Di tulis Oleh : Shantiwangi.com

VIVAHA

Dharma mengajarkan bahwasanya manusya berasal dari leluhur yang disebut para dewata, sains modern mulai meneliti adakah kaitan manusya dengan manusya, atau mahluk-mahluk angkasa luar. Tubuh manusya ternyata adalah sebuah perpustakaan, ibarat chip computer kecil yang memuat gen-gen semesta, sebuah rahasya yang sedang menguak! Seperti apakah jati diri dan hakekat manusya di bumi dan peranannya di semesta raya yang maha luas nan tidak terbatas ini?

Sejauh ini seksualitas masih tabu dibicarakan apalagi dimaknai secara spiritual oleh kaum-kaum agamis tertentu yang terjebak dalam nilai-nilai dosa, kemunafikan dan “kebodohan” ragawinya sendiri, padahal seksualitas adalah warisan para dewata, leluhur umat manusya yang menghuni semesta jagat raya. Seksualitas bukanlah keping-keping pornography murahan dan vulgar, namun adalah intisari kehidupan Bhagawatam (Ilahi) yang diwariskan dari masa ke masa, dari mahluk ke mahluk, dari fauna ke fauna, dan dari flora ke flora. Semesta raya bersanggama dalam ritus-ritus Ketuhanan Yang Maha Esa, Yang Maha Pencipta tanpa harus terliput dosa-dosa dan noda-noda


Sebuah arca Ganeshya terdapat di candi Hoysala di India Selatan (abad 12), Arca ini menggambarkan secara Tantrik mistri seksualitas, Sri Gajanana yang kuat ini, yang melambangkan kedashyatan energi seksual semesta dan manusya. Belalainya melambangkan keperkasaan sebuah lingga (phalus) dan mulutnya yang terbuka lebar melambangkan yoni (vagina), perpaduan antara pria-wanita, purusha dan prakriti baik secara skala maupun niskala. Semua upacara Hindu di India dimulai dengan puja-puji dan mantram-mantram ke Ganeshya dahulu baru ke dewata-dewata lain, aneh Tri-sandhya kita malah tidak menyebutnya sama sekali, dan kita pun sering “tersesat” ke dalam awidya, padahal Negara Indonesia dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia meletakkan lambang dewa widya ini di ITB, IPB dan uang pecahan Rp 20.000 (lama), bahkan seorang SBY sekalipun amat menghormatinya dengan memulai awal-awal kampanyenya di Sasana Ganeshya di Bandung, Jawa-Barat untuk apa kalau bukan untuk sebuah kesuksesannya.

Ganeshya sebagai lambang spiritual, widya dan seksualitas adalah hasil sinergi dari Tri-murti dan Trishakti, yaitu pasangan Brahma-Saraswati, Shiwa-Kali dan Wishnu-Lakshmi. Brahma-Saraswati memancarkan kehidupan, kelahiran dan kreativitas. Shiwa-Kali melambangkan transendental spiritual, kematian (daur ulang), Wishnu-Lakshmi adalah Pengayom dan Pemelihara kehidupan ini.

dewa menariTahukah anda ketiga prinsip-prinsip utama yang menyatu dalam Ganeshya ini disebut-sebut para ahli sebagai prinsip-prinsip konsep anthropomorphic, dan ketiga unsur kelahiran, pemeliharaan dan daur ulang kehidupan ini jelas-jelas terserap ke ajaran-ajaran lain seperti Buddhisme, Taoisme, Nasrani dan memuncak pada Islam yang melambangkan seksualitas spiritual dalam bentuk Kabahlistik, yang sudah dimulai sebelum Judaisme dan Nabi Ibrahim hadir di kawasan Timur-Tengah, tidak dapat dipungkiri Ka’abah adalah wujud bangunan Lingga-Yoni terbesar di dunia semenjak zaman Paganisme sampai saat ini, Nabi Muhamad S.a.w melestarikannya sesuai wahyu-wahyu yang didapatkannya dari Allah Subhanawatallah. Dengan kata lain pemujaan ke Lingga-yoni lambang seksualitas suci masih dilakukan dalam agama Islam dengan puncak ritual yang disebut Haj (naik Haji), manusya-manusya berpradakshina 7 kali memutari Ka’abah dengan memakai Ikhram putih-putih, dari jarak ketinggian terlihat sebagai sperma sperma putih yang mengelilingi lingga dan yoni ini. Pada awal-awal kehidupan perpaduan pria-wanita yang menghasilkan kelahiran adalah nilai-nilai tertinggi yang dipuja manusya, sesuai dengan perilaku semesta yang bersanggama menyatu, setiap saat.

Artikel ini ditujukan kepada setiap insan dharmais agar sadar bahwasanya seksualitas adalah anugrah alam yang menakjubkan, bukan sekedar ilusi-ilusi bohong UUD pornography yang malahan melecehkan anugrah yang maha tinggi ini yaitu inti sari dari pada kehidupan ini, yang sering sekali salah disikapi. Selama hadir Bunda Pertiwi, maka akan hadir juga seksualitas sebagai penerus generasi-generasi berbagai ciptaan-ciptaanNya. Seksualitas berasal dari semesta, dan menunjang balik ke semesta itu sendiri melalui proses regenerasi. Untuk itu alam menambahkannya dengan gairah, nafsu dan makna-makna rahasya yang sering disalah gunakan oleh manusya yang tidak dapat memahaminya dengan selera spiritual dan widya yang terkendali.

Padahal setiap sanggama mahluk apapun juga apalagi manusya adalah penerusan dari sanggamanya para leluhur kita, yaitu para dewata. Setiap sperma yang dipancarkan dan setiap sel-sel ovary (indung telur) mengandung cahaya-cahaya misterius yang dapat anda saksikan melalui mikroskop. Sanggama antara pasangan adalah medan magnet yang sakral dan berdaya harmonis atau sebaliknya dapat merusak dengan potensi yang amat tinggi. Tinggal manusya menentukan seksualitas, akan kebablasan atau akan dilestarikan (perang antara dewata dan asuras) berlangsung terus di dalam diri ini.

Pada tahap-tahap spiritual tertinggi, pasangan suami istri bahkan tidak perlu menyentuh satu dengan yang lain. Cukup dengan prana (medan magnet tubuh-halus) masing-masing dapat memuaskan secara lahir dan bathin, (tidak perlu menjadi tua terlebih dahulu), yang penting dan utama adalah landasan kasih dan spiritual yang memayungi dan memagarinya

Salah satu aspek terpenting dan terindah, yang mempesona dan mengikat manusya adalah anugrah seksualitas, bahkan semua ciptaan-ciptaan di semesta raya ini bersanggama dalam kasih satu dengan yang lain melalui sentuhan-sentuhan Prema (Kasih Ilahi = Kasih Bhagawatam). Kalau Sang pencipta tidak mengasihi kita dan seluruh ciptaan-ciptaannya, maka Ia tidak disebut Yang Maha Pengasih, dan tidak ada kasih tanpa seksualitas spiritual di dalamnya. Dengan kata lain Hyang Widhi Wasa adalah juga Maha Prema

Para leluhur umat Dharmais sangat bertanggung jawab akan nilai-nilai seksualitas antar pasangan, Weda-weda, Upanishads, Bhagawat Gita, Kamasutra, Garbha widya, dan Tantraisme penuh dengan rambu-rambu ketat agar kita tidak bersetubuh secara serampangan dan nafsu-nafsu liar harus dijinakkan melalui lembaga vivaha (kemenangan), melalui upaya-upaya yoga, meditasi dan vegetarianisme, melalui pemujaan-pemujaan sakral dan bermakna kepada simbol-simbol lingga-yoni yang adalah Simbol-simbol Purusha dan Prakriti.

Seksualitas-spiritual yang terkendali secara prima dapat menghasilkan sebuah bentuk-bentuk pengalaman-pengalaman seksual secara multidimensional. Itulah sebabnya di masa-masa lalu sanggama pasangan suami istri diatur pada hari senin (harinya Shiwa) dan kamis (harinya shakti Durga), yang diawali puasa-puasa ringan, upacara meditasi dan puja bersama-sama suami istri dan pada masa-masa lalu ejakulasi dini maupun orgasme wanita yang tertunda bukan masalah, karena tubuh manusya begitu kuat sehingga dalam semalam sanggama dapat belangsung berkali-kali penuh gairah seksualitas tinggi yang terkendali apik, dan indah, harmonis dan romantis. Pasangan suami istri tidak perlu gagah atau cantik, yang vital adalah teknik-teknik Kamasutra, mantram-mantram dan pemahaman akan betapa indahnya seksualitas, dan betapa menakjubkan makna-maknanya. Jurus-jurusnya: hormatilah tubuhmu, hormatilah tubuh pasangannmu, beraktivitas seksual harus dilandasi “suka sama suka”, bukan karena terpaksa!

Karena energi seksual adalah energi kehidupan ini, setiap pria dan wanita adalah reinkarnasi agung dari para leluhur dewa dewi yang jumlahnya tak terjabarkan, kita semua adalah perwujudan dewa-dewi ini, kita semua ciptaan adalah bagian-bagian dari semesta dan penunjang-penunjangNya. Dia Yang Maha Seksualitas adalah sumber dari berbagai medan magnet seksualitas dalam bentuk-bentuk purusha (unsur-unsur positif) dan prakriti unsur-unsur negatif yang selaras, tanpa dualitas ini tidak ada sanggama (pertemuan) apapun juga. Perhatikan kata sanggama (sanggam) yang berarti pertemuan dua kutub yang sakral, penuh dengan kehidupan yang lestari bagi semua dan sesama secara harmonis.

Seksualitas semesta menghadirkan rekayasa genetika (blue-print, cetak-biru) dalam jiwa raga kita secara sistematis dan alami, ini adalah mahakarya alam yang belum difahami sebagian amat besar umat manusya, tetapi mulai tersibak dalam sains modern. Seluruh sistem karma dan reinkarnasi tertata secara rapi dalam tubuh kita tanpa dapat dapat diganggu gugat, dari satu kelahiran ke kekelahiran yang lain. Bhagawat Gita dan Upanishads menyatakan secara tegas bahwasanya seluruh memori-memori dibawa mati untuk dipacu ulang pada masa kelahiran-kelahiran berikutnya, dan ini bukan teori tetapi kenyataan-kenyataan yang mengagumkan. Penelitian penelitian dan film-film Barat mulai menguak dunia ini perlahan tapi pasti. Reinkarnasi dan hukum karma secara pasti eksis, walaupun disebut-sebut dengan nama-nama yang berbeda-beda dalam setiap ajaran agama-agama maupun spiritual, hanya makna dan keterangannya yang sering kabur karena tidak disertai widya (pengetahuan) yang memadai dan selaras, sesuai zaman dan latar belakang kebudayaannya dan teknologi masa kini.

Orgasme adalah pancaran energi yang amat menyehatkan, seks yang aktif ternyata amat menyehatkan, mengurangi stress dan sakit-sakit kepala, menambah gairah kerja dan spiritual sekaligus menjauhkan manusya dari kanker rahim, payudara, dan prostat, kesemuanya lalu menunjang usia tua yang sehat bugar. Leluhur membuktikannya dengan anak-anak yang banyak sampai masa tua; pada masa lalu beranak 20 masih disebut wajar-wajar saja, dan hal itu menunjukkan betapa perkasanya pasangan-pasangan suami istri yang setia dan aktif sampai tua. Semua berkat ajaran Ayur weda, yoga, meditasi, ajaran-ajaran Tantra dan Kamasutra yang berpayung pada landasan-landasan Dharma yang agung

Orgasme spiritual berbeda dengan orgasme/ejakulasi ragawi. Menurut Tantraisme, setiap kali seorang pria berejakulasi maka “oja” (prana + seksual energi) akan berkurang, namun hal ini masih tanda tanya karena orgasme di sisi lain amat menyehatkan. Dalam yoga dan upaya-upaya meditasi Tantra, terdapat berbagai teknik-teknik (biasanya di Astanga-yoga) untuk menahan keluarnya sperma, hal ini dalam kurun waktu yang lama kalau dipratekkan secara teratur dapat menghasilkan kesaktian-kesaktian dan energi-energi tertentu. Namun Ramayana menunjukkan betapa Rahwana yang ekstrim tapa-bratanya lalu lepas kendali perilaku seksualnya setelah melihat kemolekan Dewi Shinta. Di lain sisi Shiwa dan resi Viswamantra langsung keluar spermanya begitu lepas dari tapa ribuan tahun, karena tidak tahan melihat paha molek nan seksi para betari. Jadi sebenarnya pemahaman upaya dan hasrat seksual tidaklah bermanfaat kalau jalan pikirannya malah liar dalam perzinahan.

Sebaiknya pujalah seksualitas sebagai anugrah Sang Pencipta yang harus dimaknai setiap sisinya. Eksporasilah jiwa dan raga ini secara sensual dan bermartabat, penuh hikmah-hikmah yang terkendali, jadikan cinta-kasih sebagai landasan sesuai hukum-hukum alam yang penuh rasa sayang pada seluruh ciptaan-ciptaanNya, di planet bumi ini.

Seperti halnya di semesta raya, setiap momen adalah seksualitas, raga kita dan semua mahluk memang direkayasa untuk berevolusi melalui sensualitas dan seksualitas. Bukalah mata dengan memandang dan memaknai semesta, isinya dan berbagai perilakunya. Pada saat yang sama, tutuplah matamu, menerawanglah ke dalam relung-relung dan rongga-rongga sanubarimu, dan kita akan menemukan rahasya-rahasya Kundalini yang akan bangkit secara alami bagi setiap insan yang mampu menyelaraskan setiap sel, setiap ion-ion tubuh dan setiap tarikan keluar-masuk nafasnya (pranayama).

Kebangkitan awal dari Kundalini (energi-energi vital, chakras-chakras energi seksualitas) dapat menghasilkan siddhi (kekuatan dan persepsi sesat dan menyimpang) atau widdhi (pengetahuan akan makna-makna kehidupan dan semesta ini) dan kuncinya adalah seksualitas yang selaras dengan upaya-upaya spiritual. Berbahagialah akan potensi-potensi seksualitas (kundalini), ia terbangkitkan menjadi mata ketiga bukan karena ulah guru-guru yoga yang mengaku sakti, tetapi melalui upaya-upaya selaras dari dirimu yang sarat akan keseimbangan spiritual dan seksualitas, antara keselarasan purusha dan prakriti, antara lingga dan yoni. Inilah pesan-pesan yang tersirat dalam arca-arca lingga-yoni, Trimurti dan Trishakti. Upacara terbesarnya malahan terjadi di Mecca setiap tahun tanpa ada yang sadar akan makna-makna yang sebenarnya yang telah terkandung pada zaman pra-Islam. Om Shanti-Shanti-Shanti Om.

Bibliography : -Earth by Barbara Marcinak. -Sexual Secrets by Nick. D and Penny.S. - Kamasutra by Resi Vatsyawana. - Bhagawat Gita by T.L. Vaswani - Upanishads dan Smirties. - The Secret of Tantraisme. - The Secret of Yoga and Meditation. -Kundalini, yoga basic universal dan spiritual energy. - dsb-dsb.