat dengan melantunkan Gayatri maka seluruh Veda-Veda telah dilantunkan olehnya. Kemudian mantra yang dianggap teramat sakti ini dipercayai sebagai mantra pembawa proteksi diri segala rintangan dan halangan, itulah sebabnya Gayatri mantra juga disebut sebagai “Mantra yang melindungi seseorang yang melantunkannya”.

Kaum Hindu di India percaya bahwa sekiranya timbul kendala atau firasat buruk pada seseorang dikala melakukan suatu usaha atau proyek tertentu, orang tersebut harus duduk berjapa Gayatri-mantra ini sebanyak 11 kali, dan seandainya masih mendapatkan firasat buruk maka dianjurkan mengulangnya sebanyak 16 kali, sesudah itu tidak akan ada aral melintang lagi.

Di India, seorang anak laki-laki diinisiasi dengan mantra Gayatri sewaktu ia masih berusia muda, dan upacara ini disebut Upanayana yang dihadiri dan diselenggarakan oleh kepala rumah tangga dan pendeta keluarga. Upacara ini di berbagai literatur Vedik disebut gayatri-diksa. Dengan menjalani upacara ini seorang anak laki-laki diinisiasi menjadi seorang penyandang Hindhu Dharma. Manu, manusia pertama menganjurkan pendiksaan ini seperti berikut; Usia 5 tahun bagi brahmana, 6 tahun bagi kshtriya, dan 8 tahun bagi seorang vaishya, maksimum usia-usia ini secara masing-masing kategori adalah 16, 22 dan 24 tahun. Biasanya anak wanita tidak didiksa, karena diksa tersebut akan berlangsung sewaktu ia menikah nanti. Bagi kaum sudra tidak disebutkan pendiksaan ini. tetapi di India masa kini banyak kriteria tersebut di atas yang telah berubah, kaum sudra sudah boleh mengikuti upacara ini berkat perjuangan Mahatma Gandhi almarhum.

Dipercayai secara shahtra vedik bahwasanya Gayatri-Diksa adalah kelahiran kedua. Orang tua melahirkan putra mereka karena menginginkannya secara bersama-sama, dan lahirnya seseorang dari rahim bundanya dianggap sebagai kelahiran fisik. Namun kelahiran kedua adalah anugerah melalui Savitri yang telah menguasai Veda-veda secara keseluruhan, dan kelahiran kedua ini dianggap kelahiran sejati, abadi dan tak pernah mati dimakan sang waktu. Sesudah diinisiasi ini seorang putra laki-laki disebut Dvija.

Sebenarnya mantra ini berisikan kalimat keempat dan kalimat ini dianggap begitu sakralnya sehingga hanya diberikan oleh seorang guru spiritual yang telah betul-betul Dvijati pada saat seseorang memasuki masa sanyasi dan dhyananya. Kalimat keempat ini hadir di Chandogya, Brhadaranyaka dan di Brahma-Sutra. Kami di Ganeshya Pooja (Shanti Griya) telah menurunkan Gayatri lengkap ini (disebut juga Maha-Gayatri) kepada sishya yang menunjukkan tanda-tanda spiritual yang teramat satvik, dari antara ribuan sishya yoga ini. Prosesnya selalu terjadi secara mistis dan otomatis sehingga sang sishya akan menunjukkan gejala-gejala awal yang sangat menunjang kehadiran Gayatri-Mantra ini di dalam dirinya. Setelah mendapatkan awal inisiasi, pemuja ini akan segera menjadi vegetarian dan ahimsa, lalu mempersiapkan dirinya untuk inisiasi lengkap. Namun sidang pembaca sebaiknya tidak menghubungi kami untuk yang satu ini, karena mendapatkan Maha-Gayatri adalah proses yang teramat sulit dan sudah banyak yang menjadi gila karenanya. Itulah sebabnya para guru spiritual tidak mau menurunkannya secara sembarangan. Pada saatnya nanti seorang Hindu atau siapa saja yang telah siap mendapatkannya akan menemukan dimana saja Gayatri (Sang Dharma) berkenan. Ingat, bukan kita memilih Sang Brahman, tetapi beliaulah yang memilih kita semua.

Para wanita di masa lampau seperti di masa kini, selalu melantunkan mantra Gayatri secara bebas, dan pada zaman tersebut merekapun melaksanakan upacara Upayana, namun dewasa ini wanita tidak perlu mengikuti upacara ini karena kelahiran kedua seorang wanita adalah sewaktu ia menikah dengan purushanya. Menurut para resi seorang wanita lebih efektif dibandingkan dengan seorang pria seandainya ia berjapa Gayatri-Mantra karena efeknya terasa ke seluruh keluarga dan relasi di rumah-tangganya termasuk janin-janin.yang dikandungnya.

Seorang resi guru Chinmaya pernah menulis dan menyebarkan sebuah karya yang disebut Devaprayaga yang dikomentari oleh Sri Shankara Acharya secara pribadi, karya ini sudah tua dan langka, namun dengan bantuan guru tersebut di atas dapat diterjemahkan seperti berikut ini:

Arti dari wacana Gayatri
Gayatri sudha pratyag-Brahma-aikya-bodhika

  1. Mantra Gayatri mengindikasikan ilmu pengetahuan yang terutama akan hakikat penyatuan dengan Sang Atman yang hadir di dalam diri kita dan Yang Maha Hadir di mana saja.
  2. Yang mengetahui akan segala bentuk budhi (intelek) yaitu Yang Menerangi semua bentuk pikiran dan hadir di semua bentuk intelek, yang merupakan Saksi dari semua bentuk budhi …. IJalah Sang Jati Diri yang disiratkan oleh Mantra Gayatri.
  3. Maha Brahma, Realitas transedental yang Hakiki adalah merupakan Sang Jati Diri itu semata-mata, dengan mejapakan Gayatri, Beliau akan bangkit (di dalam diri kita). Sang Atman ini diindikasikan di Mantra Gayatri sebagai Sang Surya (Savitur). .
  4. Kata “tat” disini mengartikan yang maha hadir, Sang Atman di dalam diri kita, yang bukan tidak dan bukan lain adalah Sang Atman di dalam semuanya, yaitu Yang Maha Atman (Param Brahma).
  5. Kata surya (Savitur) bermakna Tunggal, yaitu satu substratum bagi semua pengalaman delusi yang berbasiskan pruralitas dan juga berbagai permainan ilusi di medan penciptaan ini, termasuk juga dalam tahap pemeliharaan dan penghancurannya (kiamat, pralaya).
  6. Kata “Varenyam” (Yang dipuja-puji, Yang dikagumi) berarti Dia (Itu) yang dituju setiap insan (semuanya), Yang bersifat ananda-rupam (rahmat, berkah yang tidak ada batasnya). (kata ini pada saat berjapa harus dilantunkan sebagai Varenyam)
  7. Kata “Bhargah” berarti yang menghancurkan semua bentuk kebodohan. ketidak-sempurnaan yang dipancarkan oleh kekurang-pengetahuan akan pemahaman Sang Ralitas. Dimana hasil-hasil kebodohan tersebut dihancurkan, maka di situ akan hadir kesadaran akan Realitas Yang Maha Esa secara segera.
  8. “Devashya” (Cahaya) di sini bermakna kesadaran yang senantiasa hadir, menerangi baik di dalam maupun di luar, di tiga tahap (alam) ….. kesadaran, alam-mimpi dan alam tidur-lelap.
  9. Yang adalah sifatKu yang murni, yaitu AtmanKu, adalah tidak lain tetapi Berkah yang terutama, substratum untuk semuanya, jauh diluar berbagai penderitaan dan tragedi, bersinar sendiri, bersifat kesadaran yang murni, yaitu Brahman Itu Sendiri.
  10. Kata “Dhimahi” berarti yang menjadi tujuan meditasi kami, berasal dari konstruksi di Veda. .
  11. Sekarang jelaslah sudah bahwa Mantra-Gayatri ini mengindikasikan kesadaran dan kebangkitan (dalam arti yang dalam) dalam diri kita agar kita faham akan Hakikat Hyang Tunggal yang menghidupi setiap makhluk.
  12. Di dalam daftar kata-kata vedik, maka kata-kata Bhuh (Bhur), Bhuvah (Bhvah), Svah, Mahah, Janah, Tapah dan Satyam, semuanya berjumlah tujuh disebut “Vyahrti-S”. Dari ke tujuh kata-kata ini, hanya tiga kata pertama dipergunakan untuk pemujaan sehari-harinya. Semuanya pada hakikatnya mengindikasikan Hakikat Brahman Yang Maha Abadi.
  13. “Bhuh” mengindikasikan keabadian. Yaitu Yang Maha Hadir di setiap periode sang waktu, Yang Maha Suci, Yang Senantiasa Merdeka, Yang bersifat eksistensi murni di dalam setiap bentuk.
  14. Kata “Binuvah” menyiratkan makna dari kesadaran yang murni, kata ini berasal dan imajinasi, yang menyiratkan akan kehadiran kesadaran yang menerangi berbagai pikiran kita.
  15. Kata “Svah” sebagai vyahrti bermakna : realitas terutama dari seseorang itu sendiri, karena apa yang dituju secar4,‘amat sangat oleh setiap ciptaan adalah Sang Jati Diri kita sendiri.
  16. Kata “Mahah” berasal dari kata megah yang berarti Yang Dipuja, yang secara langsung berarti Yang Maha Megah atau Yang Maha Dipuja yaitu Sang Jati Diri Yang Maha Utama.
  17. Vyahrti “Janah” bermakna: Mencipta, yang berarti Yang Maha Pencipta dari mana berasal semua bentuk nama dan rupa, baik yang berada di dalam maupun di luar.
  18. Kata “Tapah” bermakna: Penuh dengan terang-benderang, kecemerlangan, yang tak terhingga. Sang Jati Diri sebagai: bentuk kesadaran adalah satu-satunya yang merupakan sumber semua cahaya di alam-semesta ini.
  19. Kata “Satyam” bermakna: Sebuah tahap yang jauh sekali dari jangkauan berbagai keterbatasan seperti penderitaan dan berbagai penyakit.
  20. Ketujuh Vyahrti-S diterangkan dan disebut sebagai tujuh loka, yaitu tujuh bentuk kesadaran atau pengalaman. (juga berarti 7 cakra utama di raga setiap manusia, ini adalah sendisendi buana-alit kita yang berhubungan dengan 7 loka di alam-semesta (buana-agung). Fenomena ini hanya bisa difahami oleh seorang sishya dibawah bimbingan guru yang telah dwijati secara murni).
  21. “Etad-uktam bhavati”. Kata-kata ini bermakna: Oleh karena itu semenjak semula kami telah mengindikasikan bahwasanya Gayatri adalah pengejawantahan dari Realitas Yang Maha Utama, yaitu Sang Brahman.
  22. Sang Jati Diri, Yang adalah eksistensi murni, adalah makna yang disirat dan diindikasikan oleh Mantra-Mantra Veda OM, yang menunjuk ke Brahman. Ketujuh loka juga menjabarkan makna dari OM dan yang dimaksud ini adalah Sang Brahman itu sendiri, dan bukan yang lain lainnya, sebenar-benarnya hanya Beliau satu-satunya yang eksis.
  23. Demikianlah, ketujuh Vyahrti-S menunjuk, dengan seluruh makna dan isi kandungan mereka, ke arah Sang Brahman, Sang Jati Diri (Atman) dalam kesemuanya.

* Terimakasih kepada Guru yang telah memberikan Inisiasi mantram Maha gayatri, serta pengetahuan yang sangat berharga ini, semoga ulasan ini bermanfaat untuk umum.

OM SHANTI SHANTI SHANTI
OM TAT SAT

ASHVATTHA (Pohon Beringin nan Abadi)

Ashvattha, simbol semesta dengan berbagai keragaman kehidupan adalah simbol pohon beringin, ini yang digambarkan Sri Krishna kepada Arjuna di Bhagawat – Gita. Ashvattha digambarkan berakar ke atas dan cabang-cabangnya menurun. Ke atas di sini lebih berarti ke Sang Pencipta dan ke bawah bermakna dunia dan bumi ini, sebenarnya di antariksa tidak ada atas maupun bawah kecuali “kekosongan” yang menunjang isinya sendiri. Dengan kata lain pohon beringin ilusif ini adalah Prakriti yaitu alam makro – kosmos, madya, dan mikro – kosmos itu sendiri.

Ashvattha bermakna “tidak stabil” atau selalu bergoyah, dunia dan segala isi-isinya ini memang hasil rekayasa Sang Maya, dan maya adalah ilusi yang tidak akan pernah stabil sampai kapanpun. Namun “Ketidak-stabilan” ini nara sumbernya adalah Yang Maha Abadi itu sendiri, dan hal ini disadari oleh kaum yang telah mencapai vairagya (kesadaran) total, kaum awam senantiasa terpesona dan terjebak di dalam perangkap Sang Maya, dan lahir, lahir kembali tanpa henti, tanpa letih dipicu karma-karmanya sendiri.”

Singkatnya akar-akar Ashvattha adalah Sang Maya, pohonnya adalah Prakriti (dunia) dan asal-usulnya adalah Hyang Maha Esa (Purusha). Kalau ingin berlindung maka masukilah Prakriti, selami maya dan berlabuhlah dengan kesadaran di pelabuhannya Yang Maha Esa, namun berteori itu mudah, pelaksanaannya membutuhkan ribuan reinkarnasi, jutaan kesadaran dan satu sentuhanNya yang akan mengakhiri segala ilusi dunia materi ini. Konon kata Bhagawat-Gita, Ashvatta mendapatkan sari-sari kehidupan dari berbagai gunas (sifat-sifat prakriti yang alami), objek-objek indriyas adalah putik-putik bunganya, dan akar-akarnya yang ilusif mencengkram dan mengikat manusya dengan ilusi-ilusinya yang penuh suka (manis) dan duka (pahit). Cabang-cabang pohon ini adalah berbagai jiwa yang dibagi dalam berbagai kategori kesadaran sesuai dengan hasil-hasil karma kita di masa lampau, dan jiwa-jiwa ini lalu ditempatkan pada masing-masing posisi sesuai tugas-tugasnya seperti menjadi dewa, manusya, mahluk-mahluk halus, fauna, flora, reptile, serangga, mahluk-mahluk sel satu, dua, dst.

Namun manusya lebih cenderung menikmati dunia daripada menyadari tugas-tugasnya di alam ini, jadilah kita makin jauh dariNya, dan makin melekat ke vishaya (objek-objek luar). Ada lagi akar-akar Ashvattha yang menjuntai ke bawah yang disebut sebagai vasana (inti nafsu), trishna (cinta) dan raga dresha (pemujaan ego ke diri sendiri) yang menimbulkan karma-karma (aksi-aksi) yang berkelanjutan tanpa ada henti-hentinya inilah kedashyatan vasanas, yang harus “ditebas” dengan kesadaran dan pemasrahan total agar keluar kita dari belukar hidup ini.”

Sayang sekali lagi, semenjak dini kita lebih diajarkan untuk menikmati buah-buahan dari Ashvattha daripada mempelajarinya, jadi rasa manis buah-buahan lalu menjadi tujuan hidup, dan sang pohonpun terlupakan tuk dirawat dan dilestarikan. Akibatnya kita berkelana tanpa henti, tanpa tujuan dan tanpa makna yang berakhir dengan pengrusakan bumi dan diri sendiri, dimana tidak pernah ada kata cukup atau rasa aman dan nyaman, padahal kesadaran itu sederhana saja kata Gita: “Seseorang yang dirinya tidak terikat pada objek-objek luar (eksternal), akan mendapatkan kebahagiaan yang hadir di dalam dirinya sendiri (yaitu Sang Atman). Bagi seseorang yang telah melepaskan dan mengendalikan berbagai nafsu, keinginan dan perilakunya maka iapun akan bebas dari keterikatan, merasa cukup dengan semua anugrah hidup dan langsung mendapatkan ketenangan (kestabilan).

Kebebasan dari ikatan-ikatan materi adalah unsur vital tuk berkenalan dengan Hyang Maha Esa, namun pendekatan kearahNya harus tanpa pamrih, tulus dan tidak dibuat-buat, dirancang-rancang atau direkayasa, ia harus murni kesadarannya. Sang Jiwa di dalam raga kita harus disadarkan dari ilusi-ilusinya. Sang Jiwa harus sadar uang, harta, kesaktian, kemampuan hanya alat-alat penunjang bukan akhir tujuan, demi mencapai atman yang “bersembunyi” di guhayam (relung nurani yang paling dalam).

Jadikan hidup ini sebagai suatu kesempatan langkah tuk dimaknai secara sadar demi dharma-bhakti kita kepada Sang Pencipta, “Aku bukan apa-apa dan sebenarnya bukan siapa-siapa” adalah salah satu anak tangga awal dari kesadaran ini. Cobaan-cobaan terberat bukanlah harta-benda, istri, suami, dsb, tetapi adalah diri kita sendiri, yang tidak mau sadar dan malas belajar! Selama rasa ego masih menjadi panutan maka jauhlah kita dari rasa rasya (instuisi tertinggi), sia-sia saja berkelana telanjang di Himalaya, sia-sia saja bervarna prastha ke hutan-hutan, bertirtha yatra ke lokasi-lokasi suci kalau masih berjubah ego”, karena ego adalah bentuk nafsu dan perilaku yang teramat lincah dan licik kata T.L Vaswani.

Ada sesuatu yang selalu dilupakan oleh manusya, yaitu setiap jiwa di alam ini termasuk jiwa manusya adalah bagian-bagian kecil yang berasal dari Sang Pencipta itu sendiri, seyogyanya kita abadi, suci, bersih dan murni, tetapi lalu mengapa terilusi? Ini konon katanya karena kita cenderung mementingkan buah (pahala) daripada pohon kehidupan itu sendiri, dan Prakriti dengan segala keampuhannya lalu mengatur hidup ini sedemikian rupa agar terbungkus oleh indriyas dan jalan pikiran kita, sang Jiwapun diatur penuh kebebasan untuk kebablasan atau disadarkan, ia direkayasa tuk terbungkus atau menyibak keterikatan-keterikatannya sendiri dan mencapai titik zero di sanubarinya sendiri yaitu kesadaran Atman.

Di masa kini siapa peduli akan Atman? Hampir semua manusya meratap dan mengeluh susah dan menderita, ini akibat roh mereka lebih banyak bersemayam di dalam HP, komputer, TV, Bank, mobil, rumah mewah, posisi, dsb. Akhirnya roh-roh materi inipun “bergentayangan” dalam kepanjangan ilusi tanpa kendali, padahal sang jiwa yang bekerjasama dalam naungan Sang Atman dekat sekali di hati, dan selalu menegur kita dari saat ke saat karena Yang Maha Esa itu sebagai Atman selalu menunjang seluruh ciptaan-ciptaanNya baik dari dalam maupun dari luar, dengan menjadi sumber “api kehidupan’ yang menyatu dengan alunan nafas-nafas yang selaras. Sang Atman ini adalah sumber segala kecerdasan, kemampuan, pengetahuan dan kesadaran, IA-lah yang dimaksud oleh Veda-Veda dan berbagai Upanishad sebagai Sang Tujuan, IA juga sumber energi semesta,dan segala isinya, IA juga semua jalan-jalan ke arahNya, IA adalah DHARMA dan penunjangnya, IA adalah kita, dan kita semua adalah IA yang tidak dapat terjabarkan namun dapat difahami oleh yang berniat memahamiNya.

Ada bentuk-bentuk Tuhan yang ilusif yaitu Sang Purusha (energi) yang dapat binasa dan tidak abadi sifatnya dan Purusha yang disebut Kutastha yang tidak dapat binasa, IA disebut duduk tegar dalam misterinya yang abadi dan terselimuti oleh sang maya yang direkayasaNya sendiri.

Ada lagi Purusha yang Maha Tinggi yang dikenal sebagai Purushottama (Sang Jati Diri Maha Utama Suci dan Agung). IA menunjang bhur,bwah,swah loka dengan segala isi-isinya. IA lah Yang Maha Abadi dan tidak pernah binasa.Uttama Purusha atau Purushottama dengan nama lain Paramatman, Sang Jati Diri yang maha hadir dalam setiap Atman mahluk-mahluknya adalah yang maha menunjang, menghidupi dan menghadirkan alam semesta ini dari waktu ke waktu.

“Seseorang yang telah sadar, yang telah mengenalKu sebagai Purushottama, maka ia akan memujaKu dengan segenap jiwa-raganya, oh Arjuna!” (Bhagawat Gita XV, sloka 19) dan manusya agung ini disebut sebagai yang telah memahami ajaran-ajaran rahasya alam dan Ketuhanan Yang Maha Abadi, manusya agung ini disebut Mahatma (maha-atman), manusya ini telah mencapai penerangan (Nirwana, yaitu titik zero, (nol) dan tugas-tugasnya di dunia selesai sudah, ia telah berhasil menebas habis pohon Ashvattha, melalui non-keterikatannya, tanpa pamrih dan penuh kendali. Om Tat Sat.

Apakah yang telah anda pahami tentang Weda

( SABDA-SABDA DEWA)

I. SEJARAH WEDA
Weda bukan merupakan wahyu-wahyu yang diterima oleh para nabi ataupun utusan-utusan Tuhan, namun lebih merupakan sabda-sabda Bhagavatham yang diturunkan langsung melalui sabda-sabda dewa kepada para resi melalui persepsi – direct (direct-perception).
Ajaran-ajaran maupun berbagai petunjuk yang terdapat di berbagai weda lebih merupakan pedoman hidup universal dari pada dogma yang menjerat umatnya. Tanpa hadirnya weda – weda ini dapat dibayangkan seperti apakah umat manusia dewasa ini. Karena nampaknya tidak ada budaya, agama, maupun perilaku bangsa apapun di dunia ini yang lepas dari ajaran –ajaran agung ini.
Penyebaran weda telah melalui beberapa jalan, misalkan Afganishtan, Turkeinishtan dan selanjutnya ke Timur-Tengah dan seterusnya. Melalui jalan laut menuju ke Semenanjung Arab, ke Asia Tenggara dan akhirnya melanda ke seluruh Asia. Cina kuno mengirimkan para Budhisatwa mereka untuk mempelajari dharma yang kemudian menjadi sendi-sendi agamis yang berasimilasi dengan ajaran-ajaran leluhur mereka yang juga berpedoman adiluhung. Lahirlah konsep-konsep Kwang – Kong (Yamaraja), Kwam Im (Saraswati,bunda semesta) dan Buddhisme di Cina yang pengaruhnya melanda seluruh Asia.
Yunani kuno tidak pernah menjajah India kuno, namun keduanya terlibat dalam persahabatan antarnegara yang intim, akibatnya konsep weda , Sruti dan Smritipun menjalar ke Yunani kuno maka lahirlah konsep para dewata dan Tuhan di kawasan ini. Misalnya Tuhan mereka Zeus adalah Brahma dalam versi Weda, Isis adalah bunda semesta, Hercules sama dengan Hanoman, dan venus sama dengan Lakshmi dan sebagainya. Mesir konon pernah ditaklukkan oleh Sri Rama dan keturunannya, jadilah raja-raja mereka bernama Ramses (Keturunan Rama) dan merekapun memuja Surya(Tat Savitur, dan sebagainya).
Secara historis Timur-Tengah mendapat kunjungan para nelayan dari India Selatan (di daerah Yaman). Daerah ini asal-muasal wangsa-wangsa Arab. Sedangkan kaum pribumi asli adalah cikal-bakal kaum Yahudi saat ini, yang telah bercampur dengan para candala yang dibuang dari India semenjak masa Rama,Pandawa dan seterusnya. Para Candala ini dibekali dengan berbagai weda , arca-arca hewan ternak dan budaya India kuno.
Tidak mengherankan kalau kemudian nabi agung mereka yaitu Abraham memuja lingga-yoni yang terbesar di dunia yang dikenal dengan nama Ka’bah saat ini, lengkap dengan mandir Shiva-Durga, Ganesha, Subramaniyam dan sebagainya. Subramaniyam (Kumara) identik dengan Nabi Daud (David), yantranya bintang sudut enam dengan dua garis disamping adalah yantra Subramaniyam (dewa dharmanya para dewa). Namun karena mantram yang ada diberbagai sudut bintang tersebut telah dihapus maka turunan Abraham akan berperang terus sampai akhir jaman tanpa kendali. Nama Tuhan Kaum Judea adalah Yehovah, sangat identik dengan Zeus (Yunani) dan Brahma (India). Sifat-sifat Tuhan ini tersirat sangat pedendam dan gemar membalas umatnya yang sesat dengan berbagai bencana.
Kitab-kitab suci mereka disebut Taurat, Zabur dan Injil (Perjanjian lama) adalah ajaran weda dan wedanta yang bukan saja mirip bahkan dalam berbagai versi adalah foto-copy ajaran dan kebiasaan / legenda kaum dharma. Manu dikenal dengan Nuh, Soleman adalah Vikramajit, Genesis adalah Vedanta dan sebagainya. Terus ke Kristus yang pernah mendalami dharma di India, dan John sang pembabtis yang mewisudi Kristus mirip kaum suci di Sungai Gangga, menunjukkan bahwa telah masuk pengaruh Waishnawa, Buddhisme dan Shiwais ke ajaran-ajaran Kristus (sebenarnya ada 50 injil, namun yang hadir sekarang hanya 3 saja).
Lahirnya Islam merupakan evolosi budaya, kultur dan kemajuan spritual di Timur-Tengah, merupakan sebuah akumulasi dari berbagai pengaruh tersebut di atas. Itulah mengapa sebabnya Kanjeng Nabi Besar Muhammad saw sangat menghormati Hindhu dan nabi-nabinya serta mendeklararasikan Ka’bah sebagai kiblatnya umat Muslimin sedunia sesuai dengan wahyu-wahyu yang beliau terima dari Allah swt. (konsep Hindhunya Durga).
Para pengarang buku Hindhuisme,’’ The greatest religion in the world’’ menyatakan bahwa agama-agama di Timur-Tengah adalah penyelewengan ajaran weda. Saya pribadi tidak setuju dengan istilah yang terkesan agak kasar tesebut. Bagi saya pribadi yang telah meneliti berbagai agama selama puluhan tahun melihat ‘’penyelewengan ‘’ ini sebagai improvisasi alami dari weda-weda sesuai dengan evolusi yang dijalaninya di berbagai belahan bumi . Weda adalah pohon dan akar utama, agama-agama lain yang lahir dari-Nya adalah cabang-cabangnya, dan dari cabang-cabang ini lahir berbagai ranting (Shakta, sekte,aliran dan lain-lain). Jadi kalau weda-weda sudah menyebar ke 6 milyar manusia dewasa ini, tentu saja nada-nada, rupa, dan bentukpun telah berimprovisasi secara alami.
Semua ini adalah kehendak-Nya semata, kaum dharmais seharusnya tidak terpengaruh oleh pengotakkan–pengotakkan semacam itu namun harus berbangga karena weda telah menjadi sumber inspirasi , kultur dan sebagainya dari umat manusia sampai dewasa ini. Kebinnekaan adalah wujud-wujud ciptaan-Nya semata yang sudah menjadi kehendak-Nya jua. Kita harus menghormati hak absolut Hyang Maha Esa ini, karena hanya Beliau sendiri yang faham akan segala misteri dan lila Beliau.
Konon Stephen Knapp, salah satu penulis ‘’ Hindhu agama tersebar di dunia’’ pernah berkata bahwasanya yang hakikatnya adalah nama modern untuk filosofi weda, khususnya yang berwujud spiritual yang dihubungkan dengan Indra. Dan mereka-mereka yang mengikuti ajaran-ajaran dan kaidah weda disebut Arya. Arya bukanlah ras manusia tertinggi selama ini yang dikenal umat manusia namun sesungguhnya lebih mengarah sebuah pedoman standar hidup yang ideal(ideal way of life).
Seorang yang bijak, arif dan lurus perilakunya di dalam masyarakat disebut sebagai seorang Arya (gentleman), dalam pengertian Islam di sebut Insan-Kamil. Kata ar berarti putih atau jelas, dan kata ya mengacu ke Yadhu, Tuhan atau Krishna (Baghavatam,Illahi). Arya dapat disebut jalan pencerahan menuju ke arah Bhagavatam. Dan semua pemahaman duniawi maupun spritual ini dijabarkan melalui berbagai ajaran Weda yang kemudian menyebar ke seluruh Tanah Bharata dan melampaui batas-batas negara dan bahkan menyebar sampai ke dunia barat.
Sanatana Dharma resminya adalah Weda plus Hindhuisme, Jainisme, Buddhisme dan Sikhisme, dan sebagainya. Namun secara tidak kita sadari juga adalah ajaran agama-agama besar lainnya karena mereka semua telah terpengaruh bersumber pada Weda, Vedanta, Upanishad, dan sebagainya.

II. KARAKTER DAN BAGIAN-BAGIAN WEDA.
Karakter atau ciri-ciri utama dari berbagai weda adalah:
1.Anadi (tanpa pemula).
2.Apurusha(tanpa pengarang)
3.Sumber akar setiap ciptaan.

Namun lebih jauh dari itu semua, maka nada atau swara, kidung-kidung dan mantra Weda seandainya disuarakan akan mengaktifkan sistem-sistem syaraf halus kita dan sekaligus mempengaruhi lingkungannya, yang berakibat temaram dan shantinya lingkungan, insan dan makhluk yang hadir di lingkungan ini, kondisi ini sangat universal sifatnyanya.
Tidak ada satu agama lain yang sedemikian peduli dengan kehidupan lain seperti ajaran-ajaran Weda (Dharma). Bunda Weda bersabda: “Bukan hanya mahluk yang berkaki dua yang harus sentosa, namun juga mereka-mereka yang berkaki empat, semak belukar, pepohonan, gunung, sungai……….dan seluruh ciptaan-ciptaan ini.”
Teks-teks Weda sarat dengan berbagai makna yang tidak terbatas sifat dan pemahamannya. Sloka-sloka Weda disusun secara puitis dan indah. Weda berisikan kaidah kehidupan yang selaras bagi umat manusia secara menyeluruh, bagi seisi semesta yang tanpa batas ini. Ajaran – ajaran ini tersusun secara sistematis dalam berbagai jalur sosial, filosofi, pengetahuan, sains, agama, ritual, kesehatan dan sebagainya.
Dari permulaan kelahiran sampai akhir hayatnya, manusia dharmais dituntun oleh berbagai ajaran Weda, agar si manusia ini mendapatkan keselamatan dan mencapai hakikat-Nya. Namun lebih dari itu kode etik sosial dan spritual Weda-Weda adalah sebenarnya anak-anak tangga yang menuju ke suatu strata Bhagavatham (Illahi) yang lebih Hakiki. Weda terdiri dari empat bagian yang amat penting: Rig – Yajur – Sama – Atharwa.

A. RIG WEDA SAMHITA
Terdiri dari stanza (sloka) yang pada awalnya disebut “Rik”, yang berati puji-puji. Setiap Rik adalah sebuah mantra yang merupakan pujaan bagi dewa-dewi masing-masing. Kumpulan dari berbagai Rik disebut Sukta.
Rig Weda Samhita memuat lebih dari 10.000 Riks (tepatnya 10.170 Riks). Keseluruhan Samhita dari 4 Weda tersebut di atas berjumlah 20.500 mantra. Rig Weda memuat 1028 Sukta yang terbagi dua kelompok yang terdiri dari 10 Mandala dan 8 Ashtaka. Dimulai dengan Sukta yang memuja Agni dan diakhiri dengan puja-puji ke Agni juga.
Diantara berbagai Weda ini Rig Weda secara menyeluruh memuja-muji para dewata. Namun dari permulaan (Upakarma) sampai ke akhir (Upasamhara) karya ini berbicara tentang Hyang Agni, jadi banyak pemuja kemudian menghubungkannya hal tersebut sebagai pemujaan api kepada Hyang Agni (Agni-Hotra). Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah cahaya Bhagavatam (Jyotir,Tat Savitur) yang hadir di dalam kesadaran seorang manusia (Atma Chaitanyam).
Sukta terakhir Rig Weda ke Agni bersifat amat universal : “Semoga setiap insan berfikir dan bersatu dalam suatu pemikiran. Semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta kasih. Semoga tujuan semua manusia selaras hendaknya. Semoga semua makhluk berbahagia dalam suatu kesatuan itikad.” Demikianlah akhir dari Rig Weda yang agung ini.
Kaum bijak sangat menghormati Rig Weda karena sedemikian adiluhung dan sakral isi ajaran-ajarannya, yang kesemuanya ditujukan ke semesta dan segala isinya. Sebagai contoh : ritus pernikahan ditiru dari pernikahan (wiwaha) putri Hyang Surya, umat Khatholik sering mengutip ayat-ayat Weda yang ada di Injil tanpa mereka sadari sewaktu melakukan upacara pernikahan. Terdapat juga dialog-dialog sarat yang amat bernuansa spriritual tinggi antara Purorawas dan Urwasi. Resi Kalidasa gemar sekali menyitir bagian-bagian ini dalam ajaran-ajarannya.
Rig Weda dianggap sebagai yang tertinggi diantara weda-weda lainya, karena kandungan isi dan maknanya amat kaya raya. Darinya juga berasal jalan aksi (karma- yoga) yang tersirat dan terkandung di dalam Yajur Weda, darinya juga terkandung unsur-unsur musik yang terdapat dalam Sama Weda. Di setiap sakha terdapat tiga bagian yang disebut Samhita, Brahmana, dan Aranyaka, kesemuanya disebut Adhyayana. Kata Samhita berarti : “Sesuatu yang telah dikoleksi dan kemudian diatur secara sistematis”.Brahmana berbicara tentang nilai-nilai spiritual, ritual Aranyaka memuat berbagai hal selanjutnya.

B. YAJUR – WEDA
Kata yajur berasal dari kata yaj yang berarti memuja. Kata yajna berasal dari yaj yang bermakna puja-pengorbanan. Kata yajus berarti menerangkan prosedur ritualistik (Yajna). Dengan kata lain berbagai mantra di Rig Weda diwujudkan dalam bentuk puja, ritual, aksi dan sebagainya di dalam Yajur Weda. Kalau Rig Weda melantunkan dan menghaturkan berbagai mantram, konsep dan puja-puji, maka Yajur Weda mengaktualisasikan ritual-ritual tersebut.
Yajur Weda terbagi dalam dua sakha (cabang utama) seperti juga Weda-Weda yang lainnya. Kedua bagian ini adalah sukla Yajur Weda Samhita juga dikenal dengan nama Wijasaneyi Samhita. Kata Wijasaneyi berarti Surya . Konon Resi Yaajnawalkya telah membawa kembali Samhita ini ke dunia, setelah mempelajarinya kembali dari Hyang Surya, oleh karena itu Samhita ini disebut Wijasaneyi Samhita.
Ada sebuah kisah yang menarik yang berhubungan dengan Resi Yaajnawakya ini. Pada mulanya Resi Weda Wyasa membagi Weda ini menjadi empat bagian . Pada jaman tersebut Yajur Weda hanya terdiri dari satu bagian saja. Demikian yang diajarkan dan yang diturunkan Resi Wyasa kepada Resi Waisampayana. Resi Yaajnawalkya juga juga mempelajarinya demikian juga dari sang guru, Waisampayana. Namun pada suatu ketika terjadi kesalah-pahaman sang guru kepada muridnya. Dan sang guru memerintahkan Yaajnawalkya untuk mengembalikan semua ajarannya, karena sang guru sudah tidak berkenan lagi kepada sang murid. Yaajnamalkya setuju akan usul sang guru, kemudian ia memuja kepada Hyang Surya. Dan Hyang Surya berkenan mengangkatnya sebagai murid. Kemudian lahirlah tafsir baru sebagai ajaran Hyang Surya kepada Yaajnawalkya.
Itulah sebabnya kenapa karya ini disebut sebagai Wijasamemi atau Sukla Yajur Weda. Ajaran ini disebut Sukla (putih), sedangkan ajaran Resi Waisampayana disebut hitam (Krishna Yajur Weda). Kedua-duanya lalu menjadi Yajur Weda Samhita. Krishna Yajur Weda terbagi dalam bagian tang disebut Samhita dan Brahmana.
Intisari dari Yajur Weda adalah nilai-nilai baik dari berbagai Karma-Wedik (ritual dan pahala-pahalanya) Taittariya Samhita yang terdapat di Krishna Yajur Weda menerangkan berbagai prosedur secara mendetail Contoh-contoh ritual Yajna seperti Darsa Purnawarsa, Somayasa, Wajapeya, Rajasuya, Asmaweda dan sebagainya.
Kemudian ada mantra-mantra yang tidak tedapat dalam Rig Weda, contohnya Sri Rudram. Pada jaman ini di India, Kaum Hindhu lebih banyak berpedoman pada Yajur Weda. Walaupun demikian ajaran Sukla Yajur Weda sangat dominan di India Selatan. Yajur Weda juga memuat lebih banyak lagi hal mengenai Purusha Sukta yang hadir di Rig Weda.
Yajur Weda sangat penting bagi kaum Adwaitin (penganut filosofi non- dualisme). Taittariya Upanishad terwujd di Krishna Yajur Weda, Brahadaranya Upanishad terwujud di Sukla Yajur Weda. Kedua karya tersebut bersifat mahakarya dari kaum Adwaita (baca berbagai karya Upanishad yang hadir di web-site kami : shantigriya.tripod.com (tanpa www) atau melalui www.tripod.com

C. SAMA WEDA
Kata sama berarti:”Pembawa shanti ke jalan pikiran”. Kata lainnya: “membahagiakan dan mendamaikan jalan pikiran”. Ada empat cara untuk berperang melawan musuh yaitu: Sama, dana, bheda, danda. Sama berarti mengalahkan musuh dengan melalui media wacana dan cinta kasih.
Berbagai Riks di Rig Weda berubah menjadi melodi-melodi pujian di Sama Weda, mantra-mantranya tetap namun melodi-melodinya menjadi lebih lengkap (Sama Gana). Sama Gana adalah dasar dan sumber tujuh nada swara dalm sistem musik India. Dalam Bhagavat Gita Sri Krishna bersabda:” Diantara berbagai Weda, Akulah Sama Weda”. Demikian pentingnya Weda yang satu ini diantara weda-weda yang lainnya.

D. ATHARWA WEDA
Atharwa berarti seorang yang suci, konon memang ada seorang yang bernama Atharwan yang menjabarkan Atharwa Weda ini ke dunia luas. Di Weda yang satu ini menghadirkan berbagai mantram yang dirancang untuk menolak bala, iblis dan menghancurkan para musuh. Di sini terdapat juga berbagai mantra bagi para dewata, kesemuanya ini tidak hadir di berbagai weda lainnya.
Terdapat juga hymn-hymn yang menggambarkan ketakjuban akan alam semesta dan berbagai ciptaan–Nya. Bagian ini disebut “Prithwi Suktam”. Hyang Brahma adalah kebanggaan Weda ini. Tiga Upanishad utama yang terwujud dari Weda ini adalah: Prasna, Mundaka, dan Mandukya Upanishad, yang terakhir berarti jalan moksha seorang pencari kebenaran sejati.
Mantra Gayatri yang paling agung dan suci, yang merupakan pemujaan pertama di dunia kepada Tuhan Yang Serba Maha berasal dari intisari yang hadir di Rig-Yajur-Weda-Sama Weda. Atharwa Weda hadir dengan sebuah mantra lainnya. Mantra ini disebut Atharwa Gayatri. Untuk mempelajari diperlukan inisiasi khusus dengan benang suci (Upanayanam) yang disertai dengan ajaran yang disebut Brahmopadesa. Baru kemudian ajaran ini diturunkan oleh sang guru kepada sang murid.
Di India Utara kaum terpelajar dalam bidang Atharwa Weda ini jumlahnya sangat sedikit, padahal di masa-masa yang lalu tempat ini adalah lumbung ajaran ini. Sedang di India Selatan kaum Athar Wedin tidak murni kwalitasnya. Dan hanya sedikit kaum terpelajar Atharwa Weda yang ada di Gujarat, Sawashtra dan Nepal.
Keempat weda-weda ini terkesan berbeda satu dengan yang lainnya. Weda pertama dan kedua berjarak 4000 tahun, 1000 tahun kemudian lahir weda yang ketiga, dan empat ratus tahun selanjutnya hadir weda yang keempat. Namun esensinya ternyata satu dan sama yaitu kelestarian dan kesentosaan mahluk dijagat raya ini dan menuntun setiap insan ke jalan spritual yang utama.
Uniknya tak satupun weda-weda ini yang menyatakan dirinya sebagai “satu-satunya jalan pencerahan ataupun satu-satunya jalan Tuhan “ seperti yang diklaim agama-agama lain. Sebaliknya semua Weda in menyatakan, setiap jalan atau medium (dewata, malaikat, dan sebagainya) adalah wahana atau jalan ke hakikat yang benar.