Arsip Tag: Hindu

Agama agama dari masa ke masa

AGAMA-AGAMA DARI MASA KE MASA

“Yada-yada hi dharmasya glanir bhawati bharata abhutthanam adharmasya tadatmanam Srjamaham”

“Wahai putra keluarga Bharata, ketahuilah bahwasanya pada saat-saat pelaksanaan dharma merosot ke titik paling rendah, dan adharma merajalela, Akupun menjelma ke dunia ini secara pribadi.”
-Bhagawat-Gita-

Raditya, edisi 103, Feb. 2006, hal. 16 menghadirkan sebuah artikel yang ditulis oleh Sdr. I Made Wardana seperti cuplikan berikut ini :
“Dari sloka di atas menunjukkan bahwa Personalitas Tuhan (Personal God) akan langsung turun dari dunia rohani yang kekal (Goloka Vrindawa) atau akan mengirimkan utusan-utusan Bhagawatam (Ilahi) yang diberikan amanat untuk menuntaskan masalah dharma-adharma di bumi-loka ini. Turunnya Sang Personalitas Tuhan itu sendiri disebut Awatara (Rama, Krishna, Buddha, dsb). Para Awatara ini terbagi dalam berbagai kategori seperti Purusha, Lila, Guna, Yuga, Mahawatar, dan Shaktywesa Awatara. Kesemua awatara ini ternyata telah diprediksi kehadirannya secara terperinci di dalam pustaka-pustaka Hindu Dharma kuna seperti Bhagawata-Purana dan Bhawisya-Purana. Berbagai prediksi yang ditulis ribuan tahun yang lalu ternyata kemudian menjadi kenyataan-kenyataan yang menakjubkan pada masa-masa berikutnya. Konon selain Yang Maha Esa hadir juga “Roh-Roh” yang Beliau utus demi tujuan penegakan dharma-dharma itu sendiri dari masa ke masa, dari lokasi ke lokasi sesuai dengan kehendak Yang Maha Esa itu sendiri. Para utusan Ilahi ini mendapatkan “mandat spiritual” penuh disamping itu, merekapun memiliki kesaktian-kesaktian tertentu (disebut Saktywesa)”. Contohnya Srila Wyasadewa, Buddha, Isa (Yesus), Nabi Muhammad S.A.W., Sri Chaitanyamahaprabhu, Shankaracharya, Guru Nanak, Kabir, dst. yang kesemuanya berhasil merubah tatanan adharma kembali ke jalan dharma yang lurus dan lempang (bahasa Timur-Tengah disebut Islam).
Contoh, kehadiran Sri Buddha Gautama dinyatakan :
“Tatah kalau sampravritte sammohaya suradvistham buddo namnanjana-sutah kikateshu bhavishyati” (artinya : Pada zaman Kali, Sang Buddha akan lahir sebagai putra dewi Anjana di Gaya, dst. dst…. Srimad Bhagawatam 1. 3. 24).
Kemudian dalam Bhavisya-Purana (sejarah masa datang), sloka III. 2. 23 disebutkan “….ko bhavaanithi tham praha sahovaacha mudanwitha eshaputram cha maam vidhi kumari garbha sambhavam aham eesa (Isa) masiha nama” (Aku akan lahir sebagai Isa Mahesa (Isa Almasih), Esa putra dari Tuhan dan ibu yang masih perawan, dst. dst”. Setelah tiga ribu tahun berlalu ternyata benar lahir seorang Nabi agung yang disebut Isa (Yeshua Yesus) sebagai putra Tuhan yang lahir dari bunda Maria yang masih perawan. Di dalam Purana yang sama ini juga, di sloka III. 3. 3 tertulis jelas “…. di daerah Meleccha (Timur-Tengah) akan hadir seorang Guru-Rohani (Nabi, Nabe). Kata Meleccha (atau Meccah) menunjuk ke suatu masyarakat di Timur-Tengah, yang pada era tersebut sedang mengalami peradaban adharma yang akut (jahiliyah), yaitu merosotnya moral dan akhlak kaum tersebut, yang jauh dari ajaran-ajaran Weda-weda. “Muhamada akan turun dan hadir dengan membawa panji-panji agama yang baru bagi masyarakat ini”. Kata Muhamada adalah kata Sansekerta untuk kata Muhammad atau Mohammed (muha = maha, mada = utusan Ilahi, nabi, rasul). Pada zaman Kali, sekitar 500 tahun yang lalu (kira-kira tahun 1489), awatara Tuhan kembali ke alam mayapada ini sebagai seorang brahmana muda seperti yang diyakini oleh kaum Waisnawa, yaitu Sri Caitanya Mahaprabu, persis seperti yang diprediksikan di dalam Garuda-Purana : “Kalina dakya manawan paritranaya tanubhrtam janma prathama Sandhyam karisyami dwijatisu”. (Pada awal Kali-Yuga, Aku akan datang sebagai seorang brahmana yang akan menyelamatkan para jiwa-jiwa yang jatuh sebagai akibat buruk zaman Kali). Masih di dalam Purana ini, disebutkan : “Aku akan lahir sebagai putra Sachi di daerah Navadvipa-Mayapur”.
Berbagai purana-purana tersebut konon diyakini oleh umat dharma sebagai ajaran-ajaran dan tulisan-tulisan Sri Wyasa-Dewa, yang telah mencapai moksha (kesempurnaan), yang amat menguasai kejadian-kejadian pada masa lalu, kini dan masa-masa yang akan datang (trikala-Jna).
Bukan itu saja, namun kehadiran utusan agung dharma seperti Shankara-acharyapun telah diprediksi sebelumnya, termasuk kehadiran Nabi Musa, Ratu Victoria (yang menjajah India), dsb. Lebih dari itu juga disebut-sebut akan bangkitnya teknologi dan sains di antara wangsa-wangsa kulit putih yang kemudian akan mengekspor kembali ilmu pengetahuan ini ke tanah Bharata dan ke seluruh dunia (Saat saya menulis ini, Presiden USA baru saja membuat kesepakatan dengan PM Manmohan Singh untuk mengembangkan teknologi nuklir). Konon agama masa depan akan lebih terfokus ke ilmu-pengetahuan dan pada saat yang sama berpijak ke ilmu pengetahuan spiritual juga. Tidak mengherankan kalau di Nusantara, semenjak lama Tuhan dikenal sebagai Sang Hyang Widhi-Wasa, yaitu Tuhan Yang Maha Tahu, Yang menjadi Sumber Ilmu-Pengetahuan. Demikianlah umat Hindu di dunia termasuk di Nusantara semenjak masa silam sudah dipersiapkan untuk masa depan yang akan penuh dengan ilmu-pengetahuan, sains dan teknologi. Toh masih banyak di antara kita yang belum sadar akan hakikat futuristik ini!.
Sementara kaum Hindu sibuk dengan upacara yang tidak-tidak dan ribut dengan sesama umat. Lalu ada sebagian umat Islam yang menyatakan semua agama tidak benar, kecuali Islam, padahal Al-Quran berwacana secara amat universal. Allah di Al-Quran bahkan bersabda seandainya Allah mau maka semua manusia dapat dijadikan Islam, namun Beliau lebih suka kebhinekaan agar manusia dapat saling berkenalan.
Ir. Made Amir, seorang dosen teknik di Universitas Udayana, Denpasar, Bali (Raditya 103/Feb. 2006) menyatakan hal tersebut seharusnya dikaitkan dengan konteks waktu, tempat dan situasi di tanah Arab pada saat itu. Ketika Nabi Muhammad S.A.W. sedang menyebarkan agama Islam maka pada era itu kemerosotan moral dan budaya sedang parah-parahnya, aneka kepercayaan yang tumbuh liar. Kepercayaan-kepercayaan itulah yang dimaksud dengan semua agama salah.
Penulis amat yakin dengan hasil penelitian Made Amir ini, karena bukankah Al-Quran sendiri mengakui ajaran-ajaran dan Nabi-Nabi sebelumnya seperti Isa, Musa, Daud, Ibrahim, dst. Lebih dari itu Nabi Muhammad S.A.W sendiri menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina. Dan bukankah Cina beragama Tao, Kong Hu Cu, Lao-Tse, dan Buddhisme pada era itu.
Berbagai wahyu-wahyu turun dari-Nya, dari masa-ke masa melalui penalaran yang identik dari satu orang ke orang yang lain, di manapun lokasinya. Jadi agak aneh kalau mengatakan bahwasanya Agama “A” berasal dari wahyu Tuhan, tetapi agama-agama lain berasal dari sesuatu yang lain. Untuk itu umat Dharma harus selalu berbesar hati kalau dihina, dicela sebagai penyembah berhala, atau kafir, dsb. Karena pada hakikatnya seluruh agama-agama di dunia bersumber dari-Nya juga, seperti yang dikukuhkan oleh Al-Quran dan Nabi Muhammad S.A.W itu sendiri.
Saya ingin mengaitkan tulisan Made Amir tersebut di atas dengan sebuah artikel di Newsweek, edisi 28 Juli 2003, yang membikin heboh pada saat itu. Artikel ini berjudul “Challenging The Qur’an”, yang menulis kajian Prof. Christoph Luxemberg, yang menyatakan bahwa teks asli Al-Qur’an tidak berbahasa Arab, melainkan berbahasa Aramaik. Ia juga mengatakan Nabi Muhammad S.A.W datang ke bumi ini untuk bersaksi atas kebenaran ajaran Yahudi dan Kristen, baca majalah Gatra, No. 17. tahun IX, Agustus 2003) yang berjudul “Menggugat Kearaban Quran”, halaman 34 :
“Artikel yang ditulis Stefan Theil itu melansir pendapat pengkaji Al-Quran asal Jerman bernama samaran Christoph Luxemberg. Ia disebutkan sebagai professor bahasa Semit di sebuah Universitas Jerman yang terkemuka. Luxemberg digambarkan sebagai salah seorang dari kelompok ilmuwan di berbagai negara non-muslim yang sedang gandrung mempelajari bahasa dan sejarah Al-Qur’an.
Luxemberg berpendapat bahwa versi Al-Qur’an yang ada saat ini salah salin (miss-transcribed) dan berbeda dengan teks aslinya, teks asli Al-Qur’an dikatakan lebih mirip dengan bahasa Aramaik ketimbang Arab. Naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah ketiga, Usman-bin-Affan”.
“Konsekuensi dari tesis itu, beberapa teks Arab, Al-Qur’an yang dalam versi Aramik dikatakan memiliki makna lain. Misalnya ungkapan Al-Qur’an versi Arab bahwa Muhammad adalah “penutup para nabi”, dalam versi Aramaik menjadi “saksi para nabi”. Artinya saksi atas kebenaran teks Yahudi-Kristen.
Dalam versi Arab, Al-Quran dijelaskan sebagai “Wahyu Allah”. Sedangkan dalam versi Aramaik menjadi “ajaran” dari Injil kuno. Dus, kata Luxemberg, Al-Qur’an asalnya adalah dokumen liturgi Kristen yang kemudian oleh ekspansi imperium Arab diubah menjadi sumber ajaran Islam.
Perintah menjulurkan jilbab pada edisi Arab, dijelaskan menjadi perintah melingkarkan sabuk di punggung pada edisi Aramaik”.
(Tulisan tersebut di atas telah digugat oleh para ahli agama Islam baik di Indonesia maupun di luar negeri, dengan berbagai alasan-alasan sebagai hal yang mendeskritkan agama Islam !).
Gatra selanjutnya menulis di hal. 36 : “Taufik melihat Luxemberg hanya berupaya membaca Al-Qur’an dengan bahasa Syria-Aramaik, biasa disingkat Syirak. Dalam bukunya, Luxemberg menjelaskan, Syirak adalah salah satu dialek dalam bahasa Aramaik yang digunakan penduduk Edessa, sebuah negara-kota di Mesopotamia-atas”.
“Pada masa Nabi Muhammad, Arab belum menjadi bahasa tulis. Fungsi itu diperankan Syirak, sebagai alat komunikasi tulis di kawasan Timur. Dekat sejak abad kedua sampai ke tujuh Masehi. Ketika Edessa menjadi entitas politik, Syirak berfungsi sebagai medium penyebaran Kristianitas menembus Asia, Malabar dan Cina Timur. Syirak kemudian tergantikan oleh bahasa Arab pada abad ke tujuh sampai kesembilan”.
Selanjutnya Gatra menambahkan : “Bahasa Al-Qur’an juga menyerap bahasa, selain Aramaik, ada Yunani, Persia, atau Ibrani”. Namun seorang doktor ilmu Al-Qur’an lulusan Mcgill University, Canada, Yusuf Rahman, menilai upaya Luxemberg itu sebagai karya ilmiah, karena kajian ini didasarkan pada penemuan manuskrip di San’a, Yaman. Seorang pekerja yang sedang merenovasi masjid di San’a menemukan manuskrip Al-Qur’an pra Usman. Namun Yusuf tidak sepakat dengan kesimpulan bahasa asli Al-Qur’an adalah Aramaik”.
Gatra menambahkan, adanya dua peneliti asing lainnya yaitu Geiger dan Rudolf yang memaparkan banyak istilah Al-Qur’an yang dinilai berasal dari Bible (Injil). Sehingga Al-Qur’an dipandang sebagai hanya duplikat dari Bible. Rudolf menyebut 26 istilah Al-Qur’an berasal dari tradisi Yahudi dan 29 dari Kristen.
Gatra, hal. 43, aksara para pedagang.
Pada era itu, bangsa Arab yang dijuluki jahiliyah, semula dianggap buta aksara dan bodoh. Tetapi bukti-bukti arkeologis justru menunjukkan sebaliknya. Seperti yang tertulis dalam buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal; ditemukan sejumlah prasasti dalam bahasa Arab Selatan. Bukti-bukti ini tertanggal jauh sebelum Kristen. Meski di Mekkah, tempat kelahiran Nabi Muhammad S.A.W belum ditemukan prasasti serupa, daerah itu telah lama menjadi tempat perniagaan (Internasional, antar-bangsa) dalam hubungan perdagangan, maka tradisi tulis-menulis sangat dipentingkan.
Berdasarkan penelitian sarjana Barat, maka tulisan Arab berasal dari tulisan Kursif Nabthi yang ditransformasikan ke dalam tulisan Arab pada abad keempat Masehi. Proses ini kemungkinan berlangsung di Madyan atau di kerajaan Gassamid, dan tersebar hingga ke Suriah Utara. Di kalangan sejarahwan Arab, tulisan Arab lebih populer yang berasal dari Hirah, sebuah kota dekat Babilonia, dan Anbar di Eufrat, barat laut Baghdad.
Kala itu ada dua jenis tulisan Arab, pertama, Khat Kufi yang menunjuk ke kota Kufah, tempat yang disempurnakannya kaidah-kaidah penulisan Arab. Bentuk kedua, Khat Naskhi yang bersumber pada bentuk tulisan Nabthi yang dipakai untuk surat-menyurat. Penulisan Al-Quran pada periode awal biasa memakai Khat Kufi. Bentuk hurufnya masih sederhana, tanpa titik dan harakah.
Kesimpulan Luxemberg di atas tentu saja sulit diterima oleh umat Islam, sebabnya Al-Quran disebutkan dalam bahasa wahyu dan yang digunakan adalah hisamul-Arab. Ini identik dengan bahasa syair pra-Islam yang difahami seluruh suku di Jazirah Arab (Gatra hal. 42). Dalam perkembangannya bahasa Arab mengalami penyerapan dari bahasa Ibrani, Persia dan Aramaik. Menurut Abu Bakar al-Wasiti, seorang sufi terkemuka di Iran, dalam bahasa Al-Qur’an terdapat 50 dialek Arab. Namun keragaman ini sudah hampir punah. Sebab telah diseragamkan oleh Khalifah bin Affan pada 30 Hijriah. Waktu itu untuk menghindari pertentangan di antara umat Islam (karena hadirnya berbagai versi Al-Quran), maka Usman menetapkan bacaan Al-Qur’an merujuk pada suatu dialek Quraisy yang dipakai Nabi Muhammad. Jika hal tersebut tidak diatasi oleh Usman, maka bisa menyulut perpecahan (masih berlangsung sampai kini di Timur-Tengah dan negara-negara lain yang menganut faham Islam yang berbeda-beda). Komisi yang dibentuk Khalifah Usman menyimpulkan semua ayat Al Quran yang dimiliki para Wali, perbedaan bacaan kemudian diseragamkan menjadi satu mushaf, yang kemudian dikenal sebagai mushaf Usmani. Mushaf lain seperti yang dimiliki Ali bin Abi Thalib dan Hafsan, putri Umar bin Khatab yang juga adalah janda Rasullulah, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Kaab, dan Abu Musa As’ari dimusnahkan. Naskah Al-Quran ini diperkirakan berjumlah 23 mushaf. Menurut para ahli, Al-Quran mushaf Usman mengandung banyak kekurangan, menghapus keragaman dialek dan bacaan. Jadi perlu disusun edisi kritis.
Sebelumnya pada masa Khalifah pertama Abu Bakar Siddiq, usaha pengumpulan Al-Quran sudah dilakukan namun tugas ini belum tuntas sampai berakhirnya masa kepemimpinan Abu Bakar sekitar 15 bulan. Pekerjaan itu berlanjut hingga Khalifah berikutnya, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan. Tetapi hasil kodifikasi resmi Zaid ini, menurut Taufik Adnan Amal terbukti tidak berpengaruh luas. Masyarakat Muslim lebih mengakui mushaf lainnya. Contoh, mushaf Ubay bin Ka’ab punya pengaruh kuat di Suriah, mushaf Ibnu Mas’uf mendominasi Kufah, dan mushaf Abu Musa Asyari lebih diakui di Basra. Isi mushaf ini agak berbeda dengan mushaf Usmani, baik jumlah surat maupun ayatnya. Semula, pemusnahan mushaf non-Usmani ditolak keras. Namun demi persatuan umat, akhirnya diputuskan tidak ditentang. Hingga abad ke 10, salinan mushaf ini masih beredar. Ada pula yang masih bertahan sampai saat ini, antara lain mushaf Ali bin Abi Thalib.
Kumpulan ayat menantu Rasul ini berdasarkan kronologi turunnya wahyu. Hingga saat ini, menurut Hussein Shahab, tersimpan rapi hampir di semua perpustakaan besar di Iran, di antaranya di Perpustakaan Mar’asyi di Qum, dan di Perpustakaan Imam Redho, Marshad. Tapi kaum Syiah tidak memakai mushaf ini, mereka tetap menggunakan mushaf Usmani.
Ali bin Abi Thalib termasuk jajaran para penulis wahyu terkemuka. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, jika Nabi menerima wahyu, maka ia memanggil mereka untuk menuliskannya, kemudian beliau berkata “Letakkan ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu”. Penulisan wahyu saat itu masih berserakan. Antara lain ditulis di atas daun lontar, pelepah kurma, kulit dan tulang.
Di Indonesia beberapa pemikir muda Islam seperti Ulil Abshar-Abdalla dan Taufik Adnan Amal, yang tergabung dalam jaringan Islam Liberal, memandang perlu adanya edisi kritis Al-Quran. Alasannya, teks dan bacaan yang saat ini dipakai adalah hasil pikiran para imam. “Kenapa kita tak berusaha menyempurnakannya ?”, kata Taufik. Sebab penulisan teks Al-Quran mengandung ketidak-konsistenan. Selain itu, tulisan Al-Quran saat ini bisa dipersoalkan dari aspek linguistik dan kaidah bahasa Arab. Malah, bacaannya masih menampakkan bias gender dan tidak sejalan dengan nalar rasional (contohnya perbudakan, dsb.). Tapi menurut ahli lain seperti Hussein Shahab, kalangan ulama kebanyakan tidak mau menggugatnya karena “merupakan bagian dari ibadah”, katanya.
Nasarudin Umar, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN, Jakarta di Gatra, hal. 44, berkata, “Dengan pendekatan seperti di atas, sulit membayangkan adanya kata sepakat untuk keutuhan dan orisinalitas sebuah teks, apalagi kalau teks itu sudah lebih dari satu milenium umurnya, sebagaimana Al-Quran”.
Pada era itu, istri Nabi, Hafsan membutuhkan ruang sebesar gudang untuk koleksi manuskrip-manuskripnya. Saat ini Al-Quran dapat disimpan di dalam USB sekecil anak jari tangan. Para sahabat Nabi Muhammad saat itu, juga memiliki berbagai catatan dalam berbagai dialek di jazirah tersebut. Seperti halnya di India, maka kultur Arab pada era itu terkenal kuat dengan kultur hafalan-hafalan secara turun-temurun. Namun akibatnya jadi simpang-siur kala akan dikolektifkan, misalnya manuskrip Ibnu Mas’ud – yang terkenal sebagai penulis wahyu – tidak mencantumkan tiga surah terakhir (S. Al-Ikhas, S. Al-Falaq, dan S. Al-Nas). Jadi Goedziker pun menolak ketiga surah tersebut sebagai bagian dari Al-Quran.
Akibatnya, terjadi perdebatan sampai saat ini di kalangan para ulama, peneliti dan cendekiawan Islam maupun dunia. Apalagi orisinalitas itu diukur ketika Al-Quran masih berstatus “Kalam al-dzati” (Ideas of God), bebas dari simbol, atribut, kebahasaan dsb. Atau diukur ketika Al-Quran sudah berstatus “kalam al-lafdhi”, yang diwahyukan ke langit bumi, ditujukan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril.
Selanjutnya tidak ada masalah dalam “kalam-al-dzati”, tetapi kalau al-lafdhi menghadirkan berbagai perbedaan dan argumentasi, dengan hadirnya tujuh model huruf, dsb. dsb. Kembali ke bahasa asli Al-Quran, Nasarudin Umar, menambahkan “bahasa asli Al-Quran bukan bahasa Arab, tetapi “something like Aramaic”, jadi tidak seharusnya dan sejelas dengan persepsi kita sekarang tentang bahasa Arab. Bahkan pada era tersebut, bangsa dan wilayah Arab itu belum jelas, apalagi mengacu pada geografis, kultur atau bahasa”.
Atas dasar ini, dapat dijelaskan bahwa 150 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, baru bahasa Arab menjadi bahasa tulisan (a written language). Demikianlah keunikan penyusunan Al-Quran, yang mirip penyusunan berbagai ajaran-ajaran di India, Israel dan bagian lain di Timur-Tengah. Dari bahasa hafalan ke bahasa tertulis. Nah, pada saat ditulis ini bisa saja terjadi “korupsi” atau penyimpangan yaitu dilebihkan atau dikurangi atau diubah teksnya agar lebih sesuai dengan situasi era tersebut. Hal ini sudah dilakukan oleh para brahmana di India pada masa-masa yang silam, hal yang sama telah terjadi di Injil, dsb. Itulah sebabnya di era ini terdapat ribuan sekte dalam berbagai agama, yang masing-masing mengklaim dirinya benar. Mungkin diperlukan badan mirip PBB, misalnya dengan mendirikan Persatuan Agama-agama di dunia (United World Religion Organization), yang mengatur toleransi universal di antara semua umat dan mencegah terjadinya peperangan antar umat sendiri maupun lainnya.
Pada saat saya menulis ini, maka perang sektarian telah terjadi di Iraq, pemboman atas mesjid-mesjid berlangsung amat sadis dengan puluhan sampai ratusan korban di berbagai pihak, hal yang sama terjadi di Afrika, Indonesia, India, dsb. Kalau dibiarkan terus dunia akan makin kacau, apalagi kalau memakai nama Tuhan. Umat Hindu di Indonesia harus belajar dari semua fakta-fakta sejarah ini. Ketuhanan Yang Maha Esa berdiri di atas segala bentuk awidya dan pemahaman berbagai umat yang mengakui beragama ini dan itu. Yang Maha Kuasa itu, hadir di Weda, Purana, Sruti, Smrti, Taurat, Zabur, Injil, Al-Quran dan kitab-kitab suci umat lainnya, dalam bentuk Ke-Esa-annya. Hal inilah yang harus dijadikan pedoman dan panutan, bukan pemahaman yang “kesana-kemari”. Karena era ini adalah era rasional yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang masih akan berkembang terus. Berbahagialah umat Hindu karena beragama berdasarkan Widya, bahkan para elemen dewatanya seperti Brahma, Saraswati, Ganeshya, dsb. kesemuanya menyandang atribut-atribut ilmu-pengetahuan yang maha luas. Hindu-Dharma adalah bunda dari pengetahuan dan seluruh agama, cikal-bakal bahkan dari peradaban umat manusia yang beradab dan berbudi luhur dan adi-luhung. Jadi seyogyanya kita tidak ikut-ikutan sepak-terjang umat-umat lain namun lebih baik merenung lebih dalam lagi akan fenomena-fenomena Ilahi ini. Interospeksi akan ajaran kita akan membawa kita ke arah kesadaran yang lebih hakiki di mana kita dapat memainkan peranan positif di dunia ini.

Apakah yang telah anda pahami tentang Weda

APAKAH YANG TELAH ANDA PAHAMI TENTANG WEDA
( SABDA-SABDA DEWA)

I. SEJARAH WEDA
Weda bukan merupakan wahyu-wahyu yang diterima oleh para nabi ataupun utusan-utusan Tuhan, namun lebih merupakan sabda-sabda Bhagavatham yang diturunkan langsung melalui sabda-sabda dewa kepada para resi melalui persepsi – direct (direct-perception).
Ajaran-ajaran maupun berbagai petunjuk yang terdapat di berbagai weda lebih merupakan pedoman hidup universal dari pada dogma yang menjerat umatnya. Tanpa hadirnya weda – weda ini dapat dibayangkan seperti apakah umat manusia dewasa ini. Karena nampaknya tidak ada budaya, agama, maupun perilaku bangsa apapun di dunia ini yang lepas dari ajaran –ajaran agung ini.
Penyebaran weda telah melalui beberapa jalan, misalkan Afganishtan, Turkeinishtan dan selanjutnya ke Timur-Tengah dan seterusnya. Melalui jalan laut menuju ke Semenanjung Arab, ke Asia Tenggara dan akhirnya melanda ke seluruh Asia. Cina kuno mengirimkan para Budhisatwa mereka untuk mempelajari dharma yang kemudian menjadi sendi-sendi agamis yang berasimilasi dengan ajaran-ajaran leluhur mereka yang juga berpedoman adiluhung. Lahirlah konsep-konsep Kwang – Kong (Yamaraja), Kwam Im (Saraswati,bunda semesta) dan Buddhisme di Cina yang pengaruhnya melanda seluruh Asia.
Yunani kuno tidak pernah menjajah India kuno, namun keduanya terlibat dalam persahabatan antarnegara yang intim, akibatnya konsep weda , Sruti dan Smritipun menjalar ke Yunani kuno maka lahirlah konsep para dewata dan Tuhan di kawasan ini. Misalnya Tuhan mereka Zeus adalah Brahma dalam versi Weda, Isis adalah bunda semesta, Hercules sama dengan Hanoman, dan venus sama dengan Lakshmi dan sebagainya. Mesir konon pernah ditaklukkan oleh Sri Rama dan keturunannya, jadilah raja-raja mereka bernama Ramses (Keturunan Rama) dan merekapun memuja Surya(Tat Savitur, dan sebagainya).
Secara historis Timur-Tengah mendapat kunjungan para nelayan dari India Selatan (di daerah Yaman). Daerah ini asal-muasal wangsa-wangsa Arab. Sedangkan kaum pribumi asli adalah cikal-bakal kaum Yahudi saat ini, yang telah bercampur dengan para candala yang dibuang dari India semenjak masa Rama,Pandawa dan seterusnya. Para Candala ini dibekali dengan berbagai weda , arca-arca hewan ternak dan budaya India kuno.
Tidak mengherankan kalau kemudian nabi agung mereka yaitu Abraham memuja lingga-yoni yang terbesar di dunia yang dikenal dengan nama Ka’bah saat ini, lengkap dengan mandir Shiva-Durga, Ganesha, Subramaniyam dan sebagainya. Subramaniyam (Kumara) identik dengan Nabi Daud (David), yantranya bintang sudut enam dengan dua garis disamping adalah yantra Subramaniyam (dewa dharmanya para dewa). Namun karena mantram yang ada diberbagai sudut bintang tersebut telah dihapus maka turunan Abraham akan berperang terus sampai akhir jaman tanpa kendali. Nama Tuhan Kaum Judea adalah Yehovah, sangat identik dengan Zeus (Yunani) dan Brahma (India). Sifat-sifat Tuhan ini tersirat sangat pedendam dan gemar membalas umatnya yang sesat dengan berbagai bencana.
Kitab-kitab suci mereka disebut Taurat, Zabur dan Injil (Perjanjian lama) adalah ajaran weda dan wedanta yang bukan saja mirip bahkan dalam berbagai versi adalah foto-copy ajaran dan kebiasaan / legenda kaum dharma. Manu dikenal dengan Nuh, Soleman adalah Vikramajit, Genesis adalah Vedanta dan sebagainya. Terus ke Kristus yang pernah mendalami dharma di India, dan John sang pembabtis yang mewisudi Kristus mirip kaum suci di Sungai Gangga, menunjukkan bahwa telah masuk pengaruh Waishnawa, Buddhisme dan Shiwais ke ajaran-ajaran Kristus (sebenarnya ada 50 injil, namun yang hadir sekarang hanya 3 saja).
Lahirnya Islam merupakan evolosi budaya, kultur dan kemajuan spritual di Timur-Tengah, merupakan sebuah akumulasi dari berbagai pengaruh tersebut di atas. Itulah mengapa sebabnya Kanjeng Nabi Besar Muhammad saw sangat menghormati Hindhu dan nabi-nabinya serta mendeklararasikan Ka’bah sebagai kiblatnya umat Muslimin sedunia sesuai dengan wahyu-wahyu yang beliau terima dari Allah swt. (konsep Hindhunya Durga).
Para pengarang buku Hindhuisme,’’ The greatest religion in the world’’ menyatakan bahwa agama-agama di Timur-Tengah adalah penyelewengan ajaran weda. Saya pribadi tidak setuju dengan istilah yang terkesan agak kasar tesebut. Bagi saya pribadi yang telah meneliti berbagai agama selama puluhan tahun melihat ‘’penyelewengan ‘’ ini sebagai improvisasi alami dari weda-weda sesuai dengan evolusi yang dijalaninya di berbagai belahan bumi . Weda adalah pohon dan akar utama, agama-agama lain yang lahir dari-Nya adalah cabang-cabangnya, dan dari cabang-cabang ini lahir berbagai ranting (Shakta, sekte,aliran dan lain-lain). Jadi kalau weda-weda sudah menyebar ke 6 milyar manusia dewasa ini, tentu saja nada-nada, rupa, dan bentukpun telah berimprovisasi secara alami.
Semua ini adalah kehendak-Nya semata, kaum dharmais seharusnya tidak terpengaruh oleh pengotakkan–pengotakkan semacam itu namun harus berbangga karena weda telah menjadi sumber inspirasi , kultur dan sebagainya dari umat manusia sampai dewasa ini. Kebinnekaan adalah wujud-wujud ciptaan-Nya semata yang sudah menjadi kehendak-Nya jua. Kita harus menghormati hak absolut Hyang Maha Esa ini, karena hanya Beliau sendiri yang faham akan segala misteri dan lila Beliau.
Konon Stephen Knapp, salah satu penulis ‘’ Hindhu agama tersebar di dunia’’ pernah berkata bahwasanya yang hakikatnya adalah nama modern untuk filosofi weda, khususnya yang berwujud spiritual yang dihubungkan dengan Indra. Dan mereka-mereka yang mengikuti ajaran-ajaran dan kaidah weda disebut Arya. Arya bukanlah ras manusia tertinggi selama ini yang dikenal umat manusia namun sesungguhnya lebih mengarah sebuah pedoman standar hidup yang ideal(ideal way of life).
Seorang yang bijak, arif dan lurus perilakunya di dalam masyarakat disebut sebagai seorang Arya (gentleman), dalam pengertian Islam di sebut Insan-Kamil. Kata ar berarti putih atau jelas, dan kata ya mengacu ke Yadhu, Tuhan atau Krishna (Baghavatam,Illahi). Arya dapat disebut jalan pencerahan menuju ke arah Bhagavatam. Dan semua pemahaman duniawi maupun spritual ini dijabarkan melalui berbagai ajaran Weda yang kemudian menyebar ke seluruh Tanah Bharata dan melampaui batas-batas negara dan bahkan menyebar sampai ke dunia barat.
Sanatana Dharma resminya adalah Weda plus Hindhuisme, Jainisme, Buddhisme dan Sikhisme, dan sebagainya. Namun secara tidak kita sadari juga adalah ajaran agama-agama besar lainnya karena mereka semua telah terpengaruh bersumber pada Weda, Vedanta, Upanishad, dan sebagainya.

II. KARAKTER DAN BAGIAN-BAGIAN WEDA.
Karakter atau ciri-ciri utama dari berbagai weda adalah:
1.Anadi (tanpa pemula).
2.Apurusha(tanpa pengarang)
3.Sumber akar setiap ciptaan.

Namun lebih jauh dari itu semua, maka nada atau swara, kidung-kidung dan mantra Weda seandainya disuarakan akan mengaktifkan sistem-sistem syaraf halus kita dan sekaligus mempengaruhi lingkungannya, yang berakibat temaram dan shantinya lingkungan, insan dan makhluk yang hadir di lingkungan ini, kondisi ini sangat universal sifatnyanya.
Tidak ada satu agama lain yang sedemikian peduli dengan kehidupan lain seperti ajaran-ajaran Weda (Dharma). Bunda Weda bersabda: “Bukan hanya mahluk yang berkaki dua yang harus sentosa, namun juga mereka-mereka yang berkaki empat, semak belukar, pepohonan, gunung, sungai……….dan seluruh ciptaan-ciptaan ini.”
Teks-teks Weda sarat dengan berbagai makna yang tidak terbatas sifat dan pemahamannya. Sloka-sloka Weda disusun secara puitis dan indah. Weda berisikan kaidah kehidupan yang selaras bagi umat manusia secara menyeluruh, bagi seisi semesta yang tanpa batas ini. Ajaran – ajaran ini tersusun secara sistematis dalam berbagai jalur sosial, filosofi, pengetahuan, sains, agama, ritual, kesehatan dan sebagainya.
Dari permulaan kelahiran sampai akhir hayatnya, manusia dharmais dituntun oleh berbagai ajaran Weda, agar si manusia ini mendapatkan keselamatan dan mencapai hakikat-Nya. Namun lebih dari itu kode etik sosial dan spritual Weda-Weda adalah sebenarnya anak-anak tangga yang menuju ke suatu strata Bhagavatham (Illahi) yang lebih Hakiki. Weda terdiri dari empat bagian yang amat penting: Rig – Yajur – Sama – Atharwa.

A. RIG WEDA SAMHITA
Terdiri dari stanza (sloka) yang pada awalnya disebut “Rik”, yang berati puji-puji. Setiap Rik adalah sebuah mantra yang merupakan pujaan bagi dewa-dewi masing-masing. Kumpulan dari berbagai Rik disebut Sukta.
Rig Weda Samhita memuat lebih dari 10.000 Riks (tepatnya 10.170 Riks). Keseluruhan Samhita dari 4 Weda tersebut di atas berjumlah 20.500 mantra. Rig Weda memuat 1028 Sukta yang terbagi dua kelompok yang terdiri dari 10 Mandala dan 8 Ashtaka. Dimulai dengan Sukta yang memuja Agni dan diakhiri dengan puja-puji ke Agni juga.
Diantara berbagai Weda ini Rig Weda secara menyeluruh memuja-muji para dewata. Namun dari permulaan (Upakarma) sampai ke akhir (Upasamhara) karya ini berbicara tentang Hyang Agni, jadi banyak pemuja kemudian menghubungkannya hal tersebut sebagai pemujaan api kepada Hyang Agni (Agni-Hotra). Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah cahaya Bhagavatam (Jyotir,Tat Savitur) yang hadir di dalam kesadaran seorang manusia (Atma Chaitanyam).
Sukta terakhir Rig Weda ke Agni bersifat amat universal : “Semoga setiap insan berfikir dan bersatu dalam suatu pemikiran. Semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta kasih. Semoga tujuan semua manusia selaras hendaknya. Semoga semua makhluk berbahagia dalam suatu kesatuan itikad.” Demikianlah akhir dari Rig Weda yang agung ini.
Kaum bijak sangat menghormati Rig Weda karena sedemikian adiluhung dan sakral isi ajaran-ajarannya, yang kesemuanya ditujukan ke semesta dan segala isinya. Sebagai contoh : ritus pernikahan ditiru dari pernikahan (wiwaha) putri Hyang Surya, umat Khatholik sering mengutip ayat-ayat Weda yang ada di Injil tanpa mereka sadari sewaktu melakukan upacara pernikahan. Terdapat juga dialog-dialog sarat yang amat bernuansa spriritual tinggi antara Purorawas dan Urwasi. Resi Kalidasa gemar sekali menyitir bagian-bagian ini dalam ajaran-ajarannya.
Rig Weda dianggap sebagai yang tertinggi diantara weda-weda lainya, karena kandungan isi dan maknanya amat kaya raya. Darinya juga berasal jalan aksi (karma- yoga) yang tersirat dan terkandung di dalam Yajur Weda, darinya juga terkandung unsur-unsur musik yang terdapat dalam Sama Weda. Di setiap sakha terdapat tiga bagian yang disebut Samhita, Brahmana, dan Aranyaka, kesemuanya disebut Adhyayana. Kata Samhita berarti : “Sesuatu yang telah dikoleksi dan kemudian diatur secara sistematis”.Brahmana berbicara tentang nilai-nilai spiritual, ritual Aranyaka memuat berbagai hal selanjutnya.

B. YAJUR – WEDA
Kata yajur berasal dari kata yaj yang berarti memuja. Kata yajna berasal dari yaj yang bermakna puja-pengorbanan. Kata yajus berarti menerangkan prosedur ritualistik (Yajna). Dengan kata lain berbagai mantra di Rig Weda diwujudkan dalam bentuk puja, ritual, aksi dan sebagainya di dalam Yajur Weda. Kalau Rig Weda melantunkan dan menghaturkan berbagai mantram, konsep dan puja-puji, maka Yajur Weda mengaktualisasikan ritual-ritual tersebut.
Yajur Weda terbagi dalam dua sakha (cabang utama) seperti juga Weda-Weda yang lainnya. Kedua bagian ini adalah sukla Yajur Weda Samhita juga dikenal dengan nama Wijasaneyi Samhita. Kata Wijasaneyi berarti Surya . Konon Resi Yaajnawalkya telah membawa kembali Samhita ini ke dunia, setelah mempelajarinya kembali dari Hyang Surya, oleh karena itu Samhita ini disebut Wijasaneyi Samhita.
Ada sebuah kisah yang menarik yang berhubungan dengan Resi Yaajnawakya ini. Pada mulanya Resi Weda Wyasa membagi Weda ini menjadi empat bagian . Pada jaman tersebut Yajur Weda hanya terdiri dari satu bagian saja. Demikian yang diajarkan dan yang diturunkan Resi Wyasa kepada Resi Waisampayana. Resi Yaajnawalkya juga juga mempelajarinya demikian juga dari sang guru, Waisampayana. Namun pada suatu ketika terjadi kesalah-pahaman sang guru kepada muridnya. Dan sang guru memerintahkan Yaajnawalkya untuk mengembalikan semua ajarannya, karena sang guru sudah tidak berkenan lagi kepada sang murid. Yaajnamalkya setuju akan usul sang guru, kemudian ia memuja kepada Hyang Surya. Dan Hyang Surya berkenan mengangkatnya sebagai murid. Kemudian lahirlah tafsir baru sebagai ajaran Hyang Surya kepada Yaajnawalkya.
Itulah sebabnya kenapa karya ini disebut sebagai Wijasamemi atau Sukla Yajur Weda. Ajaran ini disebut Sukla (putih), sedangkan ajaran Resi Waisampayana disebut hitam (Krishna Yajur Weda). Kedua-duanya lalu menjadi Yajur Weda Samhita. Krishna Yajur Weda terbagi dalam bagian tang disebut Samhita dan Brahmana.
Intisari dari Yajur Weda adalah nilai-nilai baik dari berbagai Karma-Wedik (ritual dan pahala-pahalanya) Taittariya Samhita yang terdapat di Krishna Yajur Weda menerangkan berbagai prosedur secara mendetail Contoh-contoh ritual Yajna seperti Darsa Purnawarsa, Somayasa, Wajapeya, Rajasuya, Asmaweda dan sebagainya.
Kemudian ada mantra-mantra yang tidak tedapat dalam Rig Weda, contohnya Sri Rudram. Pada jaman ini di India, Kaum Hindhu lebih banyak berpedoman pada Yajur Weda. Walaupun demikian ajaran Sukla Yajur Weda sangat dominan di India Selatan. Yajur Weda juga memuat lebih banyak lagi hal mengenai Purusha Sukta yang hadir di Rig Weda.
Yajur Weda sangat penting bagi kaum Adwaitin (penganut filosofi non- dualisme). Taittariya Upanishad terwujd di Krishna Yajur Weda, Brahadaranya Upanishad terwujud di Sukla Yajur Weda. Kedua karya tersebut bersifat mahakarya dari kaum Adwaita (baca berbagai karya Upanishad yang hadir di web-site kami : shantigriya.tripod.com (tanpa www) atau melalui www.tripod.com

C. SAMA WEDA
Kata sama berarti:”Pembawa shanti ke jalan pikiran”. Kata lainnya: “membahagiakan dan mendamaikan jalan pikiran”. Ada empat cara untuk berperang melawan musuh yaitu: Sama, dana, bheda, danda. Sama berarti mengalahkan musuh dengan melalui media wacana dan cinta kasih.
Berbagai Riks di Rig Weda berubah menjadi melodi-melodi pujian di Sama Weda, mantra-mantranya tetap namun melodi-melodinya menjadi lebih lengkap (Sama Gana). Sama Gana adalah dasar dan sumber tujuh nada swara dalm sistem musik India. Dalam Bhagavat Gita Sri Krishna bersabda:” Diantara berbagai Weda, Akulah Sama Weda”. Demikian pentingnya Weda yang satu ini diantara weda-weda yang lainnya.

D. ATHARWA WEDA
Atharwa berarti seorang yang suci, konon memang ada seorang yang bernama Atharwan yang menjabarkan Atharwa Weda ini ke dunia luas. Di Weda yang satu ini menghadirkan berbagai mantram yang dirancang untuk menolak bala, iblis dan menghancurkan para musuh. Di sini terdapat juga berbagai mantra bagi para dewata, kesemuanya ini tidak hadir di berbagai weda lainnya.
Terdapat juga hymn-hymn yang menggambarkan ketakjuban akan alam semesta dan berbagai ciptaan–Nya. Bagian ini disebut “Prithwi Suktam”. Hyang Brahma adalah kebanggaan Weda ini. Tiga Upanishad utama yang terwujud dari Weda ini adalah: Prasna, Mundaka, dan Mandukya Upanishad, yang terakhir berarti jalan moksha seorang pencari kebenaran sejati.
Mantra Gayatri yang paling agung dan suci, yang merupakan pemujaan pertama di dunia kepada Tuhan Yang Serba Maha berasal dari intisari yang hadir di Rig-Yajur-Weda-Sama Weda. Atharwa Weda hadir dengan sebuah mantra lainnya. Mantra ini disebut Atharwa Gayatri. Untuk mempelajari diperlukan inisiasi khusus dengan benang suci (Upanayanam) yang disertai dengan ajaran yang disebut Brahmopadesa. Baru kemudian ajaran ini diturunkan oleh sang guru kepada sang murid.
Di India Utara kaum terpelajar dalam bidang Atharwa Weda ini jumlahnya sangat sedikit, padahal di masa-masa yang lalu tempat ini adalah lumbung ajaran ini. Sedang di India Selatan kaum Athar Wedin tidak murni kwalitasnya. Dan hanya sedikit kaum terpelajar Atharwa Weda yang ada di Gujarat, Sawashtra dan Nepal.
Keempat weda-weda ini terkesan berbeda satu dengan yang lainnya. Weda pertama dan kedua berjarak 4000 tahun, 1000 tahun kemudian lahir weda yang ketiga, dan empat ratus tahun selanjutnya hadir weda yang keempat. Namun esensinya ternyata satu dan sama yaitu kelestarian dan kesentosaan mahluk dijagat raya ini dan menuntun setiap insan ke jalan spritual yang utama.
Uniknya tak satupun weda-weda ini yang menyatakan dirinya sebagai “satu-satunya jalan pencerahan ataupun satu-satunya jalan Tuhan “ seperti yang diklaim agama-agama lain. Sebaliknya semua Weda in menyatakan, setiap jalan atau medium (dewata, malaikat, dan sebagainya) adalah wahana atau jalan ke hakikat yang benar.

Pengaruh kultur budaya dan ilmu pengetahuan hindu india ke dunia luas

PENGARUH KULTUR BUDAYA DAN ILMU PENGETAHUAN
HINDHU-INDIA KE DUNIA LUAS

Sering kita berpikir bahwa India adalah negeri asal para bintang-bintang Bollywood yang bernuansa gemerlapan dengan segala pernak-pernik dan gerak tari dan musik yang semarak, yang digilai milayaran pirsawan di seluruh dunia. Namun sedikit sekali yang sadar bahwasanya tanpa warisan dari Tanah Barata maka hidup di dunia tidak akan semaju dan secanggih ini. Warisan-warisan tersebut adalah : berbagai ilmu pengetahuan, sains, agama, filosofi, pengobatan, matematika, ilmu ukur, astronomi, dan banyak lainnya. Tanpa sumbangsih India Kuno ke berbagai kawasan Timur Tengah, Mesir, Iraq, Persia (Iran), Eropa, maka dunia yang kita tinggali ini tidak akan seperti ini. Tahukah anda bahwa permainan catur berasal dari India, padahal India sendiri tidak pernah menjadi juara catur dunia.
Di masa-masa yang amat silam sewaktu peradaban Indus Kuno (sekarang masuk ke wilayah Pakistan) berkembang ke arah Hindhu Dharma yang bersifat universal, maka para maha resi dari zaman ke zaman pada era-era tersebut telah mencapai berbagai penghayatan dan pemahaman berbagai pengetahuan yang dahsyat, yang melingkupi berbagai bidang diantaranya astronomi, arsitektur, filosofi, obat-obatan, dsb. Semua pengetahuan ini kemudian pada waktunya yang tepat diwariskan ke masyarakat dan selanjutnya mendunia melalui berbagai migrasi manusia. Contoh Cina mempelajari obat-obatan, agama, matematika, astronomi, ilmu ukur bahkan seni bela diri dari India. Sebaliknya Indiapun banyak sekali mendapatkan manfaat dari negara ini, hubungan kedua negara adi-daya di masa itu menghasilkan deklarasi persaudaraan di antara keduanya (disebut Hindhi-Chini Bhai-bhai, yang artinya India-China adalah dua bersaudara kandung). Pada era pra-Islam, maka Hinduisme telah masuk dan menjadi pedoman agama di Iraq, Iran, sampai Afganistan. Begitupun dengan Buddisme pada masa-masa selanjutnya. Menurut Muhammad Hedayetullah dalam bukunya : “Kabir, The Apostle of Hindu-Muslim Unity.” maka : “Para penguasa di Timur-Tengah dan Asia pada masa sebelum Islam telah menjalin kerja-sama yang amat erat dengan India dalam bidang agama, astronomy, arsitektur, sains, dan matematika, dsb.”
Di Persia dan seluruh kawasan Timur-Tengah ditemukan sisa-sisa ratusan ribu kuil dan wihara Buddhisme yang kemudian pada masa jayanya Islam, seluruh bangunan-bangunan suci kaum dharma ini dihancurkan secara total. Konon Sultan Harun Al-Rasyid menurut penulis di atas, memperkerjakan puluhan tabib dari India untuk mengobati Sultan, para elite dan masyarakat Iraq kuno dan kemudian para tabib ini mengalihkan pengetahuan-pengetahuan ini ke para ahli setempat. Banyak juga yang kemudian menetap dan menjadi warga setempat.
Kuil Hindu dan Wihara Buddhis bertebaran dalam jumlah puluhan ribu, dari Afghanisthan, Baluchistan sampai ke Saudi Arabia (masa itu nama Saudi Arabia belum eksis). Tradisi bersholat, bertasbih, berzikir, berbusana dan bersantap pada saat ini di kawasan-kawasan Timur Tengah dan Asia ini berasal dari berbagai tradisi Hindhu kuno masa-masa tersebut yang berasal dari pengaruh Hindu-Buddhis masa lalu. Konon pengaruh tersbut telah masuk dari masa-masa pemerintahan Sang Rama, Para Pandawa dan raja-raja lainnya. Menurut Smriti maka berbagai kerajaan ini telah ditaklukkan India pada masa-masa tersebut. Demikian juga dengan berbagai ajaran kaum Sufi baik di India maupun di Timur Tengah.
Selain pengaruh budaya dan agama, maka kisah legenda 1001 malam itu sendiri banyak yang terpengaruh oleh legenda-legenda yang terdapat di India sampai sat ini. Kitab-kitab suci kaum Judea (Yahudi) seperti Perjanjian Pertama, Taurat dan Zabur merupakan replika dari berbagai kitab-kitab suci di India seperti Vedanta, Manawa-Dharma-Shastra, kisah-kisah Manu (Nabi Nuh), Parikesit dan Vikramajit (Nabi Sulaeman). Adam adalah Brahma (Versi Weda), Daud mirip dengan Kumara, namun Kumara tidak pernah menikah sedangkan Nabi Daud beristri 99 orang.
Di bawah ini terdapat tulisan-tulisan dari seorang penulis dan peneliti kawakan dari Barat yaitu A.L.Basham, dalam bukunya yang amat disegani oleh kaum cendekiawan di dunia yaitu : “The Wonder That Was India”. Di bawah ini terdapat beberapa cuplikannya:
Hutang dunia kepada India
“Saya tidak akan menjabarkan akan berbagai pengetahuan yang dimiliki oleh kaum Hindhu…………mereka memiliki berbagai penemuan yang teramat peka mengenai ilmu astronomi, dan sebagainya. Berbagai penemuan dan pengetahuan mereka ini jauh lebih canggih daripada penemuan-penemuan bangsa Yunani dan bangsa Babylonia…..Kaum Hindhu juga telah menemukan berbagai pengetahuan yang amat menakjubkan (di luar kata-kata) untuk diterangkan seperti ; Sistim Matematika yang amat rasional (sistim sembilan symbol), ilmu ukur, dsb. dsb.”
-The Syrian astronomer-monk Severus
Sebokht (A.D.662).

Halaman 479 buku tersebut menambahkan :
“Islam tidak menghancurkan India, seperti halnya dengan Persia (Iran) yang hancur lebur total oleh serangan dan pengaruh Islam. Beberapa area di India memang kemudian berubah menjadi daerah-daerah pemukiman Islam, namun kaum Sufi dan para sultan-sultan Islam lebih memilih bekerja –sama dengan kaum Hindu. Akibatnya kemudian, masyarakat Hindhu dan Muslim memilih untuk hidup berdampingan dan seterusnya budaya mereka saling berasimilasi dan mempengaruhi satu dan yang lainnya.”

Lebih lanjut Hal.484, mengatakan :
“Kebudayaan dan kultur Hindu di India senantiasa menang atas berbagai jenis penjajahan dan pengaruh dari masa ke masa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Indo-Eropa, Messopotamia, Iran, Yunani, Roma, Seythian, Turki, Persia, Arab, Portugis, Inggris, dsb. Kaum Hindhu kemudian beradaptasi dengan semua pengaruh dan kultur-kultur tersebut.
Sebaliknya kultur budaya Hindu, saya yakin akan senantiasa berinspirasi ke umat manusia. Misalnya Bhagawat-Gita dan berbagai Upanishad, dengan pesan-pesannya yang amat mendalam akan selalu memikat dunia. Umat manusia senantiasa akan tertarik oleh berbagai legenda seperti Mahabrata, Ramayana, Shakuntala, dan Pururawas-Urvasi.”

Di Hal.485. Bisham mengatakan :
“Hutang dunia ke India adalah seperti berikut ini : Seluruh Asia Tenggara mendapatkan nilai-nilai kultur-budaya dari India, dimulai dari Ceylon (Srilangka) pada abad ke 5 B.C. (Sebelum Masehi). India dan Asia Tenggara secara keseluruhan pada era dahulu disebut HINDIA-BESAR”.
“Asia mendapatkan berbagai bentuk budaya, makanan, ilmu-ilmu pengetahuan bahkan permainan catur dari India”.
“Kaum Judea, sekte Essenes (kaumnya Jesus Kristus), dipengaruhi oleh ajaran-ajarana Buddhisme. Legenda-legenda yang sama yang terdapat di Old Testament terdapat dalam skripsi-skripsi kuno berbahasa Pali.”
“Ajaran-ajaran mistik Pythagoras ke Plotinus, terpengaruh oleh berbagai ajaran Upanishad (akibat kontak budaya Helenik dan India yang ditenggarai oleh kerajaan Achalmenid, kemudian dilanjutkan oleh Roma, dan para pedagang antara negara-negara tersebut dengan India). Kami tahu bahwa pada zaman tersebut para kaum yogi India sering berkunjung ke Barat. Di Alexandria (Mesir) terdapat koloni kaum pedagang Hindu pada era-era tersebut. Jadi pengaruh Hindu-India ke budaya Neo-platoisme dan Kristen pada masa-masa lalu tidak dapat dipungkiri.”
“India dari masa ke masa juga mempengaruhi budaya Eropa melalui berbagai gerakan Theosofi, kaum Buddhist, kaum yogi dari Bengali, oleh Parahamsa Ramakrishna, Swami Vivekananda dan selanjutnya oleh ajaran Mahatma Gandhi, dst.”
“Kita semua tahu bahwasanya Goethe meminjam dramaturgi Afaust” dari India. Goethe dan hampir semua budayawan Barat telah mempelajari dan terpengaruh oleh ajaran monisme India (contoh : Schopenhaner, Fichte, Hegel, Emerson, Thoreau, Walt Whitman, dst. dst.). Pengaruh India terasa di seluruh penjuru dunia dalam berbagai bidang kehidupan manusia, dan lebih terasa lagi setelah India ini merdeka.
Dalam Hal.492, buku tersebut mengatakan :
“Sistem kalender dunia pada era modern ini juga berawal mula di India (paksa,purniwasya, amawasya, sulapaksa, kresnapaksa, dsb).Terdapat 12 bulan (sistem lunar, rembulan) yang berjumlah 354 hari setahun, yang kemudian setiap 2 atau 3 tahun dilengkapi mirip kalender saat ini. Pada zaman Gupta kalender Surya telah dikenal lengkap dengan semua zodiak-zodiaknya. Berbagai era penting tercatat oleh India kuno seperti era Wikrama (50 B.C.), Era Sulaeman, kemudian Era Saka (A.D.78), Era Gupta (A.D.320), Era Harsa (A.D.606), Era Kalacuri (A.D.248), dst.

Selanjutnya dalam Hal. 496, buku tersebut mengatakan :
”Sistim desimal dipelajari oleh bangsa Arab dari India. Kaum Arab menyebut matematika dengan nama Hindisat. Kaum ini mempelajari semua ilmu-ilmu ini melalui Iraq, kemudian melalui perdagangan antara India dan Timur-Tengah sebelum hadirnya Islam, dan akhirnya kaum Islam belajar lebih banyak lagi setelah mereka menjajah India melalui Sind,”
“Berbagai penemuan-penemuan yang besar di dunia Barat mustahil terjadi tanpa penemuan matematika, sistim numeral, abjad dan tata-bahasa yang berasal dari India. Jadi sebenarnya dunia pada saat ini berhutang ke India dan kaum Hindu untuk semua kemampuan teknologi di dunia ini, karena awal sains dan berbagai ilmu pengetahuan berasal dari India.”
“Matematika yang ditemukan di India seperti Brahmagupta (abad ke 7), Mahavira (abad ke 9), dan Bhaskara (abad ke 12), pada era-era tersebut belum dipahami sama sekali oleh dunia Barat. Aryabhata adalah nenek-moyang ilmu matematika modern dewasa ini. Belum lagi ilmu-ilmu seperti trigonometri, spherical-geometry, kalkulus, astronomi, dsb. Angka Zero (nol, nil) atau Sunya dan tak terbatas berasal dari kaum Hindu.”

Di hal.497, Basham menambahkan :
“Istilah ether (akasa) berasal dari Hindhu dan Jainisme, demikian juga istilah atom ( anu), benda terkecil. Kaum Buddhist, Ajivikas, Waisesika sudah amat faham akan ilmu-ilmu tersebut sewaktu dunia Barat masih tertidur.”
“Pada abad-abad pertengahan, para tabib India yang pada mulanya mempengaruhi ilmu pengobatan di Timur-Tengah, telah berhasil mempelajari unsur merkuri. Hal yang sama telah dipelajari juga oleh tabib-tabib Arab pada masa tersebut. Dari daratan Arab berbagai pengetahuan ini kemudian bertransmigrasi ke dunia Barat. Demikian juga halnya, berbagai pengetahuan berpindah dari daratan Cina ke Eropa (contoh kecil, spageti berasal dari bakmi).

Dalam Hal. 499-500, buku tersebut mengatakan :
“Psikologi dan pengobatan sudah dikenal di India kuno (contoh : Ayur Weda, Caraka dan Susruta, dari abad 1 sampai dengan 4 A.D.). Bahkan operasi Caesar dan berbagai jenis operasi empirik telah mereka pahami. Operasi plastik telah mereka kenali (Contoh, Srikandi yang dioperasi kelaminnya oleh seorang resi yang terkenal). Para dokter di India kuno telah mengenal operasi-operasi seperti memperbaiki hidung, telinga dan bibir. Di samping itu, pengobatan Veterinari bagi faunapun telah lazim dilakukan pada era Hindu kuno.

Dalam Hal.503. buku tersebut mengatakan :
“Timbangan dan sistim ukuran juga berasal dari India kuno, Manu (manusia pertama) memperkenalkan timbangan emas untuk kaum pandai emas seperti berikut ini :
5 raktika = 1 masa
16 masa = 1 karsa (atau talaka, suwarna)
4 karsa = 1 pala
10 pala = 1 dharana, dst. dst.
1 pala = 1,5 oz. Atau 37.76 gram)
Demikian juga halnya dengan ukuran panjang dan lebar yang dikenal dengan sebutan yava, ansula, dan sebagainya. Sang waktu diukur dengan terminology seperti ; nimesa, kastha, kala, nadika, muhurta, dsb.”

Dalam Hal. 506, buku tersebut mengatakan :
“Alfabet dan bunyinya berasal dari India kuno. Pada masa tersebut huruf dan kata-katasudah eksisi seperti berikut ini : a, i, u, r, l, e, ai, o, k c, t, p, kh, ch, th, ph, g, j, d, b, gh, jh, da, bh, n, m, y, u, s, dst. Sampai berjumlah 49 kata yang kemudian bertambah terus.
Huruf, aksara dan bunyi-bunyinya kemudian bermigrasi ke Timur-Tengah, Asia sampai ke Jepang, Eropa, dst. Baik dalam bentuk abjad, bahasa, maupun dalam bentuk sastra, puisi, prosa, dsb.”

Dalam Hal. 512 dan 513, buku tersebut mengatakan :
“Kaum gipsi ternyata adalah turunan kaum Hindhu yang berkelana ke berbagai sudut Eropa dan dunia. Pada saat ini mereka terbagi dalam gipsi Eropa, gipsi Rusia, gipsi Hungaria, dsb. Para ahli berpendapat bahwasanya bahasa yang dipakai oleh kaum Gypsi Eropa berasal dari bahasa Indo-Aryan (Hindhu-arya).
Penyair terkenal asal Persia (Iran) yang bernama Firdusi (zaman pra Islam), dalam karyanya yang berjudul “Book of kings (Shah-namah) menulis bahwa pada abad V Sasanian, Raja Bahram Gur, mengundang 10.000 pemusik dari India ke kerajaannya ternyata para pemusik India ini kemudian menjadi cikal-bakal musik di Timur-Tengah sampai saat ini.
Pada zaman A.D.810, kaum Athinganoi yang berasal dari India Kuno telah menetap di Constantinople, mereka mencari nafkah sebagai ahli sulap dan seniman. Saat ini keturunan mereka disebut Gypsi.”
Inilah sebagian tulisan dari A.L.Basham, seorang penulis Inggris yang jujur dengan masalah-masalah India. Bagaimana dengan pengaruh Hindu di Indonesia, kita semua tentu telah mengetahuinya baik dari sejarah maupun dari berbagai warisan budaya, bahwasanya kita semua atau sebagian besar sebenarnya berasal dari India juga. Kata INDONESIA, menurut Hindhu Vishva, Weda in the World, berasal dari kata INDO-NESUS (HINDU-ISLANDS). Indo sendiri berarti India (bahasa Belandanya Indie) dan pada awalnya Indonesia disebut sebagai Hindia-Belanda. Jadi sesuai dengan berbagai shastra widi di India seperti Ramayana dsb. Maka Indonesia pada masa lalu adalah bagian dari India (Barata-Warsa), bukan jajahan namun lebih merupakan sister-country.
Hasil dari pengaruh Hindu ke kemerdekaan kita adalah falsafah hidup PANCASILA, yang lahir dari seorang turunan Hindu di Bali (Soekarno). Tanpa falsafah ini kita mungkin telah terpecah-pecah ke dalam beberapa negara.
Walaupun pada saat ini kaum dharma di Indonesia merupakan kaum minoritas, namun dampaknya masih terasa untuk dunia. Borobudur, Prambanan dan Wayang telah dideklarasikan sebagai warisan budaya dunia, entah apalagi nantinya. Tanpa kita sadari berbagai falsafah dan kebudayaan serta filosofi Hindu-Buddhist telah melandasi dan menghidupi insan Indonesia sampai saat ini.