Arsip Tag: Bhagavad Gita Bab XIV

Bhagavad Gita Bab XIV

Bab XIV

Penguasaan atas ketiga sifat

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

14.1

śrī-bhagavān uvāca

paraḿ bhūyaḥ pravakṣyāmi

jñānānāḿ jñānam uttamam

yaj jñātvā munayaḥ sarve

parāḿ siddhim ito gatāḥ

 

Sekali lagi Akan Ku sabdakan kepadamu kebijaksanaan Yang Suci dan Agung kebijaksanaan yang terbaik dari semua kebijaksanaan mengetahui hal mana, para resi kemudian menuju ke arah kesempurnaan yang paling tinggi,

14.2

idaḿ jñānam upāśritya

mama sādharmyam āgatāḥ

sarge ‘pi nopajāyante

pralaye na vyathanti ca

 

Berlindung pada kebijaksanaan ini, mereka lalu bersifat Sama denganKu, Mereka tak lahir pada waktu penciptaan dan tidak binasa pada waktu penghancuran (kiamat).

Penjelasan: Sang Krishna di Bab ini menguraikan mengenai pengetahuan tentang ketiga guna (sifat-sifat alami), kemudian hubungan guna ini dengan Prakriti dan penguasaan atas guna ini oleh para resi dan orang-orang suci di zaman dahulu kala. Dengan menguasai ketiga guna ini maka akan tercapailah kebijaksanaan yang agung dan suci dari hidup ini. Dan dengan mencapai kebijaksanaan ini para resi dan orang orang suci itu telah mencapai kesempurnaan yang agung dan suci; yang disebut nirvana atau pari-nirvana.

Berlindung di bawah kebijaksanaan ini para orang-orang suci ini lalu diberkahi oleh Yang Maha Esa sifat-sifat identik dari Diri Sang Krishna dan mereka pun lalu tumbuh dan hidup dalam bentuk Sang Krishna Yang Suci dan Agung. Inilah hasil mengikuti dengan setia dan penuh dedikasi ajaran-ajaran Sang Krishna. Dengan kata lain mereka ini, para orang-orang suci, berasimilasi dengan sari atau inti Sang Krishna itu Sendiri; atau dengan bahasa singkat dan sederhana, menyatu dengan Sang Krishna.

Dan sekali bersatu denganNya, mereka ini lepas dari kehidupan duniawi ini, lepas juga mereka ini dari siklus lahir dan mati yang berulang-ulang, bahkan penciptaan dan penghancuran kehidupan-kehidupan berikutnya pun mereka tidak diikut-sertakan lagi karena dianggap Yang Maha Esa mereka ini telah mencapai status pari-nirvana, yaitu menyatu denganNya kembali secara abadi. 0m Tat Sat.

14.3

mama yonir mahad brahma

tasmin garbhaḿ dadhāmy aham

sambhavaḥ sarva-bhūtānāḿ

tato bhavati bhārata

 

KandunganKu adalah Sang Brahma yang agung; dan di situKu letakkan benih ini. dari kandungan ini lahirlah setiap benda dan mahluk, oh Arjuna!

14.4

sarva-yoniṣu kaunteya

mūrtayaḥ sambhavānti yāḥ

tāsāḿ brahma mahad yonir

ahaḿ bīja-pradaḥ pitā

Dalam setiap kandungan apapun juga. lahir berbagai bentuk kehidupan, oh Arjuna. dan Sang Brahma Agung adalah kandungan mereka ini. dan Aku adalah Sang Ayah yang menabur benih-benih ini.

Penjelasan: yang dimaksud dengan Sang Brahma agung di sini adalah mahad-brahma, yaitu Sang Maya yang juga diibaratkan atau disamakan dengan kandungan di mana Sang Krishna sebagai seorang Ayah menaburkan benih-benihNya, yang kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk ciptaan-ciptaanNya. Mahad-Brahma atau Sang Brahma yang agung ini juga sama dengan Prakriti atau alam ini, dan Sang Krishna adalah Ayah atau Bapak dari setiap benih yang ditaburkanNya. Jadi hanya Ia yang dapat menentukan lahirnya seseorang atau mahluk atau benda di alam semesta ini dan ingat di dalam setiap ciptaanNya terdapat sang Jiwa atau juga benih-kehidupan yang berasal dariNya. Dan menurut Bhagavat Gita, maka benih yang ditaburkan ini berasal dari Sang Krishna, Yang Maha Esa, jadi dengan kata lain dalam setiap ciptaanNya hadir sebagian dari Yang Maha Esa, atau Yang Maha Esa itu Sendiri ada di dalam setiap ciptaan-ciptaanNya Sendiri. Sayang sekali, kita manusia’sering sekali lupa bahwa kita berasal dari benih Yang Agung dan Suci, dan kita lebih suka tenggelam dalam alur kehidupan duniawi ini, dalam kandungan Sang Maya itu sendiri. Padahal Sang Maya atau Prakriti ini hanyalah alat yang mengandung kita dan menumbuhkan kita agar kita tumbuh dan lahir untuk kembali kepadaNya lagi. Bukankah itu maksud dan tujuan Yang Maha Esa, tetapi karena kita diberikan kebebasan untuk memilih maka kebanyakan kita memilih untuk terus tinggal di dalam kandungan Sang Maya yang penuh ilusi kenikmatan, padahal itu semua berada di dalam kegelapan. Pikirkanlah dengan seksama, bukankah kita semua harus kembali dan berbakti pada Ayah kita Yang Agung dan Suci dan menyatu kembali denganNya? Pikirkanlah secara seksama dan menurut hati-nurani anda mana. yang benar dan mana yang salah? Dengan kasih Sang Ayah yang suci dan Agung ini pasti kita akan dituntun kembali kepadaNya. 0m Tat Sat.

14.5

sattvaḿ rājā s tama iti

guṇāḥ prakṛti-sambhavāḥ

nibadhnanti mahā-bāho

dehe dehinam avyayām.

Ketiga kwalitas (guna). Yaitu sattva, raja dan tama lahir dari Prakriti. Mereka ini mengikat erat di dalam raga, oh Arjuna, Yang Tak Terbinasakan yang bersemayam di dalam raga.

Penjelasan: Ketiga guna atau kwalitas alami ini yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat-sifat dominan dari Sang Prakriti itu sendiri, selalu hadir dalam diri kita. Setiap tindakan kita sebenarnya didasarkan pada ketiga sifat Prakriti ini, dan ketiga sifat ini sedemikian dominannya di dalam raga kita sehingga diibaratkan mengikat Sang Atman (Yang Tak Terbinasakan) yang bersemayam di dalam diri kita. Ikatan erat ini begitu gelap sifatnya, sehingga kita yang sudah mabuk duniawi ini tidak dapat melihat Sang Atman yang sebenamya hadir bercahaya terang di dalam diri kita sendiri

14.6

tatra sattvaḿ nirmalatvāt

prakāśakam anāmayam

sukha-sańgena badhnāti

jñāna-sańgena cānagha


Diantara sifat-sifat ini, sattva. Karena kesuciannya, membawa penerangan dan kesehatan. Sifat ini mengikat kita dengan ikatan kebahagiaan dan ikatan ilmu pengetahuan, oh Arjuna!

Penjelasan: Apakah sattva itu? Sattva adalah sifat-sifat kesucian atau kemurnian atau penerangan. Tetapi walau disebut kemurnian toh sifat ini dapat mengikat jiwa kita ke raga dan menimbulkan keterikatan. Sifat sattva membuat kita selalu berorientasi pada tindakan~tindakan yang baik dan pencarian ilmu pengetahuan yang benar. Tetapi sering sekali sattva pun mengarahkan kita kepada keterikatan-keterikatan dalam bentuk ilmu pengetahuan ini sehingga terikatlah seseorang pada pikiran-pikiran, analisis dan metode-metode dan lain sebagainya, dan semua ini menjadi tujuan ilmu pengetahuan mereka yang mempelajarinya, bukan jalan untuk mengenalNya, Yang Maha Pencipta. Semua ini membuat seseorang yang bersifat sattva terikat pada pekerjaan dan kebaikan-kebaikannya, tetapi tidak membuat orang-orang ini berorientasi kepada Yang Maha Esa secara mumi, padahal sifat dasar mereka ini sattvik.

Di dunia Barat misalnya banyak terdapat ilmuwan yang bersifat amat sattvik, tetapi tujuan mereka hanya terpusat pada ilmu pengetahuan itu dan pemecahannya secara ilmiah saja, mereka sama-sekali tidak berpikir tentang Yang Maha Esa, Sang Pencipta ilmu-ilmu ini. Sebaliknya di Timur, yang Maha Esa masih menjadi tujuan atau akhir dari semua ilmu pengetahuan ini, sehingga tidak mengherankan kalau pada abad modern seperti dewasa ini masih banyak orang yang dianggap pandai atau terpandang melepaskan jabatan mereka dan terjun ke dunia spiritual dan melepaskan semua ikatan-ikatan dan unsur-unsur duniawi mereka untuk mencari penerangan Ilahi. Mereka ini benar-benar jalan dengan sifat-sifat sattva dan mengarahkan sifat-sifat suci ini untuk tujuan yang mulia dan tak mau terikat oleh sifat-sifat ini. Dengan kata lain, sifat-sifat sattva ini hanyalah alat-alat belaka bagi orang-orang suci ini.

14.7

rajo rāgātmakaḿ viddhi

tṛṣṇā-sańga-samudbhavam

tan nibadhnāti kaunteya

karma-sańgena dehinam

 

Ketahuilah olehmu, oh Arjuna, bahwa sifat raja, yang berciri emosional ini adalah sumber dari keterikatan dan rasa tak puas. Dan sifat raja ini mengikat jiwa yang ada di dalam raga dengan keterikatan-keterikatan aksi atau perbuatan.

Penjelasan: Sifat-sifat raja adalah energi, mobilitas, emosi dan raja juga berarti keinginan atau kehausan untuk hidup. Dengan kata lain, sifat raga dapat diartikan energi yang penuh dengan keinginan dan nafsu-nafsu yang tak terpuaskan. Sifat ini adalah ‘anak’ dari nafsu-nafsu yang kuat dan juga dari keterikatan itu sendiri. raja mengikat kita, mengikat jiwa kita erat-erat ke Sang Prakriti melalui aktivitas dan aksi. Di kala seseorang penuh dengan keserakahan atau penuh dengan kegelisahan eksternal yang dikarenakan aktivitias-aktivitasnya, maka dapat dipastikan sifat-sifat raja sedang berkuasa atas diri orang ini. Seseorang yang amat aktif, ambisius dan penuh semangat kerja atau daya juang yang tinggi untuk kebutuhan-kebutuhan duniawinya juga menunjukkan sifat-sifat raja yang sedang dominan dalam dirinya.

Seseorang yang bersifat raja atau rajasik ini bekerja keras bagi dirinya sendiri, bukan untuk Sang Krishna atau Yang Maha Esa. Ia ingin selalu berkuasa atau berpengaruh atas orang-orang disekitarnya. Seorang dengan sifat raja ini penuh dengan aksi, inisiatif, ambisi pribadi yang tinggi dan penuh dengan keresahan. Sebaiknya jika ia ingin keluar dari lingkaran raja ini, maka cara terbaik adalah bertindak, bekerja, beraksi atau berbuat demi Sang Krishna atau Yang Maha Esa semata tanpa pamrih. Tetap bekerja apa saja sesuai dengan profesi dan kewajibannya,

Tetapi demi Yang Maha Esa, pekerjaannya kemudian dengan cara ini akan berubah menjadi yadna.

14.8

tamas tv ajñāna-jaḿ viddhi

mohanaḿ sarva-dehinām

pramādālasya-nidrābhis

tan nibadhnāti bhārata

 

Tetapi sifat tama (kegelapan total yang penuh kekacauan) ketahuilah olehmu, ahir dari kebodohan dan adalah sifat yang memperbodoh jiwa. Sifat ini mengikat dengan ketidak perdulian, kemalasan dan tidur, oh Arjuna!

Penjelasan: Sifat-sifat tama bukanlah bersifat energi atau penerangan, atau aktivitas atau kesucian. Sebaliknya adalah sifat-sifat kemalasan, ilusi kosong dan kebodohan yang bcrkepanjangan sifatnya. Sifat ini mengikat jiwa seseorang dengan kebodohan, kemalasan, dengan ketidak keacuhan terhadap setiap hal yang positif. Dengan kata lain di mana terlihat kegelapan total dalam diri seseorang maka sudah pasti sifat tama sedang berkuasa.

Seseorang yang bersifat tama hidup tak ubahnya seperti binatang saja. Ia makan, tidur, minum dan memenuhi hasrat-hasrat raganya saja dari saat ke saat. Tak ada idealisme atau cita-cita dalam dirinya. Ia malas, bodoh, tak perduli dan selalu tak acuh pada hal-hal yang bersifat baik. Tetapi sifat tama ini juga dapat didobrak dan seseorang yang terjerat dalam lingkaran kebodohan ini dapat keluar juga. Caranya adalah dengan berdharma-bhakti kepadaNya semata, meminta perlindunganNya semata dan bekerja tanpa pamrih untuk Yang Maha Esa. Sang Bayu (angin) tidak saja merambah dan bertiup diantara dedaunan pohon-pohon yang besar dan tinggi saja, tetapi Sang Bayu juga bertiup diantara rerumputan liar dan kecil yang berada di bawah pohon-pohon besar ini. Yang penting adalah kemauan kita snediri untuk merasakan tiupan ini, merasakan kehadiranNya di antara kita semuanya dan mau mengikuti ajaran-ajaranNya.

14.9

sattvaḿ sukhe sañjayati

rājāḥ karmaṇi bhārata

jñānam āvṛtya tu tamaḥ

pramāde sañjayaty uta

 

 Sattva mengikat (seseorang) kepada kebahagiaan, raja mengikat kepada aksi, oh Arjuna! Dan sifat tama membungkus kebijaksanaan, mengikat seseorang kepada ‘ketidakperdulian.’

14.10

rājā s tamaś cābhibhūya

sattvaḿ bhavati bhārata

rājā ḥ sattvaḿ tamaś caiva

tamaḥ sattvaḿ rājā s tathā

 

Sewaktu sattva berada di atas raja dan tama, maka berkuasalah sattva, oh Arjuna! Di kala raja berada di atas sattva dan tama, maka berkuasalah raja. Dan di kala tama berada di atas sattva dan raja, maka berkuasalah tama.

14.11

sarva-dvāreṣu dehe ‘smin

prakāśa upajāyate

jñānaḿ yadā tadā  vidyād

vivṛddhaḿ sattvām ity uta

 

Di kala sinar kebijaksanaan mengalir keluar dari semua gerbang sang raga, maka ketahuilah bahwa sattvalah yang berkuasa, oh Arjuna!

14.12

lobhaḥ pravṛttir ārambhaḥ

karmaṇām aśamaḥ spṛhā

rājā sy etāni jāyante

vivṛddhe Bhārata rṣabha

 

Di kala keserakahan, aktivitas eksternal, ambisi untuk bekerja, keresahan, nafsu-nafsu iri terlihat jelas, ketahuilah bahwa rajalah yang berkuasa, oh Arjuna!

14.13

aprakāśo ‘pravṛttiś ca

pramādo moha eva ca

tamasy etāni jāyante

vivṛddhe kuru-nandana

 

Di kala kégelapan, non-aksi ketidakperdulian dan kegelapan terlihat jelas, ketahuilah bahwa tama lah yang berkuasa, oh Arjuna!

 

 

14.14

yadā sattve pravṛddhe tu

pralayaḿ yāti deha-bhṛt

tadottama-vidāḿ lokān

amalān pratipadyate


Kalau seseorang meninggal dunia di kala sattva berkuasa di dalamnya, maka ia akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda di mana tinggal mereka yang mengenal Yang Maha tinggi.

Penjelasan: Seorang sattvik, setelah meninggal dunia maka jiwanya akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda oleh dosa-dosa dan kebodohan. Tetapi ia masih harus bekerja keras untuk mencapai Yang Maha Esa. Karena setelah habis karmanya di tempat tempat ini (Devachana), ia harus kembali lagi ke dunia ini, tetapi ia akan lahir di tengah-tengah keluarga pencinta Yang Maha Esa, dan jalan ke arahNya akan makin lembut saja sesudah itu.

14.15

rājāsi pralayaḿ gatvā

karma-sańgiṣu jāyate

tathā pralīnas tamasi

mūḍha-yoniṣu jāyate

 

 Meninggal dunia sewaktu sifat raja masih berkuasa, maka orang itu akan lahir diantara orang-orang yang terikat pada aksi; dan sekiranya seseorang meninggal dunia sewaktu sifat tama masih berkuasa maka ia akan lahir di dalam kandungan-kandungan yang tak berindra.

Penjelasan: “Yang tak berindra” di sini mungkin dimaksudkan dengan ciptaan Yang Maha Kuasa seperti pepohonan, tumbuh-tumbuhan atau juga jenis mahluk-mahluk lainnya yang tak memiliki ratio dan intelektual.

14.16

karmaṇaḥ sukṛtasyāhuḥ

sāttvikaḿ nirmalaḿ phalam

rājā sas tu phalaḿ duḥkham

ajñānaḿ tamasaḥ phalam

 

Hasil dari perbuatan sattvik disebut harmonis dan suci, hasil dari sifat raja disebut penderitaan dan hasil dari sifat tama adalah kedunguan dan kebodohan.

Penjelasan: Setiap pekerjaan maupun tindakan yang dibuat dalam pengaruh sattva akan lepasdari noda-noda dan dosa-dosa. Sedangkan setiap pekerjan di bawah pengaruh sifat raja akan menghasilkan dukha, yaitu efek yang penuh dengan penderitaan. Dan setiap tindakan atau perbuatan di bawah pengaruh tama akan membuahkan yang lebih buruk dari penderitaan, yaitu kebodohan atau kedunguan (agnana), yang berarti menjadi lebih jauh lagi dari Yang Maha Esa.

14.17

sattvāt sañjāyate jñānaḿ

rājā so lobha eva ca

pramāda-mohau tamaso

bhavato ‘jñānam eva ca

 

Dari sattva lahirlah ilmu pengetahuan, dari raja lahir keserakahan, dan dari tama lahir sifat acuh-tak-acuh, kemalasan dan agnana (kebodohan).

14.18

ūrdhvaḿ gacchanti sattva-sthā

madhye tiṣṭhanti rājasāḥ

jaghanya-guṇa-vṛtti-sthā

adho gacchanti tāmasāḥ

 

Mereka yang telah tegar dalam sattva menanjak ke atas; mereka yang dalam raja berdiam di tempat yang paling tengah; dan mereka yang bersifat tama pergi ke bawah terikat pada sifat-sifat yang paling rendah.

14.19

nānyaḿ guṇebhyaḥ kartāraḿ

yadā draṣṭānupaśyati

guṇebhyaś ca paraḿ vetti

mad-bhāvaḿ so ‘dhigacchati

Bila seseorang yang melihat, menyadari bahwa tidak ada unsur yang lain selain ketiga guna ini dan mengenal la yang hadir di atas ketiga guna ini, ia akan masuk ke dalam DiriKu.

14.20

guṇān etān atītya trīn

dehī deha-samudbhavān

janma-mṛtyu-jarā-duḥkhair

vimukto ‘mṛtam aśnute

 

Bila seseorang (jiwa yang terbungkus oleh raga ini) telah melampaui ketiga guna ini di mana semua bentuk raga diproduksi maka ia benar-benar lepas dari kelahiran dan kematian, dari usia tua dan penderitaan, ia lalu meneguk air kehidupan yang abadi (tak dapat binasa lagi).

Penjelasan: Di sloka-sloka di atas ini tersirat pesan Sang Krishna bagi Arjuna dan kita semuanya, yaitu kuasailah ketiga sifat ini, dan jadilah “seorang yang sadar atau yang dapat melihat dengan jelas dan benar.” Seorang yang melihat atau sadar ini melihat (a) bahwa keterbebasan dari semua unsur duniawi ini dapat dicapai jika seseorang benar-benar sadar bahwa hanya ketiga sifat guna ini sajalah yang sebenarnya bertindak, bekerja, beraksi atau berbuat, dan bukan Sang Atman yang bersemayam di dalam diri kita bahkan bukan raga kita juga, dan (b) bahwa ada Ia yang lepas dari semua unsur-unsur Prakriti ini, Yang Maha Suci dan Agung. la lebih tinggi sifatNya dari ketiga guna ini yang sebenarnya lahir dari Prakriti, dan dari ketiga guna ini lahirlah bentuk-bentuk dan sifat-sifat alam. raga-raga kita dan juga mahluk-mahluk lainnya yang tak terbilang banyak jumlah dan ragamnya.

Orang-orang yang bijaksana yang telah menyeberangi’ ketiga guna ini malahan dapat mengendalikan sifat-sifat ini pada diri mereka, karena mereka telah sadar bahwa sifat-sifat inilah penyebab semua tindakan dan perbuatan baik dan buruk di dunia ini, sedangkan Sang Atman hanya bertindak sebagai saksi saja di dalam raga kita masing-masing. Mereka ini oleh Sang Krishna diibaratkan sebagai yang telah meminum air keabadian dan tak perlu lagi menjalani kehidupan dan kematian lagi. Mereka telah bersatu di dalamNya secara abadi.

Berkatalah Arjuna:

14.21

Arjuna uvāca

kair lińgais trīn guṇān etān

atīto bhavati prabho

kim ācāraḥ kathaḿ caitāḿs

trīn guṇān ativartate

 

Apakah ciri-ciri dari seseorang yang telah melampaui ketiga guna ini? Bagaimanakah cara hidupnya? Dan bagaimana caranya ia melampaui ketiga guna ini?

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

 

 

14.22

śrī-bhagavān uvāca

prakāśaḿ ca pravṛttiḿ ca

moham eva ca pāṇḍava

na dveṣṭi sampravṛttāni

na nivṛttāni kāńkṣati

Seseorang yang tidak menghindar (atau menolak) cahaya (pengetahuan) atau aktivitas atau kebodohan di kala faktor-faktor ini timbul, dan tidak mengharapkan faktor-faktor ini di kala tidak hadir;

14.23

udāsīna-vad āsīno

guṇair yo na vicālyate

guṇā vartanta ity evaḿ

yo ‘vatiṣṭhati neńgate

 

Seseorang yang duduk tanpa khawatir tak terusik oleh guna, terpisah, tanpa goyah, dan mengetahui bahwa hanya guna-guna ini yang bertindak;

 

14.24

sama-duḥkha-sukhaḥ sva-sthaḥ

sama-loṣṭāśma-kāñcanaḥ

tulya-priyāpriyo dhīras

tulya-nindātma-saḿstutiḥ

 

Seseorang yang merasakan kenikmatan dan penderitaan adalah serupa, yang terpusat pada Sang Atman, dan baginya tanah-liat atau batu ataupun emas adalah satu, yang sama kepada yang dicintainya dan tak dicintainya, yang jalan pikirannya tak goyah, yang bersikap sama di kala terhina dan dalam kemasyhuran;

14.25

mānāpamānayos tulyas

tulyo mitrāri-pakṣayoḥ

sarvārambha-parityāgī

guṇātītaḥ sa ucyate

 

Yang memandang sama rata akan rasa dihormati dan tidak dihormati, dan yang bersikap sama terhadap sahabat dan musuhnya, yang telah melepaskan semua ambisi orang ini disebut telah melewati semua guna-guna ini.

Penjelasan:Seseorang yang telah melewati, melampaui atau mengatasi ketiga guna (sifat sifat Prakriti) akan berubah cara hidup dan cara berpikirnya. Ia akan menjadi ibarat seorang tuan atau majikan yang sudah dapat menguasai seluruh anak-buahnya. Dalam hal ini telah menguasai atau memperalat sifat-sifat alam ini, dan tanda-tanda atau ciri-ciri orang ini adalah:

  1. Ia bersikap sama saja kepada ketiga sifat-sifat atau kwalitas Prakriti ini di kala sifat-sifat ini hadir dan sedang beraksi baik dalam dirinya maupun dalam diri orang lain, karena ia sadar bahwa setiap sifat ini mempunyai evolusi atau naik turunnya sendiri.
  2. Ia tak terganggu atau terusik oleh efek atau hasil atau karma dari setiap tindakan, apakah itu tindakan baik maupun tindakan buruk. Ia sadar bahwa setiap perbuatan atau aktivitias adalah milik guna-guna ini, milik dan merupakan alat permainan sang Prakriti. Baginya alam dan sifat-sifatnya selalu sedang bekerja dan ia sendiri sedang duduk di tengah-tengahnya, merasa tak asing tetapi juga tak khawatir. Tak dapat ia digoyahkan dari jalan pikirannya ini oleh sifat-sifat Prakriti. “hanya sifat-sifat ini saja bergerak,” katanya, dan “Semua obyek adalah benda-benda mainan yang dipermainkan oleh guna-guna ini.” Ia merasakan dirinya sebagai seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan atau pekerjaannya saja di dunia ini, ibarat mimpi yang tak dapat mengganggu mereka yang tidak tidur, maka guna atau sifat-sifat ini pun tidak dapat mengganggu sang musaflr ini, yang tenang dengan tugas atau perjalanannya ke arah Yang Maha Esa.
  3. Baginya setiap benda, mahluk dan kejadian adalah hal yang sama atau satu sifatnya. 1a bersikap selalu sama rata terhadap hal-hal, kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang berlawanan seperti suka-duka, panas-dingin, teman-musuh, penghormatan-penghinaan, cinta-benci, dan lain sebagainya. Emas atau tanah-liat baginya sama saja nilainya, sama-sama ciptaan Yang Maha Esa yang tak ada bedanya dan mempunyai fungsi masing-masing di dunia ini, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah.
  4. Ia tidak berambisi lagi dengan tujuan-tujuan tertentu dalam melakukan pekerjaannya. Baginya setiap aksi, perbuatan, tindakan dan pekerjaan adalah dharma-bhaktinya kepada Yang Maha Esa, yang tidak diiringi oleh pamrih sama sekali. Baginya pekerjaan apapun sama saja kadar atau sifatnya, tidak ada yang lebih agung dan tidak ada yang lebih hina, apapun jenis pekerjaan itu harus didedikasikan secara tulus dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa semata.

14.26

māḿ ca yo ‘vyabhicāreṇa

bhakti-yogena sevate

sa guṇān samatītyaitān

brahma-bhūyāya kalpate

 

Seseorang yang mengabdi kepadaKu dengan dedikasi yang tanpa pamrih, melampaui semua sifat-sifat alami ini dan bersatu dengan Sang Brahman.

Penjelasan: Apakah caranya agar seseorang dapat melampaui ketiga guna ini dan bersatu dengan Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi. Caranya: (a) pengabdian yang terus menerus tanpa henti dan tanpa pamrih, dan (b) mengabdi kepadaNya dengan cinta kasih yang tulus. Dalam cinta-kasih terhadapNya yang tulus ini dan tanpa henti ini maka secara lambat-laun ia akan menyatu dengan yang dikasihiNya, dan ia sendiri berubah menjadi nol untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi Satu dengan Yang Maha

Esa. Ini disebut Atma-Svarupa, yaitu menyatu dengan Sang Krishna dan bersatu dengan Yang Maha Esa. 0m Tat Sat.

14.27

brahmaṇo hi pratiṣṭhāham

amṛtasyāvyayāsya ca

śāśvatasya ca dharmasya

sukhasyaikāntikasya ca

 

Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi yang tak ada habis-habisnya. Akulah fondasi dari kebenaran yang abadi dan sumber dari keberkahan yang tak ada akhirnya.

Penjelasan: Mengasihi atau mencintai Sang Krishna adalah upaya untuk menyatu dengan Sang Brahman, karena Sang Krishna dan Sang Brahman adalah Satu. Krishna itu Brahman, dan Brahman itu Krisha. Sang Krishna adalah sumber dari (a) keabadian dan (b) Hukum Dharma (Hukum Kebenaran) yang Abadi dan (c) berkah yang tak ada duanya dan tak kunjung berakhir -keberkahan yang absolut. Sekali lagi Sang Krishna menegaskan bahwa Ia lah Sang Brahman yang menitis menjadi Krishna (manusia utama) karena kasihNya kepada para pemujaNya. Sang Krishna adalah manifestasi dari Sang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Agung dan Suci. 0m Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, Bab ini adalah yang keempat-belas dan disebut:

Guna Traya Vlbhaga Yoga

atau

Yoga mengenai Perbedaan Ketiga Sifat Alam