Semua tulisan dari Shantiwangi

Brahma Sutras

Brahma-sutras adalah salah satu maha karya dari Resi Agung Sri Wyasa (Resi Abiyasa) yang juga dikenal dengan nama Resi Abhiyasa di Indonesia. Nama lain beliau adalah Resi Krishna- Dwaipayana dan Resi Badarayana. Karya ini bersifat sangat khusus dan seyogyanya hanya dipelajari oleh kaum cendekiawan yang telah mendalami berbagai Weda dan Upanishads (Sruti dan juga Smriti), tanpa landasan ini, maka karya ini akan bersifat asing dan membingungkan. Tidak ada suatu sekte ajaran Hindu-dharma yang tidak berpedoman ke Brahma-sutras ini. Konon dikatakan seorang guru yang ingin membangun sebuah perguruan spiritual di India, diharuskan untuk menulis sebuah referensi penelitian mengenai Brahma-sutras ini melalui sudut pandangannya yang pribadi. Demikianlah, dari masa ke masa kode etik pendirian perguruan spiritual dilaksanakan di tanah Bharata.
Para resi guru dari zaman-zaman yang lalu sampai ke eranya resi-resi guru seperti Sri Shankara Acharya, Sriharsha, Chitsukha dan Madhu Sudana berupaya mengukuhkan faham Monisme secara Hakiki (Keesaan dan Keekaan Tuhan yang serba maha).
Sri Wyasa dianggap sebagai Awatara Wishnu yang juga dikenal dengan nama Badarayana dan Sri Krishna Dwaipayana. Beliau telah menyarikan berbagai Upanishad, Weda, Wedanta, dsb. dan mendiskusikannya di karya Brahma-Sutra ini.
Berbagai Weda terdiri dari tiga bagian utama yaitu : ¾ Karma-kanda, yang berhubungan dengan berbagai ritual- ritual upacara, pengorbanan dan lain sebagainya. ¾ Upasana-kanda, yang berhubungan dengan pemujaan dan meditasi (Upasana). ¾ Jnana-kanda, yang berhubungan dengan Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).
Karma-kanda diibaratkan sebagai kaki manusia, Upasana- kanda diibaratkan sebagai jantung manusia, dan Jnana-kanda ibarat kepala manusia. Yang dimaksudkan kepala ini adalah

www.shantiwangi.com
berbagai Upanishad (Siras), yang dianggap sebagai intisari penting berbagai Wedas.
Kata Mimamsa berarti investigasi atau penelitian yang berhubungan dengan teks (sloka-sloka) suci yang terdapat di berbagai shastra-widhi. Mimamsa dibagi dua, yaitu Purwa Mimamsa (masa silam) dan Uttara Mimamsa (masa-masa selanjutnya). Mimamsa yang pertama mensistimasikan Karma- kanda, yaitu bagian Weda yang berhubungan dengan pelaksanaan dan pengorbanan, bagian ini juga terdiri Samhitas dan Brahmanas. Kemudian Mimamsa yang kedua mensistimasikan Jnana-kanda yaitu bagian-bagian dari Weda yang termasuk bagian Aranyaka yang masuk ke dalam kategori Brahmanas dan berbagai Upanishads. Resi Jaimini adalah pengarang Purwa Mimamsa dan Resi Wyasa guru Resi Jaimini adalah pengarang atau Sutrakara dari Brahma-sutras ini yang juga dikenal dengan nama Wedanta- Sutras. Penelitian Brahma-sutras adalah penelitian synthetik dari berbagai Upanishads yang adalah intisari dari filosofi Wedanta.
Berbagai Weda-Weda adalah karya-karya abadi, yang tidak ditulis atau dikarang oleh manusia, namun dipercayai sebagai nafas yang terhembus keluar dari Sang Hyang Brahma (Hiranyagarbha). Wedanta adalah akhir dari berbagai Weda, dan berhubungan dengan pengetahuan, dan bukanlah spekulasi semata. Wedanta adalah catatan autentik dari berbagai pengalaman mistik spiritual melalui persepsi langsung, maupun melalui realisasi aktual para resi yang agung. Brahma-sutras ini juga disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa.
Sutras adalah intisari dari berbagai argumen spiritual, dan sutras di karya ini telah disingkat ke dalam susunan kata-kata sesedikit mungkin. Hanya para resi agung yang berwawasan luas saja yang mampu untuk menciptakan sutras. Tanpa penjelasan, maka sutras-sutras ini sulit untuk difahami oleh kaum awam (Bhashya, bahasa). Interpretasi sutras telah menghasilkan berbagai faham atau sekte-sekte di jajaran Sanatana Dharma. Sebagian dari faham-faham ini disebut Writtis dan sebagian lagi disebut Karikas. Berbagai Acharyas (pendiri perguruan spiritual) memakai interprasi atau doktrin ajaran mereka secara masing- masing seperti Sri Shankara dengan faham Bhashya yang disebut

www.shantiwangi.com
Sariraka Bhashya dan perguruannya disebut Kewala Adwaita. Bhashyanya Sri Ramanuja menghasilkan perguruan Wisishtadwaita, ajarannya disebut Sri Bhashya. Kemudian ajaran-ajaran Sri Nimbakarcharya dikenal sebagai Wedanta parijata-saurabha. Sri Wallabhacharya mengajarkan filosofi Suddhadwaita (Monisme murni) dan ajaran-ajarannya yang berdasarkan Brahma-sutra ini dikenal sebagai Anu Bhashya.
Bahasa Sansekerta adalah bahasa kuna yang teramat elastis, ibaratnya Kalpataru. Setiap peneliti dapat mengintisarikan berbagai rasa, sesuai dengan daya spiritual dan budhi yang dimilikinya. Itulah sebabnya ajaran-ajaran resi masa lalu masih eksis pengaruhnya sampai kini. Madhwa menemukan ajaran Dwaita, pemuja Wishnu menemukan Bhagawata atau juga disebut Pancharatra; dan pemuja Shiwa (Pasupati, Maheswara) menginterpretasikan Brahma-sutras ini sesuai dengan intuisi dan tendensi spiritual mereka. Resi Nimbharkacharya menemukan ajaran Bheda-bheda-Dwaitadwaita dan beliau ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Resi Bhaskara, yang amat populer pada abad ke sembilan. Ajaran Resi Bhaskara dan Resi Nimbharka menjadi ajaran panutan pada masa tersebut khususnya sangat mempengaruhi Resi Audolomi. Badarayana sendiri banyak menyitir teori ajaran ini di Brahma-sutras.
Ada lebih dari empat belas komentar atas karya Brahma- sutras. Sri Appaya Dikshita misalnya berkomentar atas ajaran Sri Shankara Acharya. Kemudian juga hadir pendapat para guru-guru lainnya seperti Sri Wachaspati Misra dengan karyanya yang disebut Bhamati dan Sri Amalananda Saraswati melalui karyanya yang disebut Kalpataru.
Kesalahan manusia yang memahami diri (raga)nya berbeda dengan Sang Atman adalah akar penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang. Manusia menghubungkan dirinya dengan raganya sehari-hari, bukan dengan Atmannya, sehingga timbul berbagai pemahaman duniawi seperti : “Aku hebat, aku agung”, “Aku cantik dan rupawan”, “Aku jelek dan buruk rupa”, “Aku adalah Raja atau Aku adalah Brahmana”, dsb., dsb. Lalu hadir juga identifikasi dengan berbagai indriyasnya seperti : “Aku bodoh”, “Aku buta, aku tuli”, dsb. Kemudian terdapat juga identifikasi dengan pikiran-

www.shantiwangi.com
pikirannya seperti : “Aku cerdas, aku bodoh”, “Aku marah, aku sakit”, dsb. Objek atau tujuan dari Brahma-sutras ini adalah untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan identifikasi manusia ini dengan berbagai aspek-aspek raganya. Hal ini berhubungan dengan kesalahan atau kekurang-fahaman (kebodohan) dan disebut awidya.
Pada awalnya Upanishad yang beragam-ragam tersebut terkesan penuh dengan kontradiksi. Resi Wyasa meletakkan ke dalam satu sistim di dalam Brahma-sutras ini. Pada hakikatnya intisari seluruh Upanishad sama saja adanya. Resi Audolomi dan Resi Asmarathyapun melakukan hal yang sama dan muncul dengan perguruan-perguruan mereka.
Bagi yang ingin mempelajari filosofi Wedanta, maka diharuskan untuk mempelajari Upanishad Klasik dan Brahma- sutras. Semua Acharya telah menuliskan ulasan mereka akan Brahma-sutras ini. Lima Acharya agung adalah Sri Shankara Acharya dari perguruan Kewala Dwaita, Sri Ramanuja dari perguruan Wisishtadwaita, Sri Nimbarka dari perguruan Bhedabheda-wada, Sri Madhwa dari perguruan yang beraliran keras Dwaita-wada (Dwaitisina), dan Sri Wallabha dari perguruan Sudhadwaitta-wada. Kesemua Resi-resi agung ini setuju bahwasanya Brahman adalah penyebab hadirnya jagat-raya dan isinya ini, dan berbagai ajaran mengenai Brahman ini mengarahkan seseorang ke moksha. Merekapun kemudian mendeklarasikan bahwa Sang Brahman dapat dihayati melalui shastra-widhis dan bukan melalui berbagai diskusi. Namun kelima guru besar ini berbeda pendapatnya satu dengan yang lainnya akan sifat-sifat hakiki Sang Brahman, juga akan hubungan sang jiwa dengan-Nya. Tahap yang dicapai sang jiwa dalam perjalanannya ke arah Brahman dan status jagat-raya, dsb.
Menurut Sri Shankara Acharya, hanya ada satu Brahman yang hakiki yang bersifat Sat-chit-ananda dan homogeneous. Dunia ini adalah Maya, yaitu ilusi (daya ilusif) Sang Brahman yang tidak bersifat Sat maupun Asat. Dunia ini berupa hasil modifikasi Sang Maya (Wiwarta). Brahman hadir sebagai jagat-raya ini melalui ilusi Sang Maya. Beliau adalah satu-satunya Realitas yang Hakiki.

www.shantiwangi.com
Sedangkan menurut Sri Ramanuja, Brahman dengan berbagai atribut-atribut-Nya disebut Sawisesha. Beliau menyandang berbagai sifat-sifat. Beliau bukanlah intelegensia, namun intelegensia adalah sifat yang utama. Beliau ini berisikan seluruh jagat-raya dan isinya, yang bersifat nyata. Benda (Achit) dan jiwa (Chit) adalah raga-Nya, ia disebut Hyang Narayana yang adalah Penguasa Dalam (Antaryamin). Berbagai wujud-wujud benda dan jiwa adalah Prakara-prakara (mode-mode)-Nya. Para jiwa-jiwa tidak akan menyatu dengan Hyang Brahman. Menurut Resi Ramanuja, Sang Brahman bukan satu atau homogeneous. Pada saat pralaya, para jiwa akan berkontraksi. Mereka berekspansi lagi, sewaktu semesta diciptakan lagi (kembali). Brahmannya Sri Ramanuja ini disebut Sakara Brahman, yaitu Tuhan yang memiliki wujud. Para jiwa adalah individu-individu benar, dan akan tetap hadir sebagai manusia. Sang Maha Jiwa bersemayam di Waikuntha-loka sebagai Ishwara atau Hyang Narayana. Bhakti dan bukan Jnana adalah jalan moksha. Sri Ramanuja di dalam ajaran Bhashyanya berpedoman kepada Resi Boghayana.
Menurut Sri Nimbarkacharya, Brahman adalah wujud gaib dan non-gaib. Beliau adalah Nirguna (tidak berwujud) dan juga Saguna (berwujud). Semesta adalah wujud nyata dari Sang Brahman (Parinama). Sang guru ini yakin sekali bahwa Brahman itu ibarat susu dan semesta ini adalah yogurt yang terbuat dari susu tersebut. Menurut ajaran beliau, sang jiwa mampu mendapatkan moksha melalui sifat sejati sang jiwa itu sendiri. Berbagai jiwa di jagat-raya ini adalah bagian dari Sang Brahman, namun moksha tidak berarti penyatuan jiwa dengan Sang Atman (Brahman), namun merupakan tahap final emansipasi yang dicapai melalui bahkti. Seperti Ramanuja, maka sang resi ini yakin setiap jiwa ibaratnya adalah pengejawantahan dari Hyang Wishnu yang berlengan empat.
Mengapa terdapat sedemikian banyak opini dan kebhinekaan di Hindu Dharma ini ? Ini semua karena ajaran Sri Shankara yang agung itu menyatakan Tuhan sebagai Atman yang hakiki, dan hal tersebut tidak dapat difahami oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Sri Madhwa dan Sri Ramanuja mendirikan perguruan yang berbasis bhakti. Bagi kaum yang bijak, maka semua ajaran ini lebih

www.shantiwangi.com
merupakan anak-anak tangga, yang meniti kita sampai suatu saat kita benar-benar mampu memahami ajaran Sri Shankara yang disebut Kewaladwaita. Sri Shankara sangat anti dengan ritual-ritual yang konsumtif dan berkepanjangan, bagi beliau bhakti semacam ini sia-sia belaka, sebaliknya gyana atau pengetahuan akan Yang Maha Esa secara hakiki adalah lebih utama, namun begitu resi agung ini setuju dengan Nishkama Karma Yoga (Yoga tanpa pamrih). Ajaran Shankara dan Wyasa bersifat sangat identik. Para sishya perguruan ini harus mempelajari Sariraka Bhashyanya Sri Shankara Acharya karena filosofi Adwaita ini dianggap yang paling utama di antara ajaran dan tafsir-tafsir Hindhu Dharma.
Seseorang akan memahami Brahma-sutras ini dengan mudah seandainya ia telah mempelajari kedua belas Upanishad; dan anda dapat memahami bab dua karya ini seandainya anda telah memahami pengetahuan atau ajaran-ajaran seperti Sankhya, Nyaya, Yoga, Mimamsa, Waiseshika, Darsana dan Buddhisme. Seluruh ajaran tersebut telah mendasari keterangan Sri Shankara di karya ini. Dr. Thibault telah menterjemahkan karya ini ke Bahasa Inggris. Karya Brahma-sutras ini disebut sebagai salah satu karya Prasthanatraya, dan merupakan buku wajib bagi peneliti dan cendekiawan Hindu Dharma. Karya ini memuat 4 Adhyayas (bab) dan 16 Padas (Bagian), 223 Adhikaranas (Topik), dan 555 Sutras (aphorism).
Bab kesatu (Samanwyayadhyaya) menggambarkan penyatuan dengan Sang Brahman.
Bab kedua (Awirodhadhyaya) membicarakan berbagai filosofi- filosofi yang lainnya.
Bab ketiga (Sadhanadhyaya) berhubungan dengan upaya-upaya Sadhana demi mencapai Brahman dan,
Bab keempat (Phaladhyaya) membicarakan pahala atau hasil dari pencapaian Sang Jati Diri. Setiap Adhikarana mempunyai pertanyaan-pertanyaan tersendiri yang layak didiskusikan. Kelima Adhikarana dari Bab I, dianggap teramat penting untuk dipelajari.

www.shantiwangi.com
Puja-puji bagi Sri Wyasa Bhagawan, putra Resi Parasara, yang telah menulis berbagai Puranas dan memilah-milah berbagai Weda-Weda. Semoga karunia sang resi yang agung dan suci ini beserta kita semua
OM SHANTI, SHANTI, SHANTI.

Upanishads

Sang Hyang Brahman, sumber, pengayom dan akhir dari alam semesta ini, memenuhi segala aspek dari seluruh eksistensi ini. Beliau sadar di kala seseorang insan-manusia itu sadar, Beliau bermimpi dengan mereka- mereka yang bermimpi, dan Beliau tidur lelap di kala seseorang tertidur lelap tanpa mimpi; namun Beliaupun melampaui ketiga tahap ini untuk menemukan Jati Dirinya. Hakikat sebenarnya dari Sang Brahman ini disebut kesadaran murni.
Dengan ini dimulailah Aitareya Upanishad ini,
Semoga kata-kataku bersatu dengan jalan pikiranku, dan jalan pikiranku menyatu dengan kata- kataku. Wahai Dikau Sang Hyang Brahman yang bercahaya dari asalMu sendiri, sudilah menyingkirkan tirai kebodohan yang menghadang di depanku ini, agar dapat kusaksikan cahayaMu. Sudikah Dikau mengungkapkan intisari dari berbagai skripsi-skripsi suci. Semoga kebenaran di dalam skripsi- skripsi ini senantiasa hadir di dalam diriku. Semoga aku senantiasa menyadari hakikat yang telah kupelajari setiap pagi dan malam, dari kaum yang suci. Semoga aku selalu mengutarakan perihal yang benar mengenai Sang Hyang Brahman. Semoga aku selalu mengucapkan kata-kata yang benar. Semoga kebenaran melindungiku. Semoga kebenaran melindungi guruku.
Om shanti-shanti-shanti.
“Sebelum penciptaan, yang hadir hanyalah Sang Hyang Jati Diri, hanya Beliau sendiri. Tidak ada sesuatu apapun juga yang lain. Kemudian Beliau berpikir: “Sebaiknya Aku menciptakan alam-semesta (berbagai loka, dunia).”
“Kemudian, Beliau menciptakan alam-semesta ini
Ambhas…. yaitu dunia atau loka yang tertinggi, jauh di atas langit dan ditunjang oleh sang langit, kemudian Beliau menciptakan Marichi (langit), Mara (dunia ini, sang bumi) dan Apa yaitu dunia bawah tanah.”
Beliaupun berpikir: “Saksikanlah wahai berbagai loka, Aku kirimkan berbagai penjaga bagimu. Kemudian Beliaupun mengirimkan berbagai ragam penjaga ke dunia-dunia ini. Dan kemudian Beliaupun menciptakan beragam bahan makanan untuk mereka ini.”
Beliaupun berpikir: ” Bagaimana mungkin ada para penjaga tanpa Aku berpartisipasi dengan (di dalam) diri mereka ?”
Seandainya tanpa Aku, lalu kata-kata diucapkan, nafas ditarik dan dihembuskan, mata melihat, telinga mendengar, kulit merasai, Pikiran berfikir, alat-alat kelamin berfungsi lalu apakah Aku ini ?
Beliaupun berpikir: “Sebaiknya Aku memasuki para penjaga ini. Beliaupun kemudian membuka (membelah) pusat tengkorak kepala mereka dan memasuki rongga ini. Pintu masuk ini disebut sebagai pintu Karunia.
Keterangan : Pintu masuk ini dikenal oleh para yogin dengan nama Sahashara Cakra, terletak di pusat otak, di antara kedua hyphothalamus, dan merupakan cakra tertinggi dalam tahap meditasi dan kesadaran spiritual. Dikatakan seandainya seseorang mampu terserap ke titik ini di dalam meditasinya, maka insan tersebut akan mencapai hakikat Sang Brahman.
Sang Hyang Jati Diri ini tidak bisa dikenali, namun ada tiga tahap bagi sang jiwa untuk disadari yaitu masing-masing…. tahap kesadaran (alam-sadar), tahap mimpi (alam-mimpi), dan tahap tidur lelap
www.shantiwangi.com
tanpa mimpi. Di dalam ketiga tahap ini hadir Sang Jati Diri. Sewaktu kita berada di tahap kesadaran, maka mata merupakan tempat Beliau bersemayam, dan di kala bermimpi, maka sang pikiran. adalah tempat- Nya bersemayam. dan di kala tidur lelap tanpa mimpi, maka relung hati sanubari yang paiing dalam (berupa teratai) adalah tempat Beliau bersemayam.
Setelah memasuki para penjaga-penjaga ini, Beliaupun memperkenalkan Dirinya kepada mereka. Beliau berubah menjadi berbagai mahluk individual yang beraneka-ragam. Selanjutnya, seandainya seseorang tersadar dari ketiga tahap kehidupan ini, yaitu alam-sadar, alam mimpi, alam tidur lelap, maka yang terlihat adalah hanya Sang Hyang Brahman, yang bersifat Maha Hadir, dan insan ini akan menyatakan “Aku memahami Sang Brahman.”
Keterangan : Tahap memahami atau mengenal Sang Brahman ini disebut tahap Thuriya, di Mandukya Upanisahad. Tahap ini adalah tahap tertinggi penuh dengan Karunia dan CahayaNya, setelah seseorang mampu dituntun melalui ketiga tahap sebelumnya.
“Siapakah Sang Jati Diri ini yang kami ingin puja ini ? Seperti apakah sifat-sifatNya (ciri-ciriNya?). Apakah Beliau ini adalah sang jiwa, melalui apa kami bisa melihat bentuk, mendengarkan suara, mencium aroma, berkata-kata dan merasakan rasa manis ataupun rasa pahit ?.
Apakah hati dan sang pikiran ini, melalui sarana ini kami mampu menerima perintah, mampu berbeda pendapat, mengetahui, berfikir, mengingat, bertekad, merasakan, menghasratkan, bernafas, mengasihi dan melaksanakan berbagai hal dan benar-benar bekerja ?
Tidak, semua ini hanyalah unsur-unsur dari Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Diri yang merupakan kesadaran yang murni. Dan Sang Jati Biri yang merupakan kesadaran murni ini adalah Sang Brahman. Beliau adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Beliau juga adalah semua dewa, kelima unsur maha panca bhuta bumi, udara, api, air dan ether; setiap mahluk baik yang besar maupun kecil, baik yang terlahir dari jenis telur, dari kandungan, dari panas, dari bumi, dari berbagai hewan kuda, sapi, dan insan manusia, dari berbagai hewan jenis gajah, burung, dan setiap mahluk yang bernafas, yang berjalan dan tidak berjalan. Sang Brahman adalah Realitas dibalik semua unsur-unsur ini, dan Beliau adalah Kesadaran Sejati.
Semua ini, sewaktu masa kehidupan, dan setelah kematian, hadir di dalamNya.
Demikianlah, Vamadewa, seorang resi suci, setelah menyadari akan hakikat Sang Hyang Brahman sebagai kesadaran sejati dan murni, berpisah dengan kehidupan ini, beliau berangkat ke Swarga-loka dan mendapatkan berbagai keinginannya dan beliaupun mencapai tahap keabadian.
Om Shanti Shanti Shanti OM TAT SAT

Ashtavakra-Gita

Diantara berbagai karya sastra agung dan suci yang datang dari tanah Bharata (India), tanahnya para resi-resi ini, Ashtavakra-Gita yang sering disebut juga Ashtavakra-Samhita ini merupakan karya yang maha unik dari segi spiritual dan filosofi yang dikandungnya.  Karya sastra yang adi-luhung  ini menjabarkan dengan metodenya sendiri tentang pengalaman-pengalaman mistik dari seorang manusia dalam mencapai kedamaian dan penyatuan transedentalnya dengan Sang pencipta.

Seperti halnya Bhagavat-Gita, karya suci dan agung ini menjabarkan kebenaran dan filosofi kehidupan secara lembut dalam bentuk dialog-dialog yang padat antara seorang maha-raja rishi (Raja-rishi) Janaka yang disini hadir sebagai sang sishya (murid) dengan gurunya bernama Ashtavakra.

Legenda mengenai Ashtavakra ini dikisahkan di dalam Mahabharata sebagai  suatu kisah yang menakjubkan.  Sewaktu Ashtavakra masih dikandung oleh Sujata, ibundanya maka sang ayah yang bernama Kahor, seorang peneliti veda-veda, setiap harinya membacakan Mandala-Mandala suci kepada  sang janin sering hingga larut malam. Dan sang jabang-bayi yang jenius ini telah mempelajari bait-bait Veda semenjak dikandungan ibunya, dan pada suatu hari ia mendadak berteriak dari dalam rahim ibunya,  “Tat Tat! Ayahku. Melalui kasih sayangmu daku telah mempelajari seluruh veda-veda, bahkan sewaktu aku masih dalam kandungan ibuku ini. Hanyalah sudilah memaafkan  daku yang lancang ini mengoreksi ayahanda yang sering melakukan pengucapan-pengucapan yang salah”.  Sang ayah, Kahor tidak bisa menerima kenyataan ini dan beliau dengan kemarahannya yang amat sangat mengutuk putranya ini, dan lahirlah sang jabang-bayi dengan lekukan (cacat) di tubuhnya, Ashta (delapan) dan Vakra (cacat akibat lekukan), menjadi namanya.

Selanjutnya dikisahkan sang ayah karena dilanda kemiskinan meninggalkan  keluarganya dan beryatra ke istananya Raja Janaka demi mendapatkan suatu pekerjaan dibidang spiritual di dalam lingkungan kerajaan.  Melalui seleksi pengujian yang dilakukan oleh seorang intelektual yang bernama Sri Vandini yang bertugas sebagai pengajar filosofi kerajaan.  Ternyata ayah Ashtavakra ini gagal dalam ujian spiritual ini dan Kahor yang malang ini harus menjalani baktinya sebagai pelayan ayah Sri Vandini yang telah lanjut usia untuk kurun waktu yang tidak ditentukan.  Bertahun-tahun  berlalu dan tak seorangpun keluarganya yang tahu akan nasib Kahor yang malang ini.

Di sisi lain, Ashtavakra yang sangat cerdas ini selalu diejek oleh teman-teman sekolahnya karena ia tidak mempunyai seorang ayah.  Pada suatu hari didorong oleh kesedihannya ia memohon kepada ibunya yang selama ini merahasiakan tentang ayahnya, agar sudi menceritakan sesuatu tentang keberadaan ayahnya.  Sang ibu kemudian membuka rahasia bahwa ayahnya pernah merencanakan kunjungan ke istana Raja Janaka tetapi kemudian hilang tak tentu rimbanya.  Ketika itu usia Ashtavakra masih 12 tahun dan iapun langsung melakukan perjalanan ke Videka, kerajaan Sang Prabhu Janaka.

Secara singkat dikisahkan dengan segala susah-payah ia akhirnya berhasil memasuki istana  sang raja karena walaupun ia masih seorang bocah cilik toh daya inteleknya tidak kalah dari para resi-resi agung di masa silam.

Sekali lagi Sri Vandini menguji Ashtavakra dan sekali ini Sri Vandini kalah dan gagal dalam diskusi spiritualnya dengan Ashtavakra  dan sebagai konsekuensinya ia membebaskan ayahanda Ashtavakra.  Bersama ayahnya mereka berdua menuju ke sungai Samanga dan di sungai ini Ashtavakra disucikan dan dimandikan lalu diberkahi oleh sang ayah. Begitu ia keluar dari sungai, seluruh cacat di tubuhnya menghilang dan Ashtavakra berubah menjadi tampan dan bercahaya seluruh raganya.

Kembali ke karya sastra ini, kabarnya karya ini berasal dari kurun waktu sebelum sistem-sistem karya filosofi dharma dikenal masyarakat India di zaman itu.  Seperti juga halnya dengan Bhagavat-Gita, karya ini sarat dengan ekspresi-ekspresi yang penuh arti walaupun terkesan sederhana penyampaiannya … dan sama halnya dengan Bhagavat-Gita, sang guru di sini menjauhi diskusi filosofi dan sebaliknnya lebih banyak mengarahkan perhatian sang murid ke Realitas Spiritual yang tersembunyi di balik kehidupan ini.

Para peneliti di India secara seksama menetapkan bahwa Ashtavakra-Gita ini hadir langsung setelah Bhagavat-Gita diperkenalkan, suatu kurun waktu di mana India mulai memasuki zaman filosofi spiritualnya dan studi-studi mengenai dharma dan Ketuhanan Yang Maha Esa  dimulai.

Diperkirakan juga kelahiran gita ini dekat sekali dengan zamannya berbagai Upanishad yang berasal dari tahap kemudian  diantaranya yang disebut Sivestawatara, Mundaka, Mandukya Karika dan sebagainya. Diperkirakan juga ada ajaran-ajaran Sang Buddha mengenai konsep Non-Eksistensi (Shunya-Vada) di karya sastra agung ini.

Karya ini tidak mengajarkan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk personal  (Sakara-Brahman) seperti yang tersirat di dalam Bhagavat-Gita. Karya ini lebih condong ke Upanishad-Upanishad Utama yang berfahamkan ide-ide monistik.  Buku ini sangat bermanfaat bagi para pemuja yang mengambil jalan meditasi (Dhyana-Yoga), karena secara langsung menunjukkan jalan dan tujuan meditasi.  Bagi yang belum terbiasa dengan jalan meditasi, maka karya ini akan sia-sia saja, ibarat seorang murid kelas nol yang mempelajari pelajaran di Universitas dan bisa-bisa malahan  membahayakan upaya spiritualnya.  Sebaliknya sangat dianjurkan  agar buku ini  dipelajari oleh mereka-mereka yang telah banyak mendalami jalan meditasi dan berbagai studi spiritual karena akan bermanfaat teramat sangat baginya untuk meniti dan mencapai jalan kebenaran tentang Hakekat  Tuhan yang Maha Esa dalam bentuk Sang Jati Diri.

Bagi pemeluk Sanathana Dharma yang dikenal dengan sebutan agama Hindhu-Dharma, karya ini akan sangat mengagetkan karena mungkin dianggap bertentangan dengan konsep-konsep Hindhu yang selama ini dikenal di Indonesia khususnya di Bali. Padahal kami yakin konsep Sang Jati Diri dan Kemanunggalannya sudah dikenal semenjak kurun waktu yang amat lama di Nusantara, khususnya di dalam konsep Kejawen.  Sebagai suatu contoh: Resi Ashtavakra tidak mengakui adanya  prinsip Sang Maya, tidak juga beliau mengakui keberadaan sang jiwa, atau Sang Pencipta (Ishwara) ataupun konsep jagat-raya.  Baginya semua ini adalah Satu Sang Jati Diri yang merupakan Maha Kesadaran yang bersifat Maha  Tunggal dan Tak Terjabarkan.  Walaupun begitu di India, Maha  Karya ini merupakan buku favorit di samping Bhagavat-Gita yang gemar sekali dipelajari oleh kaum ilmuwan Hindhu karena dianggap sebagai suatu  KARYA ADI LUHUNG demi mengartikan dan memahami Keagungan Yang Maha Esa dari sisi filosofi yang lainnya.  Bagi Resi Ashtavakra, hanya ada satu tujuan yang harus didambakan dan dicapai yaitu ilmu pengetahuan tentang Sang Jati Diri melalui intuisi mistik langsung yang disebutkannya sebagai vignana (Kekurang-pengetahuan atau kebodohan spiritual).

Pada tahap akhir maha karya ini, para peneliti dan sidang pembaca akan mengalami berbagai visi dan penampakan yang mempesonakan secara spiritual yang berlandaskan konsep Sang Jati Diri yang akan melarutkan konsep dualistik yang dikenalnya selama ini sebagai yang mengetahui, sebagai ilmu-pengetahuan, dan sebagai mengetahui (Mempelajari kedua  Aspek tersebut).  Sebenarnya kedalaman  karya agung ini  sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata, tetapi seharusnya didalami dengan memasuki kedalaman suatu keheningan yang bersifat dinamis di dalam suatu meditasi pribadi setiap individu.  Sekali lagi karya ini bukan untuk mereka-mereka yang masih awam di dalam  penetrapan studi mengenai Hindhu Dharmanya dan masih terjebak dalam “ke-akuannya” yang berlandaskan ritual-ritual kosong, tetapi  karya ini lebih condong dipelajari oleh manusia-manusia yang berkualitas raja  Janaka  yang walaupun adalah seorang Maha Raja  Resi toh ia bersikap sangat sederhana dan TANPA RASA MEMILIKI APAPUN JUGA.  Suatu saat dikala istananya yang konon dikatakan teramat fantastis itu terbakar ludes oleh api, beliau dengan tulus mengatakan “Kalau Mithila  terbakar, tidak ada suatu apapun milikku yang terbakar”.  Di karya ini, raja Janaka mengatakan, sebenarnya di satu sisi, tak satu benda pun adalah milikku.  Dan di sisi yang lainnya semuanya adalah punyaku semata-mata”.

Karya sastra ini kami hadirkan di satu puhak untuk mereka-mereka yang bermeditasi kepada Sang Jati Dirinya agar dapat menimba lebih banyak lagi dari segi sisi-sisi spiritual dan mistik Yang Maha Kuasa, dan dipihak lain agar umat sedharma dapat memahami bahwa Sanathana Dharma (Hindhu-Dharma) ini bukan sekedar ritual-ritual indah belaka ataupun pengorbanan hewan yang tidak ahimsa sifatnya dan sesat, juga bukan pembuangan dana dalam jumlah yang besar dan sia-sia, tetapi sesungguhnya penuh dengan kandungan yang adiluhung sifatnya dan bukan milik satu golongan semata-mata dan sebenarnya karya ini sangat berkorelasi dengan ajaran-ajaran Dharma yang lainnya dan merupakan suatu kesinambungan yang amat kaya dari masa yang teramat silam sampai dengan masa kini.

Di era kali ini para filsuf dan para guru di India telah menjabarkan semua ini melalui teknologi mutakhir seperti dengan menggunakan satelit, komputer dan berbagai sarana lainnya ditunjang oleh para ilmuwan dari Barat dan India sendiri yang yakin bahwa sudah saatnya Sanathana-Dharma ini menjadi landasan  kehidupan semua umat yang sadar dan sedang mencari hakekat dari Sang Pencipta alam-semesta dan kehidupan ini.  Kebhinekaan dalam Sanathana-Dharma ini memperkaya perbendaharaan ilmu-pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa.  Bagi kami sebanyak mungkin ilmu-pengetahuan tentang Yang Maha Esa semakin baik bagi umat manusia.  Semoga  AJARAN ADI LUHUNG INI DAPAT BERMANFAAT BAGI KITA semuanya.  Di dalam karya ini seluruh seloka-seloka asli diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia dengan tafsiran seminimum mungkin, agar yang mempelajarinya dapat menafsirkannya sendiri sesuai dengan kadar kandungan spiritual yang dimilikinya masing-masing.  Sesungguhnya hanya mereka-mereka yang telah mempelajari berbagai karya suci seperti Puranas, veda-veda, shastras, simritis, Bhagavat-Gita dan sebagainya sajalah yang akan mampu merasakan dalamnya isi dan kandungan  ajaran ini melalui intuisi murninya,  selamat mempelajari karya ini, dan mohon koreksinya untuk terjemahan bebas ini yang pasti masih jauh dari kesempurnaan, karena terbatasnya intuisi spiritual maupun daya intelek kami.  Dengan sangat senang hati kami mohon dituntun oleh sidang pembaca agar karya ini dapat tampil lebih sempurna di masa yang akan datang.

                                                                                                  Mohan M.S.

Bhagavat Gita Bab XVIII

BAB XVIII

Kata Terakhir

Berkatalah Arjuna:

18.1

Arjuna uvāca
sannyāsasya mahā-bāho
tattvām icchāmi veditum
tyāgasya ca hṛṣīkeśa
pṛthak keśī-niṣūdana

Aku berhasrat, oh Krishna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang yaga

Penjelasan : Arjuna sebenarnya bertanya dan ingin mengetahui apakah perbedaan ‘antara sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan setiap tindakan, perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan yang diikuti oleh keinginan keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada saja perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif egois seperti makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak dapat ditinggalkan atau diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti harfiah, baik oleh seorang yang teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau seseorang sama sekali tak bekerja atau berbuat sesuatu, maka orang semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang sanyasin.

Sedangkan tyaga berarti penyerahan total hasil dari setiap tindakan, perbuatan dan aksi kita ini. Setiap buah atau hasil dari berbagai perbuatan kita dipasrahkan atau dikembalikan kepadaNya lagi. Semua pekerjaan orang semacam ini (sanyasin) adalah kewajibannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu. Pekerjaan dan perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi inilah sebenarnya motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi yang tanpa pamrih dan demi Ia semata.

Seorang tyagi (penganut tyaga) tidak akan menjauhi ketiga pekerjaan utamanya, yaitu: yagna, dana, dan tapa. Tindakan-tindakan ini baginya adalah kewajiban, disiplin bagi diri pribadinya dan untuk tujuan sosial bagi sesamanya, berdasarkan kewajiban dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa. Perbuatan dan pekerjaan ini bukan merupakan ikatan-ikatan duniawi tetapi sebenarnya adalah jalan ke arah pembebasan atau penerangan baginya. Sanyasa atau tyaga tidak berarti menjauhi pekerjaan atau hal-hal yang bersifat duniawi dan segala efek atau aktivitasnya, tetapi berarti tetap bekerja tetapi tanpa suatu motivasi, imbalan atau pamrih yang penuh dengan ego, keserakahan dan harapan. Semuanya seharusnya dilakukan dan dipersembahkan kembali kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih.

 Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
18. 2

śrī-bhagavān uvāca
kāmyānāḿ karmaṇāḿ nyāsaḿ
sannyāsaḿ kavayo viduḥ
sarva-karma-phala-tyāgaḿ
prāhus tyāgaḿ vicakṣaṇāḥ

Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari bentuk-bentuk Dekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan sebagai penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang dilakukan seseorang.

18.3

tyājyaḿ doṣa-vad ity eke
karma prāhur manīṣiṇaḥ
yajña-dāna-tapaḥ-karma
na tyājyam iti cāpare

“Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis,” kata sementara pemikir. “Aksi~ aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak boleh dilepaskan,” kata yang lainnya.

Penjelasan : Banyak pemikir atau orang-orang pintar, para penganut ajaran Kapila (yang disebut ajaran Sankhya), mengutuk semua bentuk aksi, tindakan dan perbuatan karena bagaimanapun juga kata mereka tak ada pekerjaan, aksi atau sesuatu perbuatan yang tanpa maksud dan motif, sekecil apapun tindakan tersebut. Jadi menurut mereka setiap pekerjaan ada motivasinya, dan itu berarti menyandang dosha, dan dosha (dosa) inilah penyebab keterikatan kita pada dunia ini, jadi semua bentuk aksi atau tindakan harus dilepaskan. Tetapi para pemikir golongan lainnya, yang disebut Mimansaka, berpendapat tindakan atau perbuatan pengorbanan (yagna), tapa dan dana harus dilaksanakan karena tindakan-tindakan ini menyucikan diri dan membantu seseorang mendaki tahap-tahap evolusi spiritualnya.

Apa yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita sebenarnya adalah melepaskan semua keterikatan-keterikatan akan hasil atau buah dari semua yang kita lakukan dan perbuat. Dengan kata lain terjadilah kehendakNya adalah arti dari ajaran Bhagavat Gita. Semua pekerjaan atau kewajiban sehari-hari kita harus dilakukan demi kebenaran dan kebaikan (dharma) dan dedikasi kita kepadaNya. Seseorang benar benar bertindak seandainya ia bertindak atau bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari hasil perbuatannya.

18.4

niścayaḿ śṛṇu me tatra
tyāge Bhārata -sattama
tyāgo hi puruṣa-vyāghra
tri-vidhaḥ samprakīrtitaḥ

Dengarkanlah sekarang. oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang. Penyerahan total dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.

18.5

yajña-dāna-tapaḥ-karma
na tyājyaḿ kāryam eva tat
yajño dānaḿ tapaś caiva
pāvanāni manīṣiṇām

 Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidaK boleh diabaikan. tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan. dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana.

Penjelasan: Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi Setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa  kita dari noda noda duniawi ini. 

18.6

etāny api tu karmaṇi
sańgaḿ tyaktvā phalāni ca
kartavyānīti me pārtha
niścitaḿ matam uttamam

 Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan sesuatu pamrih. lnilah, oh Arjuna, keputusan dan pandanganKu yang final.

Penjelasan : Jadi walaupun ketiga faktor penting di atas harus dilakukan, tetapi tetap saja menurut keputusan akhir (keputusan final) Sang Krishna, perbuatan-perbuatan itu harus dikerjakan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan dalam bentuk apapun juga, baik secara spiritual maupun duniawi. Ini sudah merupakan keputusan Yang Tegas, dari Yang Maha Esa, tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Di pihak lain setiap tindakan sehari-hari apapun juga harus tetap dilaksanakan tanpa pamrih tetapi demi kewajiban kita kepada semuanya dan terhadap Yang Maha Esa dan lokasangraha (kesejahteraaan demi kemanusiaan).

Yang panting adalah penyerahan total dari semua nafsu dan keinginan, semua bentuk ego yang mementingkan diri sendiri. Kalau kita tidak mau menyerahkan pikiran-pikiran negatif ini secara total, maka timbullah kama (nafsu dan keinginan) yang sebenarnya sudah ada dan hadir dalam pikiran dan indra-indra kita.

Sering timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk menyingkirkan kama ini? Menurut teori di Barat yang diilhami oleh Freud, maka sebaiknya kama dijadikan teman saja dan semua keinginannya dipenuhi saja. Tetapi ajaran Hindu menolak mentah-mentah hal ini, karena kama ini ibarat api dan kalau dipenuhi terus mcnerus semua hasrat-hasratnya maka ibarat memberi minyak pada api ini, yang akibatnya adalah makin membara dan membesarnya api ini. Lalu ada ajaran yang mengatakan tindaslah kama atau nafsu ini. Tidak, menindasnya tidak menolong sama-sekali, karena bentuk nafsu atau kama ini tidak dapat ditindas karena sifat-sifatnya yang tidak dapat dimengerti dan amat misterius, apalagi oleh mereka yang masih jauh dari jalan spiritual.

Jalan yang benar untuk menjauhkan kama atau nafsu ini adalah dengan abhyasa atau meditasi, dengan usaha upaya atau praktek yang berketerusan. Dengan kata lain, seperti yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita, yaitu dengan kendali diri yang disertai dengan penuh kesadaran atau mawas diri. Dengan kesadaran dan tekanan Pada pikiran kita bahwa sebenarnya indra-indra dan nafsu kitajuga bisa diarahkan ke arah yang positif secara spiritual dan duniawi, yaitu ketenangan dan kekuatan, kesucian dan kebenaran. Langkah demi langkah, secara perlahan tetapi pasti kita

harus mengarahkan pikiran kita dan mengendalikannya (bukan menghentikannya sama sekali, tetapi mengendalikannya!) secara positif. Secara perlahan pastikan diri kita bahwa pemuasan nafsu-nafsu indra-indra kita secara tanpa kendali itu bukanlah cara dan jalan yang baik, begitupun menindas nafsu ini bukan juga jalan keluar. Jalan yang terbaik adalah yang terletak di tengah-tengah kedua metode tersebut, yaitu kendali-diri dengan mengendalikan nafsu-nafsu yang beraneka-ragam ini dan mempergunakannya seperlunya saja dan secara positif. Sadarlah akan suatu pengetahuan, yaitu tubuh kita ini dibentuk ibarat mata-pisau yang tajam dan peka; pisau itu dapat dipergunakan untuk tujuan positif seperti memotong sayur-sayuran dan kayu, atau untuk hal-hal negatif seperti membunuh atau merampok orang. Lalu bagaimana seharusnya kita gunakan tubuh ini dan semua indra-indranya. Untuk tersesat di dunia ini tanpa kendali dan terikat selama-lamanya secara duniawi atau untuk mengabdi dan kembali mengenal Yang Maha Esa. Dalam melakukan kendali diri yang penuh kesadaran ini, maka setahap demi setahap akan terbuka horizon baru dalam kehidupan kita dan akan nampak pergantian yang ajaib, misterius dan penuh dengan mukjizat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena merupakan suatu pengalaman yang misterius dan spiritual. Seseorang yang indra-indranya terkendali dan terpakai secara positif akan menemui pengalaman-pengalaman unik, karena jiwa dan pikirannya yang bersih akan melakukan kontak-kontak ke obyek obyek indranya dengan hasil yang berlainan sifatnya dari yang dialami selama ini. Kontak-kontak spiritual akan berlangsung secara otomatis, ingat pisau yang bermata dua, begitu pun indra-indra kita dapat dipergunakan secara duniawi dan secara spiritual, suatu potensi yang tersembunyi tetapi amat dahsyat karena kita tidak tahu akan hal ini selama kita terjebak dengan yang duniawi. Setelah itu akan timbul, secara perlahan tetapi pasti, sinar atau penetangan dalam hidup kita. Dan sekali ini tercapai maka seseorang yang telah hasil kerjanya secara total kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih, akan menjadi Seseorang yang tetap bekerja di dunia ini sesuai dengan kewajibannya, tetapi sama sekali tanpa nafsu atau keinginan duniawi, karena ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih menarik lagi dari semua itu, sesuatu kekuatan yang misterius dan membahagiakannya secara lahir dan batin, ia pun akan menjadi pusat dan inspirasi atau penerangan bagi mereka-mereka yang masuk ke dalam radius pengaruhnya. Jalan ke arah ini memang nampaknya sukar untuk manusia, tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini seandainya seseorang telah beritikad ke arah itu, karena memang setiap manusia diberikan potensi yang amat besar untuk melakukannya. Jadi terserah kita lagi, jalannya memang sukar, dan banyak jatuh-bangunnya, banyak jurang dan jeram yang menghadang, tetapi Yang Maha Esa sendiri secara “pribadi” akan menuntun kita, akan membimbing kita dan mengajarkan kita cara-cara mengatasi semua rintangan ini dan individu individu yang kuat akhirya akan sampai kepadaNya, karena itulah janji Yang Maha Esa kepada kita semua dan itulah tujuan yang dimaksud olehNya, yang telah ditentukan olehNya. Tanyakanlah kebenaran akan hal ini kepada mereka-mereka yang dianggap telah mencapai kesadaran ini, dan semua kebenaran akan dijawab dengan kebenaran. 0m Tar Sat.

18.7

niyatasya tu sannyāsaḥ
karmaṇo nopapadyate
mohāt tasya parityāgas
tāmasaḥ parikīrtitaḥ

Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya itu. adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut karena kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).

 Penjelasan: Pekerjaan atau perbuatan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban seseorang dan merupakan keharusan sehari-hari (tertera jelas dalam pustaka-pustaka Hindu), tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun juga. Berbuat demikian menandakan kebodohan yang amat dalam dari si pelaku tersebut. Begitupun tindakan seperti dana, tapa dan yagna, berulang-ulang ditekankan agar tidak diabaikan, karena merupakan penyucian dari jiwa dan raga kita.

Tyaga sendiri terbagi dalam tiga sifat, yaitu ramasik, rajasic dan sattvik. Tyaga yang sejati adalah yang bersifat satrvik di mana lepas sudah bahkan itikad akan hasil atau buah dari tyaga itu sendiri. Sedangkan dalam sifat tyaga yang tamasik terlihat jelas dominasi dari keterikatan (moha), ilusi, kebodohan, kegelapan dan hasrat untuk mendapatkan imbalan-imbalan tertentu baik sccara spiritual maupun duniawi. Tyaga semacam ini disebut gelap sifatnya. Misalnya: seorang pria meninggalkan semua pekerjaannya atau kewajiban rumah-tangganya demi seorang wanita atau demi menuntut suatu kesaktian tertentu untuk tujuan duniawi, ini disebut cinta-duniawi yang menyesatkan dan bukan tyaga pemasrahan total.

18.8

duḥkham ity eva yat karma
kāya-kleśa-bhayāt tyajet
sa kṛtvā rājasaḿ tyāgaḿ
naiva tyāga-phalaḿ labhet

Seseorang yang tidak mau bertindak sesuatu karena merasa tindakan itu menyusahkannya atau khawatir akan menjadi derita untuk fisiknya disebut melakukan tyaga bersifat rajasik. Dan tyaga semacam ini tidak akan menghasilkan keuntungan apapun juga.

Penjelasan: Tyaga bersifat rajasik tidak akan menghasilkan mukti (pembebasan) karena seorang yang melakukan tyaga ini hanya melakukannya demi menjauhi derita, tantangan hidup dan kesusahan atau kerja keras.

18.9

kāryam ity eva yat karma
niyataḿ kriyate ‘rjuna
sańgaḿ tyaktvā phalaḿ caiva
sa tyāgaḥ sāttviko mataḥ

Seseorang yang melakukan sesuatu tindakan seperti yang telah diwajibkan, oh Arjuna, karena harus dilakukannya, tanpa keterikatan dan pamrih tyaga semacam itu dipandang sebagai bersifat sattvik (bersih).

 Penjelasan: Tyaga yang sejati adalah yang bersifat satrvik, yaitu tyaga yang tanpa keterikatan. hasil atau buah. Pekerjaan yang dilakukan ini sudah menjadi kewajibannya sesuai dengan anjuran dan kaidah-kaidah yang tertulis di buku-buku suci. Dan semua kewajiban ini dilaksanakan sebagai kewajiban semata tanpa mencari atau mengharapkan sesuatu keuntungan, imbalan dan rasa egoisme.

18.10

na dveṣṭy akuśalaḿ karma
kuśale nānuṣajjate
tyāgī sattva-samāviṣṭo
medhāvī chinna-saḿśayaḥ

Seseorang bijaksana yang telah diliputi oleh sifat-sifat sattva (kesucian), yang keragu-raguannya telah terbuang jauh seseorang yang pasrah semacam ini tidak membenci sesuatu tindakan yang tidak menyenangkan, juga tidak terikat pada suatu tindakan yang menyenangkan.

Penjelasan: Seorang ryagi (pelaksana tyaga) yang telah pasrah total kepada Yang Maha Esa, yang telah menyerahkan diri dan semua tindakan-tindakannya sekecil apapun perbuatan atau tindakan tersebut kepadaNya dan telah mencari dan mendapatkan perlindunganNya, tak akan pernah ragu-ragu dalam bertindak apapun juga. Baik itu tindakan nikmat dan memberikan kepuasan dan kesenangan ataukah tindakan itu memberikan rasa derita, kegagalan atau kedukaan, baginya sama saja sifatnya. Baginya yang wajib adalah bekerja, dan semua emosi, hasil atau efek dari pekerjaan itu tidak penting sifatnya karena ia sadar bahwa ia tidak menghasilkan atau memberikan suatu efek kepada setiap tindakannya, melainkan semua itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan terjadilah kehendakNya sesuai dengan keinginanNya, ia hanya alat dan sebuah alat hanya berkewajiban untuk bekerja sewaktu dipergunakanNya dan tidak berhak untuk memprotes majikan yang mempergunakannya ataupun menilai hasil kerja dari alat itu sendiri. Semuanya terserah kepadaNya. Baginya nikmat dan derita sama saja rasanya, saling mengisi malahan, dan semua itu diterimanya dengan sama rata dan tanpa banyak mengeluh. Jadi dengan kata lain, Sang Krishna Yang Maha Pengasih sedang mengajarkan Arjuna dan kita semua agar menerima dan memainkan peranan kita masing-masing di dunia ini secara setia dan penuh semangat. Jangan berduka atau bersuka baik dalam kegagalan maupun dalam kesuksesan.
Pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Esa!” Karena hanya kehendakNya saja yang akan terlaksana, bukankah kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan di dunia ini, dan sekali kita lahir dan tumbuh. lalu mengapa harus kita yang mengatur hidup ini, mengapa tidak dikembalikan semua skenario kehidupan ini kepada Sang Sutradaranya sendiri. Camkanlah pesan ini dan jadilah sebuah alat yang baik atau seorang pemain sandiwara kehidupan ini yang baik dan penuh dedikasi.

Seseorang yang bekerja sesuai dengan kewajibannya sadar bahwa suatu kewajiban yang dilaksanakan tanpa pamrih akan menuntunnya ke arah penerangan Ilahi, ke arah pembebasan dari ikatan dan derita duniawi. Seseorang yang secara sejati bekerja tanpa pamrih tidak akan pernah mau mengkhayal mengharapkan sedikit pun akan penerangan Ilahi, semua pekerjaan ia lakukan secara tulus dan penuh dengan tekad, yaitu dengan pemikiran terjadilah kehendakNya semata. dan

pekerjaan adalah hukum alam di dunia ini bagi semuanya, sebagai misi yang diembannya dari Yang Maha Esa. Itulah kaidah atau hukum spiritual ini -yakinlah akan Yang Maha Esa dan semua kehendakNya. Tyaga yang sejati berarti bekerja tanpa pamrih, bukan tidak bekerja sama sekali.

18.11

na hi deha-bhṛtā śakyaḿ
tyaktuḿ karmaṇy aśeṣataḥ
yas tu karma-phala-tyāgī
sa tyāgīty abhidhīyate

Sebenarnya, tidak mungkin bagi seseorang mahluk yang memiliki raga untuk tidak bekerja secara total. Sebenarnya, seseorang yang memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya disebut sebagai seorang tyagi.

18.12

aniṣṭam iṣṭaḿ miśraḿ ca
tri-vidhaḿ karmaṇaḥ phalam
bhavaty atyāgināḿ pretya
na tu sannyāsināḿ kvacit

Tidak nikmat, nikmat dan perpaduan keduanya ketiga sifat ini adalah hasil dari setiap perbuatan yang akan didapati setelah meninggalkan dunia ini, bagi mereka-mereka yang tidak menyerahkan perbuatannya. Tetapi bagi mereka-mereka yang telah menyerahkan hasil perbuatannya, tak ada semua itu.

 Penjelasan: Seorang tyagi yang sejati adalah seseorang yang tidak mengabaikan pekerjaannnya, tetapi hasil atau buah dari pekerjaannya. Dan di sloka di atas ini Sang Krishna menyinggung soal hasil atau buah perbuatan seorang sanyasin, yaitu sesorang yang telah memasrahkan secara total dan tanpa pamrih seluruh efek dari perbuatan-perbuatan dan kewajibannya. Bagi orang semacam ini, menurut Sang Krishna tak akan menghasilkan suatu efek atau buah (karma), karena perbuatan-perbuatannya telah menyatu dengan kehendakNya.

Di Bhagavat Gita sering kita jumpai istilah-istilah seperti tyaga dan sanyasa, tyagi dan sanyasin, yang kesemuanya ini sebenamya adalah istilah=istilah altematif yang dipergunakan oleh Sang Krishna dalam mengajar Bhagavat Gita. Sang Krishna pada prinsipnya tidak menganjurkan seseorang agar melepaskan atau mengabaikan pekerjaannya. Ia hanya menganjurkan agar terjadi peralihan dari semua kamya-karma (pekerjaan yang bermotivasi sesuatu) ke nishkama (yaitu pekerjaan tanpa pamrih).

Seseorang yang tidak mempunyai motif-motif duniawi untuk setiap pekerjaannya adalah ibarat sebuah pohon yang lebat di tepi sebuah sungai (tempat yang subur). Buah pohon ini pergi ke orang-orang yang membutuhkannya. Sedangkan orang ini sendiri tidak perlu ke mana-mana lagi, karena ia sudah tegar dalam kewajibannya dan telah menyatu dengan Yang Maha Esa.

18.13

pañcaitāni mahā-bāho
kāraṇāni nibodha me
sāńkhye kṛtānte proktāni
siddhaye sarva-karmaṇām

Pelajarilah dariKu, oh Arjuna, lima unsur penyebab, penyelesaian semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin Sankhya.

18.14

adhiṣṭhānaḿ tathā kartā
karaṇaḿ ca pṛthag-vidham
vividhāś ca pṛthak ceṣṭā
daivaḿ caivātra pañcamam

Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa (Karta) berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (cheshta) dan yang kelima. yaitu takdir (daivam).

Penjelasan: Di sloka ini Sang Krishna mulai menerangkan tentang lima penyebab atau unsur atau kondisi dari setiap tindakan sampai selesai atau (akhir dari tindakan/ perbuatan tersebut). Yang pertama adalah adhislzthanam, yaitu raga atau badan kita yang merupakan tempat bersemayam (rumah-tinggal) Sang Jiwa dan berbagai keinginan kita. Yang pertama ini adalah raga duniawi atau jasad kasar kita.

Yang kedua disebut karta atau sang agen. Siapakah Sang Agen? Tidak lain dan tidak bukan adalah sang jiwa kita, personalitas dalam raga ini, sang raja ego. Bergabung dengan Sang Prakriti, Sang Jiwa ini pun lupa pada bentuknya yang Asal dan Asli, yaitu Atma-Svarupa, dan dalam keangkuhan rasa egoisme ia pun lalu berkata “aku, akulah yang memiliki ini dan itu,” “akulah yang berbuat,” dan lain sebagainya. Dalam mencapai kebebasan jiwa kita, maka rasa ego ini harus dilepaskan agar tersingkaplah yang asli ini.

Yang ketiga disebut karanam atau instrumen/alat. Alat-alat ini adalah kesepuluh indra-indra, pikiran, rasa intelek, dan ahankara kita.

Yang keempat adalah cheshta, yaitu usaha, fungsi prana atau energi-vital atau nafas dalam raga kita.

Yang kelima disebut daivam, takdir, sesuatu yang tak terjangkau oleh manusia itu sendiri, pada hal ini yang menentukan dan menjadi jalan hidup kita sebenarnya yang menghasilkan setiap usaha dan efeknya yang berhubungan dengan usaha atau perbuatan tersebut masing-masing. Daivam atau takdir ini adalah yang mengatur semua tindak-tanduk kita.

Kelima unsur panting ini adalah kelima instrumen yang menjadi penyebab dari semua tindakan kita baik yang positif maupun yang negatif, baik atau buruk, dalam perjalanan hidup kita.

18.15

śarīra-vāń-manobhir yat
karma manobhiḥ  naraḥ
nyāyyaḿ vā viparītaḿ vā
pañcaite tasya hetavaḥ

Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya, kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah kelima unsur inilah penyebabnya.

18.16

tatraivaḿ sati kartāram
ātmānaḿ kevalaḿ tu yaḥ
paśyaty akṛta-buddhitvān
na sa paśyati durmatiḥ

Dengan begitu, seseorang yang salah pengertiannya, yang karena tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya pelaku (setiap perbuatannya) -sebenarnya orang-orang ini tidak melihat!

Penjelasan: Seseorang yang berpikir sebagai pelaku tunggal dari setiap tindakannya adalah seorang yang egois, yang pandir dan terlalu buta untuk menyadari atau melihat suatu kenyataan Ilahi. Orang semacam ini disebut sebagai seorang yang gagal melihat hal yang sebenarnya.

18.17

yasya nāhańkṛto bhāvo
buddhir yasya na lipyate
hatvāpi sa imān lokān
na hanti na nibadhyate

Seseorang yang bebas dari itikad, egoisme, yang pengertian (intelektualnya) tidak tertutup, walaupun ia membunuh orang-orang ini, ia tidak membunuh, atau terikat (oleh perbuatan-perbuatannya).

Penjelasan: Arjuna boleh saja membantai para Kaurawa, dan selama ia berbuat itu bukan karena ego pribadinya, tetapi melainkan karena kewajibannya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka selama itu juga segala perbuatannya tidak akan mengikat dia dan di mata Sang Krishna (Yang Maha Esa), ia bukan seorang pembunuh tetapi hanya sebuah alat dariNya belaka, tidak lebih dan tidak kurang. Seseorang yang telah berada di atas kesadaran bahwa “akulah yang sebenamya berbuat,” dan telah sadar akan Sang Atman,

Sang Jati Diri, dan yang telah dapat mengatasi pikiran-pikiran perbuatannya, maka orang ini tidak dapat dipuji atau dihukum untuk setiap perbuatan-perbuatannya. Tetapi jangan sekali-kali menyalah gunakan sloka ini, karena bagi yang rasa ego, atau fanatismenya (fanatisme juga adalah suatu bentuk ego yang ekstrim!) masih tinggi, atau yang masih kurang kesadarannya, maka penghayatan yang salah akan berakibat amat fatal bagi sesamanya. Lalu bagaimanakah cara yang terbaik untuk memahami sloka ini?

Bhagavat Gita menekankan bahwa ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam bertindak atau berbuat sesuatu, yaitu kebebasan dari rasa egoisme dan kesadaran yang tidak ternoda! Camkanlah hal ini secara sejati dan dengan hati nurani yang bersih dan murni berdasarkan ratio atau intelektual anda sebelum bertindak sesuatu seperti yang dianjurkan di sloka ini. Mereka yang telah secara total berlindung di dalam Yang Maha Esa dan pasrah dengan segala kehcndakNya, yang telah melewati rasa dualisme yang bertentangan, akan tahu secara sadar (sejati) akan makna dan perbuatan yang tertulis di sloka ini!

18.18

jñānaḿ jñeyaḿ parijñātā
tri-vidhā karma-codanā
karaṇaḿ karma karteti
tri-vidhaḥ karma-sańgrahaḥ

Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang diketahui), subyek yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur stimulus ke arah setiap tindakan. Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah tiga unsur gabungan dari setiap tindakan.

Penjelasan: Setiap tindakan ada dua penyebabnya: subyektif dan obyektif. Yang subyektif ini dimaksudkan dengan rangsangan-rangsangan awal dari setiap tindakan, yaitu suatu kondisi sebelum suatu tindakan diambil, yaitu konsep yang tergambar dahulu dalam benak pikiran, yang lalu ditransformasikan dalam bentuk tindakan ragawi. Keadaan ini disebut karmachodana, dan hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan, yang diketahui dan yang mengetahui.

Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat, instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari perencanaan secara aktual.

18.19

jñānaḿ karma ca kartā ca
tridhaiva guṇa-bhedataḥ
procyate guṇa-sańkhyāne
yathāvac chṛṇu tāny api

Pengetahuan, aksi (tindakan) dan sang pemeran dikatakan dalam pengetahuan tentang sifat-sifat (guna-guna dalam filosofi Sankhya), ada tiga jenis saja, sesuai dengan perbedaan sifat-sifat (guna-guna) ini. Dengarkanlah juga dengan seksama mengenai hal ini.

18.20

sarva-bhūteṣu yenaikaḿ
bhāvam avyayām īkṣate
avibhaktaḿ vibhakteṣu
taj jñānaḿ viddhi sāttvikam

Sesuatu pengetahuan dengan mana seseorang melihat Yang Maha Esa dan Tak Terbinasakan di dalam semua mahluk – tak terpisah-pisah di dalam keterpisah-pisahan ketahuilah pengetahuan tersebut bersifat sattvik (bersih).

Penjelasan: Dalam sesuatu kepercayaan yang bersifat sattvik, maka Yang Maha Esa dianggap Satu-Satu-Nya Inti Kehidupan yang hadir dalam setiap mahluk dan benda di alam semesta ini. Yang Maha Esa ini juga disebut sebagai Avyayam. yaitu Tak Terbinasakan, juga disebut sebagai Avibhaktam, yaitu Keseluruhan Yang Tak Terpisahkan.

Yang Maha Esa itu hadir secara sama rata dalam setiap mahluk, benda dan manusia. Baik dalam seorang kaya atau miskin, dalam seorang kriminal maupun dalam seorang pendeta, hadirlah Yang Maha Esa secara sama dalam setiap jiwa ini, tanpa diskriminasi atau perbedaan sedikitpun. Walau di alam semesta ini terdapat jumlah jiwa-jiwa yang tak terbatas dan terhitung jumlahnya, pada hakekatnya semua jiwa-jiwa ini ber-Inti-Sari atau ber-Asal dari Satu, yaitu Yang Maha Esa. Jadi dengan kata lain, semua jiwa ini sifatnya Eka atau Satu dan identik dengan Yang Maha Esa. Pengetahuan atau kesadaran semacam ini disebut bersifat sattvik.

18.21

pṛthaktvena tu yaj jñānaḿ
nānā-bhāvān pṛthag-vidhān
vetti sarveṣu bhūteṣu
taj jñānaḿ viddhi rājasam

pengetahuan yang melihat berbagai-ragam kelainan dalam berbagai mahluk mahluk. setiap mahluk lain dari yang lainnya. yang beraneka-ragam -pengetahuan itu ketahuilah olehmu sebagai rajasik.

 Penjelasan: Seseorang yang berpengetahuan rajasik memandang setiap mahluk atau benda di dunia ini sebagai terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri. Bagi orang semacam ini setiap individu mahluk, atau benda adalah unsur yang berbeda-beda.

Pengetahuan rajasik adalah pengetahuan tentang nama dan rupa seseorang belaka, bukan pengetahuan tentang Inti Sari yang sejati. Ibarat seseorang yang tahu bahwa sesuatu benda disebut tempayan, tetapi tidak tahu bahwa benda tersebut dibuat dan berasal dari apa. ibarat seseorang mengetahui apa itu lampu, tctapi tidak mengenal unsur cahaya di dalamnya, atau ibarat mengenal yang namanya baju tetapi tidak tahu unsur apa yang menjadi bahan dasar dari baju tersebut.

Bagi seorang yang berpengetahuan rajasik semuanya nampak berbeda-beda dan berlainan derajatnya. Bagi orang semacam ini status seseorang dewa, brahmana atau seekor tikus itu lain, padahal sabda Sang Krishna semua yang ada di alam semesta ini berintikan satu unsur yang sama, yaitu Yang Maha Esa.

18.22

yat tu kṛtsna-vad ekasmin
kārye saktam ahaitukam
atattvārtha-vad alpaḿ ca
tat tāmasam udāhṛtam

Pengetahuan yang tergantung pada suatu unsur atau obyek yang seakan akan adalah segala-galanya, tanpa mau tahu akan asal-usul unsur tersebut, tanpa mau menyadari yang realitas, dan berpandangan sempit -disebut sebagai pengetahuan yang tamasik.

Penjelasan: Pengetahuan yang bersifat tamasik adalah pengetahuan yang palsu dan tak berdasar sama sekali. Orang yang berpengetahuan ini amat sempit pandangannya. Ia melihat suatu obyek kecil sebagai sesuatu yang amat penting dan lalu bergantung kepada obyek tersebut seakan-akan tidak ada lagi yang lainnya di dunia ini. Misalnya seseorang yang mencintai seorang wanita cantik dan menganggap wanita tersebut sebagai segala-galanya di dunia ini, atau seseorang berpikir bahwa keluarganya adalah di atas segala-galanya di dunia ini, Tuhan lalu dinomor duakan. Hal semacam ini disebut moha (keterikatan) dan keterikatan ini disebut pengetahuan yang bersifat tamasik atau gelap.

Hal yang sama berlaku sekiranya seseorang hanya tergantung pada pesta-pesta pora, makanan atau kenikmatan dan keterikatan duniawi lainnya. yang memberikannya kenikmatan yang bersifat sementara dan merasa itulah arti kehidupan dunia. Pengetahuan semacam ini adalah hampa dan irasional. Pengetahuan tentang Sang Atman adalah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan tentang logika duniawi yang berdasarkan perbedaan atau diskriminasi adalah rajasik sedangkan pengetahuan yang tanpa dasar, tanpa pengorbanan atau pengertian pada Yang Maha Esa adalah sifat tamasik

18.23

niyataḿ sańga-rahitam
arāga-dveṣataḥ kṛtam
aphala-prepsunā karma
yat tat sāttvikam ucyate

Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang dilakukan bukan karena cinta atau benci tindakan tersebut adalah sattvik (bersih).

 Penjelasan: Suatu tindakan, aksi atau perbuatan yang bersih atau yang benar dan sejati disebut sattvik, yaitu perbuatan yang berdasarkan nilai-nilai moral, kewajiban dan peri-kemanusiaan. Pekerjaan seperti bekerja sehari-hari, mencari nafkah secara jujur demi kehidupan keluarga adalah pekerjaan yang bersifat sattvik.

Seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya dengan baik adalah seorang yang sattvik dan bekerja sattvik. Pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan yang dianjurkan pustaka-pustaka kuno seperti yagna, tapa dan dana adalah perbuatan sattvik. Berbicara jujur, menolong yang harus ditolong, memuja Yang Maha Esa adalah perbuatan sattvik yang harus dilakukan. Dan semua pekerjaan ini harus dilakukan tanpa mengharapkan kembali sesuatu pamrih atau imbalan dalam bentuk apapun juga baik dari siapapun maupun dari Yang Maha Esa atau para dewa-dewa. Semua pekerjaan ini harus lepas dari rasa ego dan keterikatan,

secara total harus dihayati bahwa yang berbuat ini sebenarnya hanya alat dari Yang Maha Esa, tidak lebih dan tidak kurang. Setiap pekerjaan harus dikerjakan lepas dari hawa nafsu dan dengan tanggung-jawab dan penuh kewajiban terhadap sesama mahluk dan terutama terhadap Yang Maha Esa, karena Ialah sumber atau asal-mula kehidupan ini.

18.24

yat tu kāmepsunā karma
sāhańkāreṇa vā punaḥ
kriyate bahulāyāsaḿ
tad rājasam udāhṛtam

Tetapi suatu tindakan yang dilakukan secara penuh dengan ketegangan (stres) oleh seseorang yang ingin memuaskan keinginan-keinginannya, dan yang berdasarkan kepentingan dirinya disebut bersifat rajasik (mementingkan diri pribadi).

Penjelasan: tindakan atau perbuatan rajasik selalu bercirikan kepentingan pribadi, dan tindakan ini sebenarnya tidak akan menghasilkan suatu keuntungan spiritual. melainkan akan menghasilkan duka atau penderitaan. Tindakan-tindakan rajasik ini memperlihatkan tanda-tanda khas seperti:

  1. Tindakan-tindakan ini selalu dilakukan secara bergegas secara menggebu-gebu, dan penuh semangat yang menderu-deru, tetapi diikuti oleh rasa tegang yang luar biasa atau stres berat dan penghamburan energi secara sia – sia.
  2. Pekerjaan ini dilakukan karena pengaruh kama (nafsu) atau keinginan-keinginan duniawi untuk mendapatkan kepuasan seksual, harta-benda, kcdudukan, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya.
  3. Tindakan-tindakan ini dilakukan berdasarkan kepentingan atau kepuasan pribadi ego, kesombongan pribadi, dan ini semua disebut ahankara.

18.25

anubandhaḿ kṣayaḿ hiḿsām
anapekṣya ca pauruṣam
mohād ārabhyate karma
yat tat tāmasam ucyate

Tindakan yang dilakukan berdasarkan moha (cinta dan keterikatan duniawi), tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya yang merugikan dan melukai

yang lain yang tak memikirkan kemampuan pribadinya «disebut sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.

 Penjelasan : Ciri-ciri perbuatan atau tindakan tamasik adalah:

  1. Dikerjakan karena keterikatan akan hal-hal yang sifatnya duniawi dan gelap. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan ini sudah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi.
  2. Dilakukan tanpa memikirkan akibat-akibatnya, yang bukan saja dapat menghancurkan dirinya, tetapi juga orang-orang atau mahluk-mahluk lainnya. Semua ini dilakukan tanpa pikir panjang karena mabok kekuasaan, karena kenikmatan dunia dan lain sebagainya.
  3. Dan perbuatan-perbuatan ini dilakukan tanpa melihat atau sadar akan keterbatasan orang yang melakukan ini, karena jalan pikiran yang sudah gelap dan buntu. Dan kalau ia gagal, ia akan menempuh segala jalan baik yang bersifat kekerasan maupun yang gelap, walaupun itu harus dibayar mahal olehnya.

18.26

mukta-sańgo ‘nahaḿ-vādī
dhṛty-utsāha-samanvitaḥ
siddhy-asiddhyor nirvikāraḥ
kartā sāttvika ucyate

Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan orang ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).

Penjelasan: Seorang sattvik karta ini benar-benar bertindak sesuai dengan kewajibannya, menerima semua kehendakNya. Dalam menghadapi sukses atau kegagalan ia tenang-tenang saja, dalam menghadapi yang jahat dan suci, yang busuk dan bersih, ia sama saja sikapnya. Ia maju terus dengan tekad yang amat teguh, yaitu selalu bertindak tanpa pamrih, hanya demi kebenaran dan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa semata. Orang semacam ini memiliki beberapa tanda atau ciri khas:

  1. Ia selalu bertindak tanpa pamrih dan keterikatan. Ia tidak membutuhkan pujian, jasa, sanjungan, keagungan dan kehormatan duniawi untuk apa saja yang dilakukannya.
  2. Ia tidak membual akan apa yang dilakukannya. Tak mau ia berkata bahwa tanpa dia sesuatu hal mustahil terjadi. Setiap patah katanya jauh dari rasa egoisme atau demi kepentingan diri sendiri.
  3. Ia penuh dengan kesabaran dan semangat yang tinggi. Dalam setiap halangan ia penuh dengan tekad, berjuang terus dan tidak patah semangat.
  4. Ia memiliki rasa sama, yaitu selalu bersikap sama baik dalam menghadapi keuntungan maupun kerugian, baik dalam kesenangan maupun penderitaan,
  5. Tak tersentuh ia oleh kemenangan dan tak terganggu oleh kekalahan, sama dalam sukses maupun kegagalan.

18.27

rāgī karma-phala-prepsur
lubdho hiḿsātmako ‘śuciḥ
harṣa-śokānvitaḥ kartā
rājasaḥ parikīrtitaḥ

Seseorang yang terombang-ambing oleh kepentingan nafsunya, yang mencari imbalan dari hasil perbuatannya, yang serakah, merugikan yang lainnya, yang tidak bersih (perbuatannya), yang terombang-ambing oleh kesenangan dan penderitaan -orang ini disebut seorang rajasik karta.

Penjelasan: Seorang rajasik karta mempunyai beberapa tanda dan sifat-sifat tertentu seperti:

  1. la tenggelam dalam nafsu duniawi beserta segala kenikmatannyaa Ia terikat pada indra-indranya.
  2. Ia selalu memerlukan imbalan untuk setiap perbuatannya. Setiap tindakannya penuh dengan motivasi tertentu.
  3. Ia amat serakah.
  4. Ia bersifat brutal, sifatnya ini selalu merugikan, melukai dan menyakiti orang lain, atau pun mahluk-mahluk lain.
  5. Dalam setiap sukses dan kemenangan ia cepat gembira, dalam kegagalan dan kekalahan ia cepat putus asa.

18.28

ayuktaḥ prākṛtaḥ stabdhaḥ
śaṭho naiṣkṛtiko ‘lasaḥ
viṣādī dīrgha-sūtrī ca
kartā tāmasa ucyate

Seorang yang tak stabil, kasar, keras-kepala, penuh kepalsuan, beritikad jahat, malas, tak punya harapan, mudah putus-asa, dan selalu menunda-nunda sesuatu disebut seorang tamasik.

 Penjelasan: Seorang tamasik nampak aneh atau eksentrik dan tak berbudaya dalam tingkah lakunya. Hati atau pikirannya tidak tertuju pada tindakan-tindakannya. Ia juga pandir dan keras kepala. Ia penuh tipu-daya dan licik atau penuh dengan kepalsuan. Ia gemar menunda-nunda sesuatu dalam tindakan dan perbuatannya, dan sering membatalkan sesuatu yang akan dikerjakan dengan alasan-alasan tertentu. Ia mudah putus asa dan orang dengan sifat-sifat ini bekerja atau bertindak dengan motif motif kejahatan dan berdasarkan pengaruh jahat dan iblis. Ia bisa saja berwajah meyakinkan dan hidup mewah dan necis, tetapi secara kejiwaan ia tak berbudaya dan mewakili semua karakter tamasik di dalam dirinya.

18.29

buddher bhedaḿ dhṛteś caiva
guṇatas tri-vidhaḿ śṛṇu
procyamānam aśeṣeṇa
pṛthaktvena dhanañjaya

Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, diterangkan secara lengkap dan berulang-ulang, ketiga bagian, yang didasarkan pada ketiga guna (sifat sifat) dari buddhi (intelektual) dan dhriti (kebulatan tekad).

Penjelasan: Ada tiga macam atau jenis buddhi (intelektualitas atau kesadaran manusia). Dan juga ada tiga jenis sifat dari dhriti, yaitu tekad atau suatu keputusan tetap yang diambil seseorang berdasarkan kadar intelektualitasnya, atau kadar kesadaran dan pengertiannya.

Buddhi dan dhriti ini sangat dekat dengan setiap tindakan yang kita ambil. Buddhi menganalisa apa yang harus dilaksanakan seseorang dalam setiap aksi, sedangkan dhriti memutuskan dan menyelesaikan suatu aksi atau tindakan sehingga selesailah atau tuntaslah perbuatan tersebut. Buddhi dengan kata lain adalah suatu kekuatan yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk, yang salah dengan yang benar. Sering sekali kita manusia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk ditunjukkan jalan yang benar dalam menghadapi rintangan rintangan di depan kita. Yang memohon ini sebenarnya adalah suatu faktor pengertian atau kesadaran, dan ini disebut buddhi (intelektualitas). Tindakan selanjutnya berdasarkan pengertian tersebut adalah yang didasarkan pada kebulatan tekad atau suatu keputusan yang tuntas, dan ini secara keseluruhan disebut dhriti.

18.30

pravṛttiḿ ca nivṛttiḿ ca
kāryākārye bhayābhaye
bandhaḿ mokṣaḿ ca yā vetti
buddhiḥ sā pārtha sāttvikī

Buddhi yang menyadari akan pravritti (tindakan yang benar) dan nivritti (tindakan yang tidak harus dilakukan) apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak harus ditakuti, perbuatan dan pekerjaan apa yang mengikat dan apa yang membebaskan –pengertian (buddhl) tersebut, oh Arjuna, adalah sattvik (suci dan bersih).

Penjelasan: Sloka di atas jelas sekali pengertiannya dan kita manusia seharusnya tahu akan apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita jauhi dan cegah. Siapakah sebenarnya yang harus ditakuti dalam hidup ini dan siapa pula yang harus kita lawan dan hadapi. Lebih dari itu pengertian atau kesadaran yang bersih akan memberikan pengetahuan akan apa yang mengikat secara duniawi dan apa saja yang akan melepaskan kita dari lingkaran penderitaan dan karma kita.

18.31

yayā dharmam adharmaḿ ca
kāryaḿ cākāryam eva ca
ayathāvat prajānāti
buddhiḥ sā pārtha rājasī

Sesuatu yang diketahui secara menyimpang. secara salah tentang dharma dan adharma (yang betul dan salah), tentang apa yang harus diperbuat dan yang tidak harus dilakukan -pengertian semacam itu, oh Arjuna, bersifat rajasik.

Penjelasan: Sesuatu pengertian atau buddhi yang bersifat rajasik yang terpengaruh sifat sifat raja ini adalah suatu pengertian berdasarkan konsep yang salah atau menyimpang karena berdasarkan semangat egoisme. Pengertian semacam ini selalu mencampur. adukkan yang baik dan yang buruk. Sedangkan pengertian sattvik akan tegas dalam keputusan dan pengertiannya. Buddhi secara rajasik sering melakukan perbuatan salah dan menyimpang karena keputusan yang diambil selalu berdasarkan nilai nilai yang salah persepsinya. Keputusan semacam ini mencampur-adukkan kewajiban dengan kesenangan, benar dengan salah, dan lain sebagainya dan menganggap semua itu adalah tindakan yang benar. Bagi seorang yang bersifat rajasik, nilai-nilai kebenaran jadi kabur penghayatannya

18.32

adharmaḿ dharmam iti yā
manyate tamasāvṛtā
sarvārthān viparītāḿś ca
buddhiḥ sā pārtha tāmasī

Buddhi yang terbungkus oleh kegelapan, yang berpikir bahwa adharma (kesalahan) sebagai dharma (benar), dan melihat semuanya secara tidak benar buddhi (atau pengertian) ini, oh Arjuna, adalah tamasik.

Penjelasan: Suatu pengertian yang bersifat tamasik, malahan mengacaukan semuanya, semua nilai-nilai moral bisa saja jadi kacau-balau oleh pola pemikiran semacam ini. Semua ini karena kegelapan yang menyelimuti pengetahuan orang yang bersifat tamasik ini. Yang salah malahan terasa benar baginya. Buddhi ini tidak sadar atau tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Bagi seorang tamasik, pemujaan kepada Yang Maha Esa itu salah, bersikap anti Tuhan dan anti-kebenaran malahan benar jadinya. Baginya kebenaran akan hidup dan dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Orang-orang semacam ini lebih condong ke arah kekuatan kekuatan gelap.

18.33

dhṛtyā yayā dhārayate
manaḥ-prāṇendriya-kriyāḥ
yogenāvyabhicāriṇyā
dhṛtiḥ sā pārtha sāttvikī

Suatu tekad atau keputusan (yang diambil seseorang) yang tidak terombang ambing sifatnya, melalui yoga atau konsentrasi pengendalian aktivitas aktivitas pikiran, pernafasan dan indra-indranya tekad tersebut, oh Arjuna. adalah tekad (atau keputusan) yang sattvik sifatnya.

Penjelasan: Tekad atau keputusan ini disebut dhriti. Tekad yang bersih dan sattvik karena:

  • bersifat tegas dan tidak mudah digoyahkan, alias stabil,
  • diperkuat atau didasari oleh latihan-latihan dan konsentrasi yoga,
  • mengendalikan secara benar aktivitas-aktivitas pikiran, pemafasan (meditasi) dan indra-indranya. Orang ini lalu mempunyai potensi lahir-batin yang amat kuat, tegas, teguh pendirian dan raganya.

Tekad yang bersifat sattvik ini, mengendalikan pikiran atau jiwa kita ke arah pengetahuan akan tenaga-tenaga yang tersembunyi dan juga potensi-potensi yang tak nampak tetapi sebenarnya banyak terdapat dalam diri kita. Juga akan terbuka potensi dan kekuatan yang ada di alam semesta ini yang dapat dikaruniakan kepada orang yang teguh, yang penuh dedikasi kepadaNya semata. Tekad sattvik kemudian menimbulkan kendali pada pemikiran kita, yang kemudian mengendalikan setiap tindakan kita, sehingga kita pun berubah menjadi sattvik, tanpa pamrih. Hanya bertindak karena harus dan karena kewajiban yang bersifat dedikasi semata.

Tekad yang bersih ini mendisiplinkan pikiran, nafas, dan indra-indra kita, dan diarahkan semua ini ketujuan yang benar. Indra-indra kita akan terkendali secara otomatis secara bertahap. Dan ini bukan ilusi, tetapi kenyataan yang telah dialami oleh mereka mereka yang telah bersifat sattvik, walaupun dalam abad modern ini.

18.34

yayā tu dharma-kāmārthān
dhṛtyā dhārayate ‘rjuna
prasańgena phalākāńkṣī
dhṛtiḥ sā pārtha rājasī

Seseorang yang bertekad kuat pada dharma (kewajiban), pada kama (kenikmatan). dan pada artha (harta) tetapi menginginkan imbalan untuk tekadnya ini  tekad semacam ini, oh Arjuna, adalah rajasik.

Penjelasan: Tekad yang bersifat rajasik adalah suatu tekad yang hanya dilakukan untuk suatu imbalan tertentu.

18.35

yayā svapnaḿ bhayaḿ śokaḿ
viṣādaḿ madam eva ca
na vimuñcati durmedhā
dhṛtiḥ sā pārtha tāmasī

Sesuatu tekad yang diambil seseorang, yang berasal dari kebodohan, terlalu banyak tidur, ketakutan, kesusahan, depresi dan kepentingan diri sendiri tekad tersebut, oh Arjuna, bersifat tamasik (gelap).

Penjelasan: Seseorang yang bersifat tamasik sangat keras sifatnya, tetapi kekerasannya bersifat ngawur, karena berdasarkan kemalasan dan kebodohan. Tindakan – tindakannya hanya berdasarkan opini sendiri yang didasarkan pada sifat-sifat pribadinya yang dominan dan serba gelap. Ia pun selalu dekat dengan rasa takut, depresi, penderitaan dan selalu berada di dalam lingkaran gelap.

18.36

sukhaḿ tv idānīḿ tri-vidhaḿ

śṛṇu me Bhārata rṣabha

abhyāsād ramate yatra

duḥkhāntaḿ ca nigacchati

Dan sekarang dengarlah dariKu, oh Arjuna, tiga bentuk kebahagiaan. Kebahagiaan ini, bagi seseorang yang mempelajarinya (mempraktekkannya), akan menghasilkan kebahagiaan yang mengakhiri penderitaannya.

Sloka 37

yat tad agre viṣam iva

pariṇāme ‘mṛtopamam

tat sukhaḿ sāttvikaḿ proktām

ātma-buddhi-prasāda-jam

Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya. dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang Atman kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).

 

Penjelasan: Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari penampilan/ wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita.Tetapi kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang Maha Esa. Ada tiga ciri khas satrvik-sukha (kebahagiaan satrvik) ini:

  1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
  2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhimya.
  3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam. Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan Ilahi ini secara langsung pada waktunya.

Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan jiwa, suatu

kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan membahagiakan jiwa kita.

  1. 38

viṣayendriya-saḿyogād

yat tad agre ‘mṛtopamam

pariṇāme viṣam iva

tat sukhaḿ rājasaḿ smṛtam

 

Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai air-surgawi, tetapi pada akhirnya terasa sebagai racun kebahagiaan atau sukha ini dikatakan sebagai rajasik.

Penjelasan: Kenikmatan atau kebahagian rajasik itu terasa manis seperti amrita (air-surgawi) pada mulanya, karena memang bersifat duniawi dan tercipta akibat hubungan antara obyek-obyek sensual dan indra-indra kita. Tetapi sesudah itu berakibat penderitaan yang amat menyakitkan. Semua kenikmatan duniawi baik itu secara seksual, maupun melalui pesta-pora dan hidup mewah terasa nikmat pada mulanya tetapi selalu terasa pahit pada akhirnya, karena tidak disertai oleh nilai-nilai moral yang sejati, yaitu demi dan untuk Yang Maha Esa semata, tetapi demi kesenangan dan kenikmatan pribadi, dan ini disebut kebahagiaan rajasik, yaitu bersifat sementara saja.

18.39

yad agre cānubandhe ca

sukhaḿ mohanam ātmanaḥ

nidrālasya-pramādotthaḿ

tat tāmasam udāhṛtam

Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan kekurangan perhatian.. Kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).

Penjelasan: Kenikmatan tamasik sudah menyesatkan dan menderitakan seseorang dari awal mula dan selanjutnya pada akhirnya tetap mendatangkan penderitaan. Seseorang yang terbius secara tamasik ini tenggelam dalam kenikmatan yang diakibatkan oleh kebodohan, kekurang-pengetahuan, dan kekacauan jiwa-raganya.

18.40

na tad asti pṛthivyāḿ vā

divi deveṣu vā punaḥ

sattvaḿ prakṛti-jair muktaḿ

yad ebhiḥ syāt tribhir guṇaiḥ

Tak ada satu mahluk pun, baik di bumi atau juga di antara para disvargaloka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini, yang lahir dari Prakriti (alam).

18.41

brāhmaṇa-kṣatriya-viśāḿ

śūdrāṇāḿ ca parantapa

karmaṇi pravibhaktāni

svabhāva-prabhavair guṇaiḥ

Mengenai para Brahmin, Kshatriya, Vaishya dan para Sudra, oh Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.

Penjelasan: Svabhava, atau sifat seseorang, adalah pembawaan karma seseorang atau sesuatu mahluk dari kehidupan masa lampaunya. Keempat vama (sistim kasta) manusia pun terpengaruh oleh sifat atau guna-guna ini, dan semua itu mempengaruhi cara kerja atau sifat perbuatannya. Svabhava dengan begitu menentukan suatu kewajiban atau perbuatan seseorang berdasarkan guna-guna yang dominan dalam orang tersebut. Kewajiban setiap varna dengan kata lain datang dari Prakriti itu sendiri.

Sattva dominan dalam seseorang yang ditakdirkan menjadi Brahmin sejati, raja dominan dalam seorang Kshatriya, dan kemudian setelah sifat raja ini menyusul dua sifat, yaitu sattva dan tama dalam Kshatriya. Dalam Vaishya yang dominan adalah unsur atau sifat raja plus tama, unsur sattva menyusul kemudian. Dalam Shudra, unsur yang dominan adalah tama, kemudian menyusul raja dan terakhir sattva. Tetapi ingat dalam naungan Sang Atman, setiap mahluk dan manusia adalah sama, yaitu hanya satu unsur, yaitu Sang Atman Sendiri. Dalam IntiNya yang sejati dan secara spiritual kita semua adalah berasal dari satu unsur yang tunggal. Satu dalam perjalanan, tujuan dan takdir kita. Tetapi di dalam olahan sang Prakriti kita berbeda-beda, dan ingat sistim vama atau kasta adalah produk dari sang Prakriti ini!

Semua bentuk kasta-kasta ini adalah ibarat alat-alat atau anak-anak dari Yang Maha Esa. Kepandaian, ilmu pengetahuan, dan kekayaan dunia lahir dan batin, dibagikan secara sama rata kepada masing-masing kasta ini sesuai dengan kewajibankewajibannya di dunia ini untuk mencapai Yang Maha Esa kembali. Tetapi tidak ada perlombaan kekuasaan atau kedudukan atau diskriminasi yang dianjurkan di antara mereka-mereka ini. Yang ada hanya sifat-sifat dominan pada seseorang. dan sifat-sifat inilah yang menentukan kewajibannya dan kastanya. Jadi kasta itu ditentukan oleh jenis sifat, pekerjaan dan perbuatan seseorang sehari-hari dan bukan karena status kelahiran seseorang. Seseorang dalam perjalanan hidupnya di dunia ini bisa saja berubah dari seorang yang lahir secara (atau tidak) Vaishya menjadi seorang brahmana seseuai dengan panggilan atau ketentuan Ilahi, menurut takditnya masing-masing, dan begitupun sebaliknya. Mukri atau pembebasan spiritual terbuka untuk siapa saja tanpa pandang bulu, yang penting seseorang itu mau bertindak tanpa pamrih, dan penuh dengan dedikasi yang luhur terhadap Yang Maha Esa.

Sekali lagi ditegaskan di sini, Svabhava adalah sanskara (penderitaan duniawi) yang diakibatkan oleh perbuatan dari kelahiran yang silam. Sesuai dengan sanskara ini, maka dalam hidup ini terciptalah pada seseorang unsur-unsur satrva, raja dan rama. Dan sesuai atau berdasarkan guna ini timbullah keempat sistim varna (kasta) atau jenis-jenis profesi dan perbuatan masing-masing orang, bukan diskriminasi atau perbedaan kekayaan/kedudukan/status seseorang. Status seseorang, mahluk dan benda di mata Yang Maha Esa adalah sama saja. yaitu satu: sebagai alatNya belaka, tidak lebih

18.42

śamo damas tapaḥ śaucaḿ
kṣāntir ārjavam eva ca
ñānaḿ vijñānam āstikyaḿ
brahma-karma svabhāva-jam

Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual, kebersihan lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan, pengetahuan dan iman -adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari sifatnya yang pribadi.

Penjelasan: Keempat sistim varna ini sebenarnya kalau ditinjau dengan kaca-mata yang benar, maka melambangkan suatu fungsi sehat dari suatu tata-negara dalam satu negara yang baik dan bijaksana pemerintahannya. Negara yang sehat dan kuat, aman dan makmur adalah suatu negara di mana kaum brahmana, kshatriya, vaishya dan sudra bersatu, ‘bergabung, bahu-membahu bekerja demi kesejahteraan yang lainnya, dan bukan saling mendepak, menjatuhkan atau merendahkan lainnya. Tetapi inti dari sistim varna atau kasta ini sebenarya adalah kaum Brahmin.

Bukan harta-benda atau jumlah tentara yang melimpah-ruah, bukan perencanaan ekonomi yang fantastis, atau pidato-pidato kosong yang muluk-muluk para politisi, tetapi kehidupan orang-orang awam yang berdedikasi, bermoral tinggi dan beragama secara saleh, yang sebenarnya menjadi dasar atau sendi utama dari varna atau kasta kasta lainnya. Dan orang-orang yang sederhana tetapi bermoral tinggi inilah yang sebenarnya yang disebut brahmin  brahmin dalam arti yang sebenarnya, yang orientasinya selalu dalam menegakkan dharma dan bhaktinya tanpa pamrih demi Yang Maha Esa dan masyarakat banyak. Dan kalau masyarakat banyak bermoral baik, maka negara itu akan baik, sehat dan kuat. Tetapi seandainya masyarakat itu sakit, maka negara itupun akan sakit dan lemah. Semakin banyak yang bersifat brahmin dalam suatu masyarakat atau negara makin jayalah negara itu,karena akan selalu jauh dari unsur-unsur yang merugikan. Seorang brahmin sejati adalah seorang guru bagi sesamanya.

18.43

śauryaḿ tejo dhṛtir dākṣyaḿ
yuddhe cāpy apalāyanam
dānam īśvara-bhāvaś ca
kṣātraḿ karma svabhāva-jam

Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) semua ini adalah kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat pembawaannya.

Penjelasan: Brahmin yang sejati adalah guru, dan kshatriya yang sejati adalah pengayom masyaraléat yang bersedia mati setiap saat ia dibutuhkan demi tegaknya kebenaran, kedamaian dan kemajuan atau kemakmuran suatu negara dan masyarakat. Orang orang yang berjiwa kshatriya tidak mengenal takut, selalu bersemangat baja, dan tak mudah dipengaruhi oleh uang dan harta-benda. Harapan bangsa terletak di pundak mereka, dan itulah-dharma-bhakti mereka pada Yang Maha Esa dan masyarakat. Salah satu contoh adalah Sang Bhishma, suatu waktu Yudhishthira pernah memohon kepada Sang Krishna agar ia dijadikan muridnya. Oleh Sang Krishna ia diminta berguru ke Bhisma, dan salah satu ajaran Sang Bhishma pada Yudhishthira adalah, “Di mana Sang Krishna bekerja, di situ terdapat dharma (kebenaran), di mana dharma berfungsi, di situ terdapat kemenangan.” Seorang kshatriya sejati adalah yang bekerja berdasarkan dharma, dan tak merasa takut akan apapun juga selain Yang Maha Esa. Biasanya seorang pemimpin semacam itu sudah lahir dengan wibawa dan kharisma semacam itu. Maka dikatakan, seorang kshatriya adalah seorang pemimpin bangsa, sedangkan seorang brahmin adalah guru dari masyarakat (semuanya).

18.44

kṛṣi-go-rakṣya-vāṇijyaḿ
vaiśya-karma svabhāva-jam
paricaryātmakaḿ karma
śūdrasyāpi svabhāva-jam

Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban seorang vaishya, lahir dari sifat pribadinya. Tindakan atau perbuatan yang bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang shudra, yang lahir dari sifat pribadinya.

Penjelasan : Seorang yang berkarakter atau hidup sebagai seorang vaishya berciri khas seperti (1) petani dan yang berhubungan dengan pertanian, (2) beternak dan menjaga agar ternak-ternak dipelihara dengan baik karena sapi, kerbau dan sejenisnya dianggap suci dan amat bermanfaat dalam agama Hindu, (3) berdagang atau berwira swasta dalam berbagai bidang ekonomi adalah sifat-sifat dominan seorang vaishya.

Sedangkan yang digolongkan sebagai shudra adalah orang-orang yang berkerja di bidang jasa atau pelayanan secara umum, juga sebagai buruh, karyawan, dan Petugas dalam segala bidang pekerjaan milik pemerintah maupun non-pemerintah.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa sistim vama atau kasta ini sebenarnya adalah pembagian golongan kerja, dan bukan pembagian hak hidup seseorang yang dapat diatur semena-mena. Tidak boleh ada orang yang merasa dilahirkan dalam kasta ini atau kasta itu. Yang benar adalah sewaktu seseorang tersebut dewasa dan ingin menentukan pekerjaan dan jalan-hidupnya sendiri maka terserah olehnya pekerjaan apa yang akan dipilihnya. Jadi sistim kasta yang berlaku sekarang ini yang membeda-bedakan, hak, status, nama dan sebutan, dan pekerjaan adalah salah besar. Yang benar itu, kasta ini hanyalah sekedar pembagian golongan, yang dalam abad modern ini bisa disebut sebagai berikut: para rohaniwan untuk sebutan modern para brahmana (tercakup di dalamnya para guru dan ilmuwan dan lain sebagainya yang berhubungan), kemudian para ekonom adalah sebutan modern atau masa kini untuk para pedagang, bankir dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang ekonomi, para petani dan nelayan termasuk juga dalam golongan ini. Para politisi, pejabat negara, tentara dan pamong-praja dan lain sebagainya adalah istilah modern para kshatriya; dan para buruh, pekerja, petugas dan lain sebagainya yang berstatus bekerja pada seseorang, negara, dan lainnya disebut shudra. Keempat golongan ini menjadi tiang-tiang utama dari sebuah negara, dan saling menunjang karena setiap tiang ini sama kekuatan dan kedudukannya. Satu tiang patah maka patahlah juga tiang-tiang lainnya, karena tidak akan mampu menyanggah negara yang ibarat sebuah gedung besar bertiang empat.

Seandainya sesuatu bangsa dan negara tidak melakukan suatu diskriminasi dengan golongan-golongan yang ada di dalamnya, dan menghargai setiap golongan ini, maka aman-sejahtera dan sentosalah negara ini. Berbeda-beda tetapi eka, berbagai aspirasi tetapi satu tujuan, yaitu kesejahteran bagi sesama dan semuanya adalah misi yang dikandung di sloka-sloka di atas ini, dan ingat bukan perbedaan kasta yang diskriminatif. Sebuah bangsa dan negara yang besar, maju dan sejahtera adalah yang masyarakatnya harmonis, dan duduk sama penting di antara sesamanya.

18.45

sve sve karmaṇy abhirataḥ

saḿsiddhiḿ labhate naraḥ

sva-karma-nirataḥ siddhiḿ

yathā vindati tac chṛṇu

Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia berdedikasi kepada kewajibanya sendiri. Dengarkanlah olehmu bagaimana kesempurnaan ini didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya sendiri.

Penjelasan: Yang dimaksudkan dengan kesempurnaan ini adalah penyadaran akan Ilahi. Seseorang dapat mencapainya dengan bekerja secara setia dan penuh dedikasi kepada kewajibannya sendiri, yaitu bekerja sesuai dengan sifat sejati yang dimilikinya. Sewaktu seseorang menyerahkan semua pekerjaan dan perbuatannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih sedikitpun, maka secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan ini atas karuniaNya. Tidak menjadi masalah kalau pekerjaan itu secara duniawi sifatnya amat sederhana atau kecil. Sekali perbuatan atau pekerjaan ini diserahkan secara total kepadaNya maka terbukalah jalan ke arah Yang Maha Esa.

Bekerjalah demi Yang Maha Esa sesuai dengan sifat-sifat kita yang sejati, janganlah iri atau berganti-ganti profesi karena harta duniawi, padahal belum tentu kita menghayati pekerjaan baru kita karena tidak berbakat ke arah itu. Pekerjaan, profesi atau perbuatan seharusnya dilakukan karena dedikasi kita kepada Yang Maha Esa, bukan karena nafsu atau keinginan duniawi. Maka sebaiknya setiap orang mengerjakan pekerjaan yang disenanginya, dihayatinya dan sesuai kodratnya, walaupun profesi tersebut tidak menghasilkan sesuatu harta duniawi. Harta sesungguhnya di dunia ini adalah Yang Maha Esa sendiri dengan segala karunia karuniaNya, jadi seyogyanyalah kita selalu bekerja demi Yang Maha Esa semata, tanpa pamrih dan tulus jiwa-raga. 0m Tat Sat.

18.46

yataḥ pravṛttir bhūtānāḿ
yena sarvam idaḿ tatam
sva-karmaṇā tam abhyarcya
siddhiḿ vindati mānavaḥ

Ia dari siapa semua mahluk dan benda ini datang dan oleh siapa seluruh ciptaan ini dijaga sdengan memujaNya melalui kewajibannya masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.

Penjelasan: Suatu pekerjaan yang menjadi kewajiban seseorang dapat menjadi pemujaan kepada Yang Maha Esa seandainya semua itu dipersembahkannya kepada Yang Maha Esa secara mental dan ragawi, untukNya, demi Ia semata tanpa pamrih. Tetapi pekerjaan ini harus selaras dengan kewajiban orang tersebut, yang juga senada dengan kewajibannya terhadap sesamanya secara tulus, bukan pekerjaan atau perbuatan orang lain yang ditiru atau dipaksakan olehnya.

Yang Maha Esa adalah sumber segala ciptaanNya di alam semesta, dan Ia juga yang menjaga semua itu, maka dengan bekerja demi Yang Maha Esa sesuai kewajiban kita masing-masing sebenarnya seseorang ikut melestarikan dan menjaga alam semesta ini. Dan Yang Maha Esa pun lalu tentu dengan senang hati akan membuka jalan ke arah kesempurnaan bagi sang pemuja yang penuh dengan bakti yang tulus ini

18.47

śreyān sva-dharmo viguṇaḥ
para-dharmāt sv-anuṣṭhitāt
svabhāva-niyataḿ karma
kurvan nāpnoti kilbiṣam

Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada kekurangan kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan baik. Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri, yang didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.

 Penjelasan: Jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban anda, untuk sesuatu perbuatan atau pekerjaan orang lain, walaupun perbuatan atau pekerjaan tersebut nampak dan terasa lebih baik dan menghasilkan laba yang lebih besar, atau nampaknya lebih bermanfaat daripada pekerjaan seseorang itu sendiri. Contoh: seorang yang bersifat dan berpembawaan sejati sebagai brahmana janganlah melakukan pekerjaan seorang politisi, akibatnya bisa kacau nanti semua hasil akibatnya lahir dan batin. Pekerjaan atau kewajiban kita yang asli adalah di mana svabhava (sifat pembawaan) kita menemukan ekspresi keluarnya yang sejati tanpa berdasarkan suatu rasa iri-hati, dengki dan cemburu.

Biarkanlah alam bekerja melalui diri kita masing-masing secara alami, dan itu akan lebih utama bagi kita, daripada menentang kodrat dan kemauan alam yang ada dan hadir setiap saat dalam diri kita. Seorang tukang pembuat sepatu sebaiknya bekerja sebagai tukang sepatu, ia boleh bercita-cita setinggi langit, itu haknya, tetapi ia lebih baik mengembangkan usaha yang dihayatinya daripada ia merasa iri-hati terhadap salah satu saudaranya yang diangkat menjadi kepala desa oleh masyarakat setempat.

Begitu iri-hatinya sang tukang sepatu sehingga ia mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan posisi tersebut, padahal ia sama sekali tidak menghayati peranan seorang kepala desa yang harus bekerja untuk seluruh masyarakat di sekitarnya tanpa pamrih. Hal semacam ini tidak akan diterima oleh Yang Maha Esa, dan semua usahanya sia-sia saja secara spiritual. Ia, Yang Maha Esa, lebih mengutamakan kewajiban seorang yang sejati walaupun sifat pekerjaan itu sederhana saja, karena pekerjaan yang sederhana ini kalau dikerjakan penuh dengan dedikasi kepadaNya semata akan mengantar orang ini ke moksha. Seorang penjaga toko atau seorang kusir kereta yang sederhana mungkin lebih dekat dengan kehidupan yang benar dan sejati dibandingkan seorang raja atau presiden yang hidupnya bergelimang kemewahan tetapi lupa akan kewajibannya yang sejati akan rakyat yang menjadi tujuannya mengabdi.

18.48

saha-jaḿ karma kaunteya
sa-doṣam api na tyajet
sarvārambhā hi doṣeṇa
dhūmenāgnir ivāvṛtāḥ

Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat, tidak boleh dilepaskan. Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan ibarat api yang terselubung oleh asap.

Penjelasan: Jangan sekali-kali melepaskan kewajiban yang sudah menjadi panggilan nurani kita yang tulus dan sebenarnya. Walaupun kewajiban tersebut terasa kurang sempurna dalam pelaksanaannya. Karena sebenarnya tidak ada sesuatu pekerjaan pun, atau aksi dan perbuatan yang sempurna. Semuanya selalu ada saja cacat atau kurangnya. yang sempurna adalah Yang Maha Esa dan segala kehendak-kehendakNya, yang sering sekali tidak dapat dimengerti oleh manusia. Secacat-cacatnya suatu pekerjaan pada mulanya, pasti akan lebih sempurna pada tahap-tahap selanjutnya. Bekerjalah sesuai dengan kewajiban kita semata, dengan segala ketulusan dan kesucian hati kita, dan secara bertahap akan makin dekatlah kita kepadaNya.

18.49

āsakta-buddhiḥ sarvatra
jitātmā vigata-spṛhaḥ
naiṣkarmya-siddhiḿ paramāḿ
sannyāsenādhigacchati

Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat dimanapun juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari jauh –

dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang ini menuju ke Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya (kebebasan dari perbuatan atau tindakan).

Penjelasan: Inilah salah satu petunjuk penting dalam Bhagavat Gita, yaitu melalui suatu perbuatan atau tindakan, seseorang dapat mencapai suatu bentuk kesempurnaan dalam non-tindakan atau non-aksi (perbuatan). Kesempurnaan ini adalah suatu kebebasan dari karma, kesempurnaan ini adalah suatu penyadaran akan Yang Maha Esa secara sejati. Ada tiga tahap dalam jalan ke arah kesempurnaan ini:

  1. Pada tahap pertama seseorang melepaskan rasa ego, rasa “ke-aku’an” nya, rasa memiliki, rasa superior atas dirinya sendiri, atas setiap tindakan dan perbuatannya.
  2. Pada tahap kedua ia melepaskan semua hasil atau buah dari perbuatan, aksi dan tindakannya, termasuk hasil dari semua pekerj aannya.
  3. Pada tahap ketiga ia melepaskan semua pemikiran atau ide-ide mengenai kewajibannya, ia melepaskan semua karma-karmanya. Ia menjadi tuan atau majikan bagi dirinya sendiri, yaitu yang dalam agama Hindu disebut mencapai suatu kekuatan dari non-perbuatan (non-aksi yang sempurna). Ia dengan kata lain mencapai penyatuan dengan Sang Brahman, Yang Maha Agung, yang jauh dari semua tindakan-tindakan di dunia ini. Ia sadar sesungguh-sungguhnya bahwa bukan ia yang bekerja, tetapi Ia yang bekerja dan berbuat, sesuatu non~ aksi dalam setiap aksi.

Dalam sloka di atas, sanyasa yang berarti penyerahan total dari setiap hasil perbuatan disamakan dengan tyaga yang berarti penyerahan atau pelepasan nafsu dan keinginan. Naishkarmya di sloka di atas bukan berarti akarma, melainkan berarti tidak berbuat aksi atau tindakan yang dapat menimbulkan keterikatan duniawi.

18.50

siddhiḿ prāpto yathā brahma
tathāpnoti nibodha me
samāsenaiva kaunteya
niṣṭhā jñānasya yā parā

Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana sesudah mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman -Yang Maha Memiliki Kebijaksanaan.

Penjelasan: Pada sloka-sloka berikutnya, Sang Krishna mulai mengajarkan kepada Arjuna bagaimana seseorang yang telah berhasil melakukan usaha-usaha non-tindakan non-aksi dan non-perbuatan ini dapat mencapai Sang Brahman, yang menjadi tujuan kesadaran dari Sang Atman dalam diri kita. Berbagai tahap-tahap dalam Pencapaian kesadaran diri ini diterangkan di sloka-sloka selanjutnya

18.51

buddhyā viśuddhayā yukto
dhṛtyātmānaḿ niyamya ca
śabdādīn viṣayāḿs tyaktvā
rāga-dveṣau vyudasya ca

Penuh dengan pengertian yang bersih, secara tegar mengendalikan dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual (indra-indra dan obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan sesuatu.

18.52

vivikta-sevī laghv-āśī
yata-vāk-kāya-mānasaḥ
dhyāna-yoga-paro nityaḿ
vairāgyaḿ samupāśritaḥ

Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya (sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan pikirannya, selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung (kepadaNya) tanpa sesuatu keinginan duniawi.

18.53

ahańkāraḿ balaḿ darpaḿ
kāmaḿ krodhaḿ parigraham
vimucya nirmamaḥ śānto
brahma-bhūyāya kalpate

Menjauhkan “rasa-kepunyaanku,” kekerasan, kepentingan pribadi, keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan apa-apa dan bersifat damai -orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan Sang Brahman.

Penjelasan: Seorang pemuja, untuk mencapai Sang Brahman, harus berjuang melalui berbagai tahap-tahap yang jauh dari sifat-sifat duniawi. Yang pertama adalah sadar akan pengetahuan yang sejati dan pengetahuan ini dicapai melalui karma (tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri pribadi. Yang kedua, lalu menyusul dedikasi dalam pemujaannya kepada Yang Maha Esa. Sewaktu mencapai pengetahuan sejati melalui tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri, maka sang pemuja Yang Maha Esa ini mengalami berbagai hal seperti berikut:

  1. Timbul dalam dirinya suatu pengertian yang bersih, suci dan murni, dan bangkit juga tekadnya akan hal-hal yang bersih, suci dan murni, yang lepas dari ilusiilusi duniawi; dan sang pemuja ini sadar bahwa raganya lain dengan Yang menumpang raganya, yaitu Sang Atman.
  2. Ia menjauhi semua kenikmatan-kenikmatan sensual atau indra-indranya seperti menjauhi suara-suara yang berisik, yang penuh polusi dan rangsangan sensual, dan lain sebagainya yang menyebabkan gangguan pada jiwa; juga menjauhi melihat dan menyentuh hal-hal yang negatif baginya.
  3. Ia akan mampu mengendalikan dirinya dan berada di atas sifat-sifat dualistik yang saling bertentangan seperti suka-duka, cinta-benci, panas-dingin, dan seterusnya.
  4. Ia akan menyenangi tempat yang sepi dan tenang.
  5. Makan-minumnya, tidur dan bicaranya akan secukupnya saja, amat bersahaja dan sattvik sifatnya. Baginya sedikit tetapi mencukupi sudah amat baik baginya.
  6. Ia terkendali dalam kebutuhan dan gerak-gerik tubuhnya, pikirannya dan pembicaraannya.
  7. Ia selalu terserap dalam meditasi, demi Kebenaran Yang Sejati, demi Yang Maha Esa.
  8. Jauh dari rasa keinginan-keinginan duniawi, dari nafsu dan mengarah kepada hal-hal yang tidak bersifat duniawi atau keterikatan (vairagya).
  9. Jauh dari ambisi, rasa memiliki atau “aku,” kepalsuan, kekerasan, kesombongan, ego, nafsu, dan rasa marah.
  10. Selalu bersikap damai, penuh dengan ketenangan jiwa, sopan-santun, budi-baik, penuh simpati kepada sesama mahluk, penolong dan tidak serakah.

18.54

brahma-bhūtaḥ prasannātmā
na śocati na kāńkṣati
samaḥ  sarveṣu bhūteṣu
mad-bhaktiḿ labhate parām

Menyatu dengan Sang Brahman jiwanya tenang, ia tidak bersedih, atau bernafsu. Memandang setiap benda dan mahluk sama rata, ia mencapai dedikasi nan agung di dalamKu.

Penjelasan: Seorang pemuja Yang Maha Esa yang telah menyatu akhirnya dengan Sang Brahman, tak akan pernah bersedih untuk apapun juga dan tak pernah bernafsu untuk hal-hal yang bersifat duniawi maupun yang bersifat spiritual demi kebutuhan kebutuhan egonya. Raga, jiwa dan batinnya telah berubah suci, bersih dan murni, dan ia telah lepas dari semua karma-karmanya. Ia bahagia dengan dirinya sendiri. Ia melihat secara sama-rata pada setiap benda dan mahluk. Ia mencintai Yang Maha Esa dengan penuh bakti, kasih yang tulus dan dedikasi yang murni. Bagi Yang Maha Esa, Sang Krishna, pemuja semacam ini adalah agung dan merupakan Sang Atman sendiri secara keseluruhan. Dan bakti pemuja ini dianggap berada di atas semua sifat-sifat alam (guna-guna) Sang Maya (Prakriti), di atas semua bentuk karma.

Bakti pemuja semacam ini sesungguhnya mulai setelah ia menyadari atau mendapatkan penerangan Ilahi. Begitu bergabung dengan penerangan yang dikaruniakan Yang Maha Esa, maka tindak-tanduknya, intuisi, maupun pemikiran dan pemujaannya akan sinkron dan selaras dengan kehendak Yang Maha Esa (Sang Atman), pemujaannya akan penuh dedikasi yang tulus dan murni, secara sejati ia akan memuja Yang Maha Esa.

18.55

bhaktyā mām abhijānāti
yāvān yaś cāsmi tattvataḥ
tato māḿ tattvato jñātvā
viśate tad-anantaram

Dengan dedikasi dan kesetiaan ia mengenalKu, (menyadari) apa kemampuanKu dan apa Aku ini dalam arti yang sejati, kemudian setelah mengenalKu secara sejati, maka berlanjutlah ia memasuki Itu, Yang Maha Agung.

Penjelasan: Untuk mencapai atau memasuki Sang Brahman adalah dengan mencintai dan mengasihi Sang Krishna setulus-tulusnya. Untuk mencintai Sang Krishna adalah dengan mengenal Sang Krishna dulu, mengenal betapa menakjubkan Ia, apa saja bentuk sejati dari sifat-sifatNya, keajaiban-keajaibanNya, mukjizat-mukjizatNya dan kegaibanNya, keagungan dan kebesaranNya.

Untuk mengetahui ini semua adalah dengan memasuki kehidupanNya. Dan seseorang bekerja dan bertindak bukan untuk dirinya lagi, tetapi hanya demi Ia semata. Jadi dengan kata lain, klimaks dari kesadaran akan kasih itu sebenarnya terletak pada bhakti (bakti) dan prema (kasih Ilahi). Memasuki atau menyatu dengan Yang Maha Esa bukan berarti “menyia nyiakan diri kita,” tetapi lebih berarti bahwa Sang Jiwa kita harus dilepaskan dari ikatan ikatan duniawinya, kemudian akan terbukalah tabir yang selama ini menutupi jiwa kita, dan terlihatlah sifat gaib Yang Maha Esa dalam diri kita, yang sebenarnya adalah duplikat atau rupa dari Yang Maha Suci dan Agung, Sang Krishna Yang Sejati. Menyatu atau masuk ke dalamNya berarti menjadi gambaranNya, menjadi seperti Sang Krishna. Dan karena Sang Krishna, Yang Maha Esa, itu kasih adanya, maka menyatu denganNya berarti mencintai dengan kasih Yang Tak Kunjung Habis secara konstan dan abadi, selama-lamanya, kepadaNya dan sesama mahluk dan manusia di alam semesta ini. Bayangkan seperti apakah kasih ini: di luar kata-kata untuk menggambarkan kebesaran dan keagunganNya, di luar batas-batas khayalan manusia awam! ‘

Mencintai Sang Krishna adalah dengan (sekali lagi!) mengenalNya, mengenal sifat-sifatNya yang paling dalam mengenal kebenaran apa saja Ia ini sebenarnya. Melalui pengetahuan kasih ini, Sang Jiwa kita akan memasukiNya. Dan dengan dedikasi yang disertai dengan kasih yang tulus dan sejati, maka Sang Jiwa akan tinggal di dalam Sang Krishna sampai saat ajal datang menjemput, kemudian secara abadi ia larut dan bersatu tinggal di dalam Yang Maha Esa (setelah kematian pemuja yang tulus ini).

18.56

sarva-karmaṇy api sadā
kurvāṇo mad-vyapāśrayaḥ
mat-prasādād avāpnoti
śāśvataḿ padam avyayām

Melakukan semua tindakan secara konstan, apapun jenis tindakan ini, berlindung kepadaKu, dengan karuniaKu, ia akan mencapai tempat nan abadi, yang tak pernah binasa.

 Penjelasan: Dalam sloka ini Sang Krishna menggabungkan seluruh doktrin atau ajaran ajaranNya yang terdiri dari unsur-unsur karma, gnana dan bhakti. Seorang pemuja Sang Krishna yang sejati tidak perlu malu-malu untuk ber-karma. Ia dapat melakukan pekerjaan apa saja yang positif tentunya, selama itu disertai oleh rasa bhakti yang tulus. Dan karunia Yang Maha Esa akan memutuskan seluruh ikatan-ikatan karmanya.

Seseorang yang secara sejati telah bersandar kepada Sang Krishna, Yang Maha Esa, walau ia bertindak apa saja, apapun yang dilakukannya walau mungkin terkesan salah bagi sebagian orang, sebenarnya hasil atau buah dari perbuatan itu sudah diambil dan dinetralisir oleh Yang Maha Kuasa. Pemuja ini sebenarnya sudah bersandar total kepadaNya, dan hanya hidup dan bekerja atas karuniaNya yang sejati. Ada tiga pemikiran yang dapat disimpulkan dari sloka-sloka di atas, yaitu:

  1. Sang Jiwa dituntun ke arah gnana (pengetahuan atau kesadaran) oleh tindakan tindakan yang tanpa pamrih, atau yang telah dipasrahkan secara total kepada Yang Maha Esa.
  2. Samagati, yaitu bersandar pada Yang Maha Kuasa, (walaupun mungkin dengan motif-motif yang penuh dengan maksud-maksud pribadi), mendedikasikan berbagai kewajiban-kewajiban kepadaNya.
  3. Prema-bhakti, yaitu melalui cinta atau kasih yang agung dan suci.

18.57

cetasā sarva-karmaṇi
mayi sannyasya mat-paraḥ
buddhi-yogam upāśritya
mac-cittaḥ satataḿ bhava

Menyerahkan dalam pikiran semua tindakan kepadaKu, memandangKu sebagai Yang Maha Agung, berlindung dalam buddhi-yoga, yoga kebijaksanaan yang dapat membedakan, maka pusatkanlah pikiranmu senantiasa kepadaKu.

Penjelasan: Di sloka ini Sang Krishna bersabda agar secara mental Arjuna menyerahkan atau memasrahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang Maha Esa dari lubuk hati dan jiwanya secara tulus dan sejati. Yang dimaksud di sini amat penting, yaitu menjadikan diri kita tidak lain dan tidak bukan semacam wakil atau utusan dari Yang Maha Esa Itu sendiri, yang ditugaskan bekerja dan beribadah kepadaNya di bumi ini, sesuai dengan kehendakNya, dan senantiasalah berpikir akan Yang Maha Esa dan memohon petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunanNya. Kemudian secara tulus memasrahkan secara total semua perbuatan itu dan hasil-hasilnya kepada Yang Maha Esa: terjadilah kehendakNya. Dan janganlah ini disertai dengan pemrih atau pemikiran akan imbalan sedikitpun, sekecil apapun, janganlah terlintas pikiran akan pamrih ini!

Dengan belajar, berusaha dan mempraktekkan tahap demi tahap, langkah demi langkah buddhi-yoga sebagai dasar dari semua yoga-yoga lainnya, seseorang harus hidup di dunia ini dengan segala kewajiban-kewajibannya, dengan segala efek dan aspek dari kewajiban, perbuatan, pekerjaan dan aksi ini, bukannya melarikan diri dari semua aspek kehidupan yang kita hadapi ini dengan berbagai alasan, misalnya berdosa atau sukar melakukan sesuatu.

Semua alasan-alasan yang dicari untuk menghindar dari aksi-aksi yang positif dan sesuai dcngan kewajiban adalah kebodohan yang amat sangat. Bekerjalah, berbuatlah, bcrkarmalah, beraksilah, semuanya dengan dasar kewajiban kita, memakai istilah agama Islam, berdasarkan ibadah kita kepada Yang Maha Kuasa, dan serahkan hasilnya secara total dan murni kepadaNya semata. Dengan demikian bersihlah karma kita dari ikatan-ikatan duniawi ini. Sekali lagi. bersatulah dengan Yang Maha Esa dalam tekad, iman, jiwa dan kesadaran!

18.58

mac-cittaḥ sarva-durgāṇi
mat-prasādāt tariṣyasi
atha cet tvām ahańkārān
na śroṣyasi vinańkṣyasi

Berpikir akan Aku. maka dikau akan mengatasi semua rintangan-rintangan dengan karuniaKu. Tetapi kalau terdorong rasa egoisme dikau tak mau mendengarkan Aku, maka dikau akan binasa.

Penjelasan: Sang Jiwa harus bermeditasi kepada Sang Krishna dan melupakan pikiran akan kepentingan diri-pribadinya sendiri. Seseorang yang telah membunuh rasa egonya, akan mendapatkan bimbingan Sang Krishna ke arah sukses spiritual. Tetapi seseorang yang karena hanya mementingkan egonya dan tak mau acuh kepada ajaran-ajaran Sang Krishna akan binasa. Jadi tinggal memilih sendiri keselamatan atau kehancuran. Kalau kita menginginkan kehancuran maka percayalah diri-sendiri dan ikutilah segala kemauan diri ini. Kita bisa saja menentang yang Maha Esa, tetapi tidak mungkin menentang kehendakNya. Sekali menentangNya, maka jatuh, hancur dan binasalah kita, dalam arti masuk ke dalam lingkaran setan kelahiran dan kematian yang seakan akan tidak ada habis-habisnya.

Seandainya secara salah kita mengidentiflkasi diri kita dengan badan dan pikiran kita, dan hanya tergantung pada “ego” kita, (dan berpikir bahwa kitalah pelaku setiap tindakan) atau pun yang ada disekitar kita berdasarkan ego kita pribadi, maka kita pasti akan jatuh. Dengan demikian kita akan jauh dari Yang Maha Esa, kalau kita makin jauh maka kita akan bertambah kotor dan penuh dengan polusi duniawi, dan hancurlah kita kemudian jadinya. Biasanya rasa kesombongan, ego dan kebesaran kita akan diri kita ini akan hancur dahulu sebelum kita sendiri kemudian menyusul hancur. Tetapi bergandengan tangan dengan Sang Krishna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka tujuan dan sukses pasti akan tercapai. Dengan kata lain, kejatuhan sang jiwa kita adalah karena tidak patuhnya, karena pertentangan kita dengan kehendakNya. Dalam perjalanan atau evolusi hidupnya Sang Jiwa ini lalu menjadi cacat dan cemar, dan inilah yang disebut kehancuran dan kejatuhan Sang Jiwa ini ke dalam kegelapan.

18.59

yad ahańkāram āśritya

na yotsya iti manyase

mithyaiṣa vyavasāyas te

prakṛtis tvāḿ niyokṣyati

Kalau bertahan dalam egoisme, dikau berpikir, “Aku tak akan berperang,” maka ketahuilah bahwa keputusanmu itu sia-sia saja. Alam (pembawaan dan takdir) akan memaksamu untuk bertindak!

18.60

svabhāva-jena kaunteya

nibaddhaḥ svena karmaṇā

kartuḿ necchasi yan mohāt

kariṣyasy avaśo ‘pi tat

Oh Arjuna, terikat oleh tindakan-tindakanmu sendiri, lahir dari sifatmu sendiri »hal-hal yang karena kekurang-sadaranmu tidak ingin kau lakukan, tanpa daya akan kau lakukan juga.

 

Penjelasan: Seandainya Arjuna yang berstatus kshatriya ini tidak ingin berperang karena rasa egonya yang salah tidak menginginkan ia berperang. Tetapi tanpa akan disadarinya instink-instink alaminya, sifat dan pembawaannya berserta takdir yang

sudah digariskan Yang Maha Kuasa akan memaksanya untuk bertindak dan berperang demi kelangsungan hidupnya atau demi alasan-alasan lainnya. Semua tindakan ini sebenarnya berdasarkan akan karma-karma yang kita buat sendiri pada kelahiran-kelahiran yang lalu. Jalan yang paling benar secara spiritual dan kejiwaan adalah dengan mempersembahkan secara tulus dan penuh kesadaran jiwa-raga kita kembali kepada Yang Maha Esa. Lalu karma-karma kita secara tahap demi tahpa akan menyesuaikan diri dan berubah karakternya menjadi penuh dengan dedikasi dan kesetiaan demi Yang Maha Kuasa. Bahkan seorang yogipun tak akan bisa berubah sekaligus, semua atau setiap orang harus melalui tahap penyerahan total kepadaNya dulu. Ada suatu hal yang tak dapat kita perkirakan, yaitu episode-episode yang akan terjadi dalam perjalanan hidup kita ini, bahkan setiap hari kita jumpai kisah-kisah yang penuh dengan pengalaman yang unik, dan semua itu bisa saja jauh dari perkiraan dan rencana kita yang sudah matang. Bahkan sering kita melakukan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan dulunya, bahkan sering sekali kita melakukan hal-hal tanpa kesadaran; sering sekali bahkan secara suka-rela, sering juga tanpa daya dan terpaksa, hal-hal ini semuanya ada yang bertentangan dengan diri kita, ada yang selaras, ada yang setelah dilakukan menimbulkan sesal, ada yang setelah dilakukan secara terpaksa tetapi kemudian mendatangkan suatu kesenangan tersendiri. Sebenamya tanpa kesadaran kita, semua ini telah diatur dan tercipta sewaktu kita sendiri mulai tercipta di dunia in, bahkan mungkin sebelumnya. Seperti wayang atau pemain sandiwara kita ini sudah diatur cara bermainnya oleh sang dalang dan sutradaranya, mau tak mau kita harus memainkan peranan kita masing-masing, karena itulah karma-karma kita yang berjalan di bawah kuasa Sang Prakriti.

18.61

īśvaraḥ sarva-bhūtānāḿ
hṛd-deśe ‘rjuna tiṣṭhati
bhrāmayā n sarva-bhūtāni
yantrārūḍhāni māyayā

Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap mahluk, oh Arjuna, mengakibatkan mereka terputar oleh Sang Maya (kekuatanNya), ibarat mahluk-mahluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang berputar).

Penjelasan: Sebenarnya semua yang kita berbuat adalah perbuatan atau kehendak Yang Maha Esa itu sendiri yang bersemayam di dalam jiwa kita dan dalam jiwa setiap mahluk lainnya. Ia lah yang ‘membolak-balikkan” kita tanpa kita bisa berdaya atau menentang kehendakNya sedikitpun, dan alat pemutar ini adalah Sang Maya (ilusi, tenaga alami, dan juga kekuatanNya). Sering alat-pemutar ini disebut juga ibarat gansing oleh penterjemah sloka ini di versi-versi lain dari Bhagavat Gita). Yang Maha Esa adalah ibarat seorang dalang dalam pertunjukan, Yang Mengatur segala-galanya baik segi kostum, tata-ruang, penampilan dan semua gerak-gerik dan dialog kita. Sedangkan motor penggerak atau alat penggemk dibalik semua itu adalah Ia juga dalam bentuk kekuatannya,yaitu Sang Maya yang diciptakanNya Sendiri; tanpa Sang Maya tidak akan ada kekacauan dan kebaikan di dunia ini. Sang Maya ini dengan kehendakNya membuat kita “menang, berlari. jatuh-bangun, tunggang-langgang, terbuai, dan lain sebagainya,

Yang Maha Esa ini, oh manusia, Yang Menentukan seseorang harus berperang, berjuang, dan melawan kegelapan, kezaliman dan kekurangan pengetahuan kita, Prakriti memberikan kepada setiap mahluk, manusia dan benda peranan-peranan tertentu dalam kehidupan kita ini, tetapi semua itu juga diikuti oleh ikatan-ikatan duniawi, jadi mau tak mau harus benindak, berbuat dan beraksi sesuai dengan pola dari Sang Prakriti ini (kekuatanNya).

Di alam semesta ini yang merupakan suatu roda dari Sang Waktu, maka Yang Maha Kuasa telah menggariskan atau merencanakan setiap karma bagi setiap mahluk-mahluk ciptaanNya yang harus dilaksanakan oleh mahluk-mahluk ini. Jadi setiap manusia dan mahluk dan benda harus berputar atau berfungsi ibarat di atas suatu alat pemutar pembuat keramik, dan sewaktu diputar ini maka keramiknya atau tanah-liat yang akan dijadikan benda keramik inipun dipoles dan dibentuk sesuai dengan kehendak dan cita-rasa sang pembuat keramik. Dan dalam proses pembuatan keramik ini, tentu saja tidak semua keramik ini akan terbentuk dengan sempurna atau sama. Ada yang cacat, dan ada juga yang pecah berantakan, tetapi banyak juga yang cantik dan sempuma bentuknya. J adi dengan kata lain, tidak ada suatu kejadian atau nasib atau takdir yang kebetulan sifatnya atau penuh dengan “seandainya,” yang ada hanyalah Yang Maha Esa dan semua rencana-rencanaNya, tidak lebih dan tidak kurang!

18.62

tam eva śaraṇaḿ gaccha
sarva-bhāvena bhārata
tat-prasādāt parāḿ śāntiḿ
sthānaḿ prāpsyasi śāśvatam

Berlarilah mencari perlindungan di dalamNya dengan segenap jiwa ragamu, oh Arjuna! Dengan karuniaNya dikau akan mendapatkan Kedamaian Yang Agung -Tempat nggal Yang Abadi.

 

penjelasan: Sang Krishna Yang Maha Bijaksana setelah mengajarkan rahasia yang amat suci dan agung sifat ini, masih saja bersifat amat demokratis dan tidak mau menang sendiri atau memaksakan ajaran-ajaran ini kepada Arjuna atau kita semua. Malahan Ia menganjurkan agar semua ajaran dan wejangan ini dipelajari dan direnungkan dulu, dengan kata lain, kita semua diberikan kebebasan olehNya untuk bertindak atau memutuskan apa kita ingin mengikuti semua ajaran-ajaran ini secara semestinya, atau ingin bebas beritikad sesuai dengan selera kita sendiri.

Pengetahuan tentang kesadaran atau pencapaian Sang Brahman oleh manusia melalui tindakan atau perbuatan tanpa pamrih secara total adalah sebuah rahasia atau misteri yang sifatnya lebih dari rahasia itu sendiri, apapun bentuk rahasia itu. Rahasia yang lainnya adalah bahwa Sang Krishna, Yang Maha Esa itu. adalah monitor yang bersemayam di dalam diri setiap mahluk, yang sebenarnya menyelenggarakan dan yang dengan kekuatanNya (Sang Maya) membuat kita bertindak, berbuat, bekerja, beraksi dan “menari-nari” tanpa daya di panggung dunia ini. Maka berlindunglah selalu kepadaNya semata, kepada Yang Maha Esa, kepada Sang Krishna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kebijaksanaan ini amat jelas sifatnya, terserah kepada kita semua mau mengikuti semua ajaran ajaran kebijaksanaan ini dan mengamalkan kepada sesama kita dan demi Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengikuti kehendak pribadi kita sendiri. Yang Maha Esa jelas sifat dan pendirianNya, yaitu amat demokratis dan tidak memaksa. Semua ini tentunya kembali lagi kepada kita untuk direnungkan dan dijalani.

18.63

iti te jñānam ākhyātaḿ
guhyād guhyataraḿ mayā
vimṛśyaitad aśeṣeṇa
yathecchasi tathā kuru

18.64

sarva-guhyatamaḿ bhūyaḥ
śṛṇu me paramaḿ vacaḥ
iṣṭo ‘si me dṛḍham iti
tato vakṣyāmi te hitam

Dengarkanlah lagi kata-kataKu yang agung, yang paling rahasia sifatnyadibandingkan semuanya. Dikau adalah yang amat Kukasihi, maka akan Kukatakan kepadamu demi kebaikanmu.

 Penjelasan: Sebenarnya sabda atau wejangan-wejangan Sang Krishna adalah “sabda sabda nan agung” sifatnya, yang menjadi inti-sari dari Bhagavat Gita, inti-sari dari yoga atau ilmu pengetahuan yang sejati.

18.65

man-manā bhava mad-bhakto
mad-yājī māḿ namaskuru
mām evaiṣyasi satyaḿ te
pratijāne priyo ‘si me

Pusatkanlah pikiranmu padaKu; berdedikasilah kepadaKu; berkorbanlahdemi Aku; sujudkanlah dirimu di hadapanKu. Maka dikau dengan demikianakan datang kepadaKu. Aku menjamin dikau dengan kebenaranKu; dikau adalah kesayanganKu!

 Penjelasan: Arjuna adalah kesayangan Sang Krishna, maka diturunkanlah ajaran mengenai bhakti yang amat murni sifatnya ini kepadanya. Sang Krishna atau Yang Maha Esa pun menyayangi kita semua, dan diturunkanlah ajaran Bhagavat Gita kepada kita semuanya, maka dengan memberikan segenap jiwa-raga kita secara total kepadaNya, dengan mencintai dan mengasihiNya, memujaNya, selalu mengingatNya, tunduk dan bersujud selalu kepadaNya bekerja untukNya semata apapun jenis pekerjaan itu tanpa pamrih, maka kita semua akan menemukanNya, menemukan T uhan Yang Maha Esa, Tuhan dari segala bentuk kehidupan dan tujuan kehidupan ini, kehidupan kita semua ini 0m Tat Sat.

18.66

sarva-dharmān parityajya
mām ekaḿ śaraṇaḿ vrājā
ahaḿ tvāḿ sarva-pāpebhyo
mokṣayiṣyāmi mā śucaḥ

Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata untukberlindung. Janganlah bersedih! Akan Kubebaskan dikau dari semua dosa-dosa.

Penjelasan: Sloka ini dianggap sebagai sloka yang amat penting dalam Bhagavat Gita, dan merupakan suatu ungkapan dan ajaran yang dianggap amat rahasia sekaligus penuh dengan kasih-sayang Yang Maha Esa yang tak terbatas. Ajaran atau wejangan ini dianggap sebagai suatu kebijaksanaan yang amat dalam artinya dan menjadi patokan yang amat disegani dan dihormati oleh umat Hindu yang suci semenjak ribuan tahun yang silam di India dan di mana saja agama Hindu ini berkembang.

“Serahkan semua kewajiban,” pada sloka ini berarti tanggalkan atau lepaskanlah dharma yang ditekankan atau terdapat di pustaka-pustaka suci kuno untuk sesuatu yang nilainya lebih luhur dan agung, yaitu dengan menjadikan yang Maha Esa secara tunggal tempat kita berlindung. memohon dan mengabdi, dan memandangnya sebagai Yang mengayom dan Yang Menuntun kita sesuai dengan kehendakNya semata. Jangan membuang-buang waktu untuk mendiskusikan soal kasta yang sudah jelas maksudnya, yaitu pembagian kerja dan bukan perbedaan status atau diskriminasi. Jangan membuang-buang waktu yang berharga dengan melakukan tradisi dan upacara upacara yang membingungkan dan membuang-buang energi, tetapi langsung saja menuju ke suatu perbuatan nyata yang hakiki dan sejati sifatnya, yang tanpa pamrih demi dan untuk Yang Maha Esa semata, dan bukan demi kepuasan mata, kepuasan jiwa atau indra-indra dan pikiran pribadi kita.

Janganlah menerapkan kewajiban kewajiban atau instruksi-instruksi dalam dharma-shastra kita secara ngawur dan salah, secara metafsik dan etika belaka, tetapi lakukanlah secara murni sesuai dengan sabda-sabda Sang Krishna, Tuhan dari semua dewa-dewa dan kekuatan-kekuatan di alam semesta ini. Semua kewajiban dan instruksi yang terdapat di dalam dharmashasra ini akan hilang nilai dan artinya sekali seseorang sudah melakukan bhakti yang luhur dan tulus kepada Yang Maha Esa secara langsung.

Seorang jignasu (pencari kebenaran) harus menyerahkan secara total, jiwa dan raganya bagi Yang Maha Esa, dan Yang Maha Esa pasti akan membebaskannya dari segala dosa-dosa dan keterbatasannya, dari kekurang-pengetahuannya dan dari semua segi-segi negatifnya. Ini adalah janji tulus Sang Krishna, Yang Maha Esa, kepada kita semua dan ini menunjukkan kasihNya Yang Agung dan Suci. Rahasia ke Tuhan Yang Maha Suci adalah bhakti yang tulus dan tanpa pamrih, tanpa benci. tanpa keinginan duniawi, tetapi hanya demi dan untuk Ia semata. Terjadilah kehendakNya! 0m Tat Sat!

Seseorang yang dedikasinya kepada Yang Maha Esa masih dalam taraf yang belum matang, sewaktu bertindak sesuatu akan menganalisa dan mengkonfirmasikan setiap tindakan dan efeknya secara mental, fisik, moral, kewajiban, hukum, kaidah. kegunaan, bahkan dari segi spiritual juga akan diperhitungkan olehnya. Tetapi sekali ia berjalan dan berdedikasi secara tulus, tanpa pamrih dan dengan kesadaran yang matang, maka semua unsur, kaidah, dan nilai-nilai kewajibannya akan sirna, dan kemudian hanya timbul satu kesadaran Ilahi yang amat sukar diterangkan dengan kata-kata atau bahasa awam Kesadaran ini bentuknya amat spiritual dan orientasinya hanya Yang Maha Esa semata.

Di sini semua yang dikerjakan, diperbuat dan setiap aksi akan menjadi ibadah atau dedikasi yang amat tulus sifatnya dan setiap bentuk perbuatan pemuja ini akan sinkron dengan kehendakNya, dan inilah misteri dari kehendakNya, yang hanya bisa dimengerti secara spiritual dan duniawi oleh pemuja itu berkat karuniaNya juga. Suatu bentuk pengalaman atau kehidupan yang sukar dapat diterangkan dengan logika duniawi. Maka seyogyanyalah jangan menjadikan diri anda sebagai budak dari tradisi, kewajiban yang belum tentu positif nilainya, atau sesuatu tindakan yang nampaknya positif berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Ini bukan wejangan sesat atau ajaran Sang Krishna yang salah, tetapi bhakti yang tulus kepada Yang Maha Esa memang akan menimbulkan semacam prema (kasih Ilahi) yang tak terbatas agung dan suci yang penuh dengan pengetahuan-pengetahuan spiritual yang sukar dijangkau dengan logika duniawi, dan sukar diterangkan dengan kata-kata biasa, dan kebijaksanaan atau kesadaran Ilahi ini berada di atas semua kebaikan dan keburukan duniawi.

Tanggalkanlah semua baju-baju duniawi anda, dan secara “telanjang-bulat” lepaslah dari ‘nafsu-nafsu dan keinginan. Sambutlah Yang Maha Esa dengan bhakti yang tulus, berlindunglah di dalamNya dan selalulah berdoa “terjadilah kehendakNya.” Inilah inti sari ajaran Bhagavat Gita yang agung dan suci ini. Aliran Ramanuja di India menyimpulkan sloka 66 ini sebagai inti sari atau klimak dari ajaran Bhagavat Gita. Bekerja, bertindak dan berbuat suatu apapun; misalnya hal-hal yang dianggap terbaik dan suci, tetapi demi Yang Maha Esa semata dan tanpa harapan akan imbalan, maka perbuatan ini akan dilindungi oleh Yang Maha Esa dan sang pemujanya akan diselamatkan dari segala mara bahaya. Tetapi kalau sang pemuja sebaliknya berpikir bahwa semua tindakan tanpa pamrih ini malahan akan melepaskannya dari mara-bahaya dan akan dilindungi oleh Yang Maha Esa, maka pikiran semacam ini tidak murni lagi karena sudah terkena polusi dari pamrih itu sendiri. Ingat secercah harapan sekecil apapun merupakan tanda bahwa dedikasi itu sudah tidak murni lagi. “Terjadilah kehendakNya,” apapun itu! Baik yang terlihat negatif maupun positif, Yang Maha Esa yang tahu apakah hasil dan efek yang diberikannya kepada seseorang itu negatif atau positif. Seorang yang bersatu denganNya secara sejati akan mendapatkan juga pengetahuan ini, dan ia akan selalu bahagia dengan apapun yang diberikan oleh Yang Maha Esa kepadanya. 0m Tat Sat.

18.67
idaḿ te nātapaskāya
nābhaktāya kadācana
na cāśuśrūṣave vācyaḿ
na ca māḿ yo ‘bhyasūyati

Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang menjelek-jelekkan Aku.

Penjelasan : Kebenaran yang sejati ini jangan diajarkan atau dibicarakan dengan mereka mereka yang hidupnya penuh dengan kemewahan dan kenikmatan duniawi, yang sudah terbius oleh semua unsur duniawi ini, juga tidak kepada yang tak memiliki dedikasi atau ibadah kepadaNya, atau kepada mereka-mereka yang tak mau melakukan disiplin-disiplin spiritual seperti puasa, pemujaan, sembahyang, meditasi dan kegiatan-kegiatan spiritual lainnya yang berorientasi kepada Yang Maha Esa, atau mereka-mereka yang tidak mau memikirkan sesamanya. Jangan juga ajarkan Bhagavat Gita kepada orang-orang yang anti-Tuhan dan yang senang dan gemar menjelek-jelekkan Tuhan Yang Maha Esa. Juga jangan ajarkan Bhagavat Gita kepada mereka yang nafsu sensualnya terlalu besar, atau mereka mereka yang selalu mencari-cari kesalahan dalam setiap agama dan ajaran-ajaran suci lainnya. Karena ini sama saja meletakkan sebutir mutiara yang berharga dihadapan seekor babi, yang hanya senang makan kotoran dan tidak sadar atau tahu akan nilai mutiara ini.

Ajarkanlah Bhagavat Gita kepada mereka yang memperlihatkan dedikasi yang tinggi kepadaNya, yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik bagi sesamanya, yang berdisiplin secara spiritual, karena orang-orang yang tidak memenuhi syarat syarat ini akan salah mengerti akan ajaran-ajaran Bhagavat Gita, dan menyalah gunakannya. Jadi lebih baik tidak diajarkan, karena malahan akan menimbulkan kekacauan dan kebatilan daripada kebaikan dan kebenaran;

18.68
ya idaḿ paramaḿ guhyaḿ
mad-bhakteṣv abhidhāsyāti
bhaktiḿ mayi parāḿ kṛtvā
mām evaiṣyaty asaḿśayaḥ

Seseorang yang membukakan (menjelaskan) rahasia agung ini kepada pemuja-pemujaKu, memperlihatkan dedikasi yang tertinggi kepadaKu ia, tanpa diragukan, akan datang kepadaKu.

18.69
na ca tasmān manuṣyeṣu
kaścin me priya-kṛttamaḥ
bhavitā na ca me tasmād
anyaḥ priyataro bhuvi

Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi dedikasinya kepadaKu selain ia. Juga tak akan ada orang Iain yang lebih Kukasihi di bumi ini selain ia.

Penjelasan : Seseorang yang dengan bakti dan dedikasi yang tulus mengajarkan Bhagavat Gita kepada yang lain-lainnya adalah seorang manusia yang amat dikasihi oleh Sang Krishna, oleh Yang Maha Esa, demikian sabda Sang Krishna disloka-sloka di atas, karena orang ini membantu orang lain untuk menyeberangi kehidupan

(sansara) ini ke Tujuan Nan Abadi, Tempat Tinggal Kita Yang Selama-lamanya 0m Tat Sat.

18.70
adhyeṣyate ca ya imaḿ
dharmyaḿ saḿvādam āvayoḥ
jñāna-yajñena tenāham
iṣṭaḥ syām iti me matiḥ

Dan seseorang yang mempelajari dialog kita yang suci ini, maka ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu pengetahuan. Begitulah ketetapanku.

 Penjelasan : Mempelajari atau melakukan suatu studi akan Bhagavat Gita secara tulus adalah suatu bentuk pemujaan akan Yang Maha Esa. Barangsiapa mempelajari Bhagavat Gita berarti mempersembahkan suatu persembahan yang tak ternilai harganya bagi Yang Maha Esa. Dan ini sudah menjadi ketetapan Sang Krishna, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 0m Tat Sat.

18.71
śraddhāvān anasūyaś ca
śṛṇuyād api yo naraḥ
so ‘pi muktaḥ śubhāl lokān
prāpnuyāt puṇya-karmaṇām

Dan seseorang yang penuh dengan iman dan tanpa itikad mencemoohkan, walaupun ia hanya mendengarkan saja, ia pun, lepas (dari perbuatan perbuatan iblis), akan mencapai loka-loka kebenaran nan terang-benderang.

 Penjelasan : Bahkan seseorang yang tidak mempelajari Bhagavat Gita, dan hanya mendengarkan ajaran-ajaran ini dari mulut orang lain, dapat berubah menjadi seorang mukta. yaitu yang mendapatkan mukti (kebebasan), selama ia mendengarkannya dengan penuh iman dan kepercayaan penuh tanpa maksud untuk mencemohkan ajaran ini. Tetapi kebebasan yang didapatkan orang ini bukan kebebasan dari lahir dan mati yang berulang-ulang, tetapi kebebasan dari dosa-dosanya, dari perbuatan-perbuatan buruknya -karena dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan iblis seseorang adalah hambatan-hambatan yang sukar di jalan bakti atau dedikasi kepada Yang Maha Esa. Sekali terbebas dari dosa-dosanya, dan setelah meninggal-dunia, ia akan pergi ke loka-loka di mana tinggal orang-orang yang selama hidupnya penuh dengan tindakan~ tindakan yang suci dan murni.

Bhagavat Gita adalah salah satu karya Ilahi yang berbentuk amat spiritual; yang menghancurkan kegelapan bagi seseorang yang tekun dan mau untuk merenungi ajaran-ajaran suci ini. Ajaran ini menghancurkan keragu-raguan seseorang yang beriman kepadaNya. Dengarkanlah pesan-pesan Sang Krishna dengan penuh penghayatan, dan kalau ada yang kurang di mengerti jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada guru atau pada yang mengetahuinya, dan suatu saat yang tepat nanti kita akan sampai ke tujuan hidup ini, yang sebenar-benarnya, yaitu kehidupan yang sejati bersamaNya.

18.72
kaccid etac chrutaḿ pārtha
tvayaikāgreṇa cetasā
kaccid ajñāna-sammohaḥ
praṇaṣṭas te dhanañjaya

 Sudahkan dikau dengarkan ini, oh Arjuna, dengan pikiran yang terpusat pada suatu arah? Sudah hancurkah moha (kegelapan) mu yang dikarenakan oleh agnana (kekurangan-pengetahuan). oh Arjuna?

 Penjelasan : Sang Krishna kini bertanya kepada Arjuna apakah keragu-raguannya yang dikarenakan oleh kekurang-pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang sejati telah pupus kini, setelah mendengarkan wejangan dan sabda-sabda suci Sang Krishna.

Apakah moha (kasih sayang atau keterikatan duniawinya) akan keluarga dan negaranya telah berganti menjadi kasih sayang Ilahi yang sejati, yang penuh dengan kesadaran sejati akan arti dan hakikat misi kuta ke dunia ini?

 

Berkatalah Arjuna:

18.73

Arjuna uvāca
naṣṭo mohaḥ smṛtir labdhā
tvat-prasādān mayācyuta
sthito ‘smi gata-sandehaḥ
kariṣye vacanaḿ tava

Hancurlah sudah kegelapanku, telah kudapatkan kesadaran ini melalui karuniaMu, oh Krishna! Tegarlah daku kini, dan hilanglah sudah keragu-raguanku. Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.

Penjelasan : Akhirnya, Arjuna mendapatkan kesadarannya dan siap melakukan sabda-sabda Sang Krishna, tegarlah sudah jiwa, pikiran dan raganya. Kebenaran Ilahi, kebenaran dan penerangan Sang Atman datang sudah ke dalam dirinya. Hilang sudah kegelapan dan diri dan jiwanya, dan sadarlah Arjuna kini, bahwa Sang Jiwa itu sebenarnya adalah abdi Yang Maha Kuasa yang sifat sejatinya adalah abadi dan tidak bisa binasa.

Tempat sebenarnya dari Sang Jiwa di dunia adalah di telapak kaki suci Sang Krishna, Yang Maha Esa. Dengan kata lain, ini berarti Sang Jiwa seharusnya mengabdi di dunia sesuai dengan kehendakNya dan bukan sesuai dengan kehendak dan nafsu Sang Jiwa sendiri, dan Arj una pun sadar akhirmya bahwa kebijaksanaan yang tertinggi adalah dalam bentuk penyerahan total jiwa, raga, pikiran dan perbuatan serta hasil perbuatan-perbuatan itu, secara tulus dan tanpa pamrih, kepada Yang Maha Esa semata. Tidak mengherankan kalau di sloka ini Arjuna akhirnya berkata, “Daku akan bertindak sesuai dengan sabda sabdaMu.”

Begitulah selalu, setelah Sang Jiwa dalam diri kita sadar maka -egoismenya akan hilang, ilusi-ilusi di sekitamya hilang, kegelapannya tersibak dan keragu-raguannya hancur-lebur, maka -akan terdengarlah sebuah suara kecil dari Yang Maha Esa di dalam dirinya, dan mulailah ia benindak mengikuti semua instruksi-instruksi dan tuntunan tuntunanNya, ia menjadi alat atau instrumen Yang Maha Kuasa dengan penuh kesadaran dan penerangan Ilahi penuh dengan ilmu pengetahuan yang sejati.

Berkatalah Sanjaya:

18.74

sañjaya uvāca
ity ahaḿ vāsudevasya
pārthasya ca mahātmanaḥ
saḿvādam imam aśrauṣam
adbhutaḿ roma-harṣaṇam

Demikianlah telah kudengar dialog yang amat menakjubkan antara Sang Vasudeva (Krishna) dan Partha (Arjuna) yang berjiwa luhur (besar), dialog ini membuat bulu-bulu romaku berdin.

 Penjelasan: Sanjaya yang pada awal Bhagavat Gita memulai kisah Bhagavat Gita kepada Raja Dhritarashtra; telah menceritakan semua yang didengarkan dan yang dilihatnya ini pada sang raja, dan di sloka-sloka berikutnya ia akan mengakhiri kisah Bhagavat Gita.

18.75

vyāsa-prasādāc chrutavān
etad guhyam ahaḿ param
yogaḿ yogeśvarāt kṛṣṇāt
sākṣāt kathayataḥ svayam

Dengan kebaikan Vyasa, kudengar rahasia agung ini, Yoga yang diajarkan sendiri oleh Sang Krishna, Tuhan dari segala ilmu pengetahuan yang bersabda didepanku.

Penjelasan : Sanjaya menerangkan kepada raja Dhristarashtra bahwa dengan pertolongan Resi Vyasa yang memberikan Sanjaya penglihatan mistik, maka ia telah mendengarkan sabda-sabda Sang Krishna kepada Arjuna, tetapi tidak dengan telinga duniawi milik raganya, karena kekuatan mistik Resi Vyasa, Bukan saja Sanjaya mendengarkannya, tetapi ia pun bertekad untuk mempelajari dialog suci ini. Sang raja sebaliknya akan menderita karena masih penuh dengan itikad-itikad jahat.

18.76

rājan saḿsmṛtya saḿsmṛtya
saḿvādam imam adbhutam
keśavarjunayoḥ puṇyaḿ
hṛṣyāmi ca muhur muhuḥ

Mengingat-ingat dialog antara Sang Krishna dan Arjuna yang menakjubkan dan suci ini, oh raja. Aku gemetar dalam kebahagiaan, lagi dan lagi!

 Penjelasan : Sanjaya sendiri yang mendengar dan melihat dari jauh tak dapat melupakan dialog suci ini dan raganya berulang-ulang gemetar kalau meningat-ingat lagi akan apa saja yang ia saksikan dan dengar. Sebaliknya raja Dhritarashta, ayah para Kaurawa tidak nampak tertarik akan ajaran-ajaran suci Sang Krishna ini, karena ia lebih mementingkan keluarga dan putra-purtanya. Sanjaya di lain pihak akan bertambah terus keyakinannya terhadap Sang Krishna dan ajaran-ajaranNya.

18.77

tac ca saḿsmṛtya saḿsmṛtya
rūpam aty-adbhutaḿ hareḥ
vismayo me mahān rājan
hṛṣyāmi ca punaḥ punaḥ

Teringat, dan teringat juga, bentuk yang menakjubkan dari Sang Krishna, besar takjubku, oh raja, dan aku gemetar dengan kebahagiaan, lagi dan lagi!

18.78

yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo
yatra pārtho dhanur-dharaḥ
tatra śrīr vijayo bhūtir
dhruvā nītir matir mama

Di mana hadir Sang Krishna, Tuhan dari ilmu pengetahuan. di mana hadir Arjuna, sang pemanah, terjaminlah di sana kemakmuran, kemenangan (kejayaan), kesejahteraan dan neeti (kebenaran atau moralitas).

Penjelasan :Sang Krishna adalah ilmu pengetahuan yang sejati, dan Arjuna adalah energi. Kalau kedua unsur ini bergabung maka terciptalah kemenangan, kejayaan, kesejahteraan. kesentosaan, kemajuan dan kebenaran. Dengan kata lain, Sang Krishna adalah Sang Para-Atman yang bersemayam di dalam diri kita semua. Arjuna adalah tidak lain dan tidak bukan, kita, manusia di dunia ini. Kalau kedua unsur ini bergabung secara sejati, maka terciptalah kebenaran yang sejati, Om Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, maka bab ini adalah yang kedelapan belas yang berjudul:

 

Moksha Sanyasa Yoga

 atau

llmu Pengetahuan mengenai Pembebasan melalui Penyerahan secara Total.

 

0m Shri Krishna Arpanam Astu Shubham Bhavantu

Puja-puji bagi Sang Krishna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Semoga tercipta kebahagiaan di manapun.

 

Dengan ini berakhirlah Upanishad Bhagavat Gita, Semoga damailah setiap benda dan mahluk di alam semesta ini.

0m Tat Sat. Om Shanti, Shanti, Shanti. Om Tat Sat.

Bhagavad Gita Bab XVII

BAB XVII

Tiga jenis kepercayaan

Berkatalah Arjuna:

17.1

Arjuna uvāca
ye śāstra-vidhim utsṛjya
yajante śraddhayānvitāḥ
teṣāḿ niṣṭhā tu kā kṛṣṇa
sattvām āho rājā s tamaḥ

Mereka yang tidak kenal akan kaidah-kaidah suci ini, tetat mempersembahkan pengorbanan dengan kepercayaan (iman) bagaimanakah keadaan mereka ini, oh Krishna? Apakah (mereka) ini tergolong sattva, raja atau tama?

Penjelasan: Timbul pertanyaan yang wajar di dalam hati sang Arjuna, apakah perlu kita semua belajar tentang hukum atau kaidah-kaidah yang dikandung oleh skrips kuno dan buku-buku suci lainnya? Apakah Bhagavat Gita scndiri tidak cukup atau memadai? Dan bagaimana dengan nasib mereka yang beriman tetapi tidal pemah membaca atau mengetahui tentang naskah atau skripsi-skripsi kuno ini?

Sebenarnya hukum ini –karena sifatnya yang abadi, spiritual dan alami -secara otomatis akan bekerja sendiri. Tidak penting apakah setiap orang yang beriman itu pernah mendengar atau tidak akan hukum/kaidah ini. Sesuai dengan karuniaNya maka seseorang yang beriman akan belajar sendiri atau dengan kata lain mendapatkan sendiri semua kaidah-kaidah suci ini secara bertahap, dan ia akan memahami itu semua dengan baik. Yang penting, kita ini (setiap individu) harus jujur pada diri sendiri, dan walaupun tak pemah mendcngar tentang sastra-sastra ini, seorang yang telah terpanggil ke jalanNya akan secara otomatis mempelajari dan mempraktekkan secara langsung semua kaidah dan hukum-hukum suci ini, sesuai dengan hati nuraninya, karena memang hukum ini sifatnya amat universal dan alami. Arjuna yang khawatir akan nasib seseorang yang beriman tetapi tidak kenal kaidah-kaidah suci ini, sebenarnya tidak perlu khawatir, karena yang penting adalah penghayatan dan pengamalan kaidah kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan dengan membaca atau mengetahuinya. Kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan semua itu datang dari Satu Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih dan Penyayang. Walau nampaknya kaidah-kaidah ini berlainan dalam berbagai ajaran agama, ajaran moral, kebatinan dan hukum tetapi inti sarinya selalu Manunggal, yaitu Satu, dan semua ltu selalu berporos dan kembali kepadaNya juga. 0m Tat Sat.

 

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

17.2

śrī-bhagavān uvāca
tri-vidhā bhavati śraddhā
dehināḿ sā svabhāva-jā
sāttvikī rājasī caiva
tāmasī ceti tāḿ śṛṇu

Kepercayaan manusia (mahluk Yang dapat binasa), yang lahir dari sifat sifat mereka, terbagi dalam tiga bagian -sattvik, rajasik dan tamasik. Dengarkanlah oleh mu semua ini.

17.3

sattvānurūpā sarvasya
śraddhā bhavati bhārata
śraddhā-mayo ‘yaḿ puruṣo
yo yac-chraddhaḥ sa eva saḥ

Iman seseorang, oh An‘una, adalah berdasarkan sifat seseorang itu. Manusia dibentuk oleh imannya: begitu imannya, begitu juga manusianya.

Penjelasan: Shradda, atau iman atau kepercayaan, adalah ekspressi dari setiap sifat sejati atau asli dari individu itu sendiri yang sudah diatur oleh karma-karmanya. Begitu sifatnya, begitu juga perilaku orang itu. Kepercayaannya akan Yang Maha Esa, otomatis terpancarkan sesuai dengan sifat-sifat asli setiap individu yang tentunya berbeda-beda dari setiap manusia ke manusia yang lainnya, dan faktor ini juga akan membeda-bedakan perilaku manusia tersebut. Dan ada tiga golongan kepercayaan pada setiap mahluk yang hidup, terutama yang disebut manusia (mahluk yang juga dapat binasa), yaitu sattvik (dari sattva), rajasik (dari raja) dan tamasik (dari tama), yang hadir secara berbeda-beda dan dominan dalam bentuk dan kekuasaannya masing-masing. ‘

17.4

yajante sāttvikā devān
yakṣa-rakṣāḿsi rājasāḥ
pretān bhūta-gaṇāḿś cānye
yajante tāmasā janāḥ

Manusia-manusia yang bersih memuja para dewa, manusia-manusia yang bernafsu memuja para yaksha dan para rakshasa, dan yang lainnya, yaitu manusia-manusia yang berada dalam kegelapan -memuja hantu-hantu dan roh-roh yang bergentayangan.

 Penjelasan: Shradda (iman) yang bersifat sattvik ini menunjukkan kemurnian atau kesucian orang-orang dengan sifat ini, yaitu memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para dewa dewa yang dianggapnya Tuhan atau pengganti Tuhan. Dan sewaktu ajal mereka tiba, mereka ini pergi kc tujuan pemujaan mereka sesuai dengan imannya masing masing. Mereka ini dapat saja mencapai penerangan atau nirvana pada akhir hayat mereka.

Sifat-sifat rajasik adalah sifat-sifat yang penuh dengan energi. Iman rajasik adalah iman yang penuh energi, nafsu dan keinginan-keinginan bagi mereka yang menginginkan kekuasaan, harta-benda, sukses dan lain sebagainya. Mereka-mcreka yang punya kepercayaan rajasik ini memuja para yaksha (dewa-dewa pemberi harta dan kesejahteraan duniawi) dan para rakshasa (setan dan iblis).

Sedangkan sifat-sifat tamasik adalah sifat-sifat kegelapan total yang dimiliki oleh mereka-mereka yang kurang sekali pengetahuannya akan kebesaran Yang Maha Esa, mereka amat serakah dan tidak suci, amat sensual, malas dan penuh akan sifat-sifat gelap lainnya. Demi hasrat dan jalan pintas ke sukses dan pencapaian kesejahteraan duniawi ini mereka memuja roh-roh yang sesat, hantu, jin dan kuasa kuasa gclap yang cepat mendatangkan kenikmatan bagi mereka.

17.5

aśāstra-vihitaḿ ghoraḿ
tapyante ye tapo janāḥ
dambhāhańkāra-saḿyuktāḥ
kāma-rāga-balānvitāḥ

Manusia-manusia yang menjalankan disiplin-disiplin Spiritua secara negatif, yang tidak dianjurkan oleh skripsi-skripsi suci, yang telah terbiasadengan kemunafikan dan rasa egoisme dan telah terseret oleh kekuatan nafsu dan keinginan (duniawi).

17.6

karṣayantaḥ śarīra-sthaḿ
bhūta-grāmam acetasāḥ
māḿ caivāntaḥ śarīra-sthaḿ
tān viddhy āsura-niścayān

Manusia-manusia semacam ini tak memiliki akal-budi. Mereka merusak elemen-elemen raga mereka dan Aku yang bersemayam di dalam raga ini. Ketahuilah bahwa orang-orang ini berpikiran iblis.

 Penjelasan: Cara pemujaan juga merefleksikan iman atau shraddha ini. Dan seandainya seseorang memuja sesuatu unsur alami atau yang lainnya dengan menyiksa tubuh mereka atau merusak tubuh ini dengan sesuatu ritus-ritus tertentu, maka tapa, pemujaan atau usaha spiritual ini tidaklah suci sifatnya, tidak sinkron dengan kaidah-kaidah suci yang tertera di kitab-kitab suci Hindu kita ini mereka yang merusak raga mereka demi kepuasan duniawi ini sebenamya merusak “kuil yang suci,” kuil Sang Krishna yang dilahirkan sebenarnya dengan tujuan yang suci, yaitu menyembah dan mengenal Yang Maha Esa dan bukan menjadi budak dari nafsu mereka.

Raga ini pantang untuk dirusak karena sebenarnya bukan milik kita dan seharusnya dipergunakan untuk maksud-maksud yang positif, dan seandainya orang-orang ini masih saja merasa lebih benar dari yang dianjurkan oleh skripsi-skripsi ini, maka manusia semacam ini adalah manusia yang egoistik dan hanya mementingkan diri mereka sendiri dan menghalalkan segala cara demi tercapainya maksud-maksud duniawi mereka.

17.7

āhāras tv api sarvasya
tri-vidho bhavati priyaḥ
yajñas tapas tathā dānaḿ
teṣāḿ bhedam imaḿ śṛṇu

Pangan yang diperlukan oleh semua mahluk terdiri dari tiga jenis. Begitupun bentuk pengorbanan, tapa dan dana. Dengarlah perincian perinciannya.

17.8

āyuḥ-sattva-balārogya-
sukha-prīti-vivardhanāḥ
rasyāḥ snigdhāḥ sthirā hṛdyā
āhārāḥ sāttvika-priyāḥ

Makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh dengan gizi dan sesuai, disukai oleh orang-orang yang bersifat sattvik.

17.9

kaṭv-amla-lavaṇāty-uṣṇa-
tīkṣṇa-rūkṣa-vidāhinaḥ
āhārā rājasasyeṣṭā
duḥkha-śokāmayā –pradāḥ

Makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit disukai oleh mereka-mereka yang bersifat rajasik.

17.10

yāta-yāmaḿ gata-rasaḿ
pūti paryuṣitaḿ ca yat
ucchiṣṭam api cāmedhyaḿ
bhojanaḿ tāmasa-priyam

Makan yang tak segar, tak berasa, basi, cacat, tidak bersih adalah jenis makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat tamasik.

Penjelasan: Makanan yang dimakan seseorang pun merefleksikan karakter scseorang itu sendiri, yang didasarkan pada iman orang itu sendiri sesungguhnya. Seperti juga iman atau kepercayaan yang terbagi tiga, maka jenis makanan pun dibagi tiga:

  1. Makanan sattvik, makanan jenis ini menambah kewibawaan, intclegensia, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan, kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Makanan jenis ini adalah yang mudah dimakan, beraroma, manis, mengandung cairan seperti sari-buah dan buah~ buahan; menyehatkan dan sesuai dengan mereka-mereka yang bertemparamen satrvik. Contoh: gandum, beras, kacang-kacangan, mentega, susu, produk dari ternak (bukan daging temak), buah-buahan dan sayur-sayuran scgar dan matang.
  2. Makanan rajasik adalah jenis makanan untuk mereka-mereka yang penuh dengan nafsu dan keinginan-keinginan duniawi, yaitu jenis-jenis makanan yang rasanya pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, keras dan menyengat seperti opium, tembakau, tamarin, cabai, gandum yang dibentuk alkohol dan lain sebagainya Makanan sejenis ini menimbulkan sakit, penderitaan dan kesusahan.
  3. Makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka-mereka yang hidup dalam kegelapan dan berpikiran gelap dan iblis. Mereka ini menggemari makanan yang tidak dimasak dengan baik, yang kotor, yang tidak ada rasanya, cacat, basi, tidak dapat digolongkan suci atau bersih. Contoh: daging, ikan, bawang, telur, daging-mentah, buah-buahan dan sayur-sayuran yang diasamkan, alkohol dan sisa-sisa makanan orang lain. Juga makanan hasil korupsi dan kejahatan termasuk golongan ini.

Makan yang disantap kita seharusnya adalah makanan yang menyehatkan dan membersihkan diri kita. Hasil kerja kita yang halal adalah sattvik, dan seandainya kita memakan sesuatu dari uang hasil korupsi atau pekerjaan haram lainnya, dan seandainya kita menerima sesuatu pemberian atau makanan dari seseorang yang jelas-jelas kita ketahui uangnya berasal dari uang yang tidak jujur atau tidak halal. maka yang dimakan itu tidak sattvik. Sebuah pepatah Jerman mengatakan, “Seorang manusia adalah apa yang ia makan!” Dan ini memang benar adanya, karena berdasarkan makanan yang kita konsumsikan kemudian timbul berbagai jenis pikiran di dalam benak. Pikiran, jiwa dan hati kita, dan semua pikiran ini, kemudian menghasilkan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan kehidupan kita. Jadi berhati-hatilah akan apa yang kita makan atau konsumsikan. Makanlah sesuatu dari orang-orang yang sifat dan rasa magnetismenya suci dan bersih.

Seseorang yang pantas dimakan makanannya adalah ibu kita sendiri, istri yang berbakti, putri. saudara pcrempuan dan guru kita sendiri. Dan secara mental selalu mempersembahkan makanan ini sebagai ahuti (persembahan) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara ini makanan yang dimakan ini akan memberikan kekuatan untuk pekerjaan kita dan juga untuk amal kita bagi semuanya. Dan sewaktu bersantap harap diperhatikan bahwa suasana di sekitar tempat makan ini tenang dan tidak berisik. Makanlah dengan diam-diam tanpa banyak berbicara, jauhkanlah pikiran dan pembicaraan yang tidak perlu. Ini penting sekali baik untuk segi kejiwaan maupun kesehatan badani. Cobalah!

17.11

aphalākāńkṣibhir yajño
vidhi-diṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ
samādhāya sa sāttvikaḥ

Persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat sattvik, seandainya dipersembahkan sesuai dengan kaidah-kaidah suci, oleh orang-orang yang tidak menginginkan suatu imbalan, dan yang percaya dengan teguh bahwa persembahan (atau pengorbanan) ini adalah wajib sifatnya.

17.12

abhisandhāya tu phalaḿ
dambhārtham api caiva yat
ijyate Bhārata -śreṣṭha
taḿ yajñaḿ viddhi rājasam

Persembahan (atau pengorbanan) yang dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan suatu imbalan tertentu atau demi suatu pertunjukkan belaka adalah persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat rajasik (penuh nafsu), oh Arjuna.

17.13

vidhi-hīnam asṛṣṭānnaḿ
mantra-hīnam adakṣiṇam
śraddhā-virahitaḿ yajñaḿ
tāmasaḿ paricakṣate

Persembahan (atau pengorbanan) yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah suci, di mana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantra mantra yang diucapkan, dan tak ada dana atau hadiah yang diberikan, yang kosong akan iman, adalah bersifat tamasik (gelap).

Penjelasan: Pengorbanan atau persembahan pun berhubungan dengan karakter asli dari para pemuja, dan terdapat tiga kwalifikasi dari persembahan atau pengorbanan ini

  1. Persembahan yang bersifat sattvik dilakukan oleh seseorang karena merasakan adanya kewajiban berdasarkan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa dan kaidah-kaidah suci, Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu keuntungan tertentu.
  2. Persembahan secara rajasik adalah persembahan atau pengorbanan yang tidak tulus karena dilakukan dengan mengharapkan pamrih atau untuk suatu tujuan tertentu. Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan demi mendapatkan kemasyhuran dan ada juga yang demi memamerkan kekayaan dan kekuasaan seseorang.
  3. Persembahan secara tamasik adalah persembahan tanpa iman, yang dilandasi akan maksud-maksud gelap. Persembahan atau pengorbanan ini bertolak belakang dengan ajaran-ajaran suci.

17.14

deva-dvija-guru-prājña-
pūjanaḿ śaucam ārjavam
brahmācāryam ahiḿsā ca
śārīraḿ tapa ucyate

Pemujaan kepada para dewa, kepada yang lahir dua kali, kepada para guru dan kaum bijaksana; kemurnian, kejujuran (yang tidak ditutup-tutupi), diSiplir ; Spiritual bagi diri, dan tidak menyakiti siapapun -inilah yang disebut sebagai tapa-tapa bagi raga ini.

17.15

anudvega-karaḿ vākyaḿ
satyaḿ priya-hitaḿ ca yat
svādhyāyābhyasanaḿ caiva
vāń-mayā ḿ tapa ucyate

Kata-kata (wicara) yang tidak menyakiti seseorang, yang jujur, menyenangkan dan menguntungkan, dan mempelajari buku-buku suci secara konstan. Inilah yang disebut sebagai tapa-tapa wicara ini.

17.16

manaḥ-prasādaḥ saumyatvaḿ
maunam ātma-vinigrahaḥ
bhāva-saḿśuddhir ity etat
tapo mānasam ucyate

Ketenangan pikiran, kelembutan, diam-diri, kendali-diri, berpikir (dan juga merasa) secara baik dan murni inilah yang disebut tapa-tapa pikiran ini.

Penjelasan: Tapa atau disiplin spiritual bagi seseorang pun dibagi tiga. Tapa yang benar adalah disiplin diri yang dilakukan pada raga, kata-kata (mulut dan pembicaraan) dan pikiran kita masing-masing sebagai berikut:

  1. Tapa atau disiplin pada raga itu adalah dengan menyembah dan memuja kepada Yang Maha Esa secara teratur dan konstan; menyembah dan bckerja untuk para guru dan orang-orang yang bijaksana yang menjadi tempat kita belajar, kepada para pendeta dan Brahmin yang kita hormati dan pada individu-individu yang agung dan suci ajaran-ajarannya. Dalam tapa untuk raga ini tercakup juga disiplin yang kuat dalam membérsihkan tubuh kita dari kekotoran-kekotoran duniawi dan juga benda-benda lainnya yang dapat membuat kita sakit Juga kendali pada semua indra-indra sensual kita adalah salah satu dari tapa-raga ini. Menjaga kesehatan raga kita dari berbagai kemungkinan terkena penyakit kotor dan penyakit-penyakit lainnya, berolah-raga secara teratur, berekreasi ke alam bebas, bermeditasi adalah tapa atau disiplin bagi raga kita, yang amat vital dan penting efeknya pada kehidupan spiritual kita.

Juga termasuk dalam tapa-raga ini, ialah kwalitas-kwalitas atau sifat-sifat seperti keterus-terangan atau kejujuran, tidak menyakiti sesama mahluk dan usaha-usaha bramacharya, yaitu mendisiplinkan diri dan raga kita agar jauh dari nafsu-nafsu badani. Jauhkanlah kemanjaan dalam hidup ini, hiduplah secara sederhana saja dan lebih alami. Jangan berpikir semasih ada pergunakan saja kesempatan dan fasilitas yang telah diberikan Tuhan kepada kita, kemudian dengan landasan pemikiran semacam ini, kita berfoya-foya atau hidup yang mewah dan penuh dengan kenikmatan duniawi.

Tetapi berpikirlah selama diberi kesempatan dan fasilitas ini kita malahan menggunakan secara minim dan yang perlu saja, dan ingat Yang Maha Esa tidak pemah menciptakan uang, rumah, AC, mobil dan benda-benda mewah lainnya, yang menciptakan semua ini adalah manusia. Yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa adalah alam, jadi kembalilah ke alam yang tak ada habis-habisnya ini, di alam yang murni ini terletak kebahagiaan dan obat kita untuk mengatasi semua problim kita. Semua yang nampaknya mewah dan praktis ini sebaliknya malahan membuat raga kita sakit karena kurang gerak dan jadilah kita budak dari semua milik kita yang mewah mewah ini dan timbullah efek dari semua ini yang biasanya membuat kehidupan kita makin tergantung kepadanya, dan bukan sebaliknya. Padahal tubuh dan pikiran kita diciptakan sedemikian rupa agar makin banyak gerak dan scmakin alami hidup kita maka semakin sehatlah raga dan pikiran kita akhimya. Jauhilah dan kurangilah pembantu rumah-tangga yang berlebihan jumlahnya, sebisa mungkin kita bekerja sendiri semua urusan rumah-tangga kita dan bergeraklah semaksimum mungkin sambil bekerja. Inilah salah satu tapa-raga kita yang sehat dan satrvik sifatnya.

  1. tapa-wicara atau disiplin pada kata-kata atau pembicaraan kita adalah disiplin diri kita dalam bertutur-kata. Jauhilah bualan-bualan kosong maupun kata-kata yang penuh dengan nada kebanggaan, sombong dan egois. Selalulah berkata sejujur mungkin, tulus dan mengutarakan kata-kata yang baik, lembut dan bermakna, yang menyejukkan hati yang mendengarkannya. Sebuah pepatah Jepang mengatakan, “Satu kata yang lembut, menyejukkan tiga bulan musim panas.” Kata-kata yang jauh dari nafsu dan kekotoran adalah kata-kata yang harus selalu melekat pada bibir dan pikiran kita. Gunakanlah selalu kata-kata yang dapat menolong seseorang yang memerlukannya, (nasehat-nasehat) dan jauhilah argumen-argumen yang menunjukkan rasa egoisme yang pribadi, seperti “ini punyaku, ini aku yang melakukannya, dan lain sebagainya.” Jauhilah kata kata kasar dan didorong rasa amarah. Dekatilah Ia selalu setiap saat, setiap waktu baik sedang bekerja maupun tidak, dan selalulah mengucapkan doa-doa, mantra-mantra suci dan “berdialoglah” denganNya baik secara verbal maupun secara mental. Inilah tapa-wicara yang penting dilakukan kita semua, demi tercapainya disiplin spiritual kita yang lebih tinggi, yaitu disiplin kepada dan bagiNya.
  2. Tapa-jiwa (atau pikiran) adalah: (l) Selalu membuat pikiran kita gembira dan balans (stabil) dengan menenangkan diri dan mencari ketenangan baik di tengah tengah kesibukan maupun ketika sedang seorang diri. (2) Kelembutan atau ramah-tamah, tetapi ini tidak berarti kelemahan atau rasa pengecut, tetapi bersikap ramah, baik dan terus-terang, tenang dan welas-asih terhadap semua mahluk, manusia dan benda -benda. (3) Diam-diri atau tenang-diri tidak berarti kita harus bermeditasi sepanjang hari, atau diam seperti patung, atau bagaikan orang mati dan tidak bergerak sama-sekali, atau juga lari dari pekerjaan dan kewajiban kita schari-hari, melainkan berarti mengusahakan setiap harinya untuk sejenak meluangkan waktu kira-kira 10 menit atau satu jam, dan duduk bermeditasi atau “berdialog” dengan Yang Maha Esa secara tenang dan tidak terganggu. Ini baik untuk menjauhkan stress dan problim-problim, tetapi lebih baik secara spiritual karena akan makin mendekatkan kita kepadaNya secara lambat-laun tapi pasti. Hal ini dapat dilakukan di kantor, rumah, di toko, atau sambil berolah-raga jalan kaki misalnya, sambil berdiri di suatu tempat secara tenang dan lain sebagainya Yang Maha Esa dapat dihubungi dengan cara apa saja dan di mana saja karena Ia Maha Hadir di alam semesta ini. Yang penting luangkan waktu sejenak pada waktu-waktu tertentu atau secara bebas, dan berusaha tenang dan menyatu denganNya. (4) Kendali pada pikiran dan (5) membersihkan perasaan kita. Kedua hal terakhir ini berarti janganlah berpikir yang tidak-tidak atau berspekulasi atau mencurigai sesuatu atau seseorang. Tetapi fokuskanlah diri padaNya selalu dan banyak berpikirlah mengenai hal-hal yang positif dan suci, dan yang tidak merusak jiwa dan mental kita. Seperti raga yang harus dibersihkan setiap hari dengan air bérsih,maka jiwa dan pikiran kita pun harus dimandikan dan dibersihkan dengan selalu berpikir tentang Yang Maha Esa dan hal-hal yang positif, bersih, murni dan baik untuk semua yang di sekitar kita dan di seluruh alam semesta ini, dengan doa-doa dan mantra-mantra suci bagi semuanya (di alam semesta ini).

17.17

śraddhayā parayā taptaḿ
tapas tat tri-vidhaḿ naraiḥ
aphalākāńkṣibhir yuktaiḥ
sāttvikaḿ paricakṣate

Ketiga tapa (di atas) ini disebut sattvik, seandainya dilaksanakan dengan iman yang tinggi oleh mereka-mereka yang stabil pikirannya dan tanpa mengharapkan pamrih.

17.18

satkāra-māna-pūjārthaḿ
tapo dambhena caiva yat
kriyate tad iha proktāḿ
rājasaḿ calam adhruvam

tapa-tapa yang dilakukan demi peragaan atau pertunjukan yang penuh dengan rasa kesombongan agar mendapatkan rasa hormat, kemasyhuran dan agar dipuja orang, disebut sebagai tapa-rajasik, tapa ini tidak stabil dan hanya sementara sifatnya.

17.19

mūḍha-grāheṇātmano yat
pīḍayā kriyate tapaḥ
parasyotsādanārthaḿ vā
tat tāmasam udāhṛtam

Tapa-tapa yang mengakibatkan penyiksaan pada diri-sendiri atau pada orang (dan mahluk lainnya), yang dilaksanakan oleh mereka yang pikirannya telah tersesat disebut sebagai tapa tamasik.

Tapa atau disiplin diri secara sattvik adalah kendali-raga, wicara dan pikiran dengan penuh iman dan tanpa kcserakahan. Sedangkan tapa yang bersifat rajasik mengarah pada rasa-hormat dan kemasyhuran dan bermotifkan sesuatu, jadi tidak tulus dan selalu mengharapkan imbalan. Tapa tamasik bahkan merusak diri atau orang dan mahluk lain.

Disiplin yang amat keras dan fanatik, yang merusak diri sendiri tidak dianjurkan karena sebenarnya secara spiritual malahan tidak spiritual sama sekali dan tidak

mengarah kepada pembebasan (mukti) dan Yang Maha Esa. Memang disiplin semacam ini dapat menghasilkan kekuatan-kekuatan gaib tertentu baik secara ragawi maupun secara batin, tetapi semua kekuatan-kekuatan ini sebenarnya adalah hambatan-hambatan yang besar ke arah jalan spiritual yang sejati dan penerangan Ilahi tidak akan turun karenanya. Sebaliknya yang timbul akibat kesaktian-kesaktian ini adalah rasa sombong dan ego yang baru sifatnya. Jadi supaya tidak sia-sia jalan spiritual kita, dianjurkan untuk secara sederhana saja memuja Yang Maha Esa; dan kekuatan gaib yang datang sendiri karena karuniaNya saja yang boleh dipergunakan untuk tujuan-tujuan manusiawi dan demi Yang Maha Esa tanpa pamrih.

Puasa yang berkepanjangan dan menyiksa diri, kemudian praktek-praktek atau ritus-ritus yang merusak tubuh, yang menyiksa tubuh, tidak pernah dianjurkan oleh guru-guru maupun ajaran-ajaran suci di dunia ini. Lebih baik melakukan suatu disiplin diri yang tidak terlalu keras dan bersifat kejam, tetapi tidak juga yang santai santai sifatnya. Yang dianjurkan dengan disiplin ini adalah pengendalian dari nafsu nafsu kita yang kalau tidak diajarkan yang baik akan selalu bergentayangan ke arah obyek-obyek sensual. Semua disiplin ini juga sebenarnya mengajarkan kita untuk membersihkan dan menguatkan diri dan jiwa kita, guna menghadapi semua cobaan hidup sehari-hari, semua suka dan duka, semua kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan penderitaan secara stabil. Bukankah hidup kita sehari-hari tidak lain dan tidak bukan ibarat ujian-ujian yang berat saja. Semua itu bisa dihadapi secara stabil dan teguh, jika kita terbiasa akan disiplin diri ini.

Setiap tindakan disiplin diri yang sejati seharusnya menghasilkan suatu tekad yang kuat dalam berbagai tindakan dan pemikiran kita, menghasilkan suatu rasa kasih-sayang yang positif terhadap semua mahluk dan sesama kita yang menderita, menjauhkan kita dari rasa ego, rasa marah, dan keinginan-keinginan pribadi kita yang selalu tak pernah kunjung habis.

Suatu tapa yang baik dan sejati akan menghasilkan seseorang yang tegar imannya, yang aktif bekerja, berdoa, memuja Yang Maha Esa tanpa pamrih, yang aktif menolong siapa saja tanpa pamrih, yang aktif berekreasi dan berolah-raga secara sehat, yang berkewajiban penuh kepada semua kewajiban-kewajibannya di lingkungannya, di negaranya dan tempat-tempat yang berhubungan dengan orang itu sendiri, terutama kewajibannya kepada Yang Maha Esa. tapa yang sejati menghasilkan sesuatu yang amat besar nilainya secara spiritual dan kejiwaan bagi seseorang yang melakukannya secara sejati. Sukar dilukiskan ketenangan orang semacam ini, sukar dikatakan akan kekuatan jiwanya, karena ketegaran dan kepasrahannya pada Yang Maha Esa akan menghapus semua rasa takutnya pada apapun juga di dunia ini selain Yang Maha Esa.

Kalau ada yang ingin anda salibkan atau kuburkan sebelum kita ini binasa. maka saliblah atau kuburkanlah pikiran dan jiwa anda yang penuh polusi, agar

jauh dari kekotoran-kekotoran duniawi. Dengan jiwa dan pikiran yang terkendali, bersih dan murni akan dihasilkan raga perbuatan yang bersih, suci, murni dan bebas dari polusi duniawi. Jauhilah unsur-unsur kenikmatan yang berlebihan dan juga unsur-unsur yang memancing kenikmatan-kenikmatan ini, kendalikan diri, pergunakan semua fasilitas yang diberikan olehNya secukupnya saja sesuai kebutuhan kita, dan jangan sekali-kali menghamburkan tenaga, pikiran dan fasilitas anda pada semua yang berbau duniawi ini. Kibarkanlah panji-panji kebajikan mulai dari diri kita sendiri, dan bertapa atau berdisiplin dirilah secara sejati dan mumi, inilah penyaliban atau penguburan diri kita yang sejati.

Kita pun harus belajar untuk menjadi miskin dalam hidup ini, bukan berani lalu setiap orang mengubah dirinya menjadi peminta-minta, tetapi baik penampilan dan kehidupan sehari-hari dijadikan sederhana. Pola hidup sederhana jangan hanya dijadikan semboyan pemanis bibir saja, tetapi harus dilaksanakan secara lahir dan batin, dimulai sebaiknya semenjak dini. Dan ini adalah tanggung-jawab orang orang tua sebenarnya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Seandainya anda seorang yang hartawan, mulailah berdisiplin diri dengan tinggal di sebuah rumah yang sederhana saja tetapi baik dan sehat lingkungannya, berpakaian dan makan secara sederhana saja tetapi sehat dan penuh gizi, dan bersifat makanan sattvik, karena yang penting adalah berpikir dan bertindak sattvik. Seharusnya kita menyadari bahwa manusia ini sebenarnya amat miskin, karena sewaktu lahir kita dikirim ke dunia ini dalam keadaan telanjang-bulat dan sewaktu mati nanti apa yang akan kita bawa serta? Semua ini hanya pinjaman dan ilusi saja, sebenarnya hanya penunjang saja untuk kehidupan kita, lalu untuk apa serba mewah dan gemerlapan, kalau yang terpakai hanya sekedar saja dan sisanya dalam jumlah yang besar hanya sebagai dekor dan penghias belaka? Sewaktu berlebih-lebihan inilah kita belajar hidup sederhana, agar di kemudian hari sewaktu mengembalikan semua ini kita sudah siap sedia sama seperti kita datang ke dunia ini.

Inti-sari dari semua tapa dan disiplin diri spiritual ini ialah: Disiplin dan kendalikan diri anda sebegitu rupa agar anda jauh dari rasa memiliki, rasa ego, dan rasa pamrih. Hanya Yang Maha Esa saja yang seharusnya tampil sebagai tujuan kita bekerja, dan hanya Ia saja terpikir senantiasa dalam jiwa sanubari kita. kosongkanlah, sekosong-kosongnya jiwa dan pikiran kita dari semuanya yang berbau duniawi. Kalau sudah kosong secara sejati, maka Yang Maha Esa akan mengisinya!

17.20

dātavyam iti yad dānaḿ
dīyate ‘nupakāriṇe
deśe kāle ca pātre ca
tad dānaḿ sāttvikaḿ smṛtam

Pemberian yang diberikan, terdorong oleh rasa kewajiban, kepada seseorang tanpa mengharapkan sesuatu kembali, dan diberikan di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat dan kepada orang yang membutuhkannya pemberian ini disebut sattvik (bersih).

17.21

yat tu pratyupakārārthaḿ
phalam uddiśya vā punaḥ
dīyate ca parikliṣṭaḿ
tad dānaḿ rājasaḿ smṛtam

Bila suatu pemberian diberikan dengan itikad mendapatkan sesuatu imbalan atau dengan harapan bahwa di kemudian hari akan ada balasannya. atau diberikan secara tidak ikhlas -pemberian ini disebut rajasik (bersifat mementingkan diri sendiri).

17.22

adeśa-kāle yad dānam
apātrebhyaś ca dīyate
asat-kṛtam avajñātaḿ
tat tāmasam udāhṛtam

Pemberian yang diberikan pada tempat dan waktu yang salah atau kepada orang yang tak pantas menerimanya, atau diberikan tanpa rasa hormat atau dengan diiringi caci-maki -pemberian ini disebut tamasik (gelap).

Penjelasan: Terdapat tiga jenis pemberian dana atau perbuatan amal yang jelas diperinci di atas, yang masing-masing didasarkan pada sifat-sifat seseorang. Seperti kata Nabi Muhammad SAW, maka sebenarnya memberikan dana atau perbuatan amal itu lebih ditegaskan pada itikadnya, contoh: memberikan air pada seorang musafir yang kehausan adalah dana, membersihkan batu atau benda-benda tajam dari jalan agar orang lain tidak tersandung dan tertusuk adalah dana, tersenyum memberi semangat pada seseorang yang kesukaran adalah dana. Menggali sumur, menyediakan tempat minum, membangun jalan, membangun tempat ibadah dan menanam pepohonan demi kebutuhan masyarakat dan melestarikan alam adalah dana. Bukankah sebenarnya dengan kata lain pemberian dana atau perbuatan amal itu adalah kekayaan seorang manusia yang sebenarnya. Pemberian tidak selalu identik dengan uang, tanpa uangpun seseorang dapat memberi tanpa habis-habisnya dan itulah kekayaan kita yang sejati.

Sadarkah kita akan hal ini? Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Sewaktu seseorang meninggal dunia, orang-orang bertanya harta-benda apa saja yang telah ditinggalkannya, tetapi para malaikat bertanya amal – perbuatan baik apa saja yang telah dilakukannya sebelum ia meninggal dunia? Pemberian yang ikhlas dan tanpa pamrih adalah kekayaan sejati, seperti kata sebuah pepatah: “Hanya orang kaya yang dapat memberikan tanpa merasakan kehabisan, yang miskin hanya dapat menerima saja tanpa memberi kembali!” Seseorang disebut miskin kalau sudah menerima apa adanya masih saja merasa kurang dan meminta terus, dan hal ini berlaku untuk orang-orang yang merasa kaya-raya tetapi selalu haus akan harta-benda, kedudukan dan hal-hal duniawi Iainnya. Sebaliknya seorang petani yang miskin secara duniawi mungkin adalah orang yang amat kaya, karena setiap harinya ia bersyukur ke hadirat Yang Maha Esa untuk semua yang didapatkannya hari itu. Kalau saja semua ini dapat dihayati oleh semua insan di dunia ini, damai sentosalah kita semuanya.

Dana atau amal adalah perbuatan yang amat mulia sifatnya, yang dianjurkan oleh semua agama di dunia ini, karena dengan jalan ini lahirlah rasa simpati yang dalam dari hati nurani kita kepada mahluk-mahluk ciptaan Yang Maha Esa yang lainnya seperti sesama manusia, fauna, flora, mahluk-mahluk halus dan lain sebagainya. Dana atau amal yang sejati menciptakan kedamaian, kebahagiaan, membuat hidup ini berarti bagi sesamanya. Perbuatan dana atau amal adalah salah satu kreasi Yang Amat Indah dan Penuh Makna, ciptaan Yang Maha Esa. Memberikan dana adalah ibarat menanam pohon yang cabang-cabangnya menjulang tinggi langit tanpa habis-habisnya. Memberikan tanpa pamrih adalah inti dari kebahagiaan sejati atau berkah dari Yang Maha Esa sesungguhnya.

Lihatlah Ibu Theresia, pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian dari India, yang telah menolong jutaan manusia hina-papah di India dan di bagian-bagian lain di dunia tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun juga. Memulai usahanya tanpa uang sepeserpun dan hanya berbekal iman pada Tuhan Yang Maha Esa ia masih dapat menolong ribuan manusia setiap harinya. Ibu Theresia inilah lambang dari Yang Maha Esa sesungguhnya dalam bentuk manusia di muka bumi ini, yaitu memberi tanpa pernah merasa akan kehabisan, dan tetap saja Ibu yang suci ini berkata, “Tuhan belum memberikan aku suatu kesuksesan, Ia hanya telah membuatku beriman.” 0m Tat Sat.

17.23

oḿ tat sad iti nirdeśo
brahmaṇas tri-vidhaḥ smṛtaḥ
brāhmaṇās tena vedāś ca
yajñāś ca vihitāḥ purā

“Om Tat Sat” inilah yang dikatakan sebagai ketiga faktor penting dari Sang Brahman (Yang Maha Esa). Dengan ini terciptalah para Brahmin di masa lalu, Veda-Veda dan persembahan-persembahan (pengorbanan).

17.24

tasmād oḿ ity udāhṛtya
yajña-dāna-tapaḥ-kriyāḥ
pravartante vidhānoktāḥ
satataḿ brahma-vādinām

Maka dengan itu semua tindakan pengorbanan, persembahan (pemberian) dan disiplin spiritual yang dianjurkan skripsi-skripsi suci, dimulai dengan ucapan kata Om oleh mereka-mereka yang mengetahui akan Sang Brahman.

17.25

tad ity anabhisandhāya
phalaḿ yajña-tapaḥ-kriyāḥ
dāna-kriyāś ca vividhāḥ
kriyante mokṣa-kāńkṣibhiḥ

Mereka yang menginginkan pembebasan (penerangan) memulai tindakan pengorbanan, disiplin dan persembahan mereka dengan ucapan kata Tat (ltu), tanpa mengharapkan pamrih.

17.26

sad-bhāve sādhu-bhāve ca
sad ity etat prayujyate
praśaste karmaṇi tathā
sac-chabdaḥ pārtha yujyate

Kata Sat dipergunakan dengan menyadari realitas dan kebenaran. Begitu juga, oh Arjuna, kata Sat dipergunakan untuk tindakan-tindakan terpuji.

17.27

yajñe tapasi dāne ca
sthitiḥ sad iti cocyate
karma caiva tad-arthīyaḿ
sad ity evābhidhīyate

Keteguhan dalam pengorbanan, disiplin-disiplin spiritual dan pemberian dana juga, disebut “Sat,” dan juga tindakan yang terpusat pada hal itu disebut Sat.

   17.28

aśraddhayā hutaḿ dattaḿ
tapas taptaḿ kṛtaḿ ca yat
asad ity ucyate pārtha
na ca tat pretya no iha

Apapun yang dilakukan tanpa iman, apakah itu persembahan (dalam suatu pengorbanan), dana atau disiplin spiritual, atau apa saja yang lain daripada itu, disebut asat, oh Arjuna! Pekerjaan semacam itu tak ada nilainya (artinya) baik di sana maupun disini.

Penjelasan: Om Tat Sat adalah tiga patah kata mistik yang disebut-sebut di pustaka-pustaka suci Hindu. Ada hubungannya yang amat dalam dan bersifat mistik, suci, sekaligus spiritual antara kata-kata ini dengan semua tindakan yagna, tapa dan dana.

Om Tat Sat adalah tiga patah kata yang menyatu artinya dan merupakan nanifestasi dari Yang Maha Esa, Sang Para Brahman dan semua tindakan tindakanNya. Kata 0m berarti supremasi Yang Maha Esa yang tanpa ada tandingannya. Yang Maha Esa atau Sang Brahman begitu tinggi dan agung bentuk dan sifatNya sehingga tidak ada suatu katapun yang dapat menggambarkanNya atau melukiskanNya dengan pasti apa itu sebenarnya Yang Maha Kuasa ini. Kata 0m maka dari itu dijadikan lambang dari supremasi atau keagunganNya. 0m kata filsuf shankara dapat berarti “setiap kata tunduk di hadapan Yang Maha Esa.” Begitu agung makna simbol atau kata 0m ini bagi orang-orang Hindu. Manusia hanya bisa menangkap apa arti Yang Maha Esa tetapi tidak bisa menggambarkan atau mengekspresikan Apa Itu Yang Maha Esa sebenar-benarNya.”

Setiap agama berusaha untuk menggambarkan atau melukiskan atau bahkan memberikan nama dan arti untuk Yang Maha Esa dengan versinya masing-masing, tetapi sesungguhnya kita manusia begitu terbatas kemampuannya sehingga tak akan pernah dapat dan tahu apa itu Yang Maha Esa sesungguhnya dengan segala manifestasi dan keagunganNya. Setiap agama dan ajaran suci memanggilNya dengan nama dan sebutan suci masing-masing, begitu juga para Aryan yang menjadi nenek-moyang dari orang-orang Hindu di India memberikanNya suatu nama atau sebutan suci, yaitu 0m. Dengarkanlah gema nama ini dalam alunan Sang Bayu, dan gelegarmya suara ombak, dalam alunan aliran sungai yang mengalir, dan dalam cahaya bintang-bintang di langit, dalam kicauan dan lagu-lagu alam para burung di alam-bebas, dan dalam gegap-gempitanya suara halilintar, dalam lagu-lagu pujaan seorang bhakta (pemuja)Nya, dalam suara lonceng-lonceng di gereja dan di kuil, dalam puja-puji dan kidung-kidung suci di stupa-stupa dan suara azan yang merdu di mesjid-mesjid. Semua ini menyebut nama Yang Maha Esa, yang Tak Ada TandinganNya: bagi Orang Hindu semua itu suara Om yang tak ada taranya di alam semesta ini. Sebutkanlah kata sakti ini sekali, dua kali, tiga kali dan seterusnya, karena 0m inilah lagu kehidupan, lagu Yang Maha Esa, lagu penciptaan Yang Maha Esa, dengan ini diciptakannya alam semesta beserta segala isinya. Sebutkanlah mantra 0m ini tujuh kali atau seterusnya dan biasakanlah kita ini selalu merasa hadir di tengah-tengah kebesaran Yang Maha Esa, di tengah-tengah Yang Maha Esa Itu Sendiri

Om adalah meditasi, Om adalah kesucian diri kita, Om adalah hidup kita sehari hari, Om adalah aspirasi kita kepada Yang Maha Esa, kepada Sang Krishna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Om adalah setiap tindakan kita yang tanpa pamrih, tanpa keserakahan dan motivasi apapun juga. Hadirkan diri kita secara suci-bersih di hadapan setiap hal, tindakan dan kewajiban kita dengan memulai kata Om : selalulah menghayatiNya dengan tulus dan murni.

Kata Tat mengekspresikan universalitas Sang Brahman, Yang Maha Esa. Ia adalah ‘Sifat UniversalNya. Tuhan Yang Maha Esa ini menurut Shankara adalah kesadaran Yang Maha Suci. Tat dengan kata lain dapat dan baik diartikan sebagai Kesadaran Universal Yang Suci. “Bermeditasilah,” kata Shankara, “di dalam kesadaranmu sendiri.” Meditasi ini mengarah ke arah penerangan atau pembebasan.

Kata Sat mengekspresikan Kebenaran dan Kebaikan Sang Para Brahman. Sang Brahman ini adalah Yang Maha Baik, dan Ia hadir dalam setiap jiwa kita dan para mahluk-mahluk lainnya sebagai Yang Baik, Yang Suci, dan berbagai manifestasiNya seperti Itikad Yang Suci, Itikad Yang Baik, semua unsur yang baik dan suci dalam diri kita. Ia menuntun kita dan menyadarkan dan memberitahukan kita apa itu yang baik dan apa itu yang buruk. Tuhan Yang Maha Esa adalah Itu. Ia juga berarti “Apa.” yaitu “Kebaikan.” Sat juga berarti memproduksi yang baik dan suci. Semua tindakan tanpa pamrih dan demi kewajiban kita kepada Yang Maha Esa adalah Sat. Semua tindakan yang bukan demi Yang Maha Esa adalah asat, tidak realis, tidak benar atau tidak nyata.

Om Tat Sat adalah mantra suci Bhagavat Gita. Mengulang-ulang mantra ini adalah suatu tindakan sakramental, yang akan membukakan pintu berkahNya bagi yang melakukannya. Orang-orang Kristen dan Buddhis, Muslim dan Yahudi pun masing-masing mempunyai ucapan-ucapan atau formula-formula suci, yang kalau diucapkan menjadi semacam jembatan spiritual bagi yang melakukannya dengan Yang Maha Esa, dan yang dapat memberikan semacam shakti atau kekuatan spiritual bagi yang telah menghayati kata-kata suci ini. Kata-kata suci ini juga menjauhkan kita dari segala efek-efek dan pengaruh-pengaruh negatif yang gelap, buruk dan yang bersifat iblis. Penghayatan akan mantra-mantra suci mempengaruhi jiwa kita sehingga lama-kelamaan menjadi suatu kesatuan dan tenaga spiritual bagi jiwa raga kita. Berbagai kata suci dalam berbagai agama dapat diterangkan secara singkat seperti berikut ini: “Sat Nam,” “Tuhan,” “kasih,” “Krishna,” “Kristus,” “Hare Ram,” “Hari Bol,” “Haq Maujud,” “Rahman,” “Rahim,” dan banyak lainnya. Kalau diucapkan berulang-ulang setiap saat, hari dan pada setiap kesempatan yang tersedia dengan dedikasi dan kesetiaan kita yang tulus, dengan penghayatan dan maksud membersihkan dan menyucikan diri dan pikiran kita, dan sambil menjauhkan segala ego kita, maka semua itu akan mempertebal iman kita kepadaNya. Seorang sufi pernah berkata, “Pintu kata-kata ini akhirnya terbuka dan Sang Jiwa pun masuk kedalam Keadaan Yang Nyata.” Mantra-mantra atau kata-kata suci yang diulang-ulang sepanjang hidup kita pasti suatu saat akan mengantar kita ke alamNya yang penuh dengan cahaya dan penerangan Ilahi.

Bagi seorang Hindu, setiap bentuk perbuatan, pekerjaan, yagna dan lain sebagainya dimulai dengan kata-kata Om Tat Sat. Mulailah semuanya dengan kata Om, lalu mulailah dengan puja atau mantra yang akan dibacakan. Tidak ada pekerjaan, mantra atau suatu tindakan yang tidak dilakukan tanpa diawali kata Om. Inilah salah satu kaidah atau hukum suci yang terdapat di kitab-kitab suci Hindu kuno, yang kesemuanya juga adalah hasil kerjaNya semata, hasil kerja dari Om Tat Sat Itu Sendiri, begitu pun dengan semua ciptaan dan kreasiNya, semua kasih dan berkahNya, semuanya adalah Om Tat Sat, berawal dari Itu dan berakhir ke Itu juga Demikianlah, seyogyanya kita memulai semua perbuatan kita, apa saja pekerjaan atau perbuatan itu dengan kata 0m Tat Sat.

Semua tindakan tanpa kata-kata suci adalah asat. Walaupun semua tindakan baik sifatnya, tetapi tanpa penghayatan akan kata-kata suci ini secara sejati tidak akan menghasilkan apapun juga baik di dunia ini maupun di loka-loka lainnya Om Tat Sat adalah pencetusan iman kita kepadaNya, dengan kata lain mengingatNya dan mendahulukanNya untuk dan dalam setiap tindakan atau perbuatan kita yang berani mengutamakanNya dan bekerja demi Ia semata secara tulus. Ialah semua ini sebenarnya, ia juga Hidup dan Tujuan kehidupan ini sebenarnya. Tanpa iman kepada Yang Maha Kuasa, semuanya jadi tidak berani. 0m Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, bab ini adalah bab ketujuh-belas yang disebut :

Shraddha Traya Vibhaga Yoga

atau

Yoga Ketiga Bentuk Sifat Kepercayaan (Iman).

Bhagavad Gita Bab XVI

Bab XVI

Yang Berhati Suci dan Yang Berhati lblis

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

16.1

śrī-bhagavān uvāca

abhayaḿ sattva-saḿśuddhir

jñāna-yoga-vyavasthitiḥ

dānaḿ damaś ca yajñaś ca

svādhyāyas tapa ārjavam

Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan. mempelajari buku-buku suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;

16.2.

ahiḿsā satyam akrodhas

tyāgaḥ śāntir apaiśunam

dayā bhūteṣv aloluptvaḿ

mārdavaḿ hrīr acāpalam

Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua mahluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidaksetiaan;

 

16.3

tejaḥ kṣamā dhṛtiḥ śaucam

adroho nāti-mānitā

bhavānti sampadaḿ daivīm

abhijātasya bhārata

 

Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan, kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang berlebih-lebihan ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang yang lahir dalam keturunan yang suci.

Penjelasan: Di dunia ini ada dua jenis manusia, yaitu yang suci dan yang bersifat iblis. Manusia-manusia yang lahir dengan karakter-karakter yang suci secara mendasar sudah spiritual sifatnya. Mereka-mereka ini adalah jiwa-jiwa yang hidup dalam raga tetapi tak terpengaruh oleh Sang Maya. Mereka ingat dan sadar akan kesucian yang menunjang mereka untuk sampai ke Rumah Tujuan akhir nanti. Segala perbuatan dan tindak-tanduk mereka memancarkan kesucian dan kemurnian bagi sesamanya dan diri mereka sendiri. Dalam tindak-tanduk mereka di dunia ini mereka tidak menunjukkan nafsu atau keinginan-keinginan duniawi baik dalam cara berpikir, aspirasi maupun perbuatan mereka. Mereka ini selalu terserap dalam yoga dan jauh dari segala bhoga (kenikmatan-kenikmatan duniawi). Semenjak lahir, dalam diri mereka telah nampak tendensi tendensi suci. Bakat-bakat kesucian ini mereka bawa dari karma yang terdahulu, dan dipraktekkan dengan lebih aktif lagi di kelahiran mereka yang berikutnya secara lebih intensif. Mereka-mereka yang dianggap memiliki ciri-ciri keturunan suci ini (daivi sampad), dan telah siap melangkah ke arah pembebasan duniawi ini menampakkan dua-puluh enam ciri-ciri atau tanda-tanda khas, seperti berikut ini :

  • Tak memiliki rasa takut. Kita sering sekali dilanda rasa takut dan khawatir dalam hidup ini seperti takut dan khawatir kehilangan barta-benda, milik atau seseorang yang tersayang dan lain sebagainya. Seseorang yang telah menyerahkan atau memasrahkan semua tindakan dan hasil tindakan mereka kepada Yang Maha Esa, dan yakin akan kehendakNya semata tak akan pemah takut, khawatir dan gentar mengarungi hidup ini. Baginya hidup ini adalah suatu tindakan atau pekerjaan yang suci demi Yang Maha Esa, jadi tak ada Iagi rasa takut dalam diri mereka, karena selain merasa tak memiliki sesuatu apapun juga di dunia ini, mereka ini juga dapat merasakan kasih-sayang Ilahi YangTak Terbatas yang tak dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang belum sadar sepenuhnya.
  • Kesucian atau kemurnian hati. Kebersihan hati berarti lepas dari segala unsur -unsur atau sifat-sifat palsu, betapa kecilpun sifat palsu itu. Biasanya seorang yang tabah dalam hidupnya dan sudah lepas dari segala rasa takut, akan berubah menjadi seorang ‘anak-kecil’ yang bersih dan mumi hati dan tingkah-lakunya. Goethe pernah berkata, “Bersihkan dirimu dengan merendahkan dirimu.” Untuk menjadi mumi dan bersih ini, seseorang harus selalu berpikir bahwa raga ini adalah ‘kuil’ dari Sang Atman Yang Suci dan Agung. Hati yang suci bersih tak pernah menuntut atau mengingini apapun juga selain mengasihi Yang Maha Esa dan menerima semua kehendakNya semata tanpa pamrih. Jadilah dikau hati yang suci dan mumi dalam segala tindak tandukmu, dalam segala pikiran dan puja pujimu.
  • Ketegaran atau keteguhan dalam ilmu pengetahuan sejati mengenai Yang Maha Esa, dan ketekunan dalam yoga adalah praktek-praktek disiplin ketat dalam menekuni ilmu-sejati ini. Ketegaran ini dasarnya adalah moral dan iman yang kuat. Caranya ada beberapa macam dan semuanya menuntut keyakinan, ketekunan dan keteguhan yang tak ada putus-putusnya dalam melakukan: (a) meditasi setiap harinya, (b) usaha-usaha spiritual seperti puasa dan sembahyang dan lain sebagainya yang dipilih masing-masing individu, (c) cinta-kasih yang tulus pada setiap mahluk, benda dan sesamanya, (d) melayani atau bekerja tanpa pamrih demi membantu fakir-miskin, orang-orang tua, orang-orang sakit dan mereka-mereka yang pantas ditolong, dan semuanya ini harus dilakukan tanpa pamrih. Dalam melakukan semua usaha-usaha ini akan banyak ditemui hambatan-hambatan yang sukar dan sering sekali terjadi para pemula tumbang karena tidak melihat hasil yang nyata dan segera. Tetapi seseorang yang tegar akan berjalan dan melangkah terus dengan perlahan tapi pasti, dan suatu saat karena keyakinannya yang tegar ia akan sampai ketujuannya yang mulia. la sadar sukar dahulu, mudah kemudian, itulah jalannya.
  • Dana atau amal dianjurkan bukan saja dalam agama Hindu tetapi juga dalam agama-agama besar lainnya, dan ini merupakan salah satu jalan untuk membersihkan diri kita. Yesus sendiri berkata, “Secara cuma-cuma engkau telah mcnerimanya, secara cuma-cuma pula berikanlah!” Lalu apakah dalam hidup ini, kita benar-benar rela memberikan harta-benda yang kita kita sudah jadi milik kita kepada yang paling membutuhkannya? Relakah kita berkorban sedikit saja demi sesama mahluk atau manusia lainnya yang menderita? Sebenarnya dana atau amal-perbuatan yang baik tidak dihitung dari segi kuantitasnya melainkan dari segi kwalitasnya. Dan yang paling penting dari semua itu adalah itikadnya, itikad yang ada di balik semua perbuatan baik itu. Dana atau amal itu datang dari hati-nurani kita yang tulus dan bukan dari harta benda atau pun kedudukan kita, bukan juga dari paksaan atau keadaan tertentu. Sebuah senyum kecil yang simpatik untuk seseorang yang membutuhkannya adalah dana, memberikan air kepada seorang musafir yang kehausan adalah dana, menyingkirkan kulit pisang di jalan agar orang lain tidak terpleset adalah dana, menyisihkan waktu sedikit untuk menolong seseorang yang memerlukannya adalah dana. Tiga faktor utama dalam ajaran agama Islam adalah amal, puasa dan sembahyang. Alkisah suatu waktu seorang yang bernama Bernard ingin bergabung dengan St. Francis dalam melakukan misi-misi sucinya, maka berkatalah St. Francis kepadanya, “Pertama-tama pergi dan juallah apa yang kau punya dan berikanlah kepada yang miskin dan papa.”
  • Kendali diri, yaitu kendali pada indra-indra kita dan menguasai selera dan nafsu nafsu kita yang selalu kelaparan akan obyek-obyek indra ini. Kuda-kuda liar dapat dijinakkan, begitupun indra-indra ini adalah ibarat kuda-kuda ini, merekapun harus dijinakkan. Bagaimana caranya? Jadilah engkau seorang kusir atau penunggang kuda ini dan bukan sebaliknya! Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi karma-kshetra, tetapi kebanyakan diantara kita malahan menjadikannya bhoga-kshetra (ladang untuk mencicipi kenikmatan). Kuasailah semua trishna atau keinginan-keinginan dan selera-selera, kendalikanlah nafsu nafsu dan hasrat-hasratmu, dan jadilah seorang majikan atas dirimu sendiri dan bukan sebaliknya! Inti-sari kebijaksanaan yang diajarkan oleh filsuf Sokrates adalah kata-kata yang berbunyi, “Kenalilah dirimu sendiri!” inti sari dari kebijaksanaan Hindu adalah, “Kuasailah dirimu sendiri!” Sedangkan Pythagoras yang terkenal itu pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat disebut merdeka (bebas) yang tak dapat memerintah atas dirinya sendiri!”
  • Pengorbanan, persembahan (yagna), jenis yagna atau pengorbanan ini ada banyak caranya. Persembahan spiritual ini didasarkan pada pemikiran bahwa dewa dewa, manusia, dan mahluk-mahluk halus, semua ini membentuk suatu simfoni kehidupan. Yagna menunjukkan suatu itikad berkorban atau menolong sesama mahluk di dunia ini baik yang terlihat maupun yang tak terlihat, yang membutuhkan pertolongan kita di alamnya masing-masing. Yagna juga mengajarkan kita untuk menjadi sederhana dan tulus dalam hidup kita sewaktu kita melakukan yagna ini untuk para dewa, dan mengajarkan kita akan kewajiban dan perhatian kita pada para leluhur kita agar mereka tak terlupakan. Karena karma yang lalu para leluhur yang berada di alam sana hidupnya belum tentu bahagia, jadi mereka selalu saja membutuhkan pertolongan kita agar kuranglah dosa-dosa mereka. Pada hakikatnya yagna ini secara bertahap mengajarkan kita untuk berkewajiban dan berkorban secara murni kepada Yang Maha Esa. Untuk itu kita harus belajar dahulu dengan ber-yagna untuk para dewa dan leluhur. Inti-sari sesungguhnya dari yagna ini adalah berkoban secara tulus dengan mengorbankan seluruh hidup kita ini kepadaNya tanpa pamrih, yaitu bekerja demi Ia semata tanpa pamrih dan tanpa bosan-bosannya!
  • Mempelajari skripsi-skripsi atau ajaran-ajaran suci (ini disebut Svadhaya). Terangkan dalam ajaran-ajaran ini adalah pemujaan oral (puja-puji dan nyanyian) kepada Yang Maha Esa pada setiap kesempatan yang ada.
  • Tapa atau tindakan-tindakan disiplin spiritual yang aneka ragam bentuknya seperti puasa, meditasi, dan berbagai tindakan disiplin spiritual lainnya. Intisari dari tapa ini adalah selalu berusaha untuk tidak berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain, jadi setiap pembicaraan harus benar dan jujur, mencintai kebenaran dan kehidupan yang jauh dari kemewahan.
  • Menjunjung tinggi kebenaran, tegas dan tulus dalam tindakan (arjavam). Mereka yang memiliki sifat-sifat yang suci dan agung selalu berkata dan bertindak tegas dalam setiap aspek kehidupan mereka, tetapi jiwa mereka sebenarnya amatlah lembut, tulus dan jujur akan kebenaran. Inilah sebenarnya yang mendasari tindakan dan ucapan mereka yang tegas. Mereka juga amat tinggi dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran walaupun untuk hal-hal yang amat kccil sekalipun.
  • Mereka menjalankan praktek-praktek ahimsa, yaitu tidak menyakiti seseorang atau mahluk lainnya baik dalam tindakan mereka atau kata-kata mereka. Di dunia yang penuh dengan manusia-manusia yang berwajah srigala ini, masih ada saja manusia-manusia tulus dan suci yang melakukan ahimsa ini secara total. Inilah salah satu ciri khas dari yang memiliki potensi suci dan agung ini. Tetapi ingat jangan salah-pergunakan mereka ini, karena demi kebenaran mereka ini adalah manusia yang amat tegas!
  • Mereka mempraktekkan kebenaran (sarvam) dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menampakkan diri mereka sebagaimana yang mereka sadari akan arti kehidupan ini, dan juga akan arti dan hakikat Yang Maha Esa. Bagi mereka apapun yang benar dibenarkan dan yang salah disalahkan tanpa memandang kasta, kedudukan dan harta. Bagi mereka kebenaran itu sekecil apapun kebenaran itu, maka sifatnya adalah di atas segala-galanya. Bagi mereka seorang yang Iahir dengan predikat kasta pariah bukanlah seorang pariah,tetapi seseorang yang tak dapat menghormati kata-katanya adalah seorang pariah. ‘Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, “Kebenaran akan membuatmu bebas!” “Kebenaran dan kasih adalah bagi kami arti sesungguhnya dari Tuhan Yang Maha Esa,” kata TL Vaswani, pengarang naskah Bhagavat Gita.
  • Orang-orang ini tak mempunyai rasa marah atau geram (akrodha). Mereka bahkan tak pernah marah atau benci pada yang menyakiti mereka walaupun dipancing untuk marah sekalipun.
  • Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang telah melakukan dan menghayati penyerahan total akan hasil tindakan mereka sehari-hari (tyaga) yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
    • Penyerahan total secara mental dan dari pemikiran mereka bahwa apa yang mereka lakukan dan apapun hasilnyahendak Yang Maha Esa semata mata an seyogyanyalah dilakukan tanpa pamrih.
    • Setiap tindakan mereka jauh dari rasa keberhasilan, egoisme, optimisme,keseakahan, nafsu dan keinginan,
    • Mereka jauh dari obyek obyek duniawi
  • Pikiran dan jiwa mereka selalu tenang (Shana) dalam segala tindakan mereka sehari-harinya.
  • Mereka jauh dari segala gosip atau obrolan-obrolan iseng yang menyangkutorang lain. Jauh juga mereka ini dari segala pikiran dan pembicaraan mengenai orang lain atau mencela orang lain dan mencari-cari kesalahan seseorang. Mereka tak mau menyakiti atau mencelakakan orang atau mahluk lain baik secara mental maupun secara tindakan.
  • Mereka memiliki rasa kasihan, iba, simpati dan rasa sayang untuk setiap mahluk di dunia ini.
  • Mereka selalu merasa cukup dengan apa adanya, dan tak pernah memohonatau meminta lebih apapun yang diterima mereka. “manusia ini tak pernah puas, walaupun memiliki sebuah danau penuh dengan emas, tetapi masih saja merasa miskin,” kata Hitopadesha. Tetapi mereka-mereka ini yang telah terpanggil ke jalannya Tuhan, malahan amat puas dengan apa adanya. Bagi mereka alam semesta dan seluruh isinya sudah merupakan karunia yang takada habis-habisnya. Lalu untuk apa harus serakah dan menuntut dan menuntut lagi? Feridoun merasa tak puas dengan kerajaan yang dimilikinya. Sedangkan Alexander meratap telah menguasai semuanya karena tidak ada lagi yang bisa dikuasainya. Tetapi seorang anak kecil yang polos dan lugu akan gembira sekali dan bahagia kalau dapat memenuhi kedua tangannya dengan pasir dan bermain-main dengannya. Bagi seorang anak kecil yang masih polos akan hal-hal duniawi ini, maka segenggam pasir dan segenggam emas sama saja nilainya, karena ia masih suci dan tidak sadar akan standar-standar yang telah ditentukan oleh manusia dewasa.Setiap pekerjaan itu baik, karena pekerjaan itu diperlukan dan karena merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita. Tetapi ingatlah pekerjaan yang tak diperlukan dan sia-sia janganlah dilakukan dan jauhilah pekerjaan pekerjaan ini yang sifatnya negatif dan merusak. Pekerjaan atau profesi sehari hari diperlukan dan wajib kita kerjakan tetapi disertai dengan itikad yang murni dan suci dan dilandasi oleh rasa bakti kita kepada Yang Maha Esa, kepada masyarakat dan lingkungan kita, bukan atas keserakahan pribadi atau dilandasi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Sebuah pekerjaan yang sederhana sifatnya akan lebih berarti dari pada suatu pekerjaan yang nampaknya canggih, selama pekerjaan itu dikerjakan dengan penuh bakti dan kesadaran yang tulus akan dharma-bhakti kita kepada Yang Maha Esa. Suatu pekerjaan yang dianggap besar dan luar-biasa akan sia-sia saja maknanya kalau dilandasi oleh nafsu dan kepentingan duniawi karena yang timbul darinya hanyalah ambisi dan perjuangan pribadi dan terjebaklah sang pelaku dalam nafsu-nafsu duniawinya dan segala ekses-ekses yang timbul dari nafsu itu. Sebaliknya suatu pekerjaan yang sederhana sifatnya seperti memasak dan menyapu akan terasa suci dan syahdu kalau dilakukan dengan kesadaran total bahwa itu juga merupakan kewajiban kita kepadaNya, karena akan turun berkat dan rahmatNya pada si pelaku pekerjaan ini. Yang Maha Esa tidak memandang kedudukan atau pekerjaan seseorang, yang dianjurkanNya adalah kesetiaan dan dedikasi kita kepadanya yang tulus dan tidak ternoda.
  • Mereka-mereka ini memiliki kelembutan hati dan pikiran. Mereka ini amat penyabar dan pengasih, dan selalu menerima dan sabar menghadapi segala caci-maki, hinaan, pengkhianatan, dan tindakan-tindakan keji yang dilakukan oleh orang-orang terhadap mereka, karena mereka sadar bahwa yang menyakiti mereka ini sebenarnya tidak tahu apa-apa dan “kurang pengetahuannya atau tersesat jalannya.” Sebaliknya mereka jadi amat pemaaf dan selalu mendoakan mereka yang menyakiti ini.
  • Mereka-mereka ini amat sederhana dan pemalu sifatnya. Malu akan berbuat sesuatu yang salah karena yakin akan kehadiran Yang Maha Esa di mana mana.
  • Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang tidak mudah mengubah keputusan atau pemikiran mereka, tidak mudah terpengaruh dan sangat stabil pendiriannya. Mereka tak mau mencampuri urusan orang lain dan jauh dari pikiran maupun tindakan yang tak ada artinya.
  • Mereka memiliki teja, yaitu energi, cahaya dan kharisma yang luar biasa dan penuh dengan kehangatan. Wajah-wajah mereka selalu simpatik dan memancarkan cahaya kesucian dan kebaikan, ketulusan hati yang luar-biasa. Sang Krishna, Sang Buddha dan Kristus memiliki wajah-wajah semacam ini. Salah satu ciri-ciri teja ini adalah rasa respek yang luar-biasa yang dimiliki oleh orang ini, dan juga kejantanan (ketegasan) dalam setiap aspek tindak tanduknya yang tak dapat ditawar-tawar. Contoh: Sokrates dari Yunani, yang tidak mau mundur dari pendiriannya dan lebih baik memilih kematian dengan meminum racun secara tenang.
  • Mereka adalah manusia atau orang-orang yang memiliki rasa memaafkan terhadap semua dan sesamanya secara luar-biasa. Tak ada kebencian di dalam diri mereka walaupun untuk mereka yang telah mancoba menyakiti atau membunuh mereka. Nabi Muhamaad SAW memaatkan musuh-musuhnya. Kristus memaafkan musuh-musuh dan murid-muridnya. Mahatma Gandhi memaafkan pembunuhnya dan jauh-jauh telah meramalkan akan dibunuh. Resi Dayanand memaafkan tukang masaknya yang berusaha meracuni sang Resi. Di era modem ini kita melihat Sri Paus Yohannes Paulus II memaafkan penembaknya.
  • Mereka memiliki kekuatan luar-biasa untuk menghadapi segala rintangan dan penderitaan hidup ini, dan tidak kehilangan kesabaran (ini disebut dhriti).
  • Mereka memiliki rasa sancham, yaitu rasa akan kebersihan. Mereka selalu menjaga agar raga mereka bersih luar dan dalam. Kebersihan sebenarnya adalah salah satu aspek yang penting dalam agama dan mendekatkan kita kepadaNya. Pada masa sekarang manusia cenderung untuk mementingkan peragaan di luar tubuh mereka seperti rias-wajah, wangi-wangian, busana yang menyolok dan lain sebagainya. Juga banyak diantara kita yang mengotori tubuh bagian dalam kita dengan merokok, menghisap ganja dan meminum minuman keras, obat-obatan terlarang dan makanan yang merangsang tubuh. Juga manusia dewasa ini lebih cenderung mengkonsumsi makanan yang tidak segar dan penuh dengan zat-zat yang mengotori dan membahayakan tubuh daripada menyehatkan tubuh ini dengan memakan buah-buahan dan sayursayuran segar, menghisap udara segar dan lain sebagainya.
  • Mereka bebas dari rasa iri-hati atau cemburu. Mereka tak mau berperasangka buruk atau iri-hati pada orang lain atau bahkan berpikir negatif tentang orang lain. Mereka cukup dengan apapun yang mereka terima dan selalu berterima kasih kepadaNya. Melihat sukses dan kekayaan orang lain mereka biasa biasa saja dan tak terpengaruh sama-sekali. Mereka tak dapat melupakan kebaikan orang lain terhadap mereka walau sekecil apapun kebaikan itu. Mereka selalu mengabdi demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain baik yang membutuhkan mereka atau tidak, dan menyatu dalam jiwa dengan yang mereka tolong ini. Rasa benci dan iri-hati dapat menghancurkan bukan saja kebahagiaan seseorang tetapi juga menghancurkan kerajaan-kerajaan besar. Lihat saja bagaimana iri-hati sang Kaikeyi (ibu-tiri sang Rama) membunuh suaminya dan sekaligus menghantarkan Sang Rama dan Shinta beserta Lesmana ke hutan Dandaka. Iri-hati dan benci, atau dengki adalah sebenarnya perusak diri dan hidup kita sendiri.
  • Mereka tidak memiliki rasa sombong atau superior terhadap orang lain. Rasa sombong atau ahankara ini memang salah satu faktor yang harus dijauhi setiap manusia, atau tersandung kita nanti dalam perjalanan hidup spiritual kita. Kedua puluh enamfaktor atau ciri ciri khas seseorang yang telah suci hati dan jiwanya ini disebut daivi-sampad, yaitu harta benda sejati seseorang yang suci dan agung, harta ilahi yang benar dalam melakukan kwhidupan yang sejati.
  1. 4

dambho darpo ‘bhimānaś ca

krodhaḥ pāruṣyam eva ca

ajñānaḿ cābhijātasya

pārtha sampadam āsurīm

Kemunafikan, mementingkan diri sendiri, iri-hati, rasa-amarah, juga kekasaran dalam pembicaraan dan kebodohan semua ini, oh Arjuna, adalah milik seseorang yang lahir dengan sifat-sifat iblis.

 

Penjelasan: Siapakah manusia-manusia yang disebut bersifat sebagai atau bagaikan iblis ini? Mereka disebut Asura. Dalam salah satu Upanishad terdapat satu kisah mengenai Prajapati yang pada waktu penciptaan, menciptakan para dewa (sum) dengan nafas yang dihembuskannya ke atas, dan menciptakan para asura (raksasa, setan, jin, iblis, dan kuasa-kuasa gelap) dengan nafasnya yang dihembuskannya ke bawah. Setelah menciptakan para iblis ini maka terciptalah kegelapan, kebodohan dan keburukan di sekitarnya. Maka disebut bahwa nafas-bawah tadi adalah nafas dari segala nafsu yang negatif dan kebatilan, sedangkan nafas-atas adalah nafas dari segala yang baik, agung dan suci. Nafsu dengan begitu adalah faktor atau hal hal yang tidak suci di dalam dunia ini, karena ia adalah getaran atau vibrasi data ‘jiwa-bawah’ kita sedangkan ‘jiwa-atas’ kita penuh dengan kebajikan dan kesucian. Dengan kata lain, manusia-manusia yang bersifat asura adalah mereka yang terikat secara duniawi dengan nafsu-nafsu mereka dan selalu tenggelam dalam kebodohan mereka. Terikatlah selalu mereka ini dengan dunia dan dengan kelahiran/kematian yang berkelanjutan terus-menerus. Karakter atau ciri-ciri khas mereka ini adalah:

(a) Kemunafikan apa yang mereka tampilkan dalam tindak-tanduk mereka sehari/ hari dalam kehidupan mereka penuh dengan sandiwara, kepalsuan dan topeng topeng manis belaka, padahal hati dan jiwa mereka mungkin terikat pada pikiran dan tindakan-tindakan yang tidak sehat dan selaras dengan topeng-topeng kemunafikan mereka.

(b) Dalam setiap hal, mereka selalu mementingkan diri mereka sendiri. Mereka ini juga penuh dengan rasa iri-hati dan terbius oleh harta-benda, milik, kekasih dan kekuasaan mereka.

(c) Mereka ini mudah sekali marah.

(d) Tindak-tanduk mereka maupun Cara mereka berbicara mencerminkan kekasaran dan amat menyakitkan bagi yang mendengarkan.

(e) Mereka-mereka ini jauh dari kebenaran dan kebijaksanaan yang sejati.

  1. 5

daivī sampad vimokṣāya

nibandhāyāsurī matā

mā śucaḥ sampadaḿ daivīm

abhijāto ‘si pāṇḍava

Sifat-sifat suci menuntun seseorang ke arah pembebasan, dan sifat-sifat iblis ke arah keterikatan. Janganlah bersedih, oh Arjuna, karena dikau lahir dengan sifat-sifat yang suci dan agung. .

 

  1. 6

dvau bhūta-sargau loke ‘smin

daiva āsura eva ca

daivo vistaraśaḥ proktā

āsuraḿ pārtha me śṛṇu

Ada dua jenis mahluk yang diciptakan di dunia ini yang suci dan yang bersifat iblis. Yang suci telah dijelaskan secara terperinci. Sekarang dengarkanlah dariKu, oh Arjuna, mengenai yang bersifat keiblisan ini.

Penjelasan: Dua jenis mahluk hidup atau manusia atau mahluk halus diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di dunia ini, yaitu yang bersifat suci seperti yang telah kita baca di atas tadi, dan yang bersifat ke-iblis-iblisan. Yang pertama karena dasar sifat-sifatnya telah bebas dan lepas dari karma-karmnya dan dari kehidupan/kematian, untuk kemudian langsung bersatu dengan Sang Pencipta, sedangkan yang kedua akan terikat secara terus menerus dengan karma-karmanya dan kehidupan dan kematian, tak bisa lepas dari dunia ini.

  1. 7

pravṛttiḿ ca nivṛttiḿ ca

janā na vidur āsurāḥ

na śaucaḿ nāpi cācāro

na satyaḿ teṣu vidyāte

Mereka-mereka yang bersifat iblis ini tidak sadar akan arti tindakan atau akan disiplin-disiplin spiritual. Tak mereka miliki kesucian maupun tindakan tindakan baik atau pun kebenaran.

  1. 8

asatyam apratiṣṭhaḿ te

jagad āhur anīśvaram

aparaspara-sambhūtaḿ

kim anyat kāma-haitukam

Mereka berkata bahwa di dunia ini tak ada kebenaran, tak ada dasar moral, tak ada Tuhan, (dunia) ini tercipta dari penyatuan dua jenis kelamin yang berlawanan, (dunia) ini adalah produk dari nafsu-nafsu belaka dan tak ada hal selain itu.

  1. 9

etāḿ dṛṣṭim avaṣṭabhya

naṣṭātmāno ‘lpa-buddhayaḥ

prabhavānty ugra-karmaṇaḥ

kṣayāya jagato ‘hitāḥ

Teguh dalam kepercayaan ini, jiwa-jiwa yang tersesat ini yang pengertiannya tumpul dan tindakan-tindakannya kejam, muncul sebagai musuh-musuh dan penghancur dunia ini.

16.10

kāmam āśritya duṣpūraḿ

dambha-māna-madānvitāḥ

mohād gṛhītvāsad-grāhān

pravartante ‘śuci-vratāḥ

Menyerahkan diri mereka kepada nafsu-nafsu yang tak pernah terpuaskan dengan kemunaflkan, kedengkian, dan kepentingan diri-pribadi, tergantung pada ide-ide yang salah akibat ilusi, mereka ini bertindak dengan itikad itikad yang tidak bersih.

  1. 11

cintām aparimeyāḿ ca

pralayāntām upāśritāḥ

kāmopabhoga-paramā

etāvad iti niścitāḥ

(Mereka) ini terkurung oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya. (mereka) berpikir bahwa pemuasan nafsu-nafsu dan keinginan sebagai puncak cita-cita mereka, yakin bahwa itulah semua ini.

 

16.12

āśā-pāśa-śatair baddhāḥ

kāma-krodha-parāyaṇāḥ

īhante kāma-bhogārtham

anyāyenārtha-sañcayān

 

Terperangkap oleh seratus harapan-harapan kosong, menjadi budak dari nafsu dan kemarahan, mereka menumpuk kekayaan dengan memuaskan selera-selera panas (mereka) dan melibatkan diri (mereka) dalam kenikmatan-kenikmatan sensual.

  1. 13

idam adya mayā labdham

imaḿ prāpsye manoratham

idam astīdam api me

bhaviṣyati punar dhanam

“lni telah kudapatkan hari ini, dan akan kucapai keinginan itu. Harta ini milikku, harta itu pun akan menjadi milikku.

  1. 14

asau mayā hataḥ śatrur

haniṣye cāparān api

īśvaro ‘ham ahaḿ bhogī

siddho ‘haḿ balavān sukhī

“Musuh ini telah kubunuh, yang lainnya pun akan kubunuh. Aku lah Tuhan dari segalanya. Aku menikmati diriku sendiri. Aku makmur, berkuasa dan bahagia.

  1. 15

āḍhyo ‘bhijanavān asmi

ko ‘nyo ‘sti sadṛśo mayā

yakṣye dāsyāmi modiṣya

ity ajñāna-vimohitāḥ

“Aku kaya-raya dan lahir dari derajat yang tinggi. Adakah seseorang yang sepadan denganku? Aku akan menyelenggarakan pengorbanan pengorbanan (yagna), aku akan menyumbangkan dana, aku akan membuat “pesta-pesta kesenangan.” Begitulah mereka berkata, tersesat dalam kebodohan mereka.

16.16

aneka-citta-vibhrāntā

moha-jāla-samāvṛtāḥ

prasaktāḥ kāma-bhogeṣu

patanti narake ‘śucau

Kacau-balau oleh berbagai pikiran, terperangkap dalam jala ilusi, terbius oleh kepuasan nafsu-nafsu, mereka tenggelam ke neraka yang menjijikkan (penuh dengan kotoran yang berbau dan menjijikkan).

  1. 17

ātma-sambhāvitāḥ stabdhā

dhana-māna-madānvitāḥ

yajante nāma-yajñais te

dambhenāvidhi-pūrvakam

Terlalu percaya pada diri-sendiri, keras-kepala, mabuk-kepayang akan kekayaan mereka, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk pertunjukan belaka, tanpa memperhatikan skripsi-skripsi (suci).

  1. 18

ahańkāraḿ balaḿ darpaḿ

kāmaḿ krodhaḿ ca saḿśritāḥ

mām ātma-para-deheṣu

pradviṣanto ‘bhyasūyakāḥ

Terpaku pada rasa ego. pada kekasaran dan kekuatan. dan nafsu-nafsu dan rasa marah, orang-orang yang berhati iblis ini membenciKu yang bersemayam di dalam raga mereka dan di dalam raga-raga yang lainnya.

16.19

tān ahaḿ dviṣataḥ krūrān

saḿsāreṣu narādhamān

kṣipāmy ajasram aśubhān

āsurīṣv eva yoniṣu

Mereka yang membenciKu dengan cara itu, mereka yang kejam ini, yang terburuk diantara jajaran manusia, mereka-mereka pelaku perbuatan iblis

ini, Ku giring terus-menerus ke perut para iblis.

16.20

āsurīḿ yonim āpannā

mūḍhā janmāni janmāni

mām aprāpyaiva kaunteya

tato yānty adhamāḿ gatim

Terjatuh ke perut-perut iblis, mereka hidup dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya, terbungkus oleh kegelapan. Mereka ini tidak datang kepadaKu, oh Arjuna, tetapi tenggelam ke tempat yang paling dalam.

Penjelasan: Mereka-mereka yang memiliki asuri-sampad (sifat-sifat keiblisan) dan terikat kepada dunia ini mempunyai ciri-ciri khas sepert berikut:

  1. Mereka kurang memiliki rasa perbedaan antara yang baik dan buruk. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dan seharusnya tidak dilakukan.
  2. Tidak atau kurang memiliki rasa kebersihan. Mereka tidak bersih dalam pikiran maupun dalam menjaga raga mereka.
  3. Mereka tidak kenal atau tidak mau kenal atau mengakui kaidah-kaidah moral atau hukum-hukum moral dan etika dalam kehidupan ini.
  4. Mereka jauh dari kebenaran. Mereka penuh dengan kebohongan dan tipu-daya.
  5. Mereka ini umumnya atheis. Bagi mereka alam semesta atau dunia ini tidak berdasarkan moral, agama atau dasar-dasar spiritual, tanpa Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka dunia ini hanya tempat melampiaskan nafsu-nafsu, dan pikir mereka semua mahluk tercipta dari kesatuan atau percampuran pria dan wanita, jadi dasar dunia ini bagi mereka adalah nafsu nafsu dan kenikmatan duniawi belaka. Itulah hidup dan tujuan mereka dalam hidup ini.
  6. Cara berpikir mereka penuh dengan kegelapan, karena jiwa mereka telah sesat. Akibatnya daya intelektual mereka menurun.
  7. Mereka gemar melakukan pekerjaan-pekerjaan buruk dan keji yang berada di luar peri-kemanusiaan. Hidup mereka adalah demi penghancuran sesamanya, atau mahluk-mahluk lain. Sebenarnya mereka ini adalah musuh dari dunia dan umat manusia itu sendiri.
  8. Kata mereka dunia ini hanya untuk bersenang-senang saja, dan mereka memasrahkan hidup mereka ke nafsu-nafsu dan kenikmatan yang tak ada habis habisnya. Hidup mereka hanya itu dan tak lebih.
  9. Mereka adalah orang-orang yang munafik. Untuk mendapatkan suatu impresi atau keperluan sesuatu, tidak segan-segan mereka menampilkan wajah-Wajah yang lain agar tercapai segala maksu-maksud mereka.
  10. Mereka penuh dengan kesombongan.
  11. Dalam kebutaan pikiran, mereka memegang erat-erat prinsip hidup yang salah, Contoh: Sang Rahvana yang berpikir tidak ada salahnya mencuri istri orang lain demi kepuasannya pribadi.
  12. Sampai matipun mereka tidak lepas dari rasa khawatir dan ketakutan yang tak ada habis-habisnya (berbagai ragam sifat-sifat ketakutan).
  13. Motto hidup mereka adalah kenikmatan, dan itulah tujuan mereka yang tertinggi.
  14. Mereka gemar akan perbuatan-perbuatan amoral yang penuh dengan nafsu dan dosa.
  15. Mereka gemar amarah Selalu murka bahkan hal-hal yang kecilpun mudah menimbulkan rasa amarah mereka.
  16. Mereka mengumpulkan harta-benda mereka secara tidak halal.
  17. Rasa egoisme mereka amat tinggi. Tidak ada yang tidak dikaitkan dengan “keaku-an”-nya. “Aku ini yang perkasa, yang berkuasa, berkedudukan, tanpa aku pemerintahan ini tidak jalan, atau perkerjaan ini tidak terselesaikan. Aku tak ada tandingannya, yang paling hebat dan super dan terkaya,” dan lain sebagainya. Mereka ini juga takabur dan sering berkata, “aku ini Tuhan, aku tak pernah sakit, aku tak bisa mati,” dan lain sebagainya. Makin lama rasa ego dan keserakahannya makin bertambah dan ia makin sering membunuh orang orang yang dianggapnya musuh karena ia merasa amat berkuasa dan tak punya tandingan. Demi nama baik mereka, orang-orang ini tidak segan-segan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial yagna dan dana, yang sebenarnya hanya kedok belaka, hanya sandiwara untuk tujuan-tujuan tertentu.
  18. Jalan pikiran mereka tak pernah stabil.
  19. Mereka terjebak dalam perangkap atau jalan ketersesatan (kegelapan). Duniawi lebih penting bagi mereka daripada Ilahi.
  20. Mereka membenci Tuhan Yang Maha Esa yang bersemayam di dalam diri mereka dan dalam diri orang-orang lain.

Orang-orang yang bersifat iblis ini secara terus-menerus berkelana dalam lingkaran karma dan lingkaran hidup-mati, dan lahir kembali di tengah-tengah keluarga yang tak bermoral dan penuh dengan kegelapan. Makin lama makin turunlah taraf kehidupan mereka dan oleh karma mereka dibawa tenggelam ke arah kehidupan yang makin rendah tarafnya.

Tetapi Yang Maha Pengasih selalu memberikan kesempatan kepada mereka mereka ini, yaitu perbersihan diri melalui berbagai penderitaan dan kesempatan kesempatan dalam tahap-tahap evolusi kehidupan mereka ini, karena di dalam setiap jiwa yang sesat pun bersemayam Sang Atman, Sang Krishna, Sang Adhyatman Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang tidak akan segan-segannya menunjukkan jalan kepada semua mahluk-mahlukNya. Dan lambat-laun jiwa-jiwa yang menderita dan tersesat ini akan tergugah juga memohon Yang Maha Kuasa agar dibebaskan dari penderitaan dan karma mereka. Dan kalau sudah tiba saatnya yang tepat, maka Yang Maha Esa pun akan menjatuhkan berkahNya kepada mahluk atau individu ini dan terbukalah jalan ke arahNya lagi, dan suatu saat mereka-mereka ini pun akan dapat mengalahkan nafsu-nafsu duniawi mereka dan lepas dari dunia yang penuh dengan penderitaan ini, menyatu denganNya, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 0m Tat Sat.

Maka, kalau sudah merasa suci atau bersih janganlah sekali-kali memandang rendah atau hina kepada mereka yang berdosa atau pada mahluk-mahluk yang tak berdaya, tetapi selalulah menuntun mereka-mereka ini ke jalan yang benar dengan kasih-sayang yang sejati. Maafkanlah dosa-dosa mereka seperti yang dilakukan oleh Yang Maha Kuasa terhadap kita juga. Sebenarnya tidak ada seseorang pun yang berdosa di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang kurang-pengetahuannya dan tidak sadar, tersesat oleh kenikmatan duniawi. Jadi tuntunlah selalu mereka mereka ini. Yesus Kristus pernah bersabda, “Tidak ada yang baik selain Tuhan.” Memang benar, hanya Ia Yang Maha Baik, kita manusia harus selalu belajar untuk menjadi baik dan benar agar diterima oleh Yang Maha Baik ini. Seorang yang suci dan agung, seandainya tidak lagi terpakai oleh Yang Maha Kuasa maka ia pasti akan menjadi sampah lagi, tetapi seorang asura yang menjijikkan akan menjadi suci, sekali Yang Maha Esa berkenan mengubahnya. Camkanlah hal ini dan jauhikan diri kita dari rasa jijik, diskriminasi, perbedaan kasta dan derajat. Pandanglah setiap manusia dan mahluk dengan pandangan yang sama, ingat Yang Maha Esa hadir di mana mana dan dalam setiap mahluk, dan Ia tidak mengenal diskriminasi, maka seharusnya kita pun bersikap sama. Yang Maha Esa bisa saja mengubah status seseorang sesuai dengan kehendakNya, maka jangan sekali-kali pongah atau tinggi hati terhadap seseorang atau dalam suatu situasi tertentu.

16.21

tri-vidhaḿ narakasyedaḿ

dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ

kāmaḥ krodhas tathā lobhas

tasmād etat trayaḿ tyajet

Terdapat tiga gerbang untuk menuju ke neraka ini, yang menjadi penghancur dari diri sendiri -nafsu, kemarahan dan keserakahan. Maka seyogyanyalah

manusia membuang jauh-jauh ketiga faktor ini.

  1. 22

etair vimuktaḥ kaunteya

tamo-dvārais tribhir naraḥ

ācaraty ātmanaḥ śreyas

tato yāti parāḿ gatim

Seseorang yang telah lepas dari ketiga gerbang kegelapan ini, oh Arjuna, maka telah selesailah semua kebutuhan-kebutuhannya dan kemudian (ia)

mencapai tujuan yang tertinggi.

Penjelasan: Ada tiga pintu gerbang kegelapan, yang diartikan juga sebagai tiga pintu masuk utama ke neraka, yaitu nafsu, rasa amarah dan keserakahan atau rasa iri. Nafsu (kama) atau keinginan yang beraneka-ragam ini sebenarnya adalah pemuasan membabi-buta untuk indra-indra kita. Sedangkan rasa-amarah timbul kalau jalan

ke arah pemuasan nafsu-nafsu ini terhalang. Keserakahan atau lobha adalah salah satu nafsu untuk memperkaya diri sendiri dengan obyek-obyek duniawi baik secara material maupun secara psikologis dan demi memenuhi nafsu indra-indra dan pribadi.

Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi instrumen atau alat yang dapat memenuhi kebutuhan akan potensi spiritual kita, agar tercapai kembali kesatuan antara kita dan Sang Pencipta. Tetapi kalau diberikan kebebasan dan fasilitas untuk memilih sendiri tujuan kita, maka banyak manusia akan tersesat dan menggunakan raga mereka demi tujuan nafsu-nafsu belaka, tanpa sadar bahwa di dalam tubuh dan otak kita tersimpan potensi spiritual yang amat luar-biasa yang sekiranya digunakan secara benar akan menimbulkan keajaiban-keajaiban dan keadaan yang memungkinkan kita mencapai Yang Maha Esa dengan lebih sempurna lagi. Faktor potensial ini sering lepas dari jangkauan manusia dan kita melaju makin dalam ke arah kegelapan yang tak ada ujung-ujungnya, mengembara dari satu neraka ke neraka yang lainnya, tanpa akhir.

Dunia dan isinya ini sebenarnya diartikan sebagai ekspresi dari kesucian dan keagungan Yang Maha Esa, dari cinta-kasih dan saling-menolong atau menunjang diantara sesamanya, agar tercapai kedamaian, keharmonisan dan kehidupan yang layak bagi semuanya. Tetapi kalau semua potensi dan kekayaan alam semesta ini dipakai manusia hanya untuk memuaskan pribadi-pribadi manusia-manusia itu sendiri, dan manusia itu kemudian mengabaikan semua kebahagian, keagungan dan kekayaan yang telah disediakan Yang Maha Kuasa, maka tak ada jalan lain, silahkan menuju ke arah neraka yang paling dalam. Selama manusia mengeksploitasi nafsu-nafsu dan dirinya sendiri, merusak alam dan mahluk lain sesamanya dengan nafsu-nafsu ini maka selama itu pula manusia ini akan menjurus kelingkaran setan yang tak ada habis-habisnya.

Dan ingatlah seandainya anda berjalan di jalan nafsu dan keserakahan maka anda akan menghadapi oposisi dari pihak yang lain, karena anda sedang berjalan di jalan yang salah. Jalan salah ini berarti anda sedang melawan Hukum Abadi yang hadir di alam semesta ini, yang tak nampak tetapi selalu ada dan berkuasa. Dan sekali atau terus-menerus anda mendapatkan perlawanan ini, maka anda akan meledak dengan kemarahan yang dahsyat, anda akan membenci dan secara brutal menyerang mereka-mereka yang beroposisi terhadap anda. Selama itu anda boleh yakin bahwa anda sedang diikat erat-erat oleh keterikatan duniawi ini, dan itu berarti anda sedang melaju cepat ke neraka yang dalam.

  1. 23

yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya

vartate kāma-kārataḥ

na sa siddhim avāpnoti

na sukhaḿ na parāḿ gatim

Seseorang yang telah mengabaikan shastra-vidhi (kaidah-kaidah suci yang terdapat di skripsi-skripsi suci agama Hindu), mengikuti dorongan-dorongan nafsu -maka orang ini tidak mencapai kesempurnaan, tidak juga kebahagiaan yang benar, tidak juga tujuan yang tertinggi.

  1. 24

tasmāc chāstraḿ pramāṇaḿ te

kāryākārya-vyavasthitau

jñātvā śāstra-vidhānoktaḿ

karma kartum ihārhasi

Maka seyogyanyalah, jadikanlah kaidah suci ini sebagai pedoman untuk mengambil sesuatu putusan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tak harus dilakukan. Sadar akan apa yang telah disabdakan oleh kaidah kaidah suci ini. bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di dunia ini.

Penjelasan: Agar jauh dari gerbang-gerbang kegelapan ini, maka seyogyanyalah manusia menjauhi dan mengendalikan diri mereka dari semua nafsu-nafsu dan berpedoman pada skripsi-skripsi suci yang memuat hukum atau kaidah suci bagi kesejahteraan manusia. Hukum atau kaidah suci yang dikandung oleh kitab-kitab (shastra) suci Hindu semenjak masa silam adalah sumber pengetahuan yang suci dan agung yang tak ada habis-habisnya, dan merupakan penerangan di jalan kegelapan kita. Dengan kata lain, tidak usah jauh-jauh mencari sumber kaidah atau hukum suci ini, Bhagavat Gita adalah inti-sari dari semua Veda-Veda yang ibarat sebuah sumur yang tak pernah sarat airnya kalau kita ingin berbicara tentang kaidah-kaidah suci dari agama Hindu ini. Berpedoman pada ajaran Bhagavat Gita manusia akan lepas dari keterikatan-keterikatan duniawinya secara tuntas, kalau mau kita betul-betul menghayati ajaran dan sabda-sabda Sang Krishna, seperti sloka di atas, “sadar akan apa yang telah disabdakan oleh kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di dunia ini.” Yang Maha Esa tidak melarang kita bekerja. Ia malahan menganjurkannya dengan jalan yang benar bekerja tanpa pamrih demi Ia semata. Sadarlah akan hal ini wahai manusia, kebahagiaan akan kehidupan ini dan Yang Maha Esa itu sendiri sebenarnya ada diantara kita-kita ini juga. Mengapa melangkah jauh-jauh dari ini semua? 0m Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra

Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, Bab ini adalah Bab yang keenambelas yang disebut:

 

Daivasura Sampad Vibhaga Yoga

Atau

 Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Sifat Yang Suci dan Sifat lblis

Bhagavad Gita Bab XV

Bab XV

Pohon Dunia

Bersabdalah yang maha pengasih:

15.1

śrī-bhagavān uvāca

ūrdhva-mūlam adhaḥ-śākham

aśvatthaḿ prāhur avyayām

chandāḿsi yasya parṇāni

yas taḿ veda sa veda-vit

Dengan akar akar yang tumbuh keatas dan cabang cabangnya yang menurun, Ashvatta (pohon beringin yang abadi) ini dikatakanbsebagai yang tak dihancurkan. Dedaunannya adalah mantra mantra veda. Seseorang yang kenal akan pohon ini, kenl akan veda – veda.

Penjelasan: Disini Sang Krishna menerangkan atau menggambarkan Prakriti (kosmos, alam semesta atau dunia) sebagai pohon beringin yang abadi, yaitu Ashvatta. Kata Ashvatta berarti “tidak stabil” atau selalu bergoyah, pohon ini dipercaya oleh orang orang Hindu sebagai pohon beringin yang mempunyai akar akar yang tumbuh keatas, dan cabang cabangnya tumbuh kebawah. Sebenarnya bukankah dunia ini sama saja ibarat pohon beringin ini, yang abadi tetapi selalu tak pernah stabil, karena ia lahir dari sang Maya. Akar akar pohon ini tumbuh keatas, ini diartikan terpusat ke Yang Maha Esa. Jadi dunia atau alam kosmos atau Prakriti atau Sang Maya adalah ibarat ibarat pohon beringin yang tak stabil ini. Yang sebenarnya terpusat atau berakar pada yag maha Esa. Yang Maha Abadi dan stabil. Yang Maha Abadi inilah sebenarnya unsur yang abadi dan stabil dan bukanalam semesta dengan segala efek efeknya. Tetapi hanya manusia yang penuh dengan vairagya (lepas dari keterikatan duniawi) saja yang dapat melihat ” pohon dunia” ini didalam Yang Maha Pencipta dan Abadi.

Akar akar pohon ini adalah Sang Maya, pohon beringin adalah Prakriti atau alam kosmos ini. Dan tempat akar pohon ini berasal adalah Yang Maha Esa. Daun daun dari pohon ini adalah mantra mntra veda. Dedaunan yang rindang ini diartikan sebagai ilmu pengetahuan sejati atau kasih Yang Maha Esa yang memberikan naungan atau keteduhan kepada mereka mereka yang ingin berlindung dibawah pohon beringin yang rindang ini. Dengan kata lain dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita semua dapat mencari keteduhan dan perlindungan dengan mempelajari mantra mantra atau ajaran ajaran Veda. Ajaran atau pikiran pikiran agung para Resi dan orang orang suci pada masa maaa yang telah lama ailam, ajaran ajaran ini tercakup dalam Veda Veda dan kitab kitab suci lainnya.

15.2

adhaś cordhvaḿ prasṛtās tasya śākhā

guṇa-pravṛddhā viṣaya-pravālāḥ

adhaś ca mūlāny anusantatāni

karmanubandhīni manuṣya-loke

Ke bawah dan keatas tersebar cabang cabang pohon ini. Pohon ini mendapatkan sarinya dari guna guna. Obyek obyek indra adalah putik putiknya. Menurun ke bawah, tumbuh lagi akar akarnya yang lain, akar akar ini menjadi pengikat setiap tindakan di dunia manusia ini.

 

Pohon ini mempunyai banyak cabang yang tumbuh keatas dan juga tumbuh ke bawah. cabang cabang ini diartikan sebagai jiwa jiwa cabang cabang yang mencuat keatas adalah para dewa, yang kebawah adalah manusia, fauna, flora, reftil, serangga, dsb. Semua cabang cabang ini mendapatkan hidupnya dari sari atau makanan, dan makanan inilah adalah air, udara dan lain sebagainya. Yang disebut sari atau makanan ini adalah ketiga guna (sifat sifat alam dari Prakriti). Sayang sekali kita manusia sering sekali atau setiap kali lebih tertarik akan sari atau makanan pohon kehidupan ini dan tidak sadar akan fungsi akar akar yang keatas yang terpusat pada Sang Pencipta. Kita lebih tertarik atau terikat pada guna, padahal itu hanyalah makanan atau penunjang dari cabang cabang dari pohon kehidupan ini. Subyek utamanya malahan terlepas dari perhatiannkita. Karena enak dan nikmatnya makanan ini.

Sang pohon ini juga memilih putik putik bunga dan ini diartikan sebagai obyek obyek luar atau eksternal (vishaya). Pohon beringin kehidupan ini juga mempunyai bentuk akar akar yang lain yang menjuntai kebawah. Akar akar ini menurun dan mengikat pohon ini ketanah. Akar akar yang kebawah ini diartikan sebagai vasana, trishna, raga devsha. Semuanya ini adalah keinginan keinginan dan nafau nafsu duniawi dan badani. Yang mengikat pohon atau kehidupan ini pada karma (aksi) dan hukum karmanya, mengikat kita semua pada kelahiran dan kematian yang tak ada henti hentinya, akar akar yang tersembunyi didalam tanah ini(vasana) mengikat manusia dunia ini kedalam lingkaran lingkarannya yang tak ada putus putusnya.

15.3

na rūpam asyeha tathopalabhyate

nānto na cādir na ca sampratiṣṭhā

aśvattham enaḿ su-virūḍha-mūlam

asańga-śastreṇa dṛḍhena chittvā

Disini tak dapat dibedakan bentuk asli pohon ini, juga tidak akhir, asal dan dasarnya. Tertancap kuat pohon Ashvatta ini. Tebaslah pohon ini sampai tumbang dengan senjata tak keterikatan.

15.4

tataḥ padaḿ tat parimārgitavyaḿ

yasmin gatā na nivartanti bhūyaḥ

tam eva cādyaḿ puruṣaḿ prapadye

yataḥ pravṛttiḥ prasṛtā purāṇī

Dengan begitu dikau akan meniti jaln mana takbada jalan kembali, dan dengan begitu dikau akan mencapau yang maha utama yang darinya terpancar keluar prosea kosmos ini (energi yang telah ada semenjak masa yang amat silam).

Penjelasan :Sayang manysia tidak melihat atau menyadari pohon ini secara keseluruhannya dan tak mengerti akan kepentingan pohon ini. Manusia lebih terserap kepada daun daunnya, pada buah buah dan putik putiknya, dengan kata lain manusia terjebak pada rasa manis dan kenikmatn yang dikeluarkan pohon ini dan langsung terjebak didalamnya, dalam ilusi duniawi, pohon ini sendiri tampaknya tidak bermula dan tak ada akhirnya; siapa pula yang ajan pernah tahu akan asal mulanya dan akhirnya? Bukankah pohon ini berasal dari Sang Maya? Tetapi Sang Maya ada asal dan akhirnya, yaituYang Maha Pencipta. Sedangkan Sang Maya atau pohon kehidupan ini sebenarnya hanyalah pantulan atau ilusi. Dan selama kita sibuk berkelana di hamparan luasnya pohon kehidupan ini, selama itu juga kita akan sesat didalamnya tanpa jalan keluar karena begitu luas dan banyaknya jalan jalan yang salah didalamnya seakan akan tanpa akhir. Maka disitu situ juga  kita akan berkelana tanpa pernah tahu akan hal gal yang berada di luar itu, yaitu Sang Empunya pohon ini. Jalan satu satunya untuk keluar dari pohon ini adalah menebasnya sama sekali dan jalan atau metode kearah penebasan ini adalah menebas rasa keterikatan dumiawi secara total dan pasrahkan hasilnya kepada Sang Krishna, kepada Yang Maha Esa, dan Ia akan menyelamatkan kita semua dan menyatukan yang menebas pohon kehidupan ini, denganNya. Jalan ketidakterikatan duniawi ini berulang ulang ditekankan dalam Bhagavat Gita karena inilah faktor yang amat vital untuk menyadari atau mwnyingkapkan kebodohan kita, agar terbuka ilmu pengetahuan yang sejati, ilmu tentang arti dan hakikat dari kehidupan ini yang sebenarnya, agar tercapailah kesatuan antara kita denganNya, yang menjadi tujuan utama mengapa kita dilahirkan sebagai manusia yang berakal budi, tidak seperti ciptaan ciptaan yang lainNya yang berbentuk fauna, flora dan benda benda tak bergerak. ” Seseorang yang dirinya tak terikat pada obyek obyek luar. Mendapatkan kebahagiaan yang ada didalam dirinya sendiri. ” kata Bhagavat Gita, dan lagi.” Seseorang yang telah melepaskan semua keinginan, dan hidup bebas dari keterikatan, mendapat ketenangan.

” kebebasan dari keterikatan adalah penting dan perlu dihayati bagi seseorang yang ingin kenal dengan Yang Maha Esa, karena ini sudah merupakan syarat yang tidak dapat ditawar tawar lagi. Dan kebebasan dari keterikatan ini harus dilaksanakan secara sadar dan tulus dan tidak dibuat buat. Sang Jiwa di dalam raga kita harus disadrkn dri ilusinya dan sang jiwa ini (bukan SangbAtman yang bersemayam didalam jiwa ini) harus melepaskan keterikatannya akan uang, harta benda, berbagai miliknya seperti rumah, keluarga, negara, posisi, kedudukan, kemasyuran dan sebagainya. Bukan berarti semua ini harus diabaikan atau ditinggalkan tanpa tanggung jawab, tetapi rasa memiliki semua itu harus ditanggalkan, dan orang ini harus hidup secara amat sederhana saja. Dengan merasa semua itu hanyalah titipan atau ilusi yang dapat datang dan pergi setiap saat. Bukankah agama agama besar lainnya juga menyiratkan hal yang sama, bahwa harta benda duniawi ini sebenarnya hanyalah pengikat jiwa kita ke dunia ini, dan selama jiwa kita terikat pada dunia ini, bagaimana mungkin sang jiwa membersihkan dirinya agar suci dan bersih dan mengenal Tujuannya yang sejati?.

Jadi usahakanlah semaksimal mungkin tidak terikat kepada dunia atau pohon kehidupan ini. Bekerjalah demi dharma bhakti kita kepadaNya semata. Hidup dan bekerjalah demi Ia semata dengan motto atau semboyan, ” Aku ini sebenarnya tak memiliki apa apa, dan aku ini sebenarnya bukan apa apa.” Dengan menjadikan diri nol besar dan tak memiliki apapun juga di dunia ini, maka akan turunlah Berkah yang maha besar, yang kemudian akan menuntun pemuja ini kearahNya abadi dan pasti. Ia hanya dikenal oleh mereka yang tak mwmiliki apapun di dunia fana ini selain dari DiriNya yang Sejati.

Cobaan yang maha berat sebenarnya bukan harta benda. Milik atau rasa hormat ataupun keluarga, tetapi adalah diri kita sendiri. Pengorbanan atau tak keterikatan yang sejati sebenarnya adalah pemasrahan total dari diri kita sendiri. Kita mungkin bisa tak terikat pada harta benda duniawi, tetapi selama kita belum melepaskan rasa ego kita, maka jalan kepadaNya masih terasa amat jauh atau bahkan belum melepaskan rasa ego kita. Maka jalan kepadaNya masih terasa amat jauh atau bahkan nampak sia sia saja. Kata seorang sufi yang suci. ” percuma saja mengganti baju dan cara makanmu, percuma saja engkau menyantap sehelai rumput selama hidupmu atau hanya memakai sehelai baju selama hidupmu, atau mengasingkan dirimu jauh dari masyarakat kalau engkau masih terbius oleh ego juga. Rasa ego sebenarnya juga salah satu keinginan atau nafsu diri yang amat licik dan lincah mempermainkan dan menipu seseorang.

Seseorang yang benar benar tak terikat pada dunia ini adalah yang secara lahir dan batin telah berpasrah total kepadaNya. Orang semacam ini tak meminta atau bernafsu apapun juga, ia hanya menerima apa yang diberikan oleh Yang Maha Esa. ia hanya menerima semua kehendak Yang Maha Esa secara utuh dan tulus dan merasa puas dengan apa saja yang diterimanya. Ia selaku berdoa kepada Yang Maha Kuasa. ” Tuhan Engkau Maha Tahu, akan apa terbaik dan pantas untukku.” OM Tat Sat.

Seseorang pernah bertanya kepada seorang sufi mistik yang bernama Junayd Baghadi, agar memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, supaya sang sufi dapat melihat Tuhan Yang Maha Esa. Orang itu yakin bahwa Yang Maha Esa, akan memenuhi permintaan seorang sufi yang suci ini. Tetapi apa jawab sufi ini?. Ia berkata dengan tenang. “Aku telah beritikad tidak meminta atau menginginkan sesuatu. Bukankan Nabi Musa pernah meminta melihat Tuhan dan doanya tak terkabul. Sedangkan Nabi Muhamad mendapatkanNya tanpa pernah meminta? Suatu waktu nanti kalau sudah tiba saatnya, maka Yang Maha Kuasa akan menghapus semua rintangan dan memperbolehkan aku melihatNya sendiri tanpa aku memintanya.”

Dengan cara berpasrah total kepadaNya, tanpa keterikatan duniawi, tebaslah pohon kehidupan yang penuh dengan iluai ini, agar tampak Sinar Terang Ilahi menuntun kita kepadaNya juga. Caranya dengan sekali lagi bertekad untuk tidak terikat kepada semua unsur atau obyek obyek duniawi ini dan hanya berpasrah total kepadaNya dan menerima semua kehendakNya sebagai pemberian dariNya

15.5

nirmāna-mohā jita-sańga-doṣā

adhyātma-nityā vinivṛtta-kāmāḥ

dvandvair vimuktāḥ sukha-duḥkha-saḿjñair

gacchanty amūḍhāḥ padam avyayāḿ tat

Mereka pergi ke Rumah Yang Tak Dapat Dihancurkan, mereka ini tak memiliki rasa keangkuhan dan rasa moha (cinta-kasih yang mengikat), yang telah menang dan bangkit atas keterikatan yang baik dan buruk, yang selalu terpusat pada Sang Adhyatman, yang telah meninggalkan nafsu-nafsunya, yang telah bebas dari rasa dvandva (rasa dualisme yang saling bertentangan), dari kenikmatan dan penderitaan.

15.6

na tad bhāsayate sūryo

na śaśāńko na pāvakaḥ

yad gatvā na nivartante

tad dhāma paramaḿ mama

Tiada surya atau pun Chandra atau agni yang bersinar di sana; tiada juga yang setelah sampai di sana kembali lagi. ltulah kediamanKu yang suci dan agung.

Penjelasan: Maka mereka ini pun pergi ke tempat yang tak ada jalan kembali ke dunia ini. Mereka-mereka ini yang hati dan hidupnya sederhana dan tak terpengaruh oleh noda noda duniawi. Mereka yang telah mengalahkan semua ikatan-ikatan duniawi, nafsu dan emosi, yang hidupnya terfokus atau terpusat pada Sang Adhyatman, Yang Bersemayam di dalam diri mereka masing-masing, Sang Atman. Mereka ini hidup di dalam Rumah Abadi Sang Krishna, dan di Rumah ini tak diperlukan cahaya mentari, rembulan atau pun cahaya api untuk meneranginya karena cahaya Sang Krishna Sendiri sudah tak tertandingi terangnya di sana.

  1. 7

mamaivāḿśo jīva-loke

jīva-bhūtaḥ sanātanaḥ

manaḥ-ṣaṣṭhānīndriyāṇi

prakṛti-sthāni karṣati

Sebagian dari DiriKu Yang Abadi ditransformasikan dalam dunia kehidupan, ke dalam jiwa yang hidup, dan menanrik melingkupi dirinya dengan indra indra yang mana sang pikiran adalah indra yang keenam – yang terbungkus dalam bentuk benda.

Penjelasan: Dalam Pohon Kosmosnya Sang Prakriti terlahir jiwa-jiwa, individu-individu, dan lain sebagainya. Dan siapakah mereka semua ini dan juga kita? Setiap jiwa dan setiap mahluk adalah salah satu fragmen kecil dari Sang Krishna Yang Maha Esa itu Sendiri, dan setiap fragmen atau bagian kecil ini timbul atau lahir ke dunia ini sebagai. Mahluk atau individu (jiwa-bhuta), sebagai jiwa yang berkelana dalam raga-raga. Yang berlainan bentuk dan ragamnya. Ditegaskan di sini bahwa semua jiwa-jiwa ini baik yang nampak maupun yang tak terlihat oleh mata kita, berasal dari Sang Krishna juga, Yang Maha Abadi dan Esa. Inilah fakta-fakta yang dilupakan oleh manusia, dan manusia kebanyakan cenderung untuk tenggelam dalam dunia ini dengan segala kenikmatan dan penderitaannya, tetapi tidak mau mengenali diri dan jiwanya yang agung, yang merupakan sebuah fragmen dari Yang Maha Esa. Manusia cenderung mementingkan buah, cabang dari pohon kehidupan ini dari pada asal pohon ini.

Fragmen-fragmen atau jiwa-jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa oleh Prakriti (Alam) agar terbungkus oleh indra-indra kita yang jumlahnya semua adalah lima indra organ dan satu indra pikiran. Sang Jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa sehingga bebas memilih terjerumus ke dalam nafsu-nafsu duniawi atau menyibak pembungkus Prakriti ini sehingga dapat melihat Sinar Terang yang sebenamya ada di dalam dirinya sendiri, yaitu Sang Adhyatman, Sang Jati Diri, atau Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentukNya yang kecil. Sang Krishna adalah Adi Purusha (Manusia Yang Terutama) di dalam (1) setiap jiwa yang berbentuk aneka-ragam dan (2) dan sebagai Alam Semesta secara keseluruhan. Ia lah Sang Jati Diri, Sang Jiwa dalam yang besar dan kecil, dalam alam semesta dan dalam mahluk-mahluk, roh-roh atau jiwa-jiwa, secara menyeluruh dalam setiap yang hidup ini. Ia adalah Adhyatman (Sang Atman Yang Tertinggi, Terutama dan menyeluruh dan sumber dari semua jiwajiwa ini)!

15.8

śarīraḿ yad avāpnoti

yac cāpy utkrāmatīśvaraḥ

gṛhītvaitāni saḿyāti

vāyur gandhān ivāśayāt

Sewaktu Yang Maha Esa (Sang Jiwa) memasuki sebuah raga dan sewaktu la meninggalkannya, Ia membawa serta semua indra dan pikiran ini dan pergi bersama mereka, ibarat sang angin yang menerbangkan wewangian dari tempat asalnya. (Contoh: wewangian bunga yang terbangkan jauh dari sang bunga itu sendiri.)

Penjelasan: Sang Jiwa yang mengembara di alam kosmos ini dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya, selalu membawa serta semua indra-indra ini dalam tubuh halusnya. Semua ini kemudian jadi asal-mula karma barunya lagi dalam kelahiran yang berikutnya.

15.9

śrotraḿ cakṣuḥ sparśanaḿ ca

rasanaḿ ghrāṇam eva ca

adhiṣṭhāya manaś cāyaḿ

viṣayān upasevate

Secara suci bersemayam di telinga, di mata, di kulit dan di hidung dan juga di dalam pikiran la menikmati obyek-obyek sensual.

15.10

utkrāmantaḿ sthitaḿ vāpi

bhuñjānaḿ vā guṇānvitam

vimūḍhā nānupaśyanti

paśyanti jñāna-cakṣuṣaḥ

Mereka yang tidak sadar (kurang pengetahuannya) tidak menyadariNya sewaktu la berpisah atau beristirahat atau merasa, sesuai dengan kerjasamaNya dengan guna-guna. Tetapi mereka yang memiliki mata kebijaksanaan dapat melihat.

15.11

yatanto yoginaś cainaḿ

paśyanty ātmany avasthitam

yatanto ‘py akṛtātmāno

nainaḿ paśyanty acetasāḥ

Para yogi pun yang berusaha melihatNya di dalam diri mereka; tetapi mereka yang tidak sadar, yang tidak bersih, mereka berjuang tetapi tidak melihatNya.

Penjelasan: Bagi mereka-mereka yang bijaksana dan berpengetahuan (dalam agama Hindu selalu dipergunakan kata berpengetahuan untuk mereka yang sadar akan Yang Maha Esa dan kata bodoh atau kurang-pengetahuan untuk mereka yang masih jauh dariNya. dan masih bergelimang akan dosa-dosa. Kata dosa jarang dipergunakan), maka

Terlihatlah oleh mereka Sang Atman yang bersemayam di dalam raga kita dengan menikmati obyek-obyek indra, Ia terlihat hadir di telinga, di mata, di kulit, di lidah, di hidung dan di pemikiran (pikiran) kita. Bagi yang masih kurang sadar (agnana), maka kenyataan ini tidak nampak oleh mereka, walau pun sebenarnya banyak di antara mereka yang berjuang ke arah Yang Maha Esa. Mengapa begitu? Karena sebenarnya mereka-mereka ini masih terselimut oleh ego mereka, sehingga tidak sucilah diri mereka ini. Ingatlah! Sedikit saja ego itu masih tersisa di dalam diri kita maka masih jauh kita ini dari Yang Maha Esa, ingat juga walau pun itu ego yang baik sifatnya, selama namanya masih ego dan bukan demi Yang Maha Kuasa, maka selama itu pula jauh kita ini dari Yang Maha Esa!

15.12

yad āditya-gataḿ tejo

jagad bhāsayate ‘khilam

yac candramasi yac cāgnau

tat tejo viddhi māmakam

 

Ketahuilah bahwa gemerlapnya cahaya sang surya yang menerangi dunia ini, dan cahaya rembulan dan api, semua kebesaran itu datang terpancar dariKu.

15.13

gām āviśya ca bhūtāni

dhārayāmy aham ojasā

puṣṇāmi cauṣadhīḥ sarvāḥ

somo bhūtvā rasātmakaḥ

Memasuki bumi ini, Kutunjang semua mahluk dengan energi vitalKu dan, dengan menjadi cairan lembut dari Sang Chandra (sari Soma) yang nikmat, Kuhidupi semua tumbuh-tumbuhan.

15.14

ahaḿ vaiśvānaro bhūtvā

prāṇināḿ deham āśritaḥ

prāṇāpāna-samāyuktaḥ

pacāmy annaḿ catur-vidham

Dengan menjadi api-kehidupan, yang bersemayam di dalam raga setiap mahluk yang bernafas, dan menyatu dengan kehidupan (nafas yang ditarik dan yang dikeluarkan), Kucernakan semua bentuk makanan (empat jenis makan).

15.15

sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo

mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca

vedaiś ca sarvair aham eva vedyo

vedānta-kṛd veda-vid eva cāham

Dan Aku bersemayam di dalam hati semuanya; dan dariKu timbul memori (ingatan) dan gnana (pengetahuan atau kesadaran) dan kekuatan yang menangkis dan menolak keragu-raguan atau pikiran-pikiran yang negatif. Akulah yang dimaksud dalam Veda-Veda, dan Akulah yang dimengerti oleh Veda-Veda ini. dan juga Akulah Pengarang Vedanta ‘akhir’ dari Veda.

Penjelasan: Sang Krishna atau Yang Maha Esa adalah kehidupan total dari alam semesta ini. Setiap unsur dari alam semesta ini berasal dariNya atau dengan kata lain Ia juga semuanya ini. Ia juga sumber dari energi di alam semesta ini, Ia juga cahaya yang bersinar di dalam matahari, rembulan dan api. Ia juga sari Soma dalam rembulan yang menghidupi tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Ia juga api-kehidupan dalam setiap manusia dan mahluk-mahluk lainnya, Ia lah sumber tanpa batas dari segala-galanya. Ia juga yang bersemayam dalam pikiran kita yang membedakan antara pikiran yang jahat dan yang baik. Ia juga yang selalu disebut-sebut dalam Veda~Veda dan kitab kitab suci lainnya sebagai Tujuan Yang Abadi, Tuhan Yang Maha Esa, bahkan Ia sendiri adalah Sang Pengarang dari Vedant, yaitu kitab suci Hindu yang terakhir dalam jajaran kitab -kitab Veda.

15.16

dvāv imau puruṣau loke

kṣaraś cākṣara eva ca

kṣaraḥ sarvāṇi bhūtāni

kūṭa-stho ‘kṣara ucyate

Ada dua Purusha (energi) di dunia ini, yaitu yang dapat binasa dan yang tak dapat binasa. Yang dapat binasa adalah semua mahluk dan benda-benda, yang tak dapat binasa disebut Kutashta (duduk secara tegar, terbungkus oleh misteri dan bersemayam dalam Sang Maya).

5.17

uttamaḥ puruṣas tv anyaḥ

paramātmety udāhṛtaḥ

yo loka-trayam āviśya

bibharty avyayā īśvaraḥ

Ada lagi seorang Purush -Yang Maha Tinggi -Yang disebut Purushottama (Sang Jati Diri Yang Suci dan Agung). la menunjang semuanya; la menghidupi ketiga loka-loka ini. la lah Yang Maha Abadi (Yang Tak Dapat Binasa).

15.18

yasmāt kṣaram atīto ‘ham

akṣarād api cottamaḥ

ato ‘smi loke vede ca

prathitaḥ puruṣottamaḥ

Karena Aku berada di atas yang dapat binasa, dan juga Aku lebih tinggi dari yang tak dapat binasa, maka baik di dunia ini maupun di dalam Veda Aku dikenal sebagai Manusia Yang Maha Agung dan Suci.

Penjelasan: Ada tiga bentuk Purusha, atau orang atau energi di alam semesta ini:

  • Disebut Kshara-prakriti atau berarti yang tidak abadi, yang dapat berganti-ganti, sama dengan semua mahluk dan benda-benda yang dapat binasa.
  • Akshara-prakriti atau Kutashta (yang duduk tegar bagaikan batu di dalam Sang Maya) -yaitu Sang J iwa atau Chaitanya-shakti yang melahirkan bentuk purusha yang pertama tadi.
  • Uttama Purusha, atau Purushorrama, Paramatman, atau Sang Jati Diri Yang maha Agung dan Suci. Ia adalah Yang Maha Esa Yang menunjang, menghidupi, menghadirkan alam semesta ini. Ia lah Sang Krishna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 0m Tat Sat.

Di bab VII, oleh Sang Krishna, kedua bentuk energi ini disebut Purusha dan Prakriti,

sebagai dua buah bentuk dari PrakritiNya. Di bab XV ini, Sang Krishna menyebut kedua-duanya sebenarnya bermakna sama, yaitu dua bentuk Energi (atau Upadhi) dari Satu Purusha Yang Maha Agung dan Suci, yaitu Yang Maha Esa, Sang Purushottama, Sang Krishna, Yang Hadir dan Berkuasa di atas Kshara dan Aksara.

15.19

yo mām evam asammūḍho

jānāti puruṣottamam

sa sarva-vid bhajati māḿ

sarva-bhāvena bhārata

Seseorang yang telah sadar, mengenalKu sebagai Purushottama. orang ini tahu akan semua hal dan ia memujaKu dengan seluruh jiwanya. oh Arjuna!

15.20

iti guhyatamaḿ śāstram

idam uktaḿ mayānagha

etad buddhvā buddhimān syāt

kṛta-kṛtyaś ca bhārata

Demikian telahKu beritahukan kepadamu ajaran yang amat rahasia ini, oh Arjuna! Seseorang yang tahu akan hal ini, adalah orang yang telah mencapai penerangan dan tugas-tugasnya selesai sudah, oh Arjuna!

Penjelasan:  Ilmu pengetahuan tentang Sang Krishna sebagai Purushottama menuntun seseorang ke arah bhakti (dedikasi tulus tanpa pamrih). Ilmu atau pengetahuan ini memberikan rasa pengertian atau penerangan akan Yang Maha Esa dan segala aspek aspekNya yang terlihat di alam semesta dan diri kita. Dan seseorang yang telah sadar akan hal ini adalah orang yang telah mendapatkan penerangan Ilahi, dan menurut Sang Krishna selesai sudahlah tugas-tugas dan kewajibannya di dunia ini. Orang ini lalu sadar bahwa semua yang manis dan baik dalam hidup ini, seperti sahabat-sahabat, orang-orang yang dikasihinya, kekayaan, kesehatan, ilmu-ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, hanyalah merupakan ‘bunga-bunga’ dan ‘buah-buah’ kehidupan belaka, yang merupakan hadiah atau pemberian Sang Purushottama kepadanya, untuk digunakan demi menunjang kehidupannya selama ia berkelana di dunia ini. Ia tak akan pernah lupa, bahwa tujuannya ke dunia ini sebenarnya adalah untuk mengenal Yang Maha Esa, bekerja demi Yang Maha Esa, dan berusaha untuk kembali kepadaNya lagi secara sadar. Untuk mencapai Rumah Yang Maha Esa ini maka semua materi-materi yang merupakan penunjang hidupnya di dunia ini harus ditinggalkannya, bukan diikat erat-erat dengannya. Seseorang yang secara sejati telah menyadari akan hakikat ini disebut Vairagi. Ia sadar dunia beserta seluruh isinya dapat binasa, tetapi Yang Maha Esa adalah Abadi. Pemuja semacam ini walau sehari-hari tetap bekerja seperti biasa dan sesuai dengan kewajibannya; sebenarnya secara spiritual tugas-tugasnya di dunia ini telah selesai, karena walau masih memiliki raga ia sudah mencapai dan mengenal Sang Misteri Yang Maha Agung dan Suci, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang memiliki Keajaiban-Keajaiban Yang Tak Tertandingi. Pemuja yang suci ini di dalam hidupnya telah mencapai Nirvana. 0m Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, maka bab ini adalah yang kelima belas dan disebut:

Purushottama Yoga

 atau

Ilmu Pengetahuan tentang Manusia Utama Yang Maha Agung dan Suci.

Bhagavad Gita Bab XIV

Bab XIV

Penguasaan atas ketiga sifat

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

14.1

śrī-bhagavān uvāca

paraḿ bhūyaḥ pravakṣyāmi

jñānānāḿ jñānam uttamam

yaj jñātvā munayaḥ sarve

parāḿ siddhim ito gatāḥ

 

Sekali lagi Akan Ku sabdakan kepadamu kebijaksanaan Yang Suci dan Agung kebijaksanaan yang terbaik dari semua kebijaksanaan mengetahui hal mana, para resi kemudian menuju ke arah kesempurnaan yang paling tinggi,

14.2

idaḿ jñānam upāśritya

mama sādharmyam āgatāḥ

sarge ‘pi nopajāyante

pralaye na vyathanti ca

 

Berlindung pada kebijaksanaan ini, mereka lalu bersifat Sama denganKu, Mereka tak lahir pada waktu penciptaan dan tidak binasa pada waktu penghancuran (kiamat).

Penjelasan: Sang Krishna di Bab ini menguraikan mengenai pengetahuan tentang ketiga guna (sifat-sifat alami), kemudian hubungan guna ini dengan Prakriti dan penguasaan atas guna ini oleh para resi dan orang-orang suci di zaman dahulu kala. Dengan menguasai ketiga guna ini maka akan tercapailah kebijaksanaan yang agung dan suci dari hidup ini. Dan dengan mencapai kebijaksanaan ini para resi dan orang orang suci itu telah mencapai kesempurnaan yang agung dan suci; yang disebut nirvana atau pari-nirvana.

Berlindung di bawah kebijaksanaan ini para orang-orang suci ini lalu diberkahi oleh Yang Maha Esa sifat-sifat identik dari Diri Sang Krishna dan mereka pun lalu tumbuh dan hidup dalam bentuk Sang Krishna Yang Suci dan Agung. Inilah hasil mengikuti dengan setia dan penuh dedikasi ajaran-ajaran Sang Krishna. Dengan kata lain mereka ini, para orang-orang suci, berasimilasi dengan sari atau inti Sang Krishna itu Sendiri; atau dengan bahasa singkat dan sederhana, menyatu dengan Sang Krishna.

Dan sekali bersatu denganNya, mereka ini lepas dari kehidupan duniawi ini, lepas juga mereka ini dari siklus lahir dan mati yang berulang-ulang, bahkan penciptaan dan penghancuran kehidupan-kehidupan berikutnya pun mereka tidak diikut-sertakan lagi karena dianggap Yang Maha Esa mereka ini telah mencapai status pari-nirvana, yaitu menyatu denganNya kembali secara abadi. 0m Tat Sat.

14.3

mama yonir mahad brahma

tasmin garbhaḿ dadhāmy aham

sambhavaḥ sarva-bhūtānāḿ

tato bhavati bhārata

 

KandunganKu adalah Sang Brahma yang agung; dan di situKu letakkan benih ini. dari kandungan ini lahirlah setiap benda dan mahluk, oh Arjuna!

14.4

sarva-yoniṣu kaunteya

mūrtayaḥ sambhavānti yāḥ

tāsāḿ brahma mahad yonir

ahaḿ bīja-pradaḥ pitā

Dalam setiap kandungan apapun juga. lahir berbagai bentuk kehidupan, oh Arjuna. dan Sang Brahma Agung adalah kandungan mereka ini. dan Aku adalah Sang Ayah yang menabur benih-benih ini.

Penjelasan: yang dimaksud dengan Sang Brahma agung di sini adalah mahad-brahma, yaitu Sang Maya yang juga diibaratkan atau disamakan dengan kandungan di mana Sang Krishna sebagai seorang Ayah menaburkan benih-benihNya, yang kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk ciptaan-ciptaanNya. Mahad-Brahma atau Sang Brahma yang agung ini juga sama dengan Prakriti atau alam ini, dan Sang Krishna adalah Ayah atau Bapak dari setiap benih yang ditaburkanNya. Jadi hanya Ia yang dapat menentukan lahirnya seseorang atau mahluk atau benda di alam semesta ini dan ingat di dalam setiap ciptaanNya terdapat sang Jiwa atau juga benih-kehidupan yang berasal dariNya. Dan menurut Bhagavat Gita, maka benih yang ditaburkan ini berasal dari Sang Krishna, Yang Maha Esa, jadi dengan kata lain dalam setiap ciptaanNya hadir sebagian dari Yang Maha Esa, atau Yang Maha Esa itu Sendiri ada di dalam setiap ciptaan-ciptaanNya Sendiri. Sayang sekali, kita manusia’sering sekali lupa bahwa kita berasal dari benih Yang Agung dan Suci, dan kita lebih suka tenggelam dalam alur kehidupan duniawi ini, dalam kandungan Sang Maya itu sendiri. Padahal Sang Maya atau Prakriti ini hanyalah alat yang mengandung kita dan menumbuhkan kita agar kita tumbuh dan lahir untuk kembali kepadaNya lagi. Bukankah itu maksud dan tujuan Yang Maha Esa, tetapi karena kita diberikan kebebasan untuk memilih maka kebanyakan kita memilih untuk terus tinggal di dalam kandungan Sang Maya yang penuh ilusi kenikmatan, padahal itu semua berada di dalam kegelapan. Pikirkanlah dengan seksama, bukankah kita semua harus kembali dan berbakti pada Ayah kita Yang Agung dan Suci dan menyatu kembali denganNya? Pikirkanlah secara seksama dan menurut hati-nurani anda mana. yang benar dan mana yang salah? Dengan kasih Sang Ayah yang suci dan Agung ini pasti kita akan dituntun kembali kepadaNya. 0m Tat Sat.

14.5

sattvaḿ rājā s tama iti

guṇāḥ prakṛti-sambhavāḥ

nibadhnanti mahā-bāho

dehe dehinam avyayām.

Ketiga kwalitas (guna). Yaitu sattva, raja dan tama lahir dari Prakriti. Mereka ini mengikat erat di dalam raga, oh Arjuna, Yang Tak Terbinasakan yang bersemayam di dalam raga.

Penjelasan: Ketiga guna atau kwalitas alami ini yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat-sifat dominan dari Sang Prakriti itu sendiri, selalu hadir dalam diri kita. Setiap tindakan kita sebenarnya didasarkan pada ketiga sifat Prakriti ini, dan ketiga sifat ini sedemikian dominannya di dalam raga kita sehingga diibaratkan mengikat Sang Atman (Yang Tak Terbinasakan) yang bersemayam di dalam diri kita. Ikatan erat ini begitu gelap sifatnya, sehingga kita yang sudah mabuk duniawi ini tidak dapat melihat Sang Atman yang sebenamya hadir bercahaya terang di dalam diri kita sendiri

14.6

tatra sattvaḿ nirmalatvāt

prakāśakam anāmayam

sukha-sańgena badhnāti

jñāna-sańgena cānagha


Diantara sifat-sifat ini, sattva. Karena kesuciannya, membawa penerangan dan kesehatan. Sifat ini mengikat kita dengan ikatan kebahagiaan dan ikatan ilmu pengetahuan, oh Arjuna!

Penjelasan: Apakah sattva itu? Sattva adalah sifat-sifat kesucian atau kemurnian atau penerangan. Tetapi walau disebut kemurnian toh sifat ini dapat mengikat jiwa kita ke raga dan menimbulkan keterikatan. Sifat sattva membuat kita selalu berorientasi pada tindakan~tindakan yang baik dan pencarian ilmu pengetahuan yang benar. Tetapi sering sekali sattva pun mengarahkan kita kepada keterikatan-keterikatan dalam bentuk ilmu pengetahuan ini sehingga terikatlah seseorang pada pikiran-pikiran, analisis dan metode-metode dan lain sebagainya, dan semua ini menjadi tujuan ilmu pengetahuan mereka yang mempelajarinya, bukan jalan untuk mengenalNya, Yang Maha Pencipta. Semua ini membuat seseorang yang bersifat sattva terikat pada pekerjaan dan kebaikan-kebaikannya, tetapi tidak membuat orang-orang ini berorientasi kepada Yang Maha Esa secara mumi, padahal sifat dasar mereka ini sattvik.

Di dunia Barat misalnya banyak terdapat ilmuwan yang bersifat amat sattvik, tetapi tujuan mereka hanya terpusat pada ilmu pengetahuan itu dan pemecahannya secara ilmiah saja, mereka sama-sekali tidak berpikir tentang Yang Maha Esa, Sang Pencipta ilmu-ilmu ini. Sebaliknya di Timur, yang Maha Esa masih menjadi tujuan atau akhir dari semua ilmu pengetahuan ini, sehingga tidak mengherankan kalau pada abad modern seperti dewasa ini masih banyak orang yang dianggap pandai atau terpandang melepaskan jabatan mereka dan terjun ke dunia spiritual dan melepaskan semua ikatan-ikatan dan unsur-unsur duniawi mereka untuk mencari penerangan Ilahi. Mereka ini benar-benar jalan dengan sifat-sifat sattva dan mengarahkan sifat-sifat suci ini untuk tujuan yang mulia dan tak mau terikat oleh sifat-sifat ini. Dengan kata lain, sifat-sifat sattva ini hanyalah alat-alat belaka bagi orang-orang suci ini.

14.7

rajo rāgātmakaḿ viddhi

tṛṣṇā-sańga-samudbhavam

tan nibadhnāti kaunteya

karma-sańgena dehinam

 

Ketahuilah olehmu, oh Arjuna, bahwa sifat raja, yang berciri emosional ini adalah sumber dari keterikatan dan rasa tak puas. Dan sifat raja ini mengikat jiwa yang ada di dalam raga dengan keterikatan-keterikatan aksi atau perbuatan.

Penjelasan: Sifat-sifat raja adalah energi, mobilitas, emosi dan raja juga berarti keinginan atau kehausan untuk hidup. Dengan kata lain, sifat raga dapat diartikan energi yang penuh dengan keinginan dan nafsu-nafsu yang tak terpuaskan. Sifat ini adalah ‘anak’ dari nafsu-nafsu yang kuat dan juga dari keterikatan itu sendiri. raja mengikat kita, mengikat jiwa kita erat-erat ke Sang Prakriti melalui aktivitas dan aksi. Di kala seseorang penuh dengan keserakahan atau penuh dengan kegelisahan eksternal yang dikarenakan aktivitias-aktivitasnya, maka dapat dipastikan sifat-sifat raja sedang berkuasa atas diri orang ini. Seseorang yang amat aktif, ambisius dan penuh semangat kerja atau daya juang yang tinggi untuk kebutuhan-kebutuhan duniawinya juga menunjukkan sifat-sifat raja yang sedang dominan dalam dirinya.

Seseorang yang bersifat raja atau rajasik ini bekerja keras bagi dirinya sendiri, bukan untuk Sang Krishna atau Yang Maha Esa. Ia ingin selalu berkuasa atau berpengaruh atas orang-orang disekitarnya. Seorang dengan sifat raja ini penuh dengan aksi, inisiatif, ambisi pribadi yang tinggi dan penuh dengan keresahan. Sebaiknya jika ia ingin keluar dari lingkaran raja ini, maka cara terbaik adalah bertindak, bekerja, beraksi atau berbuat demi Sang Krishna atau Yang Maha Esa semata tanpa pamrih. Tetap bekerja apa saja sesuai dengan profesi dan kewajibannya,

Tetapi demi Yang Maha Esa, pekerjaannya kemudian dengan cara ini akan berubah menjadi yadna.

14.8

tamas tv ajñāna-jaḿ viddhi

mohanaḿ sarva-dehinām

pramādālasya-nidrābhis

tan nibadhnāti bhārata

 

Tetapi sifat tama (kegelapan total yang penuh kekacauan) ketahuilah olehmu, ahir dari kebodohan dan adalah sifat yang memperbodoh jiwa. Sifat ini mengikat dengan ketidak perdulian, kemalasan dan tidur, oh Arjuna!

Penjelasan: Sifat-sifat tama bukanlah bersifat energi atau penerangan, atau aktivitas atau kesucian. Sebaliknya adalah sifat-sifat kemalasan, ilusi kosong dan kebodohan yang bcrkepanjangan sifatnya. Sifat ini mengikat jiwa seseorang dengan kebodohan, kemalasan, dengan ketidak keacuhan terhadap setiap hal yang positif. Dengan kata lain di mana terlihat kegelapan total dalam diri seseorang maka sudah pasti sifat tama sedang berkuasa.

Seseorang yang bersifat tama hidup tak ubahnya seperti binatang saja. Ia makan, tidur, minum dan memenuhi hasrat-hasrat raganya saja dari saat ke saat. Tak ada idealisme atau cita-cita dalam dirinya. Ia malas, bodoh, tak perduli dan selalu tak acuh pada hal-hal yang bersifat baik. Tetapi sifat tama ini juga dapat didobrak dan seseorang yang terjerat dalam lingkaran kebodohan ini dapat keluar juga. Caranya adalah dengan berdharma-bhakti kepadaNya semata, meminta perlindunganNya semata dan bekerja tanpa pamrih untuk Yang Maha Esa. Sang Bayu (angin) tidak saja merambah dan bertiup diantara dedaunan pohon-pohon yang besar dan tinggi saja, tetapi Sang Bayu juga bertiup diantara rerumputan liar dan kecil yang berada di bawah pohon-pohon besar ini. Yang penting adalah kemauan kita snediri untuk merasakan tiupan ini, merasakan kehadiranNya di antara kita semuanya dan mau mengikuti ajaran-ajaranNya.

14.9

sattvaḿ sukhe sañjayati

rājāḥ karmaṇi bhārata

jñānam āvṛtya tu tamaḥ

pramāde sañjayaty uta

 

 Sattva mengikat (seseorang) kepada kebahagiaan, raja mengikat kepada aksi, oh Arjuna! Dan sifat tama membungkus kebijaksanaan, mengikat seseorang kepada ‘ketidakperdulian.’

14.10

rājā s tamaś cābhibhūya

sattvaḿ bhavati bhārata

rājā ḥ sattvaḿ tamaś caiva

tamaḥ sattvaḿ rājā s tathā

 

Sewaktu sattva berada di atas raja dan tama, maka berkuasalah sattva, oh Arjuna! Di kala raja berada di atas sattva dan tama, maka berkuasalah raja. Dan di kala tama berada di atas sattva dan raja, maka berkuasalah tama.

14.11

sarva-dvāreṣu dehe ‘smin

prakāśa upajāyate

jñānaḿ yadā tadā  vidyād

vivṛddhaḿ sattvām ity uta

 

Di kala sinar kebijaksanaan mengalir keluar dari semua gerbang sang raga, maka ketahuilah bahwa sattvalah yang berkuasa, oh Arjuna!

14.12

lobhaḥ pravṛttir ārambhaḥ

karmaṇām aśamaḥ spṛhā

rājā sy etāni jāyante

vivṛddhe Bhārata rṣabha

 

Di kala keserakahan, aktivitas eksternal, ambisi untuk bekerja, keresahan, nafsu-nafsu iri terlihat jelas, ketahuilah bahwa rajalah yang berkuasa, oh Arjuna!

14.13

aprakāśo ‘pravṛttiś ca

pramādo moha eva ca

tamasy etāni jāyante

vivṛddhe kuru-nandana

 

Di kala kégelapan, non-aksi ketidakperdulian dan kegelapan terlihat jelas, ketahuilah bahwa tama lah yang berkuasa, oh Arjuna!

 

 

14.14

yadā sattve pravṛddhe tu

pralayaḿ yāti deha-bhṛt

tadottama-vidāḿ lokān

amalān pratipadyate


Kalau seseorang meninggal dunia di kala sattva berkuasa di dalamnya, maka ia akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda di mana tinggal mereka yang mengenal Yang Maha tinggi.

Penjelasan: Seorang sattvik, setelah meninggal dunia maka jiwanya akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda oleh dosa-dosa dan kebodohan. Tetapi ia masih harus bekerja keras untuk mencapai Yang Maha Esa. Karena setelah habis karmanya di tempat tempat ini (Devachana), ia harus kembali lagi ke dunia ini, tetapi ia akan lahir di tengah-tengah keluarga pencinta Yang Maha Esa, dan jalan ke arahNya akan makin lembut saja sesudah itu.

14.15

rājāsi pralayaḿ gatvā

karma-sańgiṣu jāyate

tathā pralīnas tamasi

mūḍha-yoniṣu jāyate

 

 Meninggal dunia sewaktu sifat raja masih berkuasa, maka orang itu akan lahir diantara orang-orang yang terikat pada aksi; dan sekiranya seseorang meninggal dunia sewaktu sifat tama masih berkuasa maka ia akan lahir di dalam kandungan-kandungan yang tak berindra.

Penjelasan: “Yang tak berindra” di sini mungkin dimaksudkan dengan ciptaan Yang Maha Kuasa seperti pepohonan, tumbuh-tumbuhan atau juga jenis mahluk-mahluk lainnya yang tak memiliki ratio dan intelektual.

14.16

karmaṇaḥ sukṛtasyāhuḥ

sāttvikaḿ nirmalaḿ phalam

rājā sas tu phalaḿ duḥkham

ajñānaḿ tamasaḥ phalam

 

Hasil dari perbuatan sattvik disebut harmonis dan suci, hasil dari sifat raja disebut penderitaan dan hasil dari sifat tama adalah kedunguan dan kebodohan.

Penjelasan: Setiap pekerjaan maupun tindakan yang dibuat dalam pengaruh sattva akan lepasdari noda-noda dan dosa-dosa. Sedangkan setiap pekerjan di bawah pengaruh sifat raja akan menghasilkan dukha, yaitu efek yang penuh dengan penderitaan. Dan setiap tindakan atau perbuatan di bawah pengaruh tama akan membuahkan yang lebih buruk dari penderitaan, yaitu kebodohan atau kedunguan (agnana), yang berarti menjadi lebih jauh lagi dari Yang Maha Esa.

14.17

sattvāt sañjāyate jñānaḿ

rājā so lobha eva ca

pramāda-mohau tamaso

bhavato ‘jñānam eva ca

 

Dari sattva lahirlah ilmu pengetahuan, dari raja lahir keserakahan, dan dari tama lahir sifat acuh-tak-acuh, kemalasan dan agnana (kebodohan).

14.18

ūrdhvaḿ gacchanti sattva-sthā

madhye tiṣṭhanti rājasāḥ

jaghanya-guṇa-vṛtti-sthā

adho gacchanti tāmasāḥ

 

Mereka yang telah tegar dalam sattva menanjak ke atas; mereka yang dalam raja berdiam di tempat yang paling tengah; dan mereka yang bersifat tama pergi ke bawah terikat pada sifat-sifat yang paling rendah.

14.19

nānyaḿ guṇebhyaḥ kartāraḿ

yadā draṣṭānupaśyati

guṇebhyaś ca paraḿ vetti

mad-bhāvaḿ so ‘dhigacchati

Bila seseorang yang melihat, menyadari bahwa tidak ada unsur yang lain selain ketiga guna ini dan mengenal la yang hadir di atas ketiga guna ini, ia akan masuk ke dalam DiriKu.

14.20

guṇān etān atītya trīn

dehī deha-samudbhavān

janma-mṛtyu-jarā-duḥkhair

vimukto ‘mṛtam aśnute

 

Bila seseorang (jiwa yang terbungkus oleh raga ini) telah melampaui ketiga guna ini di mana semua bentuk raga diproduksi maka ia benar-benar lepas dari kelahiran dan kematian, dari usia tua dan penderitaan, ia lalu meneguk air kehidupan yang abadi (tak dapat binasa lagi).

Penjelasan: Di sloka-sloka di atas ini tersirat pesan Sang Krishna bagi Arjuna dan kita semuanya, yaitu kuasailah ketiga sifat ini, dan jadilah “seorang yang sadar atau yang dapat melihat dengan jelas dan benar.” Seorang yang melihat atau sadar ini melihat (a) bahwa keterbebasan dari semua unsur duniawi ini dapat dicapai jika seseorang benar-benar sadar bahwa hanya ketiga sifat guna ini sajalah yang sebenarnya bertindak, bekerja, beraksi atau berbuat, dan bukan Sang Atman yang bersemayam di dalam diri kita bahkan bukan raga kita juga, dan (b) bahwa ada Ia yang lepas dari semua unsur-unsur Prakriti ini, Yang Maha Suci dan Agung. la lebih tinggi sifatNya dari ketiga guna ini yang sebenarnya lahir dari Prakriti, dan dari ketiga guna ini lahirlah bentuk-bentuk dan sifat-sifat alam. raga-raga kita dan juga mahluk-mahluk lainnya yang tak terbilang banyak jumlah dan ragamnya.

Orang-orang yang bijaksana yang telah menyeberangi’ ketiga guna ini malahan dapat mengendalikan sifat-sifat ini pada diri mereka, karena mereka telah sadar bahwa sifat-sifat inilah penyebab semua tindakan dan perbuatan baik dan buruk di dunia ini, sedangkan Sang Atman hanya bertindak sebagai saksi saja di dalam raga kita masing-masing. Mereka ini oleh Sang Krishna diibaratkan sebagai yang telah meminum air keabadian dan tak perlu lagi menjalani kehidupan dan kematian lagi. Mereka telah bersatu di dalamNya secara abadi.

Berkatalah Arjuna:

14.21

Arjuna uvāca

kair lińgais trīn guṇān etān

atīto bhavati prabho

kim ācāraḥ kathaḿ caitāḿs

trīn guṇān ativartate

 

Apakah ciri-ciri dari seseorang yang telah melampaui ketiga guna ini? Bagaimanakah cara hidupnya? Dan bagaimana caranya ia melampaui ketiga guna ini?

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

 

 

14.22

śrī-bhagavān uvāca

prakāśaḿ ca pravṛttiḿ ca

moham eva ca pāṇḍava

na dveṣṭi sampravṛttāni

na nivṛttāni kāńkṣati

Seseorang yang tidak menghindar (atau menolak) cahaya (pengetahuan) atau aktivitas atau kebodohan di kala faktor-faktor ini timbul, dan tidak mengharapkan faktor-faktor ini di kala tidak hadir;

14.23

udāsīna-vad āsīno

guṇair yo na vicālyate

guṇā vartanta ity evaḿ

yo ‘vatiṣṭhati neńgate

 

Seseorang yang duduk tanpa khawatir tak terusik oleh guna, terpisah, tanpa goyah, dan mengetahui bahwa hanya guna-guna ini yang bertindak;

 

14.24

sama-duḥkha-sukhaḥ sva-sthaḥ

sama-loṣṭāśma-kāñcanaḥ

tulya-priyāpriyo dhīras

tulya-nindātma-saḿstutiḥ

 

Seseorang yang merasakan kenikmatan dan penderitaan adalah serupa, yang terpusat pada Sang Atman, dan baginya tanah-liat atau batu ataupun emas adalah satu, yang sama kepada yang dicintainya dan tak dicintainya, yang jalan pikirannya tak goyah, yang bersikap sama di kala terhina dan dalam kemasyhuran;

14.25

mānāpamānayos tulyas

tulyo mitrāri-pakṣayoḥ

sarvārambha-parityāgī

guṇātītaḥ sa ucyate

 

Yang memandang sama rata akan rasa dihormati dan tidak dihormati, dan yang bersikap sama terhadap sahabat dan musuhnya, yang telah melepaskan semua ambisi orang ini disebut telah melewati semua guna-guna ini.

Penjelasan:Seseorang yang telah melewati, melampaui atau mengatasi ketiga guna (sifat sifat Prakriti) akan berubah cara hidup dan cara berpikirnya. Ia akan menjadi ibarat seorang tuan atau majikan yang sudah dapat menguasai seluruh anak-buahnya. Dalam hal ini telah menguasai atau memperalat sifat-sifat alam ini, dan tanda-tanda atau ciri-ciri orang ini adalah:

  1. Ia bersikap sama saja kepada ketiga sifat-sifat atau kwalitas Prakriti ini di kala sifat-sifat ini hadir dan sedang beraksi baik dalam dirinya maupun dalam diri orang lain, karena ia sadar bahwa setiap sifat ini mempunyai evolusi atau naik turunnya sendiri.
  2. Ia tak terganggu atau terusik oleh efek atau hasil atau karma dari setiap tindakan, apakah itu tindakan baik maupun tindakan buruk. Ia sadar bahwa setiap perbuatan atau aktivitias adalah milik guna-guna ini, milik dan merupakan alat permainan sang Prakriti. Baginya alam dan sifat-sifatnya selalu sedang bekerja dan ia sendiri sedang duduk di tengah-tengahnya, merasa tak asing tetapi juga tak khawatir. Tak dapat ia digoyahkan dari jalan pikirannya ini oleh sifat-sifat Prakriti. “hanya sifat-sifat ini saja bergerak,” katanya, dan “Semua obyek adalah benda-benda mainan yang dipermainkan oleh guna-guna ini.” Ia merasakan dirinya sebagai seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan atau pekerjaannya saja di dunia ini, ibarat mimpi yang tak dapat mengganggu mereka yang tidak tidur, maka guna atau sifat-sifat ini pun tidak dapat mengganggu sang musaflr ini, yang tenang dengan tugas atau perjalanannya ke arah Yang Maha Esa.
  3. Baginya setiap benda, mahluk dan kejadian adalah hal yang sama atau satu sifatnya. 1a bersikap selalu sama rata terhadap hal-hal, kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang berlawanan seperti suka-duka, panas-dingin, teman-musuh, penghormatan-penghinaan, cinta-benci, dan lain sebagainya. Emas atau tanah-liat baginya sama saja nilainya, sama-sama ciptaan Yang Maha Esa yang tak ada bedanya dan mempunyai fungsi masing-masing di dunia ini, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah.
  4. Ia tidak berambisi lagi dengan tujuan-tujuan tertentu dalam melakukan pekerjaannya. Baginya setiap aksi, perbuatan, tindakan dan pekerjaan adalah dharma-bhaktinya kepada Yang Maha Esa, yang tidak diiringi oleh pamrih sama sekali. Baginya pekerjaan apapun sama saja kadar atau sifatnya, tidak ada yang lebih agung dan tidak ada yang lebih hina, apapun jenis pekerjaan itu harus didedikasikan secara tulus dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa semata.

14.26

māḿ ca yo ‘vyabhicāreṇa

bhakti-yogena sevate

sa guṇān samatītyaitān

brahma-bhūyāya kalpate

 

Seseorang yang mengabdi kepadaKu dengan dedikasi yang tanpa pamrih, melampaui semua sifat-sifat alami ini dan bersatu dengan Sang Brahman.

Penjelasan: Apakah caranya agar seseorang dapat melampaui ketiga guna ini dan bersatu dengan Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi. Caranya: (a) pengabdian yang terus menerus tanpa henti dan tanpa pamrih, dan (b) mengabdi kepadaNya dengan cinta kasih yang tulus. Dalam cinta-kasih terhadapNya yang tulus ini dan tanpa henti ini maka secara lambat-laun ia akan menyatu dengan yang dikasihiNya, dan ia sendiri berubah menjadi nol untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi Satu dengan Yang Maha

Esa. Ini disebut Atma-Svarupa, yaitu menyatu dengan Sang Krishna dan bersatu dengan Yang Maha Esa. 0m Tat Sat.

14.27

brahmaṇo hi pratiṣṭhāham

amṛtasyāvyayāsya ca

śāśvatasya ca dharmasya

sukhasyaikāntikasya ca

 

Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi yang tak ada habis-habisnya. Akulah fondasi dari kebenaran yang abadi dan sumber dari keberkahan yang tak ada akhirnya.

Penjelasan: Mengasihi atau mencintai Sang Krishna adalah upaya untuk menyatu dengan Sang Brahman, karena Sang Krishna dan Sang Brahman adalah Satu. Krishna itu Brahman, dan Brahman itu Krisha. Sang Krishna adalah sumber dari (a) keabadian dan (b) Hukum Dharma (Hukum Kebenaran) yang Abadi dan (c) berkah yang tak ada duanya dan tak kunjung berakhir -keberkahan yang absolut. Sekali lagi Sang Krishna menegaskan bahwa Ia lah Sang Brahman yang menitis menjadi Krishna (manusia utama) karena kasihNya kepada para pemujaNya. Sang Krishna adalah manifestasi dari Sang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Agung dan Suci. 0m Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, Bab ini adalah yang keempat-belas dan disebut:

Guna Traya Vlbhaga Yoga

atau

Yoga mengenai Perbedaan Ketiga Sifat Alam

Bhagavad Gita Bab XIII

Bab XIII
Falsafah Kehidupan

Arjuna uvāca

prakṛtiḿ puruṣaḿ caiva

kṣetraḿ kṣetra-jñam eva ca

etad veditum icchāmi

jñānaḿ jñeyaḿ ca keśava

 

Berkatalah Arjuna

Oh Krishna. daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk diketahui.

Sloka di atas ini tak bernomor, dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.

Berkatalah Yang Maha Pengasih:

13.1

śrī-bhagavān uvāca

idaḿ śarīraḿ kaunteya

kṣetram ity abhidhīyate

etad yo vetti taḿ prāhuḥ

kṣetra-jña iti tad-vidaḥ

 

Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang. Seseorang yang sadar (tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini, oleh mereka yang mengetahuinya (para resi).

13.2
śrī-bhagavān uvāca

idaḿ śarīraḿ kaunteya

kṣetram ity abhidhīyate

etad yo vetti taḿ prāhuḥ

kṣetra-jña iti tad-vidaḥ

Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua ladang-ladang, oh Arjuna ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang mengetahuinya -adalah ilmu pengetahuan yang Ku anggap sebagai ilmu pengetahuan yang sejati. ‘

Dalam bab ini Sang Krishna menerangkan tentang filsafat (falsafah) kehidupan ini; ibaratnya menilai suatu kehidupan di atas batu-karang yang kering dan gersang, maka setiap manusia sebenarnya memerlukan suatu filsafat-kehidupan (suatu pegangan) agar kehidupan dapat dijalaninya dengan sempurna. Dan untuk itu, pertama-tama amat penting untuk menyadari atau memahami dua sifat dominan -manusia dan alam semesta kedua sifat ini disebut Prakriti dan Purusha. Prakriti adalah benda atau raga, dan diibaratkan sebagai ladang (kshetran), dan Purusha adalah Sang Jiwa yang disebut dan dikenal sebagai Yang mengetahui tentang ladang ini (Kshetragna).

Bahkan dalam Injil pun Yesus Kristus pun sering menyebut tentang ladang dan Penabur benih dalam parabel-parabelnya. Jadi bukan saja hal ini disiratkan dalam agama Hindu saja tetapi dapat juga dilihat dan dihayati dalam agama-agama lainnya. Di sini dapat dikatakan bahwa yang disebut ladang adalah raga kita sendiri dan Sang Penabur Benih adalah Sang Krishna, Yang Maha Mengetahui ladang ini, la bersemayam di dalam diri kita. Dan yang disebutkan sebagai benih di sini adalah kebijaksanaan (gnanam), yang selalu ditaburkan olehNya untuk kita semua agar sadar dan kembali ke jalanNya. Sang Krishna di sini berbicara tentang ladang, tentang yang mengenal ladang dan tentang ilmu pengetahuan dalam bentuk kebijaksanaan,

Prakriti adalah ladang: di dalamnya setiap benda dan mahluk tumbuh dan berkembang, lalu layu dan akhirnya binasa, dan hidup dan tumbuh baru lagi. Prakriti adalah suatu bentuk aktivitas. Di dalam Prakriti dituai buah atau hasil dari setiap tindakan dan perbuatan kita -ibarat sebuah ladang saja. Fungsi Prakriti adalah aktivitas tanpa dilandasi oleh kesadaran sejati.

Gnanam (kebijaksanaan) adalah benih yang ditabur dan dituai dari ladang ini; kebijaksanaan ini adalah ilmu pengetahuan tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui atau Yang Mengenal ladang ini. Di alam semesta ini apapun yang kita lihat adalah gabungan atau kombinasi dari Purusha dan Prakriti, antara Sang Jiwa dan benda, antara roh dan raga. Sang Jiwa, Sang Purusha adalah Kshetragna (Yang Mengetahui Ladang) dan Yang Mengetahui adalah Sang Krishna, yang dengan kata lain adalah Yang Maha Esa itu Sendiri.

13.3

kṣetra-jñaḿ cāpi māḿ viddhi

sarva-kṣetreṣu bhārata

kṣetra-kṣetrajñayor jñānaḿ

yat taj jñānaḿ mataḿ mama

Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan apakah sifatnya, apakah modifikasi-modiflkasinya, bilakah Ia (ada), apakah Ia (Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah kekuatan-kekuatanNya?

 

13.4

tat kṣetraḿ yac ca yādṛk ca

yad-vikāri yataś ca yat

sa ca yo yat-prabhāvaś ca

tat samāsena me śṛṇu


Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan berbagai mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra -disabdakan dengan penuh alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang Maha Abadi.

Penjelasan: Ajaran mengenai ladang dan yang mengetahui ladang ini, bukan ajaran baru. tetapi sudah muncul dalam pustaka-pustaka dan ajaran-ajaran Hindu kuno, dan sudah dikenal oleh orang-orang yang mempelajarinya di zaman dahulu.

13.5

ṛṣibhir bahudhā gītaḿ

chandobhir vividhaiḥ pṛthak

brahma-sūtra-padaiś caiva

hetumadbhir viniścitaiḥ

 

 Lima elemen kasar, dan rasa “ke-aku-an,” juga pengertian akan yang tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima indra yang utama,

13.6

mahā-bhūtāny ahańkāro

buddhir avyaktam eva ca

indriyāṇi daśaikaḿ ca

pañca cendriya-gocarāḥ

 

 Keinginan (nafsu) dan rasa~benci, kenikmatan dan penderitaan. bentuk kolektif, intelegensia, keteguhan semua ini, secara terperinci diterangkan. sebagai yang mencakup ladang ini dan moditikasi-modiflkasinya.

Penjelasan: Kshetra (atau ladang) ini terdiri dari 24 prinsip, yaitu:

  1. Avyakta yang tak berbentuk. Ini adalah Sang Maya (Ilusi-llahi). di mana semua akan terserap sewaktu terjadi pralaya atau kiamat.
  2. Ahankara –rasa ego, rasa ego yang didasarkan kepada pengalaman pengalaman pribadi, pada personalitas, pada diri-pribadi, merupakan kesadaran dari dan untuk diri pribadi saja.
  3. Buddhi -alasan-alasan, pemahaman, pengertian yang membedakan antara yang benar dan salah, intuisi, kekuatan untuk langsung mengetahui sesuatu. 4. Mana sering disebut juga sebagai ekam atau satu;

(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut (wicara), anus dan penis (kemaluan).

(15-19) Kemudian yang disebut lima indra yang penting (indriyah-gocharah) adalah sparsha (sentuhan), rasa (merasakan), rupa (pengetahuan), gandha (penciuman) dan shabda (suara).

(20-24) Lima elemen kasar (mahabhuta) adalah bhum (tanah), apa (air) anala (api), vayu (udara) dan khan (ether).

Kshetra atau ladang ini mempunyai lima vikara, yaitu bentuk atau transformasi, atau bisa disebut juga penggantian atau modifikasi, dan sebagainya. Yang masing-masing adalah:

  1. iccha dan dvesha -yaitu keinginan dan aversi (rasa dualisme yang saling bertentangan seperti suka-tak suka, panas-dingin, benci-sayang, dan lain sebagainya);
  2. sukham dan dukham – yaitu kenikmatan dan penderitaan;
  3. sanghata -yaitu bentuk kolektif tubuh atau raga;
  4. chetana -yaitu kesadaran, intelegensia, pikiran dan pengetahuan;
  5. dhriti -yaitu keteguhan, ketegaran dan tekad yang kuat.

Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat bersemayam Sang Atman ini. Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang gelombang dan pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman) tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para Avatara, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti Sang Krishna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang Maya ini.

13.7

icchā dveṣaḥ sukhaḿ duḥkhaḿ

sańghātaś cetanā dhṛtiḥ

etat kṣetraḿ samāsena

sa-vikāram udāhṛtam

 

Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti mahluk lainnya kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan kendali diri,

13.8

amānitvām adambhitvām

ahiḿsā kṣāntir ārjavam

ācāryopāsanaḿ śaucaḿ

sthairyam ātma-vinigrahaḥ

 

Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang berhubungan dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan sifat-sifat buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.

13.9

indriyārtheṣu vairāgyam

anahańkāra eva ca

janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-

duḥkha-doṣānudarśanam

 

Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan putraputrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama rata secara konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.

 

13.10

asaktir anabhiṣvańgaḥ

putra-dāra-gṛhādiṣu

nityaḿ ca sama-cittatvām

iṣṭāniṣṭopapattiṣu

Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak berkeinginan untuk berkumpul secara duniawi.

13.11

mayi cānanya-yogena

bhaktir avyabhicāriṇī

vivikta-deśa-sevitvām

aratir jana-saḿsadi

 

Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang Atman. intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran , inilah yang disebut kebijaksanaan. .Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah kebodohan (tak-berpengetahuan).

Penjelasan: Pelajaran atau jalan kebijaksanaan dipaparkan dengan baik dan terperinci oleh Sang Krishna di atas. Semuanya berjumlah 20 karakter atau sifat, dan kedua’ puluh sifat ini adalah akar atau fondasi dari kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang kepada Yang Maha Esa, ke ilmu pengetahuan sejati tentangNya. Kebijaksanaan ini kalau dipelajari dengan seksama adalah indikasi dari sifat sifat moral yang amat super atau prima, yang menjadi dasar dan tindakan-tindakan kita yang baik dan benar, yang lepas dari rasa duniawi. dan rasa memiliki. dan nafsu-nafsu dan malahan menjadi dasar yang kokoh dan benar dari setiap tindakan kita dan mendorong kita untuk lebih banyak melihat kc dalam diri kita sendiri. Kedua-puluh sifat ini menunj ukkan arah seseorang kepadaNya tanpa pamrih dan penuh dedikasi dan kebenaran bagiNya semata.

13.12

adhyātma-jñāna-nityatvaḿ

tattva-jñānārtha-darśanam

etaj jñānam iti proktām

ajñānaḿ yad ato ‘nyathā

 

Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang setelah diketahui, maka tercapailah keabadian -Sang Brahman, Yang Tak bermula, Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat disebut Asat (Tldak Berbentuk).

Penjelasan: Yang mengetahui ladang ini disebut Kshetragna, Ialah Yang Maha Suci dan Agung Para Brahman. Ia tak dapat dikwalifikasikan karena Yang Maha Esa ini di luar kwalifikasi yang dibuat manusia, seyogyanyalah Ia lalu disebut sat dan asat (berbentuk dan tidak berbentuk). Ia diluar kedua faktor ini dan Maha Agung dan Suci Ia. Ia hadir dan ada tetapi pada saat yang bersamaan Ia pun tak hadir dan tak ada atau tak terlihat. Yang Maha Esa tak dapat dikwalifikasikan atau digambarkan karena dengan begitu malahan membatasiNya, dan tak mungkin Ia dapat dibatasi karena Maha TakTerbatas Yang Maha Esa ini.

13.13

jñeyaḿ yat tat pravakṣyāmi

yaj jñātvāmṛtam aśnute

anādi mat-paraḿ brahma

na sat tan nāsad ucyate

 

Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki, di mana pun la bermata, berkepala dan bermulut. la mendengar di setiap tempat, dan la tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.

13.14

sarvataḥ pāṇi-pādaḿ tat

sarvato ‘kṣi-śiro-mukham

sarvataḥ śrutimal loke

sarvam āvṛtya tiṣṭhati

 

la bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini. la tak terikat, tetapi la Iah penunjang semuanya. la bebas dari segala kwalitas (Nirgunam), tetapi la juga yang menikmati semua kwalitas.

Penjelasan: Sang Brahman ada tapi tak ada. Ia hadir dalam Prakriti tetapi tak terlihat oleh kita. Ia sukar menemukan istilah yang tepat tentang Yang Maha Esa ini dan Ia hanya dapat dijelaskan secara minim dalam paradoks-paradoks saja. Ia hadir dalam setiap hal, sifat, bentuk atau aksi, tetapi tak pemah terlibat secara langsung.

13.15

sarvendriya-guṇābhāsaḿ

sarvendriya-vivarjitam

asaktaḿ sarva-bhṛc caiva

nirguṇaḿ guṇa-bhoktṛ ca

Di luar dan di dalam semua mahluk la hadir dan juga bergerak. Terlalu sukar untuk dipersepsikan la ini. la dekat tetapi juga la amat jauh.

Penjelasan : Benar kata filsuf Meister Eckhart, “Semakin dalam Tuhan di dalam diri SeSuatu, semakin di luar Ia berada dari sesuatu tersebut.” Ia bergerak tetapi tanpa gerak, Ia dekat tapi jauh. Ia tak dapat diterangkan tetapi Ia dapat dirasakan kehadiranNya ditengah-tengah kita.

13.16

bahir antaś ca bhūtānām

acaraḿ caram eva ca

sūkṣmatvāt tad avijñeyaḿ

dūra-sthaḿ cāntike ca tat

 

Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam mahluk-mahluk, tetapi la bersemayam secara sama rata (di dalam diri mahluk-mahluk seakan-akan terpisah~ pisah). la penunjang semua mahluk dan benda. la pemusnah kehidupan, tetapi Ia juga pemberi kehidupan.

Penjelasan : Di atas sudah cukup tergambar atau terbayang atau terasa dan terlihat oleh kita akan semua kebesaranNya., sebagai pemusnah sekaligus pemberi kehidupan, sebagai yang tak ada di dalam setiap yang ada, sebagai yang beraksi dalam setiap tak-aksi, atau pun sebaliknya.

13.17

avibhaktaḿ ca bhūteṣu

vibhaktam iva ca sthitam

bhūta-bhartṛ ca taj jñeyaḿ

grasiṣṇu prabhaviṣṇu ca

 

Ia adalah Cahaya dari semua cahaya. la yang dikatakan sebagai di luar kegelapan. la adalah kebijaksanaan. tujuan dan kebijaksanaa yang dicapai dengan kebijaksanaan. la bersemayam di dalam hati semuanya.

Penjelasan : Salah satu sifatNya adalah Cahaya atau Nur, Sang Surya Yang Eka, tetapi bersinar dalam hati setiap insan dan mahluk. Ia juga adalah ilmu pengetahuan yang sejati, sekaligus obyek dan tujuan ilmu pengetahuan sejati tersebut. Para pencariNya melakukan perjalanan spiritual guna mencariNya, justru dari luar ke dalam diri mereka sendiri karena Ia bersemayam dalam diri setiap insan dan mahluk ciptaanNya. Ia hadir di mana-mana, tangan-tangan dan kakinya tersebar disetiap sudut dan penjuru dunia. Ia adalah satu-satuNya yang berada di kegelapan. karena Ia lah Cahaya dari semua cahaya.

13.18

jyotiṣām api taj jyotis

tamasaḥ param ucyate

jñānaḿ jñeyaḿ jñāna-gamyaḿ

hṛdi sarvasya viṣṭhitam

Begitulah telahKu katakan kepadamu, secara singkat dan terperinci, tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu pengetahuan ini. PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.

Penjelasan: Tiga hal yang penting untuk diketahui, yaitu ladang (kshetra); ilmu pengetahuan (gnana), yang dimaksud ini bukan ilmu pengetahuan yang ilmiah, tetapi justru yang gaib dan dianggap sejati; obyek dari ilmu pengetahuan ini (gneya). Mengenal, mengetahui atau menghayati ketiga prinsip ini dalam kehidupan kita sehari-hari berarti mcncapai Yang Maha Esa, Yang Agung dan Suci lepas dari segala penderitaan. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan ini akan mencapai cinta-kasih (bhakti). Yang Maha Esa dapat dicapai oleh mereka yang sederhana, rendah-hati dan penuh kasih, yang telah memurnikan jiwa dan hatinya. Yang ingin mengenalNya dengan baik harus belajar terlebih dahulu untuk mencintai semuanya, sadar bahwa semua orang dan mahluk dan benda adalah alat-alatNya belaka yang harus memainkan peranannya masing-masing di kehidupan ini. Setelah sadar akan hakikat cinta-kasih yang sejati maka orang ini akan meningkat untuk ‘bercinta-kasih denganNya.” Hidup ini lalu berubah penuh dengan cinta-kasihNya. Hidup tidak seharusnya dihitung dari tahun-ke-tahun atau hari-ke-hari, tetapi dari dalamnya cinta-kasih kita terhadapNya dan terhadap semua ciptaan-ciptaanNya. Bagaimana seseorang yang suci-murni dapat merusak atau mencederai ciptaan-ciptaanNya yang lain, sekiranya Ia betul-betul telah murni cinta-kasihnya pada Yang Maha Esa?

Seorang mistik bernama Bayazid sekali masa pernah ditanya umurnya, dan ia menjawab baru berusia empat tahun. Padahal usianya telah mencapai 74 tahun. Tentu saja para penanya menjadi heran karenanya. Tetapi Bayazid dengan rendah hati menerangkan bahwa selama 70 tahun ia jauh dari Tuhan, dan dekat dengan dunia. Baru empat tahun terakhir ini ia merasakan dekat kepadaNya dan merasakan kasih-sayangNya yang tak terhingga, mendengarkanNya Yang tak pernah didengarNya sebelum ini, merasakanNya Yang tak pernah tersentuh olehNya selama ini. “Jadi baru empat tahun ini aku betul-betul hidup!” seru Bayazid.

13.19

iti kṣetraḿ tathā jñānaḿ

jñeyaḿ coktaḿ samāsataḥ

mad-bhakta etad vijñāya

mad-bhāvāyopapadyate

 

Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha (sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula. Dan ketahuilah bahwa semua modifikasi dan guna (kwalitas) lahir dariNya.

Penjelasan: Prakriti dan Purusha tak bermula dan sudah hadir sebelum penciptaan dunia. Tetapi semua pergantian, modifikasi dan sifat-sifat alam ini berasal dari Prakriti, yang lahir dariNya.

13.20

prakṛtiḿ puruṣaḿ caiva

viddhy anādī ubhāv api

vikārāḿś ca guṇāḿś caiva

viddhi prakṛti-sambhavān

 

Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari pengalaman suka dan duka.

13.21

kārya-kāraṇa-kartṛtve

hetuḥ prakṛtir ucyate

puruṣaḥ sukha-duḥkhānāḿ

bhoktṛtve hetur ucyate

.

Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi kwalitas-kwalitas (guna) yang lahir dari benda. Keterikatannya terhadap guna inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.

Penjelasan : Kita lihat sekarang dalam sloka 19 – 23 tersirat adanya pemikiran baru yang terbagi pada tiga prinsip, yaitu Prakriti-Benda-Alam, Purusha-Jiwa-Roh dan Purusha-Parah, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci.

Purusha dan Prakriti, kedua-duanya bersifat anadi (yaitu tanpa mula) dan terPancar atau berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Esa, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Sang Purusha, atau Jiwa yang telah tergabung dan bersatu dengan Sang Prakriti, menikmati semua pengalaman-pengalaman duniawi seperti suka-duka dan lain sebagainya. Karena Jiwa bebas berkehendak maka ia sudah menyalah-gunakan kehadirannya dalam raga dan ia hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi ini dan terjebak oleh ikatan waktu dan ruang. Jiwa sebenarnya adalah bentuk spiritual tetapi ia diberikan kebebasan untuk menuju kepada Yang Maha Esa. Ia dapat memberikan kasih dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa atau kepada Sang Maya (Sang Ilusi-Ilahi). Sekali ia menjadi budak Sang Maya ia akan bertolak-belakang dari Yang Maha Esa. Dan sekali ia terjebak dalam ilusi ini, maka ia akan timbul-tenggelam di dalamnya, terjebak dalam ikatan waktu dan spasi duniawi ini.

13.22

puruṣaḥ prakṛti-stho hi

bhuńkte prakṛti-jān guṇān

kāraṇaḿ guṇa-sańgo ‘sya

sad-asad-yoni-janmasu

Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia) bersemayam Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci. la disebut sebagai Pengamat, Yang Mengabulkan. Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang Agung, dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.

Penjelasan: Dalam raga setiap mahluk terdapat Sang Jati Diri (Sang Atman) Yang dikenal atau disebut juga sebagai Purusha Parah, Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci. Ia lah sebenarnya Tuhan yang Maha Esa dan Agung dengan nama dan sebutan yang beraneka-ragam. Yang Maha Esa bersemayam dalam diri kita masing-masing sebagai Pengamat, dari setiap tindakan dan pikiran kita; dari sang Jiwa atau Roh kita. Ia membiarkan tindakan kita untuk kemudian dikoreksi yang salah (teguran hati nurani selalu hadir sebenarnya dalam setiap tindakan kita yang salah, tetapi sering sekali kita mengabaikannya karena faktor-faktor ego duniawi kita). Ia, Yang Maha Kuasa, sebenarnya hadir dalam setiap mahluk.

Seandainya Sang Jiwa atau Roh kita jatuh ke jalan Sang Maya, maka Sang Paratman atau Sahabat Pengamat kita ini pun mengikutinya, menegurnya. menjaganya, memberikan peringatan-peringatan kepada sang Jiwa kita ini, dan tak sekalipun Sang Paratman ini mengabaikannya, Ia bahkan menuntun sang Jiwa ini kembali ke jalannya yang benar. Dengan caraNya Sendiri Sang Paratman ini mengajari, mempengaruhi dan mengajak sang Jiwa yang tersesat ini kembali ke arahNya. Maha Besar dan Pengasih, Ia sebenarnya, karena selalu menyelamatkan kita semua dari jalan kesesatan dalam hidup ini, agar tercapai misi kita yang seharusnya kita lakukan, yaitu bersatu kembali denganNya. Sang Paratman adalah “bintang-harapan” kita yang akan selalu menuntun kita dalam kegelapan duniawi ini, sehingga akhirnya tak ada satu jiwa pun yang akan tersesat. semuanya akan dituntun ke arahNya. Sebenarnya Ia adalah tujuan kita semuanya, kalau saja kita mau menyadari hal ini secara sejati.

13.23

upadraṣṭānumantā ca

bhartā bhoktā maheśvaraḥ

paramātmeti cāpy ukto

dehe ‘smin puruṣaḥ paraḥ

 

Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan Prakriti  dengan segala kwalitas-kwalitasnya, apapun keadaannya ia tak akan lahir kembali.

Penjelasan: Seseorang yang sadar tentang pengetahuan Purusha dan Prakriti ini dengan ketiga guna (sifat atau kwalitas) nya, akan menuju ke arah pembebasan, yaitu lepas dari dunia ini dan bersatu denganNya. Seseorang yang benar-benar sadar siapa Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci ini betul-betul adalah scorang yang telah bebas.

13.24

ya evaḿ vetti puruṣaḿ

prakṛtiḿ ca guṇaiḥ saha

sarvathā vartamāno ‘pi

na sa bhūyo ‘bhijāyate

 

Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui Yoga perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)

13.25

dhyānenātmani paśyanti

kecid ātmānam ātmanā

anye sāńkhyena yogena

karma-yogena cāpare

Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja, karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun lepas dari kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).

Penjelasan: Ada empat metode yang menuntun kita ke arah Yang Maha Esa, atau yang disebut juga Purusha Yang Maha Agung dan Suci dan juga boleh disebut Kebebasan atau Penerangan. Masing-masing metode terurai di bawah ini:

  1. Meditasi (dhyana) -Banyak yang melakukan metode ini, dan menemukan Sang Jati Diri di dalam dirinya sendiri. Dengan bermeditasi kita mencoba untuk berhubungan dengan Sang Atman secara konstan dan penuh konsentasi, dengan menjauhkan segala gangguan. Yang penting dalam meditasi adalah ketenangan, dan makin kita tenang dan tak terusik oleh pikiran dan keadaan keadaan di sekitar kita, maka makin mendekatlah kita kepadaNya. Berbicara tanpa henti malahan membuang-buang energi. Sebaliknya ketenangan dalam meditasi menjauhkan kita dari hal-hal yang buruk dan kesalahan-kesalahan duniawi. Sebaiknya dan seharusnya setiap hari kita menyediakan sedikit waktu kita untuk berdiam diri dan menyatu denganNya. Dapat kita mulai dengan lima menit saja dahulu, kemudian meningkat sampai setengah atau satu jam secara bertahap. Janganlah jadi budak dari pekerjaan-pekerjaan kita, dari kenikmatan dan penderitaan kita, dan dari kesibukan kita yang tak kunjung ada habisnya. Sisihkanlah sejenak waktu setiap pagi dan malam untukNya, dan dapatkanlah kenikmatan yang tak dapat diperoleh di semua kesibukan, kenikmatan dan penderitaan duniawi kita. Sekali tercapai komunikasi denganNya, kita akan mengalami keajaiban-keajaiban yang akan mengubah cara hidup kita, dan makin tabah dan tegarlah kita dalam menghadapi kehidupan yang unik ini. Ketenangan yang utama adalah dengan memulainya dalam kehidupan dan diri kita sendiri, dan jalan terbaik adalah dengan berlatih meditasi dan selalu berusaha untuk bersatu denganNya, Yang sebenarnya bersemayam tidak jauh, tetapi dalam diri kita masing-masing, agar tercapai jalan kehidupan yang suci dan sempurna.

Ada yang perlu dilakukan dalam bermeditasi, yaitu mengucapkan japa secara berulang-ulang. Japa atau mantra ini dapat bermacam-macam sesuai yang diberikan oleh sang guru meditasi, tetapi semakin pendek japa ini, semakin efektif hasilnya. Misalnya satu kata OM atau Tuhan atau Allah atau Hari atau Rama atau Krishna atau Yesus, dan lain sebagainya yang sebaiknya Dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati .sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati nurani dan panggilan jiwa kita sendiri. Pilihlah atau temukanlah sendiri satu kata atau beberapa kalimat puja-puji yang menggambarkan kebesaran Yang Maha Esa, dan sewaktu bermeditasi ucapkanlah berulang ulang penuh konsentrasi, dedikasi dan kasih. Lama-kelamaan kata yang spesifik tersebut atau juga japa dan mantra yang telah teringat itu akan terus mengiang atau terucap dalam kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari, bahkan di tengah-tengah kesibukan atau sedang berolah-raga misalnya. Kalau ada problem yang datang mengganggu ucapkan kata sakti tersebut, memohon Yang Maha Esa untuk melindungi kita semua, dan usahakanlah untuk menyatu denganNya selalu di mana saja dan kapan saja dan lama-kelamaan perhatikanlah efeknya. Seluruh hidup kita akan berubah menjadi lebih stabil dan tenang, dan kita jauh dari segala gejolak nafsu kita dan juga jauh faktorfaktor buruk dan negatif, secara bertahap tetapi pasti hidup akan bertambah tenang, stabil dan kesadaran akan menyusup masuk ke dalam diri kita berkat kasihNya yang tak terbatas.

Bagi sementara orang atau para pemula, bermeditasi dengan membayangkan atau memusatkan pikiran pada suatu bentuk juga sangat bermanfaat; contoh, membayangkan wajah atau figur Sang Krishna, Rama, Shiva, Buddha untuk mereka yang beragama Hindu dan Buddha. Dan untuk mereka yang beriman Kristiani dengan membayangkan figur Tuhan Yesus. dan lain sebagainya sesuai dengan masing-masing kepercayaannya.

  1. Metode Sankhya – metode dengan dasar intelektual atau ilmu pengetahuan yang mcncoba atau mempelajari tentang Sang Jati Diri, sebagai sebagian dari Yang Maha Esa.
  2. Karma-yoga – yaitu metode kerja atau tekad tanpa pamrih dan penuh dengan pengorbanan dan disiplin bagiNya semata. Sang karma-yogi dalam hal ini melakukan semua perbuatan, tugas dan pekerjaan duniawinya dalam bentuk dedikasinya kepada Yang Maha Esa dan tak mengharapkan apapun juga dari hasil pekerjaannya ini, yang semuanya diserahkan secara utuh dan bulat-bulat kembali kepadaNya. Hidup sang karma yogi jadi suci dan bersih karena setiap tindakan dan efeknya dipasrahkan kepada Yang Maha Esa dan ia selalu berpikir dan berkata terjadilah kehendakNya” dan ia pun menerima semua kehendakNya tanpa protes dan penuh ketenangan, walaupun yang ia terima itu dalam bentuk suka dan duka, nikmat atau penderitaan, baik atau buruk, positif atau negatif, semuanya diterima dengan kasih dan dedikasi sebagai kehendak Yang Maha Kuasa juga. Hidupnya adalah pencetusan dari kehendak Yang Maha Kuasa, dan diterimanya tanpa pamrih.
  3. Metode upasna – dalam metode ini seseorang memuja Yang Maha Esa sesuai dengan yang dipelajarinya atau yang didengarkannya dari sang guru atau orang orang lain. Cara ini dilakukan oleh para pemula. Dan lama-kelamaan mereka pun terangkat ke permukaan pemujaan mereka dan mendapatkan penerangan Ilahi.

Ternyata Yang Maha Pengasih secara amat bebas membuka berbagai jalan untuk mencapaiNya, jalan atau metode apa saja yang diambil seseorang, yang penting adalah dedikasi-, kesetiaan, dan kasih yang tulus kepadaNya, dan Ia akan selalu beserta kita menuntun kita ke jalanNya yang terang dan suci.

13.26

anye tv evam ajānantaḥ

śrutvānyebhya upāsate

te ‘pi cātitaranty eva

mṛtyuḿ śruti-parāyaṇāḥ

 

Benda atau mahluk apapun yang dilahirkan, oh Arjuna, baik ia bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu datang dari gabungan antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini;

Penjelasan: Setiap benda atau makhluk, atau apapun saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dialam semesta ini tercipta karena gabungan atau kombinsai dari Kshetra (ladang) dan Kshetragna (Sang Pengenal Ladang), gabungan dari Purusha dan Prakriti, dari Sang Jiwa dan benda atau alam dan sifat-sifatnya

13.27

yāvat sañjāyate kiñcit

sattvaḿ sthāvara-jańgamam

kṣetra-kṣetrajña-saḿyogāt

tad viddhi Bhārata rṣabha

 

 Seseorang yang melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Suci bersemayam secara sama disetiap benda dan mahluk, Yang Maha Tak Terbinasakan dalam setiap benda atau mahluk yang dapat binasa ia benar-benar melihat.

Penjelasan: Yang Maha Esa bersemayam dalam setiap bentuk ciptaannya secara adil sama rata, jadi lupakanlah pandangan atau rasa yang penuh diskriminasi atau yang merendahkan martabat orang lain atau sifat melecehkan mahluk lain. Diskriminasi akan kasta atau orang-orang yang dianggap berdosa dan buruk harus dijauhi, ingat Yang Maha Kuasa hadir dalam semuanya tanpa diskriminasi! Ia hadir di setiap sisi dan sudut alam semesta ini dalam berbagai ciptaan-ciptaanNya. Jangan sekali-kali memandang tinggi kasta kita, kedudukan atau pun martabat dan kekayaan kita,

apalagi kemampuan kita berbuat sesuatu, karena semua itu sebenarnya tidak berarti sama-sekali di mataNya. Yang berarti hanyalah Ia dan kehadiranNya di mana saja, baik yang di kecil maupun yang di besar. Siapakah kita ini sebenarnya yang hanya bisa membeda-bedakan saja, yang hanya bisa melihat baik dan buruk seseorang tanpa mau tahu akan hakikat dari kebenaran kehidupan ini. Mengetahui kehadiran Yang Maha Esa di setiap ciptaanNya berarti menghilangkan rasa takut, benci, diskriminasi, iri-hati pada sesama kita, dan sebaliknya kemudian menimbulkan kasih-sayang kepada sesama kita baik itu berupa manusia, mahluk mahluk di alam semesta ini, pepohonan, batu-batuan dan semua unsur-unsur alam di sekeliling kita.

Ia Yang Maha Kuasa adalah Yang Tak Terbinasakan tetapi Ia hadir dalam setiap ciptaan-ciptaanNya yang tak pernah abadi, yang selalu binasa dan lahir lagi. Ini mengingatkan kita kepada dialog antara St. Catherine dar Sienna dalam komuninya dengan YESUS Kristus. Ia bertanya kepada Tuhan Yesus, “Siapakah daku, Tuhan? Dan beritahu daku Siapakah Engkau?” Dan Yesus menjawabnya; “PutriKu, engkau adalah yang tiada dan Aku adalah yang Ada.” Yang Ada ini selalu hidup dalam yang tiada, yaitu kita semuanya ini, dan sadarlah akan sesuatu hal, mengapa Yang Ada ini mau dan bersedia tinggal dalam diri-diri kita ini, yang sering oleh kita sendiri dianggap sebagai tubuh-tubuh atau raga-raga yang penuh dengan dosa-dosa dan nafsu-nafsu iblis? Betulkah semua perkiraan kita ini? Ataukah pernah terpikir oleh kita semua, bahwa Yang Maha Esa menciptakan raga ini sebagai suatu tempat bersemayam yang sifatnya agung dan suci, kalau tidak mengapa pula Ia (Sang Atman) mau bersemayam di dalam diri setiap mahluk mahlukNya?

Lihatlah sisi lain dari alam semesta dan ciptaan-ciptaanNya ini, bukankah semua ini adalah refleksi atau cermin dariNya semata, dari keindahanNya, dari kesucian dan keagunganNya. Dan kalau anda setuju akan konsep ini, maka bernyanyilah, memujalah, berbahagialah dalam DiriNya. Ia hadir dalam diri kita dan kita ada dalam DiriNya, seharusnyalah kita berorientasi kepadaNya

dan jangan mempergunakan kebebasanNya secara salah dan kemudian terseret dan terjebak oleh Sang Maya. Satukan diri kita dengan alur Ilahi Yang Murni dan Suci. bergembiralah kepadaNya. Ingat kita ini adalah kuil kuil suci tempat Ia bérsemayam, dan seharusnya kita bertindak suci dan murni. Renungkanlah pemikiran ini, 0m Tat Sat.

13.28

samaḿ sarveṣu bhūteṣu

tiṣṭhantaḿ parameśvaram

vinaśyatsv avinaśyantaḿ

yaḥ paśyati sa paśyati

 

Melihat, secara benar, Tuhan Yang Sama hadir di mana pun juga. seseorang tak akan merusak Diri ini dengan dirinya, dan dengan berbuat demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.

Penjelasan : Seperti kita ketahui sekarang, maka di dalam setiap mahluk yang bernyawa hadir bentuk “diri” yang rendah dan kecil sifatnya, dan juga bentuk “Diri” Yang Agung dan Tinggi sifatNya, yaitu yang disebut Sang Atman, Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentuk yang bersifat sebagian dariNya juga. Menyadari hal ini, seseorang tak akan membiarkan jiwa-raganya membunuh atau mengotori dan menodai DiriNya Yang Agung dan Suci yang bersemayam di dalam jiwa-raga itu sendiri, dan kesadaran semacam ini akan menuntun kita ke arah Yang Maha Esa atau dengan kata lain ke Tujuan Yang Suci dan Agung.

13.29

samaḿ paśyan hi sarvatra

samavasthitam īśvaram

na hinasty ātmanātmānaḿ

tato yāti parāḿ gatim

 

Seseorang yang melihat bahwa semua perbuatan dilakukan oleh Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak ia melihat secara benar.

Penjelasan: Alam atau Prakritilah yang bertugas untuk bekerja, beraksi atau bertindak dan berbuat, tetapi Sang Atman tak pernah melakukan apapun juga. Ia hadir sebagai saksi, penuntun, pengamat, tetapi ditegaskan Sang Krishna, Sang Atman tidak berbuat suatu tindakan apapun juga. Semua perbuatan kita terjadi akibat dari ikatan kita pada guna-guna yang berkaitan dengan Prakriti. Sang Jiwa mengikuti kita terus selama kita mengembara di dunia fana ini sebagai saksi, penuntun dan pengamat kita dan dengan kasihNya melepaskan kita dari ikatan Prakriti ini yang diakibatkan oleh ulah kita sendiri yang terlalu bebas untuk ‘bermain’ dengan Sang Maya.

13.30

prakṛtyaiva ca karmaṇi

kriyamāṇāni sarvaśaḥ

yaḥ paśyati tathātmānam

akartāraḿ sa paśyati

 

 Bila seseorang menyadari bahwa berbagai bentuk kehidupan ini berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar) keluar dari Yang Maha Esa, maka ia mencapai Brahman.

Penjelasan: Menyadari seluruh alam semesta ini berasal dariNya secara sejati, apapun bentuk atau manifestasinya, maka seseorang yang benar-benar sadar secara sejati dan menghayati kesadarannya itu dalam kehidupannya sehari-hari langsung juga akan segera menyadari akan hakikat Yang Maha Esa. Melihat atau menyadari Yang Maha Esa adalah mencapaiNya.

13.31

yadā bhūta-pṛthag-bhāvam

eka-stham anupaśyati

tata eva ca vistāraḿ

brahma sampadyate tadā

Sang Atman Yang Tak Terbinasakan. Yang Agung dan Suci ini, oh Arjuna. tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti). Dan walaupun la bersemayam di dalam raga, tetapi la tak bertindak atau pun terpengaruh oleh tindakan (raga ini).

Penjelasan: Sang Paratman, Yang bersemayam secara Agung dan Suci dalam diri kita ini, dikatakan oleh Sang Krishna sebagai tak bermula, dan tanpa sifat-sifat Pmkriti. Walaupun Ia selalu hadir, la tidak bertindak sedikit pun, dan walaupun Ia hadir di dalam raga kita Ia juga tak tercemar oleh tindakan-tindakan kita yang buruk dan negatif, begitupun ia tak tersentuh oleh perbuatan-perbuatan kita yang baik dan positif. Ia tak terpengaruh sedikit pun oleh kita, sebaliknya makin kotor perbuatan kita maka makin jauhlah kita ini dariNya, dan makin positif tindakan kita, maka makin teranglah Ia hadir ke hadapan kita. Maka ibaratkanlah diri kita sebagai cermin yang bersih, agar refleksi atau bayanganNya tersingkap atau jatuh sccara jelas di raga kita ini. Renungkan ini dengan seksama. Ia jauh kalau kita jauh, Ia dekat kalau kita dekat. Padahal sebenarnya Ia selalu dekat di dalam diri kita.

 

 

 

 

13.32

anāditvān nirguṇatvāt

paramātmāyam avyayāḥ

śarīra-stho ‘pi kaunteya

na karoti na lipyate

 

Bagaikan ether, walau hadir di mana pun juga, tak pernah ternoda, karena bentuknya yang lembut (tak terlihat), begitu pun Sang Atman, walau hadir di raga mana pun, (la) lepas dari segala noda-noda.

Penjelasan: Bagaikan ether yang terdapat di seluruh alam semesta ini dan menjadi penunjang hidup kita yang amat vital, tetapi tak pernah terlihat oleh mata kita karena sifat-sifat alaminya yang demikian lembut, maka begitu juga Sang Atman Yang Maha Hadir di mana saja dan kapan saja dalam setiap ciptaan-ciptaanNya tak pernah nampak oleh mata duniawi kita karena kebodohan dan kekurangan pengetahuan kita, maka singkapkanlah semua kebodohan kita ini agar dapat kita mengenalnya lebih terang lagi, dan masuk menyatu kedalamNya. 0m Tat Sat.

13.33

yathā sarva-gataḿ saukṣmyād

ākāśaḿ nopalipyate

sarvatrāvasthito dehe

tathātmā nopalipyate

 

Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka begitu juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!

Penjelasan: Perumpamaan satu mentari dengan Sang Atman Yang Juga Eka (satu) sifatnya adalah suatu perumpamaan yang menarik, karena Sang Surya walaupun hanya satu yang terlihat dari bumi ini (dunia ini), ternyata mampu menyinari seluruh bumi kita bahkan juga rembulan dan spasi-spasi diantara bumi dan bulan dan juga sekitarnya. Sang Surya dari kejauhan nampak kecil dan amat terang benderang, tetapi sebenamya ia amat jauh letaknya dari bumi kita ini. Begitupun Sang Atman, Ia dekat tapi jauh, Ia jauh tetapi dekat, bahkan sangat dekat dan menerangi kita semua. Dan seperti juga Sang Surya yang menerangi kita tetapi tak tercemar oleh perbuatan kita, maka Sang Atman pun tak pernah tercemar atau temoda oleh perbuatan-perbuatan kita yang buruk atau terpengaruh oleh perbuatan’ perbuatan yang baik.

Suatu saat, Sokratcs, seorang tilsuf terkenal dari Yunani di masa lalu, pernah ditanya oleh salah seorang muridnya tentang ‘kebaikan,’ yang selalu diajarkan Sokrates kepada murid-muridnya, dan Sokrates menunjuk kepada matahari sebagai suatu contoh dari ‘kebaikan’ yang selalu hadir dari masa ke masa, dari waktu ke waktu, tetapi tak pemah tercemar oleh bumi dan manusia. Mungkin pemikiran atau ajaran Sokratcs ini pun baik untuk kita renungkan untuk lebih menghayati akan kebesaran dan kehadiran Sang Atman dalam diri kita. Sang Surya selalu bersinar tanpa bosan-bosannya demi alam yang harus ditunjangnya. Bukankah Yang Maha Esa itu Sendiri bersifat atau berkarakter demikian juga, selalu mengasihi tanpa bosan-bosannya dan tanpa henti-hentinya kepada kita semuanya, walaupun sering sekali kita tersesat dalam perjalanan hidup kita ini. Tetapi Ia Maha Penunjang dan Penuntun kita semuanya. 0m Tat Sat.

13.34

yathā prakāśayaty ekaḥ

kṛtsnaḿ lokam imaḿ raviḥ

kṣetraḿ kṣetrī tathā kṛtsnaḿ

prakāśayati bhārata


Mereka yang melihat perbedaan antara Ladang dan Sang Pengenal Ladang ini. Dengan mata kebijaksanaan. Dan yang sadar bagaimana mahluk-mahluk maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti bebas dari bentuk alam —mereka benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, maka bab ketiga-belas ini disebut:

Kshetra Kshetragna anhaga Yoga.

atau Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Ladang dan Sang Pengenal Ladang.

Bhagavad Gita Bab XII

Bab XII

JALAN DEDIKASI (BHAKTI)

Berkatalah Arjuna

12.1

Arjuna uvāca

evaḿ satata-yuktā ye

bhaktās tvāḿ paryupāsate

ye cāpy akṣaram avyaktaḿ

teṣāḿ ke yoga-vittamāḥ

 

Para pemuja yang selalu harmonis, memujaMu, dan para pemuja lainnya yang memuja Yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Berbentuk di antara mereka ini, yang manakah yang lebih terpelajar dalam ilmu pengetahuannya (dalam yoganya.)

Penjelasan: Pertanyaan ini mungkin telah menggelitik kita selama ini, karena pasti merupakan salah satu pertanyaan di dalam hati sidang para pembaca yang terhormat. Yang manakah yang lebih baik atau sempuma, memuja Sang Krishna dalam bentuk manusiaNya, atau memuja Yang Maha Esa (Para Brahman), Yang Maha Agung dan Abadi, Yang Tak Berbentuk, Yang Maha Hadir dan Yang Tak Terbinasakan. Jalan manakah yang terbaik: berbhakti kepada Sang Krishna atau berkonsentrasi kepada Sang Brahman Yang Tak Terlihat oleh mata duniawi kita?

Dalam pemujaan terhadap Sang Krishna terdapat dua faktor penting, yaitu bhakti dan/atau dedikasi, dan kedua seva atau pekerjaan/pemujaan yang dipersembahkan kepadaNya. Dengan kata lain: bekerja untukNya. Tetapi dalam pemujaan kepada Yang Maha Esa Para Brahman, bhakti atau seva tidaklah dianggap panting, yang penting adalah meditasi secara terus-menerus (berkesinambungan) atau pemfokusan pikiran (mental) yang terus-menerus kepada Yang Maha Esa (kontemplasi). Tentu saja bagi Arjuna di masa itu, dan bagi kita di masa kini, pertanyaan akan timbul, pemujaan yang manakah yang terbaik, sebenarnya bukankah Sang Krishna dan Para Brahman ini sama saja, dua dalam satu, atau satu yang menjadi dua.

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

12.2

śrī-bhagavān uvāca

mayy āveśya mano ye māḿ

nitya-yuktā upāsate

śraddhayā parayopetās

te me yuktatamā matāḥ

Mereka yang memusatkan pikirannya kepadaKu, memujaKu, yang selalu harmonis dan terlapis dengan iman yang tertinggi merekaKu anggap sebagai yogi-yogi yang terbaik.

12.3

ye tv akṣaram anirdeśyam

avyaktaḿ paryupāsate

sarvatra-gam acintyaḿ ca

kūṭa-stham acalaḿ dhruvam

 

Mereka yang memuja Yang Maha Tak Terbinasakan, Yang Tak Terterangkan, Yang Tak Berbentuk. ‘Yang Selalu Hadir. Yang Tak Terpikirkan, Yang Tak Berganti-ganti, Yang Tak Bervariasi, Yang Konstan

12.4

sanniyamyendriya-grāmaḿ

sarvatra sama-buddhayaḥ

te prāpnuvanti mām eva

sarva-bhūta-hite ratāḥ

 

(Mereka yang memuja dengan cara demikian), menahan indra-indranya memandang setiap benda secara sama-rata. bahagia dengan kesentosaan setiap mahluk mereka pun datang padaKu

12.5

kleśo ‘dhikataras teṣām

avyaktāsakta-cetasām

avyaktā hi gatir duḥkhaḿ

dehavadbhir avāpyate

 

Mereka yang pikirannya terpusat kepada Yang Maha Esa (Yang Tak Berbentuk). berusaha secara susah-payah (untuk mencapaiNya); karena jalan ke arah Yang Maha Esa ini sukar bagi mereka yang memiliki raga.

Penjelasan: Sang Krishna mengatakan bahwa kedua bentuk methode dedikasi atau pemujaan di atas adalah benar, tetapi dengan memuja Sang Krishna dalam bentuk manusia itu lebih efisien atau mudah, karena manusia cenderung memilih bentuk yang mudah dimengerti, sedangkan

Yang Maha Esa dalam bentukNya yang tak terlihat dan tak berwujud, tentu saja sukar untuk dihayati dan dijangkau oleh rata~ rata manusia, apa lagi yang masih gemar akan kenikmatan duniawi, tetapi ini tidak berarti lalu tidak ada manusia yang mampu langsung mencapaiNya (Para Brahman). Sebenarnya dalam sejarah agama Hindu terdapat banyak bukti bahwa banyak sekali individu-individu suci yang mampu menjangkauNya (mencapai Yang Maha Esa) dan bersatu denganNya. Bagaimana pun juga setelah tahap pemujaan kepada Sang Krishna maka pemuja ini pada kesempatan berikutnya akan diteruskan kepada Sang Brahman juga. Di sini Sang Krishna bertindak amat demokratis dan fleksibel, Ia memperbolehkan para pemuja untuk memuja dengan jalan apa saja sesuai dengan keinginan kita.

12.6

ye tu sarvāṇi karmaṇi

mayi sannyasya mat-parāḥ

ananyenaiva yogena

māḿ dhyāyanta upāsate

 

Mereka yang mengkonsentrasikan setiap tindakan mereka kepadaKu. memandangKu sebagai Tujuan Yang Agung dan Suci. dan yang dengan dedikasi yang tunggal. memujaKu dan bermeditasi kepadaKu,

12.7

teṣām ahaḿ samuddhartā

mṛtyu-saḿsāra-sāgarāt

bhavāmi na cirāt pārtha

mayy āveśita-cetasām

 

Mereka ini, oh Arjuna. dengan segeraKu selamatkan dari samudra kematian dan kehidupan, mereka yang pikirannya selalu terpusat kepadaKu.

Penjelasan: Di sini terlihat Sang Krishna menganjurkan Arjuna untuk memilih jalan bhakti kepada Sang Krishna, karena sebagai manusia yang memiliki raga, jalan ini lebih cepat dan mudah. Dan dengan jalan ini pun asalkan dedikasinya tak terpecah pecah, maka pasti akan diselamatkan dari dunia yang penuh dengan derita ini

12.8

mayy eva mana ādhatsva

mayi buddhiḿ niveśaya

nivasiṣyasi mayy eva

ata ūrdhvaḿ na saḿśayaḥ

Pusatkan padaKu semata pikiranmu dan letakkan pengertianmu di dalamKu. Dan tanpa ragu lagi sesudah ini dikau akan tinggal denganKu semata.

12.9

atha cittaḿ samādhātuḿ

na śaknoṣi mayi sthirām

abhyāsa-yogena tato

mām icchāptuḿ dhanañjaya

 

TetaDi jika dikau tak mampu secara teguh memusatkan pikiranmu padaKu, sebaiknya dikau berusaha untuk mencapaiKu, oh Arjuna, dengan yoga yang penuh konsentrasi dan usaha yang terus-menerus,

12.10

abhyāse ‘py asamartho ‘si

mat-karma-paramo bhava

mad-artham api karmaṇi

kurvan siddhim avāpsyasi

 

Dan juga sekiranya dikau tak mampu untuk mengusahakan konsentrasi, beritikadlah untuk bertindak demi Aku. Bekerjalah demi Aku. dan dikau akan mencapai kesempurnaan.

12.11

athaitad apy aśakto ‘si

kartuḿ mad-yogam āśritaḥ

sarva-karma-phala-tyāgaḿ

tataḥ kuru yatātmavān

 

Dan sekiranya dikau tak bersemangat untuk bertindak demikian, maka lepaskan hasrat untuk mendapatkan hasil dari tindakan-tindakanmu, carilah perlindungan dan berdedikasilah kepadaKu, dengan cara mengendalikan dirimu.

Penjelasan:

Sang Maha Pemurah Hati, Sang Krishna mulai menerangkan cara-cara atau tahap-tahap dedikasi menuju Sang Krishna, dan semua keterangan ini diberikan dengan cara yang amat demokratis dan tidak mengikat atau memaksa Arjuna atau pun kita semua. Cara-caraNya amat mudah dan dapat disarikan sebagai berikut ini:

  1. Pusatkan pikiran kepadaNya semata dan usahakan agar pengertian kita ada dalam DiriNya (Sang Krishna atau Yang Maha Esa). Konsentrasi pikiran dan daya intelek kita pada Sang Krishna, Yang Maha Esa, secara perlahan, terarah dan pasti, adalah cara yang terbaik. Berkonsentrasi kepadaNya walaupun ditengah-tengah kesibukan pekerjaan kita menandakan makin matangnya kita dan dedikasi kita kepadaNya. Pikiran (mana) dan buddhi (intelek atau pengertian yang benar) kalau digabung dan dipusatkan kepadaNya pasti akan menghasilkan keajaiban-keajaiban atau pengalama pengalaman yang menakjubkan dan tak dapat dipercaya oleh orang lain. Dengan jalan lain semua ini mengajurkan kita untuk bermeditasi atau bersemedi barang sejenak setiap harinya dengan meluangkan sekedar waktu yang khusus untuk dan kepada Sang Krishna, Yang Maha Esa dengan penuh bhakti dan dedikasi, dan kasih yang tulus. ‘
  2. “Dengan ilmu pengetahuan (yoga) yang penuh usaha, cobalah untuk mencapaiKu,” kalau pertama di atas tadi seseorang dianjurkan bermeditasi atau memusatkan pikiran dan inteleknya kepada Sang Krishna, maka pada anjuranNya yang kedua disabdakan kepada mereka yang tidak mampu melakukannya untuk mencoba dengan usaha-usaha untuk mencapaiNya. dan ini disebut abhyasa-yoga (yoga usaha atau disiplin kebebasaan). yang merupakan tahap yang lebih mudah bagi seseorang. Abhyasa atau kebiasaan memujaNya pasti lambat laun akan meningkat menjadi suatu yang teguh, dan kemudian proses ini lambat-laun akan berubah menjadi meditasi pada suatu saat. Untuk menjadi meditasi maka Yang Maha Kuasa pasti akan menunjukkan jalannya waktu saat untuk itu tiba.
  3. “Berkemauanlah bekerja demi Aku,” kalau samadhi atau meditasi belum dapat dilaksanakan maka sebaiknya abhyasa, tetapi kalau yang kedua ini pun masih sukar untuk dilaksanakan, maka cobalah jalan ketiga yang bersifat tahap yang lebih awal lagi dari dua jalan di atas tadi, yaitu kita sebaiknya mencoba bekerja demi Sang Krishna, Yang Maha Esa, dalam setiap tindakan kita. Secara mental kita berusaha untuk menyerahkan semua hasil pekerjaan kita kepadaNya. Apapun yang kita lakukan, apakah itu makan dan minum, tidur, bekerja demi keluarga, kewajiban apapun yang kita lakukan, lakukan demi pemujaan terhadap Yang Maha Esa semata, jadikanlah Ia tujuan atau cita-cita akhir kita semuanya.
  4. “Serahkan atau pasrahkan semua hasil pekerjaanmu kepadaNya,” dan kalau bekerja untukNya masih terasa sukar, maka Sang Krishna dengan amat demokratis dan banyak kompromi, dan dengan kasihNya menganjurkan agar hasil atau efek atau buah dari setiap tindakan, pekerjaan, aksi atau perbuatan kita dipersembahkan kepadaNya. Tidak berlebihan bukan anjuran Yang Maha Pengasih ini? Kita tetap saja bekerja demi keluarga dan kewajiban kita, tetapi semua hasil atau efek dari pekerjaan ini secara mental kita persembahkan kepadaNya, dan terserah kepadaNya apapun hasil pekerjaan itu, karena bukankah semua ini dariNya, untukNya dan olehNya juga! Pasrahkanlah semua nya kepada Yang Maha Esa, dan terjadilah apa yang harus terjadi sesuai dengan kehendakNya semata. Berimanlah kepadaNya selalu, dan semuanya akan berakhir dengan baik sesuai dengan rencana-rencanaNya yang telah diaturNya secara cermat dan terperinci masing-masing untuk setiap individu dan mahluk dan lain sebagainya. Sekali semuanya sudah dipasrahkan dan dipersembahkan kepadaNya, maka semua itu bukan masalah atau kenikmatan kita lagi, tetapi sudah menjadi persoalan Yang Maha Esa kembali, jadi terjadilah apa yang harus terjadi. Yang penting adalah iman kita kepadaNya dalam segala-galanya. Serahkanlah setiap sukses dan kegagalan kita kepadaNya, dan jangan sekali kali meminta atau mengharapkan apapun dariNya kecuali kehendakNya, dan bekerjalah selalu sesuai dengan kewajiban kita. Terimalah semua kehendakNya dengan senang, pasrah, tulus dan jujur dan tanpa pamrih. Berterima-kasihlah untuk semua yang telah diberikanNya kepada kita, apapun itu sifatnya. Sloka sloka berikutnya banyak menyiratkan pemberian dan kasih-sayang Yang Maha Esa kepada kita semua.

12.12

śreyo hi jñānam abhyāsāj

jñānād dhyānaḿ viśiṣyate

dhyānāt karma-phala-tyāgas

tyāgāc chāntir anantaram


Ilmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi yang terus-menerus. Meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan, dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian.

Penjelasan: Secara bertahap sebenarnya Sang Krishna menganjurkan kita meniti jalan ke arah kedamaian dalam hidup ini, yaitu melalui abhyasa (usaha dan konsentrasi) lalu menanjak ke ilmu pengetahuan, atau naik lagi ke meditasi, dan lalu yang lebih tinggi lagi, yaitu pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita, dan setelah pemasrahan total ini maka akan ditemui kedamaian. Sebenarnya semua tahap atau jalan yang diajarkan Sang Krishna itu penting bagi kehidupan spiritual kita, tetapi yang paling penting adalah pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita secara sadar dan tulus, dan tanpa pamrih yang diikuti oleh mental atau pikiran dan buddhi kita secara paralel. Inilah sebenarnya rahasia agung dan suci yang tersirat dalam ajaran-ajaran Sang Krishna dalam Bhagavat Gita, dan kalau kita secara tulus, suci dan sadar melaksanakan semua ini, maka yang dikembalikan kepada kita ini adalah rasa kedamaian yang tak ada taranya, dan apa lagi yang lebih penting untuk sesuatu mahluk hidup di dunia ini kalau bukan rasa damai yang tanpa disertai rasa takut atau khawatir dalam menjalani hidup ini!

 

 

 

 

12.13

adveṣṭā sarva-bhūtānāḿ

maitraḥ karuṇa eva ca

nirmamo nirahańkāraḥ

sama-duḥkha-sukhaḥ kṣamī

 

Seseorang yang tak mempunyai itikad buruk terhadap siapapun (dan apapun), bersikap bersahabat dan selalu simpatik, bebas dari rasa egoisme dan rasa memiliki, dalam suka dan duka bersikap tenang, selalu memaafkan;

12.14

santuṣṭaḥ satataḿ yogī

yatātmā dṛḍha-niścayaḥ

mayy arpita-mano-buddhir

yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ

Sang yogi ini yang selalu menerima apa yang didapatkannya, selalu harmonis dan menjadi tuan (yang berkuasa) atas diri pribadinya sendiri, tegas, dengan pikiran dan intelek yang didedikasikan kepadaKu ia, pemujaKu ini, adalah yang Kukasihi.

Penjelasan: Sang Krishna menyambung ajaran-ajaran dan keterangan-keterangan spiritual yang penting untuk dipelajari Arjuna dan kita semua. Kita kemudian sekarang ini dapat menilai diri-pribadi kita masing-masing, menilai karakter dan jiwa kita masing masing apakah jalan-hidup kita sudah sesuai dengan yang dianjurkan Sang Krishna Yang Maha Pengasih ini atau masih jauh dari itu semua? Dan kalau sudah memenuhi semua kriteria-kriteria di atas maka, apakah ungkapan itu jujur dan tulus dan disertai rasa kesadaran yang sejati, atau hanya dibuat-buat atau dirasakan saja? Berkarakter atau bersifat seperti yang dianjurkan Sang Krishna ini tidaklah mudah dilakukan oleh manusia yang duniawi sifatnya, walaupun nampaknya anjuran-anjuran Sang Krishna ini mudah dan sederhana. Diperlukan latihan, penghayatan dan kesadaran yang harus dilalui dengan proses yang memakan waktu dan disiplin spiritual yang ketat dan tegar.

 

12.15

yasmān nodvijate loko

lokān nodvijate ca yaḥ

harṣāmarṣa-bhayodvegair

mukto yaḥ sa ca me priyaḥ

 

Seseorang yang tidak mengusik dunia ini dan tidak terusik oleh dunia ini, yang bebas dari rongrongan rasa nikmat, marah, dan takut ia adalah yang Kukasihi.

Penjelasan: Yang dimaksud Sang Krishna di atas ini adalah seseorang yang tak mengusik, mengganggu dan menyusahkan orang lain, mahluk-mahluk lain dan alam serta benda-benda di mana pun juga tanpa sesuatu alasan yang dapat dipertanggung jawabkan; dan tindakan semacam ini tidak dapat ditolerir olehNya walaupun sekecil apapun tindakan ini. Juga orang ini (pemujaNya) sebaliknya tidak merasa susah atau merasa diganggu atau terusik oleh orang maupun mahluk lain, karena sadar bahwa semua ini adalah ciptaan-ciptaanNya dan terjadi karena kehendakNya dan pada dasarnya adalah Ia juga. Orang yang sadar ini disebut harmonis sifatnya. Ia telah lepas dari segala bentuk rasa takut, senang, marah dan penampilannya selalu harmonis dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Orang semacam ini adalah “kekasihNya” (Yang dikasihiNya).

 

12.16

anapekṣaḥ śucir dakṣa

udāsīno gata-vyathaḥ

sarvārambha-parityāgī

yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ

Seseorang yang tak berambisi. yang bersih, cekatan dan cerdik dalam tindakan, tak bernafsu, bebas dari rasa takut, yang mempersembahkan hasil dari setiap keputusannya kepadaKu ia, pemujaKu adalah yang Kukasihi.

 

12.17

yo na hṛṣyati na dveṣṭi

na śocati na kāńkṣati

śubhāśubha-parityāgī

bhakti-mān yaḥ sa me priyaḥ

 

Seseorang yang tidak bergembira, tidak membenci, tidak bersedih, tidak bernafsu (berangan-angan untuk memiliki atau menikmati sesuatu), yang mempersembahkan buah dari kebaikan dan keburukan pemujaKu yang setia adalah yang Kukasihi.

Penjelasan: Seseorang yang tak berambisi untuk diri-pribadinya sendiri dan tak mengharapkanapapun juga dari segala tindakan-tindakannya, baik secara flsik. mental maupun spiritual dan material; yang tegas, peka, ahli dan bekerja dengan cekatan demi kebenaran dan hal-hal yang positif; yang secara cepat mengambil keputusan dalam suatu keadaan darurat, dan yang selalu memasrahkan hasil dari setiap keputusan dan perbuatannya baik yang buruk maupun yang baik kepadaNya semata, tidak akan mempunyai rasa takut untuk menghadap masa depan dan semua yang dihadapiNya. Yang tak mementingkan atau menginginkan sesuatu dan tak bersedih hati untuk apapun yang dihadapinya adalah yang “dikasihiNya.” yang dikasihi oleh Sang Krishna. Andaikan sang pemuja yang penuh dedikasi dan kesetiaan ini sudah mempersembahkan dirinya secara total sebagai alat kepada Yang Maha Esa, maka sang alat ini lalu sadar bahwa ia seharusnya berkewajiban untuk dipergunakan oleh Yang Maha Esa sesuai dengan kehendakNya, apapun kehendakNya itu, dan semua hasil pekerjaan yang dilakukannya bukan miliknya tetapi milik Yang Maha Menentukan, jadi lalu apa lagi yang harus disedihkan dan apa lagi yang harus digembirakan? Apa lagi yang harus membuatnya marah, benci atau dendam dan sebagainya? Tidak ada lagi! Semua adalah pekerjaanNya, dan semua adalah alat-alatNya semata yang memainkan peranannya masing-masing di dunia ini; dalam kehidupan kita ini! Semakin ia sadar akan hal ini, semakin dikasihi ia olehNya, Yang Maha Pengasih dan berbahagialah ia yang merasa dikasihi dan dilimpahi oleh kasih Yang Maha Kuasa. karena mencapai status ini tidaklah mudah dan boleh dikatakan amat langka dalam dunia yang penuh dengan ilusi duniawi ini. Yang Maha Esa Sendiri sebenarnya Amat Pengasih. Terserah pada kita ingin mendapatkan limpahan kasihNya yang bersinar terus secara sama rata untuk setiap mahluk-mahlukNya, atau terserah kita untuk menolak kasih ini dan lebih erat lagi merangkul nafsu-nafsu duniawi kita dan terikat erat kepada nafsu-nafsu ini.

12.18

samaḥ  śatrau ca mitre ca

tathā mānāpamānayoḥ

śītoṣṇa-sukha-duḥkheṣu

samaḥ  sańga-vivarjitaḥ

 

(Seseorang) yang bersikap sama terhadap seorang teman atau seorang musuh, sama terhadap dingin dan panas, terhadap kenikmatan dan penderitaan, bebas dari keterikatan,

 

12.19

tulya-nindā-stutir maunī

santuṣṭo yena kenacit

aniketaḥ sthira-matir

bhakti-mān me priyo naraḥ

 

Menerima secara sama rata pujian dan fitnah, bersikap diam, merasa cukup dengan apa yang diterimanya, tak memiliki rumah, berpikiran stabil, ia pemujaKu yang setia, adalah orang yangKu kasihi.

Penjelasan: Andaikan seseorang bersikap sama terhadap semua kejadian yang menimpanya, seperti senang dan susah, pujian atau hinaan, panas atau dingin, dan merasa semua ini sama saja kadarnya, dan selalu merasa cukup dengan apa yang melandanya dan apa yang diterimanya dan menganggapnya sebagai pemberianNya jua, maka orang suci semacam ini adalah orang yang dikasihiNya. Andaikan ia tenang dan damai dalam menghadapi segala sesuatu dan menyebarkan kedamaian ini pada orang orang di sekitarnya dan pada dirinya secara senantiasa, maka jadilah ia seorang mauni (yang tenang dan damai secara lahir dan batin). Andaikan ia merasa tak memiliki rumah atau tempat-tinggal (aniketah), yaitu dengan kata lain berarti ia merasa dunia ini bukan milik atau rumahnya yang sejati, tetapi ia hanya seorang musafir yang sedang melakukan perjalanannya (yatra) demi suatu kewajiban yang disandangnya demi Yang Maha Esa, dan merasa bahwa rumah atau tempat tinggalnya yang abadi ada di dalam Sang Krishna. Yang Maha Esa, maka jadilah ia seorang yang paling dikasihi oleh Sang Krishna, dan manusia suci semacam ini selalu tersenyum penuh arti dalam segala tindakannya; ia selalu bersikap tenang tenang saja penuh arti.

12.20

ye tu dharmāmṛtam idaḿ

yathoktaḿ paryupāsate

śraddadhānā mat-paramā

bhaktās te ‘tīva me priyāḥ

 

Mereka. yang benar-benar memuja dharma (hukum) yang abadi ini, seperti yang diajarkan ini, dan penuh dengan iman, mempercayaiKu sebagai Yang Maha Agung dan Suci mereka, para pemujaKu, adalah yangKu kasihi.

Penjelasan: Dan seorang pemuja yang tulus yang memuja dan menjalani dharma atau hukum yang diajarkan Sang Krishna ini, yang adalah suatu bentuk dharma yang abadi dan tak akan pernah sirna sepanjang masa, dan yang mengantarkan kita semua kepada tujuan Yang Agung dan Suci, yaitu Sang Krishna atau Yang Maha Esa itu Sendiri; pemuja semacam ini adalah yang dikasihiNya. Jelas sudah pesan-pesan Sang Krishna untuk kita semuanya. Om Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, maka bab ke dua-belas ini disebut:

Bhakti Yoga atau llmu pengetahuan Tentang Dedikasi