Arsip Kategori: Uncategorized

Shastra Jinendra Wijnana

Mahabharata - An Epic Reflection Of Our Lives
Mahabharata – An Epic Reflection Of Our Lives

Jinendra Wijnana adalah sebuah shastra widhi spiritual Hindu kuno, yang dimasa lalu amat dirahasiakan karena dianggap merupakan ajaran rahasia para dewata dan resi resi agung tertentu, jadi tidak sembarang diturunkan kecuali kepada sishya (murid spiritual) tertentu yang telah mencapai tahap tertentu, yang telah mencapai tahap tertinggi spiritual yang dianggap mampu menerima ajaran itu.

Inti dari ajaran Jinendra Wijnana adalah sebuah proses spiritual yang harus mampu mengungkapkan suatu bentuk kesadaran diri dari keberadaan umat manusya (manusia) di semesta raya ini, sebagai kesinambungan dari pancaran sejati Hyang Brahma, Hyang Swayambu (yang lahir sendiri) yang melalui shaktinya, Sri Dewi Saraswati telah menciptakan ketiga loka (Bhur/bumi, Bwah, dan Swah) Hyang Swayambu juga disebut sebagai pengejawantahan dari Niskala Brahman (Tuhan Yang Maha Tunggal, Esa dan Tidak Terjabarkan)

Konon disuatu era misterius nan gaib, diluar jangkauan otak manusia modern sekalipun, maka Beliau berkehendak sendiri untuk memperbanyak Dirinya sendiri “Aham Baku Syam”– “Akupun menjadi banyak” melalui shaktinya Hyang Brahma yang adalah Brahman (Tuhan yang Termanifestasi itu pun menjadi berlipat-lipat ganda tak terhitung banyaknya baik dalam wujud, rupa, dan segala manifestasinya (wujud-wujud dan rupa-rupaNya) Tuhan yang termanifestasi (terwujud) inipun dikenal dalam Hindu (Sanatana) Dharma sebagai Apara (yaitu yang memiliki ciri-ciri atau atribut atau wujud) Perwujudan Tuhan (Brahman) sebagai shakti (nama lain Pradhana dan Prakriti) yang bersifat banyak inilah yang disebut Alam semesta jagat raya yang tersaksikan dan dapat difahami melalui widya (ilmu pengetahuan) oleh umat manusia ini, istilah islamnya adalah “wujud yang mewujud”.

Disisi lain yang gaib, maha Kesadaran Niskala Brahman berubah menjadi shakti disebut Parama Purwa Nirwana Shakti. Kemudian dari gabungan keduanya, yaitu Brahman dengan shakti muncullah shabda Brahman–Nada yang juga disingkat menjadi shabda. Bahasa dalam Bible menyebutnya sebagai “word”. Dari Nada muncul windhu. Shabda Brahman kemudian mewujud dirinya melalui Tri-shakti yaitu Jnana shakti, Ichchha shakti dan Kriya shakti. Shakti sendiri kemudian mendapatkan istilah baru “maya” yang berarti ilusi. Atau dengan kata lain Brahman (Tuhan Yang Niskala) ini berganti rupa menjadi semesta raya yang tak terjabarkan ini dengan menyelubungi diriNya sendiri, sehingga Beliau terkesan tampak berbeda dari asal usul kesejatiannya sendiri. Shakti ini yang kemudian menjadi sumber dari segala penciptaan materi yang disebut prakriti, yang terdiri dari sifat-sifat dasar keseimbangan Triguna yang dikenal sebagai sattwa, rajas dan tamas.

Perpaduan antara Brahman dan shaktinya dalam mewujudkan diri didalam Parashakti – Maya (ilusi jagat kosmos) ini kemudian memasuki diri setiap ciptaan dan mahluk di semesta raya ini. Didalam manusia (kosmos alit) unsur vital ini hadir didalam Swayambu Lingga di muladhara chakra dan kundalini di dalam raga kita sendiri. Dengan demikian shabda Brahman (Om kara) itu sendiri hadir juga secara tetap didalam manusia dan setiap mahluk mahluk ciptaanNya yang dikenal dengan istilah prani ( mahluk yang berprana ).

Dengan tersingkapnya kesadaran sejati ini melalui meditasi, bhakti, karma yoga dst, seseorang akan mengeliminasi keberadaan dewa dewi (unsur unsur cahaya Bhagawatam atau Ilahi) karena telah langsung terhubungkan dengan Brahman (Tuhan) tanpa lagi melalui perantara para dewata karena melalui kesadaran spiritual yang sejati ini, seorang manusya akan memahami hakekat akan dirinya sendiri yang tidak berbeda sama sekali dengan para dewata, yakni pancaran cahaya sejati yang disebut dengan berbagai nama nama seperti Jyotir, Light, Nur dst. Inilah inti utama ajaran Shastra Jinedra Wijnana.

Lalu, jika mahluk manusya adalah juga pancaran sejati sederajat dengan para dewata, maka kemudian apakah peran para dewa dewi sebenarnya? Bukankah selama ini para dewata harus dipuja sebagai pancaran Yang Maha Esa juga?

Kata atau istilah dewa (ta) berasal dari kata “dev” yang bermakna terang, cahaya gilang gemilang. Dewa adalah kata lain dari unsur-unsur Bhagawat am (ilahi) yang bersinar dan bermain-main (berkerlap-kelip) jadi menghasilkan Lila maya (ilusi ilahi atau permainan misterius Tuhan itu sendiri)

Cahaya yang selalu bermain-main dengan ciptaanNya sendiri ini juga disebut srishti (kehadiran) sisi lainnya disebut pralaya (kehancuran atau kiamat). Demikianlah unsur-unsur ini pada sejatinya adalah sama dengan unsur-unsur mahluk manusya ini juga yakni pancaran jiwa dan benda mati (jara) yakni Brahman (Tuhan) yang karena “telah membatasi Dirinya dalam wujud-wujud yang terbatas masa dan keadaan duniawinya (upadhi)”.

Oleh kurangnya pengetahuan (awidya) seseorang maka dunia maya ini terlihat dan terkesan lain. Pada hakekat sejatinya apapun dan siapapun yang dipuja dan disembah adalah perwujudan dari Brahman atau Tuhan yang dilihat atau terlihat melalui tabir selubung awidya ini.

Seandainya demikian maka para dewata-pun pada hakekatnya bukan segala-galanya yang menentukan kehidupan manusia, apalagi bagi manusia yang sudah mampu memahami hakekat kehidupan yang aslinya adalah Tuhan itu sendiri. Bagi manusia dunia yang sudah menyatu dengan perwujudan citra Brahman (Tuhan) maka ia akan mengubah kepercayaan kepada dewa-dewa sebagai mitra kerjanya di bumi ini, jadi saling membutuhkan antara ciptaan dan dewata.
Manusia agung ini akan menyaksikan bahwa segala sesuatu ciptaan yang terhampar dihadapannya (alam semesta) ini sebagai perwujudan dari Tuhan itu sendiri, yang hadir mengejawantahi dimana saja !

Namun ajaran agung ini tidak semudah itu untuk dipelajari oleh sebab itu selalu diperlukan seorang guru resi yang bersifat non pamrih dalam segala aspek, dan pada sisi lain diperlukan juga seorang sishya yang telah siap jalan spiritual sesuai karmanya. Mempelajari ajaran agung ini seorang diri amatlah membingungkan sehingga mudah bagi manusia awidya untuk “sesat dan menyimpang jalan”.

Sebenarnya apakah ajaran Jinendra Wijnana ini?
Secara singkat dapat dikatakan ajaran agung ini adalah rangkuman dari inti ajaran akan ketuhanan dan ciptaan-ciptaanNya yang hadir diweda-weda Upanishads dan pada era kaliyuga ini disebut sebagai Bhagawat Gita. Ajaran kuno ini hadir dari masa ke masa, dan untuk kaliyuga sekali lagi dikomplimasi oleh Resi Wyasa (Abhiyasa) bagi umat manusya di Pertiwi ini, agar senantiasa sadar akan dirinya sendiri yang adalah wujud agung kecil (mikro kosmos) dari hamparan semesta raya (makro kosmos) itu sendiri.

Melalui pengetahuan Brahman (Tuhan), manusia akan sanggup memahami secara benar bahwasanya segala sesuatu yang kita rasakan dan saksikan melalui berbagai indra-indra tubuh ini pada hakekatnya adalah maya yang dapat sirna sewaktu-waktu !

Justru pada sejatinya, kekosongan yang tidak tertangkap panca indralah yang nyata (sunyata dan nyata – ajaran Sang Buddha Gautama). Dengan memahami bahwa segala sesuatu yang tersebar di jagat raya ini adalah maya (ilusi Tuhan) maka manusia tersebut tidak mau lagi terikat oleh hal-hal yang berbau pamrih dan duniawi, ia tidak lagi membutuhkan segala sesuatu yang bersifat maya. Ia hanya ingin terlelap dalam semadhi yang berkesinambungan karena didalam semadhi hadir shanti yang abadi. Sedangkan yang bersifat maya adalah bayangan-bayangan yang senantiasa berubah-ubah, rusak dan binasa.

Namun dibalik semua ilusi sang maya, hadir sesuatu unsur atau zat yang bersifat senantiasa abadi kekal dan tidak pernah binasa yang merupakan sumber dari segala ciptaan tanpa batas ini. Untuk mencapai dan memahaminya, kita harus dapat mempelajari dulu hakikat misteri dari Om Tat Sat. Om itu sendiri adalah kebenaran yang bersifat wujud sejati, Tat adalah segala tindakan-tindakanNya dan Sat berarti yang suci.

Konon untuk mencapai makna Om Tat Sat, maka harus difahami dahulu asal muasal segala penciptaan di jagat raya nan agung ini. Menurut ajaran-ajaran suci weda pada mulanya semesta ini adalah kegelapan gaib yang berupa Ke hampaan yang memanisfestasikan Dirinya yang penuh rahasia dengan kekuatan dashyat yang teramat panas, yang melahirkan unsur mula ini disebut Ka (Brahman), Beliaulah roh Atman dari alam semesta ini, pangkal dari segala-galanya, sebuah unsur vital dari keberadaan setiap ciptaan. Dia adalah elemen hakiki dari berbagai unsur-unsur yang disebut dewa, manusya,fauna,flora dsb.

Beliau disebut Brahm(a) karena Dia adalah BRH (yang berkembang menjadi banyak). Dia juga adalah mantra suci, Atman dari dunia ini. Dia juga disebut swayambhu (yang melahirkan Dirinya sendiri) karena setiap mahluk berasal dari Dirinya maka Ia juga disebut Prajapati (Penguasa setiap mahluk).

Ka tidak dapat dijelaskan secara harafiah bahkan oleh dewata sekalipun, namun dapat dihayati dengan mempelajari berbagai sifat-sifatNya yakni Awinasi (Tak Dapat Dimusnahkan), Na Jayate (Tidak Dilahirkan), Nitya (kekal, abadi), Acala (azali), Sarwagatah (Meliputi segalanya dan diatas semua itu Ka adalah Awyakta yakni yang tidak dapat dijabarkan maupun didefinisikan dengan bahasa, kata-kata maupun angka-angka.
Ka adalah perbendaharaan Tersembunyi, dst,dst. Dengan demikian Hyang Prajapati adalah Sarwaloka Maheswara (Tuhan Sarwa Sekalian Alam) yang juga disebut Brahma yang juga bermakna Yang Berkembang Biak menggandakan Dirinya sendiri melalui kekuatan suci Nya sendiri. Ia menciptakan semua mengayomi semua dan akhirnya menelan kembali semua ciptaan-ciptaanNya kembali. Sebagai Pencipta Ia dikenal sebagai Hyang Brahma, sebagai Pengayom Ia dikenal sebagai Vishnu, dan sebagai Pendaur ulang segala ciptaan Ia dikenal sebagai Shiwa. Seyogyanya kita faham bahwasanya didalam masa depan terangkum masa lalu dan masa kini.

Untuk mencapai kesejatian ilmu ini maka diperlukan penuntun sejati yang mengajarkan cara-cara pemasrahan total dari duniawi sambil tetap berkarma dan berbhakti yoga di dunia ini. Sang gurupun harus mampu mengajarkan meditasi pranayama dengan pemusatan fokus pemikiran pada titik diantara kedua alis mata, dengan mengendalikan panca indra sambil membuang jauh segala kekalutan pikiran, nafsu, khawatir, iri hati, marah dst. Agar mencapai tahap Bhagawatam seperti ucapan Hyang Prajapati “Sarwabhutam Jnatwa Mam Santini Ricchati “(Segala mahluk yang memahamiKu akan mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan).

Dimanakah anda dapat mempelajari ajaran agung ini pada masa kaliyuga ini? Jawabannya ada di dalam Bhagawat Gita. Kami di Shantigriya telah membagi karya Almarhum Resi T.L Vaswani ini sejumlah 12.000 buku namun tetap saja habis. Saat ini melalui website: shantigriya. tripod. com siapa saja dapat mengakses dan menyebarkannya kepada siapa saja. Semoga artikel ini dapat membawa kita kepemahaman utuh tentang ajaran rahasia Jinendra Wijnana melalui Bhagawat Gita oleh Resi Wyasa yang suci dan agung itu. Seandainya anda tidak memiliki akses internet maka mintalah bantuan pada anak-anak muda yang dapat mengaksesnya.
Klik www. tripod. com lalu klik lagi ke shantigriya tripod. com dan terbukalah ajaran yang suci ini bagi kita semua.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Om Tat Sat

mohan m.s
Cisarua, 9 mei 2008
di Shantigriya Ganesha Pooja.

Apakah yang telah anda pahami tentang Weda

APAKAH YANG TELAH ANDA PAHAMI TENTANG WEDA
( SABDA-SABDA DEWA)

I. SEJARAH WEDA
Weda bukan merupakan wahyu-wahyu yang diterima oleh para nabi ataupun utusan-utusan Tuhan, namun lebih merupakan sabda-sabda Bhagavatham yang diturunkan langsung melalui sabda-sabda dewa kepada para resi melalui persepsi – direct (direct-perception).
Ajaran-ajaran maupun berbagai petunjuk yang terdapat di berbagai weda lebih merupakan pedoman hidup universal dari pada dogma yang menjerat umatnya. Tanpa hadirnya weda – weda ini dapat dibayangkan seperti apakah umat manusia dewasa ini. Karena nampaknya tidak ada budaya, agama, maupun perilaku bangsa apapun di dunia ini yang lepas dari ajaran –ajaran agung ini.
Penyebaran weda telah melalui beberapa jalan, misalkan Afganishtan, Turkeinishtan dan selanjutnya ke Timur-Tengah dan seterusnya. Melalui jalan laut menuju ke Semenanjung Arab, ke Asia Tenggara dan akhirnya melanda ke seluruh Asia. Cina kuno mengirimkan para Budhisatwa mereka untuk mempelajari dharma yang kemudian menjadi sendi-sendi agamis yang berasimilasi dengan ajaran-ajaran leluhur mereka yang juga berpedoman adiluhung. Lahirlah konsep-konsep Kwang – Kong (Yamaraja), Kwam Im (Saraswati,bunda semesta) dan Buddhisme di Cina yang pengaruhnya melanda seluruh Asia.
Yunani kuno tidak pernah menjajah India kuno, namun keduanya terlibat dalam persahabatan antarnegara yang intim, akibatnya konsep weda , Sruti dan Smritipun menjalar ke Yunani kuno maka lahirlah konsep para dewata dan Tuhan di kawasan ini. Misalnya Tuhan mereka Zeus adalah Brahma dalam versi Weda, Isis adalah bunda semesta, Hercules sama dengan Hanoman, dan venus sama dengan Lakshmi dan sebagainya. Mesir konon pernah ditaklukkan oleh Sri Rama dan keturunannya, jadilah raja-raja mereka bernama Ramses (Keturunan Rama) dan merekapun memuja Surya(Tat Savitur, dan sebagainya).
Secara historis Timur-Tengah mendapat kunjungan para nelayan dari India Selatan (di daerah Yaman). Daerah ini asal-muasal wangsa-wangsa Arab. Sedangkan kaum pribumi asli adalah cikal-bakal kaum Yahudi saat ini, yang telah bercampur dengan para candala yang dibuang dari India semenjak masa Rama,Pandawa dan seterusnya. Para Candala ini dibekali dengan berbagai weda , arca-arca hewan ternak dan budaya India kuno.
Tidak mengherankan kalau kemudian nabi agung mereka yaitu Abraham memuja lingga-yoni yang terbesar di dunia yang dikenal dengan nama Ka’bah saat ini, lengkap dengan mandir Shiva-Durga, Ganesha, Subramaniyam dan sebagainya. Subramaniyam (Kumara) identik dengan Nabi Daud (David), yantranya bintang sudut enam dengan dua garis disamping adalah yantra Subramaniyam (dewa dharmanya para dewa). Namun karena mantram yang ada diberbagai sudut bintang tersebut telah dihapus maka turunan Abraham akan berperang terus sampai akhir jaman tanpa kendali. Nama Tuhan Kaum Judea adalah Yehovah, sangat identik dengan Zeus (Yunani) dan Brahma (India). Sifat-sifat Tuhan ini tersirat sangat pedendam dan gemar membalas umatnya yang sesat dengan berbagai bencana.
Kitab-kitab suci mereka disebut Taurat, Zabur dan Injil (Perjanjian lama) adalah ajaran weda dan wedanta yang bukan saja mirip bahkan dalam berbagai versi adalah foto-copy ajaran dan kebiasaan / legenda kaum dharma. Manu dikenal dengan Nuh, Soleman adalah Vikramajit, Genesis adalah Vedanta dan sebagainya. Terus ke Kristus yang pernah mendalami dharma di India, dan John sang pembabtis yang mewisudi Kristus mirip kaum suci di Sungai Gangga, menunjukkan bahwa telah masuk pengaruh Waishnawa, Buddhisme dan Shiwais ke ajaran-ajaran Kristus (sebenarnya ada 50 injil, namun yang hadir sekarang hanya 3 saja).
Lahirnya Islam merupakan evolosi budaya, kultur dan kemajuan spritual di Timur-Tengah, merupakan sebuah akumulasi dari berbagai pengaruh tersebut di atas. Itulah mengapa sebabnya Kanjeng Nabi Besar Muhammad saw sangat menghormati Hindhu dan nabi-nabinya serta mendeklararasikan Ka’bah sebagai kiblatnya umat Muslimin sedunia sesuai dengan wahyu-wahyu yang beliau terima dari Allah swt. (konsep Hindhunya Durga).
Para pengarang buku Hindhuisme,’’ The greatest religion in the world’’ menyatakan bahwa agama-agama di Timur-Tengah adalah penyelewengan ajaran weda. Saya pribadi tidak setuju dengan istilah yang terkesan agak kasar tesebut. Bagi saya pribadi yang telah meneliti berbagai agama selama puluhan tahun melihat ‘’penyelewengan ‘’ ini sebagai improvisasi alami dari weda-weda sesuai dengan evolusi yang dijalaninya di berbagai belahan bumi . Weda adalah pohon dan akar utama, agama-agama lain yang lahir dari-Nya adalah cabang-cabangnya, dan dari cabang-cabang ini lahir berbagai ranting (Shakta, sekte,aliran dan lain-lain). Jadi kalau weda-weda sudah menyebar ke 6 milyar manusia dewasa ini, tentu saja nada-nada, rupa, dan bentukpun telah berimprovisasi secara alami.
Semua ini adalah kehendak-Nya semata, kaum dharmais seharusnya tidak terpengaruh oleh pengotakkan–pengotakkan semacam itu namun harus berbangga karena weda telah menjadi sumber inspirasi , kultur dan sebagainya dari umat manusia sampai dewasa ini. Kebinnekaan adalah wujud-wujud ciptaan-Nya semata yang sudah menjadi kehendak-Nya jua. Kita harus menghormati hak absolut Hyang Maha Esa ini, karena hanya Beliau sendiri yang faham akan segala misteri dan lila Beliau.
Konon Stephen Knapp, salah satu penulis ‘’ Hindhu agama tersebar di dunia’’ pernah berkata bahwasanya yang hakikatnya adalah nama modern untuk filosofi weda, khususnya yang berwujud spiritual yang dihubungkan dengan Indra. Dan mereka-mereka yang mengikuti ajaran-ajaran dan kaidah weda disebut Arya. Arya bukanlah ras manusia tertinggi selama ini yang dikenal umat manusia namun sesungguhnya lebih mengarah sebuah pedoman standar hidup yang ideal(ideal way of life).
Seorang yang bijak, arif dan lurus perilakunya di dalam masyarakat disebut sebagai seorang Arya (gentleman), dalam pengertian Islam di sebut Insan-Kamil. Kata ar berarti putih atau jelas, dan kata ya mengacu ke Yadhu, Tuhan atau Krishna (Baghavatam,Illahi). Arya dapat disebut jalan pencerahan menuju ke arah Bhagavatam. Dan semua pemahaman duniawi maupun spritual ini dijabarkan melalui berbagai ajaran Weda yang kemudian menyebar ke seluruh Tanah Bharata dan melampaui batas-batas negara dan bahkan menyebar sampai ke dunia barat.
Sanatana Dharma resminya adalah Weda plus Hindhuisme, Jainisme, Buddhisme dan Sikhisme, dan sebagainya. Namun secara tidak kita sadari juga adalah ajaran agama-agama besar lainnya karena mereka semua telah terpengaruh bersumber pada Weda, Vedanta, Upanishad, dan sebagainya.

II. KARAKTER DAN BAGIAN-BAGIAN WEDA.
Karakter atau ciri-ciri utama dari berbagai weda adalah:
1.Anadi (tanpa pemula).
2.Apurusha(tanpa pengarang)
3.Sumber akar setiap ciptaan.

Namun lebih jauh dari itu semua, maka nada atau swara, kidung-kidung dan mantra Weda seandainya disuarakan akan mengaktifkan sistem-sistem syaraf halus kita dan sekaligus mempengaruhi lingkungannya, yang berakibat temaram dan shantinya lingkungan, insan dan makhluk yang hadir di lingkungan ini, kondisi ini sangat universal sifatnyanya.
Tidak ada satu agama lain yang sedemikian peduli dengan kehidupan lain seperti ajaran-ajaran Weda (Dharma). Bunda Weda bersabda: “Bukan hanya mahluk yang berkaki dua yang harus sentosa, namun juga mereka-mereka yang berkaki empat, semak belukar, pepohonan, gunung, sungai……….dan seluruh ciptaan-ciptaan ini.”
Teks-teks Weda sarat dengan berbagai makna yang tidak terbatas sifat dan pemahamannya. Sloka-sloka Weda disusun secara puitis dan indah. Weda berisikan kaidah kehidupan yang selaras bagi umat manusia secara menyeluruh, bagi seisi semesta yang tanpa batas ini. Ajaran – ajaran ini tersusun secara sistematis dalam berbagai jalur sosial, filosofi, pengetahuan, sains, agama, ritual, kesehatan dan sebagainya.
Dari permulaan kelahiran sampai akhir hayatnya, manusia dharmais dituntun oleh berbagai ajaran Weda, agar si manusia ini mendapatkan keselamatan dan mencapai hakikat-Nya. Namun lebih dari itu kode etik sosial dan spritual Weda-Weda adalah sebenarnya anak-anak tangga yang menuju ke suatu strata Bhagavatham (Illahi) yang lebih Hakiki. Weda terdiri dari empat bagian yang amat penting: Rig – Yajur – Sama – Atharwa.

A. RIG WEDA SAMHITA
Terdiri dari stanza (sloka) yang pada awalnya disebut “Rik”, yang berati puji-puji. Setiap Rik adalah sebuah mantra yang merupakan pujaan bagi dewa-dewi masing-masing. Kumpulan dari berbagai Rik disebut Sukta.
Rig Weda Samhita memuat lebih dari 10.000 Riks (tepatnya 10.170 Riks). Keseluruhan Samhita dari 4 Weda tersebut di atas berjumlah 20.500 mantra. Rig Weda memuat 1028 Sukta yang terbagi dua kelompok yang terdiri dari 10 Mandala dan 8 Ashtaka. Dimulai dengan Sukta yang memuja Agni dan diakhiri dengan puja-puji ke Agni juga.
Diantara berbagai Weda ini Rig Weda secara menyeluruh memuja-muji para dewata. Namun dari permulaan (Upakarma) sampai ke akhir (Upasamhara) karya ini berbicara tentang Hyang Agni, jadi banyak pemuja kemudian menghubungkannya hal tersebut sebagai pemujaan api kepada Hyang Agni (Agni-Hotra). Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah cahaya Bhagavatam (Jyotir,Tat Savitur) yang hadir di dalam kesadaran seorang manusia (Atma Chaitanyam).
Sukta terakhir Rig Weda ke Agni bersifat amat universal : “Semoga setiap insan berfikir dan bersatu dalam suatu pemikiran. Semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta kasih. Semoga tujuan semua manusia selaras hendaknya. Semoga semua makhluk berbahagia dalam suatu kesatuan itikad.” Demikianlah akhir dari Rig Weda yang agung ini.
Kaum bijak sangat menghormati Rig Weda karena sedemikian adiluhung dan sakral isi ajaran-ajarannya, yang kesemuanya ditujukan ke semesta dan segala isinya. Sebagai contoh : ritus pernikahan ditiru dari pernikahan (wiwaha) putri Hyang Surya, umat Khatholik sering mengutip ayat-ayat Weda yang ada di Injil tanpa mereka sadari sewaktu melakukan upacara pernikahan. Terdapat juga dialog-dialog sarat yang amat bernuansa spriritual tinggi antara Purorawas dan Urwasi. Resi Kalidasa gemar sekali menyitir bagian-bagian ini dalam ajaran-ajarannya.
Rig Weda dianggap sebagai yang tertinggi diantara weda-weda lainya, karena kandungan isi dan maknanya amat kaya raya. Darinya juga berasal jalan aksi (karma- yoga) yang tersirat dan terkandung di dalam Yajur Weda, darinya juga terkandung unsur-unsur musik yang terdapat dalam Sama Weda. Di setiap sakha terdapat tiga bagian yang disebut Samhita, Brahmana, dan Aranyaka, kesemuanya disebut Adhyayana. Kata Samhita berarti : “Sesuatu yang telah dikoleksi dan kemudian diatur secara sistematis”.Brahmana berbicara tentang nilai-nilai spiritual, ritual Aranyaka memuat berbagai hal selanjutnya.

B. YAJUR – WEDA
Kata yajur berasal dari kata yaj yang berarti memuja. Kata yajna berasal dari yaj yang bermakna puja-pengorbanan. Kata yajus berarti menerangkan prosedur ritualistik (Yajna). Dengan kata lain berbagai mantra di Rig Weda diwujudkan dalam bentuk puja, ritual, aksi dan sebagainya di dalam Yajur Weda. Kalau Rig Weda melantunkan dan menghaturkan berbagai mantram, konsep dan puja-puji, maka Yajur Weda mengaktualisasikan ritual-ritual tersebut.
Yajur Weda terbagi dalam dua sakha (cabang utama) seperti juga Weda-Weda yang lainnya. Kedua bagian ini adalah sukla Yajur Weda Samhita juga dikenal dengan nama Wijasaneyi Samhita. Kata Wijasaneyi berarti Surya . Konon Resi Yaajnawalkya telah membawa kembali Samhita ini ke dunia, setelah mempelajarinya kembali dari Hyang Surya, oleh karena itu Samhita ini disebut Wijasaneyi Samhita.
Ada sebuah kisah yang menarik yang berhubungan dengan Resi Yaajnawakya ini. Pada mulanya Resi Weda Wyasa membagi Weda ini menjadi empat bagian . Pada jaman tersebut Yajur Weda hanya terdiri dari satu bagian saja. Demikian yang diajarkan dan yang diturunkan Resi Wyasa kepada Resi Waisampayana. Resi Yaajnawalkya juga juga mempelajarinya demikian juga dari sang guru, Waisampayana. Namun pada suatu ketika terjadi kesalah-pahaman sang guru kepada muridnya. Dan sang guru memerintahkan Yaajnawalkya untuk mengembalikan semua ajarannya, karena sang guru sudah tidak berkenan lagi kepada sang murid. Yaajnamalkya setuju akan usul sang guru, kemudian ia memuja kepada Hyang Surya. Dan Hyang Surya berkenan mengangkatnya sebagai murid. Kemudian lahirlah tafsir baru sebagai ajaran Hyang Surya kepada Yaajnawalkya.
Itulah sebabnya kenapa karya ini disebut sebagai Wijasamemi atau Sukla Yajur Weda. Ajaran ini disebut Sukla (putih), sedangkan ajaran Resi Waisampayana disebut hitam (Krishna Yajur Weda). Kedua-duanya lalu menjadi Yajur Weda Samhita. Krishna Yajur Weda terbagi dalam bagian tang disebut Samhita dan Brahmana.
Intisari dari Yajur Weda adalah nilai-nilai baik dari berbagai Karma-Wedik (ritual dan pahala-pahalanya) Taittariya Samhita yang terdapat di Krishna Yajur Weda menerangkan berbagai prosedur secara mendetail Contoh-contoh ritual Yajna seperti Darsa Purnawarsa, Somayasa, Wajapeya, Rajasuya, Asmaweda dan sebagainya.
Kemudian ada mantra-mantra yang tidak tedapat dalam Rig Weda, contohnya Sri Rudram. Pada jaman ini di India, Kaum Hindhu lebih banyak berpedoman pada Yajur Weda. Walaupun demikian ajaran Sukla Yajur Weda sangat dominan di India Selatan. Yajur Weda juga memuat lebih banyak lagi hal mengenai Purusha Sukta yang hadir di Rig Weda.
Yajur Weda sangat penting bagi kaum Adwaitin (penganut filosofi non- dualisme). Taittariya Upanishad terwujd di Krishna Yajur Weda, Brahadaranya Upanishad terwujud di Sukla Yajur Weda. Kedua karya tersebut bersifat mahakarya dari kaum Adwaita (baca berbagai karya Upanishad yang hadir di web-site kami : shantigriya.tripod.com (tanpa www) atau melalui www.tripod.com

C. SAMA WEDA
Kata sama berarti:”Pembawa shanti ke jalan pikiran”. Kata lainnya: “membahagiakan dan mendamaikan jalan pikiran”. Ada empat cara untuk berperang melawan musuh yaitu: Sama, dana, bheda, danda. Sama berarti mengalahkan musuh dengan melalui media wacana dan cinta kasih.
Berbagai Riks di Rig Weda berubah menjadi melodi-melodi pujian di Sama Weda, mantra-mantranya tetap namun melodi-melodinya menjadi lebih lengkap (Sama Gana). Sama Gana adalah dasar dan sumber tujuh nada swara dalm sistem musik India. Dalam Bhagavat Gita Sri Krishna bersabda:” Diantara berbagai Weda, Akulah Sama Weda”. Demikian pentingnya Weda yang satu ini diantara weda-weda yang lainnya.

D. ATHARWA WEDA
Atharwa berarti seorang yang suci, konon memang ada seorang yang bernama Atharwan yang menjabarkan Atharwa Weda ini ke dunia luas. Di Weda yang satu ini menghadirkan berbagai mantram yang dirancang untuk menolak bala, iblis dan menghancurkan para musuh. Di sini terdapat juga berbagai mantra bagi para dewata, kesemuanya ini tidak hadir di berbagai weda lainnya.
Terdapat juga hymn-hymn yang menggambarkan ketakjuban akan alam semesta dan berbagai ciptaan–Nya. Bagian ini disebut “Prithwi Suktam”. Hyang Brahma adalah kebanggaan Weda ini. Tiga Upanishad utama yang terwujud dari Weda ini adalah: Prasna, Mundaka, dan Mandukya Upanishad, yang terakhir berarti jalan moksha seorang pencari kebenaran sejati.
Mantra Gayatri yang paling agung dan suci, yang merupakan pemujaan pertama di dunia kepada Tuhan Yang Serba Maha berasal dari intisari yang hadir di Rig-Yajur-Weda-Sama Weda. Atharwa Weda hadir dengan sebuah mantra lainnya. Mantra ini disebut Atharwa Gayatri. Untuk mempelajari diperlukan inisiasi khusus dengan benang suci (Upanayanam) yang disertai dengan ajaran yang disebut Brahmopadesa. Baru kemudian ajaran ini diturunkan oleh sang guru kepada sang murid.
Di India Utara kaum terpelajar dalam bidang Atharwa Weda ini jumlahnya sangat sedikit, padahal di masa-masa yang lalu tempat ini adalah lumbung ajaran ini. Sedang di India Selatan kaum Athar Wedin tidak murni kwalitasnya. Dan hanya sedikit kaum terpelajar Atharwa Weda yang ada di Gujarat, Sawashtra dan Nepal.
Keempat weda-weda ini terkesan berbeda satu dengan yang lainnya. Weda pertama dan kedua berjarak 4000 tahun, 1000 tahun kemudian lahir weda yang ketiga, dan empat ratus tahun selanjutnya hadir weda yang keempat. Namun esensinya ternyata satu dan sama yaitu kelestarian dan kesentosaan mahluk dijagat raya ini dan menuntun setiap insan ke jalan spritual yang utama.
Uniknya tak satupun weda-weda ini yang menyatakan dirinya sebagai “satu-satunya jalan pencerahan ataupun satu-satunya jalan Tuhan “ seperti yang diklaim agama-agama lain. Sebaliknya semua Weda in menyatakan, setiap jalan atau medium (dewata, malaikat, dan sebagainya) adalah wahana atau jalan ke hakikat yang benar.

Ajaran Sri Yesus

AJARAN SRI YESUS

Konsep kepercayaan di dalam agama Kristen mengatakan : “Penebusan dosa di dunia yang menderita ini ditanggung melalui kematian Yesus Kristus”, namun Holger Kersten mengatakan : “Doktrin dari Kekristenan tradisional hampir secara eksklusif merupakan ide-ide palsu Paulus, dan tidak penah disebarkan oleh Sri Yesus dalam bentuk seperti itu.”
Paulus mengajarkan bahwasanya inti ajaran Yesus berpusat pada kematiannya, yang membebaskan orang-orang yang beriman dari dosa mereka, dari kesengsaraan dan dari kekuatan setan. Sebenarnya tidak satu katapun yang ditulis Paulus dan surat-suratnya merupakan ajaran Yesus yang sebenarnya, Paulus juga tidak pernah menyebut suatu cerita perumpamaan yang dipaparkan Yesus; sebaliknya ia hanya menyebarkan filsafat serta ide-ide pribadinya sendiri. Kalau kita simak dengan baik, maka Yesus Kristus adalah seorang Asia, namun “ajaran-ajaran-Nya malahan diperkaya oleh orang-orang Eropah, dan seakan-akan merupakan Nabinya orang Eropah daripada orang Asia.” Lihat saja perayaan Natal yang amat Eropah-sentris daripada Asia-sentris.
Holger selanjutnya berkata : ”Jadi Paulus adalah seorang guru manusia yang mengubah “berita sukacita” menjadi “berita ancaman” dan menyiratkan bahwa “hanya itu saja” yang dapat menunjukkan jalan menuju keselamatan.” Dengan kata lain Holger ingin mengatakan ajaran Yesus telah “diplintir atau dikorupsi” oleh Paulus untuk maksud-maksud tertentu. Apalagi pada saat penyaliban Sri Yesus, semua murid-muridnya berubah menjadi pengecut, ada yang menjualnya, dan yang lainnya bersembunyi, membiarkan sang guru disalib tak berdaya tanpa ada yang mau membela atau berkorban demi Sri Yesus, hal ini mungkin adalah hal yang paling menyakitkan dan merupakan aib terbesar para murid-muridnya sehingga Yesus memutuskan kembali ke India, demikian kesimpulan sementara peneliti India, di India Beliau ternyata diterima kembali dengan tangan terbuka.
Dewasa ini, agama Kristen konon telah terpecah-pecah menjadi lebih dari 3200 sekte-sekte di dunia, masing-masing mengklaim kebenaran dan keselamatan melalui tafsir-tafsir mereka sendiri. Ada yang pernah menjual paspor ke sorga, ada yang pernah mengkapling-kapling bumi dan menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dan membunuh jutaan manusia di kawasan-kawasan ini atas nama Yesus Kristus. Di Jakarta saat ini ada ratusan Hindu India yang “terhipnotis dan terkena brain-washing” dan demi uang dan keuntungan mereka merubah agama mereka. Mereka ini boleh mejalankan adat-istiadat Hindu seperti perkawinan, kematian, dsb tetapi semua buku-buku suci mereka termasuk alat-alat sembahyang dan arca-arca dibuang atau dihancurkan. Namun setelah itu masuklah ke-rumah-rumah para penganut baru ini gambar-gambar Yesus dsb yang sebenarnya diharamkan oleh Sri Yesus itu sendiri, karena apa bedanya sebuah arca dan sebuah gambar. Tempat-tempat pemujaan Kristiani gaya ini dibangun di apartemen, ruang toko bagian atas dan tempat-tempat yang tidak dicurigai penduduk setempat. Yang aneh pada perayaan Imlek kali ini, upacara Imlek masuk gereja dan ditampilkan di media elektronik. Ajaran Yesus seperti hukum sebab-akibat, Sermon on the mount, meditasi dan kehidupan kembali malah kurang diperhatikan. Pokoknya setiap penganut wajib membayar 10 persen dari income mereka ke gereja, dan sebaliknya gereja mengakomodasi massa untuk berbelanja di tempat-tempat umat Hindu dan Buddhis ini. Bahkan supir dan pembantu rumah tangga yang sudah dikristenkan pun melayani kaum kaya yang mau masuk ke agama Kristen ini.
Demikianlah sekilas data-data yang ada di India, Tibet, Ladakh, Kashmir, Pakistan dan Afghanistan. Diperlukan ribuan halaman dan ratusan peneliti dalam bidang theologi, agama, dsb. untuk menjelaskan berbagai fakta-fakta semua agama yang belum terungkap dengan jelas, agar umat manusia dapat disadarkan bahwasanya kita umat manusia adalah satu ras bangsa sesuai ajaran-ajaran yang ada di Veda-Veda, di Taurat, Injil, dan Al-Quran, dengan berbagai nabi-nabi yang diturunkan-Nya dari masa ke masa untuk berbagai suku bangsa yang teramat bhineka ini. Kesemuanya agar menjadi pemersatu dan pengagum Keagungan Tuhan Yang Maha Esa, bukan dengan saling menjelek-jelekkan atau saling berperang demi nafsu pribadi atau kebodohan-kebodohan pribadi. Nabi agama yang satu ternyata bisa saja merupakan Nabi umat yang lain, contohnya Nabi Adam dan Ibrahim apalagi Nabi Nuh adalah milik semua umat manusia. Demikianlah hormat kami kepada semua nabi dan umat-umatnya, kepada semua ajaran-ajaran agung di mana saja.
Pengaruh Hindu-Buddhis juga masuk ke China seperti yang kita ketahui selama ini. Ajaran Bunda Saraswati menjadi ajaran Kwan-Im, ajaran Buddha dan para bodhisatwa pun masuk ke China, Korea dan Jepang dst. China sendiri juga memiliki Nabi-Nabi yang budiman dan dashyat, seperti Lao Tse, Kong Ho Cu, para dewa-dewa China seperti Yam-Lo-Ong, dsb. Perpaduan antara Dharma dari India dan agama lokal di China menghasilkan suatu budaya bangsa yang hebat. Konon sewaktu saya ke Kanada pada tahun 2001, maka sejarah bangsa Indian membuktikan adanya pengaruh Hindu-Buddhist dalam budaya America-Indian dengan berbagai situs-situs arkeologi di Mexico, Peru, Bolivia dan sebagainya yang dikenal dengan nama budaya Aztec, Peruvian, dsb. Di daerah Solo, sedang dibangun sebuah kawasan yang disebut Sonosewu, di mana semua miniatur Hindu-Buddis dari seluruh dunia dihadirkan di kawasan ini, termasuk yang dari Amerika Latin, Hawai, Fiji, dst.
Sebelum penulis mengakhiri tulisan ini, ingin saya sarankan kepada umat Hindu Dharma di Indonesia untuk sekali-kali membuka Injil bagian Wahyu (revelation). Anda akan terkejut karena Kalikin-Purana ternyata hadir di bab ini hampir secara utuh. Di Wahyu, Yesus menegaskan bahwasanya Ia akan kembali sebagai pengantin pria yang didampingi oleh pengantin wanita dan akan menumpas habis iblis dsb. Karya ini persis seperti kelahiran Vishnu yang akan datang yaitu Kalikin yang menunggang kuda dan menebas habis kejahatan yang amat memuncak di zaman kali. Teori Purusha dan Prakirti Hindu hadir tersirat dengan nyata di karya Wahyu ini, tetapi umumnya para pendeta Kristiani menolak menjabarkan yang satu ini, entah karena mereka tidak berani atau karena bertolak-belakang dengan teori keselamatan yang mereka suguhkan secara indah. Terus terang di Wahyu Yesus akan menumpas seluruh unsur-unsur kemunafikan, kejahatan dan sifat-sifat iblis yang hadir di muka bumi ini tanpa kompromi apapun juga.
Mungkin sudah waktunya kaum Hindu membentuk sebuah forum solidaritas antar agama dan sekte-sekte yang hadir di Indonesia untuk mengatasi berbagai friksi-friksi yang ditimbulkan melalui pelecehan-pelecehan yang terjadi di India, Indonesia, Denmark, dst agar dapat kita selesaikan secara pro-aktif dan damai, karena mengacu ke arah kesatuan ras bangsa dunia ini yang juga satu adanya dan disebut Homo-Sapien Erectus yang adalah kita semua ini. Setiap pemuka agama dari golongan manapun juga harus berani menegur dan menindak umatnya yang kurang ajar terhadap umat lain atau agama lain. Jangan umat sendiri didiamkan, tetapi kalau dicubit umat lain lalu ramai-ramai merusak. Pengaturan etika beragama yang benar, tanpa mencuri umat lain harus diatur oleh kita untuk kita juga. Hal-hal yang bersifat komersil dalam agama manapun harus kita buang jauh-jauh dan para ulama harus saling berkunjung dan berwacana ke umat-umat lain demi terjalinnya tali persaudaraan di antara kita, yang kemudian akan diteladani oleh umat awam; atau kita semua akan mendapatkan laknat dari-Nya.
Coba diperhatikan dan dipelajari dengan baik. Seratus atau dua ratus tahun ke depan, apakah agama-agama masih akan eksis, kalau “produksi”nya masih seperti sekarang ini ? Melihat perkembangan agama Nasrani yang makin merosot dan hampir punah di kawasan Eropah, Amerika (USA), dan Australia, maka jelas sudah peranan agama akan diambil alih oleh sains dan teknologi di masa depan.
Kaum Hindu di Indonesia harus belajar dari berbagai fenomena yang kasat mata ini. Berbagai ritual yang konsumtif akan segera menghilang dari penalaran kaum muda, apa kita sudah menyediakan media alternatif Hindu yang bernuansa ke depan ? Di masa depan kata para ahli, Tuhan akan dihayati melalui sains dan teknologi, dengan kata lain agama masa depan lebih praktis dan lebih logis. Filosofi plus “spiritual-knowledge” saja. Lalu apa yang sudah disiapkan oleh PHDI, dan para cendekiawan Hindu di Indonesia untuk anak-cucu kita ?.
Di India para resi-resi modern menekankan pada ajaran-ajaran spiritual dan filosofi tanpa bertentangan dengan sains dan teknologi, karena Dewa Brahma adalah dewanya Teknologi, lihat berbagai perlengkapan pertukangan di atas singgasananya, sedang Ganeshya membuka horizon kita ke arah ilmu pengetahuan bumi dan universal (skala dan niskala), tanpa Beliau tidak ada upacara yang sah. Itu berarti ilmu pengetahuan lebih diutamakan daripada ritual-ritual. Sri Krishna bersabda yagna yang paling utama adalah Yagna dalam bentuk ilmu-pengetahuan. Anak-anak muda saat ini sudah piawai dalam mengelola komputer dan HP, yang di masa lalu disebut cupu dan penglihatan Wyasa. Sekarang Wyasa sudah hadir di era teknologi dalam bentuk pengetahuan dan perangkat yang canggih. Beliau tidak perlu lagi menghadirkan Mahabharata kepada Dristarata dari jarak jauh, karena media elektronik sudah mengambil-alih peran tersebut. Lalu apakah kita masih akan tetap dungu dan terikat kepada sistem kasta, dsb ?. Saya yakin kalau sebutan Widhi yang berarti pengetahuan luas tidak dijabarkan secara baik. Kaum muda menjadi resah melihat kaum tua ibarat “keledai dungu” yang melenguh tiada henti-hentinya tetapi telah ketinggalan jaman di era teknologi yang makin hari makin tidak terkejar ini.
Prediksi Kali-Yuga mengatakan dharma yang berkaki satu akan menang di atas adharma yang berkaki tiga (kebodohan, keangkuhan dan kejahatan). Namun yang memiliki Widya (ilmu-pengetahuan) akan berada di atas ketiga faktor ini. Lalu apakah hal ini sudah dihayati oleh kaum cerdik-pandai kita atau hanya sibuk berseminar dengan pepesan kayu kosong, atau sibuk melaksanakan ritual-ritual dengan biaya mahal ? Untuk itu ikuti sabda Dalai Lama yang hidup di Dharmasala, yang mengatakan agar kita juga belajar dari berbagai praktek positif umat agama lain dan lalu aplikasikan ke agama kita kalau perlu demi lestarinya dharma kita sendiri.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Mohan M. S.
Shantigriya Ganeshya Pooja
Cisarua, 20 Januari 2006

Nabi Daud (David)

NABI DAUD (DAVID)

Di kitab Perjanjian Lama, kisah Nabi Daud amat mirip dengan kisah pergulatan (peperangan) Dewa Murugen yang melawan seorang Asura. Bedanya Murugen melawan raksasa yang amat besar di kawasan Indraloka, padahal tubuhnya amat kecil, dan akhirnya memenangkan pertempuran dan diangkat menjadi panglima perangnya para dewa dengan nama Skanda, dan hidupnya senantiasa sebagai seorang brahmacharya, berumur di bawah enam tahun. Beliau dipuja di setiap kuil Shiwa dan Durga disamping dewa-dewa Navagraha dan Sri Ganeshya. Di Israel Nabi Daud juga bertubuh pendek sekali, beliau mengalahkan seorang raksasa yang mengganggu kaumnya di muka bumi ini. Setelah kemenangannya Beliau beristrikan 99 wanita dengan alasan pada masa itu belum ada peraturan tentang perkawinan. Sewaktu ingin mempersunting istri yang keseratus, Nabi Daud ditegur Malaikat dan ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Kedua tokoh ini mempunyai simbol yang amat mirip. Perhatikan di bawah ini :
Simbol Murgen (cakram 6 sudut)
plus mantram

Simbol Nabi Daud (sekarang bendera Israel)
(mantram sudah dibuang)

Simbol Nabi Daud entah apa sebabnya menghilangkan mantra-mantranya, akibatnya cakram tersebut menjadi wahana perang adharma sampai masa kini. Kaum Hindu percaya selama mantram tidak direhabilitasi maka perang di Timur-Tengah antara anak-cucu Ibrahim tidak akan pernah berhenti, karena umat-umat ini sudah terkutuk dari masa ke masa akibat tidak beriman kepada Yang Maha Esa secara total. Sebaliknya simbol Murgen adalah perang dharma, yang secara simbolis harus dimulai dari diri sendiri seperti yang terdapat dalam sabda-sabda Nabi Muhammad S.A.W. Meditasi ke arah Dewa Murgen secara tulus di bawah seorang guru spiritual yang handal akan menghasilkan kebangkitan Kundalini murni. Dan hal itu teramat sulit baik secara filosofis maupun ritual. Jadi tidak ada itu pembangkitan Kundalini yang dijual para instruktur lokal baik di India maupun Indonesia atau manapun juga, karena dapat menimbulkan ketidak-stabilan buat jiwa dan raga. Ilmu meditasi seperti yang pernah disebut-sebut di bab sebelumnya bersifat amat rahasia (rahasya) dan hanya diturunkan secara hati-hati kepada yang terpilih saja. Dewa Murgen di Bali disebut Kumara.
Perjanjian Lama tidak menyebut dari mana datang kesaktian Nabi Daud, tetapi Shastra –Widhi Hindu mengisyaratkan bahwasanya Dewa Murgen pernah berkelana di Timur-Tengah dan menjadi guru spiritual Nabi Daud (baca Enclopaedia tentang Sri Ganeshya, juga legenda Ganeshya dan Murgeshen). Sewaktu tenaga inti Kundalini bangkit di dalam seseorang, maka tubuh orang tersebut tidak dapat luka sedikitpun. Bangkitlah kesaktian aneka rupa dalam tubuh manusia itu, juga bersamaan bangkit juga nafsu sex yang amat tinggi, karena kedua faktor tersebut hadir di Muladhara Cakra tubuh setiap manusia. Kesaktian adalah sisi lain dari seks itu sendiri. Seks adalah daya cipta agung setiap manusia. Bayangkan ada satu Atman dalam setiap sel spermatozoa, dan setiap pria punya jutaan sel setiap harinya. Melalui praktek brahmachari dan meditasi spiritual gaib, maka dapat dihasilkan teja dan oja melalui pengekangan seperti yang dialami para dewa dan resi-resi di zaman lampau.
Ternyata putra Daud, yaitu Nabi Sulaeman juga pemuja Shiwa Mahadewa dan juga mendapatkan berkah tersendiri dari dewa Murgen. Lambang Murgen adalah Merak dan tangkai pena, yang secara simbolis berarti keindahan dan kebijaksanaan yang terselubung atau didampingi oleh ilmu-pengetahuan. Dewa Murgen dapat berbahasa dalam semua bahasa fauna dan flora. Demikian juga berkah yang didapatkan Raja/Nabi Sulaeman (Solomon) ini. Sekali lagi dalam bahasa setempat Solomon berarti “berkah dari Tuhan.” Berkah tersebut adalah mampu berbahasa semua jenis fauna dan flora, jin dan malaikat. Raja ini disebut raja Vikramaditya di India yang jajahannya sampai ke jazirah Arabia, dan ikut membangun kembali Kabah, dan membawa kembali agama yang benar (agama Veda-Veda) ke wangsa Arabia pada eranya.
Konon setelah berpulangnya Nabi Daud, ada 10 suku Israel yang dikabarkan menghilang. Namun para ahli barat, seperti pendeta Joseph Wolf, (sarjana hukum dan teologi), sersan Riley, seorang sarjana Perancis, G.T Vigne, Dr. James Bryce, Keith Johnson, A. Burnes, Dr. George Moore, dsb. masing-masing berargumentasi bahwasanya kesepuluh suku Israel yang hilang ini telah meninggalkan jejak-jejak mereka di Afghan, China, Iraq, dan Kashmir. Namun mayoritas peneliti condong ke Afghan dan Kashmir (keduanya adalah wilayah India juga pada masa lalu). Banyaknya kata-kata yang mirip dalam bahasa Kashmir dan Ibrani (Hewbrew) menambah bukti adanya hubungan antar dua wangsa ini. Di bawah ini, sebagian kecil kata-kata ini kami hadirkan seperti berikut :

NO. NAMA DALAM BAHASA kASHMIRI NAMA
ALKITABIAH REFERENSI
AL-KITAB
1 Amal Amal Tawarikh 7:35
2 Asheria Asher Kejadian 30:13
3 Attai Attai 1 Tawarikh 12:11
4 Bal Baal 1 Tawarikh 5:5
5 Bala Balah Yosua 19:3
6 Bera Beerah 1 Tawarikh 5:6
7 Gabba Gaba Yosua 18:24
8 Gaddi Gaddi Bilangan 13:11
9 Gani Guni 1 Tawarikh 7:13
10 Gomer Gomer Kejadian 10:2

Dan masih amat banyak lagi. Kemudian bandingkanlah nama-nama berbagai lokasi di bawah ini :
NO. TEMPAT DI KASHMIR NAMA PROPINSI DI ALKITAB REFERENSI
AL-KITAB
1 Agum Kulgam Agur Amsal 30:1
2 Ajas Srinagar Ajah Kejadian 36:24
3 Amom Anantnag Amon 1 Raja-raja 22:36
4 Amariah Srinagar Amariah 1 Tawarikh 23:19
5 Aror Awantipur Baalpeor Bilangan 25:3
6 Behatpoor Handwara Bethpoor Bilangan 34:6
7 Birsu Awantipur Birsha Kejadian 14:2
8 Harwan Srinagar Haran 2 Raja-raja 19:12

Dan seterusnya dan seterusnya. Perhatikan sekali lagi kata Haran (daerah asal menjangan, bukankah Sir Stamford Raffles, membawa menjangan-menjangan langka ini dari Kashmir dan mengembang-biakkan di Bogor ?, konon sekarang malahan dijadikan sate menjangan di kawasan Cisarua, setelah dipromosikan oleh Gus Dur). Padahal menjangan-menjangan ini berasal dari tempat kelahiran Nabi Ibrahim.
Penduduk Kashmir berbeda dari ras-ras lainnya di India. Mereka umumnya bermata biru dan coklat. Karakter dan penampilan mereka, budaya dan cara hidup dan bermasyarakat masih terjaga dari dahulu sampai sekarang, dan semua kebiasaan ini menurut para peneliti sangat identik dengan kaum Israel di Timur-Tengah. Misalnya kesamaan penutup kepala pria (Jarmulka) sampai cara baris-berbaris yang masih sama. Di Israel dan di Kashmir seorang wanita yang baru melahirkan dilarang mandi selama 40 hari, suatu budaya amat kuno di zaman Vedik. Selain bentuk-bentuk makam yang sama, janganlah kaget kalau banyak pemuda Israel yang sekarang ke Kashmir untuk menyelusuri jejak nenek-moyang mereka, apalagi bahasa mereka amat mirip dengan bahasa Kashmiri.

Nabi Isa (Jesus Kristus), Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim dalam jajaran Sanatana-Dharma

NABI ISA (JESUS KRISTUS),
NABI MUSA, DAN NABI IBRAHIM DALAM
JAJARAN SANATANA-DHARMA

Menurut para ahli Bible (Injil), maka terdapat 52 versi Injil yang hadir di Timur-Tengah dan Eropah, dan tidak semuanya memuat sabda-sabda suci Sri Yesus itu sendiri. Demikian juga dengan berbagai terjemahan-terjemahannya, yang bahkan diterjemahkan ke bahasa Papua dan Bali, berbagai dialek India dan Indonesia, yang makin lama makin kabur makna-makna aslinya karena tidak diterjemahkan dengan profesional. Huruf-huruf yang teramat kecil tanpa teks asli sabda-sabda Yesus membuat para ahli bingung akan keabsahan naskah-naskah Bible dalam berbagai versi ini, apalagi agama Kristen ini sudah pecah menjadi 3200 sekte yang setiap sektenya mengklaim ajaran Kristennya yang benar. Masih untung tersisa sedikit di-sana-sini berbagai ajaran Sri Yesus yang bersifat universal, namun amat tercerai-berai karena ada sedemikian banyak versi. Dari kesemuanya yang masih dianggap asli, maka para ahli menyimpulkan adanya kesamaan ajaran Hindu akan “agama yang lurus dan lempang” yaitu agama kebenaran yang selaras ke bawah dengan agama Islam dalam intinya namun berbeda ritual-ritual dan beberapa prinsip dasarnya. Kemudian ke atas selaras sekali dengan ajaran Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Adam dan lebih ke atas lagi amat mirip dengan ajaran Sang Buddha dan berbagai ajaran yang hadir di Sanatana Dharma itu sendiri. Mathius (3:10) menyabdakan hukum karma secara tersirat :
“Dan saat tampak itupun diletakkan di akar pohon
tersebut, oleh sebab itu setiap pepohonan yang
tidak menghasilkan buah (pahala) yang baik akan
ditebang jatuh dan dibuang ke dalam api.”
Penulis tidak akan terlalu banyak menerangkan tentang Bible di bab ini, namun menekankan kepada sedikit catatan-catatan yang hadir di perpustakaan kaum Hindu dan Buddhis, khususnya mengenai hadirnya Sri Yesus itu sendiri baik di masa-masa muda, maupun di masa tuanya di India, Sindh (Pakistan saat ini), Afganistan dan Tibet serta Ladakh (negara bagian India), dsb. Bagi umat Hindu sendiri keberadaan Sri Yesus sudah diketahui semenjak 2000 tahun yang lalu, sampai kini masih tersisa puluhan yogi yang tinggal di pegunungan Himalaya dan Kashmir yang mengaku sebagai turunan maupun pengikut Kristus, namun perilaku mereka tidak berbeda jauh dari rekan-rekan yogi Hindu dan senantiasa hidup mengembara dan bercampur dengan kaum suci Hindu maupum Muslim. Kaum Dharma di India mengakui Sri Yesus Kristus sebagai seorang Yogi yang teramat agung dengan segala kekuatan-kekuatan super-naturalnya ibarat seorang Avatara, bukan seperti Yesus yang disalib. Hal ini didasarkan akan perilaku dan kesaktian Beliau yang amat mirip dengan para kaum suci Hindu-Buddhis dan menjurus ke perilaku Avatara yang sesungguhnya, namun belum dapat dijelaskan Avatara siapa, walaupun nama Isa sinonim dengan Shiwa. Ajaran Beliau “Sermon on the mount (khotbah di atas bukit)” jelas mirip dengan ajaran 8 roda dharmanya Sang Buddha.
Namun Sri Yesus mengalami pembaptisan oleh Yahya Sang Pembaptis, mirip sekali dengan pembaptisan umat Hindu yaitu dimalukat di sebuah sungai yang dianggap sakral. Ada ahli yang mengatakan metode pembaptisan ini mirip ritual kaum Essenes (Yogi-Shivais) yang hadir sebelum Yesus lahir di Betlehem, dan Yahya adalah kaum ini juga, perhatikan baju yang dipakainya hanyalah kulit harimau yang menutupi bagian aurat dan perutnya saja, dengan jenggot yang lebat dan tanpa harta duniawi sedikitpun. Yahya hidup sebagai Brahmacharya (selibat) seperti umumnya kaum Hindu yang suci. Demikian juga halnya dengan Yesus dan murid-muridnya yang hidup serba sederhana dan hidup dari pemberian amal umat yang meyakini ajaran dan muzizat-muzizatnya. Sebaliknya kaum paus di Vatican hidupnya serba wah-wah, memakai jubah kebesaran, tahta, singgasana, dsb. yang jauh dari amanat dan ajaran Yesus untuk meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi ini. Tidak mengherankan kalau di era ini umat Eropah, Amerika dan Australia serta Kanada telah meninggalkan gereja karena muak dengan perilaku yang amat bertentangan dengan ajaran-agung-Nya. Al-Quran-Al-Karim mengakui keberadaan Sri Yesus yang disebutnya Nabi Isa (Issa). Di dalam ajaran yang mulia ini Yesus disebut-sebut sebagai penganut ajaran yang lurus dan lempang dalam kesatuan jajaran Musa, Ibrahim, Nuh dan Nabi Adam. Beliau hadir sekitar 600 tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W.
Para peneliti abad ini dan abad-abad sebelumnya banyak yang berpendapat bahwa Nabi Ibrahim (Abraham = Brahmana), leluhur bani Israel sebenarnya adalah seorang individu historis dan spiritual agung yang dilahirkan sekitar 700 tahun sebelum Yesus. Kemudian pada era itu Tuhan yang diyakininya, yang dalam bahasa Ibrani (Israel) memerintahkannya : “Pergilah dari negerimu dan dari sanak-saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12:1).
Ada sebuah teori yang diajukan oleh seorang ahli barat bernama Blavatsky; ia mengatakan asal-usul Nabi Ibrahim adalah daerah India kuno karena fonetik kuna bahasa Sansekerta hadir terserap di dalam bahasa Ibrani. Namun di samping itu bukankah huruf-huruf Ibrani adalah kemiripan dari huruf-huruf Pali ?. Dalam bukunya yang berjudul “ The Secret Doctrine” (Doktrin Rahasia), H.P. Blatvasky menunjukkan bahwasanya asal-usul wangsa Israel kuno adalah kaum Chandala (kafir berat, versi Hindu), yaitu sebuah bentuk status masyarakat yang paling rendah, tanpa etika dan moral, bahkan ada yang pemakan daging manusia dan gemar melakukan hubungan incest, sodomi, dsb. Teori ini sebenarnya merupakan pengetahuan umum di India. Pada era-era tersebut Nusantara dibangun secara dashyat oleh para raja-raja Hindu, namun dalam perjalanan mereka melalui jalan laut, banyak keluarga Chandala dibuang ke jazirah Arab, sewaktu ekpedisi Hindu ini melalui teluk Arabia. Dan hal ini berlaku dari era Rama sampai ke era Pandawa dan seterusnya antara 4000 tahun sampai 3000 tahun yang lalu. Sewaktu kaum Chandala dibuang ke daerah ini, diberikan kepada mereka bibit-bibit tumbuh-tumbuhan, Veda-Veda, Vedanta, Upanishad, pengetahuan membangun rumah, hewan peliharaan, dsb. Pada masa itu kaum Hindu tidak memakan babi karena dianggap kotor (tamasik). Menurut catatan yang ada di India, maka hewan seperti itik, kerbau tidak dapat bertahan hidup karena faktor geologi, namun kambing dan sapi serta anjing bertahan dengan baik. Pada era itu para pria Chandala disunat oleh kaum yang membuangnya dengan alasan agar tidak bercampur dengan kasta-kasta yang lain. Hal tersebut malahan menjadi hikmah tersembunyi untuk kebersihan genital mereka karena sulitnya air di kawasan tersebut. Kedua kebiasaan ini yaitu, pantang memakan babi dan sunat menjadi tradisi turun-temurun di Timur-Tengah sampai saat ini. Sunat dalam pelaksanaannya adalah wajib bagi kaum Israel, tidak dianjurkan dalam agama Kristen dan sunah dalam agama Islam.
Ternyata para Chandala ini sebagian terdiri dari kaum kasta brahmana dan berbagai golongan kasta-kasta yang lain yang terhukum karena berbagai kasus kriminal dan perbudakan di era itu. Sementara dari mereka mengambil perlindungan di daerah Chaldea Aria (kini Iran), di Sindh (kini Pakistan) dan seterusnya melanglang melalui Khyber-pass ke jazirah Israel pada awal 8000 tahun sebelum Masehi, itulah eksodus awal mereka yang sesuai dengan zaman Sri Rama.
Menurut kitab Perjanjian Lama, maka Nabi Ibrahim berasal dari sebuah negara di Timur, dari ras bangsa Terah, dan pada saat itu Ibrahim menyembah Allah yang lain (perhatikan kata Allah yang sudah ada pada masa itu),(Yosua 24:2-3). Berdasarkan kitab Kejadian II-32, Abraham (Ibrahim) berasal dari daerah yang disebut Haran (berarti menjangan, daerah yang banyak menjangannya), yang adalah pemukiman kecil di India Utara, yang sampai saat ini tetap dikenal dengan nama kota Haran, tidak jauh dari kota Srinagar di Kashmir, India. Kata Haran ini lalu diabadikan sebagai nama sebuah daerah di sebelah barat laut Mesopotamia oleh Nabi Ibrahim. Kata “Ibrani” sendiri berarti “orang-orang yang tidak mempunyai kediaman tetap dan tidak memiliki hak-hak yang permanen” yang berarti bangsa Israel.
Sedangkan kata Manu, manus (manusia), di Mesir berubah menjadi Manes (pencetus hukum = Nuh), sedangkan kata Minos berarti bangsa Kreta yang belajar hukum di Mesir. Musa, pencetus 10 firman Allah di zamannya itu, mendeklarasikan bentuk-bentuk hukum baru yang harus dipatuhi masyarakat Israel. Manu sendiri dalam bahasa Sansekerta juga berarti “manusia sempurna pencetus hukum”. Kitab-sucinya disebut Manawa Dharma Shastra, yang berisikan hukum-hukum secara amat tegas bahkan terkesan sangat mengerikan mirip hukum kisas, dsb. Hukum-hukum ini amat berdampak ke agama-agama di Timur-Tengah (baca Manawa Dharma Shastra). Kesemua kata-kata tersebut di atas memiliki sumber akar-kata Sansekerta yang sama yaitu manu (s), yang juga berasal dari kata mano + assa. Mano (mana = pikiran), (assa = memiliki) yang berarti manusia = seseorang yang memiliki daya pikiran. Musa sendiri di dalam Mesir berarti “anak yang dilahirkan kembali”, namun dalam bahasa Ibrani berarti “menyelamatkan dari air”. Semua fakta ini sesuai dengan (Keluaran 2:10). Konon para ahli Barat mengatakan Nabi Musa meninggal di daerah Kashmir, India, dan sampai saat ini makam Beliau masih hadir dan oleh penduduk setempat disebut “Muquam-I-Musa”. Di daerah ini (area Srinagar), tepatnya di Bijbihara (bihara = kuil, wihara, tempat-suci) terdapat “pemandian Musa”, di lokasi ini terdapat sebuah batu keramat yang disebut Ka-ka-bal atau Sang-I-Musa (batu Musa). Perhatikan kata Ka-Ka-Bal yang mirip dengan kata Kabalah dan Kabah. Menurut legenda setempat batu yang beratnya sekitar 70 kg ini dapat mengapung jika sebelas orang menyentuhnya setiap orangnya satu jari saja dan melafalkan mantra “ka-ka-ka-ka” pada waktu yang bersamaan. Angka sebelas dan satu batu itu sendiri menggambarkan jumlah suku-suku bangsa Israel. Ka-bal (Ka-bah) dalam bahasa Sansekerta berarti batu (Ka) dan bal (bertuah, penuh kesaktian) = “batu yang sakti.”
Juga di sebelah utara Srinagar terdapat Kohna-I-Musa (batu landasan Musa) dipercayai sebagai tempat Nabi Musa beristirahat. Masih banyak legenda tentang Musa di lokasi-lokasi ini.
Menyusul berpulangnya Nabi Musa, maka kedua belas suku bangsa Israel secara bertahap meningkatkan pengaruhnya ke seluruh kawasan Kanaan di bawah pimpinan Yosua pada abad XII sebelum Masehi. Namun baru pada pertengahan abad X sebelum Masehi negara Israel menjadi suatu negara kesatuan dengan ibukota Yerusalem (Yerusalem, Yerusalom = Kota pemberian Tuhan ?). di bawah pemerintahan Nabi Daud (David), sansekertanya mungkin Murgen, atau Murgeshen (Subramaniyam) yang berputerakan Sulaiman (Solomon) = manusia yang diberkati dalam bahasa Sansekerta = Vikramaditya), maka sebuah kuil dibangun. Kuil ini amat terkenal. Menurut Dr. Mateer dalam karyanya “The Land of Charity” (Tanah Penuh Berkah), maka Sulaiman berasal dari India. Konon bukti-buktinya ada di Srinagar dan Ujain. Di Srinagar terdapat sebuah kuil yang disebut “Takht-I-Sulaeman” (Takta Sulaeman) yang disebut juga Baghi Sulaeman = Taman Sulaeman. Kuil ini dipugar kembali pada tahun 78 AD oleh Raja Gopadatta dari Kashmir (turunan Sulaeman).
Berdasarkan sissilah Al-Kitab, maka Nabi Abraham adalah keturunan langsung dari Nabi Nuh (Noah) yang merupakan pilihan khusus Tuhan di antara umat manusia era itu, beliau diselamatkan dari banjir dashyat yang terjadi sekitar 4000 tahun sebelum masehi. Ada sekitar 250 legenda mengenai banjir dashyat ini di seluruh dunia termasuk legenda-legenda di Tana-Toraja, Sulawesi selatan, dan Tanah Batak kuno. Kesemuanya ini mengacu ke Shastra-Widhi Hindu yang disebut Vishnu-Purana (legenda kuno Sang Hyang Vishnu, Tuhan Maha Pengayom). Legenda-legenda ini hadir di India, Peruvia, dan juga di versi polynesia.
Kashyapa, yang dalam legenda Hindu berarti kura-kura (penjelmaan Vishnu pada era pengadukan Mandaragiri). Konon pada era tersebut umat Hindu percaya bahwasanya bumi ini bentuknya rata mirip punggung kura-kura yang agak melengkung, dan senantiasa mengambang di atas air. Kashyapa juga berarti Tuhan dan anak-anaknya di bumi ini. Dalam bahasanya kaum Israel hadir perihal yang mirip sekali. Bahasa Ibraninya, Israel berarti anak-anak Tuhan (Yesus juga dianggap anak Tuhan). Dan Tanah Tuhan berarti “Kashyab-Mar” yang identik dengan kata Kashmir saat ini, dahulunya Kashyab-Mar = Tanah asal bani Israel.

Atharva – Weda dan Pemanasan Global

Atharva – Weda dan Pemanasan Global
( The Green Weda)

Berbagai weda-weda yang merupakan harta kebudayaan dan spiritual juga merupakan warisan ilmu pengetahuan nan tak ternilai yang tidak lekang dimakan sang waktu. Kata “Vid” yang bermakna “mengetahui atau memahami” adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan (widya) bagi weda-weda ini, yang berhubungan dengan realitas tertinggi dan kosmologi. Weda menyatakan hadirnya sebuah bentuk kesadaran yang agung, hakiki dan murni sebagai landasan dari setiap ciptaan (Brahman). Tahap kausal diri kita adalah kesadaran itu sendiri yang juga terdiri dari komposisi tubuh, jalan pikiran, emosi,intelek yang kesemuanya adalah cabang-cabang dan ranting-ranting kesadaran ini.

Rig, Yayur dan Sama-Weda lebih menekankan pada peningkatan alur spiritual kita dari tahap rendah menuju tahap kesempurnaan melalui berbagai tata-cara, ritual, dhyana, dan pemahaman psikologis dst. Namun Atharva –Veda bersinggungan langsung dengan dunia materi ini! Para ahli Veda di India menyebutnya sebagai “ancient counterpart of modern science and technologi”. Didalam Atharva-Veda akan kita temui berbagai arahan yang berhubungan dengan ilmu kesehatan ( Medical Science) astrologi, astronomi, material-science dan teknologi, physical, chemical dan hological science, plus engineering, dsb. Namun banyak pengetahuan yang hilang dimakan peperangan, dan sang waktu, Tetapi esensi Atharva-Veda yang tersisa tetap diakui dunia sampai kini sebagai sumber inspirasi Modern-Science.

Atharva-Veda memiliki posisi unik karena langsung dan bersinggungan dan bermanfaat bagi dunia ini, bagi manusia, berbagai ciptaan diatas bumi,bagi kemakmuran, persatuan, kesehatan, persahabatan, pemerintahan, kesejahteraan umur, dsb.dsb. Para Resi di Atharva-Veda memuja para dewata melalui yajna memohon agar manusia diberikan usia panjang dan kesehatan yang prima. Bukan itu saja Weda yang satu ini memberikan berbagai jalan (keterangan) bagi umat manusia, juga sekaligus menegur kita umatnya agar tidak merusak diri dan lingkungan kita sendiri. Kata weda ini “raga dan jalan pikiran yang sehat akan menghasilkan produktivitas dan kesejahteraan yang berusia panjang”.

“Tubuh ini memang akan musnah suatu saat tetapi mengapa harus cepat-cepat? Anugrah dalam bentuk raga manusia ini dapat disejahterakan dan hidup dinikmati secara sehat, dan brertahan lama”. Menurut Atharva –Veda, hidup manusia seharusnya sampai 100 tahun, ini disebut ideal. Para dokter sekarang mengakuinya ( baca “sehat itu murah” oleh Dr Handrawan Nadesul). Di Jepang hal itu dimungkinkan! Jadi hidup harus dinikmati dulu sebaik-baiknya bagi kemajuan lahir dan batin (spiritual).

Weda yang satu ini berwacana, bahwasanya unsur-unsur Ilahi yang suci (Bhagawatam), adalah penunjang utama untuk menggapai usia yang panjang namun sehat. Unsur-unsur suci ini menjaga manusia dari berbagai rintangan yang selalu siap menjegal di setiap sudut dan ruang waktu sewaktu kita alpa dan lalai akan hakikat anugrah kehidupan ini.

Bayangkan di Weda ini ada keterangan-keterangan menakjubkan yang baru terungkap di sains modern dewasa ini seperti manfaat susu dari sapi yang berkulit hitam-legam lebih prima daripada susu dari sapi yang berwarna lain. Ada juga manfaat emas dan berbagai logam bagi kesehatan tubuh. Perhatikan di pasaran kini banyak diperjual-belikan gelang dan kalung-kalung magnetik bagi kesembuhan. Ada juga ajaran secara psikologis yang harus dikombinasikan yaitu yang berhubungan dengan prilaku kita sehari-hari seperti berbuat baik, bersandar pada kebenaran, perbuatan-perbuatan positif, pikiran-pikiran mulia, menjauhkan diri dari berbagai stress dan pikiran-pilkran negatif dan berprilaku ahimsa (non-violence, tanpa kekerasan).

Hadir juga di Atharva-Veda, resep-resep herbal khusus (jamu), puasa, pranayama, dhyana (Samadhi), menggunakan energi matahari dan rembulan, api dan air, udara dan ether, bumi, kayu, dst. Pada masa kini manusia membabat bumi habis-habisan, tanpa sadar hampir seluruh mata rantai sumber-sumber kehidupan ikut dimusnahkan, itu berarti sebentar lagi kitapun akan gosong-total oleh pemanasan global. (Saat ini di Kuwait City sudah mencapai 49 ºC, Mekah 45 ºC, Bagdad 47 ºC, New Delhi 42 ºC, Jakarta 39 ºC, dsb)

Muncullah berbagai resistensi penyakit karena mata rantai dalam bentuk bakteri, kuman, flora, fauna dsb ikut hilang dari atas bumi dan lautan. Manusia sedang menggali lubang kuburnya sendiri dan juga bagi anak-anak dan cucu-cucunya!. Berbagai penyakit baru seperti HIV, Ebola, dsb jadi mendadak hadir dan merusak tatanan kesehatan kita belum lagi kanker kulit yang akan merajalela, di Australia dan Israel.

Atharva-Veda, menyatakan semua itu seyogyanya dapat tereliminasi melalui perilaku-perilaku positif kita dan rasa toleransi ke bumi dan lingkungan kita. Di atas semua itu hadir juga berbagai mantra-mantra yang dapat menimbulkan energi-energi positif yang dapat menghilangkan efek-efek negatif polusi, bencana alam, dsb. Resi Yoga-Vasistha pernah mengajarkan mantram-mantram suci yang disebut sebagai rangkaian mantram Bhusukta. Atharva adalah putra beliau, yang kemudian menulis dan merangkum ajaran-ajaran Resi Yoga –Vasistha dan dikenal saat ini sebagai Atharva-Veda.

Menurut Vishnu-Purana, Atharva-Veda adalah ungkapan “ilmu pengetahuan para resi yang merupakan hasil evolusi dari meditasi mereka”. Atharva-Veda lebih lanjut sabda purana ini menyumbangkan ilmu-ilmu asal para resi-resi yang masing-masing bernama: Sumanta, Kabandha, Jaimine, Dewadarsa, Pathya, Madha, Brahmabali, Soutyayani, Pippalada, Jabali, Kumudadi, Sounaka, Saindhawa dan Manjukesi, dst.

Para resi ini dalam wacana-wacana dan mantram-mantramnya berkata banyak tentang nilai-nilai positif demi mencegah terjadinya polusi, perubahan cuaca drastis, dsb ribuan tahun yang lalu, toh umat manusia yang jumlahnya 6.5 milyar ini merusak tatanan bumi ini tanpa ampun karena jumlah penduduk yang makin miskin dan awidya makin meluas.

Berbagai ajaran-ajaran, hikayat-hikayat, tabu-tabu, pamali-pamali dsb hadir di Weda ini agar manusia menjauhi perusakan bumi, karena bagi para resi pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan.

Salah satu mantra bahkan berbunyi: “ Madhuvataritayate-bhawantunah “ yang bermakna amat luas yaitu : “ Semoga semua memusiman, sungai-sungai, samudra, pagi dan malam, debu-debu bumi ini, langit, kosmologi, dunia fauna dan flora (botanical world), surya, sapi-sapi dilimpahi nektar suci (madu yang manis). Selanjutnya Atharva-Veda melarang manusia untuk mempolusi air sungai dan lautan dengan buang air besar dan kecil, bahkan bersanggama atau meludah di airpun dilarang! Nilai-nilai ini sebenarnya hadir sampai sekarang di India dan Nusantara dalam ajaran-ajaran Karuhun dan lontar-lontar kita pada masa lampau.

Air dibumi ini disebut nektar atau madu yang manis, tidak boleh tercemar sedikitpun. Para resi sering melantunkan puja dan puji: “ Semoga tirta (air) memurnikan bumi dan selanjutnya semoga bumi memurnikan diri kami, semesta raya dan berbagai racun-racun yang kami konsumsi baik yang tertinggal di dalam tubuh kami dan maupun yang tersisa di luar tubuh kami; Mantram agar bencana alam dijauhkan berbunyi: “Rtasadhratathamagnin gandharvah – Swaha”. Dapat diucapkan 108x melalui agni hotra (homa) yang amat kecil, sederhana dan tanpa polusi, (diajarkan oleh shanty griya). Sebenarnya mekanisme cahaya mentari (surya), dan mentari (bulan), setiap hari membersihkan bumi ini, sayang ozon sudah rusak jadi mekanisme ini ikut rusak juga.

Padahal berbagai Weda menyiratkan bahwasanya aksi atau perbuatan-perbuatan (karma) yang baik akan menghasilkan pahala yang baik dan demikian juga sebaliknya. Berbagai ajaran akan proteksi flora dan fauna, bumi dan lingkungan yang bersumber pada Vedanta dan berbagai Puranas juga disiratkan oleh Kristus di Bible Of The Essenes, dan oleh Nabi Muhamad di berbagai hadis-hadisnya, warna simbolik Islam adalah hijau (kehijauan) dan bab-bab Al-Quran-Al-Karim banyak bersamaan dengan ajaran Raja Vikramaditya, seperti ayat kursi, lebah, semut, dsb.

Dr. Vidula Subrahmanyam Ph.D, dalam salah satu makalahnya menulis betapa pentingnya weda-weda ini bagi umat manusia di jaman Krta, Treta, Dwapara dan Kali-Yuga ini agar dapat mencapai kedamaian abadi, kesucian dan kesehatan prima setiap individu yang memahami dan mempraktekkan ajaran-ajaran ini! Kata Beliau Atharva-Veda adalah payung emas di jaman Kali ini seandainya difahami dengan baik, untuk melestarikan kembali bumi dan segala isinya. Dengan demikian derajat manusia dapat terangkat kembali ke level yang suci dan agung (divine). Keempat weda berisikan ajaran-ajaran yang berunsurkan “micro-atomic structure” yang senantiasa berkembang penalarannya sepanjang jalan, khususnya di era Kali-Yuga yang penuh dengan inovasi tehnologi dan sains.

Atharva-Veda, wedanya ilmu-ilmu pengetahuan ini terdiri dari 20 bab dengan 731 suktas (plus 5987 mantras). Dulunya para pendiri Barat menyatakan bahwasanya weda ini bersifat primitif dan kekanak-kanakan. Namun sekarang sebagian besar para ahli ini justru kagum. Albert Einstein sendiri menyebut penemuannya di bidang atom bersumber pada ajaran-ajaran weda! Nah, Saudara-saudaraku kaum dharmais, apakah anda masih tertarik mempolusi bumi ini tanpa memperhatikan kelangsungan hidup anak-cucu kita nanti? Atau seperti anjuran Dr Fatah Singh, seorang peneliti Hindu (Sikh) yang menulis agar kita segera berubah menjadi manusia-manusia universal berdasarkan ajaran-ajaran Atharva-Veda ini. Beliau menyarankan untuk belajar “gisnu-yoga”, yoga pengendalian diri yang berdasarkan ajaran-ajaran weda seperti:
Kebenaran yang dijabarkan secara luas, Kebenaran dalam bentuk-bentuk dinamis, Kesadaran spiritual, bakti sebagai kewajiban-kewajiban duniawi, menyadari adanya prinsip-prinsip ekspansi semesta dan bakti sosial ke sesama mahluk dengan penyucian diri dan alam sekitar kita sendiri.

mohan m.s
Cisarua, 5 sept 2008

diedit oleh ; antonina uvi
bibliography : yoga sudha 1993

VI-VA-HA

VI-VA-HA
—————————
KEMENANGAN

“Semoga setiap insan berpikir dan bersatu dalam suatu pemikiran, semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta – kasih, semoga tujuan semua manusya selaras, dan semoga seluruh mahluk berbahagia dalam suatu perpaduan “itikad” – (sukta terakhir Rig-weda, puja-puji ke Hyang Agni).

Setelah melewati masa puber, maka pada umumnya pria dan wanita lambat laun akan matang alur pemikirannya dan gairah-gairah liar penuh nafsu-nafsu membara mulai mematang secara biologis, dan kedua jenis kelamin ini secara alami dipersiapkan tuk memasuki sebuah arena “peperangan dan perjuangan” baru yang disebut vivaha (persatuan, pernikahan dsb) padahal kata vivaha dalam bahasa Sansekerta berarti kemenangan-kemenangan yang bertahap. Vi adalah hari pertama memasuki ajang perkawinan, karena kedua pasangan telah berhasil menyatukan pandangan, misi dan visi kedepan, namun semua itu masih kabur dan tidak menentu karena bisa saja salah satu atau kedua-duanya tersandung di jalan kehidupan bersama yang amat sarat dengan berbagai cobaan-cobaan, suka-duka dan kerja keras yang meletihkan demi asah-asih-asuh keluarga yang penuh tanggung jawab. Konon kata para ahli jiwa 5 tahun pertama adalah masa krisis yang amat harus diperhatikan dan jangan dipertaruhkan karena dua insan dengan dua latar belakang berbeda harus saling berkorban dan “memaksakan” diri mereka tuk bersatu, dengan segala perbedaan-perbedaan mereka, cinta-kasih diantara keduanya masih terselubung nafsu dan belum kembali menjadi yadnya (pengorbanan), dan banyak pasangan muda pun berguguran karena hanya 3 bulan masa bulan madu, selanjutnya istri melendung, suami tersandung dan semua jadi bingung!

Itulah sebabnya para resi menyatakan, sebuah perkawinan itu adalah upacara yang teramat sakral, bukan asal berbenturan birahi, tetapi adalah ajang melahirkan”tuhan” itu sendiri dalam bentuk-bentuk saputra yang berguna tuk bangsa, Negara dan Dharma. Untuk itu diperlukan 25 tahun pertama agar perkawinan ini memasuki va (vi+va) Pada saat itu kalau pasangan suami istri ini masih menyatu sebagai keluarga dengan tetap mempertahankannya dalam suatu derita dan bahagia, maka dirayakanlah “viva”. Di masa lalu saat ini Sang Suami sebagai kepala rumah tangga sudah berusia sekitar 40 sampai dengan 50 tahun, ia pun lalu menyerahkan harta dan istrinya kepada putra tertua dan pergi bervarna-prastha selama lima tahun, mencari guru spiritual yang handal tuk bekal menjadi guru masyarakat sekitarnya, setelah lima tahun ia kembali ke keluarga dan berinteraksi dengan masyarakat, membagi-bagi semua hal-hal positif yang telah dipelajarinya selama ini. Pada usia perkawinan yang ke 35 tahun, keluarga besar ini akan merayakan vi+va+ha (vivaha), yaitu sebuah kemenangan berkeluarga yang berazaskan kesabaran, toleransi, suka dan duka yang dibagi dan diemban bersama-sama. Vivaha dalam hal ini bermakna kesuksesan, dengan kata lain Kama dan Artha telah bersinergi menjadi Dharma, dan tujuan menjadi manusyapun telah terlaksana dengan sempurna. Manusya barat yang belajar dari episode-episode vi-va-ha malah menirunya dengan hura-hura, pesta-pesta perkawinan yang disebut Silver Jubilee (kawin perak = 25 tahun), Golden Jubilee (kawin emas = 50 tahun) dan Diamond Jubilee (kawin intan = 75 tahun) tetapi penghayatannya amat berbeda! Di masa lalu sang pendeta akan menikahkan kembali kedua suami istri yang telah mencapai usia perkawinan ke 25 dan 35 secara amat sederhana dan bermakna. Masa kini hal-hal bermakna ini telah hampir sirna dan menjadi langkah, karena banyak yang bercerai sia-sia, karena rajin berselingkuh tanpa pernah sadar akan hakekat vivaha yang sebenarnya, tragis memang! Makna Dharma dalam perkawinan pun makin hari makin menjadi kabur.

Konon di masa permulaan Satya – Yuga, manusya pertama, manu merasa bosan hidup seorang diri selama berjuta-juta tahun, ia dilahirkan biseksual, biji-biji kemaluannya mengandung sperma perempuan di bagian kiri (= X) dan sperma laki-laki (= Y) di bagian kanannya, sampai saat ini pria normal dalam ilmu biologi, disebut heteroseksual dan Dharma Sastra Hindu menyebutnya sebagai Ardhana Geswara, sedangkan wanita adalah pengejawatahan bunda pertiwi, ia berstatus stri (istri = steril = x), simbolnya adalah merah darah (tanah), indung telur sewaktu menstuasi, sedangkan pria bersimbolkan warna putih, warna sperma yang disucikan (Kamandanu = air suci kehidupan hasil nafsu)

Pada mulanya setiap saat manu dapat bersahabat dan berbicara dengan Hyang Prajapati (Brahma) namun suatu hari sewaktu kebosanan hidup melajang sendiri menerpanya dia pun memohon agar dapat diberikan seorang teman pendamping tuk berbagi hidup ini, semenjak saat itu pria atau wanita selalu berhasrat mendapatkan pasangan karena merasa tidak lengkap hidup seorang diri, Prajapati yang maklum bahwasanya manusya akan segera berkembang biak lalu menyetujui dengan syarat manu hanya boleh memohon 2 kali lagi saja kepadanya, selanjutnya manusya tidak dapat menemui Sang Pencipta ini kecuali melalui meditasi (dhyana) yang berkesinambungan.

Malam tiba, manu tertidur lelap, Prajapati diam-diam mengambil sebuah spermatozoa dari telurnya yang kiri dan memasukkannya ke sebuah boneka yang dibuatnya dari tanah liat (sumbangan Pertiwi) jadi tidak seperti Injil dan Al-quran, maka wanita bukan hasil tulang rusuk Adam, tetapi amat biologis dan saintifis, adalah hasil dari sperma pria itu sendiri!

Prajapati pada malam itu (bulan Purnama) berjalan kearah timur sesuai “Wacana” yang diberikan oleh Sang Param Brahman (Tuhan yang Maha Tidak Terjabarkan), Pertiwi dengan mengucapkan Swaha (dengan ini kuserahkan yang terbaik dalam diriku) menyerahkan segumpal tanahnya yang paling baik dengan syarat pada saat kematian, manusya akan kembali kepadaNya, (dari tanah ke tanah), dan Prajapatipun menyetujuinya. Prajapati melihat kearah rembulan yang penuh cahaya dan bersabda,”berikan yang terhebat yang dikau miliki wahai dewa Chandra, dan bulan pun berkata Swaha, dan memasukkan inti kirananya ke dalam tanah liat di tangan Prajapati,tidak lama kemudian Prajapati bertemu seekor ular kobra yang amat berbisa, sang kobrapun dengan ‘Swaha”nya menyerahkan bisanya ke tanah liat tersebut. Demikianlah semalaman itu Prajapati berjalan terus ke arah Timur dan terus dan menemui berbagai ciptaanNya sendiri seperti bunga mawar yang menyerahkan keharumannya, burung beo dan kakatua yang menyerahkan gossip dan cerewetnya, burung merak yang menyerahkan tarian-tariannya yang mempesona, dan seterusnya pagi datang menjelang. Dalam kurun waktu itu berbagai ciptaan = di muka bumi ini telah men-Swaha-kan unsur-unsur inti mereka yang terbaik, terdashyat, terburuk dan terindah kepada sang calon manusya tersebut. Pagi tiba, Prajapatipun sampai ke tepi samudra, Surya menjemputnya dengan cahaya terang benderangnya, dengan Swaha Surya menganugrahkan teja dan samudra menyerahkan gelombang kehidupannya ( sejak saat itu vivaha menghadirkan gelombang dashyat).

Hyang Prajapati dengan seluruh unsur-unsur yang saling kontradiktif ini kemudian lalu menghembuskan Jiwanya ke dalam tanah liat yang telah berbentuk bayi ini dengan kata Swaha, dan di depannya berdiri seorang mahluk indah jelita, menawan, tetapi penuh ketegaran juga keragu-raguan, katanya lirih; “Aku ini siapa? Mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku ini? Dengan lembut Prtajapati bersabda : “Namamu adalah Shatarupa (hasil dari berbagai rupa-rupa) dikau dilahirkan tuk jadi sahabat Manu, bunda dari putra-putrimu, dharmamu adalah memperbanyak umat manusya agar terpenuhi Dharma yang berkesinambungan.Pergilah kearah pondok di arah timur, di dalamnya Manu sang Pria (Priya = kesayangan para dewa-dewa) sedang menunggumu.” Satharupa pun berjalan dengan lenggangnya yang menawan, penuh keharuman, dan pesona wanitanya, dadanya ranum ibarat kelapa muda penuh santan dan air surgawi (sejak saat itu wanita bersusu kehidupan)

Di depan gubuk kayu ia tertegun sejenak, lalu mengetuk pelahan, Manu tersentak bangun, ia membuka pintu dan terhenyak kaget bercampur pesona karena tiba-tiba ada mahluk indah menawan ibarat betari di depannya, konon saat itu manusya masih suci dan tidak berbusana, dan Manu pun langsung ereksi. Sejak saat itu di pagi hari para pria selalu ereksi bahkan bayi lalu pun begitu kata Weda shastra.

Keduanya langsung memadu kasih, lupa kepada yang lain-lainnya bahkan lupa kepada Prajapati yang menciptakan mereka, bertahun-tahun mereka dilanda nafsu membara dan larut dalam bahagia. Suatu saat secara biologis Shatarupa pun menstruasi tanda ia telah matang tubuhnya, namun Manu malah terhenyak takut, apalagi Shatarupa tiba-tiba berubah galak, marah-marah dan menjerit-jerit kesakitan, Manu pun lari ke hutan, galau dan duka, ia tidak percaya pada apa yang dialaminya dikasari oleh seorang wanita, namun tidak berkelanjutan lama, beberapa hari kemudian Shatarupa telah bersih kembali menjemputnya dan asyik masyuk berulang kali tiada tara, semenjak saat itu pria selalu lemah tidak berdaya di depan wanita.

Tiba-tiba suatu saat sang wanita menstruasi lagi, Manu pun shok berat lagi-lagi dan lagi-lagi, tetapi selalu Shatarupa akan kembali dan seks pun berulang-ulang lagi, akhirnya suatu saat Manu bosan dengan semua itu, (sejak saat itu pria sering bosan dengan ulah istrinya padahal sudah demikian kodrat wanita itu). Manu tiba-tiba teringat akan Prajapati, ia pun berdoa agar Hyang Prajapati berkenan mengambil kembali sang wanita, sejak saat itu wanita sering dikembalikan ke orang tuanya karena ego-ego suaminya. Prajapati berkenan mengambil kembali putrinya dengan catatan Manu hanya mempunyai satu kesempatan lagi tuk menemuinya.

Bertahun-tahun berlalu, pertama-tama Manu bahagia karena telah lepas dari “cengkraman’ wanita, tuk menyalurkan hasrat seksual-nya ia pun sering bermasturbasi (sejak saat itu pria gemar bermain-main dengan alat vitalnya (sejenis homoseksualitas karena dilakukan oleh pria ke pria itu sendiri). Tetapi lama kelamaan ia pun bosan, rasanya tidak lengkap tanpa wanita katanya munafik. (sejak saat itu banyak pria yang munafik di dunia ini!) karena “tergoda” dan tersandera oleh wanita. Ia pun menghadap ke Prajapati memohon agar Shatarupa dikembalikan, Shatharupa pun hadir, namun beliau tidak mau kembali ke Manu tanpa ada ikatan resmi di antara mereka dan sumpah setia dari sang Pria, Prajapati memohon sang Agni menjadi saksi, 33 juta dewa-dewi di Bhur, Bwah, dan Swah datang menghadiri, dan dilaksanakanlah upacara vivaha yang pertama ini di awal Satya Yuga. Sang pria tiga kali berputar kearah kanan (jarum jam) diikuti mempelai wanita, dan sang wanita berjalan satu kali ke kiri mengitari homa-Agni dengan sang Pria mengikuti dari belakang saling bertukar janji yang disebut Sapta Padi. Tiga kali putaran pradaksina pria berarti tiga janji ke Bhur, Bwah, Swah, namun wanita karena ia lebih kuat lahir dan bathin (9 kali lebih kuat daripada pria), maka wanita cukup dengan satu putaran saja. Demikianlah vivaha pertama yang mesti dilakukan oleh umat Hindu India sampai saat ini. Rig weda pun bersabda: “Apa yang telah dipersatukan tidak boleh dipisah-pisahkan bahkan oleh para dewata,”karena semua dewa-dewi langsung berseru,”Swaha” (kata-kata yang mirip ini ada di Injil).

Manu kemudian dalam “Manu Samshita” membuat peraturan-peraturan baru demi lestarinya umat manusya dan memutuskan lembaga vivaha sebagai suatu pelaksanaan dharma yang sakral. Namun di zaman Kali-Yuga ini, makna-makna kehidupan umat kita telah mulai memudar, semoga kisah kecil yang kami ulang ini dapat mengasah pedoman tuk yang masih ingin melestarikan vivaha sebagai sebuah bentuk dharma yang berkesinambungan, untuk itu kami sarikan Sapta Padi seperti di bawah ini :

SAPTA PADI
(TUJUH LANGKAH SUCI)

Bukan saja upacara pernikahan pasangan Hindu Dharma amat menarik dan penuh dengan pernak-pernik, warna-warni, namun juga amat sarat dengan filosofi kehidupan dan komitmen antara pasangan mempelai yang amat mendalam sifatnya. Tujuannya adalah untuk hidup dan berdharma bersama-sama seumur hidup. Apapun shakta (sekte)nya , dharma tidak memperkenankan perceraian. (Saat ini salah satu pasangan dapat menikah kembali sesuai dengan peraturan pemerintah, baik di India maupun di Indonesia). Pernikahan menjadi lebih indah dan berarti kalau diisi dengan janji calon suami-istri seperti di bawah ini:

SAPTA PADI

1. Wahai kekasihku, pada saat
dikau mengikuti tujuh langkahkahku,
maka cinta kasih dan persahabatan kita akan berubah
menjadi abadi. Kita akan
menikmati persatuan spiritual dengan Yang Maha Esa.
Pada saat ini dikau telah menjadi milikku
Secara lengkap dan kuserahkan jiwa-ragaku
Kepadamu. Pernikahan
Ini adalah mlilk kita selama-lamanya.
1. Wahai junjunganku, sesuai dengan kehendak-Nya dan Shastra Widhi, aku telah menjadi pasanganmu, apapun wacana yang kita janjikan telah diekspresikan melalui jalan pikiran yang murni. Kita berdua akan menghasilkan berbagai pahala untuk satu dan yang lainnys. Kita akan mengasihi satu dan yang lainnya selama-lamanya.
2. Wahai kekasihku,
dikau telah memenuhi rongga-rongga
di hatiku, sewaktu dikau mengikuti langkah ke enam denganku.
Semoga kedamaian senantiasa memenuhi
Kita sepanjang masa.

2. Wahai junjunganku, aku berjanji kepadamu akan senantiasa berpartisipasi dan bersama-samamu sepanjang waktu dan dalam segala perbuatan kebenaran, kesucian dan kenikmatan.
3. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah melaksanakan langkah yang ke lima bersamaku. Semoga Yang Maha Esa memberkahimu.
Semoga mereka-mereka yang kita kasihi hidup lama dan berpartisipasi dengan kemakmuran yang kita miliki.

3. Wahai junjunganku, aku berbagi rasa dalam setiap suka dan dukamu. Cinta kasihmu akan menumbuhkan kepercayaan dan rasa hormatku untukmu. Aku akan melaksanakan berbagai kehendakmu.
4. Wahai kekasihku, merupakan berkah yang agung bahwasanya dikau telah mengikuti langkahku yang ke empat bersama-samaku. Dikau telah membawa serta berbagai kesakralan dan kesucian dalam hidupku ini.
Semoga kita dikaruniai dengan putra-putri yang setia dan berperilaku agung. Semoga merekapun panjang usianya. 4. Wahai junjunganku, aku akan menghiasmu dari ujung kaki ke mahkota kepalamu, akan kuhiasi dengan berbagai kalungan bunga dan perhiasan, akan kuusapkan vibhuti cendana di keningmu dan kuwangikan dikau dengan wewangian semerbak mewangi.Aku akan melayanimu dan membahagiakanmu dalam setiap hal yang dapat kulakukan demi dirimu.
5.Wahai kekasihku, pada saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang ketiga. Melalui upacara ini , semoga kebajikan dan harta benda kita berdua akan bertambah. Aku akan memandang setiap wanita ibarat aku menatap saudara perempuanku. Bersama-sama kita akan mendidik putra-putri kita. Semoga mereka hidup lama. 5. Wahai junjunganku, aku akan mencintaimu sebagai suamiku melalui baktimu yang tunggal. Semua pria akan kuperlakukan ibarat memperlakukan saudara laki-lakiku. Baktiku kepadamu adalah bakti seorang wanita yang setia dan suci, dikau adalah kebahagiaanku. Inilah janji setiaku kepadamu.
6. Wahai kekasihku, saat ini dikau telah mengikuti langkahku yang kedua, dan mengisi hatiku dengan kekuatan dan semangat.Bersama-sama kita berdua akan menjaga keutuhan rumah-tangga dan kesejahteraan anak-anak kita.
6.Wahai junjunganku, di dalam kesedihanmu kupenuhi dengan semangat dan kekuatan. Di dalam kebahagiaanmu aku akan bergembira-ria. Kuberjanji akan senantiasa membahagiakan dikau dengan kata-kataku yang manis dan menjaga keutuhan keluarga dan putra-putri kita bersama. Dan dikau akan senantiasa mengasihi aku sebagai istrimu yang satu-satunya.
7. Wahai kekasihku, cita-cita kita berdua bertambah tegar sewaktu dikau melangkah satu langkah denganku. Dikau akan mempersiapkan santapan dan menunjangku dalam setiap hal. Daku akan membahagiakanmu dan mempersiapkan segala sesuatu demi kesejahteraan dan kebahagiaan putra-putri kita. 7. Inilah persembahan yang teramat sederhana bagimu, wahai junjunganku. Karena dikau telah mempercayai dan mengamanatkan pertanggungjawaban keluarga di pundakku, mengawasi santapan dan harta bendamu. Maka aku berjanji akan memikul seluruh tanggung jawab dan kesejahteraan keluarga dan putra-putri kami.

Pada saat terakhir, Manu memohon ke Prajapati dengankata-kata berikut ini :

“Dengan wanita aku tidak dapat hidup,
tetapi tanpa wanitapun aku tidak sanggup hidup.”

(Semenjak saat itu semua manusya bersandarkan bundanya dari awal kelahiran sampai matinya kembali ke pangkuan Bunda Pertiwi)

mohan m.s
Cisarua, November, 13-2009
diedit oleh: antonina

Rekreasi dalam Hindu Dharma

Rekreasi dalam Hindu Dharma

Yoga ini sebenarnya bukan untuk yang makan terlalu banyak, dan juga bukan untuk seseorang yang terlalu menghindari makanan. Yoga inipun bukan untuk seseorang yang tidur terlalu banyak, atau yang terlalu tidak banyak tidurnya, oh Arjuna!
Yoga ini menghapuskan semua penderitaan seseorang yang berimbang (temperamen) dalam cara ia makan atau berekreasi, yang terkendali tindakan-tindakannya dan teratur bangun tidurnya.
Bhagawat-Gita

Seseorang yang mempunyai kebiasaan bermeditasi harus ingat bahwa ia harus hidup secara teratur dan seimbang dalam segala tindak tanduknya sehari-hari. Adalah salah kalau ia makan terlalu banyak, karena bukan nya ia makin kuat karenanya tetapi malahan fungsi pernafasannya dalam meditasi akan menjadi kacau, dan bagi seorang brahmacarya kelebihan gizi malahan akan merusak (menambah) semua hasrat-hasrat seksualnya. Terlalu banyak makan dan atau kekurangan selalu menghasilkan kekacauan dalam fungsi-fungsi tubuh kita dan hilanglah keharmonisan dalam raga dan usaha spiritual kita. Semua yang kita lakukan sebaiknya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, cukup-cukup yang wajar-wajar saja dan tidak berkelebihan porsi maupun menguranginya secara drastis. Ini namanya harmonis dalam segala-galanya.
Makanan yang dimakanpun sebaiknya yang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita dan cocok dengan pencernaan setiap individu secara masing-masing, tidak boleh ada yang dipaksakan ataupun memakan makanan yang tidak perlu untuk tubuh kita. Juga secara mental dan spiritual harus diperhatikan dengan amat sangat agar tidak memakan sesuatu hasil dari perbuatan tidak baik atau negatif,seperti hasil dari korupsi atau uang haram lainnya, tetapi benar-benar harus hasil keringat yang halal dan suci.
Puasa yang amat berkepanjangan harus dicegah, puasa itu perlu tetapi harus teratur dan tidak merusak tubuh kita. Puasa yang teratur akan meningkatkan vitalitas dan tingkat spiritual jiwa dan raga kita. Begitupun dengan rekreasi, inipun penting untuk kita asal sehat dan teratur akan meningkatkan vitalitas dan tingkat spiritual jiwa dan raga kita. Begitupun dengan rekreasi inipun penting untuk kita asal yang sehat dan teratur, untuk pikiran, mental dan jiwa raga kita agar segar dan penuh dengan dinamika yang sehat. Rekreasi dalam bentuk olah raga, perjalanan ke alam bebas seperti ke hutan, gunung, ke sungai dan lain sebagainya ini amat menyehatkan dan sangat menyegarkan tubuh dan pikiran kita, tetapi semua ini harus dilakukan secara teratur dan konstan, sehingga tidak merugikan diri kita dan maupun lingkungan kita dalam arti yang seluas-luasnya. Cara-cara kehidupan lainnya seperti berdagang, bekerja, berdoa, memuja Hyang Maha Esa, berbuat amal, menolong yang harus ditolong, menghormati orang tua dan yang pantas dihormati,dan lain sebagainya harus dilakukan dalam batas-batas kewajaran dan tidak berlebih-lebihan. Bangun tidurpun harus diatur yang seimbang, tidur sebaiknya cukup enam jam tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan usia sseorang. Seseorang yang ingin tekun bermeditasi harus berjalan di tengah-tengah, maksudnya penuh disiplin dan seimbang dalam segala perbuatannya. Setiap aksi atau perbuatannya sebaiknya tidak berlebihan, terkendali dan wajar-wajar saja. Tidak usah terburu tetapi juga tidak lambat. Ia selalu stabil dan berimbang baik dalam bertutur kata, maupun dalam setiap pekerjaannya. Ia dengan demikian secara lambat laun akan bebas dari segala penderitaan yang diakibatkan oleh perbuatannya sendiri yang terlalu banyak atau yang terlalu sedikit, dan juga oleh akibat-akibat dari perbuatan itu sendiri seperti rasa kurang puas, marah, kesukaran, ketakutan, keresahan dan banyak hal lainnya.
Akhir-akhir ini hari-hari amat menoton bagi sebagian besar umat manusya, di ruangan berpendingin udara, bagai ikan tuna yang mati beku. Bedanya kita duduk dengan mata terpaku kepada layar monitor dengan perut yang makin buncit dan leher yang makin lama makin kaku dan bergelambir karena kurang gerak. Begitulah hari-hari yang membosankan mulai jadi tradisi kehidupan kita, tidak laki tidak perempuan, tidak tua dan tidak muda, semua lapisan mulai terjangkit penyakit-penyakit yang menoton ini yang makin hari makin menggeroti kesehatan kita.
Sehari-hari seharusnya bukan berarti semua hari bagi staff kantoran, masih ada satu dua hari bebas dalam seminggu, jadi kalau anda ingin lebih asyik lagi yah ajak keluarga, tetangga atau teman-teman serta tuk bermain-main di alam terbuka, bisa siang, malam atau pagi hari. Para peneliti di barat menemukan bahkan kaum muda minatnya mulai menurun, mereka yang dulunya hobbi mendayung, berjalan kaki, pendaki dsb mulai surut semangatnya, untung ada yoga ketawa dan senam yoga kesehatan yang agak membantu, tetapi justru yang tua-tua lebih berminat karena alasan-alasan kesehatan, bukan yang muda-muda semakin gemuk saja.
Kalau alam makin rusak dan trend pemuda tuk berolah raga makin menurun di alam terbuka maka seperti apakah generasi masa depan nanti, toh TV, HP, computer, tidak juga menyehatkan?
Penelitian menunjukkan tidak sampai 60% pemuda di Amerika (antara 6 sampai 24 tahun) yang malas beraktifitas dan kegemukan (obesitas) yang baru mau berekreasi di alam terbuka kecuali ada teman, orang tua dan sebagainya yang memotivasi mereka. Hal yang sama mungkin sedang terjadi dengan generasi muda kita disadari atau tidak.(Di kota-kota besar pagi-pagi sudah macet dengan kendaraan berisikan anak-anak sekolah), berjalan kaki hanya diminati orang-orang kampung dan pedalaman karena terpaksa keadaan dan ekonomi.
Padahal kalau sejak dini anak sudah mengenal dan mengapresiasi alam, seni budaya, rekreasi alam, meditasi, yoga, olah raga, pantai dsb, maka tekanan kerja dan stress kemudian hari dapat dikurangi, hidup jadinya bukan buat uang saja, tetapi tuk dinikmati, dan disyukuri keberadaannya.
Rekreasi spiritual dan alam pasti memerlukan persiapan. Untuk rekreasi spiritual dibutuhkan mental yang relaks, karena rekreasi ini sebenarnya meliputi yoga, dan meditasi di air misalnya di air terjun, tepi pantai, di bukit-bukit, gunung, gua-gua dan juga lokasi-lokasi yang disucikan, baik rekreasi spiritual maupun luar ruang harus memperhatikan pola-pola musim yang sedang berlangsung. Bermain-main di saat hujan maupun yoga dan meditasi dikala hujan ringan maupun lebat merupakan keasyikan tersendiri dan bisa-bisa ketagihan selain menguatkan daya tubuh, (tapi tentu tidak baik untuk mereka-mereka yang badannya sakit-sakitan). Berenang, bersepeda, berjalan, berlari, di saat-saat hujan juga merupakan keasyikan yang mengendorkan syaraf-syaraf khususnya dilakukan di desa-desa, tetapi hindari petir dan badai, bisa-bisa fatal, pulang tinggal nama saja. Melakukan penelitian dan riset kecil-kecil tuk keperluan spiritual akan amat membantu pengetahuan diri sendiri maupun orang-orang lain. Jadi isilah akhir minggu, liburan-liburan pendek dan panjang dengan hal-hal yang membantu relaksasi, berkunjung ke teman-teman, panti sosial, berdanapunia, dan “bermain-main” secara sosial amat berpahala, menolong kaum marginal dan membuat hati senang karena dapat membahagiakan orang-orang lain atau mahluk-mahluk hidup.
Jangan ke alam liar tanpa kostum, sepatu dan makanan yang memadai, obat-obatan, perban, payung dsb juga amat diperlukan, jangan sendirian kecuali medannya sudah sering dikunjungi. Perlengkapan tenda,gas,pisau dsb harus disertakan. Nah jangan lupa berpuja, meditasi, nyepi dan yoga sambil berekreasi di alam terbuka atau ruang-ruang terbuka di kota, tapi hindari sex bebas, alkohol, rokok, ganja dan sebagainya agar rekreasi tercipta prima dan jiwa raga tenteram, rileks dan damai. Om Sarwam Bhutam Shanti Mangalam.

Bibliography : -Bhagawat Gita
-Kompas Minggu 14-3-2010

Oleh : mohan m.s
Jakarta Nyepi 15-3-2010
diedit oleh : antonina

Mengkqji masa depan Hindu Dharma di Nusantara

MENGKAJI MASA DEPAN
HINDU DHARMA
DI NUSANTARA

Melihat perkembangan ekonomi yang makin merosot tetapi sebaliknya ritual-ritual makin menggila di Bali akhir-akhir ini ditambah pelaksanaan-pelaksanaan Agni Hotra yang mewabah dengan harga tinggi dan waktu yang terbuang sia-sia, maka kaum muda Hindu di Jawa-Bali amatlah resah, banyak yang merasa terjebak lahir sebagai Hindu Bali, hal ini amatlah mencemaskan, dan konversi ke agama-agama lain lalu terbuka secara luas, karena agama-agama lain menawarkan kemasan-kemasan praktis, lebih irit, murah biaya dan mudah dilanggar tanpa sanksi-sanksi.

Dibalik itu ada fenomena yang amat menarik yaitu timbulnya anak-anak muda yang menginginkan “nafas-nafas baru yang segar” dalam beragama Hindu, lalu apakah solusinya di masa depan? Sebagian berpaling ke internet dan menemukan kembali filosofi-filosofi Hindu dengan berbagai penalaran yang amat sekular, plural dan praktis, nuansanya adalah Dharma yang bersifat universal, bukan hegemoni Hindu yang dogmatis dan ritualistik yang menjemukan dan memboroskan dana yang sulit dicari.

Sebagian lagi mulai berpaling ke guru-guru spiritual dari India seperti Sai Baba, Sri Ravi Shankar dsb. Sebagian ke yoga dan meditasi, sebagian ke bhakti-bhakti sosial, sebagian terjebak lagi ke Agni Hotra yang besar-besar yang di India malah telah dipraktiskan menjadi upacara kecil yang sarat makna.

Dunia, zaman, perilaku manusya sedang berubah total sesuai ramalan Kali Yuga, sebuah zaman yang disebut-sebut penuh kegelapan, namun di dalamnya terdapat hamparan sains, teknologi dan filosofi yang tidak terbatas. Fenomena yang satu ini amat memukau kaum muda di dunia, hasilnya evolusi dan revolusi kehidupan berubah drastis dalam kurun waktu 10 tahun, belakangan ini. Dunia sudah tidak mengenal tapal-tapal batas lagi, internet merubah semuanya! Bahkan ilmu pengetahuan dan pornography dapat ditransfer dalam hitungan detik, dunia Islampun goncang. “Face book Fenomena” salah satu perihalnya. Berperang dengan internet dan mass media jadi lebih sulit dibandingkan perang di Iraq dan Afganisthan.

Cupu-cupu sakti di zaman Satya Yuga sekarang lebih sakti lagi dan dapat dibeli dan di akses bahkan oleh anak-anak kecil, demikian juga komputer, semua orang bisu jadi sakti di zaman kali yuga ini.

Kalau para Sulinggih hanya sibuk dengan upakara dan upacara-upacara mahal, maka dalam kurun waktu 15 sampai dengan 25 tahun mereka bukan saja akan tertindas oleh zaman, teknologi dan sang waktu yang sedang melaju amat cepat secara alami, tetapi para Sulinggih-Sulinggih tua akan mati sendiri, tergantikan Sulinggih-Sulinggih muda yang terdidik dengan hp dan internet di tangan-tangan mereka. Tanpa kita sadari Saraswati (maha-widya) telah kembali lagi, weda-wedanya telah menjadi teknologi plus filosofi, musiknya (vina) menjadi gejala musik-musik universal. Di era ini musik, sepakbola, catur dan olympiade adalah “agama-agama panutan baru” bagi kawula muda. Matinya Michael Jackson ditangisi anak-anak muda dan kaum 50 sampai dengan 60 tahunan sedunia, idola mereka adalah musisi, internet dan teknologi. Tuhan sudah mati di dunia Barat, tetapi “Tuhan-Tuhan yang baru, Nabi-nabi seperti Elvis, Michael Jackson dan widya ( sains, teknologi dan filosofi ) makin trendy saja. Evolusi dan revolusi dalam berbagai bidang amatlah semarak di dunia dewasa ini, sedangkan ritual-ritual agamis sudah menjadi komoditi dan pemasukan mass media dan pariwisata, perhatikan tayangan-tayangan naik Haji, Galungan, Waisak dan puasa yang sudah mampu menghasilkan uang triliunan bagi media-media komersil, ekonomi sudah menggeser agama, janganlah kita munafik akan hal ini.

Akhir-akhir ini Ganeshya hadir lagi kembali di Jawa-Bali. Ganeshya adalah simbol anak muda pemberontak yang berubah menjadi dewata agung penuh widya universal, satu gading patah menyimbolkan ilmu-ilmu duniawi yang tidak langgeng dan berubah-ubah, gading yang utuh menyimbolkan ilmu Ilahi (Bhagawatam) yang selalu terbarukan dan abadi, inti dari sains dan teknologi.

Di antara semua ajaran-ajaran di dunia, hanya Hindu Dharma yang telah siap menampung dan menyebarkan sains, teknologi, ekonomi, widya dan filosofi di Kali Yuga ini. Jadi kalau mau mengikuti zaman, maka harus dibentuk sebuah Parisadha semacam Majelis Hindu Nusantara yang bervisi ke depan, dengan mengemban misi-misi sains, teknologi dan filosofi dalam suatu untaian praktis tetapi indah dan sarat makna.

Ekonomi global yang makin rancu telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan ini. Bahkan masyarakat maju Singapura, Jepang, USA, Eropah terlanda kegalauan yang amat dashyat, di sana Gereja-gereja 90% telah di tutup, dan masyarakatnya larut dalam S&S (Seks dan Stress).

Bagi kita di Nusantara maka mereka-mereka yang dibawah 50 tahun harus segera membangun horizon baru dalam bentuk sebuah Majelis Hindu Dharma yang sesuai Pancasila yang amat Dharmais sifat-sifatnya penuh toleransi, pluralisme, dan demokrasi sekular yang tidak kebablasan. Untuk itu Saraswati tetap merupakan dasar-dasar fondasinya, dan Ganeshya (ilmu sains) sebagai wahananya. Tujuannya tetap Hyang Widhi Wasa (Tuhan Maha Ilmu)

Di India pemujaan-pemujaan terhadap Bayu, Indra, Brahma sudah menjadi sejarah masa lalu, Manawa Dharma Shastra sudah lama terkubur, Weda-weda sudah menjadi Bhagawat-Gita, para resi sudah lahir sebagai guru-guru spiritual dengan medium yoga dan meditasi, Hindu Dharma di India sudah menjadi panutan praktis serba Saintifik, bukan dogma-dogma sesat seperti kasta dan upacara-upacara mubazir yang berbiaya tinggi. Kita di Indonesia mau tidak mau secara perlahan tetapi pasti sudah masuk ke alur modernisasi ini, nilai nilai Hindu harus dipersiapkan secara alami melalui gabungan sains dan teknologi agar kita maju seperti India dan disegani oleh dunia luar karena memiliki Bhagawat Gita dan Gandhi, memilik Buddha dan Bom atom, memiliki yoga meditasi, sains dan teknologi. Inilah Kali Yuga yang amat menantang, tanpa landasan-landasan ini kita akan hancur dilanda penetrasi agama-agama lain oleh ekonomi dunia yang serakah dan pemanasan global yang membara, lalu sirnalah kita!

Om Shanti Shanti Shanti Om

Cisarua 14-7-09

Makna Mimpi dan Bintil Tahi Lalat

Makna Mimpi dan Bintil Tahi Lalat

Mimpi itu bunga-bunga tidur, kata pujangga tapi juga bisa petunjuk, bisa juga pertanda suka-duka, bencana-anugrah dsb. Para ahli Vaastu-Shastra dimasa lalu belajar tuk menganalisa semua itu, hasilnya anda boleh percaya atau tidak, tapi saran saya sebaiknya diamati dan dipelajari, siapa tahu anda jadi ahlinya nanti. Dibawah ini makna mimpi yang coba ditafsirkan para ahli Vaasthu –Shastra di India kuno adalah seperti ini :
Mimpi Makna dan artinya
Memakai cincin dapat kebahagiaan, rejeki,uang
Melihat pohon mangga anak-anak akan bahagia
Melihat tamu ada bahaya
Melihat kegelapan ada kesusahan
Jatuh dari langit khawatir atau akan dihina
Melihat orang mati atau mayat akhir dari penyakit
Melihat api mungkin sedang sakit perut
Melihat langit ada kemajuan
Melihat diri sendiri mati panjang usia
Menyalakan api cita-cita lama belum terkabul
Melihat kecelakaan diri sendiri panjang umur, selamat dari mara bahaya
Melihat kentang ada kesulitan
Melihat operasi waspadalah akan sakit
Gagal ujian lulus ujian
Membangun bangunan ada kemajuan
Melihat mesin atau kendaraan yang bergerak banyak halangan
Memakan asam mungkin mendapatkan putra
Melihat pohon asam kesehatan baik-baik saja
Melihat pelangi kehidupan akan berubah tambah baik
Melihat burung hantu ada bencana atau sakit
Diri terbalik akan terhina, dihina
Melihat unta badan akan luka-luka atau sakit-sakitan.
Naik ke atas kemajuan
Melihat kaca mata hitam tidak/kurang disupport (ditunjang)
Melihat bunga teratai ada rejeki, mungkin juga di bidang spiritual
Menggunakan gunting banyak argumentasi kosong
Melihat burung beo bersuara kabar jelek/buruk
Menyisir rambut ada kepuasan tertentu
Melihat merpati berita baik
Melihat ular hitam dapat kehormatan
Melihat istana kabar baik/kejayaan
Melihat orang berpenyakit kusta ada penyakit/hati-hatilah
Melihat gadis akan bepergian ke tempat-tempat suci
Melihat batu bara sia-sia berkelahi, baiknya sabar
Jatuh ke lubang ada kerugian yang sia-sia
Melihat kepala dipenggal banyak pikiran dan kesusahan
Melihat anjing akan mendapatkan teman yang baik
Melihat bunga ada berita baik
Menyulam ada keuntungan dan kemajuan dalam bidang cinta
dan perdagangan
Melihat sate hati-hatilah ada yang akan menusuk, menjelek-
jelekkanmu dari belakang
Melihat kuburan tambah rezeki
Membunuh ada berbagai kesulitan dan bencana
Melihat mainan anak-anak kedamaian dan kebahagiaan
Melihat semangka ada rezeki
Melihat panen hati-hati ada kerugian besar
Melihat kelinci sayang istri
Melihat guru hasil kerja akan baik
Melihat tahi sapi investasi dalam bidang peternakan akan baik
Melihat sungai akhir atau sisa kehidupan akan baik
Melihat gerhana ada bencana, penyakit dsb
Melihat tembakan semua akan berakhir baik-baik saja
Melihat bunga mawar mendapatkan kepuasan hati
Melihat kemiskinan akan kaya
Jatuh dari kuda ada kesulitan
Mandi di tepi sungai akan bertirtha yatra
Melihat orang terluka akhir dari kesialan
Membangun rumah akan terkenal
Melihat jam akan bepergian
Duduk di atas kuda akan kaya raya
Mimpi terluka kesehatan membaik
Melihat roda atau chakra banyak pemasukan uang
Memakan nasi akan mendapatkan berita baik
Melihat maling mendapatkan uang
Melihat perhiasan perak perpisahan
Melihat penjaga rumah rejeki akan hadir
Berteriak-teriak dalam mimpi banyak masalah
Melihat selendang keberuntungan
Menikam dengan pisau banyak cekcok di rumah tangga
Melihat cicak, kadal atau tokek ada rejeki
Bersin-bersin dalam mimpi banyak halangan dalam pekerjaan
Melihat payung banyak masalah akan selesai
Dipecat dari pekerjaan kemajuan
Melihat tukang sulap tanda-tanda buruk
Melihat pesawat terbang akhir dari kesulitan
Memanggang daging pemasukan uang
Melihat air lambang kehormatan, akan dihargai
Merasa demam dalam mimpi kesehatan akan membaik
Berjudi dalam mimpi akan bangkrut
Melihat pencopet akan bangkrut
Melihat warna kuning kematangan jiwa
Mencabut akar banyak halangan
Melihat perkelahian mendapatkan kebahagiaan
Melihat sapu akan merugi
Melihat bendera uang dan kehormatan akan hadir

Makna bintil (tahi lalat)
Konon menurut kaum Hindu kuno tahi lalat adalah tanda-tanda yang bermakna tertentu, jadi tidak begitu saja hadir di raga kita. Dibawah ini kehadiran tahi lalat di berbagai area tubuh kita dan maknanya:
Letak tahi lalat arti yang dikandungnya
Di tangan kanan akan kaya
Di dahi/kening akan kaya
Di sebelah kanan dahi akan dihormati
Di tengah kedua alis mata akan banyak melakukan perjalanan jarak jauh
Di hidung idem
Di punggung idem
Di kaki/telapak kaki kanan idem
Di kaki kiri pemboros
Di tangan kiri idem
Di bawah bibir bagian bawah kekurangan banyak uang
Di bagian atas bibir atas penuh kemewahan
Di mata kiri pria suami istri rebut terus
Di mata kanan pria suami istri saling sayang secara berlebih-lebihan
Di dagu kurang sayang istri
Di pipi kiri uang bertambah terus
Di leher penggemar istirahat terus/malas
Di lengan kanan banyak dihormati orang
Di lengan kiri pembangkang/suka berkelahi
Di dada kanan pria pecinta istri
Di dada kiri pria sebaliknya (tidak sayang istri)
Di tengah-tengah dada pengecut
Di perut penggemar makanan yang manis-manis
Di ketiak gemar menyakiti orang-orang lain
Di pinggang sulit diam, bergerak terus
Di bagian jantung bijak/ tegas

Demikianlah sebagian dari makna mimpi dan tahi lalat, percaya atau tidak? Terserah anda!

mohan m.s
Cisarua 25/3/2010
Shanti Griya Ganesha Pooja
Di edit oleh : uvi