Di tulis Oleh : Shantiwangi.com

saraswatiDi kitab Perjanjian Lama, kisah Nabi Daud amat mirip dengan kisah pergulatan (peperangan) Dewa Murugen yang melawan seorang Asura. Bedanya Murugen melawan raksasa yang amat besar di kawasan Indraloka, padahal tubuhnya amat kecil, dan akhirnya memenangkan pertempuran dan diangkat menjadi panglima perangnya para dewa dengan nama Skanda, dan hidupnya senantiasa sebagai seorang brahmacharya, berumur di bawah enam tahun. Beliau dipuja di setiap kuil Shiwa dan Durga disamping dewa-dewa Navagraha dan Sri Ganeshya. Di Israel Nabi Daud juga bertubuh pendek sekali, beliau mengalahkan seorang raksasa yang mengganggu kaumnya di muka bumi ini. Setelah kemenangannya Beliau beristrikan 99 wanita dengan alasan pada masa itu belum ada peraturan tentang perkawinan. Sewaktu ingin mempersunting istri yang keseratus, Nabi Daud ditegur Malaikat dan ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Kedua tokoh ini mempunyai simbol yang amat mirip. Perhatikan di bawah ini :

murgen
bendera
Simbol Murgen (cakram 6 sudut) plus mantram Simbol Nabi Daud
sekarang bendera Israel mantram sudah dibuang

Simbol Nabi Daud entah apa sebabnya menghilangkan mantra-mantranya, akibatnya cakram tersebut menjadi wahana perang adharma sampai masa kini. Kaum Hindu percaya selama mantram tidak direhabilitasi maka perang di Timur-Tengah antara anak-cucu Ibrahim tidak akan pernah berhenti, karena umat-umat ini sudah terkutuk dari masa ke masa akibat tidak beriman kepada Yang Maha Esa secara total. Sebaliknya simbol Murgen adalah perang dharma, yang secara simbolis harus dimulai dari diri sendiri seperti yang terdapat dalam sabda-sabda Nabi Muhammad S.A.W. Meditasi ke arah Dewa Murgen secara tulus di bawah seorang guru spiritual yang handal akan menghasilkan kebangkitan Kundalini murni. Dan hal itu teramat sulit baik secara filosofis maupun ritual. Jadi tidak ada itu pembangkitan Kundalini yang dijual para instruktur lokal baik di India maupun Indonesia atau manapun juga, karena dapat menimbulkan ketidak-stabilan buat jiwa dan raga. Ilmu meditasi seperti yang pernah disebut-sebut di bab sebelumnya bersifat amat rahasia (rahasya) dan hanya diturunkan secara hati-hati kepada yang terpilih saja. Dewa Murgen di Bali disebut Kumara.

Perjanjian Lama tidak menyebut dari mana datang kesaktian Nabi Daud, tetapi Shastra –Widhi Hindu mengisyaratkan bahwasanya Dewa Murgen pernah berkelana di Timur-Tengah dan menjadi guru spiritual Nabi Daud (baca Enclopaedia tentang Sri Ganeshya, juga legenda Ganeshya dan Murgeshen). Sewaktu tenaga inti Kundalini bangkit di dalam seseorang, maka tubuh orang tersebut tidak dapat luka sedikitpun. Bangkitlah kesaktian aneka rupa dalam tubuh manusia itu, juga bersamaan bangkit juga nafsu sex yang amat tinggi, karena kedua faktor tersebut hadir di Muladhara Cakra tubuh setiap manusia. Kesaktian adalah sisi lain dari seks itu sendiri. Seks adalah daya cipta agung setiap manusia. Bayangkan ada satu Atman dalam setiap sel spermatozoa, dan setiap pria punya jutaan sel setiap harinya. Melalui praktek brahmachari dan meditasi spiritual gaib, maka dapat dihasilkan teja dan oja melalui pengekangan seperti yang dialami para dewa dan resi-resi di zaman lampau.

Ternyata putra Daud, yaitu Nabi Sulaeman juga pemuja Shiwa Mahadewa dan juga mendapatkan berkah tersendiri dari dewa Murgen. Lambang Murgen adalah Merak dan tangkai pena, yang secara simbolis berarti keindahan dan kebijaksanaan yang terselubung atau didampingi oleh ilmu-pengetahuan. Dewa Murgen dapat berbahasa dalam semua bahasa fauna dan flora. Demikian juga berkah yang didapatkan Raja/Nabi Sulaeman (Solomon) ini. Sekali lagi dalam bahasa setempat Solomon berarti “berkah dari Tuhan.” Berkah tersebut adalah mampu berbahasa semua jenis fauna dan flora, jin dan malaikat. Raja ini disebut raja Vikramaditya di India yang jajahannya sampai ke jazirah Arabia, dan ikut membangun kembali Kabah, dan membawa kembali agama yang benar (agama Veda-Veda) ke wangsa Arabia pada eranya.


Konon setelah berpulangnya Nabi Daud, ada 10 suku Israel yang dikabarkan menghilang. Namun para ahli barat, seperti pendeta Joseph Wolf, (sarjana hukum dan teologi), sersan Riley, seorang sarjana Perancis, G.T Vigne, Dr. James Bryce, Keith Johnson, A. Burnes, Dr. George Moore, dsb. masing-masing berargumentasi bahwasanya kesepuluh suku Israel yang hilang ini telah meninggalkan jejak-jejak mereka di Afghan, China, Iraq, dan Kashmir. Namun mayoritas peneliti condong ke Afghan dan Kashmir (keduanya adalah wilayah India juga pada masa lalu). Banyaknya kata-kata yang mirip dalam bahasa Kashmir dan Ibrani (Hewbrew) menambah bukti adanya hubungan antar dua wangsa ini. Di bawah ini, sebagian kecil kata-kata ini kami hadirkan seperti berikut :

NO NAMA DALAM BAHASA kASHMIRI NAMA ALKITABIAH REFERENSI AL-KITAB
1
     
2
     
3
     
4
     
5
     
6
     
7
     
8
     
9
     
10
     
     

Dan masih amat banyak lagi. Kemudian bandingkanlah nama-nama berbagai lokasi di bawah ini :


NO NAMA DALAM BAHASA kASHMIRI NAMA ALKITABIAH REFERENSI AL-KITAB
1
     
2
     
3
     
4
     
5
     
6
     
7
     
8
     
9
     
10
     
     

Dan seterusnya dan seterusnya. Perhatikan sekali lagi kata Haran (daerah asal menjangan, bukankah Sir Stamford Raffles, membawa menjangan-menjangan langka ini dari Kashmir dan mengembang-biakkan di Bogor ?, konon sekarang malahan dijadikan sate menjangan di kawasan Cisarua, setelah dipromosikan oleh Gus Dur). Padahal menjangan-menjangan ini berasal dari tempat kelahiran Nabi Ibrahim.

Penduduk Kashmir berbeda dari ras-ras lainnya di India. Mereka umumnya bermata biru dan coklat. Karakter dan penampilan mereka, budaya dan cara hidup dan bermasyarakat masih terjaga dari dahulu sampai sekarang, dan semua kebiasaan ini menurut para peneliti sangat identik dengan kaum Israel di Timur-Tengah. Misalnya kesamaan penutup kepala pria (Jarmulka) sampai cara baris-berbaris yang masih sama. Di Israel dan di Kashmir seorang wanita yang baru melahirkan dilarang mandi selama 40 hari, suatu budaya amat kuno di zaman Vedik. Selain bentuk-bentuk makam yang sama, janganlah kaget kalau banyak pemuda Israel yang sekarang ke Kashmir untuk menyelusuri jejak nenek-moyang mereka, apalagi bahasa mereka amat mirip dengan bahasa Kashmiri.